• Tidak ada hasil yang ditemukan

FINAL Ringkasan ARL jagung PRG Bt11XGA21

N/A
N/A
Elios Keren

Academic year: 2025

Membagikan "FINAL Ringkasan ARL jagung PRG Bt11XGA21"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

RINGKASAN

Pengkajian Keamanan Lingkungan Jagung Produk Rekayasa Genetik (PRG) Stacked Event Bt11xGA21 Resisten Penggerek Batang dan Toleran Glifosat

I. Pendahuluan

Jagung PRG stacked event Bt11xGA21 (jagung PRG Bt11xGA21) adalah produk Syngenta yang merupakan hasil persilangan konvensional dari jagung PRG GA21 dan jagung PRG Bt11. Di Amerika jagung PRG GA21 sudah dibudidayakan sejak tahun 1997 dan jagung PRG Bt11 sudah dibudidayakan sejak tahun 1996, setelah itu jagung PRG Bt11xGA21 diproduksi dan ditanam di Amerika Serikat dan beberapa negara (9 negara). Jagung PRG Bt11xGA21 mengekspresikan protein Cry1Ab yang termodifikasi (truncated dan codon optimized), yang selanjutnya disebut truncated Cry1Ab dan mEPSPS. Truncated Cry1Ab bertanggungjawab untuk sifat ketahanan terhadap hama penggerek batang Ostrinia furnacalis dan mEPSPS untuk toleransi terhadap herbisida berbahan aktif glifosat. Di Indonesia O.

furnacalis merupakan hama penting tanaman jagung dengan daerah sebar meliputi Sumatera (semua provinsi kecuali Bangka Belitung, Sumatera Barat, Riau Kepulauan), Jawa (semua provinsi kecuali Banten), Kalimantan (semua provinsi kecuali Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara), seluruh kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi dan Papua (Waterhouse, 1993; Abdullah dan Rauf, 2011; Permadi dan Harahap, 2019; BBPOPT, 2019). Setiap pertambahan infestasi satu ekor larva per tanaman menyebabkan kehilangan hasil sebesar 4,9%

pada fase V10 (10 daun terbuka sempurna); 4,5% pada fase R1 (keluarnya rambut tongkol);

dan 3,7% pada fase R2 (Subiadi et al., 2014). Penanaman jagung PRG Bt11xGA21 di daerah endemis O. furnacalis akan membantu petani Indonesia menghindari/mengurangi kerugian dari kehilangan hasil panen akibat serangan O. furnacalis dan membantu dalam pengendalian gulma di lahan. Brookes dan Barfoot (2018) melaporkan bahwa secara global penggunaan tanaman PRG tahan serangga hama (termasuk breeding stacknya) berkontribusi mengurangi penggunaan pestisida sebesar 8,2% dan mengurangi Environmental Impact Quotient (EIQ) sebesar 18,4%.

Jagung PRG Bt11xGA21 juga memiliki gen marker selektif pat yang mengkode protein PAT yang digunakan sebagai penyeleksi dan penanda dalam proses pengembangan jagung PRG Bt11, yang merupakan tetua jantan dari jagung PRG Bt11xGA21.

Ketahanan jagung PRG Bt11xGA21 terhadap hama O. furnacalis, toleransi terhadap herbisida glifosat, dan dampaknya terhadap keamanan lingkungan telah dikaji/dievaluasi di Lapangan Uji Terbatas (LUT) pada tahun 2012-2013 di Lampung, Bogor, Yogyakarta dan Malang. PT Syngenta Seed Indonesia bekerjasama dengan Universitas Lampung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Muhammadiyah Malang dalam melakukan pengujian di LUT tersebut.

Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik, dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Analisis Risiko Lingkungan Produk Rekayasa Genetik, Tim Teknis Keamanan Hayati (TTKH) bidang Keamanan Lingkungan telah melakukan pengkajian dokumen Analisis Risiko Lingkungan jagung PRG Bt11xGA21. Hasil pengkajian TTKH diuraikan dalam beberapa bab di bawah ini.

