• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Ulayat dan Potensi Wilayah Masyarakat Adat di Indonesia

N/A
N/A
Risma Sianturi

Academic year: 2025

Membagikan "Hak Ulayat dan Potensi Wilayah Masyarakat Adat di Indonesia"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

TGL 12 NOV 2024

Hak ulayat adalah hak milik masy h adat terkait hak atas tanah. Isitilah lain hak ulayat ada yang menyebut dengan hak bersama, hak purba. Yaitu hak yang lama sekali. Ada yang mengatakan hak pertuanan. Ada yang bilang juga namanya beshikking rehct.

Perbedaan hak ulayat dengan hak bersama atau hak komunal. Yang paling populer adalah istilah hak ulayat. Ulayat sebenarnya artinya adalah wilayah, wilayah yang telah dipunyai oleh masy hukum. Dan hak ulayat itu adalah hak yang tertinggi, terkuat. Masy h adat mempunyai wilayah ada sejarahnya. Jadi masy h adat yang punya wilayah atau kewilayahan masy h adat itu bukan pemberian dari negara, tapi asal usul hak ulayat itu sebenarnya warisan dari leluhurnya. Dari nenek moyangnya. Maka sebelum indo memproklamirkan kemerdekaannya, masy h adat telah mempunyai kewilayahannya.

potensi masy h adat sebagai bagian dari masy indonesia:

1. Individu masy h adat yang tersebar di wilayah indo itu sekitar 30 jt. Maka wajar jika kita perlu betul betul mengkaji hak hak yang dimiliki oleh masy h adat

2. Ada kewilayahan” setingkat desa, itu jumlahnya ada 70 rb.

3. Ada sekitar 5 jt hectar lahan yang dikelola oleh masy h adat. Pengelolaan yang dilakukan oleh masy h adat itu dengan penuh kearifan lokal. Memanfaatkan tanpa merusak, ada keseimbangan yang terus terjaga.

4. Aliansi masy h adat nusantara

5. Mereka hidup di pulau pulau terpencil, terisolir, di wilayah wilayah perbatasan dengan negara tetangga. Jadi jika wilayah itu dijaga di tempati oleh masy h adat, maka tidak perlu susah payah untuk mengerahkan dana dan tenaga untuk menjaga perbatasan agar tidak diambil oleh negara lain

6. Bahwa secara nasional maupun internasional sudah ada komitmen untuk tetap melindungi masy h adat.

Isu masy h adat:

1. Setiap tahun terjadi konflik tanah atau hutan adat. Padahal telah ada badan yang berkewenangan untuk mengurusi hak ulayat tersebut. Konflik yang terjadi sampai dengan thn 2009 ada sekitar 1800 konflik tanah.

2. Terjadi suatu degradasi atau penurunan kearifan pada sebagian masy h adat. Ada masy h adat yang mengelola h ulayatnya tidak seperti sebelum sebelumnya. Mungkin karena tanah itu dijual dan dikelola oleh masy di luar h adat

3. Adanya tumpah tindih kepentingan.

4. Regulasi yang ada sekarang tidak cukup memadai, tidak ckup memberikan pengakuan dan perlindungan masy h adat. Karena banyak regulasi yang dikenai pembatasan pembatasan yang sulit dikenai oleh masy h adat.

(2)

Fungsi hak ulayat:

1. Tanah adat merupakan aset ekonomi. Tidak perlu masy h adat ini berpikir untuk harus beli.

Sehingga semua kebutuhan pangan, papan akan terpenuhi dari situ

2. Karena hak ulayat ini adalah warisan dari leluhur, maka mempunya sifat atau nilai historisnya.

Dan religius magis, artinya ada ikatan batin masy h adat dengan tanahnya.

3. Bahwa hak yang sama dari seluruh warga masy h adat, warga masy h adat menyadari bahwa hak ulayat adlaah hak bersama, maka muncul disitu harus betul betul harus mencerminkan rasa keadilan bersama

4. Bahwa hak ulayat ini berfungsi tidak saja untuk kepentingan kepentingan generasi masa skrng, tpi juga sebagai cadangan bagi generasi di masa yang akan datang.

hubungan masy h adat dengan hak ulayat:

1. Ciri masy h adat tergantung dari wilayah atau lingkungan hidupnya. Maka hubungan nya mutlak. Jadi harus ada tanah dari masy h adat, karna itu tempat tinggalnya.

