2. BAB II
PENGANGGARAN SEKTOR PUBLIK
2.4. Analisis Fungsi Stabilisasi dalam Anggaran Sektor Publik: Strategi Menghadapi Krisis Ekonomi
2.4.1. Fungsi Stabilisasi dalam Anggaran Sektor Publik
Fungsi stabilisasi dalam anggaran sektor publik di Indonesia memiliki dasar hukum yang kuat, yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23 mengenai pengelolaan keuangan negara. Pemerintah, melalui peraturan ini, memiliki kewajiban untuk mengatur keuangan negara sedemikian rupa sehingga mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah perubahan kondisi ekonomi nasional maupun global. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disusun sebagai alat utama pemerintah dalam menjalankan fungsi ini, sehingga mampu memberikan perlindungan ekonomi bagi masyarakat Indonesia (Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara).
Secara umum, fungsi stabilisasi dalam anggaran sektor publik merujuk pada upaya pemerintah untuk menjaga perekonomian tetap stabil dan tidak terguncang oleh fluktuasi ekonomi, seperti inflasi dan pengangguran (Sarsiti, 2023) . Fungsi ini dilaksanakan dengan berbagai instrumen kebijakan fiskal, seperti pengeluaran pemerintah dan pengaturan pajak, untuk mengendalikan permintaan agregat.
Dengan demikian, anggaran sektor publik bukan hanya bertujuan untuk pembiayaan kebutuhan negara, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional.
Peran anggaran sektor publik dalam fungsi stabilisasi ini adalah menyediakan bantalan fiskal yang bisa digunakan pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi (Handayani, 2019). Melalui alokasi dana yang tepat dalam APBN, pemerintah dapat melakukan intervensi di sektor-sektor tertentu untuk mengurangi dampak negatif dari krisis ekonomi, seperti pelemahan daya beli atau peningkatan pengangguran. Pengaturan alokasi ini juga memastikan bahwa berbagai kebutuhan dasar masyarakat tetap terjaga saat terjadi tekanan ekonomi.
Fungsi stabilisasi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui alokasi anggaran untuk sektor-sektor prioritas. Dengan mengarahkan pengeluaran pada infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan, pemerintah dapat meningkatkan produktivitas jangka panjang dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Dengan demikian, anggaran sektor publik membantu menciptakan kondisi ekonomi yang stabil, sehingga mendukung kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Selain itu, fungsi stabilisasi memastikan bahwa peredaran uang di masyarakat dapat dikendalikan agar tidak memicu inflasi yang berlebihan. Dalam hal ini, pengelolaan anggaran berperan dalam mengendalikan permintaan agregat melalui pengaturan belanja dan penerimaan negara. Dengan langkah-langkah ini, pemerintah dapat menjaga stabilitas harga, yang penting untuk stabilitas daya beli masyarakat.
Secara keseluruhan, fungsi stabilisasi dalam anggaran sektor publik di Indonesia menjadi instrumen penting dalam mencapai stabilitas ekonomi dan sosial. Dengan berbagai instrumen anggaran yang tersedia, pemerintah dapat
menyesuaikan strategi fiskal agar mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi, baik domestik maupun internasional. Fungsi stabilisasi ini mencerminkan peran penting anggaran dalam melindungi kepentingan nasional dan menjaga keseimbangan dalam perekonomian yang dinamis (Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003).
2.4.2. Kebijakan Fiskal dan Moneter sebagai Instrumen Stabilitas Ekonomi a. Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal sebagai instrumen stabilitas ekonomi di Indonesia didasari oleh Undang-Undang Dasar 1945, yang mengatur peran pemerintah dalam menjaga kestabilan perekonomian melalui kebijakan anggaran yang sesuai. Kebijakan fiskal mencakup pengelolaan pendapatan dan pengeluaran negara melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai alat untuk menjaga keseimbangan ekonomi, mencegah inflasi berlebih, dan mengatur pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, pemerintah memiliki wewenang penuh dalam menyusun dan mengelola kebijakan fiskal agar bisa memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi negara.
Secara umum, kebijakan fiskal mencakup dua aspek utama, yaitu pengeluaran pemerintah dan penerimaan pajak. Melalui pengeluaran pemerintah, negara berusaha meningkatkan permintaan agregat saat ekonomi melambat, sementara penerimaan pajak digunakan untuk mengurangi permintaan saat ekonomi terlalu panas, sehingga menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Dalam kondisi tertentu, kebijakan fiskal yang kontraktif atau ekspansif dapat
digunakan sesuai kebutuhan ekonomi nasional, yang keseluruhannya bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Peran utama kebijakan fiskal dalam stabilitas ekonomi adalah untuk mengendalikan siklus ekonomi melalui langkah-langkah yang dapat mengurangi ketidakpastian ekonomi (Majid, 2019). Pemerintah Indonesia menggunakan APBN untuk mengatur anggaran publik dalam mengendalikan fluktuasi ekonomi yang disebabkan oleh perubahan permintaan dan penawaran dalam perekonomian domestik. Langkah ini mencerminkan peran APBN dalam menyediakan sumber daya yang cukup untuk stabilisasi ekonomi di tingkat nasional.