(2)

II. Pengkajian Keamanan Lingkungan II.1. Informasi tanaman PRG

Jagung PRG Bt11xGA21 mengekspresikan protein truncated Cry1Ab dan mEPSPS. Protein truncated Cry1Ab melekat pada membran vesikula pada lambung O.

furnacalis, memicu pembentukan pori-pori yang mempengaruhi keseimbangan osmotik, sehingga sel akan membengkak dan pecah. Larva O. furnacalis yang rentan akan berhenti makan dan mati. protein truncated Cry1Ab mempunyai specific high-affinity binding sites yang hanya terdapat pada epitelium midgut cells dari serangga target (O. furnacalis) (Höfte dan Whiteley, 1989). Protein mEPSPS bertanggungjawab untuk sifat toleransi terhadap herbisida berbahan aktif glifosat. Disamping itu jagung PRG Bt11xGA21 juga mengekspresikan protein PAT yang digunakan sebagai penyeleksi dan penanda dalam proses pengembangan jagung PRG Bt11.

Jagung PRG Bt11xGA21 memiliki karakter yang sama dengan jagung konvensional dalam hal sifat fisik dan komposisi gizi serta mempunyai ketahanan terhadap hama O. furnacalis dan toleransi terhadap herbisida glifosat yang stabil. Jagung PRG Bt11xGA21 telah dikaji dan disetujui untuk digunakan sebagai bahan pangan dan pakan (Food and Feed Processing) di 18 negara dan sudah ditanam di 9 negara.

Jagung PRG Bt11xGA21 memiliki sifat gabungan dari jagung PRG Bt11 dan GA21 yang dikonfirmasi dengan pengujian di Fasilitas Uji Terbatas (FUT) dan LUT. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa semua jagung PRG Bt11xGA21 yang diuji memiliki sifat ketahanan terhadap O. furnacalis dan toleransi terhadap herbisida glifosat yang merupakan sifat turunan dari tetuanya (Hussein dan Damayanti, 2012; Rakhmawaty et al., 2017).

Analisis comparative southern blot DNA dari jagung PRG Bt11xGA21, jagung PRG GA21, dan jagung PRG Bt11 menunjukkan bahwa pola hibridisasi DNA yang diprediksi dari masing-masing single event dipertahankan dalam hibrida PRG Bt11xGA21.

Hal ini menunjukkan bahwa integritas sisipan transgenik dipertahankan selama pemuliaan konvensional (Lee dan Harper, 2015). Jagung PRG Bt11xGA21 terdapat 1 kopi truncated cry1Ab, 1 kopi marker selektif pat, dan 5 kopi mepsps yang terdiri dari 2 kopi mepsps lengkap dan 3 kopi mepsps tidak lengkap.

Hasil produksi pipilan dan sifat agronomi tanaman PRG Bt11xGA21 diuji pada 4 lokasi di Indonesia mewakili zona agroekologi yang berbeda. Karakteristik yang diamati untuk perbandingan sifat agronomi meliputi tinggi tanaman, hari saat 50% silking dan pollen shedding, umur panen, tekstur biji dan warna biji. Hasil studi menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata secara statistik dalam hasil atau sifat agronomi antara hibrida jagung PRG Bt11xGA21 dan hibrida non PRG counterpartnya.

II.2. Informasi Sifat Genetik II.2.1. Metode Transformasi

Jagung PRG Bt11xGA21 merupakan hasil persilangan konvensional dari jagung PRG GA21 dan jagung PRG Bt11. Proses transformasi hanya dilakukan untuk pengembangan produk jagung PRG GA21 dan jagung PRG Bt11.

Jagung PRG GA21 dirakit menggunakan teknik microprojectile bombardment pada kultur sel suspensi tanaman jagung (Spencer et al., 1997). Sebelum dilakukan transformasi, plasmid pDPG434 dipotong dengan enzim restriksi NotI untuk menghilangkan sekuen backbone dari fragmen yang membawa mepsps. Material

(3)

transgenik yang beregenerasi ditumbuhkan untuk menghasilkan R0 GA21, kemudian disilangkan dan silangbalikkan dengan galur elit milik Syngenta untuk menghasilkan tanaman yang digunakan sebagai tetua betina.

