Nama : Anggi Dwi Anggraeny Kelas : G234 (C)
NPM : 21035010096 Prodi : Teknik Sipil
RESENSI ARTIKEL HAK ASASI MANUSIA (HAM) DALAM PENERAPAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA
Judul artikel : Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Penerapan Hukum Islam di Indonesia
Penulis : Achmad Suhaili
Penerbit : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo Tahun terbit : 2019
Tema : Penerapan hukum Islam Di Indonesia
Ringkasan :
I. Pendahuluan
Dilihat dari sifat manusia, Allah SWT pada dasarnya telah memberi kita hak dasar yang sama. Hak-hak dasar ini dikenal sebagai Hak Asasi Manusia (HAM). Hak asasi manusia bersifat kodrati, universal, abadi, dan berkaitan dengan harkat dan martabat manusia itu sendiri. Hak asasi manusia juga merupakan keharusan bagi suatu negara untuk menjaminnya dalam konstitusinya.
Di Indonesia penerapan hak asasi manusia dapat dikatakan masih kurang maksimal. Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan HAM di Indonesia terhambat, yaitu isu politik, dualisme hukum, peristiwa prosedural.
Islam telah menjamin hak-hak dasar semua orang menurut aturan yang telah
diberikan Allah kepada seluruh umat manusia. Konsep HAM memang memiliki tempat tersendiri dalam pemikiran Islam.
HAM pada dasarnya adalah kebebasan manusia yang tidak diberikan oleh Negara. Kebebasan ini berasal dari Tuhan yang melekat pada eksistensi manusia individu. Pemerintah diciptakan untuk melindungi pelaksanaan hak asasi manusia. (Majalah What is Democracy, 8). Hak asasi dalam Islam berbeda dengan hak asasi menurut pengertian yang umum dikenal. Dalam Islam, semua hak asasi manusia adalah kewajiban bagi negara dan juga bagi individu yang tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, negara bukan saja menahan diri dari menyentuh hak- hak asasi tersebut, tetapi juga berkewajiban untuk melindungi dan menjamin hak- hak tersebut.
II. Pembahasan
Menurut Syariah, manusia adalah makhluk bebas yang memiliki tugas dan tanggung jawab dan karena itu ia memiliki hak dan kebebasan. Dasarnya adalah keadilan yang ditagakkan atas dasar persamaan atau egaliter, tanpa pandang bulu.
Artinya, tugas yang diemban tidak akan terwujud tanpa adanya kebebasan, sementara kebebasan secara eksistensial tidak terwujud tanpa adanya tanggung jawab itu sendiri1 Oleh Islam manusia di tempatkan sebagai makhluk yang memiliki kemuliaan dan keutamaan, memiliki harkat dan martabat yang tinggi, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran.
“ dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isra:70 )
Sistem HAM Islam mengandung prinsip-prinsip dasar tentang persamaan, kebebasan dan penghormatan antar manusia, artinya Islam memandang semua manusia sama dan mempunyai kedudukan yang sama, satu-satunya keunggulan yang dinikmati atas manusia lainnya hanya ditentukan oleh tingkat ketakwaannya
