LAPORAN KINERJA 2022
DIREKTORAT PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR
KEMENTERIAN KESEHATAN
h a l a m a n | 2
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, Laporan Kinerja Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dapat disusun dengan baik. Penyusunan LAKIP ini berpedoman kepada Peraturan Menteri PAN/RB no 12 Tahun 2015 tentang Pedoman Evaluasi atas Implementasi Sistem Akuntabilitas Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Laporan kinerja ini disusun agar setiap pemangku kepentingan mendapatkan gambaran yang jelas mengenai pelaksanaan kinerja Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular. Keberhasilan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dalam mencapai target sasaran kinerja yang telah ditetapkan merupakan hasil kerja keras dan peran serta semua pegawai, kerjasama lintas program dan lintas sektor di lingkungan Kementerian Kesehatan, para stakeholder serta dukungan dari Provinsi dan Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.
Penyusunan LAKIP Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular ini diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitas publik dan meningkatkan kinerja. Laporan ini berisi pencapaian sasaran sebagaimana yang ditetapkan di dalam dokumen penetapan kinerja dan dokumen perencanaan serta menyajikan informasi tentang pencapaian tujuan dan sasaran organisasi, realisasi pencapaian indikator kinerja utama organisasi, penjelasan yang memadai mengenai pencapaian kinerja dan perbandingan capaian indikator kinerja dengan target kinerja lima tahunan yang direncanakan.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan menyampaikan penghargaan kepada semua pihak atas dukungan, peran serta dan kerja sama yang telah terjalin dengan baik.
Jakarta, Januari 2023
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular
dr. Imran Pambudi, MPHM
h a l a m a n | 3
IKHTISAR EKSEKUTIF
Laporan Kinerja Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Tahun 2022 merupakan sarana untuk menyampaikan pertanggungjawaban kinerja Direktur P2PM beserta jajarannya kepada Direktur Jenderal P2P dan seluruh pemangku kepentingan, baik yang terkait langsung maupun tidak langsung. Laporan Kinerja Direktorat P2PM menjabarkan capaian kinerja yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Direktorat P2PM, mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020-2024 dan Rencana Aksi Program Ditjen P2P Tahun 2020-2024 dan Rencana Aksi Kegiatan Direktorat P2PM Revisi.
Dari 14 Indikator Kinerja yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2022 yang dijanjikan oleh Direktur Jenderal P2P kepada Menteri Kesehatan, terdapat 3 Indikator Kinerja Kinerja yang memiliki kinerja mencapai atau melebihi target dan 11 indikator tidak mencapai target. Capaian IKK Direktur P2PM Tahun 2022 adalah sebagai berikut:
1. Persentase orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV tercapai 60% dari target 80% dengan kinerja 75%
2. Persentase Orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan mendapatkan pengobatan ART tercapai 80% dari target 85% dengan kinerja 90%
3. Angka keberhasilan pengobatan TBC tercapai 84.64% dari target 90% dengan kinerja 94.04%
4. Jumlah kabupaten/kota yang mencapai positivity rate (PR) < 5%, tercapai 348 dari target 374 dengan kinerja 93%
5. Persentase penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan kusta tepat waktu, tercapai 87 dari target 89 dengan kinerja 97%
6. Persentase pengobatan kasus pneumonia sesuai standar, tercapai 50% dari target 53% dengan kinerja 106%
7. Persentase pengobatan kasus diare sesuai standar, tercapai 89.65% dari target 50% dengan kinerja 179.3%
8. Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan C pada populasi berisiko tercapai 94% dari target 95% dengan kinerja 98.9%
9. Persentase pasien sifilis yang diobati tercapai 66% dari target 75% dengan kinerja 87%
10. Jumlah desa endemis schistosomiasis yang mencapai eliminasi, tercapai 16 desa dari target 19 desa dengan kinerja 84%
11. Jumlah kabupaten/kota eliminasi rabies, tercapai 263 dari target 211 dengan kinerja 124%
12. Persentase kabupaten/kota dengan Insiden Rate (IR) DBD ≤ 10 per 100.000 penduduk, tercapai 17.21% dari target 80% dengan kinerja 21.4%
13. Jml kabupaten/kota endemis filariasis berhasil menurunkan angka mikrofilaria < 1%, tercapai 207%
dari target 201% dengan kinerja 97%
14. Jumlah kabupaten/kota endemis filariasis yang mencapai eliminasi, tercapai 103% dari target 106% dengan kinerja 97.16%
Untuk kinerja keuangan pada tahun 2022, data per 25 Januari 2022 berdasarkan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN), realisasi anggaran mencapai 91,28%, dengan realisasi Rp1.608.576.845.094 dari pagu total sebesar Rp. 1.762.226.498.000.
h a l a m a n | 4
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ___________________________________________ 5
I.I. Latar Belakang 5
I.2. Tugas Pokok dan Fungsi 8
I.3. Struktur Organisasi 9
I.4. Sumber Daya Manusia 10
I.5 Sistematika Penulisan 12
bab ii perencanaan kinerja _______________________________________ 13
II.1 Perencanaan Kinerja 13
II.2 Perjanjian Kinerja 16
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ________________________________ 18
III.1 Capaian Kinerja Organisasi 18
III.2 Analisis Pencapaian Organisasi 19
BAB IV PENUTUP ____________________________________________ 121
IV.1 Kesimpulan 121
IV.2 Rencana Tindak Lanjut 121
LAMPIRAN __________________________________________________ 122
Lampiran I Error! Bookmark not defined.
h a l a m a n | 5
BAB I PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan pada hakikatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi, sesuai yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005–2025. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan upaya program dan sektor, serta kesinambungan dengan upaya-upaya yang telah dilaksanakan dalam periode sebelumnya.
Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular merupakan salah satu satuan kerja baru atas perubahan susunan organisasi sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2022, di bawah Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular berperan dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dalam upaya meningkatkan pencegahan dan pengendalian penyakit menular yakni upaya reduksi, eliminasi, dan eradikasi.
Penyakit menular yang masih menjadi masalah utama dan harus mendapat perhatian khusus yaitu tuberkulosis, HIV/AIDS, malaria, penyakit infeksi baru yang menyebabkan kedaruratan kesehatan masyarakat, dan penyakit tropis terabaikan (Neglected Tropical Diseases - NTD).
Isu Strategis
Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan infeksi menular seksual (IMS) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia dan Indonesia, dan meluas hingga masalah sosial, ekonomi, dan budaya. Kasus HIV di kawasan Asia Tenggara menyumbang 10% dari total beban HIV di seluruh dunia.
Di Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) berjumlah 543.100 orang. Jumlah ini menurun dari angka sebelumnya pada tahun 2016 sebesar 643.443 ODHIV. Infeksi baru HIV di Indonesia terus mengalami penurunan, sejalan dengan penurunan infeksi baru HIV global. Namun demikian, penurunan infeksi baru ini belum sebanyak yang diharapkan. Pada populasi kunci tertentu (LSL dan waria) terjadi peningkatan infeksi baru HIV.
Secara nasional, epidemi HIV di Indonesia adalah epidemi terkonsentrasi pada populasi kunci dengan Prevalensi sebesar 0,26%. Hasil Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) populasi kunci tahun 2018 menunjukkan prevalensi HIV pada populasi kunci di atas 10%. Terjadi pergeseran pola penularan HIV di mana pada awal tahun 2000 penularan HIV pada penggunaan jarum suntik bersama di kalangan Penasun, sedangkan pada tahun 2020 penularan melalui hubungan seksual merupakan cara penularan HIV utama. Epidemi HIV di Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) merupakan epidemi meluas tingkat rendah, dengan angka prevalensi HIV pada populasi umum sebesar 2,3% (STBP Tanah Papua, 2013). Kecenderungan prevalensi HIV lebih tinggi (2,9%) terjadi di wilayah pegunungan dan populasi suku Papua, sementara di dataran rendah dan perkotaan, prevalensi berada di bawah 2,3%.
