• Tidak ada hasil yang ditemukan

Generasi Emas atau Generasi Cemas

N/A
N/A
Nur Isla

Academic year: 2024

Membagikan " Generasi Emas atau Generasi Cemas"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

MASALAH STUNTING: GENERASI EMAS ATAU GENERASI CEMAS Cita-cita Indonesia dalam 20 tahun kedepan akan menjadi Negara Tangguh, Mandiri, dan Inklusif merupakan kesempatan emas gerenasi muda dalam berkarya serta generasi mudalah yang memegang stafek Negara dari segala bidang.

Pertanyaanya apakah generasi muda siap?, sebelum jauh bercerita tentang Indonesia emas pembahasan terkait masalah sosial tidak boleh dinafikan. Permasalah sosial tentunya sangat mempengaruhi generasi muda mulai dari masalah lingkungan, budaya, Pendidikan dan lebih mirisnya lagi masalah Kesehatan. Stunting yang menggorogoti Kesehatan generasi muda yang mengancam generasi kita menjadi generasi cemas.

Indonesia merupakan negara dengan prevalensi gizi kurang pada balita cukup tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010 dan 2013, dan Pemantauan Status Gizi Tahun 2015 dan 2017, menunjukan prevalensi stunting masih tinggi dan tidak menurun mencapai batas ambang WHO. Riskesdas Tahun 2010 mencapai 35,6% dan Tahun 2013 mencapai 37,2 %, Pemantauan Status Gizi (PSG) Tahun 2015 (29.0%) dan Tahun 2017 (29,6 %)2 . Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 37,2%. Di sisi lain, hasil riset Bank Dunia (2017) menggambarkan kerugian akibat stunting mencapai 3-11% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Dengan nilai PDB 2015 sebesar Rp11.000 Triliun, kerugian ekonomi akibat stunting di Indonesia diperkirakan mencapai Rp300-triliun Rp1.210 triliun per tahun. Sedangkan pada Balita Stunting (Tinggi Badan per Umur). 1

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, penyakit infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Permasalahan stunting di Indonesia masih menjadi permasalahan yang mendapatkan perhatian utama dalam bidang kesehatan terutama dalam masalah gizi. Seorang anak balita yang mengalami stunting akan berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan motorik dan verbal sang anak, menghambat kecerdasan anak, rentan baik terhadap penyakit menular maupun tidak menular, produktivitas menjadi semakin rendah pada saat anak memasuki usia dewasa, dan berpeluang berisiko overweight dan obesitas. 2

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2024, angka prevalensi stunting usia 0-59 tahun di Jawa Barat menyentuh angka 23,2 persen. Angka itu

1 [Awaludin], Jurnal [Analisis Bagaimana Mengatasi Permasalahan Stunting Di Indonesia?, Prodi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.

2 Noor Latifah A, Fini Fajrini, dkk. Jurnal Systematic Literature Review: Stunting pada Balita di Indonesia dan Faktor yang Mempengaruhinya, 6Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Jakarta

(2)

masih di atas rata-rata prevalensi stunting di Indonesia (21,5 persen). Angka itu juga menunjukkan prevalensi stunting Jabar naik 1,5 persen dibandingkan tahun 2023 yang menyentuh 21,7 persen.3 Jawa barat sendiri mengalami masalah yang sama dengan provinsi lain. Permasalahan stunting tidak bisa diibiarkan begitu saja, dikarenakan anak yang terjangkit akan berdampak tidak akan memiliki produktivitas yang maksimal dalam membangun Negara. Sayangnya stunting tidak dapat disembuhkan apalagi telah melewati batas usia balita. Namun, intervensi nutrisi dan medis lainnya dapat membantu kondisi anak tidak semakin parah.

Pandangan Masyarakat terhadap permasalahan stunting tidak akan pernah luput akan kesalahan perempuan. Karna secara kodrat Perempuan yang menjadi ibu yang wajib menjaga Kesehatan dirinya termasuk anaknya. padahal faktanya banyak hal yang menyebabkan anak mengalami stunting. program pemerintah yang diadakan untuk mengatasi masalah stunting tersebut sangat jelas dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 Tentang Percepatan Penurunan Stunting. Sayangnya, program tersebut tidak terlalu massif dilaksanakan oleh beberapa pemerintah setempat bahkan tak jarang diacuhkan oleh Masyarakat sendiri yang notabenenya program tersebut sudah mantap untuk di implementasikan,kurang antusias dari masyarakat terhadap program tersebut sehingga permasalahan yang harusnya diselesaikan Bersama-sama menjadi terhambat.