1 M. Luqman Hakim, Deklarasi Islam tentang HAM, Risalah Gusti, Surabaya, 2000, hal. 12.
2 Harun Nasution dan Bahtisr Effendi, Hak Asasi Manusia dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Cet. 5.
Jakarta, 2001, hal 124
Pada dasarnya HAM dalam Islam terpusat pada lima hal pokok yang terangkum dalam al-dloruriyat al-khomsah atau yang disebut juga al-huquq al-insaniyah fi al- Islam (hak-hak asasi manusia dalam Islam). Konsep ini mengandung lima hal pokok yang harus dijaga oleh setiap individu, yaitu:3
1. Hifdzu al-nafs wa al-ird atau Hak Untuk Hidup (Al-Quran surat AL-An‟am : 151)
2. Hifdzu al-„aql atau Hak Persamaan Derajat (Al-Quran surat AL-Hujurat : 13) 3. Hifdzu al-nasl atau Hak memperoleh keadilan (Al-Quran surat al-Maidah : 2) 4. Hifdzu al mal atau Hak Perlindungan harta/Milik (Al-quran surat AL-Baqarah
: 188)
5. Hifdzu al-din atau Hak Kebebasan Beragama (Al-quran surat AL-Baqarah : 256, dan surah Yunus : 99).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yang mengisyaratkan hak asasi manusia yang dihormati secara universal. Tidak akan hidup baik kehidupan manusia kecuali dengan menjaga lima perkara ini. Bahkan kelima hal ini adalah HAM yang dijamin syariat Islam. Oleh karena itu Rasulullah shallallahualaihi wasallam pernah bersabda yang artinya:
“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya. Jangan menzaliminya dan jangan menyerahkannya. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya dan siapa yang menyelamatkan seorang muslim dari satu bencana maka Allah akan selamatkan dari satu bencana di hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan tutupi aibnya di hari kiamat.” (HR Al- Bukhori).
Islam adalah agama yang universal dan komprehensif yang melingkupi beberapa konsep. Konsep yang dimaksud yaitu Aqidah, ibadah, dan muamalat yang masing-masing memuat ajaran keimanan. Aqidah, ibadah dan muamalat, di samping mengandung ajaran keimanan, juga mencakup dimensi ajaran agama
3 Amir Syarifuddin, Pengertian dan Sumber Hukum Islam dalam Ismail Muhammad Syah, dkk. Filsafat Hukum Islam (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 2000), h. 25-26
Islam yang dilandasi oleh ketentuan-ketentuan berupa syariat atau fikih.4 Selanjutnya, di dalam Islam, menurut Abu A'Ala Al-Maududi, ada dua konsep tentang Hak. Pertama, Hak manusia atau huquq al-insān al-dharuriyyah. Kedua, Hak Allah atau huquq Allah. Kedua jenis hak tersebut tidak bisa dipisahkan. Dan hal inilah yang membedakan antara konsep HAM menurut Islam dan HAM menurut perspektif Barat.5
Indonesia dengan ideologi Pancasilanya diharapkan dapat melaksanakan hak asasi manusia dengan baik sesuai dengan sifat dasar ideologi ini. Menurut ideologi Pancasila, hak dasar setiap orang Indonesia dilaksanakan secara bebas, tetapi kebebasan itu dibatasi oleh hak asasi orang lain. Jadi kalaupun ada kebebasan, kebebasan itu harus bertanggung jawab menghormati hak asasi orang lain dan tidak melanggarnya. Namun kenyataannya, masyarakat Indonesia belum sepenuhnya menerapkan hal tersebut. Dimulai dengan bergulirnya era reformasi, muncul beberapa produk hukum yang diharapkan dapat memperbaiki situasi HAM di Indonesia, khususnya hak-hak sipil dan politik. Antara lain, pasal 28A sampai dengan 28J UUD 1945, Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia, UU Pers, UU HAM (UU No. 39/1999), UU Pemilu, UU partai, UU otonomi daerah. Dari segi politik, rakyat Indonesia menikmati kebebasan politik yang luas. Empat kebebasan mendasar, yaitu hak atas kebebasan berekspresi dan berkomunikasi, hak atas kebebasan berkumpul, hak atas kebebasan berorganisai, dan hak untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.
Melalui berbagai cara, hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia mampu mengungkapkan perasaan dan pendapatnya tanpa rasa takut atau takut seperti pada masa Orde Baru. Orang Indonesia relatif bebas untuk mengkomunikasikan ide dan informasi mereka. Rakyat menikmati hak atas kebebasan berkumpul. Rapat-rapat rakyat, seperti seminar dan unjuk rasa, tidak lagi memerlukan persetujuan penguasa seperti pada masa Orde Baru.
4 T. Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Islam dan Hak Asasi Manusia, PT Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1999, hal.50.
