• Tidak ada hasil yang ditemukan

GANESHA CIVIC EDUCATION JOURNAL - Ejournal2 Undiksha

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "GANESHA CIVIC EDUCATION JOURNAL - Ejournal2 Undiksha"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

345

GANESHA CIVIC EDUCATION JOURNAL

Volume 4 Issue 2 Oktober 2022 P-ISSN : 2714-7967 E-ISSN : 2722-8304

Universitas Pendidikan Ganesha https://ejournal2.undiksha.ac.id/index.php/GANCEJ

-

PERAN THE TREATY OF AMITY AND COOPERATION IN SOUTHEAST ASIA 1976 DALAM PENYELESAIAN SENGKETA DI ASEAN

Dewa Gede Sudika Mangku Universitas Pendidikan Ganesha [email protected]

I Putu Kusuma Wardana

SMP Laboratorium Universitas Pendidikan Ganesha [email protected]

Info Artikel ________________

Sejarah Artikel:

Disubmit: 1 Agustus 2022 Direvisi: 3 September 2022 Diterima: 1 Oktober 2022 ________________

Keywords

:

ASEAN, Dispute Settlement, the Treaty of Amity and Cooperation, and the ASEAN Charter ____________________

Abstrak

___________________________________________________________________

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peluang dan tantangan yang akan dihadapi oleh ASEAN di dalam penyelesaian sengketa antara Kamboja dan Thailand mengenai Kuil Preah Vihear. Cara pengumpulan data adalah melalui studi pustaka dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa peluang ASEAN di dalam penyelesaian sengketa Kuil Preah Vihear dapat terlaksana dengan Pertama, mengintensifkan pembentukan Komunitas Keamanan ASEAN 2015 yang akan berfungsi mencegah timbulnya sengketa di kawasan Asia Tenggara yang melibatkan negara anggota ASEAN. Kedua, menentang segala penggunaan kekerasan dan mengutamakan solusi damai di dalam menghadapi sengketa Kuil Preah Vihear dengan berpedoman pada the Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia 1976 (TAC) serta Piagam ASEAN. Ketiga, mendorong Kamboja dan Thailand secara terus-menerus untuk melakukan perundingan-perundingan yang menjadi pokok permasalahan yang disengketakan oleh kedua belah pihak. Keempat, mendorong kedua negara untuk menyelesaikan sengketa Kuil Preah Vihear melalui mekanisme regional ASEAN dengan cara menempuh jalur diplomasi yang telah dituangkan dalam Piagam ASEAN.

Tantangan yang dihadapi oleh ASEAN di dalam penyelesaian sengketa kuil tersebut, ialah Pertama, larangan mencampuri urusan internal negara anggota lain sehingga membuat ASEAN harus berhati-hati bertindak di dalam sengketa itu. Kedua, adanya keengganan para pihak menyelesaikan sengketa kuil tersebut melalui ASEAN disebabkan adanya penolakan yang dilakukan oleh Thailand. Sebagai rekomendasi, diharapkan kepada negara anggota ASEAN bersikap lebih fleksibel dalam menerapkan prinsip non-intervensi, agar lebih terbuka atas saransaran serta tidak terlalu reaktif terhadap kritik dan pandangan-pandangan yang diberikan oleh negara sesama anggota ASEAN, dan dibentuknya suatu kesepakatan bersama tentang pengelolaan sementara terhadap Kuil Preah Vihear.

Abstract

___________________________________________________________________

The purpose of this research is to understand the opportunities and challenges which will be faced by ASEAN in the settlement of the disputes between Cambodia and Thailand concerning Preah Vihear Temple. The data was collected through the library and document study. The results of this research shows, that the opportunities in the ASEAN dispute settlement in the Temple of Preah Vihear, the First, possible to intensify the establishment of the ASEAN Security Community in 2015 which will work to prevent the appearance of disputes in Southeast Asia involving ASEAN countries. Second, to oppose the any use of violence and the peaceful solution in the the Temple of Preah Vihear dispute, based on the Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia in 1976 (TAC) and the ASEAN Charter. Third, then to encourage Cambodia and Thailand in ongoing negotiations to do the

(2)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -345-355

346

negotiations, which is the main problem. Fourth, encourage both countries to resolve the Preah Vihear temple dispute resolution mechanism through path of diplomacy has poured in the ASEAN Charter.

The challenges faced by ASEAN in the settlement of disputes of the temple, the First, is the prohibition to interfere the country's internal affairs, so that other members of ASEAN should make careful to act in the dispute. Second, the unwilling of the parties to resolve the disputes through the temple, due to the rejection of the existence of ASEAN that has been made by Thailand. As a recommendation, it is expected that the ASEAN member countries to be more flexible in implementing the principles of non- intervention, to be more open on the suggestions and not too reactive to the criticism and views given by fellow members of ASEAN countries, and the establishment of a temporary management agreement to the Temple of Preah Vihear.

© 2022 Universitas Pendidikan Ganesha

Alamat korespondensi:

[email protected]

P-ISSN : 2714-7967 E-ISSN : 2722-8304

PENDAHULUAN

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Association of South East Asian Nations/selanjutnya dalam penelitian ini disingkat menjadi ASEAN) didirikan berdasarkan Deklarasi ASEAN atau Deklarasi Bangkok pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok merupakan organisasi antar pemerintah (Inter Governmental Organization) yang pada mulanya hanya beranggotakan lima negara yaitu: Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia dan Singapura.5 Keanggotaan ASEAN kemudian telah berkembang menjadi sepuluh negara anggota dengan masuknya Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja.

