• Tidak ada hasil yang ditemukan

FORMAT FISTER ACARA sel darah putih

N/A
N/A
Fadzil Yoni saputra

Academic year: 2024

Membagikan "FORMAT FISTER ACARA sel darah putih"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ACARA III SEL DARAH PUTIH

WORKING PAPER PRAKTIKUM FISIOLOGI TERNAK

Disusun Oleh

PROGRAM STUDI S1 PETERNAKAN DEPARTEMEN PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG 2024

BAB I PENDAHULUAN Nama

NIM Kelas Kelompok Asbing

: Fadzil Yoni Saputra : 23010123130082 : D

: 2 : Qonita

(2)

1.1. Waktu dan tempat pelaksanaan

Praktikum Biologi dengan materi Fisiologi darah dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 22 Maret 2024 pukul 14.50-17.40 WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia.

1.2. Materi

Materi yang digunakan meliputi Bahan yang diperlukan meliputi sampel darah ayam, larutan turk yang terbuat dari asam asetat glasial dan larutan gentian violet. Larutan turk berfungsi untuk menghancurkan sel darah merah dan mengubah hemoglobin menjadi hematin. Aquades sebagai cairan pembersih setelah pewarna giemsa diberikan pada sampel. Alat yang digunakan termasuk pipet hisap untuk memindahkan sampel dengan volume tertentu, pipet leukosit untuk mengambil leukosit dengan volume dan konsentrasi. Cover glass digunakan untuk menutup objek yang diletakkan di atas kaca preparat mikroskop. mikroskop untuk mengamati sampel, bilik hitung untuk menghitung jumlah leukosit, kaca preparat untuk menempatkan sampel pada mikroskop, pipet tetes untuk memindahkan larutan, dan bunsen untuk melakukan fiksasi pada sampel.

1.3. Metode

Metode yang digunakan dalam perhitungan leukosit adalah pertama darah segar sebanyak 0,5 mL diambil dan ditambahkan larutan turk sampai mencapai skala 11. Pada saat sudah mencapai skala 11 lalu dihomogenkan selama 2 menit dengan membentuk angka 8. Bilik hitung yang sudah terpasang cover glass siap ditetesi larutan pada setiap ujung bilik hitung sebanyak 1 tetes. Perhitungan leukosit dihitung dan diamati.

Metode yang digunakan dalam apus darah adalah pertama darah disiapkan dan diteteskan ke objek glass sebanyak 1 tetes lalu diangin-anginkan hingga kering.

Apabila preparate sudah kering lalu ditambahkan alkohol/dibilas menggunakan alkohol  dan dilap dengan tisu hingga kering. Lakukan pewarnaaan objek glass

(3)

dengan giemsa hingga merata dan tunggu hingga kering lalu dibilas dengan alkohol tunggu hingga kering. Preparat yang sudah kering siap diamati menggunakan mikroskop dan bisa memulai perhitungan leukosit.

.

(4)

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Sel Darah Putih

Sel darah putih merupakan bagian darah yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit sebagai imunitas. Hal ini sesuai dengan pendapat Khasanah et al. (2016) yang menyatakan bahwa Sel darah putih merupakan salah satu bagian dari susunan sel darah manusia yang memiliki peranan utama dalam hal sistem imunitas atau membunuh kuman dan bibit penyakit yang ikut masuk ke dalam aliran darah manusia. Sel darah putih disebut juga dengan leukosit. Hal ini sesuai dengan pendapat Caraka et al.(2017) yang berpendapat sel darah putih atau leukosit merupakan salah satu sel pembentuk komponen darah yang berfungsi untuk membantu tubuh dalam melawan berbagai penyakit dan sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh.

2.2. Total Leukosit

Pada praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh total leukosit pada broiler 13.550 sel/mm3. Yang artinya kurang dari standar yaitu 14.000-40.000. Hal ini diperkuat dengan pendapat Saputro et al. (2015) yang menyatakan bahwa jumlah leukosit normal pada ayam berkisar 16.000-40.000 sel/mm3. Jumlah leukosit pada ayam juga dipengaruhi oleh beberapa faktor ,faktor yang dapat mempengaruhi leukosit pada ayam seperti faktor lingkungan dan umur ayam. Hal ini sesuai dengan pendapat Moenek et al. (2019) yang menyatakan bahwa Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah leukosit dan diferensialnya antara lain kondisi lingkungan, umur dan kandungan nutrisi pakan.

(5)

2.3. Deferensiasi Leukosit

Leukosit merupakan jenis sel darah putih yang memiliki peran penting dalam sistem imun tubuh. Berdasarkan keberadaan granula pada sitoplasmanya, leukosit dibagi menjadi dua golongan yaitu granulosit dan agranulosit. Hal ini sesuai dengan pendapat Fahreza et al.(2020) yang menyatakan bahwa sel darah putih terdiri dari dua kelompok yaitu granulosit yang terdiri atas heterosinofil, eosinofil dan basofil, dan kelompok agranulosit yang terdiri dari limfosit dan monosit.