5 Abu A'Ala Al-Maududi http://ufukislam.blogspot.com/2009/12/abul-ala-al-maududi.html
Rakyat Indonesia juga menikmati kebebasan berorganisasi. Rakyat tidak hanya bebas mendirikan partai politik sebagai kendaraan untuk memperjuangkan aspirasi politiknya. Masyarakat bebas membentuk organisasi masyarakat seperti serikat tani, serikat pekerja, kelompok adat, dll. Selain itu, tumbuhnya organisasi kerakyatan dari bawah akan memperkuat masyarakat sipil yang diperlukan untuk kelangsungan sistem politik dan pemerintahan yang demokratis.
Namun, upaya penyidikan pelanggaran HAM berat di Indonesia sampai saat ini menemui kendala. Publik tentu bisa menilai sendiri bagaimana upaya penyidikan yang dilakukan untuk mengusut peristiwa Trisakti Semanggi, kerusuhan Mei 1998 dan peristiwa penghilangan paksa. Ketidakmampuan menyelesaikan masalah HAM telah menimbulkan keraguan publik terhadap keseriusan pemerintah dalam mengusut masalah tersebut.
Penerapan atau implementasi lain yang dilakukan NKRI adalah dengan dibentuknya organisasi negara yaitu Komnas HAM yang memiliki orientasi melindungi individu dan masyarakat dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, serta menjamin hak persamaan dan keadilan antar sesama. Sehingga dapat diabstraksikan bahwa Islam dan NKRI berjalan beriringan dan seirama dalam penegakan Hak Asasi Manusia demi mewujudkan kesetaraan hidup dan keadilan sosial sehingga kearifan lokal dan tujuan substansi adanya agama dan negara dapat tercapai.
III. Kesimpulan
Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak yang secara alamiah diperoleh seseorang sejak lahir, karena itu HAM sejalan dengan fitrah manusia itu sendiri.
HAM pada hakikatnya merupakan anugerah Allah kepada semua manusia. Dilihat dari kodrat manusia, hakikatnya telah dianugerahi hak-hak pokok yang sama oleh Allah SWT. Hak-hak pokok inilah yang disebut sebagai hak asasi manusia (HAM). HAM yang melekat pada diri manusia, bersifat kodrati, universal, dan abadi berkaitan dengan martabat dan harkat manusia itu sendiri. HAM juga menjadi keharusan dari sebuah negara untuk bisa menjaminnya dalam
konstitusinya. Karena Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, di junjung tinggi, di lindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat martabat manusia. Ajaran Islam meliputi seluruh aspek dari sisi kehidupan manusia, dan tentu saja telah tercakup di dalamnya aturan dan penghargaan yang tinggi terhadap hak asasi manusia (HAM). Namun memang tidak dalam satu dokumen yang terstruktur, tetapi tersebar dalam ayat-ayat suci Al Quran dan Sunah Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Islam, selalu konsisten dalam penerapan Hukum Islam yang senantiasa menyandingkan prinsipnya dengan Nilai-nilai Hak Asasi Manusia yang harus dilindungi oleh Negara dan Pemerintah. Namun penegakan HAM di Indonesia saat ini dapat dikatakan belum maksimal karena berbagai macam faktor, salah satunya kurangnya kesadaran masyarakat atas pentingnya Hak Asasi Manusia.
Keunggulan
Penulis mengambil tema yang sesuai dengan kondisi hukum dan HAM di Indonesia dan penulis juga memaparkannya dengan jelas. Selain itu, penulis memberikan informasi-informasi penting yang membuat pembaca lebih teredukasi.
Kekurangan
Beberapa kata yang digunakan kurang populer dan sulit dimengerti sehingga pembaca akan sulit memahaminya. Beberapa kalimatnya juga tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia.
Daftar Pustaka
Atqiya, N. (2014). HAM Dalam Perspektif Islam. Islamuna, 173-180.
El-Muhta, M. (2005). Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Murdokh, A. (2019). Implementasi Hak Asasi Manusia Di Indonesia Dalam Perspektif Islam.
63-75.
Supriyanto, B. H. (2014). Penegakan Hukum Mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) Menurut Hukum Positif di Indonesia. Al-Azhar Indonesia, 155-167.
What is Democracy. (1991). United State Information Agency.