ASEAN bukanlah merupakan organisasi regional yang pertama di Asia Tenggara, akan tetapi telah ada beberapa organisasi regional sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara di Asia Tenggara telah pernah mengenal dan bahkan pernah menjadi anggota organisasi semacam itu, baik organisasi regional yang beranggotakan terbatas pada negara-negara sekawasan saja, maupun organisasi regional yang beranggotakan negara-negara luar kawasan. South East Asia Treaty Organization (selanjutnya dalam penelitian ini disingkat menjadi SEATO) misalnya adalah organisasi regional di kawasan Asia Tenggara yang ternyata tidak saja melibatkan negara-negara Thailand, Filipina, Singapura saja, tetapi melibatkan juga negara-negara luar kawasan seperti Australia, Amerika, dan New Zealand. Sebenarnya usaha-usaha untuk mendirikan organisasi regional kerjasama di Asia Tenggara dimulai pada permulaan periode akhir Perang Dunia ke II7 dimana pada waktu itu sejumlah negara-negara di Asia menyatakan kemerdekaannya, terlepas dari belenggu penjajahan. Dengan kemerdekaan yang baru mereka miliki, mereka dituntut untuk dapat memenuhi kepentingan nasionalnya yakni mempertahankan eksistensi negaranya, mensejahterakan sosial-ekonomi rakyatnya, menjaga integritas bangsanya dan lain sebagainya. Para pemimpin sadar bahwa kebutuhan- kebutuhan ini tidak akan dapat tercapai oleh kekuatan negara itu sendiri, tetapi harus memandang dan bekerjasama dengan negaranegara lain, dan mereka pun sadar bahwa agar kerjasama yang mereka ciptakan itu lebih efektif dan efisien mereka merasa perlu untuk bersatu dan bekerjasama dalam wadah organisasi regional.

ASEAN hanya merupakan sebuah asosiasi yang longgar, terbukti dengan tidak ada satu pun kesepakatan yang mengikat secara hukum diantara anggotanya selama kurang lebih sembilan tahun sejak terbentuknya ASEAN. Instrumen yang mengikat secara hukum pertama kali di ASEAN baru tercipta pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (selanjutnya dalam penelitian ini disingkat menjadi KTT) yang dilaksanakan di Bali pada tahun 1976, yaitu dengan dibuatnya Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama (Treaty of Amity and Cooperation in South East Asia/selanjutnya dalam penelitian ini disingkat menjadi TAC) yang telah diratifikasi oleh semua anggota ASEAN. Prihal yang mendasari lahirnya TAC tersebut adalah perbedaan atau perselisihan kepentingan diantara anggota yang mulai mucul ke permukaan harus dapat diatur secara rasional, efektif, dan prosedur yang memadai untuk menghindari dampak yang akan membahayakan kerjasama antarnegara anggota.

Dalam TAC tersebut kemudian diatur mengenai tujuan dan prinsip-prinsip dasar dalam hubungan persahabatan dan kerjasama sesama negara anggota ASEAN. Mekanisme penyelesaian sengketa secara damai juga diadopsi dalam perjanjian tersebut. Dengan terbentuknya perjanjian tersebut diharapkan setiap perselisihan yang terjadi antara negara-negara anggota ASEAN dapat diselesaikan dalam kerangka TAC tersebut. Untuk melengkapi TAC tersebut maka telah disusun juga aturan dan prosedur (Rules and Procedure of High Council of the Treaty of Amity and Cooperation in South East Asia) pada tanggal 23 Juli 2001 di Hanoi, Vietnam. Dinamika baik internal maupun eksternal di ASEAN pada akhirnya telah membuat para pemimpin ASEAN bekerja untuk memperkuat organisasi guna menghadapi tantangan yang akan dihadapi dikemudian hari. Kesadaran untuk memperkuat organisasi tersebut disadari dengan mengembangkan

(3)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -345-355

347

instrumen-instrumen yang mengikat secara hukum. ASEAN kedepannya diharapkan tidak lagi menjadi sebuah asosiasi yang longgar, melainkan sebuah organisasi yang memiliki “legal personality”. Untuk mencapai tujuan tersebut maka pada KTT ASEAN ke-13 yang berlangsung di Singapura, telah ditandatangani sebuah Piagam ASEAN. Kelahiran piagam tersebut merupakan sejarah baru bagi ASEAN karena setelah 40 tahun, organisasi tersebut belum memiliki piagam. Piagam ASEAN yang akan mulai diberlakukan pada bulan Desember 2008, termasuk penyelesaian sengketa melalui mekanisme kelembagaan ASEAN.29 Selama ini cara atau mekanisme kelembagaan untuk menyelesaikan sengketa di ASEAN jarang dimanfaatkan negara anggota dan negara anggota lebih nyaman membawa sengketa yang mereka hadapi ke hadapan Mahkamah Internasional. Untuk mengantisipasi konflik atau sengketa secara meluas, negara- negara anggota ASEAN pada khususnya dan ASEAN pada umumnya ditantang untuk mampu menyelesaikan atau paling tidak memikirkan cara penyelesaian sengketa secara damai dan menentang penggunaan kekerasan antara Kamboja dan Thailand untuk menciptakan Komunitas ASEAN yang aman dan damai. Serta usahausaha kerja sama untuk menyelesaikan sengketa akan dapat menurunkan tingkat potensi konflik menuju identifikasi dan usaha pemanfaatan peluang-peluang kerja sama dalam menciptakan keamanan, stabilitas, dan perdamaian di Kawasan