2. Masy h adat membutuhkan tempat tinggal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari makan dll.

3. Tanah itu turun temurun

4. Timbul interaksi antara masy h adat dengan lingkungannya yang sangat kuat dan sangat erat.

5. Bahwa hubungan masy h adat dengan hak ulayat ini bisa dikatakan sifatnya abadi atau kekal.

Semboyan yang ada di masy h adat.

Contohnya masy dayak menganggap tanah mereka itu hidup.

1. Tanah bagi masy h adat sebagai unsur pokok dan mempunyai fungsi yang penting.

2. ada hubungan hukum antara masy h adat dengan tanahnya.

3. ada aturan hukum, ada tatanan hukum disini

Maka ada 3 unsur hak ulayat 1. Unsur masy h adat 2. Kewilayahan/ada wilayah 3. Ada tatanan h adat

Hak ulayat adalah hak dari suatu masy h adat atas tanah dan isinya dilingkungan wilayahnya. Untuk menikmati manfaat sumber daya alam untuk kelangsungan hidup yang timbul dari hubungan lahir dan batin secara turun temurun.

Bahwa terkait pengaturan hak ulayat tidak hanya terpaku pada uupa yaitu pasal 3.

Ciri ciri hak ulayat berdasarkan tatanan h adat:

1. Yang menguasai hak ulayat adalh masy h adat beserta warganya

(3)

Pada pasal 2 ayat 4 uupa, dikatakan bahwa negara lah yang menguasai hak ulayat. Jadi ini tidak sesuai atau tidak sinkron.

2. Bahwa orang lain boleh memafaatkan atau menikmati tanah ulayat masy h adat, asal ada ijin dari masy h adat itu sendiri. Ijinnya sesuai dengan prosedur di masy h adat yang bersangkutan 3. Hak ulayat pada dasarnya untuk kepentingan warga masy h adat beserta keluarganya. Supaya

mereka bisa survive

4. yang bertanggungjawab atas eksistensi keebradaan hak ulayat adalah masy h adat itu sendiri.

5. Hak ulayat itu tidak bisa dipindahtangankan. Atau diperjualbelikan.

6. Bahwa hak ulayat itu meliputi hak perorangan

Yang dimaksut hak perorangan disini adalah hak para warga masy h adat. Karena masy h adat terdiri dari warga adat, setiap individu memiliki bagian dari hak ulayatnya.

Sifat hak ulayat ada 2:

1. Ada sifat keluar 2. Ada sifat kedalam

A. Sifat keluar

Hak ulayat bisa dimanfaatkan oleh pihak lain diluar masy h adat, asal mendapat ijin dari masy h adat

B. bahwa hak ulayat itu semaksimal mungkin dimanfaatkan oleh masy h adat dengan penuh tanggung jawab. Maka jika warga masy h adat telah memilki tanah, maka ia harus bertanggung jawab dan tidak ditelantarkan. Maka dalam h adat ada hubungan timbal balik antara hak perorangan dan hak ulayat. Hubungan timbal balik ini yaiitu:

1. ketika tidak dikelola dengan baik atau ditelantarkan, maka kekuatan hak perorangan semakin lemah, dan hak ulayat jadi semakin kuat. Maka bukan tidak mungkin jika hak perorangan itu bisa menjadi hak ulayat.

2. Kalau kemudian ada masy h adat yang menolak hal diatas, mka kekuatan hak perorangan jadi semakin kuat.

Walopun masy h adat telah kuat memiliki hak ulayat, tetap cara mengelolanya harus memperhatikan hak ulayat, ia juga harus menghormati pemilik tanah yang lainnya.

Hak ulayat itu dperuntukan utk masy h adat dan warganya. Dan ketika masy adat memiliki sebidang tanah yang merupakan bagian dari hak ulayat maka mereka harus betul bwtul mnafaatkan tanah tsb.

Jelaskan hak ulayat didalam perkembangannya!

