• Tidak ada hasil yang ditemukan

hak konstitusional presiden dalam memberikan grasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "hak konstitusional presiden dalam memberikan grasi"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

UUD 1945 menetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum.2 Konsep negara hukum mengidealkan bahwa yang seharusnya menjadi panglima dalam dinamika kehidupan bernegara adalah hukum, bukan politik. atau ekonomi. Dikatakan bahwa pemerintahan Negara Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945) menganut sistem presidensial, namun sifatnya tidak murni, karena itu dicampur dengan unsur-unsur sistem parlementer. Dalam memberikan grasi, Presiden harus memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Namun demikian, harus diperhatikan agar cara dan ruang lingkup pengampunan tidak merugikan kewenangan dan kekuasaan badan peradilan dan legislatif. Menurut alinea pertama Pasal 4 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan nasional menurut undang-undang. Presiden hanya dapat diberhentikan dari jabatannya melalui proses yang disebut “impeachment” karena melanggar hukum sebagaimana diatur dalam Konstitusi.18.

Presiden Republik Indonesia, sesuai dengan Pasal 4 ayat 1 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 kekuasaan pemerintahan berdasarkan UUD. Pemberian gelar, tanda jasa, dan lain-lain serta tanda kehormatan yang diatur dalam undang-undang; 32. Pembentukan dewan pertimbangan untuk memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden yang diatur lebih lanjut dengan undang-undang; 33.

menyampaikan rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk dibahas kepada DPR dengan memperhatikan Dewan Perwakilan Daerah; 35.

Tentang Grasi

Kewenangan yang dimaksud di atas atau yang dimaksud dengan “kekuasaan presidensial” adalah yang sebenarnya berasal dari ranah kekuasaan non-eksekutif, yaitu kekuasaan legislatif dan/atau yudikatif, seperti kekuasaan membuat peraturan pelaksanaan undang-undang (perundang-undangan bawahan) dan kekuasaan presidensial. kekuasaan untuk memberikan pengampunan, penghapusan, amnesti dan rehabilitasi pada hakikatnya tidak hanya bersifat eksekutif, namun bersifat legislatif dan yudikatif; kekuasaan ini awalnya berada di tangan kepala pemerintahan negara bagian. Namun dalam perkembangan sejarah, setelah diterapkannya pembatasan kekuasaan melalui gerakan konstitusionalisme di zaman modern, termasuk berkembangnya prinsip pembagian kekuasaan negara (separation of power) ke dalam ranah legislatif, eksekutif, dan yudikatif, sebagaimana sebagaimana disebutkan di atas, belum 100% dialihkan pada kewenangan cabang pemerintahan legislatif dan yudikatif, namun tetap berada pada lingkungan eksekutif dengan tetap mempertimbangkan peran pemerintahan legislatif dan yudikatif dalam pelaksanaannya di lapangan. Oleh karena itu, kewenangan pengampunan dan rehabilitasi berada di tangan Presiden dengan memperhatikan pertimbangan teknis hukum Mahkamah Agung,40 sedangkan pemberian abolisi dan amnesti berada di tangan Presiden dengan memperhatikan aspek politik. Dewan Perwakilan Rakyat.41.

Lembaga pengampunan sebagai suatu lembaga hukum mempunyai nilai yang cukup tinggi, dimana lembaga tersebut bukan lagi merupakan tanda kemurahan hati raja secara perorangan, namun merupakan suatu regeringdaad atau suatu tindakan pemerintah untuk melindungi suatu tujuan demi kepentingan negara. kepentingan negara. Nampaknya tidak sebanding dengan kepentingan hukum yang berguna untuk menjamin bahwa pemberlakuan undang-undang tidak pernah menimbulkan ketidakadilan atau kepentingan besar negara tidak dikorbankan kepada lembaga peradilan, sebagai penyeimbang sifat umum hukum dengan mempertimbangkan keadaan. yang timbul diubah setelah putusan hakim diucapkan, agar delik tersebut tidak melampaui batas keadilan (misalnya sampai menimbulkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan). Peradilan di Indonesia dirumuskan sebagai kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila demi tegaknya negara. Hukum Republik Indonesia. Peradilan yang independen berarti bahwa peradilan bebas dari campur tangan kekuasaan di luar hukum. Kebebasan dalam kekuasaan kehakiman tidak bersifat mutlak karena tugas hakim adalah menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, sehingga putusannya mencerminkan rasa keadilan masyarakat Indonesia.45.

