FERTILITAS
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Demografi Dosen Pengampu: Fatmawati, M.Pd.
Disusun Oleh:
Kelompok 4
Adinda Aulia Rahma (12411320150)
Ardiyansah (12411310112)
Dinda Ariani (12411321093)
Poja Ramandilla (12411320621)
Sonia Julita (12411324537)
Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
2025
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunianya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah mata kuliah Demografi yang berjudul
“FERTILITAS”
Makalah ini berisikan tentang informasi mengenai konsep fertilitas, lahir hidup, abortus, masa reproduksi, faktor yang mempengaruhi fertilitas, sumber data dan pengukuran fertilitas, dan permasalahan dan pemecahan fertilitas. Diharapkan makalah ini dapat memberikan kita informasi mengenai konsep fertilitas, faktor mempengaruhi, sumber data dan pengukuran serta permasalahan dan pemecahan fertilitas.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak. Akhir kata kami berharap makalah ini semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Pekanbaru, 14 Maret 2025
Kelompok 4
ii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
Bab I Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan masalah 1
C. Tujuan masalah 2
Bab II Pembahasan 3
A. Konsep Fertilitas, Lahir Hidup, Abortus, dan Masa Reproduksi 3
B. Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas 5
C. Sumber Data Fertilitas dan Pengukurannya 10
D. Permasalahan Fertilitas dan Pemecahannya 23
E. Studi Kasus 26
Bab III Penutup 31
A. Kesimpulan 31
B. Saran 31
Daftar Pustaka 32
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fertilitas, atau kesuburan, merupakan salah satu aspek fundamental dalam kehidupan manusia yang berkaitan dengan kemampuan individu atau pasangan untuk menghasilkan keturunan. Dalam konteks kesehatan reproduksi, fertilitas tidak hanya mencakup kemampuan untuk hamil, tetapi juga melibatkan berbagai faktor yang memengaruhi proses reproduksi, seperti kesehatan fisik, lingkungan, dan faktor sosial ekonomi.
Di berbagai belahan dunia, tingkat fertilitas menjadi indikator penting dalam memahami dinamika populasi. Di negara-negara berkembang, tingkat fertilitas yang tinggi sering kali terkait dengan kurangnya akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan informasi mengenai kesehatan reproduksi. Sebaliknya, di negara-negara maju, tingkat fertilitas yang rendah dapat mencerminkan perubahan nilai-nilai sosial, seperti penundaan pernikahan, peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja, dan kesadaran akan pentingnya perencanaan keluarga.
Masalah fertilitas juga semakin relevan dalam konteks kesehatan masyarakat. Banyak pasangan yang menghadapi tantangan dalam mencapai kehamilan, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gaya hidup, penyakit, dan faktor genetik. Masalah ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat memengaruhi struktur keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Selain itu, isu fertilitas sering kali berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam hal kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, dan dukungan bagi pasangan yang mengalami kesulitan dalam memiliki anak.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalahnya sebagai berikut:
iv
1. Bagaimana Konsep Fertilitas, Lahir Hidup, Abortus, dan Masa Reproduksi
2. Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas 3. Apa Saja Sumber Data Fertilitas dan Pengukurannya 4. Bagaimana Permasalahan Fertilitas dan Pemecahannya
C. Tujuan Masalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini ialah sebagai berikut:
1. Untuk Mengetahui Apa itu Konsep Fertilitas, Lahir Hidup, Abortus, dan Masa Reproduksi
2. Untuk Mengetahui Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas 3. Untuk Mengetahui Apa Saja Sumber Data Fertilitas dan
Pengukurannya
4. Untuk Mengetahui Apa Saja Permasalahan Fertilitas dan Pemecahannya
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Fertilitas, Lahir Hidup, Abortus, dan Masa Reproduksi 1. Konsep Fertilitas
Istilah fertilitas juga dapat diartikan sebagai kemampuan seorang wanita untuk menghasilkan kelahiran hidup. Sementara itu, fekunditas berarti potensi seorang wanita untuk menjadi hamil. Berbeda dengan fertilitas, fekunditas berkaitan dengan potensi untuk melahirkan tanpa memperhatikan apakah seorang wanita benar-benar melahirkan seorang anak atau tidak. Jadi, fekunditas menunjukkan potensi fisik seorang wanita untuk melahirkan anak.
Seorang wanita baru bisa dikatakan "subur" (fertile) apabila sudah melahirkan anak lahir hidup. Sedangkan, wanita yang infecund artinya mandul (sterile).
Menurut Mulyadi (dalam Sapto Bagaskoro et al., 2022) Fertilitas merupakan hasil reproduksi yang nyata dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup.
Mantra (dalam Sapto Bagaskoro et al., 2022) menyatakan bahwa fertilitas adalah sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari Rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan, misalnya berteriak, bernafas, jantung berdenyut, dan lain sebagainya.
Menurut Sinuraya (dalam Sapto Bagaskoro et al., 2022), kelahiran merupakan banyaknya bayi yang lahir dari wanita, ada bayi yang disebut lahir hidup yaitu lahirnya seorang bayi yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan, tidak diperkirakan beberapa lama bayi tersebut menunjukkan tanda-tanda kehidupan tersebut.
Dari definisi diatas kami dapat menyimpulkan bahwa fertilitas adalah kemampuan seorang wanita untuk melahirkan anak, diukur dari jumlah bayi yang lahir hidup. Bayi dianggap lahir hidup jika menunjukkan tanda-tanda kehidupan, seperti berteriak atau bernapas. Fertilitas penting karena
vi
berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan mempengaruhi pertumbuhan populasi.
Ada beberapa konsep yang dikenal dalam analisis fertilitas yaitu:
2. Lahir Hidup
United nation (UN) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kelahiran hidup sebagai kelahiran seorang bayi yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan, seperti menangis, adanya gerakan otot, bernapas, dan detak jantung, tanpa memperhitungkan berapa lama bayi tersebut berada dalam kandungan. Dengan demikian, peristiwa bayi yang lahir dalam keadaan tidak hidup/meninggal (still birth) tidak dimasukkan dalam perhitungan jumlah kelahiran. Untuk bayi yang lahir hidup, tetapi kemudian meninggal, beberapa saat setelah lahir atau dikemudian hari, kelahiran hidup ini tetap dimasukkan dalam perhitungan jumlah kelahiran.
Tidak termasuk sebagai kelahiran hidup adalah peristiwa keguguran atau bayi yang lahir dalam keadaan meninggal (lahir mat Lahir mati adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan pada saat dilahirkan.