METODE PENELITIAN

Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penelitian yang dimaksud untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai peluang dan tantangan ASEAN di dalam penyelesaikan sengketa Kuil Preah Vihear di perbatasan Kamboja dan Thailand. Tujuan dari jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, yang datanya diperoleh melalui studi dokumen atau kepustakaan yang dilakukan dengan cara meneliti bahan- bahan kepustakaan seperti buku, majalah, keputusan Mahkamah Internasional, perjanjian internasional, makalah-makalah, jurnal, artikel-arikel, surat kabar serta situs-situs internet yang berkaitan dengan objek yang diteliti.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Salah satu pilar dari ketiga pilar Komunitas ASEAN yang dihasilkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-9 di Bali tanggal 7 Oktober 2003 berdasarkan Declaration of ASEAN Concord II (Bali Concord II) yang terbagi dalam Komunitas Keamanan ASEAN (ASC), Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC), dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN (ASCC), yaitu membentuk Komunitas Keamanan ASEAN yang nantinya akan berfungsi untuk mengurangi, mencegah, dan mengelola sengketa yang muncul di kawasan Asia Tenggara yang melibatkan negara-negara anggota ASEAN yang dapat menciptakan suatu kehidupan yang damai dan sejahtera diantara anggota ASEAN. Ketiga pilar tersebut diatas saling mengikat dan memperkuat untuk mencapai tujuan bersama demi menjamin perdamaian yang dapat dipertahankan, stabilitas, dan kemakmuran yang terbagi di kawasan Asia Tenggara. Untuk menindaklanjuti hal tersebut dibentuklah Piagam ASEAN yang telah disahkan pada KTT ASEAN ke-13 di Singapura dan mulai diberlakukan pada tanggal 15 Desember 2008 yang bertujuan untuk membangun dan mewujudkan Komunitas ASEAN di kawasan Asia Tenggara. 93 Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang didirikan berdasarkan Deklarasi Bangkok155 pada tanggal 8 Agustus 1967 sesungguhnya memang sudah merupakan suatu Komunitas Keamanan (security community), karena salah satu butir penting dari awal pembentukan ASEAN menyebutkan memajukan perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Tenggara. Meskipun kerja sama ASEAN seperti yang tercantum dalam Deklarasi Bangkok lebih ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, perkembangan sosial, dan pembangunan budaya di kawasan adalah suatu kenyataan bahwa pembentukan ASEAN lebih didorong oleh motif politik, antara lain memajukan perdamaian dan stabilitas kawasan melalui penghormatan terhadap keadilan dan aturan hukum dalam hubungan antar negara di kawasan yang sejalan dengan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (Piagam PBB). Komunitas keamanan memiliki cakupan yang sangat luas bukan saja meliputi kerja sama militer, akan tetapi juga aspek-aspek lain seperti kerja sama. untuk menciptakan aturan- aturan dalam berinteraksi dan menetapkan mekanisme penyelesaian sengketa antarnegara anggota ASEAN. Komunitas keamanan lebih menempatkan prinsip keamanan yang komprehensif dari pada sebuah pakta pertahanan, aliansi militer, atau kebijakan bersama di bidang politik luar negeri. Dengan kata lain, komunitas keamanan menempatkan konsep keamanan dengan aspek amat luas di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang selaras dengan Visi ASEAN 2020.

Pernyataan yang dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Pemerintah Thailand Kantathi Suphamongkhon, yang menyatakan bahwa dia sangat kecewa dengan tidak adanya kemajuan yang sangat berarti di Myanmar mengenai pelaksanaan demokrasi di negara tersebut. Meski pernyataan tersebut bukanlah hal yang baru diungkapkan, para Menlu yang tergabung dalam anggotaanggota ASEAN dibuat

(4)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -345-355

348

frustasi dengan tingkah laku Myanmar tersebut, namun Kantathi kini merasakan betul betapa harga sebuah demokrasi sangatlah mahal, ketika militer Thailand tiba-tiba mengambil alih pemerintahan Perdana Menteri Thaksin Sinawatra pada tanggal 19 September 2006. Ironisnya di saat negara-negara ASEAN menunggu kemajuan demokrasi di Myanmar, ASEAN kini menyaksikan aksi kudeta militer yang dilakukan Panglima Angkatan Darat Sonthi Boonyaratkalin dengan penuh keprihatinan. Bagi Pemerintahan Thailand apapun yang dilakukan Sonthi merupakan pukulan berat bagi proses demokrasi yang baru tumbuh di negara tersebut. Pemerintah Thailand kembali lagi ke “lingkaran setan” di mulai dari konstitusi, pemilihan umum (pemilu), pemerintahan, korupsi hingga kudeta. Hal ini sebuah kemunduran yang sangat besar (set back) bagi pelaksanaan demokrasi di kawasan Asia Tenggara khususnya di Myanmar dan Thailand.

Menentang penggunaan kekerasan dan mengutamakan solusi damai dalam setiap sengketa atau permasalahan yang melibatkan negara-negara anggota ASEAN berdasarkan perjanjian-perjanjian yang telah disepakati oleh seluruh negara anggota ASEAN seperti TAC dan Piagam ASEAN sesuai dengan prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB. ASEAN berdiri tidak beberapa lama setelah Indonesia menghentikan politik konfrontasi terhadap Malaysia, hal ini menjadi fondasi yang sangat kuat bagi ASEAN agar setiap sengketa atau permasalahan yang tengah dihadapai oleh negara-negara anggota ASEAN dapat diselesaikan secara damai dan tidak melalui cara-cara kekerasan atau perang. Berbagai dokumen-dokumen politik telah dibuat oleh ASEAN yang bertujuan untuk menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan Asia Tenggara. Dalam Piagam PBB dinyatakan bahwa setiap anggota PBB dalam hubungan internasional akan menghindarkan diri dari ancaman penggunaan kekerasan atau perang terhadap keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik suatu negara atau dengan cara apapun yang bertentangan dengan tujuan-tujuan Piagam PBB. Penggunaan kekerasan atau perang yang digunakan untuk menyelesaikan sengketa merupakan cara yang telah diakui dan dipraktekkan sejak lama. Bahkan penggunaan kekerasan atau perang telah menjadi sebagai alat atau instrumen dan kebijakan luar negeri suatu negara untuk menguasai wilayah- wilayah tertentu. Penggunaan kekerasan atau perang digunakan oleh negara-negara untuk memaksakan hak-hak dan pemahaman mereka mengenai aturan-aturan hukum internasional. Semakin berkembangnya kekuatan militer dan perkembangan teknologi persenjataan pemusnah massal, masyarakat internasional semakin menyadari besarnya bahaya dari penggunaan kekerasan atau perang dan dewasa ini cara kekerasan atau perang sudah tidak populer lagi. Mengingat hubungan antarbangsa telah berkembang menuju hubungan yang lebih mengedepankan penghargaan terhadap martabat kemanusiaan. Oleh karena itu, penggunaan kekerasan atau perang yang ganas dan keji tidak lagi menjadi pilihan populer sebagai resolusi sengketa atau konflik antarbangsa. Terkait dengan penyelesaian sengketa yang lebih mengutamakan solusi damai dalam ketentuan Pasal 2 ayat (3) Piagam PBB dinyatakan, bahwa selain adanya kewajiban bagi semua negara untuk menyelesaikan sengketa dengan menggunakan solusi damai supaya tidak membahayakan perdamaian dan keamanan internasional.