1. Berpatok pada era reformasi

Ini sebagai tonggak diamna masy h adat menuntut hak ulayat nya yang diambil alih oleh penguasa pada era sebelum reformasi. Sebelum reformasi ada perat per uu an yaitu uu pokok agararia pasal 3 uu no 5 thn 60. Bahwa di dalam masa sebelum era reformasi bagaimana kebijakan penguasa atau pemerintah saat itu terkait hak masy h adat sangat jauh dari harapan masy h adat. Banyak hak masy h adat yang tidak mendpat pengakuan atau pengkormatan dari negara pada saat itu. Kebijakan negara ketika akan menggunakan hak ulayat masy h adat

(4)

tidak dikomunikasikan secara baik baik dengan masy h adat. Sebelum reformasi pengakuan hak ulayat tidak seimbang anatara kepentingan masy h adat dengan pusat.

2. Sebelum era reformasi keutungan proyek lebih banyak masuk ke kas pusat masy h adat bisa dikatakan sangat sangat minim ada keuntungan yang tersalurkan kepada masy h adat itu sendiri

3. Masy h adat lebih banyak menikmati dampak negatif dari kegiatan proyek tsb:

– fisik: banyak keursakan alam, ketidak seimbangan ekosistem, contoh polusi ada kerusakan alam dan setertusnya, limbah

- Non fisik, ada kerusakan nilai nilai luhur, ada kegiatan yang dulunya tidak ada kegiatan yang perusak contohnya prostitusi atau hiburan hibruan yang merusak tatanan hidup masy sebelumnya, dengan adanya proyek masy h adat ini dari komunal bergeser ke individual.

4. Tidak ada komunikasi yang ideal dalam proses pelaksanaan kebijakan.

Bahwa ketika pemerintah mengiginkan sesuatu tidak pernah masy h adat diajak komunkasi yang menggunakan hak ulayat masy h adat.

Baru setealh reformasi ada tutntuan dari masy h adat terkait dengan kedaulatan atas hak ulyat maka di era reformasi ada kongres masy h adat nusantara di jkt tgl 17 samai 22 maret 1999 hadir 121 suku masy h adat yang tersebar di nusantara ini utk melakukan 1 tuntutan pengakuan kedaulatan atas masy h adat. Baru setelah reformasi banyak dibuat perat uer uu an yang mencerminkan hak hak masy h adat. Dari pasal 18 b ayat 2 uud, uu ham, perda, peraturan menteri negara agararia terkait hak ulayat.

Lihat di uud nri pasal 18b ayat 2, bahwa negara mengakui dan menghormati kesatua kesatuan masy h adat beserta hak hak tradisional nya, ini meliputi hak ulayat namun demikin kita bisa melihat ada pembatasannya, dan pembatasannya ii sering kali merugikan masy h adat itu sendiri. Masih terkait dengan pengakuan hak ulayat masy h adat di dalam per uu an, dalam pasal 3 uupa,artinya pelaksanaan hak ulayat memang diakui namun masy h adat hanya mendapatkan pelimpahan kekuasaan dari negara. Jadi isi pasal 3 uupa:

1. Menegaskan bahwa hak menguasai dari negara pelaksanaannya dapat dikuasakan oleh masy h adat

2. Masy h adat hanya merupakan pihak pelaksana utk mengelola tanah dilingkungannya yng diberikan oleh negara

3. Kedudukan dan peranan masy h adat sangat dibatasi

4. Bisa dibaca dipenejlasan umum II.3 UUPA, ini disebut sebagai pengakuan erkait dengan hak ulayat. Dari penjelasan itu menunjukkan bahwa keentingan masy h adat harus tunduk pada kepentingan nasional dan negara

5. Tidak dibenarkan membenarkan hak ulayat secara mutlak karena itu bertentangan dengan hak menguasai dari negara.

Dengan demikian kedudukan masy h adat sangat lemah sekali. Dari penejlasan tsb sebenarnya bisa kita bedah. Bahwa setelah kemerdekaan masy h adat tidak lagi bisa mandiri terkait dengan kewenangan tanah ulayat masy hukum adat. Maka bahwa kewenangan h ulayat sudah beralih pada peerintah pusat sehingga bisa disebut sbg tanah negara. Kata prof mariam guru besar huku pertanahan ugm. Hak menguasai dari negara sangat besar sekali sehinga mengesampingan hak ulayat dari masy h adat.