Hasil Estimasi IMS, di Indonesia pada tahun 2020 menunjukkan prevalensi gonore dan infeksi klamidia pada populasi kunci mencapai hingga 30 kali lebih tinggi dibandingkan pada populasi umum. Namun secara umum terjadi penurunan prevalensi sifilis pada WPS dan LSL, sejalan dengan penurunan pada prevalensi HIV, karena peningkatan penggunaan kondom dan upaya pencegahan IMS dan HIV lainnya. Sementara itu, estimasi sifilis kongenital menunjukkan jumlah kasus dan angka
h a l a m a n | 6
sifilis kongenital di Indonesia telah menurun, tetapi masih 10 kali lipat lebih tinggi daripada target global eliminasi sifilis kongenital, yaitu < 50 kasus per 100.000 kelahiran hidup. Pengendalian IMS baik pada populasi kunci maupun pada non populasi kunci, terutama ibu hamil, harus diperkuat agar target eliminasi IMS dapat tercapai.
Tujuan pengendalian HIV AIDS pada tahun 2030 adalah mencapai Three zero yaitu zero new infection, zero AIDS related death dan zero discrimination yang dilakukan melalui program STOP (Suluh, Tes, Obati dan Pertahankan). Target TOP tahun 2030 sebesar 95-95-95 yaitu 95%
orang dengan HIV mengetahui status HIV nya, 95% orang dengan HIV AIDS mendapatkan pengobatan dan 95 % orang yang mendapatkan pengobatan HIV tersupresi virusnya. Dengan adanya komitmen pemerintah diharapkan semua elemen baik pemerintah, swasta, masyarakat dan lain-lain dapat mendorong pencapaian eliminasi HIV tahun 2030.
Tuberkulosis (TBC) masih merupakan ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia.
Berdasarkan WHO Global TBC Report 2021, kasus TBC di Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan sejumlah 824.000 kasus dengan insidensi 301 per 100.000 penduduk yang kemudian membawa Indonesia menjadi salah satu negara tertinggi dengan kasus terbanyak setelah india. Pada tahun 2021 masih banyak kasus yang belum terlaporkan dan terdiagnosis sehingga perlu peningkatan penemuan dan pengobatan di lapangan baik kegiatan aktif dan pasif. Dengan adanya komitmen pemerintah diharapkan semua elemen baik pemerintah, swasta, masyarakat dan lain-lain dapat mendorong pencapaian eliminasi tuberkulosis tahun 2030.
Program penanggulangan malaria di Indonesia bertujuan untuk mencapai eliminasi malaria secara bertahap selambat-lambatnya Tahun 2030. Secara nasional, terdapat 347 kabupaten/kota atau 67,51% yang telah dinyatakan bebas malaria pada tahun 2021. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2020 yang sebanyak 318 kabupaten/kota. Angka kesakitan malaria digambarkan dengan indikator Annual Parasite Incidence (API) per 1.000 penduduk, yaitu proporsi antara pasien positif malaria terhadap penduduk berisiko di wilayah tersebut dengan konstanta 1.000. Sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2020, angka kesakitan malaria berada di bawah 1 per 1.000 penduduk. API meningkat menjadi di atas 1 yaitu sebesar 1,1 pada tahun 2021. Kasus malaria Tahun 2021 di Indonesia sebanyak 304.607, kasus tertinggi yaitu di Provinsi Papua sebanyak 275.243 kasus, disusul dengan Provinsi NTT sebanyak 9.419 kasus dan Provinsi Papua Barat sebanyak 7.628 kasus.
Kusta merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dan menempati urutan ke 3 di dunia dengan jumlah kasus baru terbanyak di tahun 2020. Indonesia merupakan negara dengan beban kusta yang tinggi dengan penemuan kasus baru yang statis selama 20 tahun terakhir. Pada tahun 2021, Indonesia masih dalam proses mencapai eliminasi tingkat nasional dengan prevalensi 0,45 per 10.00 penduduk. Sebab 6 provinsi yang belum mencapai eliminasi, yaitu provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Ada 12.230 kasus terdaftar dengan angka penemuan kasus baru 4,03 per 100.000 penduduk, dan kasus baru sebanyak 10.976 orang. Proporsi kasus kusta yang ditemukan tanpa cacat sebesar 83,6% dan proporsi kasus kusta cacat tingkat 2 sebesar 6,13 % Proporsi kusta anak di antara kasus kusta baru sebesar 10,33%. Penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan tepat waktu Release From Treatment (RFT) adalah 90%. Kasus kusta banyak ditemukan di wilayah Timur dan berbagai indikator menunjukkan masih tingginya penularan kasus kusta di Indonesia khususnya di wilayah Indonesia Timur.
Program Pencegahan dan Pengendalian ISPA difokuskan pada pengendalian penyakit pneumonia pada balita karena berkontribusi besar terhadap angka kesakitan dan kematian balita.
Sampai saat ini pneumonia masih merupakan salah satu penyebab angka kesakitan dan kematian tertinggi pada balita di dunia maupun di Indonesia. Menurut WHO, pneumonia berkontribusi terhadap
h a l a m a n | 7
14% kematian pada balita di dunia pada tahun 2019. Pada RISKESDAS 2018, prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 2% dan 4% berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan dan gejala. Survei Sample Registration System Balitbangkes 2016 pneumonia menempati urutan ke 3 sebagai penyebab kematian pada balita (9.4%).
Penyakit diare merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pencernaan yang menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Menurut WHO dan UNICEF, terjadi sekitar 2 milyar kasus diare dan 1,9 juta anak balita meninggal karena diare di seluruh dunia setiap tahun. Dari semua kematian tersebut, 78% terjadi di negara berkembang, terutama di wilayah Afrika dan Asia Tenggara. Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menyebutkan prevalensi diare untuk semua kelompok umur sebesar 8 % dan angka prevalensi untuk balita sebesar 12,3 %, sementara pada bayi, prevalensi diare sebesar 10,6%. Sementara pada Sample Registration System tahun 2018, diare tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian pada neonatus sebesar 7% dan pada bayi usia 28 hari sebesar 6%. Data dari Komdat Kesmas periode Januari - November 2021, diare menyebabkan kematian pada postneonatal sebesar 14%. Data terbaru dari hasil Survei Status Gizi Indonesia tahun 2020, prevalensi diare di berada ada pada angka 9,8%. Diare sangat erat kaitannya dengan terjadinya kasus stunting. Kejadian diare berulang pada bayi dan balita dapat menyebabkan stunting. Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2020, Penyakit infeksi khususnya diare menjadi penyumbang kematian pada kelompok anak usia 29 hari - 11 bulan. Sama seperti tahun sebelumnya, pada tahun 2020, diare masih menjadi masalah utama yang meyebabkan 14,5%
kematian. Pada kelompok anak balita (12 – 59 balita), kematian akibat diare sebesar 4,55%.
Hepatitis virus diperkirakan menyebabkan 1,4 juta kematian per tahun di dunia akibat infeksi akut dan kanker hati terkait hepatitis dan sirosis. Secara global, pada tahun 2015 diperkirakan 257 juta orang hidup dengan infeksi virus hepatitis B (VHB) kronis, dan 71 juta orang dengan infeksi virus hepatitis C (VHC) kronis. Di Asia Tenggara, WHO memperkirakan ada sekitar 39,4 juta (28,8 –76,5 juta) orang yang hidup dengan hepatitis B kronis dan 10,3 juta (8,0–17,8 juta) orang yang hidup dengan hepatitis C kronis.