Pernyataan Piagam PBB tersebut diperluas lagi oleh Deklarasi Manila untuk pelaksanaan cara- cara damai dan tanpa menggunakan cara kekerasan atau perang tersebut dengan didasari oleh itikad baik dan berada dalam semangat untuk menyelesaikan sengketa internasional yang tengah dihadapi.

Penyelesaian sengketa internasional secara damai kini merupakan titik sentral dari hukum internasional dan hubungan internasional, hal ini sejalan dengan kehendak yang tertuang dalam Piagam PBB yang melarang menggunakan kekerasan atau perang dalam praktek hubungan internasional. Seperti halnya politik konfrontasi yang dilancarkan Presiden Sukarno dan diakhiri oleh Presiden Suharto merupakan salah satu tonggak pembentukan norma hubungan antarnegara yang tumbuh dari pengalaman sebelum ASEAN terbentuk. Berakhirnya konfrontasi dan keikutsertaan Indonesia dalam pembentukan ASEAN merupakan blessing in disguise bagi pembentukan norma hubungan antarnegara yang menentang penggunaan kekerasan (non-use for force). Walaupun konfrontasi menciptakan ketegangan regional luar biasa, keputusan Presiden Suharto untuk menghentikan konfrontasi melegakan negara-negara tetangga dan memuluskan jalan menuju pembentukan organisasi regional yang menentang prinsip penggunaan kekerasan atau perang dalam membangun hubungan dengan sesama negara anggota ASEAN. Apakah dengan dibentuknya ASEAN merupakan jaminan berkurangnya agresifitas negara-negara anggota?

Pertanyaan ini sudah tentu memerlukan jawaban pasti mengingat sebagai organisasi baru mustahil bagi ASEAN menghapus berbagai perbedaan atau kecurigaan potensial yang ada pada masingmasing negara anggota. Segera sesudah terbentuknya muncul percobaan pertama yang cukup menyedot perhatian dan tenaga masing-masing anggota.

Persoalan awal yang mengiring pertumbuhan ASEAN adalah friksi diplomatik antara Malaysia dan Filipina, kasus Sabah menjadi penyebab terputusnya hubungan diplomatik kedua negara walaupun hanya sementara. Konflik ini dipicu oleh pemberitaan di sebuah harian Filipina yang menyatakan adanya

(5)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -345-355

349

latihan militer yang dimaksudkan untuk melakukan infiltrasi ke Sabah, negara bagian Malaysia. Tentara Filipina dikabarkan melatih prajurit-prajurit di kawasan selatan untuk mencapai tujuan di atas. Berita ini sudah tentu menimbulkan kemarahan di kalangan pemimpin Malaysia, untuk beberapa bulan kemudian hubungan kedua negara sangat terganggu. Malaysia mengancam untuk mundur dari ASEAN sebagai akibat provokasi Filipina tersebut, konflik ini sudah tentu mengancam kelangsungan hidup ASEAN yang baru berumur enam bulan. Perkembangan mengejutkan ini membuat negara-negara anggota memilih menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi karena mereka tidak berharap ASEAN dikorbankan untuk sebuah sengketa yang mungkin masih dapat diselesaikan. Mereka berharap agar solusi atas sengketa ini dapat ditemukan di luar mekanisme ASEAN sehingga menjamin kelangsungan organisasi regional.

Upaya bilateral yang dilakukan kedua negara tidak membuahkan hasil bahkan kedua negara menghentikan hubungan diplomatik mereka. Mengingat persoalannya sudah tidak mungkin lagi dikendalikan ASEAN melalui pertemuan di Jakarta dan Bangkok pada bulan Desember 1968 akhirnya sepakat menghimbau kedua negara untuk tidak lagi menyuarakan perbedaan pendapat mereka secara terbuka untuk menurunkan ketegangan hubungan politik kedua negara. Pada Tahun 1969 merupakan saat memberi harapan bagi hubungan kedua negara, sejak bulan Maret 1969 pihak Filipina telah menyatakan kesediaan untuk tidak lagi membicarakan isu Sabah dalam pertemuan-pertemuan ASEAN berikutnya.

Kemudian pada bulan Mei 1969, kedua negara akhirnya bertemu kembali dan puncak harapan ini terwujud pada Desember 1969 saat kedua negara sepakat untuk membuka kembali hubungan diplomatik yang terputus sejak tahun 1968. Kedua negara sangat menghargai keutuhan ASEAN jauh lebih penting dari kepentingan mereka masing-masing. Sudah tentu berakhirnya krisis Sabah meningkatkan rasa percaya diri di kalangan negara anggota ASEAN. Cara ASEAN menyelesaikan sengketa Sabah sangat unik karena mereka lebih banyak melakukan diplomasi, tekanan dan pencegahan sedemikian rupa sehingga dikemudian hari rangkaian ini dikenal sebagai the ASEAN Way, yaitu kebiasaan ASEAN dalam menyelesaikan persoalan yang menimpa negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Negara-negara anggota ASEAN jika dihadapkan pada suatu persengketaan harus berusaha menggunakan mekanisme dan proses penyelesaian sengketa regional di bidang-bidang politik dan keamanan, dan mencari modalitas baru untuk memelihara perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Tenggara, karena dalam hal ini sudah tercantum di dalam Deklarasi ASEAN yang berisikan tujuan untuk membangun suatu dasar yang kuat atas usaha bersama untuk meningkatkan kerjasama dan persahabatan demi perdamaian, kemajuan serta kesejahteraan di kawasan. Jadi setiap sengketa atau konflik yang tengah dihadapi atau yang menyangkut dan melibatkan negara-negara anggota ASEAN harus diselesaikan secara damai atau dengan solusi damai dalam semangat perdamaian, peningkatan keamanan serta stabilitas, dan menentang keras digunakannya cara-cara kekerasan di dalam menyelesaikan sengketa di kawasan Asia Tenggara, termasuk apa yang telah terjadi di dalam kasus sengketa Kuil Preah Vihear antara Pemerintah Kamboja dan Pemerintah Thailand.