3. Abortus
Abortus adalah kematian bayi dalam kandungan dengan umur kehamilan kurang dari 28 minggu. Terdapat dua macam abortus, yaitu:
a. Abortus disengaja (induced abortion)
b. Abortus tidak disengaja (spontaneous abortion). Abortus disengaja dapat berdasarkan:
1) alasan medis, misalnya karena si ibu mempunyai penyakit jantung yang berat, sehingga membahayakan jiwa si ibu bila melahirkan,
2) alasan lain yang berbentuk kesengajaan.
4. Masa Reproduksi
Masa reproduksi merupakan masa di mana wanita mampu melahirkan, yang disebut juga usia subur (15-49 tahun). Masa subur wanita dinyatakan sebagai masa dimana terdapat sel telur yang siap dibuahi oleh sperma (dan bersamaan dengan itu ada sperma yang siap membuahi sel telur).
Sel telur yang siap dibuahi adalah sel telur yang telah dilepaskan dari indung telur dalam suatu proses yang disebut ovulasi. Waktu masa subur perempuan bisa diketahui dengan menggunakan beberapa metode. Selain itu, usia memproduksi adalah usia di mana seorang perempuan mampu untuk melahirkan (subur), yakni kurun waktu sejak mendapat haid pertama (menarche) dan berakhir pada saat berhenti haid (menopause). Adapun secara medis, masa reproduksi atau usia subur adalah masa di mana seorang wanita mampu melahirkan. Masa ini diawali pada saat seorang wanita mendapat haid yang pertama (menarche) dan berakhir pada saat seorang wanita berhenti mendapatkan haid (menopause). Dalam analisis fertilitas, pada umumnya umur 15-49 tahun dijadikan rujukan sebagai masa subur (reproduksi) seorang wanita.
B. Faktor yang Mempengaruhi Fertilitas
Fertilitas merupakan hasil dari suatu proses perilaku serta persepsi dan kepercayaan-kepercayaan yang dianut oleh masyarakat di mana fertilitas terjadi. Berbagai faktor dapat memengaruhi fertilitas, secara garis besarnya dapat dikategorikan dalam faktor sosial, budaya, termasuk agama, ekonomi, dan lain-lain.
Selanjutnya, faktor-faktor tersebut dapat dilihat apakah memengaruhi fertilitas secara langsung atau tidak langsung. Juga dapat dikategorikan apakah analisa dilakukan dengan memakai pendekatan ilmu sosial atau ilmu ekonomi.
Salah satu pendekatan ilmu sosial tentang faktor-faktor yang memengaruhi fertilitas adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Kingsley Davis dan Judith Blake, terkenal dengan memasukkan pendekatan 'variabel
viii
antara, yakni variabel yang harus dilalui oleh variabel lain untuk dapat memengaruhi fertilitas.
1. Variabel "Antara" oleh Kingsley Davis dan Judith Blake
Menurut Kingsley Davis dan Judith Blake (1956) terdapat tiga tahap penting dari proses kelahiran, yaitu:
a. Tahap hubungan kelamin (intercourse) b. Tahap konsepsi (conception)
c. Tahap kehamilan (gestation)
Faktor-faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang memengaruhi fertilitas hanya akan berpengaruh jika melalui faktor-faktor langsung yang mempunyai kaitan dengan ketiga tahap fertilitas di atas. Faktor-faktor ini disebut 'VARIABEL ANTARA', yang terdiri dari:
Enam variabel hubungan kelamin (intercourse variables), yaitu faktor-faktor yang memengaruhi hubungan kelamin:
1) Umur mulai hubungan kelamin,
2) Selibat permanen: proporsi wanita yang tidak pernah melakukan hubungan kelamin seumur hidupnya,
3) Lamanya berstatus kawin, 4) Abstinensi sukarela,
5) Abstinensi terpaksa, misalnya sakit dan berpisah sementara, 6) Frekuensi hubungan kelamin.
Tiga variabel konsepsi (conception variables), yaitu faktor-faktor yang memengaruhi kemungkinan terjadinya konsepsi atau pembuahan:
1) Fekunditas atau infekunditas yang disebabkan hal-hal tidak disengaja 2) Pemakaian kontrasepsi,
3) Fekunditas atau infekunditas yang disebabkan hal-hal disengaja, misalnya sterilisasi.
Dua variabel kehamilan (gestation variables), yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan:
1) Mortalitas janin karena sebab-sebab yang tidak disengaja, 2) Mortalitas janin karena sebab-sebab yang disengaja.
Menurut Davis dan Blake, setiap variabel diatas terdapat pada semua masyarakat. Sebab masing-masing variabel memiliki pengaruh (nilai) positif dan negatifnya sendiri-sendiri terhadap fertilitas. Dengan demikian ketidakadaan variabel tersebut juga suatu masyarakat masing-masing variabel bernilai negatif atau positif maka angka kelahiran yang sebenarnyatergantung kepada neraca netto dari nilai semua variabel.
2. Kerangka Pikir Ronald Freedman
Ronald Freedman menyatakan bahwa variabel antara memiliki hubungan yang kuat dengan norma-norma sosial dalam masyarakat. Perilaku wanita yang berkaitan dengan variabel ini sangat dipengaruhi oleh tradisi dan pandangan masyarakat di sekitarnya mengenai proses kelahiran, mulai dari pernikahan, kehamilan, hingga persalinan. Norma-norma sosial ini juga berkaitan erat dengan tingkat kemajuan wanita, pasangan, dan masyarakat di sekitarnya. Pada akhirnya, perilaku individu akan dipengaruhi oleh norma- norma yang berlaku (lihat diagram berikut).
Selanjutnya, akan dijelaskan secara singkat pandangan para ahli dalam New Home Economics. Dua contoh yang telah disebutkan sebelumnya merupakan pendekatan dari disiplin ilmu sosial.
x
Di sisi lain, para ekonom juga berusaha menjelaskan variasi tingkat fertilitas melalui perspektif ekonomi, khususnya dengan pendekatan 'New
Home Economics'. Para pendukung aliran ini meyakini bahwa teori ekonomi mikro dapat menjelaskan keputusan pasangan suami istri dalam memiliki anak atau menambah jumlah anak dengan mempertimbangkan faktor-faktor ekonomi, mirip dengan bagaimana pasangan tersebut mempertimbangapakah mereka akan membeli rumah, mobil, atau memiliki anak terlebih dahulu setelah menikah.
Diagram: Faktor-faktor yang memengaruhi fertilitas menurut ronald freedman
Selanjutnya, akan dijelaskan secara singkat pandangan para ahli dalam New Home Economics. Dua contoh yang telah disebutkan sebelumnya merupakan pendekatan dari disiplin ilmu sosial.