Di Indonesia, Hepatitis virus B dan Hepatitis virus C merupakan penyebab sebagian besar penyakit hepatitis, sirosis, dan kematian terkait penyakit hati. Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi Hepatitis B (HBsAg) secara umum sebesar 7,1% pada penduduk Indonesia (Gambar 2).6 Angka prevalensi meningkat pada kelompok usia di atas 5 tahun, karena adanya transmisi horizontal melalui kontak darah dan/atau hubungan seksual berisiko. Selain itu, prevalensi HBsAg pada ibu hamil juga masih cukup tinggi yang berkisar antara 1,82% sampai 2,46%. Untuk Hepatitis C, prevalensi umum anti-HCV sebesar 1%. Berdasarkan data pengobatan yang tersedia, sebaran Hepatitis C terkonsentrasi pada beberapa kelompok populasi, antara lain (1) pengguna napza suntik 13,8%-31,1%; (2) pasien hemodialisis 3,7%-18,6%; dan (3) penerima transfusi darah 4,5-11%.6,8.
Sirosis hati akibat hepatitis merupakan salah satu dari 8 penyakit berbiaya tinggi dan memiliki komplikasi yang mengancam nyawa (penyakit katatrofik) yang menjadi fokus penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Secara keseluruhan, biaya pertanggungan BPJS Kesehatan selama 2014-2016 untuk infeksi Hepatitis B berjumlah 151 milyar rupiah, dan 43 milyar rupiah untuk infeksi Hepatitis C.
Frambusia merupakan penyakit menular langsung antar manusia yang disebabkan oleh infkesi kronis bakteri Treponema Pertenue yang hidup didaerah tropis yang pada umumnya terlihat sebagai lesi pada kulit serta dapat menyebabkan cacat pada tulang. penyakit frambusia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Indonesia melaporkan kasus frambusia terbanyak di asia tenggara. Pada tahun 2021, seluruh provinsi, kabupaten-kota telah melakukan upaya surveilans frambusia dengan kinerja pelaporan tingkat kabupaten-kota sebesar 391 dari 514 (76,07%), kinerja pelaporan tingkat puskesmas sebesar 4.967 dari 10.277 (48,34%); dengan jumlah
h a l a m a n | 8
laporan sebanyak 59.148 dari seharusnya 123.324 bulan laporan (47,96%), dengan jumlah suspek ditemukan 7.746 kasus dan dikonfirmasi rapid diagnostic test (RDT) 6.917 kasus (89,30%), dengan hasil negatif 6.707 kasus (negative rate 96,96%) dan masih terdapat 185 kasus FRAMBUSIA (positive rate 2,67%) penyumbang kasus tertinggi berada di Papua dan Papua Barat. Target global, regional maupun nasional, Indonesia ditaget eradikasi frambusia yaitu hilangnya frambusia secara permanen sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat secara nasional. capaian kabuaten/kota tersertifikasi bebas frambusia sebanyak 55 kabupaten/kota sebagai indikator kinerja program eradikasi frambusia
Rabies merupakan penyakit zoonosis dan menular baik pada manusia maupun hewan yang disebabkan oleh infeksi virus Lyssa yang ditularkan melalui gigitan hewan, salah satunya adalah anjing. Penyakit ini bila sudah menunjukkan gejala klinis selalu diakhiri dengan kematian, CFR mencapai 100% dengan menyerang pada semua umur dan jenis kelamin. Menurut WHO, setiap tahun, hampir 59.000 orang meninggal dunia akibat rabies, sebanyak 95% kematian terjadi di Asia dan Afrika. Sesuai dengan target global Eliminasi Rabies tahun 2030, Indonesia juga berkomitmen untuk mencapai Eliminasi Rabies pada tahun tersebut. Rabies telah menyebar ke 26 provinsi dan hanya 8 provinsi di Indonesia yang bebas rabies. Capaian kab/kota yang eliminasi rabies sampai saat ini sebanyak 186 kab/kota, target capaian untuk tahun 2022 sebanyak 211 kab/kota.
Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan melalui nyamuk. Di Indonesia, cacing filaria terdiri dari tiga spesies yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening).
Filariasis menular melalui gigitan nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. Dalam tubuh manusia, cacing tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan pembengkakan di kaki, tungkai, payudara, lengan dan organ genital. WHO melalui roadmap NTD 2021 menetapkan eliminasi filariasis global pada tahun 2030. Saat ini di dunia terdapat 1,3 miliar penduduk yang berisiko tertular penyakit filariasis atau yang dikenal juga dengan penyakit kaki gajah yang berada pada lebih dari 83 negara dan 60% kasus berada di Asia Tenggara.
Di Indonesia, sebanyak 236 kabupaten/kota merupakan daerah endemis Filariasis. Total kasus kronis filariasis yang dilaporkan hingga tahun 2021 sebanyak 9.354 kasus. Angka ini terlihat menurun dari data tahun sebelumnya karena dilaporkan beberapa kasus meninggal dunia dan adanya perubahan diagnosis sesudah dilakukan validasi data/konfirmasi kasus klinis kronis yang dilaporkan tahun sebelumnya.
I.2. Tugas Pokok dan Fungsi
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No 5 tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan pada pasal 82, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan supervisi, evaluasi dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit Menular. Selanjutnya dalam pasal 83 disebutkan bahwa dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular menyelenggarakan fungsi
a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang surveilans, deteksi dini, pengendalian factor risiko, dan koordinasi upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang surveilans, deteksi dini, pengendalian faktor risiko, dan koordinasi upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular;
h a l a m a n | 9
c. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang surveilans, deteksi dini, pengendalian faktor risiko dan koordinasi upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular;
d. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang surveilans, deteksi dini, pengendalian faktor risiko dan koordinasi upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular;
e. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan; dan f. Pelaksanaan urusan administrasi Direktorat.
I.3. Struktur Organisasi
Pada Lampiran D Peraturan Menteri Kesehatan No 5 tahun 2022, berikut adalah Struktur Organisasi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Gambar 1.1 Struktur Organisasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Berdasarkan Pasal 84 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2022, Susunan organisasi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular terdiri atas:
a. Subbagian Administrasi Umum; dan b. Kelompok Jabatan Fungsional.
Subbagian Administrasi Umum mempunyai tugas melakukan penyiapan dan koordinasi penyusunan rencana, program, anggaran, pelaksanaan anggaran, pembukuan dan inventarisasi barang milik negara, urusan sumber daya manusia, pengelolaan data dan sistem informasi, pemantauan, evaluasi, laporan, kearsipan, persuratan, dan kerumahtanggaan Direktorat.
Dalam Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit nomor:
HK.02.02/C/1955/2022 tentang Tim Kerja di Lingkungan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit Menular yaitu:
a. Tim Kerja Tuberkulosis dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
b. Tim Kerja HIV, Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS), Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (PISP)
c. Tim Kerja Neglected Disease ( Penyakit Tropis Terabaikan)
d. Tim Kerja Zoonosis dan Penyakit Akibat Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun; dan e. Tim Kerja Penyakit Tular Vektor
h a l a m a n | 10
I.4. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang menduduki Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular sampai dengan Triwulan IV Tahun 2022 terdiri dari pegawai ASN sebanyak 131 orang dan tenaga honorer sebanyak 11 orang. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, susunan organisasi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular terdiri dari Subbagian Administrasi Umum dan Kelompok Jabatan Fungsional. Dengan dasar tersebut maka distribusi pegawai berdasarkan jabatannya dapat digambarkan dalam grafik berikut:
Gambar 1.2. Distribusi Pegawai Berdasarkan Jabatan
Jabatan administrator terdiri dari Direktur atau pimpinan unit kerja dan Kepala Subbagian Administrasi Umum. Jabatan fungsional di Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit sebesar 54% atau sebanyak 72 pegawai dan pegawai yang menduduki jabatan pelaksana sebesar 44% atau sebanyak 57 pegawai.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menetapkan Tim Kerja di lingkungan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit nomor HK.02.02/C/1955/2022 bahwa Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular terdiri dari Tim Kerja Tuberkulosis dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut, Tim Kerja HIV, Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS), Hepatitis, dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (PISP), Tim Kerja Neglected Disease/ Penyakit Tropis Terabaikan, Tim Kerja Zoonosis dan Penyakit Akibat Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun, Tim Kerja Penyakit Tular Vektor.
