• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Asasi Manusia

N/A
N/A
A2 Gilang Akmal G

Academic year: 2024

Membagikan "Hak Asasi Manusia"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

HAK ASASI MANUSIA

Disusun Oleh :

GILANG AKMAL GUNAWAN : 2202315028 RIZAL RAMADHAN : 2202315027 SUPRIYADI : 2202315009

DIPLOMA III TEKNIK MESIN POLITEKNIK NEGERI JAKARTA 2023

(2)

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga kelompok saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Pancasila sebagai Sistem Etika tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas dari dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Pancasila. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Pancasila sebagai Sistem Etika

Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Asep Yana Yusyama S.pd.,M.pd.

selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Pancasila yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan pada bidang Pendidikan Pancasila.

Saya ucapkan terima kasih jugakepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kita dapat menyelesaikan tugas ini.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, kami meminta kritik dan saran diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Dan kami berharap semoga para pembaca dapat menambah pengetahuan dari makalah yang kami buat

Depok, 2 Maret 2023 Penyusun

(3)

2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 1

DAFTAR ISI ... 2

BAB I ... 3

PENDAHULUAN ... 3

A. Latar Belakang ... 3

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan ... 3

BAB II ... 4

PEMBAHASAN ... 4

A. PENGERTIAN ... Error! Bookmark not defined.4 B. Pancasila Sebagai Nilai Dasar dan Sistem Etika Negara Indonesia ... 4

C. Pancasila sebagai problem bangsa ... Error! Bookmark not defined.5 BAB III ... 14

PENUTUP ... 14

KESIMPULAN ... 14

SARAN ... 14

DAFTAR PUSTAKA ... 15

(4)

3 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Hak asasi manusia di Indonesia diterangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) dan peraturan-peraturan perundang-undangan di bawahnya;

beberapa di antaranya dijamin sebagai dampak dari amandemen undang-undang dasar di era Reformasi.

Tulisan ini mengetengahkan tentang hak asasi manusia (HAM) sebagai hak paling dasar yang menjadi acuan tentang diakuinya manusia sebagai manusia. Di mana akhir-akhir ini HAM yang sejatinya adalah untuk mewujudkan dimensi otoritas manusia sebagai mahkluk hidup yang bermartabat, berubah menjadi HAM yang sarat dengan nuansa politik, kepentingan kelompok bahkan individu. Hal-hal yang dibicarakan dalam artikel ini tentang berbagai pandangan tokoh tentang definisi HAM itu sendiri, bagaimana perspektif Islam tentang HAM, yang dipaparkan di sini ter-kait dengan al-maqashid al-syariah dan hubungannya dengan hukum-hukum yang diterapkan Islam terhadap pelanggaran-pelang-garan HAM, kemudian bagaimana sikap umat muslim di Indonesia terkait dengan HAM.

B. Rumusan Masalah

1. HAM dalam konstitusi Indonesia ? 2. HAM dalam perspektif Islam ?

3. Isu-isu aktual HAM dan penegakan HAM di Indonesia ? C. Tujuan

1) Untuk mengetahui HAM dalam konstitusi Indonesia 2) Untuk mengetahui HAM dalam Perspektif Islam

3) Untuk mengetahui isu-isu aktual HAM dan penegakan HAM di Indonesia

(5)

