43
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
Dalam bab ini, peneliti memaparkan hasil temuan di lapangan berdasarkan focus penelitian yang diteliti. Fokus dalam penelitian ini adalah Strategi Komunikasi Guru Dalam Pendidikan Karakter di SMK PGRI 1 Kota Serang.
Dimana salah satu strategi yang dilakukan guru dalam Pendidikan karakter adalah dengan cara mendekatkan diri kepada siswa menggunakan metode keterbukaan diri terlebih dahulu sebelum mendidik karakter siswa lebih dalam lagi.
Dalam penelitian ini, peneliti mewawancarai 2 orang informan, yang mana informasi dari informan tersebut sangat dibutuhkan oleh peneliti untuk mencari dan mendalami informasi-informasi yang akurat dan sesuai dengan focus penelitian yaitu tentang Strategi Komunikasi Guru Dalam Pendidikan Karakter di SMK PGRI 1 Kota Serang.
4.1 Profil Informan
Informan dalam penelitian ini adalah orang-orang yang berhubungan langsung dengan kegiatan Pendidikan karakter di SMK PGRI 1 Kota Serang terutama di kelas 2 TKJ 2. Sesuai dengan studi yang digunakan oleh peneliti, yaitu studi kasus, maka informan dalam penelitian ini bersifat multi source sehingga masalah-masalah dalam penelitian ini dibuat dari berbagai pandangan oleh guru di SMK PGRI 1 Kota Serang, serta orang-orang selain guru yang terlibat dalam Pendidikan karakter di sekolah. Berikut ini adalah data informan yang akan diperjelas melalui tabel dibawah ini:
44
Tabel 4.1 Data Informan
Informan Inisial Usia Pekerjaan Pendidikan Linda Meylina
S.Pd
R1 49 Tahun Wali Kelas & Guru Kelas 2 TKJ 2
Sarjana Pendidikan IKIP Bandung
Eva Ivana S.Pd R2 Ketua Bimbingan
Konseling SMK PGRI 1 Kota Serang
Linda Meylina merupakan informan utama dengan inisial R1 dalam penelitian ini. Beliau adalah Wali Kelas sekaligus Guru di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang. Di usianya yang sudah menginjak 49 tahun, beliau pernah meraih gelar sebagai guru terbaik beberapa tahun silam. Ditengah kesibukannya di sekolah, beliau tentu harus mengurus suami dan kedua anaknya yang sudah beranjak remaja dan dewasa. Beliau memegang kelas TKJ 2 dari kelas 1 hingga kelas 3, dan juga beliau sudah memegang hamper semua jurusan di SMK PGRI 1 Kota Serang karena beliau sudah 22 tahun berkarir sebagai guru di tempat ini.
Eva Ivana (R2) adalah ketua dari seluruh guru bimbingan konseling di SMK PGRI 1 Kota Serang. Beliau lah yang menerima laporan mengenai catatan kesiswaan atau menangani masalah-masalah siswa di SMK PGRI 1 Kota Serang.
45 4.2 Hasil Penelitian
Dalam hasil penelitian ini, peneliti menguraikan tentang data penelitian yang didapatkan melalui observasi dan wawancara dengan Wali Kela sekaligus Guru di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang yang berada di Jalan Ciwaru Raya no.55 Serang, Banten, yang menjelaskan tentang bagaimana strategi komunikasi yang digunakan guru dalam Pendidikan karakter siswa-siswi di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang.
Analisis data yang didapatkan dari hasil wawancara Bersama dengan Wali Kelas sekaligus Guru di kelas 2 TKJ 2, berdasarkan hasil wawancara, peneliti bersama informan, guru banyak berstrategi dalam Pendidikan karakter melalui komunikasi. Lebih detailnya, peneliti menyajikan data penelitian kedalam penjelasan beserta analisisnya melalui data yang telah diperoleh peneliti melalui wawancara langsung ke lapangan.