Kebijakan fiskal juga berfungsi sebagai alat untuk mengatur keseimbangan fiskal melalui perencanaan anggaran yang transparan dan akuntabel (Purba et al., 2024). Transparansi dalam penggunaan anggaran publik diharapkan dapat menciptakan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan fiskal yang dilaksanakan pemerintah, sehingga dapat meningkatkan partisipasi publik dalam perekonomian.
Akuntabilitas ini juga diwujudkan melalui mekanisme pengawasan keuangan yang ketat untuk memastikan bahwa kebijakan fiskal dijalankan secara efektif dan juga efisien.
Dalam menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah Indonesia juga berfokus pada keseimbangan antara defisit anggaran dan pertumbuhan ekonomi. Defisit anggaran diatur agar tetap pada tingkat yang terkendali, sehingga tidak membebani perekonomian jangka panjang dan menghindari potensi krisis fiskal. Dengan menjaga defisit di bawah ambang batas yang aman, kebijakan fiskal dapat menjadi instrumen yang stabil bagi pengelolaan keuangan negara (Ridwan & Nawir, 2021).
Secara keseluruhan, kebijakan fiskal sebagai instrumen stabilitas ekonomi di Indonesia bertujuan untuk menciptakan kondisi ekonomi yang kondusif dan menjaga kesejahteraan masyarakat. Kebijakan ini memungkinkan pemerintah untuk merespons berbagai tantangan ekonomi melalui perencanaan yang matang dan kebijakan anggaran yang adaptif, sehingga mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
b. Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter sebagai instrumen stabilitas ekonomi di Indonesia berfokus pada pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar, dan likuiditas pasar. Dasar hukum kebijakan moneter Indonesia ditetapkan dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang telah diperbarui melalui UU No. 3 Tahun 2004 dan UU No. 6 Tahun 2009. Undang-undang ini menetapkan bahwa tujuan utama kebijakan moneter adalah menjaga stabilitas nilai rupiah, yang meliputi stabilitas harga barang dan jasa dalam negeri serta stabilitas nilai tukar terhadap mata uang asing.
Dalam peranannya, Bank Indonesia menggunakan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi (Ridwan & Nawir, 2021).
Instrumen ini mencakup suku bunga acuan, operasi pasar terbuka, dan ketentuan rasio cadangan wajib bagi perbankan. Misalnya, penyesuaian suku bunga acuan bertujuan untuk mengontrol jumlah uang beredar di masyarakat, sehingga inflasi dapat terkendali. Kebijakan ini menjadi bagian integral dalam menjaga daya beli masyarakat dan mendukung kestabilan ekonomi nasional.
Operasi pasar terbuka juga menjadi alat utama Bank Indonesia untuk menjaga kestabilan pasar keuangan. Melalui pembelian atau penjualan surat berharga, Bank Indonesia dapat mengatur likuiditas di pasar keuangan domestik, yang penting untuk menjaga stabilitas moneter. Ini membantu menyeimbangkan permintaan dan penawaran uang sehingga mencegah volatilitas yang tinggi di pasar.
Selain itu, kebijakan rasio cadangan wajib diterapkan pada bank-bank umum untuk memastikan stabilitas sistem keuangan. Dengan mewajibkan bank untuk menyimpan sebagian dana sebagai cadangan, Bank Indonesia dapat mengontrol jumlah uang beredar dan mencegah potensi lonjakan inflasi (Abadi, 2022). Kebijakan ini juga menjaga kesehatan sektor perbankan, yang sangat berperan dalam menyokong kegiatan ekonomi.
Bank Indonesia juga berkolaborasi dengan pemerintah dalam rangka mitigasi terhadap guncangan eksternal. Misalnya, pada masa krisis atau ketidakpastian global, Bank Indonesia melakukan koordinasi kebijakan dengan kementerian terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah. Hal ini menjadi penting mengingat keterkaitan Indonesia dengan perekonomian global yang menuntut stabilitas nilai tukar demi menjaga daya saing produk nasional.
Kebijakan moneter yang dikelola oleh Bank Indonesia menjadi krusial dalam mengatasi tantangan ekonomi domestik dan global. Dengan kombinasi strategi kebijakan yang fleksibel dan responsif, Bank Indonesia berupaya mempertahankan stabilitas moneter demi mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang di Indonesia.