4 BAB II

PEMBAHASAN

1) HAM Dalam Konstitusi Indonesia

A. HAM ( HAK ASASI MANUSIA )

Hak asasi manusia (disingkat HAM, bahasa Inggris: human rights, bahasa Prancis: droits de l'homme) adalah sebuah konsep hukum dan normatif yang menyatakan bahwa manusia memiliki hak yang melekat pada dirinya karena ia adalah seorang manusia. Hak asasi manusia berlaku kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja, sehingga sifatnya universal. HAM pada prinsipnya tidak dapat dicabut, tidak dapat dibagi-bagi, saling berhubungan, dan saling bergantung. Hak asasi manusia biasanya dialamatkan kepada negara, atau dalam kata lain, negaralah yang mengemban kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi manusia, termasuk dengan mencegah dan menindaklanjuti pelanggaran yang dilakukan oleh swasta. Dalam terminologi modern, hak asasi manusia dapat digolongkan menjadi hak sipil dan politik yang berkenaan dengan kebebasan sipil (misalnya hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, dan kebebasan berpendapat), serta hak ekonomi, sosial, dan budaya yang berkaitan dengan akses ke barang publik (seperti hak untuk memperoleh pendidikan yang layak, hak atas kesehatan, atau hak atas perumahan).

B. KONSTITUSI

Konstitusi (disebut pula undang-undang dasar) adalah norma system politik dan hukum bentukan pada pemerintahan negara—biasanya dikodifikasi sebagai dokumen tertulis. Hukum ini tidak mengatur hal-hal yang terperinci, melainkan

(6)

5

hanya menjabarkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar bagi peraturan-peraturan lainnya. Dalam kasus bentukan negara, konstitusi memuat aturan dan prinsip- prinsip entitas politik dan hukum. Istilah ini merujuk secara khusus untuk menetapkan konstitusi nasional sebagai prinsip-prinsip dasar politik, prinsip- prinsip dasar hukum termasuk dalam bentukan struktur, prosedur, wewenang dan kewajiban pemerintahan negara pada umumnya. Konstitusi umumnya merujuk pada penjaminan hak kepada warga masyarakatnya. Istilah konstitusi dapat diterapkan kepada seluruh hukum yang mendefinisikan fungsi pemerintahan negara.

C. HAM Dalam Konstitusi Indonesia

Dasar keberadaan konstitusi adalah kesepakatan umum atau persetujuan di antara mayoritas rakyat mengenai bangunan yang diidealkan oleh negara.

Konstitusi merupakan konsensus bersama atau general agreement seluruh warga negara. Organisasi negara tersebut diperlukan oleh warga masyarakat politik agar kepentingan mereka bersama dapat dilindungi atau dipromosikan melalui pembentukan dan penggunaan mekanisme yang disebut negara. Kepentingan yang mendasar dari setiap warga negara yaitu pelindungan terhadap haknya sebagai manusia. Oleh karena itu, hak asasi manusia (HAM) merupakan materi inti dari naskah undang-undang dasar modern. HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan setiap manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati dan dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

2) HAM dalam perspektif Islam

Dalam perspektif Islam sebagai mana yang dikonsepsikan Alquran, Hak Asasi Manusia bersesuaian dengan Hakhak Allah swt. Hal ini menunjukkan bahwa

(7)

6

konsep Hak Asasi Manusia dalam pandangan Islam bukanlah hasil evolusi apapun dari pemikiran manusia, namun merupakan hasil dari wahyu Ilahi yang telah diturunkan melalui para Nabi dan Rasul dari sejak permulaan eksistensi ummat manusia di atas bumi.

Dalam catatan sejarah, Islam juga sudah mengenal apa yang disebut dengan HAM. Salah satunya dibuktikan dengan adanya bentuk perjanjian konkrit yang disebut sebagai Piagam Madinah pada tahun 622 Masehi. Bukti lainnya berupa pidato Muhammad bin Abdullah pada tahun 632 Masehi, yang dikenal dengan sebutan Deklarasi Arafah. Bahkan deklarasi tersebut disebut-sebut sebagai dokumen tertulis pertama yang berisi tentang HAM. Secara sederhana dapat disimpulkan, jika dunia internasional baru mengenal HAM ribuan tahun pasca adanya konsep HAM mempuni yang diprakarsai Islam pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Terdapat lima prinsip utama HAM dalam Islam seperti yang termuat dalam hukum Islam sebagai berikut:

1. Prinsip perlindungan terhadap agama.

Beragama merupakan kebutuhan asasi manusia yang harus dipenuhi. Agama Islam memberikan jaminan perlindungan kepada semua pemeluk agama untuk menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya dan tidak memaksakan pemeluk agama lain untuk meninggalkan agamanya untuk memeluk agama Islam. Hal ini jelas tergambar dalam QS. Qaf/50: 45.