Seperti yang telah terjadi pada tanggal 15 Oktober 2008 antara tentara militer Kamboja dan tentara militer Thailand terlibat kontak senjata di dekat Kuil Preah Vihear yang menjadi sengketa kedua negara tersebut. Kamboja dan Thailand sama-sama meningkatkan jumlah tentaranya di wilayah yang dipersengketakan di antara perbatasan kedua negara. Baku tembak tersebut mengakibatkan sedikitnya dua orang tentara militer Kamboja tewas dan lima orang tentara militer Thailand mengalami luka-luka.

Panglima Komando Daerah Militer Selatan Thailand Letjen Viboonsak Neepan mengatakan, bahwa pasukannya melepaskan tembakan peringatan ke udara pada saat dua puluh prajurit Kamboja memasuki wilayah Thailand. Menurut Viboonsak, pasukan Kamboja melepaskan tembakan balasan sehingga terjadilah baku tembak tersebut. Pada kesempatan yang berbeda setelah kedua negara terlibat dalam baku tembak, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dan Menteri Informasi Kamboja Khieu Kanharith pada tanggal 20 November 2008 menegaskan bahwa negaranya tidak akan “berperang” dan tidak akan menggunakan cara-cara kekerasan terhadap negara tetangganya tersebut yaitu Thailand menyangkut sengketa Kuil Preah Vihear di perbatasan kedua negara yang telah berlangsung sejak lama.

ASEAN tidak diperbolehkan ikut campur di dalam penyelesaian masalah atau sengketa yang dihadapi oleh negara-negara anggotanya. Campur tangan ASEAN dipandang sebagai campur tangan pihak ketiga yang mengancam kedaulatan negara. Salah satu mimpi besar ASEAN saat ini adalah mewujudkan regionalisme di kawasan Asia Tenggara. Upaya ini salah satunya dilakukan dengan adanya Piagam ASEAN yang akan digunakan sebagai landasan penyatuan kerjasama ASEAN yang lebih erat. Jika kita berbicara mengenai kerjasama multilateral ataupun regionalisme maka hal itu pasti erat kaitannya dengan perspektif liberalis yang mengakui keberadaan kerjasama internasional dan memandang bahwa kerjasama internasional akan memberikan sumbangan positif bagi negara. Dengan kata lain, kerjasama multilateral

(6)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -345-355

350

atau regionalisme merupakan produk dari perspektif liberalis. Pandangan liberalis ini bertolak belakang dengan pandangan realis yang melihat sebaliknya. Bagi realisme kerjasama internasional apapun bentuknya tidak akan memberikan keuntungan bagi sebuah negara dan juga tidak akan memberikan sumbangan apapun bagi sistem internasional karena di dalam sistem internasional yang anarki, prinsip yang berlaku adalah self help, yaitu setiap negara hanya akan mementingkan dirinya masing-masing dan berbagai hal hanya dapat diusahakan oleh negara bersangkutan itu sendiri.

Dengan kata lain, bagi perspektif realis, kerjasama multilateral atau regionalisme dilihat sebagai ancaman dibandingkan peluang. Dengan perbedaan pandangan yang sedemikian jauh sangat sulit dibayangkan bahwa negara-negara yang mengadopsi prinsip-prinsip realis dapat membangun dan menjalin kerjasama yang erat di antara mereka. Namun kondisi inilah yang terjadi di Asia Tenggara. Dengan fakta yang demikian sangat sulit mengharapkan kerjasama yang lebih erat akan tercapai di antara negara-negara anggota ASEAN sekalipun Piagam ASEAN telah diberlakukan. Piagam ASEAN yang berciri liberalis akan selalu berbenturan dengan kebijakan negara-negara anggotanya yang bercirikan realis. Dengan demikian upaya selanjutnya yang harus menjadi prioritas ASEAN, setelah diberlakukannya Piagam ASEAN ini adalah membongkar pola pikir negara-negara anggotanya untuk lebih liberalis sehingga mau melepaskan sebagian kedaulatannya kepada entitas yang lebih tinggi (ASEAN) dan menjalin kerjasama yang lebih erat diantara negara-negara anggota.

Asia, khususnya Asia Tenggara memang menyimpan banyak potensi sengketa sebagai buah dari

‘’warisan kebudayaan’’, yang sebetulnya merupakan hasil proses akulturasi budaya di wilayah ini selama berabad-abad. Tidak diragukan lagi, kawasan ini sebetulnya membutuhkan sebuah lembaga yang kuat untuk menjadi juru runding bagi sengketa-sengketa tersebut. Tetap saja batu sandungan menghadang langkah ASEAN. Tantangan tersebut terdapat dalam Pasal 23 Piagam ASEAN menyatakan rekonsiliasi konflik di meja ASEAN ini tetap mengharuskan kesediaan negara-negara yang terlibat di dalamnya.