Ideanya harus ada keseimbangan antara negara dengan masy h adat, karena negara ini sebgaai wakil

(5)

dari rakyat, maka jangan sampai dengan bayak pembatasan ini muncul yang namanya subordinasi dengan hak negara ini sangat besar sekali sehingga akan memperlemah dari msy h adat yakni hak ulaayt. Jadi itu kelemahan dari pasal 3 uupa.

Jadi dilapangan banyak teradi knflik tanah hukum adat karena banyak kepentingan negara dan pihak pihak yang besar sehingga tidak lagi bisa benar benar menghormati kepentingan masy h adat. Dalam UU ham, pasal 6 ayat 2. Dimana identtiat budaya masy h adat dilindungi namun masih ada pembatasannya selaras dengan perkembagan jaman.

Uu pemerntah daerah yaitu uu 32 th 2004, pasal 2 ayat 9, dmana disitu ditulis negara mengakui dan menghormati kesatuan masy h adat beserta hahk hak tradisionalnnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan prinsip prinsip hak kesatuan masy indo.

Pasal 2 kepres no 34 th 2003, mengatur ketetatapan dan penyelesaian tanah ulayat dan pemberian ijin membuka tanah adat.

(6)

TGL 19 NOV 2024

Sebelum era reformasi banyak permasalahan masy hukum adat yang seharusnya dilihat kembali, karena didalam pasal 3 itu lebih menguntungkan dan melindungi para pihak diluar mamsy h adat yang sudah memanfaatkan hak ulayat masy h adat sesuai dengan perat per uu an yang berlaku, maka itu dianggap sebagai suatu persoalan yang selesai. Tidak bisa lagi masy h adat untuk meiminta tanah tersebut. Maka ini sangat merugikan masy h adat. Jadi yang seharusnya merupakan masy h adat dianggapnya sudah tidak dapat ditinjau kembali.

PERMENAG DAN TATA RUANG/KEP.BPN NO 9/2015 1. Pengertian hak ulayat diganti dengan hak komunal 2. Termuat dalam pasal 1 angka 1

3. Lebih menonjolkan sisi prosedural dibanding dengan konsepsi terkait objek yang diatur. Yaitu yang diatur adalah hak komunal beda dengan hak ulayat.

Kalo subjeknya masy h adat berbeda dengan masy pada umumnya.

4. Kaburnya eksistensi hal ulayat sebagaimana diatur dalam uupa dan perat peruuan yang lainnya 5. Karaktersitik hak ulayat berebda dengan hak komunal, tapi dianggap sama oleh permen tsb.

PENETAPAN HAK KOMUNAL ATAS TANAH MHA Pengajuan hak:

1. Pasal 5 ayat 1 2. Pasal 5 ayat 2 3. Pasal 5 ayat 3

Pihak yang berkompeten menentukan hak komunal:

Pemda membentuk tim IP4T (pasal 6)

(7)

TGL 26 NOV 2024

TRANSAKSI TANAH

Transaksi tanah: transaksi itu adalah suatu proses peralihan hak.

Terkait dengan transaksi tanah, dalam ketentuan hukum adat ada dua yaitu transaksi tanah sepihak dan yang melibatkan kedua belah pihak.

Transaksi tanah sepihak: tidak memerlukan pembayaran.

Conthnya membuka hutan yang dilakukan oleh perorangan, proses terjadinya hak ulayat.

Dalam ketentuan hukum adat, berkaitan dengan ketentuan transaksi tanah dibedakan menjadi 2:

1. Transaksi tanah yang merupakan perbuatan hukum sepihak

Transaksi tanah merupakan peralihan hak yang sepihak, disini tanpa adanya suatu pembayaran.

Contohnya seperti pendirian desa. Disitulah muncul yang namanya hak ulayat.

Selain itu, ada seorang warga yang membuka tanah, maka muncul yang namnaya hak yasan, dua perbuatan hukum ini tanpa adanya suatu pembayaran.

Melibatkan pemilik tanah dan pembeli tanah, disini lah muncul adanya pembayran.

Transaksi tanah yang melibatkan kedua belah pihak itu ada tiga, yaitu:

1. Transaksi jual gadai tanah

Pemilik tanah berhak mendapat tanahnya kembali dengan cara menebus uang gadai.

Ada gadai biasa ada gadai jangka waktu 2. Transaksi tanah jual tanah lepas

Maka si pemilik tanah tidak dapat mendapatkan tanahnya kembali.