Di sisi lain, para ekonom juga berusaha menjelaskan variasi tingkat fertilitas melalui perspektif ekonomi, khususnya dengan pendekatan ‘New Home Economics’. Para pendukung aliran ini meyakini bahwa teori ekonomi mikro dapat menjelaskan keputusan pasangan suami istri dalam memiliki anak atau menambah jumlah anak dengan mempertimbangkan faktor-faktor ekonomi, mirip dengan bagaimana pasangan tersebut mempertimbangkan apakah mereka akan membeli rumah, mobil, atau memiliki anak terlebih dahulu setelah menikah.
3. Berdasarkan Permikiran Harvey Leibenstein
H. Leibenstein menjelaskan bahwa memiliki anak dapat dilihat dari dua aspek: manfaat (utility) dan biaya (cost) untuk membesarkan mereka.
Manfaat anak bagi orang tua meliputi kepuasan emosional, dukungan finansial di masa depan, dan bantuan dalam produksi, seperti pertanian.
Namun, biaya untuk membesarkan anak dianggap sebagai pengeluaran.
Ketika pendapatan orang tua meningkat, mereka cenderung menginginkan anak dengan kualitas lebih baik, seperti pendidikan yang lebih tinggi dan perawatan kesehatan yang lebih baik. Hal ini menyebabkan biaya membesarkan anak meningkat, sementara manfaatnya menurun, karena anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk pendidikan dan tidak lagi memberikan dukungan finansial yang signifikan. Akibatnya, biaya untuk membesarkan anak menjadi lebih besar daripada manfaatnya, yang mengarah pada penurunan permintaan terhadap anak dan menurunkan tingkat
4. Kerangka Pemikiran Gary Becker
Menurut Gary Becker anak dapat dianggap sebagai barang 'konsumsi tahan lama' (durable goods). Orang tua mempunyai pilihan antara kuantitas dan kualitas anak. Kualitas diartikan sebagai rata-rata pengeluaran (biaya) untuk anak oleh satu keluarga yang didasarkan atas dua asumsi, yaitu sebagai berikut.
a) Selera orang tua tidak berubah.
b) 'Harga anak' dan harga barang-barang konsumsi lainnya tidak dipengaruhi keputusan rumah tangga untuk berkonsumsi.
Jika, harga anak (H) = Rp3.000.000,- dan harga televisi (H) = Rp2.000.000,- sedangkan pendapatan orang tua (Y) = Rp6.000.000,-, dapat dibuat kurva sebagai berikut.
xii
Curve Gary Becker
Becker berpendapat bahwa seiring dengan meningkatnya pendapatan, jumlah anak yang dimiliki seharusnya juga bertambah, sehingga ada hubungan positif antara pendapatan dan fertilitas. Namun, dalam kenyataannya, pasangan dengan pendapatan tinggi cenderung memiliki lebih sedikit anak dibandingkan pasangan berpendapatan rendah. Fenomena ini juga terlihat di negara maju, di mana pendapatan umumnya lebih tinggi.
Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah anak dapat dianggap sebagai barang inferior. Kritik ini ditujukan kepada Gary Becker. Becker menjelaskan melalui teori alokasi waktu, yang menyatakan bahwa waktu yang dihabiskan ibu untuk merawat banyak anak dianggap kurang bernilai dibandingkan waktu untuk merawat anak yang lebih sedikit. Oleh karena itu, ketika pendapatan meningkat, jumlah anak yang diinginkan cenderung berkurang.
C. Sumber Data Fertilitas dan Pengukurannya 1. Sumber Data Fertilitas
Data kelahiran yang menjadi dasar dalam studi tentang fertilitas diperoleh melalui registrasi, sensus, dan survei. Masing-masing jenis data tersebut memiliki bentuk, kelebihan, serta kelemahan yang akan dijelaskan pada bagian berikut.
a. Registrasi
Data kelahiran yang diperoleh melalui registrasi dikenal sebagai statistik kelahiran (birth statistics). Informasi yang dicatat meliputi jumlah kelahiran berdasarkan usia, nama suami atau istri, tanggal kelahiran, serta alamat tempat tinggal setiap bulan. Namun, terdapat beberapa kelemahan dalam sistem registrasi kelahiran.
1) Aplikasi definisi, sesuai definisi United Nations (UN) & World Health Organization (WHO), Penghitungan kelahiran harus mencakup semua bayi yang lahir hidup dan tidak memasukkan kehamilan yang tidak menghasilkan kelahiran hidup. Namun, sering terjadi kekurangan pencatatan (underestimate) karena bayi yang meninggal segera setelah lahir tidak tercatat. Sebaliknya, pencatatan berlebihan (overestimate) dapat terjadi jika kelahiran mati (stillbirth) dilaporkan sebagai kelahiran hidup (live birth).
2) Kelengkapan (completeness) Registrasi, Masalah kelengkapan registrasi umumnya disebabkan oleh pencatatan yang tidak merata di seluruh wilayah atau kelompok penduduk dalam suatu negara, serta ketidaktercataan semua peristiwa penting di wilayah registrasi.
3) Ketepatan Pencatatan Tempat, Kurangnya ketepatan dalam pencatatan lokasi kelahiran sering terjadi akibat rendahnya akurasi dalam menentukan tempat lahir. Di beberapa negara, kelahiran cenderung tercatat di wilayah perkotaan karena banyak wanita melahirkan di klinik atau rumah bersalin di pusat kota. Di Indonesia, ketidaktepatan ini sering disebabkan oleh praktik tumpang lahir, yaitu wanita melahirkan di rumah orang tua yang berbeda lokasi dan mencatatkan kelahiran di tempat tersebut. United Nations (UN) merekomendasikan agar pencatatan kelahiran disesuaikan dengan tempat tinggal tetap ibu.
4) Ketepatan Pencatatan Waktu, Menurut United Nations (UN), pencatatan kelahiran seharusnya dilakukan pada tahun kelahiran terjadi. Namun, di banyak negara berkembang, pencatatan sering tidak sesuai dengan tahun kelahiran, sehingga terdapat perbedaan antara tahun registrasi dan tahun kelahiran. Hal ini terjadi karena kelahiran baru dicatat saat dilaporkan, bukan pada saat kelahiran berlangsung.
5) Ketepatan Pengelompokan Kelahiran, Berdasarkan karakteristik demografi dan sosial-ekonomi, pengelompokan wanita sering menyebabkan ketidaktepatan dalam pencatatan profil latar belakang
xiv
bayi yang lahir. Ketidakakuratan ini umumnya terkait dengan pencatatan usia, pekerjaan orang tua, tempat tinggal, dan agama.