Jagung PRG Bt11 dirakit menggunakan teknik protoplast transformation/regeneration (Mettler et al., 2001). Sebelum dilakukan transformasi, plasmid pZO1502 dipotong dengan enzim restriksi NotI untuk menghilangkan bla (amp) dari fragmen yang membawa truncated cry1Ab (Accession Number M60856.1) dan marker selektif pat (Accession Number DQ156557.1). Protoplas yang dihasilkan dari galur jagung HE89 ditransformasi dengan fragmen yang membawa truncated cry1Ab dan marker selektif pat. Protoplas yang berhasil tertransformasi diseleksi secara in vitro dengan glufosinat untuk regenerasi tanaman yang akan digunakan sebagai tetua jantan.

II.2.2. Gen yang disisipkan

Sekuen penyandi jagung PRG Bt11xGA21 adalah truncated cry1Ab yang memiliki efektifitas spesifik terhadap hama O. furnacalis dan mepsps yang memiliki toleransi terhadap herbisida glifosat. Disamping itu sekuen marker selektif pat juga disisipkan, namun hanya digunakan sebagai penyeleksi dan penanda selama proses pengembangan jagung PRG Bt11. Truncated cry1Ab dan marker selektif pat masing- masing diregulasi oleh promoter 35S (Accession Number V00140.1) dari CaMV (Cauliflower Mosaic Virus) untuk memicu ekspresi gen yang konstitutif (Gardner et al., 1981), sedangkan mepsps diregulasi oleh promoter ActI dari Oryza sativa untuk meningkatkan efisiensi transkripsi (McElroy et al., 1990) dan ketiga gen tersebut menggunakan terminator gen nopaline synthase (NOS) (Accession Number V00087.1) dari A. tumefaciens untuk mengakhiri transkripsi dan mengarahkan polyadenylation dari mRNA (Depicker et al., 1982). Untuk meningkatkan efisiensi translasi truncated cry1Ab menggunakan enhancer translasi IVS6-ADH1 yang merupakan sekuen intron 6 dari maize Adh1 (Accession Number X04049.1), marker selektif pat menggunakan enhancer translasi IVS2-ADH1 yang merupakan sekuen intron 2 dari maize Adh1 (Accession Number X04049.1), dan mepsps menggunakan enhancer translasi Actin intron yang disisipkan bersama dengan promoter ActI.

II.3. Informasi Keamanan Lingkungan

II.3.1. Potensi Dampak terhadap Organisme Non Target dan Keanekaragaman Hayati Hasil pengujian jagung PRG Bt11xGA21 di LUT pada 4 lokasi, menunjukkan bahwa penanaman jagung PRG Bt11xGA21 tidak menimbulkan risiko bagi serangga bukan sasaran dan mikrobia tanah. Secara umum tidak terdapat perbedaan dampak antara penanaman jagung PRG Bt11xGA21 dan tanaman non PRG counterpartnya, dalam hal total populasi dan indeks keragaman famili serangga, total kelimpahan dan indeks keragaman fauna tanah dan jumlah mikroba tanah (total bakteri, mikroba pelarut fosfat, mikroba selulolitik dan Azospirillum penambat nitrogen). Protein truncated Cry1Ab yang dihasilkan selama budidaya tanaman PRG Bt11xGA21 hanya bekerja pada serangga target O. furnacalis (Rakhmawaty et al., 2017). Pengujian dampak protein Cry1Ab pada jagung Bt terhadap serangga non target telah banyak dilakukan. Serbuk sari jagung yang mengandung Cry1Ab tidak berpengaruh pada kelangsungan hidup dan kemunculan larva lebah madu (Apis mellifera L.) (Maggi, 1996). Jagung PRG yang mengandung Cry1Ab tidak menimbulkan risiko yang berarti

(4)

pada serangga predator green lacewing (Chrysoperla carnea) (Romeis, 2004). Serbuk sari jagung yang mengandung Cry1Ab tidak berpengaruh pada kelangsungan hidup dan perkembangan larva kumbang kepik (Coleomegilla maculata) (Obrycki, 1994).