3. Transaksi tanah jual tahunan

Ada kesamaan dengan gadai yaitu pemilik tanah masih berhak mendaptkan tanahnya kembali, tpi dalam hal ini penjual berhak mendapatkan tanahnya kembali, tanpa harus ditebus. Jadi menunggu waktunya berakhir. Jadi sbeelumnya ada kesepakatan.

Perbuatan hukum transaksi tanah yang melibatkan 2 pihak itu 3 diatas.

Terkait dengan sahnya transaksi tanah:

Pada umumnya sah kalau dilakukan di hadapan notaris, seperti adanya bukti kepemilikan berupa sertifikat kemudian dibalik nama. Dan harus dilakukan pembayaran yang dilakukan dihadapan notaris.

Bedanya dengan ketentuan h adat tidak harus dilakukan dihadapan notaris. Sahnya transaksi tanah maka yang pertama adalah bahwa transaksi tanah itu harus dilakukan secara terang. Harus jelas tanahnya siapa, saksi, dan tidak kemudian tanah itu masih bersnegketa, harus jelas status nya. Maka proses peralihannya menerangkan dihadapan kepala masy h adat, bahw ini tanah saya, batasan nya jelas kana saya jual ke masy h adat yg lain.

1. Transaksi tanah jual gadai:

Ada asas yang perlu dipahami:

(8)

1. Pada dasarnya transaksi tanah gadai tidak ada batas waktu perjanjiannya, terantung kesepakatan kedua belah pihak, jika terus berlanjut bisa beralih ke ahli waris nya.

2. Dapat dibuat ketentuan tambahan

Bisa berupa, jika tidak ditebus tanah menjadi milik pembeli.

Ada 2 macam transaksi jual gadai:

1. Transaksi tanah jual gadai biasa

Dapat ditebus setiap saat, minimal 1 kali masa panen. Jadi jika tidak ada kesepkatan kapan harus ditebus maka itu gadai biasa

2. Transaksi tanah jual gadai dengan jangka waktu Ada 2:

1. Transaksi tanah jual gadai jangka waktu yang larang tebus

Harus menebus misal 5 tahun, maka jika tidak ditebus maka menjadi gadai biasa. Jika tidak ditebus selama 5 tahun misal karena belum mampu maka menjadi gadai biasa. Jadi ditebus sewaktu-waktu.

2. Transaksi tanah jual gadai janga waktu yang wajib tebus

Maka ada suatu kewajiban pemilik tanah untuk menebus tanahnya ketika telah disepakati misal 7 tahun. Jika tidak ditebus maka menjadi jual lepas. Jual lepas itu berarti bahwa tanah yang wajib tebus beralih menjadi jual lepas. Jadi jual secara permanen. Menjadi milik si pemegang gadai tsb.

Terkait dengan masa berakhirnya transaksi tanah jual gadai:

1. Sudah ditebus oleh pemilik tanah

2. Pemilik tanah tidak menebus, kemudian dinyatakan menjadi milik si pembeli tanah gadai tanah secara permanen.

Hak pembeli gadai:

1. Menikmati hasil dari tanah tersebut

2. Mengoperkan gadai seizin pemberi gadai atau pemilik tanah

Setelah tahun 1960 ada per uu an yang mengatur mengenai transaksi tanah jual gadai. th 1960 ada ketentuan per uu an yaitu dalam pasal 7 uu no 56 PRP th 1960, terkait jual gadai tahunan. Isi ketentuannya adalah jika jangka waktu gadai telah 7 tahun atau lebih maka sebulan setelah panen dikembalikan kepada pemilik atau penjual tanpa harus menebus tanahnya, namun jika penjual gadai akan menebus tpi jangka waktunya belum berakir maka digunakan rumus:

Kenapa bisa gini karena kan pembeli gadai dianggap telah menikmati hasil dari tanah gadai tsb.

Sehingga tidak lagi si penjual gadai ini membayar gadai.