Dalam menjalankan tugas dan fungsi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular didukung oleh sumber daya aparatur sipil negara sejumlah 131 orang dengan distribusi pegawai di Subbag Administrasi Umum sejumlah 32 orang dan 103 orang terdistribusi dalam tim kerja sebagaimana tergambar pada gambar berikut:
Gambar 1.3 Distribusi Pegawai berdasarkan Tim Kerja Direktorat P2PM tahun 2022
h a l a m a n | 11
Berdasarkan pangkat dan golongan, sumber daya aparatur sipil negara Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular beragam mulai dari pangkat dan golongan Pengatur Muda Tk.I – II/b hingga Pembina Tingkat I – IV/b. Jumlah terbanyak ada pada pangkat dan golongan Pembina – IV/a yakni sejumlah 42 orang dan jumlah paling sedikit pada pangkat Pengatur Muda Tingkat I sejumlah 1 orang. Berikut distribusi pegawai Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular berdasarkan Pangkat dan Golongan.
Gambar 1.4 Distribusi Pegawai berdasarkan Golongan Direktorat P2PM tahun 2022
Banyaknya pegawai dengan golongan dan pangkat pembina (IV/a) berbanding lurus dengan banyaknya pegawai dengan tingkat Pendidikan tinggi. Golongan dan pangkat Pembina (IV/a) mempunyai tingkat pendidikan S-2 dan Sarjana Kedokteran. Tingkat Pendidikan ini dapat mendukung berjalannya program secara optimal.
Berdasarkan tingkat pendidikannya, pegawai Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1.5 Distribusi Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan Direktorat P2PM tahun 2022
h a l a m a n | 12
Tingkat pendidikan pegawai Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular paling banyak memiliki pendidikan Sarjana (S1) yakni sejumlah 66 orang dan sejumlah 56 orang berpendidikan Magister (S2). Sementara pendidikan tertinggi yakni S3 dengan jumlah 1 orang pegawai. Pegawai dengan pendidikan terendah yakni SMA sebanyak 1 orang. Dengan jumlah pegawai yang sebagian besar sudah mencapai Sarjana dan Magister diharapkan dapat menjalankan tugas dan fungsi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dengan optimal. Tingkat pendidikan pegawai dapat terus berkembang dengan adanya kesempatan pengembangan kompetensi melalui program Tugas Belajar dan Izin Belajar yang diikuti oleh pegawai. Pegawai yang sedang menjalankan tugas belajar pada tahun 2022 sebanyak 5 orang di mana semuanya menjalankan sekolah magister atau S2.
I.5 Sistematika Penulisan 1. Bab I Pendahuluan
Pada bab ini disajikan penjelasan umum organisasi, dengan penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama (strategic issue) yang sedang dihadapi organisasi.
2. Bab II Perencanaan Kinerja
Bab ini menguraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian kinerja Ditjen P2P Tahun 2020.
3. Bab III Akuntabilitas Kinerja a. Capaian Kinerja Organisasi
Sub bab ini menyajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis organisasi sesuai dengan hasil pengukuran kinerja organisasi.
b. Realisasi Anggaran
Sub bab ini menguraikan tentang realisasi anggaran yang digunakan dan telah digunakan untuk mewujudkan kinerja organisasi sesuai dengan dokumen Perjanjian Kinerja.
4. Bab IV Penutup
Bab ini menguraikan simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.
h a l a m a n | 13
BAB II PERENCANAAN KINERJA
II.1 Perencanaan Kinerja
Dalam mendukung pembangunan kesehatan, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular sebagai penyelenggara program di bawah Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit telah menetapkan metode tahapan pengelolaan program untuk dapat mengoptimalkan capaian tujuan Kementerian Kesehatan. Metode pengelolaan program tersebut tertuang dalam kerangka logis (logical frame) sebagai berikut:
Gambar 2.1 Logical Frame Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular
VISI Mewujudkan Masyarakat Bebas Penyakit Menular yang Berkualitas
Meningkatkan pencegahan dan pengendalian penyakit menular yang berkelanjutan
Meningkatkan penemuan kasus penyakit menular Meningkatkan pengobatan penyakit yang berkualitas Meningkatkan sumber daya
MISI
TUJUAN Terwujudnya pencegahan, penemuan dan pengobatan penyakit menular yang berkualitas
INDIKATOR SASARAN
Meningkatnya penemuan dan pengobatan HIV
Persentase orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV
Persentase Orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan mendapatkan pengobatan ART Meningkatnya penemuan dan
pengobatan TBC Angka keberhasilan pengobatan TBC
Jumlah kabupaten/kota yang mencapai positivity rate (PR) < 5%
Meningkatkan jumlah Kab/
Kota dengan API<1/1000 penduduk
Persentase penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan kusta tepat waktu
Meningkatnya proporsi kasus kusta baru tanpa cacat
Meningkatnya pencegahan dan pengendalian penyakit Menular penduduk
Persentase pengobatan kasus pneumonia sesuai standar
Persentase pengobatan kasus diare sesuai standar
Persentase kabupaten/kota yang
melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan C pada populasi berisiko
h a l a m a n | 14
Indikator Kinerja Kegiatan yang telah ditetapkan sebagaimana dalam bagan di atas merupakan penjabaran dari Indikator Kinerja Program Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit sebagai berikut:
Gambar 2.2 Cascading Indikator Kinerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular
SASARAN PROGRAM DAN INDIKATOR KINERJA PROGRAM
Menurunnya Infeksi penyakit HIV
Menurunnya Insiden TBC
Meningkatnya kabupaten/ kota
yang mencapai eliminasi malaria
Meningkatnya kabupaten/kota
yang mencapai eliminasi kusta
Meningkatnya pencegahan dan
pengendalian penyakit menular Persentase
cakupan
penemuan dan pengobatan kasus HIV (ODHA on ART)
Cakupan penemuan dan pengobatan kasus TBC
Jumlah kabupaten/
kota yang mencapai API < 1/1000 penduduk
Proporsi kasus kusta
baru tanpa cacat • Persentase
pengobatan penyakit menular pada Balita
• Persentase skreening penyakit menular pada kelompok berisiko
• Jumlah kabupaten/
kota yang mencapai eliminasi peyakit tropis terabaikan SASARAN KEGIATAN DAN INDIKATOR KINERJA KEGIATAN
Meningkatnya penemuan dan pengobatan HIV
Meningkatnya penemuan dan pengobatan
TBC
Meningkatkan jumlah Kab/ Kota
dengan API<1/1000
Meningkatnya proporsi kasus kusta baru tanpa cacat
Meningkatnya pencegahan dan
pengendalian penyakit Menular
h a l a m a n | 15
A. Rencana Kegiatan
Tabel 2.1 Target Indikator Kinerja Kegiatan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Tahun 2022 – 2024
NO
SASARAN KEGIATAN/
INDIKATOR KINERJA KEGIATAN
TARGET
2022 2023 2024 Kegiatan : Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Menular
1. Meningkatnya Penemuan dan pengobatan kasus HIV
1.1 Persentase orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV
80 85 90
1.2 Persentase Orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan mendapatkan pengobatan ART
85 90 90
2 Meningkatnya Penemuan dan pengobatan kasus TBC
2.1 Angka keberhasilan pengobatan TBC 90 90 90 3 Meningkatnya jumlah kab/ Kota dengan API <
1/1000 penduduk
3.1 Jumlah kabupaten/kota yang mencapai positivity rate (PR) < 5%
374 394 414
4 Meningkatnya Proporsi kasus kusta baru tanpa cacat 4.1 Persentase penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan kusta tepat waktu
90 90 90
5 Meningkatnya Pencegahan dan pengendalian penyakit menular
5.1 Persentase pengobatan kasus pneumonia sesuai standar
50 70 95
Persentase orang dengan risiko terinfeksi virus yang
melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang
mendapatkan skrining HIV Persentase Orang
dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan mendapatkan pengobatan ART
Angka keberhasilan pengobatan TBC
Jumlah
kabupaten/kota yang mencapai positivity rate (PR) < 5%
Persentase penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan kusta tepat waktu
Persentase pengobatan kasus pneumonia sesuai standar Persentase pengobatan kasus
diare sesuai standar Persentase kabupaten/kota
yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan C pada populasi berisiko
Persentase pasien sifilis yang diobati
Jumlah desa endemis schistosomiasis yang mencapai eliminasi Jumlah kabupaten/kota
eliminasi rabies Persentase kabupaten/kota
dengan Insiden Rate (IR) DBD ≤ 10 per 100.000 penduduk
Jumlah kabupaten/kota endemis filariasis berhasil menurunkan angka mikrofilaria < 1%
Jumlah kabupaten/kota endemis filariasis yang mencapai eliminasi
h a l a m a n | 16
Arahan Presiden RI kepada Kementerian Kesehatan yang salah satunya merupakan arahan terhadap transformasi sector kesehatan, yang kemudian diterjemahkan sebagai reformasi system kesehatan nasional. Perubahan strategi dalam Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2020 – 2024 mencakup 6 (enam) hal prinsip atau disebut sebagai pilar transformasi kesehatan, yakni :
1. Transformasi Layanan Primer;
2. Transformasi Layanan Rujukan;
3. Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan;