Pakan dari daun jagung yang mengandung Cry1Ab tidak mempengaruhi kelangsungan hidup atau reproduksi serangga collembolan (Folsomia candida) (Privalle, 2002).

Lebih lanjut, pakan dari daun jagung yang diproses dengan liofilisasi mengandung Cry1Ab tidak berpengaruh buruk pada kelangsungan hidup atau pertumbuhan cacing tanah (Eisenia foetida) (Garvey, 1995). Pengujian juga dilakukan untuk mengetahui dampak protein truncated Cry1Ab, marker PAT, dan mEPSPS terhadap kandungan karbon organik, nitrogen total, kalium dan fosfor di dalam tanah Produksi Cry1Ab, marker PAT, dan mEPSPS pada tanaman PRG Bt11xGA21 tidak mengubah kandungan senyawa tanah (Lopez et al., 2010; Khambhati et al., 2013).

II.3.2. Potensi Bersifat sebagai Gulma

Di Indonesia, kemungkinan penyebaran protein transgenik melalui volunteers dan populasi tanaman PRG Bt11xGA21 yang dapat bertahan hidup diluar budidaya jagung sangat kecil. Jagung (Zea mays ssp. mays) menghibridisasi kelompok takson yang secara kolektif dikenal dengan nama Teosinte. Beberapa jenis Teosinte diklasifikasikan sebagai sub spesies dari Zea mays, sedangkan yang lain diakui sebagai spesies yang terpisah dengan Zea. Teosinte merupakan tanaman asli yang tumbuh di wilayah Meksiko dan Amerika Tengah dan tidak terdapat di Indonesia. Teosinte ditemukan pada area tropis dan subtropis di Meksiko, Guatemala, Honduras dan Nicaragua (Gonzalez dan Corral, 1997).

Jagung memiliki tongkol yang tertutup oleh klobot jagung, oleh karenanya penyebaran biji tunggal tidak dapat terjadi secara alami (OECD, 2003). Di samping itu, tanaman jagung telah kehilangan kemampuannya untuk bertahan hidup tanpa upaya budidaya (OECD, 2003), jagung tidak dapat bertahan pada habitat di luar habitat pertanian, jagung memerlukan lahan yang telah diolah untuk berkecambah dan sangat tidak kompetitif dengan vegetasi perennial (Raybould et al., 2012).

Potensi bersifat sebagai gulma diukur dengan melakukan studi perkecambahan pada kondisi lingkungan yang berbeda dan pengukuran nilai agresivitas tanaman PRG Bt11 dibandingkan non PRG counterpartnya. Baik benih PRG Bt11xGA21 maupun non PRG counterpartnya memiliki kemampuan berkecambah yang sama dan tidak mampu berkecambah dalam kondisi yang ekstrim (pada suhu 45oC). Hasil evaluasi di rumah kaca, jagung PRG Bt11xGA21 memiliki nilai agresifitas berkisar -0,606 sampai -0,042, sedangkan di lapangan nilai agresivitasnya berkisar -0,101 sampai 0,031. Nilai agresivitas tersebut menunjukkan bahwa jagung PRG Bt11xGA21 memiliki kemampuan berkompetisi yang sama dengan jagung non PRG counterpartnya dan tidak berpotensi mendominasi habitat di alam (Hussein dan Damayanti, 2012).

II.3.3. Potensi terjadinya Perpindahan Gen

Jagung merupakan tanaman yang penyerbukannya dengan bantuan angin (OECD, 2003). Serbuk sari jagung hanya bertahan (viable) selama 1 – 4 jam setelah serbuk sari dilepaskan dari kepala sari (Luna et al., 2001; Muui et al., 2007). Pleasants et al. (2001) menemukan bahwa serbuk sari yang jatuh dan menempel pada rumput (milkweed) yang berada 5 m dari tepi lahan kira-kira sepersepuluh dibanding yang ditemukan di tepi lahan. Densitas serbuk sari adalah 300, 200, 75 dan 25 butir/cm2

(5)

pada 0, 1, 2 and 4-5 m dari tepi lahan. Hal ini menunjukkan bahwa hanya sedikit serbuk sari yang berpindah jauh dari lahan.