Adapun kekuatan registrasi penduduk sebagai berikut.
1) Waktu pencatatan terus menerus secara kontinyu.
2) Ada jaminan mengenai kelengkapan data, asal semua kejadian 3) dilaporkan kepada petugas (complete coverege). Kecermatan laporan
(accuracy) asal setiap kejadian segera dilaporkan.
4) Tersedianya data secara terus menerus asal pencatatan dilakukan secara kontinu.
b. Sensus
Sensus penduduk dilakukan secara berkala untuk mengumpulkan data demografi, termasuk informasi tentang kelahiran. Meskipun mencakup seluruh populasi, sensus memiliki keterbatasan dalam tingkat detail karena dilakukan dalam jangka waktu tertentu, biasanya setiap 10 tahun.
Keunggulan sensus penduduk yaitu:
1) Cakupan lebih luas.
2) Informasi yang dikumpulkan meliputi: jumlah ALH, jumlah AMH, tahun lahir ibu (umur ibu).
Kelemahan sensus penduduk yaitu:
1) Tergantung daya ingat ibu tentang: jumlah anak lahir hidup, jumlah anak yang meninggal, umur ibu, dan umur anak
2) Hanya tersedia data 10 tahun sekali untuk Sensus atau 5 tahun sekali untuk Supas.
c. Survei
Data fertilitas yang diperoleh melalui survei bervariasi tergantung pada tujuan pelaksanaannya. Secara umum, survei fertilitas yang komprehensif mencakup pengumpulan informasi mengenai:
1) Jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup (ALH) oleh wanita pernah kawin.
2) Riwayat kehamilan (pregnancy history) dan riwayat kelahiran (birth history) yang dialami oleh wanita pernah kawin, lengkap dengan jenis kelamin anak dan tanggal dilahirkan.
3) Status kehamilan (pregnancy status).
4) Keterangan tentang latar belakang demografi (umur saat survei, umur kawin pertama, status perkawinan saat survei), dan latar belakang sosial dan ekonomi wanita.
Adapun kelemahan dalam sensus juga ditemukan dalam survei, karena keduanya mencatat kejadian kelahiran yang sudah lampau. Selain itu, cakupan survei lebih terbatas dibandingkan dengan sensus.
2. Pengukuran Fertilitas
Berdasarkan sumber data fertilitas yang tersedia, terdapat dua pendekatan utama dalam pengukuran dasar fertilitas:
a) Pendekatan Penampang Melintang (Cross-Sectional)
Pendekatan ini mengukur fertilitas dalam satu periode tertentu, biasanya satu tahun, sehingga disebut current fertility.
b) Pendekatan Riwayat Kelahiran (Reproductive History)
Pendekatan ini mencerminkan riwayat kelahiran atau reproduksi suatu kelompok wanita dalam jangka waktu tertentu, dikenal sebagai ukuran longitudinal.
Pengukuran fertilitas ini digunakan untuk menilai tingkat kelahiran dalam suatu populasi dalam periode tertentu, umumnya satu tahun. Hasilnya memberikan gambaran mengenai fertilitas tahunan atau yearly performance, yang juga disebut sebagai current fertility. Untuk memahami lebih lanjut, berbagai indikator fertilitas akan dijelaskan pada bagian berikutnya:
a. Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR)
xvi
Angka kelahiran kasar (CBR) adalah banyaknya kelahiran dalam satu tahun tertentu per seribu penduduk pada pertengahan tahun yang sama.
Secara matematis, rumus untuk menghitung Angka Kelahiran Kasar (CBR) adalah sebagai berikut:
Di mana:
B = Jumlah kelahiran selama 1 tahun
P = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun; P = ((P0+P1) /2, P0 = Jumlah penduduk pada awal tahun, P1 = Jumlah Penduduk pada akhir tahun
k = Konstan, biasanya 1.000
Manfaat Angka Kelahiran Kasar (CBR) untuk mengetahui tingkat kelahiran disuatu daerah tertentu pada waktu tertentu. Variabel lain yang menyusun indikator CBR didapat dari sensus penduduk, Registrasi vital dan SDKI. Jika CBR tahun 2020 sebesar 20, artinya terdapat 20 kelahiran per 1000 penduduk Indonesia pada tahun 2020 (Suriadi, 2020).
Misalkan
Pada tahun 2020 jumlah penduduk pertengahan tahun sebanyak 146 juta orang. Jumlah kelahiran pada tahun tersebut 6.844.600 jiwa, sehingga CBR pada dapat dihitung sebagai berikut:
CBR sebesar 46,88 berarti bahwa dari setiap 1.000 penduduk tersebit terdapat antara 46 sampai 47 kelahiran hidup pada tahun 2020.
Perhitungan CBR masih merupakan perhitungan yang sangat kasar.
Ukuran ini disebut sebagai "angka kasar" (crude) karena produk tetrpapar yang digunakan sebagai penyebut adalah penduduk dari semua jenis kelamin termasuk laki-laki, dan semua umur, termasuk anak-anak dan orang tua, yang tidak mempunyai potensi untuk melahirkan.
b. Angka Kelahiran Umum (General Fertility Rate = GFR)
Angka Kelahiran Umum (General Fertility Rate/GFR) adalah jumlah kelahiran hidup per 1000 penduduk wanita usia 15-49 tahun atau 15-44 tahun.
Adapun rumus yang digunakan untuk Angka Kelahiran Umum (GFR), yaitu:
Di mana:
B = Jumlah kelahiran selama 1 tahun
Pf15-49= Jumlah penduduk perempuan umur 15-49 tahun pada pertengahan tahun
Pf15-44 = Jumlah penduduk perempuan umur 15-44 tahun pada pertengahan tahun
k = Bilangan Konstan (1000)
Manfaat dari Angka Kelahiran Umum (GFR) sebagai indikator untuk membandingkan keberhasilan antar wilayah dalam melaksanakan pembangunan sosial ekonomi, menunjukkan tingkat keberhasilan program KB, membantu para perencana program pembangunan untuk meningkatkan rata-rata usia kawin, meningkatkan program pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hamil dan perawatan anak, serta mengembangkan program penurunan tingkat kelahiran.