4.2.1 Bagaimana strategi komunikasi yang digunakan guru dalam Pendidikan karakter di kelas 2 TKJ 2
Pada tahapan ini, peneliti mengajukan pertanyaan tentang bagaimana strategi komunikasi yang digunakan guru dalam Pendidikan karakter siswa-siswi kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang. Berikut adalah hasil wawancara peneliti dengan informan utama (R1):
“Setiap wali kelas memiliki strategi yang berbeda-beda, tapi tujuannya pasti sama. Mereka ingin kelasnya menjadi baik mulai dari awal hingga ke akhir menjadi tahapan-tahapan yang bisa dipertanggung jawabkan kemajuannya. Saya pribadi, mengenai strategi tidak cukup bertemu hanya di sekolah saja, artinya saat
46
mereka berada diluar lingkungan sekolah pun bagaimana caranya agar saya tetap berkomunikasi dengan mereka walau tidak dengan cara tatap muka mungkin. Bisa melalui aplikasi social media, yang penting komunikasi kami itu tidak pernah terputus.” (Hasil wawancara R1, 21 Juni 2019)
Hasil wawancara yang disampaikan oleh R1 mengungkapkan bahwa setiap guru memiliki strategi yang berbeda walau tujuannya sama saja. Namun tidak cukup hanya dengan bertemu dan bertatap muka secara langsung, karena jika bertemu di sekolah saja, otomatis hubungan dengan siswa akan renggang dan memiliki kecanggungan karena tidak bisa bertemu sesering mungkin. Maka dari itu R1 mengatakan, komunikasi dilanjutkan dengan saling berinteraksi di media social apapun, asalkan tidak terputus komunikasi dengan siswa siswi kelas 2 TKJ 2.
Peneliti juga mengajukan pertanyaan mengenai media atau sarana yang digunakan dalam Pendidikan karakter siswa siswi kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang. Berikut penjelasan dari informan R1:
“Kalau saat mengajar, saya ceritakan bahwa mengajar dari saat saya pertama masuk kesini sampai sekarang mungkin banyak sekali perubahannya. Kalau jaman dulu kan guru pakai metode ceramah kan, jadi yang lebih aktif itu gurunya, anak anak lebih banyak menerima tapi kalau sekarang sudah jauh berbanding terbalik, guru hanya cukup memperhatikan, membimbing, membina, atau mengarahkan sementara yang aktif dan kreatif dikelas itu siswa. Makannya, ya gurunya sendiri harus mau mengikuti perubahan, mengikuti perkembangan zaman,
47
perkembangan teknologi, yang awalnya saya juga gaptek, mungkin karena tuntutan situasi, keadaan, akhirnya saya juga mulai belajar. Belajar sama- sama artinya kami tidak saling menggurui juga. Artinya, kami saling memberi satu sama lain, jadi saya tidak hanya memberi, merekapun cukup banyak memberi masukan terutama dalam bidang teknologi. Seperti itu ya.”
Hasil wawancara menjelaskan bahwa jaman sekarang guru harus mau mengikuti tren yang terus berubah setiap saat demi memantau perkembangan anak tidak hanya di sekolah tapi juga di luar sekolah.
Berikut adalah hasil wawancara mengenai strategi komunikasi yang digunakan guru dalam Pendidikan karakter siswa-siswi di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang dengan informan R2:
“Di BK itu untuk mengubah karakter anak sulit, tetapi memberi kesadaran d an informasi kalau di usia kalian itu harus sesuai dengan tugas kemandirian nya itu ya, tekniknya adalah pendekatan individual. Yang lebih mudah itu pendekatan individual, contohnya sharing, tutor teman sebaya, bisa melalui temannya juga, atau dengan konsultasi, istilah BK nya kan konseling ya. Yang kedua adalah dengan bimbingan, bimbingan itu ada dengan bimbingan kelompok, dan bimbingan klasikal neng. Kalau bimbingan kelompok itu tentu jumlahnya itu ada dibawah 10, paling besar itu paling tinggi 10 orang. Paling ada bertambah paling 12. Tentunya lebih dari 1, dibawah 12. Kemudian bimbingan klasikal, tentunya karena ini sekolah, dunia Pendidikan, dan pendidikannya Pendidikan formal,
48
tentunya ada pertemuan KBM kan di kelasnya. Nah itulah memakai strategi bimbingan klasikan yaitu pertemuan di kelas. Itu ya.” (Hasil wawancara, 21 Juni 2019)
Hasil wawancara Bersama R2 selalu guru bimbingan konseling menjelaskan bahwa strategi yang digunakan dalam Pendidikan karakter, yang paling efektif adalah melalui pendekatan individual, atau sharing.