Durasi viabilitas serbuk sari akan sangat tergantung pada kondisi lingkungan.

Panas dan kelembapan yang rendah akan menyebabkan periode viabilitas yang pendek. Transgene pada jagung PRG Bt11xGA21 tidak diharapkan memberikan dampak pada gen lain yang berpengaruh pada viabilitas serbuk sari.

Jika jagung PRG Bt11xGA21 menghibridisasi kerabat liar, sifat toleransi terhadap glifosat dan glufosinat secara teori dapat diwariskan. Meskipun demikian spesies Teosinte (kerabat liar dari jagung) tidak dikenal sebagai gulma yang agresif baik pada habitat aslinya maupun pada habitat yang diintroduksikan (US EPA, 2010).

Jagung tidak dimungkinkan akan menghibridisasi kerabat liarnya secara alamiah karena; 1) sifat biologi dari tanaman jagung yang membuatnya tidak mememungkinkan, atau 2) kerabat liar dari jagung tidak ditemukan secara alamiah pada sistem pertanian di Indonesia.

Distribusi serbuk sari dari sumber tanaman jagung bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan (misalnya: arah dan kecepatan angin, hujan). Ada kemungkinan serbuk sari menyerbuki tanaman jagung yang bersebelahan jika kondisi lingkungan mendukung dan fase pembungaannya sinkron. Meskipun demikian tidak terdapat kerabat liar jagung yang secara seksual kompatibel yang diaporkan sebagai gulma di Indonesia (Waterhouse, 1993), karena isolasi spasial ini hibridisasi dengan kerabat liar tidak mungkin terjadi

II.4. Komunikasi Risiko Lingkungan

Sosialisasi sebelum kegiatan LUT dilaksanakan melalui kegiatan komunikasi risiko, Komunikasi risiko ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pemangku kepentingan dan masyarakat di daerah LUT di lakukan, terkait dengan penyelenggaraan LUT.

Kegiatan komunikasi risiko dilakukan oleh PT Syngenta Seed Indonesia bekerjasama dengan 4 Perguruan Tinggi di wilayah pelaksanaan kegiatan LUT, yang bertindak sebagai pelaksana pengujian independen. Pengujian PRG di LUT dilaksanakan pada 4 (empat) lokasi yaitu: 1) Lampung bekerjasama dengan Universitas Lampung, dilaksanakan pada tanggal 20 September 2012; 2) Bogor bekerjasama dengan Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi IPB, dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 2013; 3) Yogyakarta bekerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, dilaksanakan pada tanggal 24 April 2013; 4) Malang bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Malang, dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2012.

Komunikasi risiko lingkungan dihadiri oleh pengajar dan peneliti dari perguruan tinggi, petugas dinas pertanian dan badan pengelola lingkungan hidup, mahasiswa, petani, perangkat desa dan petugas pemerintahan kabupaten di sekitar lokasi kegiatan LUT.

Lingkup kegiatan yang dilakukan adalah: 1) Pemaparan materi yang mencakup penjelasan mengenai inovasi pertanian melalui bioteknologi, manfaat tanaman PRG, risiko yang mungkin timbul pada komponen lingkungan akibat penanaman PRG dan status regulasinya di Indonesia; 2) Pengenalan produk jagung PRG Bt11xGA21 milik PT Syngenta Seed Indonesia; 3) Pemaparan prosedur/protokol dan variabel-variabel pengujian jagung PRG di LUT; dan 4) Diskusi dengan peserta yang hadir di acara komunikasi risiko lingkungan.

(6)

Secara keseluruhan kegiatan komunikasi risiko lingkungan yang dilakukan oleh PT Syngenta Seed Indonesia mendapat sambutan positif, peserta sangat mengapresiasi kontribusi bioteknologi dalam perakitan varietas unggul tanaman dengan catatan didasarkan pada prinsip kehati-hatian.