Penyelenggaraan peradilan di Indonesia dilaksanakan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya yaitu pengadilan biasa, pengadilan agama, pengadilan militer, pengadilan tata usaha negara, dan oleh mahkamah konstitusi. Dengan demikian, sistem tertinggi kekuasaan kehakiman di Indonesia terdiri dari Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Peradilan sendiri merupakan pilar ketiga sistem kekuasaan negara modern, yang merupakan suatu cabang yang diselenggarakan tersendiri sebagai salah satu hakikat kegiatan bernegara.

Di negara-negara yang menganut tradisi civil law dan common law, terlepas dari apakah mereka menganut sistem pemerintahan parlementer atau presidensial, lembaga kekuasaan kehakiman selalu terpisah. Misalnya di Inggris yang menganut campuran fungsi legislatif dan eksekutif, untuk menjadi menteri seseorang harus benar-benar menjadi anggota parlemen. Parlemen dapat membubarkan kabinet melalui mekanisme “mosi tidak percaya”. Namun demikian, cabang kekuasaan kehakiman atau peradilan tetap independen dari pengaruh cabang kekuasaan lainnya dan kekuasaan kehakiman ini juga berkaitan dengan independensi peradilan.

Dalam hubungan triadik kepentingan antara negara, pasar, dan masyarakat sipil, posisi hakim harus berada di tengah-tengah secara seimbang. Oleh karena itu, ciri yang dianggap penting dalam setiap negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat) atau negara demokrasi berdasarkan hukum (demokrasi konstitusional) adalah peradilan yang independen dan tidak memihak. Terlepas dari sistem hukum yang digunakan dan sistem pemerintahan yang dianut, penerapan “prinsip independensi dan imparsialitas peradilan” harus dijamin dalam demokrasi konstitusional mana pun.49.

Hasil Pembahasan

  • Hakekat dan Tujuan Pemberian Grasi Berdasarkan Pancasila
  • Kewenangan Presiden dalam Memberikan Grasi Menurut Undang- undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi
  • Grasi Merupakan Hak Limitatif Sebagai Terpidana di Republik Indonesia
  • Implementasi Pemberian Grasi Dihubungankan dengan Kepenting- an Negara

Kekuasaan Presiden untuk memberikan grasi sebenarnya timbul dari ranah kekuasaan non-eksekutif, yaitu legislatif dan/atau yudikatif, seperti kekuasaan untuk mengambil peraturan untuk melaksanakan undang-undang (subordinasi perundang-undangan) dan kekuasaan untuk memberikan grasi, abolisi. , amnesti dan rehabilitasi. . Kekuasaan eksekutif atau administratif berdasarkan konstitusi (governing on the basis of the Constitution). Peradilan adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk membentuk pengadilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, demi terselenggaranya supremasi hukum Negara Republik Indonesia.

Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Pengampunan, pengampunan pada dasarnya adalah suatu bentuk pemberian pengampunan yang berupa perubahan, pergantian, pengurangan atau penghapusan. Dalam bentuk perubahan, keringanan, pengurangan atau penghapusan pidana terhadap terpidana yang diberikan dengan cara Presiden . Dalam melaksanakan hak pemberian grasi, Kepala Negara harus mengetahui ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai permohonan grasi. Kekuasaan Presiden untuk memberikan grasi berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Kemurahan Hati Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Kemurahan Hati.

Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Pengampunan, pada Pasal 1 Angka 1 disebutkan bahwa pengampunan adalah pengampunan dalam bentuk perubahan, mitigasi, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana terhadap terpidana yang diberikan oleh Presiden. . Undang-undang tersebut menekankan bahwa pengampunan tidak berhubungan dengan keputusan hukum pengadilan karena pengampunan bukanlah intervensi presiden dalam sistem peradilan, melainkan merupakan hak konstitusional untuk memberikan pengampunan. Dalam revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Pengampunan diambil alih oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, sehingga pemerintah berperan aktif dalam meminta pihak-pihak yang berhak mengajukan grasi, dimana pemerintah mempunyai hak untuk mengajukan grasi. selama ini bersikap pasif.