Sesuai dengan teori Self Disclosure, self disclosure adalah jenis komunikasi yaitu seseorang terbuka mengungkapkan informasi mengenai dirinya (pikiran, perasaan, dan perilaku) (De Vito, 2011). Self disclosure adalah ketika seseorang mengungkapkan informasi pribadi mengenai dirinya kepada orang lain, salah satu manfaatnya adalah untuk mendapatkan bantuan dan dukungan atau mencapai kontrol sosial (Rime, 2016).
4.2.2 Apa saja hambatan yang ditemukan saat menjalankan strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang
Dalam rumusan masalah ini, terutama dalam berstrategi, tentu akan menemukan hambatan di tengah upaya dalam berstrategi dalam segala hal. Sama halnya dengan adanya hambatan dalam berstrategi komunikasi dalam Pendidikan karakter. Berikut adalah hasil wawancara yang disampaikan oleh informan R1:
“Ya mungkin hambatan yang paling berarti itu komunikasi dengan pihak orang tua siswa mungkin, karena tidak semua orang tua siswa menggunakan hp ya artinya sekolah kami ini kan sekolah swasta, kemudian latar belakang anaknya juga berbeda-beda. Ada yang dari golongan menengah keatas, golongan menengah kebawah, dan tidak bisa memaksakan diri juga, ada beberapa orang tua yang gaptek gitu
49
menggunakan hp juga hp jadul gitu kan, akhirnya untuk komunikasi aja contohnya saya membuat grup wali siswa tapi tidak bisa semua wali siswa amsuk, karena ada beberapa wali siswa yang tidak memiliki alat komunikasi itu gitu. Ujung ujungnya ya tetep aja harus menggunakan kontak lewat anaknya, atau kontak lewat saudaranya yang memegang hp.
Mungkin itu yang akan memerlukan waktu gitu ya, proses gitu kan. Kalau di kelas, hambatan yang paling berarti di sekolah ini kadang-kadang tingkat kesiangannya, kenapa saya bilang tingkat kesiangannya karena disini rata-rata rumahnya jauh. Kalau dulu jamannya saya ke sekolah itu membutuhkan waktu hanya 15 menit, kalau disini ada anak yang harus ke sekolah tuh mencapai satu jam. Nah kenapa mereka ambil sekolah yang jauh, yak arena itu tadi, kebetulan walaupun swasta, sekolah kami cukup favorit disini. Peminatnya cukup banyak dari pelosok-pelosok, walaupun ya itu tadi termasuk sisa-sisa mungkin, ya tapi walau swasta termasuk sekolah favorit juga gitu jumlahnya lumayan banyak anaknya. Nah itu hambatannya.”
Hasil wawancara mengenai hambatan dalam berstrategi komunikasi dalam Pendidikan karakter, tidak terlalu banyak hambatan yang muncul selain sulitnya berkomunikasi dengan orang tua guna untuk memantau atau melaporkan perkembangan siswa, serta sulitnya mengatasi tingkat kesiangan yang tinggi.
Berikut adalah hasil wawancara peneliti dengan informan R2 mengenai hambatan apa saja yang ditemukan dalam Pendidikan karakter di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang:
50
“Hambatannya banyak, itu tadi ada dari internal dan eksternal. Tentunya internal dari anak itu sendiri, paling sulit itu dari anak sendiri karena dari keterbukaan yang kurang, wawasan, neng. Ilmu, kemudian mau terbuka dan tidak mau terbuka. Seperti itu yang paling utama. Mau visi ke masa dean itu juga butuh, nah anak-anak itu jarang memikirkan jangka Panjang.