II.5. Rencana Pengelolaan dan Pemantauan

Rencana pengelolaan akan dilakukan untuk mencegah dampak negatif terhadap komponen lingkungan (organisme non target, munculnya gulma super, dan berkurang/hilangnya keanekaragaman hayati). Selain itu untuk mencegah timbulnya serangga target yang resisten terhadap truncated Cry1Ab, yang selanjutnya mendominasi populasi serangga target di lingkungan diterapkan Insect Resistant Management (IRM).

Upaya IRM akan dilakukan di seluruh area penanaman jagung PRG Bt11xGA21 yang meliputi: Pengecekan ekspresi protein insektisida dosis tinggi (Cry1Ab), penanaman refuge (refugia), dan product stewardship (termasuk di dalamnya pelatihan kepada petani).

Penanaman refuge bertujuan untuk menjaga keberadaan populasi O. furnacalis yang rentan sehingga perkembangan resistensi dapat diperlambat. Selain itu, pengurangan penyemprotan pestisida pada jagung Bt yang digabungkan dengan penanaman refuge sebagai bagian dari IRM akan mendukung kelimpahan musuh alami di lahan pertanian (Lu et al., 2012; Romeis et al., 2018).

Selain itu rencana pengelolaan dan pemantauan juga akan dilakukan untuk mencegah berkembangnya gulma utama pada pertanaman jagung yang resisten sebagai akibat penyemprotan herbisida glifosat secara terus menerus. Upaya program stewardship akan dilakukan di seluruh area penanaman jagung PRG Bt11xGA21 yang meliputi:

pengembangan materi IEC (Information and Educational Campaign), mengkampanyekan penggunaan flat-fan nozzle dengan tekanan rendah (sekitar 1,5-20 psi), pelatihan percontohan teknologi aplikasi glifosat yang tepat.

Pemantauan setelah pelepasan akan dilakukan melalui pemantauan rutin dan pemantauan kasus kemungkinan adanya suatu dampak, kemudian melakukan validasi jika ada laporan kejadian dan melaporkan hasil validasi ke kementrian yang terkait atau sesuai dengan aturan yang berlaku.

Apabila dari laporan rutin atau laporan kasus terbukti bahwa jagung PRG Bt11xGA21 yang beredar menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan hidup (munculnya hama baru yang resisten terhadap Cry1Ab, terganggunya NTO di sekitar penanaman jagung PRG Bt11xGA21, dan munculnya gulma super akibat penanaman jagung PRG Bt11xGA21, maka PT Syngenta Seed Indonesia akan melakukan tindakan pengendalian dan mengikuti semua aturan yang berlaku.

(7)

III. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengkajian informasi tanaman PRG, informasi genetik, potensi dampak terhadap organisme bukan sasaran, potensi bersifat sebagai gulma, potensi perpindahan gen, komunikasi risiko lingkungan, serta rencana pengelolaan dan pemantauan tanaman PRG, disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1) Gen truncated cry1Ab, marker selektif pat, dan mepsps yang terdapat pada jagung PRG Bt11xGA21 bersifat stabil, diturunkan dari tetua betina (jagung PRG GA21) dan tetua jantan (jagung PRG Bt11) melalui persilangan konvensional.

2) Jagung PRG Bt11xGA21 tidak mempunyai potensi dampak negatif terhadap serangga bukan sasaran, fauna tanah, dan mikroba tanah

3) Jagung PRG Bt11xGA21 tidak mempunyai potensi sebagai gulma

4) Rencana pengelolaan akan dilakukan untuk mencegah dampak negatif terhadap komponen lingkungan (organisme non target, munculnya gulma super, dan berkurang/hilangnya keanekaragaman hayati). Rencana/program IRM dan stewardship akan dilakukan untuk mengelola risiko yang mungkin muncul akibat penanaman jagung PRG Bt11xGA21 dan akan melakukan pemantauan rutin dan pemantauan kasus pada area sentra penanaman jagung PRG ketika produk dikomersialkan.