2. Prinsip perlindungan terhadap jiwa.

Menurut hukum Islam, jiwa itu harus dilindungi. Untuk itu hukum Islam wajib memelihara dan memberikan perlindungan terhadap jiwa manusia.

3. Prinsip perlindungan terhadap akal.

(8)

7

Menurut hukum Islam, manusia wajib memelihara akalnya karena akal mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupannya. Hukum Islam secara tegas melarang manusia melakukan berbagai upaya yang dapat merusak akal diantaranya meminum minuman yang memabukkan karena dapat berakibat merusak fungsi akal manusia.

4. Prinsip perlindungan terhadap keturunan.

Islam memberikan jaminan pemeliharaan keturunan bagi manusia dengan ketentuan yang sah menurut ajaran Islam melalui perkawinan sebagai sarana untuk mendapatkan keturunan dan melarang melakukan perbuatan zina sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra‟/17: 32.

5. Prinsip perlindungan terhadap harta.

Harta merupakan pemberian dari Allah swt kepada manusia untuk melangsungkan hidup dan kehidupannya. Karena itu, manusia dilindungi haknya untuk memperoleh harta asalkan dengan cara-cara yang halal dan sah menurut hukum serta benar menurut ukuran moral.

1. Hak Hidup

Manusia sengaja diciptakan agar ia hidup dan dan dengan kehidupannya ia diberi posisi sebagai ‘abdullāh25 dan khalīfatullāh fī al-ardhi. 26 Sebagai

‘abdullāh, manusia harus mengabdikan dirinya kepada Allah swt. Sedangkan sebagai khalīfatullāh fī al-ardhi maka manusia tidak boleh berbuat kerusakan di alam ini, melainkan ia harus mengelola alam ini dengan sebaik-baiknya guna terciptanya kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan di atas dunia dan dalam kehidupanya. Inilah yang dimaksud sebagai hak hidup bagi manusia, dan karena itulah maka manusia harus mempertahankan hidupnya dalam arti lain dilarang membunuh dan atau bunuh diri karena hal yang demikian adalah melanggar HAM. Ayat yang terkait dengan misalnya dalam Q.S. al-Nisā (4): 29.

(9)

8

Dengan akalnya, manusia mampu mengubah alam sekitarnya dan lingkungannya untuk dimanfaatkan bagi kemakmuran manusia itu sendiri.

Dengan akalnya pula, manusia dapat mengubah dan membentuk alam (nature) menjadi kebudayaan (kultur), membuka dan menciptakan sarana penghidupan yang lebih tinggi di atas dunia. Agar manusia hidup dengan baik, sejahtera, dan bahagia, maka hak hidup manusia harus dipertahankan dengan cara memenuhi dan memperoleh kebutuhan hidupnya. Hal ini harus dapat dapat dicapai kebutuhan pokok manusia harus tercapai yakni makan, minum, pakaian, perumahan, kendaraan, per nikahan dan lain-lain. Di samping kebutuhan pokok, manusia juga harus memenuhi kebutuhan skunder yang disebut hajiyah, ialah terpenuhinya segala kebutuhan manusia dalam bentuk fasilitas sehingga kehidupan manusia terhindar dari kesulitan (masyaqqah). Jika kebutuhan macam kedua ini tidak terpenuhi, maka kehidupan manusia akan menghadapi berbagai kendala yang menyulitkan, meskipun kendala itu tidak sampai membinasakan hidupnya.