Misalnya
xviii
Pada Tahun 2020 Jumlah penduduk wanita 15-49 tahun pada pertengahan adalah 50.251 dengan jumlah kelahiran 3.722 kelahiran, maka nilai GFR adalah:
Angka 74,07 ini berarti bahwa pada tahun 2020 untuk setiap seribu penduduk perempuan usia subur, terdapat 74 bayi yang diahirkan. Meskipun ukuran ini masih bersifat umum (general), dalam keadaan kelangkaan data, ukuran ini sudah dapat memberikan ceranan tingkat kelahiran.
c. Angka Kelahiran Menurut Umur (Age Specific Fertility Rate = ASFR)
Angka Kelahiran menurut Umur (ASFR) adalah banyaknya kelahiran per 1000 wanita pada kelompok usia tertentu antara 15-49 tahun. ASFR merupakan indikator kelahiran yang memperhitungkan perbedaan fertilitas dari wanita usia subur menurut umurnya. Pola ASFR membentuk huruf U terbalik. Adapun rumus dari Angka Kelahiran Menurut Umur (ASFR), yaitu:
Di mana:
Bi = Jumlah kelahiran dari perempuan pada kelompok umur i pada tahun tertentu
Pfi = Jumlah penduduk perempuan pada kelompok umur i pada tahun yang sama
i = kelompok umur (1 = 1 untuk perempuan kelompok umur 15-19 tahun, i 2 untuk 20 sampai 24 tahun, .... i =7 untuk 45-49 tahun)
k = bilangan konstanta, biasanya 1.000
Manfaat dari Angka Kelahiran Menurut Umur (ASFR) yaitu sebagai data dasar untuk proyeksi penduduk, mengetahui jumlah penduduk menurut usia dan jenis kelamin di masa yang an datang. Pengetahuan tentang ASFR berguna untuk pelaksanaan program KB dan peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA).
Misalnya
Tabel 7.1 Data perhitungan ASFR menunjukkan bahwa angka ASFR sangat bervariasi menurut kelompok umur. Pola yang terlihat dapat dikatakan seperti huruf U terbalik, yaitu angka ASFR meningkat dengan meningkatnya umur wanita, sampai pada titik tertinggi yaitu pada kelompok umur 25-29 tahun, kemudian terus menurun sampai terendah pada kelompok umur 45-49 tahun.
Keunggulan angka kelahiran menurut kelompok umur (ASFR) adalah sebagai berikut:
1) Ukuran ASFR lebih cermat dibandingkan ukuran GFR karena telah memperhitungkan kemampuan perempuan untuk melahirkan (tingkat kesuburan) sesuai dengan umurnya.
2) Dengan ASFR, memungkinkan untuk dilakukan studi fertilitas menurut kahor (tingkat kelahiran) atau menurut kelompok umur tertentu.
xx
3) ASFR merupakan dasar perhitungan ukuran fertilitas yang selamanya, yakni ukuran reproduksi (Total Fertility Rate-TFR, Gross Reproduction Rate-GRR, Dan Net Reproduction Rate-NRR).
d. Angka Fertilitas Total (Total Fertility Rate = TFR)
TRF adalah jumlah anak rata-rata yang akan dilahirkan oleh seorang perempuan pada akhir masa reproduksinya apabila perempuan tersebut mengikuti pola fertilitas pada saat TFR dihitung. TFR merupakan pengukuran sintetisyang menyatakan fertilitas pada akhir masa reproduksi (completed fertility) dari satu kohor hipotesis perempuan. TFR dihitung dengan cara menjumlahkan angka kelahiran menurut umur (biasanya lima tahun). Secara matematis rumus TFR dapat dituliskan sebagai berikut:
Keterangan:
ASFRi = Angka kelahiran untuk perempuan pada kelompok umur i
i=1 = Kelompok umur 20-24 tahun, kelompok umur 45-49 tahun. dan I7 untuk
Gambar 7.2 Perkembangan TFR Indonesia Berdasarkan SP1971-SP2020 Sumber: BPS
Tingkat fertilitas Total Indonesia hasil Sensus Penduduk 1971-2020 dapat dilihat pada Gambar 7.2 yang menyajikan hasil estimasi penghitungan TFR dengan metode Anak Kandung (Own Children Method). TFR secara nasional menunjukkan tren yang fluktuatif, dari angka 5,61 anak pada tahun 1971 menjadi 2,41 anak pada tahun 2010, dan, meningkat lagi menjadi 2,45 anak pada tahun 2020.
Dengan menggunakan data ASFR pada Tabel 7.1, TFR untuk DKI Jakarta tahun 1995 dapat diperoleh dengan cara berikut ini:
TFR = 5 (40+110+128+101+57 +19 + 3) = 5 (458)
= 2.290
= 2,290 per 1.000 perempuan usia 15-49 tahun, atau
= 2, 3 anak untuk setiap perempuan usia 15-49 tahun.
Nilai TFR = 2, dapat diartikan bahwa rata-rata setiap perempuan Indonesia yang mampu menyelesaikan masa reproduksinya (15-49 tahun) akan mempunyai anak 2 orang.
Keunggulan angka fertilitas total (TFR) ini dapat dijadikan ukuran kelahiran untuk seorang perempuan selama usia reproduksinya (15-49 tahun) dan telah memperhitungkan tingkat kesuburan perempuan pada masing- masing kelompok umur.
Angka Kelahiran Total berguna sebagai indikator untuk membandingkan keberhasilan antar wilayah dalam melaksanakan pembangunan sosial ekonomi, menunjukkan tingkat keberhasilan program KB, membantu para perancana program pembangunan untuk meningatkan rata-rata usia kawin, meningkatkan program pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan pelayanan ibu hambil dan pelayanan anak, serta mengembangkan program penurunan tingkat kelahiran.
xxii
e. Anak Lahir Hidup atau ALH (Children Ever Born = CEB) Anak lahir hidup (ALH) mencerminkan banyaknya kelahiran hidup sekelompok atau beberapa kelompok perempuan pada saat mulai memasuki reproduksi hingga pada saat pengumpulan data dilakukan. ALH disebut juga ukuran paritas. Perhitungan jumlah anak yang dilahirkan hidup rata-rata dapat dituliskan sebagai berikut.
Di mana:
Pi = Paritas atau jumlah ALH rata-rata untuk perempuan pada kelompok umur i
ALHi = Banyaknya anak yang dilahirkan hidup oleh perempuan pada
kelompok umur i
P = Banyaknya wanita pada kelompok umur i Tabel 7.2
Anak Lahir Hidup Rata-rata per Perempuan Pernah Kawin Menurut Kelompok Umur, Sulawesi Selatan, 2015
Sumber: Badan Pusat Statistik 2015
Kelebihan utama dari ukuran jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup (ALH) adalah sebagai berikut.
a) Kemudahan dalam memperoleh data, terutama dari sensus dan survei.
b) Tidak ada referensi waktu, karena menyatakan jumlah anak yang lahir hidup dari semenjak seorang perempuan menikah pertama kali.
Namun demikian, ukuran jumlah anak yang pernah dilahirkan hidup (ALH) juga memiliki kelemahan.