2.4.3. Efektivitas Anggaran dalam Menghadapi Krisis Ekonomi: Studi Kasus
Efektivitas anggaran dalam menghadapi krisis ekonomi di Indonesia tercermin dari peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen utama pemerintah. APBN berfungsi untuk memberikan stimulus ekonomi dan mendorong pemulihan ketika negara menghadapi tantangan ekonomi, seperti inflasi atau resesi. Sebagai contoh, dalam situasi pandemi COVID-19, APBN disusun dengan mengutamakan sektor kesehatan dan bantuan sosial guna menstabilkan perekonomian dan mengurangi dampak negatif krisis terhadap kesejahteraan masyarakat (Semaun, 2020).
Dalam menghadapi krisis, APBN diarahkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi (Safitri et al., 2021). Salah satu langkah utama adalah peningkatan belanja pemerintah dalam sektor-sektor strategis, seperti infrastruktur dan pendidikan, yang tidak hanya menciptakan lapangan kerja tetapi juga meningkatkan daya saing jangka panjang. Efektivitas ini dapat dilihat dari kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dalam kondisi ketidakpastian global.
Peran anggaran dalam krisis juga meliputi stabilisasi sektor keuangan dengan alokasi dana untuk subsidi dan bantuan bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) (Safitri et al., 2021). Dalam kondisi krisis, dukungan terhadap UMKM sangat penting karena sektor ini menyerap banyak tenaga kerja dan berkontribusi signifikan terhadap PDB nasional. Dengan demikian, anggaran yang tepat sasaran dapat membantu mempertahankan stabilitas ekonomi dan mencegah lonjakan pengangguran.
Selain itu, pemerintah menggunakan kebijakan defisit anggaran sebagai strategi untuk meningkatkan pengeluaran ketika pendapatan negara menurun akibat krisis. Pendekatan ini memungkinkan pemerintah membiayai program-program pemulihan tanpa harus mengurangi belanja yang diperlukan, meskipun ada risiko meningkatnya utang negara. Namun, kebijakan ini harus diimbangi dengan manajemen utang yang baik agar tidak membebani stabilitas ekonomi jangka panjang.
Efektivitas anggaran dalam menangani krisis ekonomi juga bergantung pada respons kebijakan yang adaptif dan fleksibel. Misalnya, ketika harga minyak dunia berfluktuasi atau terjadi lonjakan inflasi, pemerintah dapat menyesuaikan alokasi anggaran untuk merespons situasi ini dengan cepat, misalnya dengan mengurangi subsidi yang tidak produktif dan memprioritaskan pengeluaran untuk program yang lebih berdampak pada masyarakat. Kebijakan ini mencerminkan pentingnya anggaran sebagai alat pengelolaan ekonomi yang dinamis.
Secara keseluruhan, APBN merupakan alat penting yang efektif dalam mendukung stabilitas ekonomi selama krisis. Anggaran yang dirancang dengan cermat dapat membantu pemerintah mempertahankan tingkat konsumsi, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan kesinambungan program-program pembangunan. Efektivitas ini tergantung pada perencanaan dan alokasi dana yang tepat serta kesiapan pemerintah dalam menyesuaikan kebijakan anggaran dengan tantangan ekonomi yang dihadapi.
DAFTAR PUSTAKA
Abadi, M. T. (2022). Ekonomi Moneter sebuah Pengantar. Zahir Publishing.
Handayani, M. (2019). Akuntansi Sektor Publik: Dilengkapi 100 Soal Latihan Dan Jawaban. Poliban Press.
Majid, J. (2019). Akuntansi Sektor Publik. Jamaluddin Majid.
Purba, B., Anindya, D. A., Abdullah, S., Handiman, U. T., Zulham, T., Mahulae, D. Y. D., Muliana, M., Yavishan, Y., Pandarangga, A. P., Fajrillah, F., &
others. (2024). Ekonomi Publik: Teori dan Penerapan Kebijakan Fiskal.
Yayasan Kita Menulis.
Ridwan, R., & Nawir, I. S. (2021). Buku Ekonomi Publik. Pustaka Pelajar (ANGGOTA IKAPI).
Safitri, R., Zakiy AW, F., & Fikri, A. H. (2021). Geliat Ekonomi Anak Bangsa:
Meretas Asa Menggapai Mimpi. LP2M UIN Bukittinggi.
Sarsiti. (2023). Akuntansi Sektor Publik. CV. Green Publihser Indonesia.
Semaun, S. (2020). Dampak Pandemi Covid-19: Stimulus di Tengah Krisis Ekonomi Global.