IV. Rekomendasi

Atas dasar uraian tentang informasi stabilitas genetik, dampak terhadap organisme non target, potensi bersifat sebagai gulma dan potensi perpindahan gen, maka TTKH menilai bahwa jagung PRG Bt11xGA21 dapat dinyatakan aman lingkungan. Apabila kemudian ditemukan data dan informasi baru yang tidak sesuai dengan data keamanan lingkungan yang diperoleh hingga saat ini, maka status aman lingkungan bagi jagung PRG Bt11xGA21 akan ditinjau kembali.

(8)

Daftar Pustaka

Abdullah T, Rauf A. 2011. Karakteristik populasi dan serangan penggerek batang jagung Asia, Ostrinia furnacalis (Lepidoptera: Pyralidae), dan hubungannya dengan kehilangan hasil.

Fitomedika. 7(3): 175-181

BBPOPT. 2019. Prakiraan serangan OPT jagung MT 2019-2020 di Indonesia.

https://peramalan.bbpopt.id/2019/12/12/prakiraan-serangan-opt-jagung-mt-2019-2020- di-indonesia/. 30 Desember 2019

Brookes, G., P. Barfoot. 2018. Environmental impacts of genetically modified (GM) crop use 1996-2016: Impacts on pesticide use and carbon emissions. GM Crops & Food, 9:109- 139, 2018

Depicker, A., Stachel S., Dhaese P., Zambryski P., Goodman H.M. 1982. Nopaline synthase:

transcript mapping and DNA sequence. Journal of Molecular Applied Genetics, 1: 561- 573.

Gardner R.C., Alan J.H., Peter Hahn, Marianne Brown-Luedi, Robert J.S., Joachim Messing.

1981. The complete nucleotide sequence of an infectious clone of cauliflower mosaic virus by M13mp7 shotgun sequencing. IRL Press Limited. Vol. 9, No. 12: 2871-2888 Garvey, Nancy A. 1995. Acute (14 days) toxicity to earthworms (Eisenia foetida) of a

lyophilized protein extracted from Bt-transgenic maize leaves. Springborn Laboratories, Inc.

Gonzalez J.J., Ruiz corral J.A. 1997. Teosinte distribution in Mexico. pp. 18-36 in Gene Flow Among Maize Landraces, Improved Maize Varieties and Teosinte: Implications for Transgenic Maize. Edited by Serratos JA, Wilcox MC, Castillo Gonzalez F. CIMMYT, Mexico City

Höfte, H., H.R. Whiteley. 1989. Insecticidal crystal proteins of Bacillus thuringiensis.

Microbiological. American Society for Microbiology. Val. 53. No. 2: 242-255

Hussein, B.A., D., Damayanti. 2012. Penelitian keamanan lingkungan jagung produk rekayasa genetik varietas NK11 event Bt11xGA21 di Fasilitas Uji Terbatas. Laporan Penetilitian kerjasama antara BB BIOGEN dengan PT Syngenta Indonesia

Khambhati, Minti. 2013. Evaluation of transgenic maize NK6240 stacked (Bt11xGA21) on soil micro population densities. Syngenta Biosciences Private Limited – SGS India Pvt Ltd, Ahmedabad. Gujarat-380054

Lee, Tae-Jin, B. Harper. 2015. Comparative southern analyses of event Bt11, event GA21 and Bt11xGA21 maize hybrids. Syngenta Seed, Inc.

Lopez, Joseph, R. Farasta, R. Soni. 2010. Effect of transgenic maize hybrids on soil microbial population densities in BRL-1 trial of hybrid NK6240 with stacked event Bt11xGA21 and hybrid NK6240 & NK6607 with standalone event GA21. Syngenta Biosciences Private Limited – SGS India Pvt Ltd, Ahmedabad.

Lu, Y., Wu K., Jiang Y., Guo Y., Desneux N. 2012. Widespread adoption of Bt cotton and insecticide decrease promotes biocontrol services. Nature, 487(7407), 362

Luna, S.V., Figueroa J.M., Baltazar B.M., Gomez R.L., Townsend R., Schoper J.B. 2001.