Pendek aja. Yang dirasakan doang sekarang, tapi kedepannya agak terlupakan, sibuk dengan fikirannya sendiri, dengan dunianya sendiri.
Kalo dari lingkungan mah alhamdulillah bagus ya, kalau dari sekolah juga bagus. Kalo dari lingkungan rumah itu ada kasus dimana orang tua menyerahkan kepercayaan sepenuhnya kepada anak, itu teh sulit neng.
Mungkin orang tua berfikirnya oh ya anak saya sudah cukup mandiri, tetapi ternyata mungkin komunikasi dengan orang tua bagus, tapi belum mampu untuk sekolah, untuk dia sendiri. Kemudian, itu tadi ya orang tua yang menyerahkan kepercayaan kepada anak terlalu full. Ternyata hasilnya 0, iya anak saya berangkat dari rumah kok bu, tapi tidak ada evaluasi dari orang tua sendiri. Apakah dia memang sampe atau tidak, yang kedua memang dari orang tuanya sendiri, kurang respon, dari tingkat Pendidikan, atau yang sekarang lagi ngetren mah ya kesibukan dari orang tua yang terkadang akhirnya lupa bahwa anaknya itu semakin usianya bertambah, masalahnya bukan berkurang malah semakin bertambah. Itu saja.”
Hasil wawancara dengan R2 mengenai hambatan dalam strategi komunikasi Pendidikan karakter ada pada orang tua yang terlalu memberikan kepercayaan penuh kepada anak, dan enggan mengevaluasi apakah sang anak benar-benar
51
hadir ke sekolah atau tidak, serta kebanyakan anak yang tidak mau terbuka kepada guru mengenai masalah yang sedang ia alami.
4.2.3 Apa solusi yang digunakan untuk strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter siswa siswi kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang
Dalam berstrategi dalam hal apapun, selain kita dapat menemukan hambatan, tentunya kita akan menemukan solusi untuk mengatasi hambatan yang ditemukan ditengah strategi komunikasi yang sedang dijalankan.
Berikut adalah hasil wawancara dengan informan R1 mengenai solusi yang digunakan untuk strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter siswa-siswi di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang:
“oke kalau solusi mungkin tidak henti-hentinya tiap kali sebelum mengajar, memberikan siraman rohani, memberikan gambaran bahwa masuk kesini itu bukan atas paksaan siapapun, tapi keinginan sendiri.
Konsekuensinya disekolah ada peraturan yang harus ditaati, kalau terlambat, berangkat lebih pagi lagi berangkatnya, ke pihak orang tua dikabari untuk dari rumah mengkondisikan anaknya, jangan sampai anak bangun kesiangan, sebagai orang tua wajib membangunkan anak, mempersiapkan lebih awal perginya, karena ada kemungkinan jalanan juga macet, nah kemudian didepan ada penutupan gerbang waktu waktu tetentu, disini dikasih waktunya sampai jam setengah delapan karena disini masuknya jam 7. Kalau lewat setengah delapan, pintu gerbang ditutup, di kunci, tidak boleh masuk. Nah itu dikabarkan ke orang tua untuk
52
menghindari hal hal yang tidak diinginkan.” (Hasil wawancara, 21 Juni 2019).
Hasil wawancara dengan R1 menjelaskan bahwa solusi paling efektif dalam mengatasi hambatan strategi komunikasi adalah dengan intensnya komunikasi dengan orang tua dan mengabarkan apapun tentang informasi anak, termasuk dalam mencegah semakin tingginya tingkat kesiangan di sekolah terutama untuk kelas 2 TKJ 2.