2. Hak Menggunakan Air dan Udara

Air dan udara harus dijaga dan tidak boleh dicemari, dengan katan lain bahwa mencerimari air dan udara adalah pelanggaran HAM. Sebab, Sumber kekayaan yang sangat penting untuk dijaga adalah air dan udara yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Allah Swt, berfirman dalam Q.S. alAnbiya’ (21): 30. Pada hakekatnya, air dan udara adalah kekayaan yang mahal dan berharga. Akan tetapi karena Allah menyediakannya di laut, sungai bahkan hujan secara gratis, manusia seringkali tidak menghargai air sebagaimana mestinya,dan haltersebut pelanggaran HAM. Jika makhluk hidup terutama manusia tidak bisa hidup tanpa air, sementara kuantitas air terbatas, maka manusia wajib menjaga dan melestarikan kekayaan yang amat berharga ini. Jangan sekali-kali melakukan tindakantindakan kontra produktif, yaitu dengan cara mencemarinya, merusak sumbernya dan lain-lain. Termasuk pula dengan tidak menggunakan air secara berlebihlebihan (israf), menurut ukuran-

(10)

9

ukuran yang wajar. Bentuk-bentuk pencemaran air yang dimaksud oleh ajaran Islam di sini seperti kencing, buang air besar dan sebab-sebab lainnya yang dapat mengotori sumber air.

3. Hak Memilih

Hak memilih merupakan hak mendasar bagi manusia dan merupakan missi ajaran Islam sejak pertama diturunkan Allah swt. Mengingkari hak memiliki termasuk pelanggaran HAM. Hak seperti ini dalam Alquran terkait dengan kasab (perbuatan manusia), dan berdasar pada Q.S. al-Buruj (85): 16, yakni لاعف لام ديري . Dalam hal ini, bahwa manusia menentukan segala tindak tanduknya dalam memilih yang baik atau yang buruk. Dalam masalah kasab para penganut teolog berbeda pendapat dalam hal kebebasan manusia memilih. Aljubbây umpamanya, menganggap bahwa manusialah yang menciptakan perbuatan- perbuatannya, manusia berbuat baik dan buruk, patuh dan tidak patuh kepada Tuhan atas kehendak dan kemauannya sendiri.

Pendapat yang sama diberikan pula oleh al-Jabbar yang mengatakan bahwa perbuatan manusia bukanlah diciptakan Tuhan pada diri manusia, tetapi manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatan.33 Karena manusia adalah makhluk yang berhak memilih.34 Dengan demikian nampak bahwa persoalan hak memilih, adalah hak berkehendak untuk berbuat adalah kehendak manusia.

Tetapi, selanjutnya tidak jelas apakah daya yang dipakai untuk mewujudkan perbuatan itu tidak adalah pula daya manusia sendiri. Dalam hubungan itu perlu ditegaskan bahwa untuk terwujudnya perbuatan, harus ada kemauan atau kehendak dan daya untuk melaksanakan kehendak itu dan kemudian barulah terwujud perbuatan.

4. Hak Pluritas

(11)

10

Muhammad Imārah mendefinisikan bahwa pluralitas adalah kemajemukan yang didasari oleh keunikan dan kekhasan. Karena itu, pluralitas tidak tidak dapat terwujud atau diadakan atau terbayangkan keberadaannya kecuali sebagai antitesis dan sebagai obyek komparatif dari keseragaman dan kesatuan yang merangkum seluruh dimensinya.35 Hak pluritas menjadi sunnatullah, dan arena itu harus diyakini adanya, dan atau bila diyakini, maka termasuk pelanggaran HAM. Hal ini berdasar pada Al-Hujurat (49): 10. M.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa guna memantapkan persaudaraan, pertama kali Alquran menggarisbawahi bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Selain perbedaan tersebut merupakan kehendak Allah, juga demi kelestarian hidup, sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan makhluk yang pluralitas di pentas bumi. Dalam menghargai ketentuan Allah, maka masyarakat yang pluralitas tersebut harus dijaga dan dipelihara, yang tentu saja dibutuhkan manusiamanusia yang secara pribadi berpendangan hidup dengan semangat ukhuwah dalam kehidupan. Ukhuwah yaitu persaudaraan sesama umat manusia. Manusia mempunyai mempunyai motivasi dalam menciptakan iklim persaudaraan hakiki yang dan berkembang atas dasar rasa kemanusiaan yang bersifat pluralisme dan didasari oleh persaudaraan.