1) Jumlah ALH menurut kelompok umur sering tidak akurat apabila terdapat kesalahan dalam pelaporan umur ibu, terutama di Negara yang sedang berkembang.
2) Oleh karena sifat datanya yang retrospektif, maka ada kecenderungan faktor kelupaan (memory lapse) dalam melaporkan banyaknya kelahiran, terutama dari perempuan kelompok umur yang lebih tua.
Hal ini terjadi kalau banyak di antara anak mereka yang lahir hidup, tetapi sudah meninggal pada saat pencacahan atau tinggal diluar rumah tangga pencacahan.
3) Anak Lahir Hidup (ALH) berguna untuk mengetahui rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh sekelompok wanita mulai dari masa reproduksi hingga saat wawancara.
f. Rasio Anak Wanita (Child Woman Ratio = CWR)
Rasio anak waniita (CWR) antara perbandingan antara jumlah anak dibawah lima tahun (0-4 tahun) dengan jumlah penduduk perempuan usia reproduksi. Jumlah anak di bawah usia lima tahun sebagai pembilang merupakan jumlah kelahiran selama lima tahun sebelum pencacahan. Jumlah perempuan usia reproduksi sebagai penyebut dapat berasal dari kelompok umur 15-44 tahun atau 15-49 tahun. Demikian juga usia anak dapat di ukur dari 0-9 tahun atau 0-14 tahun. Persamaan ukuran CWR adalah
xxiv
Di mana:
P0-4 = banyaknya penduduk perempuan umur 0-4 tahun
Pf15-44 = banyaknya perempuan umur 15 - 44 tahun
Pf15-49 = banyaknya perempuan umur 15-49 tahun
k = bagian konstan, biasanya 1.000 Misalkan
Jika diketahui Penduduk berumur 0-4 tahun sebanyak 22,072,497 di Indonesia Tahun 2020., pada tahun yang sama banyaknya perempuan yang berumur 15 49 sebanyak 72,887,405. Angka CWR dapat diketahui sebesar 303 anak per 1.000 perempuan berumur 15-49 tahun, ditunjukkan sebagai berikut:
Perlu dicatat bahwa perhitungan rasio anak wanita (CWR) cenderung memakai jumlah anak usia 0-4 tahun, atau dapat juga dipakai 0-9 tahun dan bukan 0-1 tahun. Hal ini dikarenakan beberapa hal, antara lain sebagai berikut.
a) Data dari hasil sensus penduduk dan survey pada umumnya dipublikasikan dalam bentuk kelompok umur 5 tahunan.
b) Masalah kesalahan dalam pelaporan jumlah kelahiran dan pelaporan umur (under enumeration) lebih banyak terjadi pada usia 0-1 tahun dibandingkan umur anak yang lebih tua.
Berikut ini adalah beberapa kelebihan dari ukuran rasio anak wanita (CWR).
a) Rasio anak wanita merupakan ukuran yang sederhana dan datana mudah diperoleh dari sensus atau survey, yakni dengan pertanyaan:
"Berapa jumlah anak ibu yang dihirkan hidup, termasuk yang sudah meninggal?"
b) Rasio ini berguna untuk indikasi fertilitas di daerah dengan luas wilayah yang kecil dan tidak memungkinkan untuk dibuat angka fertilitas menurut umur dan angka fertilitas total yang memerlukan sampel yang cukup besar untuk perhitungannya.
Berikut adalah kelemahan dari ukuran rasio anak wanita:
a) Kualitasnya sangat dipengaruhi secara langsung oleh kualitas pelaporan jumlah anak dan pelaporan umur anak maupun umur ibu.
Di banyak Negara berkembang, di mana penduduk umumnya tidak mempunyai catatan tentang kelahiran anak dan umur ibu, kualitas pelaporan akan semakin rendah.
b) Ukuran ini tidak dapat menangkap kasus kematian anak maupun kematian ibu, khususnya anak berusia di bawah satu tahun, sehingga ada kemungkinan CWR diperkirakan terlalu rendah dibandingkan dengan kenyataan yang sebenarnya.
c) Tidak memperhitungkan tingkat kesuburan perempuan menurut umur, seperti halnya ASFR
D. Permasalahan Fertilitas dan Pemecahannya 1. Permasalahan Fertilitas
Angka fertilitas diukur berdasarkan pembagian antara jumlah kejadian (event) dengan penduduk yang menanggung risiko melahirkan (exposed to risk), seperti halnya pada pengukuran angka mortalitas.
Walaupun demikian, ada beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pengukuran fertilitas yang tidak dijumpai dalam pengukuran mortalitas.
Permasalah tersebut adalah sebagai berikut.
a) Tidak semua kelompok masyarakat memiliki risiko untuk melahirkan.
Hanya wanita dalam usia reproduksi (15-49 tahun) dan umumnya
xxvi
yang telah menikah yang berisiko untuk hamil dan melahirkan.
Namun, ada juga wanita yang melahirkan meskipun tidak berstatus menikah.
b) Kelahiran seorang anak melibatkan kedua orang tuanya, sehingga ada keinginan untuk mengukur fertilitas berdasarkan karakteristik ibu, ayah, atau keduanya. Namun, informasi yang biasanya dikumpulkan lebih banyak berkaitan dengan ibu, sehingga pengukuran fertilitas cenderung hanya berdasarkan sifat-sifat ibu. Meskipun demikian, metode yang digunakan untuk pengukuran ini juga dapat diterapkan untuk menilai fertilitas pria.
c) Menentukan jumlah penduduk yang 'terpapar risiko untuk melahirkan' dalam pengukuran fertilitas sangatlah sulit. Tidak semua wanita memiliki risiko untuk melahirkan. Meskipun mudah untuk membedakan antara anak-anak dan orang tua, tidak semua wanita yang berusia antara kedua kelompok tersebut (15-49 tahun) memiliki risiko melahirkan.
d) Dalam praktiknya, masyarakat umum sering kesulitan membedakan antara kelahiran hidup (live birth) dan kelahiran mati (still birth).
e) Seorang wanita dapat melahirkan lebih dari satu kali. Oleh karena itu, terdapat unsur 'pilihan' untuk melahirkan lagi atau tidak. Pilihan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pendidikan dan jumlah anak yang telah dimiliki.