Berikut adalah hasil wawancara dengan informan R2 mengenai solusi yang digunakan untuk strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter siswa-siswi di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang:
“Ya alhamdulillah secara internal dari pihak sekolah banyak sekali faktor pendukung, diantaranya system nih neng. Kalau di BK kan nih ada dukungan system, jadi dukungan system, manajemen, infrastruktur kerja, dan keprofsionalan guru BK juga sangat menunjang. Ini kan networking ya, jarring system itu ada riset pengembangan, ada kasus kasus kemudian kita kembangkan, kan itu Namanya studi kasus ya nah seperti itu sangat menunjang sekali. Kalau dari luar tentunya kita mencoba, kan ada komite neng. Mencoba melakukan kerjasama melalui minimal home visit atau justru dari orang tua sendiri datang kesekolah alhamdulillah ternyata meskipun ada masalah orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tentunya orang tua yang ingin bekerja sama dengan sekolah mah lebih banyak neng. Karena apa, orang tua saat ini sangat merasakan sekali kesulitan dalam mendidik anak, akhirnya harapannya malah sangat besar
53
kepada sekolah. Padahal sekolah juga mengembalikan lagi ke orang tua, Bu ingat bu bahwa anaknya lama di rumah bukan di sekolah. Jadi sebetulnya manusia itu hakikatya memiliki konsep berfikir yang bagus, hanya kelemahannya ada di aplikatif, di aplikasi, sebab apa, itu tadi banyak faktor dari dalem dari luar. Tinggal kita harus mawas diri, seberapa besar nih keberhasilannya yang lebih tinggi atau kegagalannya yang lebih tinggi. Seperti itu sih” (Hasil wawancara, 21 Juni 2019).
Hasil wawancara mengemukakan bahwa melakukan pendekatan merupakan solusi terbaik karena mampu mendapatkan kepercayaan anak untuk jangka waktu yang lama seta dapat membuat hubungan guru dan anak didik menjadi lebih dekat seperti tidak ada banteng, dan membuat anak merasa nyaman.
Tabel 4.2 Hasil Penelitian
No. Pertanyaan Penelitian Hasil Penelitian 1. Bagaimana strategi komunikasi
yang digunakan guru dalam Pendidikan karakter siswa-siswi di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang ?
1. Siswa-siswi diberikan kesempatan untuk lebih aktif, sementara guru hanya mengarahkan dan mendengarkan.
2. Guru mengikuti perkembangan zaman dengan menpelajari bebagai macam media social agar terus dekat dengan anak didik.
3. Mengadakan bimbingan kelompok dan bimbingan
54
klasikal.
2. Hambatan apa saja yang ditemukan saat menjalankan strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang
?
1. Tidak bisa berkomunikasi dengan semua orang tua siswa karena keterbatasan ekonomi sehingga tidak semua orang tua memiliki ponsel pintar.
2. Tingkat kesiangan yang masih tinggi.
3. Orang tua
mempercayakan
sepenuhnya kepada sang anak, tidak ada evaluasi apakah anak benar-benar pergi ke sekolah.
3. Apa solusi yang digunakan untuk strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter siswa siswi kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang?
1. Melakukan siraman rohani sebelum memulai pelajaran
2. Melakukan pendekatan kepada anak didik agar mereka bersedia menceritakan masalahnya
dan memberikan
kepercayaan sepenuhnya terhadap guru.
3. Melakukan home visit atau kunjungan ke rumah
siswa untuk
mengevaluasi langsung masalah yang sedang anak hadapi.
55
Sumber : Hasil Olah Data Penelitian
4.3 Pembahasan Penelitian
Dalam penelitian ini terlihat strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter ini ada berbagai macam strategi yang digunakan agar lebih dekat dengan siswa- siswi, strategi tersebut tentu harus dilaksanakan dengan cermat dan tepat agar bisa berjalan dengan lancer dan mendapatkan hasil yang diinginkan.
Berikut adalah pembahasan serta Analisa penelitian yang peneliti dapatkan berdasarkan informasi yang didapatkan dari informan-iforman yang berkaitan dengan penelitian ini. Disusun dari hasil penelitiaan yang dikumpulkan melalui wawancara dengan informan terkait, disusul dengan penggunaan metode studi kasus yang digunakan dalam peneitian ini agar dapat melihat lebih dalam lagi fakta-fakta yang berhasil terungkap di lapangan yang belum diketahu sebelumnya.