4. Transformasi Pembiayaan Kesehatan;
5. Transformasi SDM Kesehatan; dan 6. Transformasi Teknologi Kesehatan.
Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit berkontribusi pada pelayanan kesehatan primer dan sistem ketahanan Kesehatan, dengan menetapkan target kinerja. Selanjutnya berdasarkan target kinerja program tersebut menjadi dasar bagi unit kerja di bawah unit utama untuk menetapkan target kinerja kegiatan.
Tahun 2022, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular terbentuk karena adanya restrukturisasi organisasi Kementerian Kesehatan sesuai tercantum pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Adanya perubahan struktur organisasi dan upaya menyelaraskan target kinerja sesuai dengan arah transformasi kesehatan, maka Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular telah menetapkan target kinerja kegiatan sebagai berikut :
II.2 Perjanjian Kinerja
Tabel 2.2 Perjanjian Kinerja Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Tahun 2022
NO
SASARAN KEGIATAN/
INDIKATOR KINERJA KEGIATAN
TARGET
2022 2023 2024 Kegiatan : Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Menular
5.2 Persentase pengobatan kasus diare sesuai standar
50 70 85
5.3
Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan C pada populasi berisiko
95 100 100
5.4 Persentase pasien sifilis yang diobati 75 85 90 5.5 Jumlah desa endemis schistosomiasis yang
mencapai eliminasi
19 24 28
5.6 Jumlah kabupaten/kota eliminasi rabies 211 236 261 5.7 Persentase kabupaten/kota dengan Insiden
Rate (IR) DBD ≤ 10 per 100.000 penduduk
80 85 95
5.8 Jumlah kabupaten/kota endemis filariasis berhasil menurunkan angka mikrofilaria < 1%
207 220 236
5.9 Jumlah kabupaten/kota endemis filariasis yang mencapai eliminasi
106 150 190
h a l a m a n | 17
NO SASARAN KINERJA INDIKATOR KINERJA TARGET 1. Meningkatnya
Penemuan dan
pengobatan kasus HIV
1. Persentase orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan
skrining HIV
80
2. Persentase Orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan mendapatkan pengobatan ART
85
2. Meningkatnya penemuan dan
pengobatan kasus TBC
3. Angka keberhasilan pengobatan TBC 90
3. Meningkatnya jumlah kabupaten/kota dengan API < 1/1000 penduduk
4. Jumlah kabupaten/kota yang mencapai positivity rate (PR) < 5%
374
4. Meningkatnya proporsi kasus kusta baru tanpa cacat
5. Persentase penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan kusta tepat waktu
90
5. Meningkatnya Pencegahan dan pengendalian penyakit menular
6. Persentase pengobatan kasus pneumonia sesuai standar.
50 7. Persentase pengobatan kasus diare
sesuai standar
50 8. Persentase kabupaten/kota yang
melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan C pada populasi berisiko
95
9. Persentase pasien sifilis yang diobati 75 10. Jumlah desa endemis schitomiasis yang
mencapai eliminasi
19 11. Jumlah kabupaten/kota eliminasi rabies 211 12. Persentase kabupaten/kota dengan
Insiden Rate (IR) DBD ≤ 10 per 100.000 peduduk
80
13. Jumlah kabupaten/kota endemis filariasis berhasil menurunkan angka mikrofilaria <
1%
207
14. Jumlah kabupaten/kota endemis filariasis yang mencapai eliminasi
106
h a l a m a n | 18
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
III.1 Capaian Kinerja Organisasi
Tabel 3.1 Target dan capaian Indikator Kinerja Kegiatan Direktorat P2PM tahun 2022
No Indikator Target Capaian Kinerja
1. Persentase orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV
80 60 75%
2. Persentase Orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan mendapatkan pengobatan ART
85 80 90%
3. Angka keberhasilan pengobatan TBC 90 84,64 94,04%
4. Jumlah kabupaten/kota yang mencapai positivity rate (PR)
< 5%
374 348 93%
5. Persentase penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan kusta tepat waktu
90 87 97%
6. Persentase pengobatan kasus pneumonia sesuai standar 50 53 106%
7. Persentase pengobatan kasus diare sesuai standar 50 89.65 179.3%
8. Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan C pada populasi berisiko
95 92 96.8%
9. Persentase pasien sifilis yang diobati 75 65 87%
10. Jumlah desa endemis schistosomiasis yang mencapai eliminasi
19 16 84%
11. Jumlah kabupaten/kota eliminasi rabies 211 263 124%
12. Persentase kabupaten/kota dengan Insiden Rate (IR) DBD
≤ 10 per 100.000 penduduk
80 17.12 21.4%
13. Jml kabupaten/kota endemis filariasis berhasil menurunkan angka mikrofilaria < 1%
207 201 97.10%
14. Jumlah kabupaten/kota endemis filariasis yang mencapai eliminasi
106 103 97.16%
RATA-RATA KINERJA 95.96%
h a l a m a n | 19
80% 85% 90%
60%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
2022 2023 2024
Target Capaian
III.2 Analisis Pencapaian Organisasi
1. Persentase orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV
a. Penjelasan Indikator
Sekelompok orang yang beresiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV. Kelomok yang beresiko yaitu kelompok WPS, LSL,Penasun WBP,Waria Ibu Hamil, Pasien IMS, Pasien TBC. Skrining Dilakukan Dengan Menggunakan Rapid Test, Elisa,Western Blot Dll. Orang yang beresiko mendapatkan skrining HIV periode Januari – Desember 2022 sebesar 60%.
b. Definisi Operasional
Jumlah orang dengan risiko (kelompok WPS, LSL,Penasun WBP,Waria Ibu Hamil, Pasien IMS, Pasien TBC), terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV. Angka ini menggambarkan orang yang berisiko mengetahui status terinfeksi HIV secara dini.
c. Rumus/cara perhitungan
Jumlah orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV
---x 100%
Target skrining orang yang berisiko yang ditetapkan oleh Kabupaten/kota dan/atau kementerian kesehatan pada waktu tertentu
.
d. Capaian Indikator
Persentase orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV. Capaian tahun 2022 belum mancapai target yaitu 60 % dari target yaitu 80 % .