Termsak menegaskan penolakan Thailand berarti menutup pintu bagi campur tangan ASEAN. Penolakan yang dilakukan oleh Pemerintah Thailand terhadap ASEAN untuk ikut aktif menyelesaikan sengketa Kuil Preah Vihear membuktikan perhimpunan tersebut mulai kehilangan makna jati dirinya sebagai 153 kekuatan yang mempersatukan semangat tata ketertiban multinasional dan sudah seharusnya kedua negara mulai memanfaatkan jasa ASEAN untuk menyelesaikan sengketa Kuil Preah Vihear itu, mengingat kedua negara merupakan negara anggota ASEAN berdasarkan Pasal 4 Piagam ASEAN dan ASEAN harus mendorong Kamboja dan Thailand untuk segera menyelesaikan sengketa kuil tersebut, baik melalui mekanisme penyelesaian sengketa regional ASEAN maupun secara bilateral dengan tujuan ialah untuk menciptakan perdamain dan keamanan di kawasan Asia Tenggara yang sudah merupakan dan menjadi kewajiban bagi seluruh negara anggotanya untuk melaksanakan tujuan yang telah menjadi cita-cita bersama.

KESIMPULAN

ASEAN harus lebih berani mendorong negara anggotanya menuntaskan sengketa-sengketa perbatasan yang sedang dihadapinya demi terwujudnya Komunitas Keamanan ASEAN Tahun 2015 dengan berpedoman pada dokumen-dokumen politik yang telah dimiliki oleh ASEAN. Ketegangan yang telah terjadi antara tentara militer Kamboja dan tentara militer Thailand terkait dengan sengketa Kuil Preah Vihear di perbatasan kedua negara merupakan peluang ASEAN di dalam menjembatani kedua negara di dalam “mendinginkan” ketegangan yang telah muncul dan mampu memberikan solusi yang terbaik di dalam penyelesaian sengketa Kuil Preah Vihear itu dan hal tersebut dapat dilakukan dengan memaksimalkan peran Piagam ASEAN yang telah disepakati oleh kedua negara yang bersengketa. ASEAN harus “membentengi”

diri agar sengketa perbatasan tidak berkembang menjadi sengketa bersenjata dengan cara memperkuat kerja sama, tata perilaku, tanggung jawab serta rasa saling percaya di antara sesama anggota di ASEAN juga diperketat. Piagam ASEAN 155 diharapkan dapat menjadi tumpuan yang kuat untuk menyelesaikan perbedaan maupun sengketa antar negara anggota, sehingga eksistensi ASEAN menjadi lebih kuat. Dengan demikian, melalui piagam tersebut ASEAN dapat memusatkan perhatiannya pada penyelesaian sengketa Kuil Preah Vihear untuk menggapai terbentuknya Komunitas Keamanan ASEAN tahun 2015.

ASEAN berpeluang untuk mengarahkan kedua negara anggotanya yang sedang bersengketa tersebut untuk memperhatikan dokumendokumen politik yang telah dibuat atas persetujuan kesepuluh negara anggota ASEAN yakni meletakkan dasar atau fondasi kokoh untuk memajukan kerja sama regional, memperkuat stabilitas ekonomi dan sosial serta pemeliharaan perdamaian, dan keamanan di kawasan Asia Tenggara. Jadi setiap sengketa yang timbul hendakya diselesaikan dengan cara-cara damai dan menahan diri untuk tidak menggunakan cara kekerasan atau perang, seperti apa yang telah tertuangkan dalam the Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia 1976 (TAC) serta Piagam ASEAN.

(7)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -345-355

351 SARAN

Diharapkan kepada negara-negara anggota ASEAN dapat bersikap lebih fleksibel dalam menerapkan prinsip non-intervensi, agar lebih terbuka atas keterlibatan yang lebih besar dari negara-negara anggota lain (melalui mekanisme yang disepakati bersama), dalam isu-isu internal yang memiliki dampak melintasi batas-batas negara, sengketa yang melibatkan negara anggota, dan masalah-masalah yang memiliki dimensi kemanusian yang jelas (seperti dalam hal pelanggaran HAM secara besar-besaran dan dalam hal terjadinya krisis kemanusiaan), lebih terbuka terhadap saran-saran bersahabat yang diberikan negaranegara sesama anggota ASEAN, selama saran-saran tersebut disampaikan melalui mekanisme yang tepat, dan tidak terlalu reaktif terhadap kritik dan pandangan-pandangan dari masyarakat warga (civil society) dari negara- negara anggota lainnya.

Demi kepentingan pemeliharaan dan pengembangan Kuil Preah Vihear yang telah dinyatakan sebagai warisan dunia oleh UNESCO haruslah ada atau dibentuknya suatu kesepakatan yang jelas tentang pengelolaan secara bersama-sama untuk sementara waktu terhadap kuil tersebut, sebelum adanya keputusan yang pasti mengenai perbatasan demarkasi antara Kamboja dan Thailand. Dimana 159 pembentukan mekanisme pengelolaan bersama ini akan membantu dan membuat Kuil Preah Vihear akan memiliki nilai arkeologi yang tinggi dan terawat, salah satu contohnya adalah dari segi ekonomi hal tersebut akan mendatangkan banyak wisatawan ke kuil tersebut untuk berkunjung dan berziarah, hal ini akan sangat menguntungkan kedua negara, tanpa perlu khawatir tentang klaim-klaim wilayah kedaulatan atau menunggu dituntaskannya batas demarkasi kedua negara yang kemungkinan besar akan memakan waktu cukup lama. Hal ini harus dibarengi dengan rasa itikad baik oleh masing-masing pihak untuk menciptakan kedamaian dan keuntungan bagi kedua negara bertetangga tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Mangku, D. G. S. (2012). Suatu Kajian Umum tentang Penyelesaian Sengketa Internasional Termasuk di Dalam Tubuh ASEAN. Perspektif, 17(3).