Perbedaaan granulosit dan agranulosit adalah pada granulosit memiliki granul pada sitoplasma sedangkan agranulosit tidak. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Adinugroho et al, (2019) bahwa agranulosit adalah sel yang tidak memiliki segmen pada inti dan tidak memiliki granul pada sitoplasma, yang terdiri dari limfosit dan monosit. Sehingga perbedaan dari granulosit dan terletak pada ada atau tidaknya granul pada sitoplasma dan struktur penyusunnya.

2.4. Basofil

Basophil merupakan salah satu jenis sel darah putih yang berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh. Basophil juga berperan daam munculnya reaksi alergi. Hal ini sesuai dengan pendapat Suriansyah et al, (2016) bahwa basoofil sangat berpengaruh pada kondisi kekebalan dari ayam yang dimana sejak kontak dengan subtansi alergi maka mediator kimiawi akan menarik sel sel imu yang akan mempengaruhi jumlah dari basofil pada ayam yang terlihat pada keaadan stress ekstrim. Kadar basophil normal pada ayam berkisar 1-4%. Hal ini sesuai dengan pendapat Seplin et al. (2022) yang menyatakan bahwa  kisaran normal basophil pada ayam yaitu 1-4%. Terdapat faktor yang mempengaruhi dari jumlah basophil tersebut seperti terjadinya infeksi parasit dan hipersensitivitas.

(6)

2.5. Heterofil

Heterofil adalah jenis sel leukosit yang merupakan bagian dari kelompok granulosit dan tergolong dalam subkelompok neutrofil dengan fungsi utamanya sebagai imunitas yang melawan infeksi. Hal ini sesuai dengan Ulfa et al. (2020) yang menyatakan bahwa heterofil adalah bagian dari granulosit yang berperan untuk melawan infeksi. Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan jumlah heterofil yang diperoleh dalam darah ayam adalah 24% hal ini termasuk kedalam standar normal, karna sesuai dengan standar yaitu 20%-40%. Hal ini sesuai dengan pendapat Hendro et al. (2015) yang menyatakan bahwa pada ayam memiliki standar heterofil berkisar antara 20-40%.

2.6. Limfosit

Limfosit adalah salah satu bagian dari leukosit yang berperan dalam pembentukan kekebalan spesifik. Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh limfosit sebesar 14%, hasil tersebut termasuk rendah karena masih dibawah standar yaitu 50%-70%. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanti et al.

(2020) yang menyatakan bahwa standar kadar limfosit normal pada tubuh ayam yaitu 55 70%. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan kadar limfosit yaitu cekaman panas pada lingkungan dan stress. Hal ini seuai dengan pendapat Fahreza, (2020) bahwa meningkatnya limfosit dapat dipengaruhi oleh stres, daya tahan tubuh ayam, cekaman panas, dan lingungan sekitar tempat tingga ayam.

2.7. Eosinofil

Eosinofil merupakan sel darah putih yang berfungsi untuk melindungi dari serangan parasit multiseluler. Kandungan epsonofil pada ayam normalnya 1-3%, berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh eosinophil sebanyak 17%, hal ini menandakan kurang normal karena melebihi standar. Hal ini sesuai dengan pendapat Cahiadewi et al. (2016) yang menyatakan bahwa ayam broiler mempunyai standar normal kadar eosinophil sekitar 1-3%. Terdapat bebarapa

(7)

faktor yang memepngaruhi tingginya eosinophil, seperti keadaan lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Moenek et al. (2019) yang menyatakan bahwa lingkungan yang kotor dan berdebut dapat mempengaruhi tingginya eosinofil pada darah ayam.

2.8. Monosit

Monosit merupakan sel darah putih yang berfungsi sebagai sistem kekebalan pada tubuh yang bekerja apabila tubuh terkena infeksi maka monosit akan bermigrasi ke tempat terjadinya infeksi. Normalnya monosit pada ayam sekitar 3-9%, berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh monosit sebesar 22%, hal ini menandakan bahwa tidak normal. Hal ini sesuaidengan pendapat Tae et al. (2023) yang menyatakan bahwa kadar standar jumlah total monosit berkisar antara 3 – 9%. Terdapat beberapa factor yang mempengaruhi seperti keadaan ayam yang stress dan factor lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapatDjaelani et al. (2020) yang menyatakan bahwa kondisi tidak normal pada monosit dapat disebabkan oleh penyakit pada ayam, stress, kondisi lingkungan dan infeksi pada ayam.

(8)

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa Beberapa jenis sel darah putih meliputi neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Jumlah sel darah putih dalam tubuh dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jenis kelamin, usia, pola makan, lingkungan, hormon, dan penggunaan obat- obatan. Stress pada ayam sangat berpengaruh terhadap hasil sel darah neutrophil, limfosit, monosit eosinophil maupun basofil.

2024

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Adinugroho, M. O., N. K. Suwiti dan P. Suastika. 2019. Histomorfometri sel darah putih agranulosit bibit sapi Bali di Nusa Penida. J. Buletin Veteriner Udayana. 11(1) : 34-40.