Indikator Persentase orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV pada tahun 2021 belum masuk dalam indikator kinerja kegiatan sehingga hasil capaiannya tidak ada.
Grafik 3.1 Capaian Indikator Pertahun Orang Dengan Risiko Terinfeksi Virus Yang Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia Yang Mendapatkan Skrining HIV
h a l a m a n | 20
11%
24%
40%
60%
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
TW 1 TW 2 TW 3 TW 4
Dari grafik di atas terlihat target dimulai tahun 2022 yaitu 80%, tahun 2023 yaitu 85%, dan tahun 2024 yaitu 90%, sedangankan capaian tahun 2022 belum mencapai target yaitu 60%. Hasil capaian indikator tersebut secara nasional masih di bawah target yang telah ditetapkan
Grafik 3.2. Persentase Pertriwulan Orang Dengan Risiko Terinfeksi Virus Yang Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia Yang Mendapatkan
Skrining HIV Tahun 2022
Dari table grafik di atas pertriwulan dapat di lihat peningkatan skrining dari TW I adalah 11%, TW II adalah 24 %, TW III adalah 40 % dan TW IV adalah 60 %.
Hasil capaian indikator orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV per provinsi dapat dilihat pada grafik berikut :
Grafik 3.3 Persentase Per Propinsi Orang Dengan Risiko Terinfeksi Virus Yang Melemahkan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia Yang Mendapatkan Skrining HIV
Tahun 2022
h a l a m a n | 21
Berdasarkan grafik diatas diketahui belum semua provinsi mencapai target, capaian secara Nasional yaitu 60%.. Provinsi yang telah mencapai target untuk persentase orang dengan risiko terinfeksi virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia yang mendapatkan skrining HIV yaitu Provinsi Bangka Belitung (99%), Kalimantan Utara (94%), Banten (88%), Bali (85%), Jawa tengah (84%), DKI Jakarta (93%), selebih nya propinsi belum mencapai 80% terendah adalah propinsi NTT yaitu 18%
e. Analisa Penyebab Kegagalan Pencapaian
1. Beberapa factor yang mempengaruhi adalah penetapan target skrining pada masing- masing populasi kunci di daerah.
2. Pelaksanaan aktif dan pasif skrining oleh layanan Kesehatan dan dukungan skrining yang dilakukan oleh komunitas belum dapat dilaporakan secara tepat dan lengkap.
3. Masih terdapat orang yang berisiko dilakukan skrining HIV namun tidak dilaporkan pada Sistem informasi yang tersedia.
4. Sistem ini juga belum terhubung antara sistem yang dimiliki oleh fasilitas layanan Kesehatan dan komunitas.
f. Upaya yang dilakukan untuk mencapai indikator
▪ Kerjsama dengan Mitra dalam penemuan dan penjangkauan pada populasi beresiko.
▪ Penemuan kasus dini melalui skrining yang dilakukan oleh Komunitas
▪ Upaya untuk penemuan kasus dini dilakukan dengan memperluas skrining kasus HIV yang dilakukan oleh Komunitas dengan menggunakan oral fluid. Skrining ini terutama dilakukan pada populasi kunci yang sangat tersembunyi dan tidak pernah akses fasyankes. Skrining terhadap semua orang berisiko lainnya telah dilakukan secara pasif di fasyankes sejalan dengan Standar pelayanan minimum bidan Kesehatan indikator ke-12. Skrining aktif juga dilakukan oleh fasyankes dan komunitas melalui kegiatan mobile clinic.
▪ Perluasan layanan PDP (Penemuan, Perawatan dan Pengobatan)
▪ Up date pencatatan laoran SIHA ke seluruh layanan
g. Masalah yang dihadapi
Dengan ada nya Pandemi Covid 19 ini sedikit banyak mempengaruhi kegiatan program HIV AIDS dan IMS di lapangan terutama dalam penemuan kasus dan pengobatan bagi kelompok resiko.
▪ Sulit nya dalam menjangkau mereka kelokasi berakibat rendah nya kegiatan skrening tes HIV. Mereka lebih cenderung untuk lebih menutup diri dengan situasi pada saat pandemic.
▪ Selain itu tenaga kesehatan juga lebih focus menangani pasien covid dikarena kan jumlah mereka yang terbatas.
▪ Begitu juga dengan pengadaan logistik yang lebih memperioritas kan kepada penyediaan bahan2 untuk pandemic.
h a l a m a n | 22
▪ Pengetahuan ODHIV, keluarga dan masyarakat terkait HIV dan PIMS yang belum optimal.Orang dengan HIV, keluarga dan masyarakat pada umumnya diharapkan memiliki pengetahuan yang baik terkait HIV dan PIMS.
h. Pemecahan masalah
▪ Program HIV pada masa2 pandemi telah berupaya melakukan beberapa terobosan dengan melakukan tes secara sukarela dikenl juga dengan nama Test VCT. Tes ini berguna bagi orang yang beresiko tapi tidak mau di ketahui orang lain. Tes ini dapat di lakukan sendiri di rumah sehingga secara dini dapat mengetahui stadium infeksi HIV.
▪ Sosialisasi tentang HIV kepada popuasi kunci dan masyarakat sehingga Pengetahuan ini akan mendorong setiap orang melakukan upaya pencegahan penularan dan menularkan kepada orang lain sekaligus mendukung pengendalian HIV. Pengetahuan yang baik juga diharapkan dapat menekan stigma dan diskriminasi yang berhubungan dengan HIV dan PIMS.
2. Persentase Orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan mendapatkan pengobatan ART a. Penjelasan Indikator
Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) adalah orang yang secara positif didiagnosa terinfeksi HIV/AIDS. Indikator ODHA on ART merupakan salah satu indikator dalam pencegahan dan pengendalian penyakit HIV AIDS. Untuk memutuskan mata rantai penularan HIV AIDS untuk mengakhiri AIDS pada tahun 2030, maka diharapkan setiap ODHA yang ditemukan diobati, sehingga virus dapat tersupresi (jumlah virus didalam tubuh sangat rendah) dan tidak lagi berpotensi menularkan kepada orang lain.
b. Definisi Operasional
Persentasi ODHIV yang baru ditemukan masuk dalam layanan Perawatan,Dukungan, dan Pengobatan (PDP) yang memulai pengobatan Antiretroviral dalam kurun waktu 1 tahun
c. Rumus/cara perhitungan
Jumlah ODHIV yang mendapatkan pengobatan ARV dalam kurun waktu tertentu --- x 100%
Jumlah ODHIV baru ditemukan dalam kurun waktu yang sama.
d. Capaian Indikator
Capaian Indikator selama empat tahun dapat di lihat pada table dibawah ini.
Grafik 3.4 Target dan capaian Indikator Kinerja tahun 2021-2024 Persentase Orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan
mendapatkan pengobatan ART
h a l a m a n | 23
Target 80% Capaian nya 85%, pada tahun 2022 Target 85% capaian yaitu 80%, Target 2023-2024 masing-masing adalah 90%.
Grafik 3.5 Target dan capaian Indikator Kinerja tahun 2022 Persentase Orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan mendapatkan pengobatan ART
Indikator ODHA on ART menggambarkan sejauh mana program mampu mengendalikan laju transmisi penyakit. Dari Data diatas terlihat bahwa Capaian indikator persentase ODHA on ART tahun 2022 belum mencapai target yakni target program HIV AIDS dan PIMS sebesar 85% dengan capaian 82 % dengan kinerja mencapai 96%.