3. Isu-isu aktual HAM dan penegakan HAM di Indonesia

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang dimaksud dengan hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang

(12)

11

dijamin oleh undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

Pengaduan hanya akan mendapatkan pelayanan apabila disertai dengan identitas pengadu yang benar dan keterangan atau bukti awal yang jelas tentang materi yang diadukan. Dalam hal pengaduan dilakukan oleh pihak lain, maka pengaduan harus disertai dengan persetujuan dari pihak yang hak asasinya dilanggar sebagai korban, kecuali untuk pelanggaran hak asasi manusia tertentu berdasarkan pertimbangan Komisi Nasional (Komnas) HAM. Pengaduan pelanggaran hak asasi manusia yang dimaksud tersebut meliputi pula pengaduan melalui perwakilan mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang dialami oleh kelompok masyarakat. Pemeriksaan atas pengaduan kepada Komnas HAM dihentikan apabila tidak memiliki bukti awal yang memadai; materi pengaduan bukan masalah pelanggaran hak asasi manusia; pengaduan diajukan dengan itikad buruk atau ternyata tidak ada kesungguhan dari pengadu; terdapat upaya hukum yang lebih efektif bagi penyelesaian materi pengaduan; atau sedang berlangsung penyelesaian melalui upaya hukum yang tersedia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jumlah berkas penanganan pengaduan pelanggaran HAM adalah seluruh jumlah berkah yang ditangani hingga sampai kepada berkas B1.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang dimaksud dengan hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat Negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang

(13)

12

dijamin oleh undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Pengaduan hanya akan mendapatkan pelayanan apabila disertai dengan identitas pengadu yang benar dan keterangan atau bukti awal yang jelas tentang materi yang diadukan. Dalam hal pengaduan dilakukan oleh pihak lain, maka pengaduan harus disertai dengan persetujuan dari pihak yang hak asasinya dilanggar sebagai korban, kecuali untuk pelanggaran hak asasi manusia tertentu berdasarkan pertimbangan Komisi Nasional (Komnas) HAM.

Pengaduan pelanggaran hak asasi manusia yang dimaksud tersebut meliputi pula pengaduan melalui perwakilan mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang dialami oleh kelompok masyarakat. Pemeriksaan atas pengaduan kepada Komnas HAM dihentikan apabila tidak memiliki bukti awal yang memadai;

materi pengaduan bukan masalah pelanggaran hak asasi manusia; pengaduan diajukan dengan itikad buruk atau ternyata tidak ada kesungguhan dari pengadu;

terdapat upaya hukum yang lebih efektif bagi penyelesaian materi pengaduan;

atau sedang berlangsung penyelesaian melalui upaya hukum yang tersedia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jumlah berkas penanganan pengaduan pelanggaran HAM adalah seluruh jumlah berkah yang ditangani hingga sampai kepada berkas B1. Manfaatn Untuk mendorong langkah rekomendatif dan korektif negara untuk pemajuan hak asasi manusia khususnya pencegahan dan penanganan pelanggaran hak asasi manusia ya yaitu

Hak Asasi Manusia merupakan bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pengakuan terhadap hak asasi manusia merupakan penghargaan terhadap segala potensi dan harga diri manusia menurut kodratnya. Oleh karena itu berbagai permasalahan terkait hak asasi manusia selalu menjadi isu aktual baik di Indonesia maupun negara-negara lainnya.