Permasalahan Stunting memang tidak bisa diselesaikan secara instan, apa lagi anak yang terkena stanting juga tidak dapat disembuhkan. Namun, kita dapat melakukan intervensi pemenuhan gizi dan perbaikan gizi pada anak agar anak dapat tumbuh dengan baik. Selain pencegahan stunting dari segi Kesehatan,

ada beberapa Solusi mencegah stunting yang dapat lakukan oleh kaum Perempuan dan Pemerintah antara lain;

1. Penguatan Peran Perempuan dalam ranah ekonomi, Pendidikan, dan politik agar masalah- masalah mengenai Perempuan dapat terindentifikasi dengan cepat (dalam hal ini Perempuan lebih paham dan mengerti apa yang mereka butuhkan). Agar tidak ada lagi Perempuan yang kekurangan dana untuk membeli asupan gizi untuk dirinya dan calon anaknya, agar kebijkan yang ada mampu berpihak pada kepentingan Perempuan.

3 Kepala BKKBN Jabar: Angka Prevalensi Stunting Jawa Barat Naik 1,5 Persen Tahun 2024 (ketik.co.id), (Laporan pemerintah) (Diakses pada Jumat 11 Oktober 2024).

(3)

2. Pengadaan Kebun Gizi Kolam Ikan Nila pada setiap halaman rumah keluarga yang berencana bertujuan agar dapat ditanami beberapa sayuran dan kolam kecil yang isinya ikan nila yang dapat memenuhi gizi untuk keluarga apalagi ibu hamil. Dalam hal ini Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) harus berperan aktif dalam pengadaan, stabilitas sampai pada pengawasan program.

Solusi yang ditawarkan akan membantu meningkatkan kesejahteraan bagi Perempuan dikarenakan Perempuan diberi ruang yang luas dalam menggali dan mencari tau informasi serta potensi dirinya. Perempuan juga juga perlu memiliki pertahan diri baik dari segi ekonomi dan segi partisipasi pembuatan kebijakan, agar Perempuan mampu berdikari untuk dirinya, keturunannya, dan kaumnya. Permasalahan ini saya tekankan karna Perempuan seringkali menjadi korban yang terbanyak dalam kesenjangan sosial.

Penggunaan halaman untuk kebun gizi kolam ikan nila menurut penulis juga sangat efektif, dengan desain program pertama pemerintah harus menyiapkan bibit sayuran atau buah serta ikan nila yang tinggi vitamin dan praktis diadakan (untuk kolam ikan nila hanya butuh ukuran 1x2 meter). Peran Ibu PKK sangat dibutuhkan untuk membantu mengawasi program ini dengan baik, bertujuan untuk membahas rencana tindaklanjut pada pada program dalam misi penyelesain masalah stunting. Program ini bisa diimplementasikan Dimana daerah mana manapun mulai dari Sabang sampai Merauke.

Kesimpulan

Rancangan Solusi yang ditawarkan sebenarnya sudah mencakup dari segala sisi dan menjadi puncak ujung tombak dari Solusi masalah. Peran perempuanlah yang sangat penting serta pemantapan pangan gizi yang perlu diperhatikan. Kebun gizi dan kolam ikan nila akan sangat membantu Masyarakat bahkan kolam tersebut akan menjadi hiburan baru mereka.

Masyarakat sendiri juga harus sadar pada masalah ini, dalam beberapa kasus penyebab tidak massifnya program adalah Masyarakat yang kurang berpartisipasi dalam program tersebut. Samahalnya dengan pemerintah jangan pernah berheti memberikan edukasi pada Masyarakat. Agar Masyarakat mampu memahami situasi dan kondisi yang sedang terjadi.

(4)

Masyarakat terkadang kurang berpartisipasi karena mereka belum paham betul tentang situasi yang sedang menimpa mereka.Semoga dengan segala Upaya ini Impian Indonesia emas Bersama generasi emas tercapai.

Referensi

Dokumen terkait

dan KB Mempercepat penurunan prevalensi balita stunting melalui optimalisasi intervensi spesifik dalam pemenuhan gizi ibu hamil dan balita serta penguatan surveilans gizi, edukasi

Tindakan Tradisional ini dapat digunakan untuk menganalisis rumusan masalah yang kedua yaitu respon generasi muda Desa Lemah Ireng terhadap seni pertunjukan wayang

Sebagian besar gizi kurang disebabkan oleh tingkat pengetehuan gizi yang kurang sehingga mempengaruhi prevalensi balita gizi kurang dan buruk, mempertahankan status

Menurunnya prevalensi kekurangan gizi (terdiri dari gizi kurang dan gizi buruk) pada anak Balita dari 18,4 persen menjadi dibawah 15,0 persen f.. Menurunnya prevalensi anak

Nampaknya masalah gizi KEP ini belum mendapatkan penanganan yang baik bagi balita di Desa Mekargalih, yang tercermin dari tidak membaiknya prevalensi underweight dan stunting

Berdasarkan hasil baseline data Bulan Oktober tahun 2018 menunjukkan prevalensi masalah gizi pada balita di Desa Pandanajeng Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang, status gizi kurang

Dokumen ini membahas tentang pentingnya bela negara bagi generasi

Makalah ini membahas tentang generasi muda Indonesia dan peran mereka dalam mewujudkan Indonesia Emas