Febriana, N. E., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Upaya Perlawanan (Verzet) Terhadap Putusan Verztek Dalam Perkara No. 604/PDT. G/2016/PN. SGR Di Pengadilan Negeri Singaraja Kelas 1B. Ganesha Law Review, 2(2), 144-154.

Dewi, I. A. P. M., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Penegakan Hukum Terhadap Anak Dalam Pelanggaran Lalu Lintas Yang Menyebabkan Hilangnya Nyawa Orang Lain Di Kota Singaraja. Ganesha Law Review, 2(2), 121-131.

Rosy, K. O., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Peran Mediasi Dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Setra Karang Rupit Di Pengadilan Negeri Singaraja Kelas 1B. Ganesha Law Review, 2(2), 155-166.

Dana, G. A. W., Mangku, D. G. S., & Sudiatmaka, K. (2020). Implementasi UU Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Terkait Peredaran CD Musik Bajakan Di Wilayah Kabupaten Buleleng. Ganesha Law Review, 2(2), 109-120.

Mangku, D. G. S. (2021). Roles and Actions That Should Be Taken by The Parties In The War In Concerning Wound and Sick Or Dead During War or After War Under The Geneva Convention 1949. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 7(1), 170-178.

Itasari, E. R. (2015). Memaksimalkan Peran Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia 1976

(TAC) Dalam Penyelesaian Sengketa di ASEAN. Jurnal Komunikasi Hukum

(JKH), 1(1).

(8)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -345-355

352

Itasari, E. R. (2020). Border Management Between Indonesia And Malaysia In Increasing The Economy In Both Border Areas. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 6(1), 219-227.

Sugiadnyana, P. R., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Penyelesaian Sengketa Pulau Batu Puteh Di Selat Johor Antara Singapura Dengan Malaysia Dalam Perspektif Hukum Internasional. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 6(2), 542-559.

Nasip, N., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Implementasi Pasal 14 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemsyarakatan Terkait Hak Narapidana Mendapatkan Remisi Di Lembaga Pemasyasrakatan Kelas II B Singaraja. Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 6(2), 560-574.

Sakti, L. S., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Tanggung Jawab Negara Terhadap Pencemaran Lingkungan Laut Akibat Tumpahan Minyak Di Laut Perbatasan Indonesia Dengan Singapura Menurut Hukum Laut Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(3), 131-140.

Anggreni, I. A. K. Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Analisis Yuridis Pertanggungjawaban Pemimpin Negara Terkait Dengan Kejahatan Perang Dan Upaya Mengadili Oleh Mahkamah Pidana Internasional (Studi Kasus Omar Al-Bashir Presiden Sudan). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(3), 81-90.

Arianta, K., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Perlindungan Hukum Bagi Kaum Etnis Rohingya Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 1(1), 93-111.

Daniati, N. P. E., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2021). Status Hukum Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(3), 283-294.

GW, R. C., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2021). Pertanggungjawaban Negara Peluncur Atas Kerugian Benda Antariksa Berdasarkan Liability Convention 1972 (Studi Kasus Jatuhnya Pecahan Roket Falcon 9 Di Sumenep). Jurnal Komunitas Yustisia, 4(1), 96- 106.

Hartana, H. (2020). Existence And Development Group Companies In The Mining Sector (PT. Bumi Resources Tbk). Ganesha Law Review, 2(1), 54-69.

Hartana, H. (2019). Initial Public Offering (Ipo) Of Capital Market And Capital Market Companies In Indonesia. Ganesha Law Review, 1(1), 41-54.

Hartana, H. (2016). Hukum Perjanjian (Dalam Perspektif Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara). Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 2(2).

Hartana, H. (2017). Hukum Pertambangan (Kepastian Hukum Terhadap Investasi Sektor Pertambangan Batubara di Daerah). Jurnal Komunikasi Hukum (JKH), 3(1), 50-81.

Setiawati, N., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Penyelesaian Sengketa Kepulauan Dalam

Perspektif Hukum Internasional (Studi Kasus Sengketa Perebutan Pulau Dokdo antara

Jepang-Korea Selatan). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 241-250.

(9)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -345-355

353

Utama, I. G. A. A., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2021). Yurisdiksi International Criminal Court (ICC) Dalam Penyelesaian Kasus Rohingnya Dalam Perspektif Hukum Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(3), 208-219.

Widayanti, I. G. A. S., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Penggunaan Tentara Anak Dalam Konflik Bersenjata Ditinjau Dari Perspektif Hukum Humaniter Internasional (Studi Kasus: Konflik Bersenjata di Sri Lanka). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 124- 133.

Wiratmaja, I. G. N. A., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Penyelesaian Sengketa Maritime Boundary Delimitation Di Laut Karibia Dan Samudera Pasifik Antara Costa Rica Dan Nicaragua Melalui Mahkamah Internasional. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(1), 60-69.

Mangku, D. G. S. (2013). Kasus Pelanggaran Ham Etnis Rohingya: Dalam Perspektif ASEAN. Media

Komunikasi FIS, 12(2).

Mangku, D. G. S. (2010). Pelanggaran terhadap Hak Kekebalan Diplomatik (Studi Kasus Penyadapan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon Myanmar berdasarkan Konvensi Wina 1961). Perspektif, 15(3).

Purwanto, H., & Mangku, D. G. (2016). Legal Instrument of the Republic of Indonesia on Border Management Using the Perspective of Archipelagic State. International Journal of

Business, Economics and Law, 11(4).

Itasari, E. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Elaborasi Urgensi Dan Konsekuensi Atas Kebijakan Asean Dalam Memelihara Stabilitas Kawasan Di Laut Cina Selatan Secara Kolektif. Harmony, 5(2), 143-154.

Malik, F., Abduladjid, S., Mangku, D. G. S., Yuliartini, N. P. R., Wirawan, I. G. M. A. S., & Mahendra, P. R. A. (2021). Legal Protection for People with Disabilities in the Perspective of Human Rights in Indonesia. International Journal of Criminology and Sociology, 10, 538-547.