Maize pollen longevity and distance isolation requirements for effective pollen control.

Crop Sci 41:1551-1557.

(9)

Maggi, Victor L. 1996. Evaluasi of the dietary effect(s) of transgenic Bt maize (corn) pollen (sample PHO176-0196) on honeybee development. California Agricultural Research, Inc

McElroy, D., Zhang W., Cao J., Wu R. 1990. Isolation of an efficient actin promoter for use in rice transformation. Plant Cell 2:163-171.

Mettler, I.J., David M. 2001. Inbred Maize Line 2227Bt. US Patent 6,329,575 B1

Muui, C.W., Muasya R.M., Rao N., Anjich V.E. 2007. Pollen longevity in ecologically different zones of western Kenya. African Crop Science Journal, Vol. 15, No. 1: 43-49.

Obrycki, John J. 1994. Feeding, development, and survival of the lady beetle predator Coleomegilla maculate (Coleoptera: Coccinellidae) on transgenic “Bt” maize (corn) pollen. Iowa State University, Department of Entomology, 10 Insectary

OECD. 2003. Consensus document on the biology of Zea mays subsp. mays (maize). Series on Harmonisation of Regulatory Oversight in Biotechnology No. 27. OECD, Paris.

Permadi, M.A., Harapan Q.H. 2019. Tingkat dan Pola Distribusi Infestasi Penggerek Batang Jagung Ostrinia furnacalis (Lepidoptera: Crambidae) di Padangsidimpuan. BioLink:

Jurnal Biologi Lingkungan, Industri dan Kesehatan. Vol.6 (1): Hal. 25-31

Pleasants J.M., Richard L.H., Galen P.D., Mark K.S., Dlane E. Stanley-Horn D., John E.F., Peter C., Gretchen D.J. 2001. Corn pollen deposition on milkweeds in and near cornfields. Proc Nat Acad Sci, USA. Vol. 98, No. 21: 11919-11924.

Privalle, Laura. 2002. Impact of Vip3A and Cry1Ab transgenic maize (corn) leaf tissue (samples LLPACHA-0100, LLBT11-0100, and LLPACHABT11-0100) on 28-day survival and reproduction of Collembola (Solsomia candida). Syngenta Seed, Inc.

Rakhmawaty, Fadlilla Dewi, Santi A.M, Woro U.A. 2017. Laporan pengujian jagung PRG Bt11xGA2 di Lapangan Uji Terbatas.

Raybould, A., Higgins L.S., Horak M.J., Layton R.J., Storer N.P., Dela Fuente J.M., Herman R.A. 2012. Assessing the ecological risks from the persistence and spread of feral populations of insect-resistant transgenic maize. Transgenic Research 21:655-664.

Romeis, J., Naranjo S.E., Meissle M., Shelton A.M. 2018. Genetically engineered crops help support conservation biological control. Biological Control (in press).

https://doi.org/10.1016/j.biocontrol.2018.10.001

Romeis, Jorg, Anna D., Franz B. 2004. Bacillus thuringiensis toxin (Cry1Ab) has no direct effect on larvae of the green lacewing Chrysoperla carnea (Stephens) (Neuroptera:

Chrysopidae). Journal of Insect Physiology 50: 175-183

Spencer, T.M., Mumm R., Gwyn J. 1997. Glyphosate resistant maize lines. US Patent 6,040,497.

Subiadi, Y.A. Trisyono, E. Martono. 2014. Aras Kerusakan Ekonomi (AKE) Larva Ostrinia furnacalis (Lepidoptera: Crambidae) pada Tiga Fase Pertumbuhan Tanaman Jagung.

Jurnal Entomologi Indonesia. Vol.11 No.1, 19-26

US EPA. 2010. Biopesticides Registration Action Document – Cry1Ab and Cry1F Bacillus thuringiensis (Bt) Corn Plant-Incorporated Protectants. U.S. Environmental Protection Agency

Waterhouse, D.F. 1993. The major arthropod pests and weeds of agriculture in Southeast Asia:

Distribution, Importance and Origin.

Referensi

Dokumen terkait