80%
85%
90% 90%
82%
80%
74%
76%
78%
80%
82%
84%
86%
88%
90%
92%
2021 2022 2023 2024
Target Capaian
h a l a m a n | 24
Grafik 3.6 Target dan capaian Pertriwulan Indikator Kinerja ODHIV baru ditemukan mendapatkan pengobatan ART Persentase Kasus ODHIV On ART periode 2022
Dari table grafik di atas pertriwulan dapat di lihat gambaran ODHIV On ART sebagai berikut pada Tri TW I adalah 41%, TW II adalah 40 %, TW III adalah 41 % dan TW IV adalah 42 %.
Grafik 3.7 Persentase orang dengan HIV (ODHIV) baru ditemukan mendapatkan pengobatan ART Tahun 2022
Indikator ODHA on ART menggambarkan sejauh mana program mampu mengendalikan laju transmisi penyakit. Secara Nasional Capaian Indikator baru 60% tetapi jika di lihat di beberapa propinsi Capaian indikator ODHIV baru ditemukan mendapatakan pengobatan ART ada beberapa yang mencapai target 80% atau diatas nya yaitu Propinsi Babel (99%), Kaltara (94%), Banten ( 88%), Bali 85%), Jateng ( 84%), DKI Jakarta (83%), , selebihnya capaian masih di bawah 80% terendah NTT 18%)
41%
40% 41%
42%
TW I TW II TW III TW IV
Persentase ODHIV on ART per Triwulan
h a l a m a n | 25
Grafik 3.8 Persentase Target dan Capaian Persentase ODHA on ART Tahun 2020-2024
Sumber data : laporan data SIHA Sampai dengan Desember 2022
Dari grafik terlihat ODHIV on ARV pada tahun 2021 terjadi penurunan karena Indonesia berhadapan dengan pandemic covid sehingga angka Lost to follow up diperkirakan lebih tinggi dibandingkan pertambahan ODHA baru pada tahun 2021 yang mendapatkan pengobatan ARV. Pada Tahun 2022 terjadi peningkatan ODHIV on ARV namun belum mencapai target.
Untuk Kascade HIV sampai dengan Desember 2022, dari estimasi ODHIV sebanyak 526.841 orang, diketahui ODHIV yang masih hidup dan mengetahui status sebesar 81%
yaitu 429.215 Orang. ODHIV yang sedang mendapatkan pengobatan ARV sebanyak 179.659 (42%) dan yang di tes Viral load pada tahun 2022 sebanyak 36.821 dimana 91,1% virusnya tersupresi.
Grafik 3.9 Progres Capaian Program HIV AIDS untuk indikator 95 – 95 – 95
Sumber data : Laporan Substansi HIV AIDS Desember 2022
Berdasarkan data dari sistem informasi HIV, dari tahun 2018 – 2022, pertambahan ODHIV baru terlihat menurun pada tahun 2020 – 2021 dan pada tahun 2022, tercatat temuan kasus sebesar 42.005 menjadi 428.215 Orang mengetahui status dan masih hidup (81%). Jumlah perkiraan ODHIV pada tahun 2020 sebanyak 543.100 Orang. Untuk ODHIv yang mengetahui status dan mendapatkan pengobatan ARV, terjadi penurunan
h a l a m a n | 26
pada tahun 2021 dan pada tahun 2022 terdapat 42% ODHIV mendapatkan pengobatan.
Pada tahun 2020 – 2021, situasi pandemic Covid-19 mempengaruhi temuan kasus dan pengobatan ARV bagi ODHIV yang telah terdiagnosa terinfeksi HIV. Untuk pemantauan pengobatan ARV, dilakukan pemeriksaan viral load, pada ODHIV yang baru, pemeriksaan ini dilakukan setelah minimal mendapatkan ARV selama 6 bulan, 12 bulan dan seterusnya setiap tahunnya. Pada pemeriksaan ini diharapkan virus ODHIV yang dalam pengobatan ARV tersupresi. Grafik di atas memberikan gambaran pemeriksaan Viral load pada ODHIV yang mendapatkan pengobatan ARV masih rendah. Data menunujukkan baru 19% (33.538 Orang) ODHIV mengetahui virusnya tersupresi.
e. Analisa Penyebab Kegagalan Pencapaian
Beberapa faktor yang menjadi tantangan dalam pelaksanaan program antara lain:
▪ Belum semua fasyankes mampu melakukan tes dan pengobatan.
▪ Setiap orang yang bersiko terinfeksi HIV diharapkan dapat mengakses fasilitas layanan Kesehatan untuk mengetahui statusnya apakah terinfeksi HIV atau tidak.
Bila terdiagnosa, diharapkan segera mendapatkan pengobatan ARV. Layanan yang hanya mampu melakukan diagnostik, harus membangun jejaring dan mekanisme untuk merujuk dan memastikan orang yang terinfeksi mendapatkan pengobatan.
Data dari sistem informasi menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara orang yang sudah mengetahui status dengan orang yang mendapatkan pengobatan.
▪ Terdapat jumlah ODHIV yang lost to follow up
▪ Pengobatan HIV adalah seumur hidup, pada awal pengobatan (6 bulan) terdapat Beberapa keluhan ODHIV dengan obat yang digunakan yang mengakibatkan ODHIV berpikir untuk menghentikan pengobatan. Pengobatan jangka Panjang juga mempengaruhi kepatuhan ODHIV dan terdapat lost to follow up pada setiap periode pengobatan tersebut. Hal lain yang mempengaruhi adalah ODHIV merasa sudah sehat, tidak membutuhkan pengobatan serta ODHIV merasa bosan menelan ARV dalam waktu lama.
▪ Keterbatasan waktu layanan HIV dan IMS hanya pada jam kerja. Sementara para populasi kunci kebanyakan bekerja pada malam hari.
▪ Angka Orang yang terdiagnosa HIV berada pada usia produktif yaitu 20 – 49 tahun, dimana ODHIV yang bekerja kesulitan untuk akses fasyankes pada jam kerja tersebut.
▪ Pendampingan dan konseling yang belum optimal. Pada awal pengobatan ARV, dibutuhkan dukungan pendampingan dan konseling yang dapat membantu ODHIV memahami pentingnya kepatuhan minum ARV, mendapatkan upaya-upaya pencegahan dan bagaimana melakukan pemantauan pengobatan ARV sehingga dapat hidup secara sehat dan tetap produktif tanpa menularkan kepada orang lain terutama pasangan
▪ Masih terdapat stigma dan diskriminasi tentang HIV dan PIMS baik eksternal maupun internal ODHIV sendiri. Stigma dan diskriminasi akan mempengaruhi seseorang untuk datang ke fasyankes untuk mendapatkan layanan Kesehatan yang berhubungan dengan HIV dan PIMS.
f. Upaya yang dilakukan untuk mencapai indikator
h a l a m a n | 27
Berbagai upaya yang dilakukan sebaai terobosan untuk mencapai indicator yang telah ditetapkan adalah sebagai berikut:
- Penemuan kasus dini melalui skrining yang dilakukan oleh Komunitas
- Upaya untuk penemuan kasus dini dilakukan dengan memperluas skrining kasus HIV yang dilakukan oleh Komunitas dengan menggunakan oral fluid. Skrining ini terutama dilakukan pada populasi kunci yang sangat tersembunyi dan tidak pernah akses fasyankes. Skrining terhadap semua orang berisiko lainnya telah dilakukan secara pasif di fasyankes sejalan dengan Standar pelayanan minimum bidan Kesehatan indikator ke- 12. Skrining aktif juga dilakukan oleh fasyankes dan komunitas melalui kegiatan mobile clinic.