(7 + ½) - waktu berlangsungnya gadai: 7 x uang gadai yang telah disepakati Kasus, biasanya dikeluarkan UAS:

Di tahun 1961, A menjual gadai tanahnya kepada si B, kemudian dgn jangka waktu 10 thn. Uang gadai 100 rupiah. Maka menurut ketentuan hukum adat harus bisa menebus th 1971. Kalo menurut ketentuan perat per uu an itu beda lagi. Pertanyaannya adalah berdasarkan per uu tsb

(9)

1. Apakah A di th 1966 bisa menebus tanahnya kembali. Menurut ketentuan per uu an yang berlaku.

Jawabannya: bisa

35 rupiah. Itu ngitungnya urut ga yang bagi atau kali dulu.

Filosofinya kenapa kurang dari 100 rupiah karena si pemberi gadai telah menikmati hasil dari tanah tsb.

2. Bisa ga si pemilik tanah akan mendapatkan tanahnya kembali tanpa harus menebus? Menurut per uu an

Jawabannya bisa, karena ada ketentuan ada klausul “jika jangka waktu gadai telah 7 tahun atau lebih maka sebulan setelah panen dikembalikan kepada pemilik atau penjual tanpa harus menebus tanahnya”

Kalo hukum adat kan gaboleh, harus ditebus, tpi klo menurut perat uu an boleh.

Jadi kalo di uas jelasin menurut h adat sam perat per uu an.

(10)

TGL 3 DES 2024

Poin sub bahasan.

a. Perjanjian bagi hasil

b. Sewa tanah dan menumpang c. Perjanjian berganda

d. Perjanjian pinjam uang dengan jaminan tanah

a. Transaksi atau perjanjian bagi hasil

Terkait dengan yang dimana tanahnya menjadi suatu media, intinya ada dua belah pihak pertama ihak pemberi tanah, pihak kedua penggarap tanah.

Pemilik tanah ini biasanya mempunyai tanah tapi tidak bisa atau berkesempatan utnuk mengerjakan tanahnya. Si pemilik tanah ini ingin tanahnya memiliki hasil. Rkarena pemilik tanah ini tidak dapat mengerjakan tanahnya dan ingin memperoleh kasil dari tanah yang dia milik, maka ia mengadakan perjanjian dengan pihak lain. Karena penggarap tanah ini biasnaya tidak memiliki tanah maka mau untuk mengerjakan tanah tsb, tetapi ada juga penggarap yang memiliki tanah, namun ada kelebihan waktu dan tenaga untuk bekerja sebagai penggarap.

Dalam perjanjian bagi hasil tanah pertanian menurut hukum adat, ada istilah istilah bisa dilihat di google. Bahwa perjanjian bagi hasil menurut hukum adat ada asas asas umum yang harus dipahami.

1. Perjanjian bagi hasil ini ada satu hubungan hukum, dasarnya adalah kekeluargaan dan tolong menolong.

2. Dilakukan secara perjanjian lisan, sekalipun tertulis bentuknya sederhana 3. Syarat sah nya perjanjian ditentukan oleh kedua belah pihak

4. Tidak ada ketentuan yang baku tentang jangka waktu, yang ada adalah kesepakatan 5. Besarnya imbangan bagi hasil antara pemilik dan penggarap tidak ada ketentuan yang

seragam.

Perjanjian bagi hasil menurut undang undang Uu no 2 th 60

Dalam UU:

1. Dalam uu juga merupakan satu hubungan hukum, namun antara pemilik dan penggarap lebih didasarkan pada perikatan yang lebih baku.

2. Bentuk perjanjiannya secara tertulis

3. Perjanjian tsb dilakukan didepan kepala desa, ada saksi minimal 2 orang, dari pihak pemlilik dan penggarapa kemudian di sah kan, lalu diumumkan di tingkat desa.

4. Terkait jangka waktu, ada ketentuan baku nya. Misal sawah itu jangka waktu sekurang kurangnya dilakukan 3 tahun, tanah kering itu sekurang kurangnya dilakukan 5 tahun.

5. Besarnya bagian juga ada ketentuan bakunya.

Dalam praktik dilapaangan walaupun sudah berlaku uu ini, tetapi banyak yang menggunakan ketentuan hukum adat.

(11)

b. Sewa tanah dan menumpang

- Sewa tanah yaitu suatu transaksi yang mengizinkan, orang lain mengerjakan tanahnya dengan membayar uang sewa, sesudah tiap masa panen selesai. Bisa perbulan atau tahun.

- Menumpang atau magersari adalah suatu trnasaksi yang mengijinkan orang lain tinggal di tanah tersebut.