2. Pemecahan Fertilitas
Dalam upaya menurunkan tingkat fertilitas, program Keluarga Berencana (KB) berfokus pada penjarangan kelahiran anak. Usia muda, khususnya antara 24-29 tahun, merupakan periode dengan tingkat produksi tinggi bagi wanita. Rata-rata, ibu di Jawa dapat melahirkan enam anak selama masa produktif mereka, yaitu antara usia 15-49 tahun (Sudiono, 1980). Oleh karena itu, pasangan usia subur (PUS) perlu memperhatikan jarak kelahiran dan jumlah anak yang dimiliki. Beberapa faktor pengendali yang perlu dipertimbangkan meliputi:
a) Penduduk Usia Muda
Peran usia dalam perkawinan sangat penting, terutama dalam konteks program Keluarga Berencana yang bertujuan untuk memperlambat atau meningkatkan usia pernikahan. Sering kali, orang tua di desa menikahkan anak mereka tanpa mempertimbangkan kesiapan usia, yang dapat menyebabkan anak yang masih muda dipaksa untuk menikah, meskipun secara fisik mereka sudah besar.
b) Kesadaran Masa Depan
Generasi muda perlu menyadari pentingnya kebutuhan ekonomi dalam membangun rumah tangga. Banyak rumah tangga yang mengalami kehancuran akibat masalah ekonomi. Pendidikan memiliki pengaruh positif terhadap status ekonomi dan kesehatan.
Ibu-ibu yang berpendidikan cenderung lebih subur dan memiliki kemungkinan lebih besar untuk melahirkan anak-anak yang sehat.
Namun, seiring meningkatnya pendidikan, semakin banyak yang berusaha membatasi jumlah anak dengan menggunakan kontrasepsi.
Generasi muda diharapkan menunda pernikahan untuk menyelesaikan studi atau mencari pengalaman baru yang dapat membantu mereka dalam mencari pekerjaan.
c) Masalah Kesehatan
Pada perkawinan usia muda, pengetahuan tentang kesehatan sering kali masih kurang. Keluarga yang hidup dalam kondisi tidak sehat dan terpapar penyakit menular memiliki risiko kematian balita yang tinggi. Oleh karena itu, penting bagi setiap generasi yang akan menikah untuk memperhatikan aspek kesehatan, termasuk kebutuhan akan makanan sehat, air bersih, dan lingkungan yang bersih. Ketika usia sudah memadai untuk menikah, calon suami atau istri perlu mengatur jarak dan jumlah anak sesuai dengan kondisi kesehatan yang sebenarnya.
d) Pendidikan Moral
Menciptakan kondisi kehidupan beragama bagi remaja sangat penting. Tuntunan agama dapat membantu memperbaiki moral,
xxviii
terutama karena generasi muda sering kali dipenuhi sifat egois dan emosi yang tinggi, yang membuat mereka rentan terhadap pengaruh negatif. Jika orang dewasa atau orang tua membiarkan remaja tanpa bimbingan untuk mengendalikan perilaku seksual yang belum saatnya, mereka berisiko terjerumus ke dalam perilaku seksual yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, pendidikan moral yang efektif diperlukan untuk membimbing pemuda agar tidak terlibat dalam tindakan seksual yang dapat mengakibatkan fertilitas di luar batas yang seharusnya.
Studi Kasus
Jumlah penduduk Provinsi Riau berdasarkan data sensus penduduk sebesar 4.755.061 jiwa pada tahun 2000 dan meningkat menjadi 5.538.367 jiwa pada tahun 2010. Jumlah penduduk ini akan terus meningkat jika tidak ditangani dengan baik. Peningkatan jumlah penduduk dapat dipantau melalui proyeksi tingkat fertilitas. Fertilitas dapat dilihat melalui indikator jumlah kelahiran, Total Fertility Rate (TFR), Gross Reproduction Rate (GRR), dan Net Reproduction Rate (NRR).
1. jumlah kelahiran
Pertumbuhan penduduk yang masih tinggi disebabkan tingkat kelahiran masih lebih tinggi dibandingkan tingkat kematian penduduk. Berdasarkan Gambar 1, didapat bahwa proyeksi jumlah kelahiran di Provinsi Riau dari tahun 2010 hingga 2035 diproyeksikan akan terus naik dimana tahun 2010 menyentuh angka 144.800 jiwa bayi lahir hidup dan pada tahun 2035 menyentuh angka 161.600 jiwa bayi lahir hidup. Terdapat perbedaan sebesar 16.800 jiwa bayi lahir hidup dari tahun 2012-2016. Proyeksi kenaikan jumlah kelahiran tertinggi terjadi pada tahun 2010 ke tahun 2015 dimana terjadi penambahan sebesar 7.300 jiwa bayi lahir, hal ini disebabkan terjadinya peningkatan jumlah kelahiran adalah banyaknya pasangan usia subur di Provinsi Riau. Selain itu, faktor- faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat fertilitas adanya perbedaan tingkat sosial ekonomi masyarakat seperti
tingkat pendapatan keluarga, pendidikan keluarga, usia kawin pertama, dan lama penggunaan alat kontrasepsi.
2. TFR
Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate/TFR) adalah jumlah kelahiran hidup lakilaki dan perempuan tiap 1000 penduduk yang hidup hingga akhir masa reproduksinya. Berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia 2010- 2035 pada gambar ke 2, menunjukkan angka TFR di Provinsi Riau sebesar 2,92 anak per wanita pada tahun 2010, dan menurun 5% pada tahun berikutnya dan terus menurun 5% pada tiap tahunnya seiring tren kelahiran di masa lampau Provinsi Riau.
xxx
Walaupun proyeksi TFR di Provinsi Riau diperkirakan akan terus menurun, namun Angka tersebut berbeda 0.2 poin dari nilai TFR Indonesia yang ditunjukkan pada Gambar 3. Hal ini dikarenakan Nilai TFR Indonesia diperoleh dari rata-rata kelahiran seluruh provinsi yang ada di Indonesia, sehingga dapat dikatakan angka kelahiran di setiap provinsi di Indonesia jumlahnya tidak sama. Ketidaksamaan tersebut terjadi karena adanya perbedaan jumlah pasangan usia subur dan jumlah penduduk yang tinggal di masing masing provinsi.
Dilihat pada Gambar 2 dan 3 TFR Provinsi Riau masih jauh dari capaian ideal hingga tahun 2035. Angka standar capaian ideal bagi seluruh negara (penduduk tumbuh seimbang) merupakan 2,1. Nilai TFR 2,1 dapat diartikan 2 orang anak yang dilahirkan akan menggantikan kedua orang tuanya. Namun jika dilihat dalam skala negara, Indonesia akan mencapai standar ideal pada tahun 2027. Nilai proyeksi TFR menunjukkan bahwa pemerintah Riau akan berhasil dalam mengendalikan jumlah penduduknya melalui program Keluarga Berencana yang telah dilaksanakan sejak tahun 1967. Namun, pada kenyataannya dari hasil survei SDKI (Gambar 3) pada tahun 2017 angka TFR Provinsi Riau masih berada pada nilai 2,9 sama dengan nilai proyeksi pada tahun 2010. Tidak hanya di provinsi Riau di Indonesia sendiri pada tahun 2017 nilai TFR juga masih sama dengan tahun 2010. Hal ini menandakan bahwa program KB di Provinsi Riau dan Indonesia belum sepenuhnya berhasil.