- Penyediaan logistik untuk menunjang pelaksanaan program (reagen dan obat) yang tepat waktu untuk mendukung pelaksanaan program, sehingga setiap orang yang datang ke fasyankes dapat terlayani dengan baik.
g. Kegagalan/masalah yang dihadapi
Masalah yang di hadapi pada saat ini antara lain :
▪ Pada masa pandemic terganggunya keberlangsungan pengobatan karena pasien tidak datang mengambil obat
▪ Terganggunya monitoring pengobatan pasien karena pasien sulit utk mendapatkan obat- obatan karena kendala yang jauh dari layanan.
▪ Tenaga pendamping yang masih kurang dan ODHIV yang susah untk di jangkau dikarenakan stigma dan diskriminasi.
h. Pemecahan masalah
- Perluasan layanan mampu tes dan pengobatan untuk HIV dan PIMS melalui kegiatan pelatihan atau orientasi PDP serta di lakukan pendampingan bersama tim mentor Kabupaten/Kota/Provinsi
- Peningkatan edukasi atau konseling tentang pengobatan ARV secara lengkap dan terus menerus kepada ODHA.
- Penyediaan KIE yang dikemas sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini yang kemudian disebarluaskan dan bisa diakses dengan mudah tentang pengobatan ARV maupun penyakit HIV serta mendorong penggunaan layanan kesehatan terkait HIV, AIDS dan IMS kepada individu dan kelompok agar lebih aman dari risiko penularan HIV dan IMS.
- Dukungan dan pemberdayaan kelompok-kelompok dukungan sebaya (KDS) sebagai mitra kerja yang efektif dalam mengurangi stigma dan diskriminasi
- Pemberdayaan kader, komunitas, dan LSM untuk menjangkau masyarakat, mendampingi ODHA, dan mengembalikan ODHA yang loss to follow up agar bisa mengakses kembali ARV.
- Penerapan kebijakan ARV multi bulan hingga tiga bulan, multi month dispensing (MMD) bagi ODHA yang stabil dan kerjasama dengan komunitas/pendukung ODHA untuk memastikan kondisi dan keberlangsungan ARV pada ODHA.
- Melakukan integrasi layanan pada layanan rutin dan membentuk jejaring layanan.
- Melakukan penyederhanaan sistem pencatatan pelaporan yang terintegrasi berbasis NIK untuk data individu
h a l a m a n | 28
3. Angka keberhasilan pengobatan TBC a. Penjelasan Indikator
Persentase angka keberhasilan pengobatan TBC/ Success Rate merupakan indikator yang memberikan gambaran kualitas pengobatan TBC yaitu seberapa besar keberhasilan pengobatan pada pasien TBC yang sudah mendapat pengobatan dan dilaporkan. Angka ini menggambarkan besaran pasien TBC yang berhasil dalam pengobatannya baik dengan kategori sembuh maupun kategori pengobatan lengkap.
b. Definisi Operasional
Jumlah semua kasus TBC yang sembuh dan pengobatan lengkap di antara semua kasus TBC yang diobati dan dilaporkan dalam satu tahun.
c. Rumus/cara perhitungan Persentase angka
keberhasilan
pengobatan TBC =
Jumlah semua kasus TBC yang sembuh dan pengobatan lengkap
x 100%
Jumlah semua kasus TBC yang diobati dan dilaporkan
d. Capaian Indikator
Indikator persentase angka keberhasilan pengobatan TBC (Success Rate) merupakan indikator merupakan indikator baru dalam RAK pada tahun 2022-204, sebelumnya indikator tersebut merupakan indikator pada RAP P2P tahun 2020- 2021. Tahun 2022, indikator TBC success rate tidak mencapai target dengan capaian 84,64% dari target 90% dengan persentase kinerja sebesar 94.04%. Data ini masih bersifat sementara karena masih data per tanggal 25 Januari 2023 Secara lengkap dapat dilihat pada grafik berikut:
Grafik 3.10 Target dan Capaian Indikator Persentase angka keberhasilan pengobatan TBC
90 90 90 90 90
83,1
86
84,64
78 80 82 84 86 88 90 92
2020 2021 2022 2023 2024
Target Capaian
h a l a m a n | 29
Berdasarkan grafik di atas dapat kita lihat bahwa terjadi kenaikan capaian indicator angka keberhasilan pengobatan TBC dari tahun 2020 sebesar 83,1% menjadi 86% pada tahun 2021. Dari tahun 2021 menurun pada tahun 2022 menjadi 84,64%. Hal ini dapat dikaitkan dengan jumlah penemuan dan pengobatan kasus TBC yang pada tahun 2019 sebanyak 560.000 kasus sembuh pada tahun 2020 sebanyak 465.000 (83,1%), jumlah penemuan dan pengobatan kasus pada tahun 2020 sebanyak 384.000 dan sembuh pada tahun 2021 sebanyak 330.240 (86%) dan penemuan kasus terus meningkat pada tahun 2021 menjadi 397.463 kasus dan sembuh pada tahun 2022 sebanyak 336.408 kasus (84,64%). Jika dilihat secara persentase capaian tahun 2022 lebih rendah dibandingkan pada tahun 2021, namun jika dilihat secara absolut sudah meningkat.
Selain itu, dari grafik juga terlihat bahwa indikator ini selama 3 tahun berturut-turut tidak mencapai target ada proyeksi 2023-2024
Data Badan Kesehatan Dunia WHO yang dimuat pada Global TB Report 2022, memperlihatkan indikator yang dipakai dalam mencapai tujuan “End the Global TB epidemic” adalah jumlah kematian akibat TB per tahun, angka kejadian (incidence rate) per tahun serta persentase rumah tangga yang menanggung biaya pengobatan TB.
Menurut TB Global Report tahun 2022 untuk Indonesia, angka kejadian (insidensi) TB tahun 2021 adalah 354 per 100.000 (sekitar 969.000 pasien TB), dan 2,27% (22.000 kasus) di antaranya dengan TB/HIV. Angka kematian TB adalah 52 per 100.000 penduduk (jumlah kematian 144.000) tidak termasuk angka kematian akibat TB/HIV.
WHO memperkirakan ada 28.000 kasus Multi Drug Resistence (MDR) di Indonesia.
Data Global TB Report tahun 2021 menunjukkan bahwa angka keberhasilan pengobatan TBC secara global sebesar 86%, seperti terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.1. Angka keberhasilan pengobatan di dunia Tahun 2020 - 2021
No Negara Populasi Jumlah Kasus Insidence
Rate Jumlah kematian TSR (%)
2020 2021 2020 2021 2020 2021 2020 2021 2020 2021
1 India 1.400.000.000 1.400.000.000 2.600.000 3.000.000 186 210 493.000 494.000 84 85 2 China 1.400.000.000 1.400.000.000 842.000 780.000 60 55 30.000 30.000 94 95 3 Indonesia 273.500.000 273.800.000 824.000 969.000 301 354 93.000 144.000 83 86 4 Filipina 109.600.000 113.900.000 591.000 741.000 539 650 31.000 60.000 86 76 5 Pakistan 220.900.000 231.400.000 573.000 611.000 259 264 44.000 48.000 93 94 6 Nigeria 206.100.000 213.400.000 452.000 467.000 219 219 128.000 112.000 88 90 7 Bangladesh 164.700.000 169.400.000 360.000 375.000 219 221 44.000 42.000 95 95 8 Afrika Selatan 59.300.000 59.400.000 328.000 304.000 553 513 25.000 23.000 79 78
9 Vietnam 97.300.000 97.500.000 172.000 169.000 177 173 8.600 12.000 91 91
10 Myanmar 54.400.000 53.800.000 167.000 194.000 307 360 18.000 32.000 88 87
11 Kenya 53.800.000 53.000.000 139.000 133.000 258 251 21.000 20.000 86 85
12 Angola 32.900.000 34.500.000 115.000 112.000 350 325 18.000 18.000 69 53
13 Brazil 212.600.000 214.300.000 96.000 104.000 45 48 5.700 6.000 69 67