Dalam hal ini negara harus berupaya memberikan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan terhadap hak asasi manusia yang dimiliki setiap orang melalui

(14)

13

berbagai peraturan perundang-undangan. Buku ini berisi kajian isu-isu HAM aktual, yaitu:

(1) Panduan Pelayanan Publik yang Mudah Diakses oleh Penyandang Disabilitas;

(2) Dampak Industri Hak Atas Tanah Bagi Masyarakat Adat dalam Perspektif Hak Asasi Manusia;

(3) Perlindungan Hak Asasi Manusia Terhadap Penyandang Disabilitas dalam Proses Peradilan Pidana;

(4) Peremajaan dan Pengembangan Wilayah Perkotaan Melalui Penggusuran Ditinjau dalam Perspektif Hak Asasi Manusia;

(5) Pencegahan Pengiriman TKI yang Non Prosedural ke Luar Negeri (Studi Kasus: Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam);

(6) Upaya Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Bagi Anak Dalam Perpektif Hak Rasa Aman;

(7) Dunia Cyber dan HAM : Kerahasiaan Data Pribadi Melalui Sarana Elektronik;

(8) Hak Penyandang Disabilitas Untuk Dipilih Dalam Pemilu dari Perspektif Hak Sipil dan Politik

(15)

14 BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, salah satu aspek penting adalah keberadaan konstitusi. Hal ini bersifat fundamental karena konstitusi memuat adanya pengaturan perlindungan HAM bagi warga negaranya. Salah satunya di Indonesia, yang dalam lintasan sejarah terdapat empat fase berlakunya konstitusi, diantaranya UUD 1945, RIS 1949 dan UUDS 1950, UUD 1945 dan UUD NRI 1945 amandemn 1-4. Ketentuan HAM dalam UUD NRI 1945 yang menjadi basic law adalah norma tertinggi yang harus dipatuhi oleh siapapun. Karena letaknya berada dalam konstitusi, maka seluruh ketentuan terkait HAM harus dihormati dan dijamin pelaksanaannya oleh negara. Hal tersebut menjadi konsekuensi yuridis dirubahnya muatan materi konstitusi terkait HAM, sehingga negara tidak bisa beralasan apapu untuk tidak mentaati ketentua-ketentuan norma tersebut.

SARAN

Semua orang memiliki HAM ( Hak Asasi Manusia ) dihidupnya, sebagai sesama manusia kita harus menghargai, menghormati, menjaga, dan tidak melanggar HAM milik orang lain.

(16)

15

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_asasi_manusia_di_Indonesia https://id.wikipedia.org/wiki/Konstitusi

https://www.bps.go.id/indikator/indikator/

https://pustaka.balitbangham.go.id/

https://www.balitbangham.go.id/

Referensi

Dokumen terkait

Sistem hukum negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila, pemikiran mengenai fungsi pemidanaan tidak lagi hanya sekedar penjeraan bagi narapidana tetapi merupakan

Sedangkan sistem perkawinan Gandharwa Wiwaha sama dengan sistem ngerorod atau rangkat yang juga disebut cara selarian (sama-sama lari berdasarkan cinta) dalam tradisi

Dibuktikan bahwa para pejuang membuat rumusan pancasila melalui proses yang bukan sebentar, melainkan melalui proses yang cukup alot, agar terciptanya suatu dasar nagara

Di Indonesia, yang berdasarkan Pancasila, tidak ada pemisahan sepenuhnya antara negara dan agama, dan bahwa tanggung jawab negara terhadap agama tidak hanya terbatas pada

SISTEM POLITIK DALAM ISLAM DAN MASYARAKAT MADANI Sistem Politik Islam Kata sistem beasal dari bahasa asing ( inggris ) yaitu system artinya oerangkat unsur yang secara

Berdasarkan penelitian hak manusia itu tumbuh dan berkembang pada waktu Hak Asasi Manusia itu oleh manusia mulai diperhatikan terhadap serangan atau bahaya yang timbul dari

Sementara itu, negara-negara non-Barat juga terpanggil untuk membahas aspek-aspek yang menurut mereka kurang memperoleh perhatian yaitu, pertama, konsep bahwa setiap manusia

Pasal 2 UUPA juga sarat dengan kandungan nilai HAM khususnya anak yang menyatakan "penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila danberlandaskan Undang-Undang Dasar Negara