Mangku, D. G. S. (2017). Penerapan Prinsip Persona Non Grata (Hubungan Diplomatik Antara Malaysia dan Korea Utara). Jurnal Advokasi, 7(2), 135-148.

Mangku, D. G. S. (2017). Peran Border Liasion Committee (BLC) Dalam Pengelolaan Perbatasan Antara Indonesia dan Timor Leste. Perspektif, 22(2), 99-114.

Mangku, D. G. S. (2017). The Efforts of Republica Democratica de Timor-Leste (Timor Leste) to be a member of Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) and take an active role in maintaining and creating the stability of security in Southeast Asia. Southeast Asia Journal of Contemporary Business, Economics and Law, 13(4), 18-24.

Mangku, D. G. S. (2018). Kepemilikan Wilayah Enclave Oecussi Berdasarkan Prinsip Uti Possidetis Juris. Jurnal Advokasi, 8(2), 150-164.

Mangku, D. G. S. (2018). Legal Implementation On Land Border Management Between Indonesia And

Papua New Guinea According to Stephen B. Jones Theory. Veteran Law Review, 1(1),

72-86.

(10)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -345-355

354

Mangku, D. G. S. (2020). Implementation Of Technical Sub Committee Border Demarcation And Regulation (TSC-BDR) Agreement Between Indonesia-Timor Leste In The Resolution Of The Land Border Dispute. Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan, 8(3), 405-419.

Mangku, D. G. S. (2020). Penyelesaian Sengketa Perbatasan Darat di Segmen Bidjael Sunan–Oben antara Indonesia dan Timor Leste. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 5(2), 252-260.

Mangku, D. G. S. (2021). Pemenuhan Hak Asasi Manusia kepada Etnis Rohingya di Myanmar. Perspektif Hukum, 21(1), 1-15.

Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Terhadap Curanmor yang dilakukan Oleh Anak di Kabupaten Buleleng (Studi Kasus Perkara Nomor:

B/346/2016/Reskrim). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 71-80.

Astuti, N. K. N., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Implementasi Hak Pistole Terhadap Narapidana Kurungan Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Singaraja. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(1), 37-47.

Brata, D. P., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Tinjauan Yuridis Asas Sidang Terbuka Untuk Umum Dalam Penyiaran Proses Persidangan Pidana. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(1), 330-339.

CDM, I. G. A. D. L., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Penjatuhan Sanksi Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pembunuhan (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Singaraja Dalam Perkara NO. 124/PID. B/2019/PN. SGR). Jurnal Komunitas Yustisia, 3(1), 48- 58.

Cristiana, N. K. M. Y., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Peran Kepolisian Sebagai Penyidik Dalam Penyelesaian Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Kabupaten Karangasem. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 78-87.

Dwiyanti, K. B. R., Yuliartini, N. P. R., SH, M., Mangku, D. G. S., & SH, L. M. (2019). Sanksi Pidana Penyalahgunaan Narkotika Dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika (Studi Putusan Penyalahgunaan Narkotika Golongan I Oleh Anggota Tni Atas Nama Pratu Ari Risky Utama). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(1).

Hati, A. D. P., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Tinjauan Yuridis Terkait Permohonan Suntik Mati (Euthanasia) Ditinjau Dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 134-144.

Parwati, N. P. E., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Kajian Yuridis Tentang Kewenangan Tembak Di Tempat Oleh Densus 88 Terhadap Tersangka Terorisme Dikaitkan Dengan HAM. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 191-200.

Pratiwi, L. P. P. I., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Pengaturan Terhadap Kedudukan

Anak Di Luar Kawin Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-

VIII/2010. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(1), 13-24.

(11)

Ganesha Civic Education Journal, Volume 4 Issue 2 Oktober 2022, p. -345-355

355

Prawiradana, I. B. A., Yuliartini, N. P. R., & Windari, R. A. (2020). Peran Kepolisian Dalam Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Narkotika Di Kabupaten Buleleng. Jurnal Komunitas Yustisia, 1(3), 250-259.

Purwanto, K. A. T., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Implementasi Perlindungan Hukum Terhadap Narapidana Sebagai Saksi Dan Korban Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-B Singaraja. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(2), 113-123.

Putra, A. S., Yuliartini, N. P. R., SH, M., Mangku, D. G. S., & SH, L. M. (2019). Sistem Pembinaan Terhadap Narapida Narkotika Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Singaraja. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(1).

Putra, I. P. S. W., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Kebijakan Hukum Tentang Pengaturan Santet Dalam Hukum Pidana Indonesia. Jurnal Komunitas Yustisia, 3(1), 69-78.

Sanjaya, P. A. H., Mangku, D. G. S., & Yuliartini, N. P. R. (2020). Perlindungan Hukum Terhadap Gedung Perwakilan Diplomatik Dalam Perspektif Konvensi Wina 1961 (Studi Kasus Ledakan Bom Pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yang Dilakukan Oleh Arab Saudi Di Yaman). Jurnal Komunitas Yustisia, 2(1), 22-33.

Sant, G. A. N., Yuliartini, N. P. R., & Mangku, D. G. S. (2020). Perlindungan Hukum Terhadap Korban Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika di Kabupaten Buleleng. Jurnal Komunitas Yustisia, 2(3), 71-80.

Yuliartini, N. P. R. (2016). Eksistensi Pidana Pengganti Denda Untuk Korporasi Dalam Pembaharuan

Hukum Pidana Indonesia. Jurnal IKA, 14(1).

Referensi

Dokumen terkait

269 GANESHA CIVIC EDUCATION JOURNAL Volume 4 Issue 2 Oktober 2022 P-ISSN : 2714-7967 E-ISSN : 2722-8304 Universitas Pendidikan Ganesha

Upaya penanggulangan balapan liar di Kota Singaraja melalui sarana penal lebih menitikberatkan pada sifat represif sesudah balapan liar terjadi yang merupakan upaya penindakan dan