Bhima, C., B. A. A. Sumbodo, dan I. Candradewi. 2017. Klasifikasi Sel Darah Putih Menggunakan Metode Support Vector Machine (SVM) Berbasis Pengolahan Citra Digital. IJEIS. 7(1): 25-36.

Cahiadewi, A., Y. I. Santosa dan S. Suprihati. 2016. Pengaruh suplementasi zink terhadap jumlah eosinofil pada jaringan paru penderita alergi: studi eksperimental pada mencit balb/c dengan sensitisasi ovalbumin. Program Doktoral Universitas Diponegoro, Semarang. (Disertasi Doktoral Peternakan dan Pertanian).

Djaelani, M. A., K. Kasiyati dan S. Sunarno. 2020. Jumlah leukosit, persentase limfosit dan persentase monosit ayam petelur jantan setelah perlakuan penambahan serbuk daun kelor pada pakan. NICHE. J. Tropical Biology.

3(1): 45-49.

Fahreza, R. A., I. Isroli dan S. Sugiharto. 2020. Perbandingan total leukosit dan leukosit diferensial ayam broiler pada dataran tinggi dan rendah. J. Animal Research and Applied Science. 2(2): 22-28.

Hendro, L. Adriani dan D. Latipudin. 2015. Pengaruh pemberian lengkuas (Alpinia galanga) terhadap kadar neutrofil dan limfosit ayam broiler. J. Nasional Peternakan. 24(3): 531-536.

Khasanah, M.N., A. Harjoko, dan I. Candradewi. 2016. Klasifikasi sel darah putih berdasarkan ciri, warna, dan bentuk dengan metode K-Nearest Neighbor (K-NN). IJEIS.6(2): 151-162.

Moenek, D. Y. J. A., A. B. Oematan, dan N. N. N. Toelle. 2019. Total leukosit dan diferensial leukosit darahayam kampung yang terpapar ascaridia galli secara alami. J. Partner. 24(2): 991-997.

Moenek, D. Y., A. B. Oematan dan N. N. Toelle. 2019. Total leukosit dan diferensial leukosit darah ayam kampung yang terpapar Ascaridia galli secara alami. Partner. 24(2): 991-997.

Saputro, B., P. E. Santosa dan T. Kurtini. 2015. Pengaruh cara pemberian vaksin nd live pada broiler terhadap titer antibodi, jumlah sel darah merah dan sel darah putih. J. Ilmiah Peternakan Terpadu. 2(3): 176-181.

Seplin, B. P., P. Anwar dan J. Jiyanto. 2022. Efektivitas suplementasi tepung kunyit (Curcuma Domestica) terhadap profil sel darah putih boiler. J. Animal Center (JAC). 4(2): 17-26.

(10)

Suriansyah., I. B. K. Ardana., M. S. Anthara dan L. D. Anggreni. 2016. Leukosit ayam pedaging setelah diberikan paracetamol. J. Indonesia Medicus Veterinus. 5(2) : 171 – 172.

Tae, A. V., S. Widyarini, A. E. Wahyuni. 2023. Peran imbuhan pakan komersial (Maxi-Yeast) pada ayam pedaging yang ditantang dengan Campylobacter Jejuni terhadap Gambaran Darah.  J. Patner. 8(2): 52-58.

Ulfa, R., A. Maddu, H. S. Darusman dan K. Santoso. 2020. Gambaran leukosit setelah pemberian nanoenkapsulasi andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) pada burung puyuh pascainduksi imunosupresan deksametason. J. Veteriner. 21(2): 27-34.

Referensi

Dokumen terkait

4 Aktivitas sel terjadi pada membran plasma dan sitoplasma Aktivitas sel dilakukan oleh organel- organel dengan fungsi tertentu 5 Memiliki sistem endomembran Tidak memiliki

Pada sel eukariota, bagian dari cairan sel yang terdapat di antara selaput inti (nuclear envelope) dengan membran plasma disebut sitoplasma, sedangkan cairan sel

Kemotaksis Kemotaksis Proses bergeraknya sel sebagai respon rangsangan spesifik Proses bergeraknya sel sebagai respon rangsangan spesifik Memakan benda asing dengan

Sel dibatasi unit yang dibatasi oleh membran dan memiliki DNA dan sitoplasma Setiap organisme terdiri dari sel atau kumpulan sel, yang merupakan turunan dari sel sebelumnya..

Skema pada penelitian ini terbagi menjadi 4 proses, yaitu : segmentasi sel darah putih dari background menggunakan fuzzy c-means , deteksi sel darah putih bertumpuk

Dari hasil pengamatan sel dari batang singkong hanya memiliki inti sel dan sitoplasma, sedangkan kan yang lain nya memiliki dinding. sel, inti sel dan juga ruang

Sel prokariota juga memiliki lapisan perlindungan yang kuat, yaitu dinding sel yang di bawahnya terdapat membran plasma yang menutupi kompartemen sitoplasma tunggal yang berisi DNA,

Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa semua inti donor sel somatis yang ditransfer ke dalam sitoplasma sel oosit pada saat konsentrasi MPF tinggi