3. Angka Reproduksi Kasar (GRR)
Gross Reproduction Rate (GRR) atau tingkat reproduksi bruto adalah jumlah anak perempuan yang dilahirkan hidup per 1.000 penduduk perempuan dengan asumsi bahwa tidak ada bayi perempuan yang meninggal sebelum mengakhiri usia reproduksi. Data GRR Provinsi Riau berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia 2010 - 2035 dapat dilihat pada gambar 4.
Berdasarkan grafik diatas, GRR diperkirakan akan mengalami penurunan pada tahun 2015 - 2025 sebesar 0,2% dan pada tahun 2030 -2035 sebesar 0,1%. Penurunan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu jumlah pernikahan, kondisi ekonomi, dan status bekerja Wanita Usia Subur (WUS).
4. NRR
Tingkat Reproduksi Neto (NRR) merupakan angka yang merepresentasikan jumlah bayi perempuan tiap kohor 1000 wanita yang bertahan hidup sebelum mengakhiri masa reproduksinya. Asumsi yang digunakan adalah dengan melihat pola fertilitas maupun mortalitas ibunya. Analisis yang telah dilakukan pada indikator ini yaitu dengan melihat perbandingan antara NRR Provinsi Riau dengan NRR Indonesia pada proyeksi tahun 2010 – 2035 (pada gambar tersebut).
xxxii
Berdasarkan Gambar tersebut menunjukkan bahwa posisi nilai NRR Provinsi Riau berada di atas NRR Indonesia, yang mengartikan bahwa jumlah kelahiran bayi perempuan di Provinsi Riau lebih banyak dibandingkan dengan rata-rata jumlah kelahiran bayi perempuan yang ada di Indonesia.
Pada tahun 2010 – 2035 nilai NRR Provinsi Riau diproyeksikan turun karena beberapa asumsi yang mana salah satu penyebabnya yaitu oleh adanya penurunan jumlah kelahiran, begitu pula dengan rata-rata NRR di Indonesia.
Nilai NRR Provinsi Riau tahun 2010 adalah sebesar 1,3 yang mengartikan bahwa dalam 1000 wanita akan digantikan oleh 1300 anak wanita yang mana diinterpretasikan akan tetap hidup hingga seusia ibu yang melahirkan wanita.
Tahun 2015 nilai NRR masih tetap sebesar 1,3. Kemudian tahun 2020 – 2030 NRR mengalami penurunan pada masingmasing periode tahun senilai 1,2;
1,1; dan 1. Selanjutnya pada tahun 2035 nilai NRR masih stabil pada nilai 1.
Hasil proyeksi antara NRR Provinsi Riau dibandingkan dengan rata-rata NRR Indonesia menunjukkan bahwa banyaknya kelahiran bayi perempuan di Provinsi Riau akan menyuplai rata-rata NRR di Indonesia karena nilainya yang surplus atau lebih dari per 1000 penduduk wanita. Hal ini kemudian dapat mengindikasikan bahwa penduduk Indonesia tidak akan mengalami kekurangan terkait jumlah penduduk wanita yang dapat bereproduksi. Namun pada bagian akhir proyeksi terdapat penurunan pada rata-rata NRR Indonesia menjadi 0,9 dan hal tersebut berkorelasi pula dengan NRR Provinsi Riau senilai 1, sehingga pada kondisi ini nilai NRR Provinsi Riau kurang mampu untuk menyuplai nilai rata-rata NRR Indonesia agar bernilai 1.
JADI
Fertilitas di Provinsi Riau diproyeksikan akan mengalami penurunan hingga tahun 2035. Jumlah kelahiran akan meningkat hingga angka 7,3 setiap 5 tahun, sedangkan indikator TFR menurun 5%, GRR menurun 7%, dan NRR menurun 8% setiap 5 tahun. Untuk mewujudkan hasil proyeksi diperlukannya penegasan program pemerintah untuk menekan angka jumlah kelahiran agar
tidak terjadi lonjakan jumlah penduduk. Hal tersebut dikarenakan fertilitas di Indonesia sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Fertilitas merupakan kemampuan seorang wanita untuk melahirkan anak, yang diukur dari jumlah bayi yang lahir hidup. Fertilitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sosial, budaya, dan ekonomi, serta norma- norma masyarakat. Konsep fertilitas mencakup kelahiran hidup, abortus, dan masa reproduksi, dengan pengukuran yang melibatkan berbagai pendekatan dan indikator. Permasalahan dalam pengukuran fertilitas meliputi kesulitan dalam menentukan populasi yang berisiko melahirkan dan membedakan antara kelahiran hidup dan mati. Untuk mengatasi tingginya tingkat fertilitas, program Keluarga Berencana (KB) berfokus pada penjarangan kelahiran, dengan mempertimbangkan faktor usia, kesadaran ekonomi, kesehatan, dan pendidikan moral. Upaya ini penting untuk memastikan kesehatan reproduksi dan pertumbuhan populasi yang seimbang.
B. Saran
Makalah ini membahas keseluruhan mengenai fertilitas yang menyangkut mengenai konsep fertilitas, lahir hidup, abortus, masa reproduksi, sumber data, pengukuran dalam fertilitas, faktor yang memperngaruhi dan sebagainya yang sangat penting dalam kependudukan dan berbagai aspek. Maka dari itu diharapkan seteleh membaca makalah ini pembaca dapat memahami apa-apa saja aspek dalam fertilitas dan bagaimana mengaplikasikannya.
xxxiv
DAFTAR PUSTAKA
abdul, r. (2023). ekonomi demografi dan kependudukan. yogyakarta: PT nas media indonesia.
herawati anita, h. o. (2022). buku ajar pengantar demografi. jawa tengah: PT nasya expanding management.
jaya kasman, r. (2022). kependudukan dan lingkungan hidup. jawa barat: CV feniks muda sejahtera.
Sapto Bagaskoro, D., Aditya Alamsyah, F., & Ramadhan, S. (2022). Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Demografi: Fertilitas, Mortalitas Dan Migrasi (Literature Review Perilaku Konsumen). Jurnal Ilmu Hukum,
Humaniora Dan Politik, 2(3), 303–312.
https://doi.org/10.38035/jihhp.v2i3.1042