Sebelum diterapkannya undang-undang no. 22 Tahun 2002 tentang pengampunan, dua konstitusi yang sah, yaitu UUD RIS Tahun 1949 dan UUDS Tahun 1950, juga menjadi dasar pemberian pengampunan presiden. Hak ini dilaksanakan dengan mengajukan permohonan kepada Mahkamah Agung untuk meminta nasihat, hanya saja menurut undang-undang tidak ada pengadilan lain yang ditunjuk untuk memberikan nasihat; Sesuai dengan undang-undang no. 22 Tahun 2002 tentang Grasi, grasi pada hakekatnya adalah bentuk grasi yang berupa perubahan, pengurangan atau pembatalan pelaksanaan pidana terhadap terpidana oleh Presiden.

Oleh karena itu, pelaksanaan hak pengampunan oleh kepala negara sama sekali bukan persoalan keadilan, yang seharusnya hanya memperhatikan keadilan yang ada dalam masyarakat, tanpa dikaitkan dengan suatu peristiwa tertentu, yang dalam pelaksanaannya harus dibayar. memperhatikan undang-undang yang mengatur masalah permintaan pengampunan. Sifat restriktif tersebut berdasarkan pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang belas kasihan dengan terlebih dahulu memenuhi syarat-syarat yang diatur dalam peraturan perundang-undangan terkait, kemudian Presiden sebagai Kepala Negara mengambil keputusan yang sah mengenai suatu hal. orang berdasarkan pertimbangan Mahkamah Agung. Sebagai bentuk perlindungan hukum dan penegakan hak asasi manusia, Pemerintah Republik Indonesia bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada tanggal 26 April 2010 mengesahkan perubahan atas UU No. Gedung DPR RI melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Pengampunan.

Pertama, menjamin kepastian hukum dalam memenuhi permohonan grasi sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 15 UU No. 22 Tahun 2002 tentang belas kasihan. Wakil Ketua Komisi III Tjatur Sapto Edi menambahkan, perubahan undang-undang nomor 22 tahun 2002 tidak hanya terkait aturan grasi.

Penutup 1. Kesimpulan

Saran

Pihak-pihak yang berperan di balik permohonan grasi, seperti pengadilan tingkat pertama, Mahkamah Agung, bahkan Presiden, harus bisa serius memproses permohonan grasi tersebut untuk menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan. Jadi pengampunan tersebut tidak hanya digunakan sebagai alasan untuk menunda eksekusi, namun juga digunakan oleh kepentingan penguasa untuk mempertahankan status quo. Pengampunan sebenarnya dapat dijadikan sebagai lembaga yang bertujuan untuk memperbaiki “kesalahan” hukum dalam penyelenggaraan hukum.

Meskipun sudah ada lembaga revisi (herziening) yang dapat digunakan oleh terpidana, namun pengampunan yang berada di luar ranah hukum dan peradilan pidana dapat dijadikan sebagai sarana koreksi dan pembuktian kearifan hukum.

Daftar Pustaka 1. Buku

Peraturan Perundang-undangan

Sumber lainnya

Referensi

Dokumen terkait

Surat permohonan yang diajukan oleh terpidana atau orang lain dengan persetujuan terpidana (dalam hal terpidana dijatuhi pidana mati, dapat diajukan tanpa persetujuan terpidana)

Pendapat Van Hammel mengenai tindak pidana , Delik adalah suatu serangan atau suatu ancaman terhadap hak-hak orang lain dengan demikian pengertian sederhana tindak

Abstrak: Pemohon yang mengajukan grasi tidak sebagai terpidana melainkan sebagai warga negara yang berhak meminta ampun atas kesalahannya kepada Presiden sebagai

Surat permohonan yang diajukan oleh terpidana atau orang lain dengan persetujuan terpidana (dalam hal terpidana dijatuhi pidana mati, dapat diajukan tanpa

Pemberian grasi oleh Presiden kepada terpidana perlu dibatasi, seperti yang diatur dalam Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia bahwa, “Presiden

Hasil penelitian diketahui bahwa Pertama, Kebijakan hukum pidana dalam pelaksanaan pemberian grasi kepada terpidana narkoba berlaku saat ini di Indonesia, antara lain:

Permohonan grasi pada Presiden dapat diajukan oleh orang yang dihukum (terpidana) atas hukuman-hukuman yang dijatuhkan oleh keputusan Kehakiman, baik militer

Namun, pengertian grasi dapat kita simpulkan dari pasal 1 UU Permohonan Grasi yang berbunyi; “Atas hukuman- hukuman yang dijatuhkan oleh keputusan kehakiman, baik militer