Bahwa ada sesorang sebagai pemilik tanah, ada orang lain yang ingin menempati tanah tsb diizinkan, tanpa membayar uang, untuk waktu tertentu tanpa ada ikatan hukum. Jadi apabila pindah yang menumpang ini tidak boleh meminta ganti rugi dan sebagainya. Jika ada uang pesangon itu didasarkan karena adanya asas tolong menolong.

Ada perbedaan terkait dengan jual tahunan dan sewa.

Kalau jual tahunan ini ada uang yang dibayar dimuka dari pembeli tanah kepada pemilik tanah kemudian di jual tahunan ini pada jangka waaktu yang lama. Selain itu apa bila ada risiko, ditanggung oleh pembeli tanah, pemilik akan mendapat uang dari jual

Kalau sewa bisa dibaayr dimuka ataupiun dibelakang, jangka waktunya pendek, seperti 1 kali masa panen. Kalo ada risiko yang nanggung penyewa. Pemilik mendapatan uang. Risiko disini contohnya gagal panen.

Beda dengan perjainjian transaski bagi hasil

Kalau dalam trnasksi tsb tidak ada pembayaran, kemudian untk waktunya bisa pendek bisa lama. Kemudai kalau risiko ditanggng secara bersama. Pemilik tidak mendapatkan uang tetpi hasil dari pembagian tsb.

c. Perjanjian berganda

perjanjian yang berkaitan dengan tanah, yang terdapat perpaduan perjanjian pokok dengan perjanjian tambahan.

Ada sebidang tanah yang dimiliki oleh A, aa pihak lain yang terikiat oleh suatu perjanjian B. bisa saja tanahnya sama. Tapi A dan B ini bisa terikat oleh suatu perjanjian berganda, perjanjian jual gadai tanah. Ini perjanjian pokok. Dilakukan oleh si A dan B bersamaan. Para pihaknya sama.

Ketika A sebagai pemilik tanah melakukan transasi jual gadai tanah pada si B, kemudian si A ini terikiat juga dengan B berupa perjanjian bagi hasil bagi si B.

Artinya pihak nya sama bidang tanahnya sama ada dua perjanjian yang dilakukan secara bersamaan. Si A melakukan perjanjian dua tahunan pada si B. setelah itu dilakukan suatu perjanjian berupa bagi hasil. Jadi si A ini menemui si B untuk meminta supaya diterima oleh suatu perjanjian bagi hasil. Intinya tu ini misal si A dan B ada perjanjian tentang tanah yaitu pertama si A jual tahunan ke B, tapi juga seklaigus tanah bagi hasil sama B. gitu.

d. Perjanjian peminjaman uang dengan jaminan tanah

Jadi bisa saja si A tadi meminjam uang kepada si B maka ia pinjam uang dengan jaminan tanah.

Kemudian ketika ada sengketa, objek perjanjian itu bukan tanah tapi perjanjian pinjam uangnya.

Referensi

Dokumen terkait

Keadaan ini bertentangan dengan Pasal 3 UUPA yang menyatakan bahwa Negara secara tegas mengakui keberadaan hak ulayat dan hak-hak serupa itu dari masyarakat hukum adat,

Hak ulayat adalah kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup para

Hak ulayat merupakan hak penguasaan yang tertinggi atas tanah dalam hukum adat, yang memberi kewenangan kepada masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang

Penelitian Keberadaan Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah Di Kalimantan DITERBITKAN OLEH PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG / BADAN

Kedua, implementasi hubungan hak ulayat masyarakat hukum adat dengan hak menguasai negara di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Kabupaten Bombana, Propinsi Sulawesi Tenggara

Dalam Pasal 1 butir 1 disebutkan bahwa hak ulayat dan yang serupa dari masyarakat hukum adat, (untuk selanjutnya disebut hak ulayat atau hak petuanan), adalah kewenangan yang

Pemanafaaat tanah ulayat oleh pihak invertor, sebaiknya memberikan manfaat terhadap masyarakat hukum adat tersebut, Manfaat secara langsung tidak ada, akan tetapi secara

Terkait dengan konstitusi, eksistensi masyarakat hukum adat Dalam teks UUD 1945 generasi pertama, pengaturan tentang masyarakat adat dan hak ulayat ditautkan pada Pasal 18 UUD 1945 yang