Analisa penelitian ini berfokus pada bagaimana strategi komunikasi yang digunakan dalam Pendidikan karakter di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang, hambatan yang ditemukan, dan solusi yang digunakan untuk mengatasi hambatan yang dialami.
4.3.1 Strategi komunikasi yang digunakan guru dalam Pendidikan karakter di kelas 2 TKJ 2
56
Dalam penelitian ini, peneliti menyajikan bagaimana strategi komunikasi yang digunakan oleh guru dalam Pendidikan karakter siswa-siswi di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang.
“Strategi pada hakekatnya merupakan perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai satu tujuan.” (Effendi, 1993:301)
Strategi komunikasi yang dipaparkan oleh informan menunjukkan bahwa di masa sekarang bukan lagi saatnya untuk anak-anak untuk mendengarkan saja.
Tetapi, siswa sudah harus aktif dengan mampu menerangkan, sementara guru hanya perlu mengarahkan dan mendengarkan. Sehingga tidak ada yang namanya
„siswa pasif‟ karena tidak pernah mau diandalkan.
Guru juga seorang profesional, memiliki keahlian untuk menjadikan peserta didiknya sebagai seorang pembelajar yang kompeten. Profesionalitas guru ini telah ditegaskan dalam UU No.20 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Menurut undang-undang tersebut untuk menjadi guru tidak cukup dengan ijasah sarjana (S1 dan D4), tetapi harus mengikuti pendidikan profesi guru (PPG). Sebagai seorang guru profesional, guru dituntut harus menguasai berbagai metode dan model pembelajaran, serta melaksanakan pembelajaran yang efektif, aktif, tepat, dan menyenangkan para anak didiknya.
Peneliti menemukan bahwa saat ini memang guru harus mau memutar otak, seperti apapun caranya agar guru tetap bisa mendidik anak didiknya tidak hanya disekolah saja. Namun guru juga sekarang sudah harus mulai masuk ke lingkungan anak didiknya secara langsung maupun tidak langsung dengan cara melalui pendekatan atau pantauan media social maupun mengadakan pertemuan
57
santai di luar jam belajar atau diluar sekolah, sehingga anak didik bisa lebih dekat dan merasa nyaman dengan guru tersebut.
Dalam langkah ini, wali kelas, guru, dan guru BK kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang mendekati anak didiknya dengan cara mempelajari tren masa kini agar eksistensinya bisa lebih diterima oleh anak-anak, serta lebih mudah mendekati dan memahami kehidupan anak didik tidak hanya di sekolah saja.
Apalagi saat ini sudah perkembangan teknnologi sangat pesat, dan mampu mengubah sikap anak. Maka dari itu guru pun sudah perlu untuk mempelajari hal- hal yang dilakukan oleh siswa-siswi mereka agar mereka paham dan mampu memantau perkembangan anak didiknya secara tidak langsung.
Jadi, strategi komunikasi akan lebih mudah jika kita menerapkan teori self disclosure menurut De Vito (2011) yaitu seseorang terbuka mengungkapkan informasi mengenai dirinya (pikiran, perasaan, dan perilaku).
Dari gambaran kerangka hasil temuan diatas, peneliti menjelaskan bahwa strategi komunikasi yang dirasa paling efektif dalam Pendidikan karakter adalah yang sesuai dengan kerangka diatas, yaitu sudah masanya untuk anak-anak lebih aktif di kelas, guru mengikuti perkembangan teknologi, mengadakan bimbingan kelompok yang lebih dari 10 orang atau bimbingan klasikal yang biasa dilakukan didalam kelas.
4.3.2 Hambatan yang ditemukan saat menjalankan strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang
58
Hambatan adalah sebuah halangan, rintangan, atau suatu keadaan yang tidak dikehendaki atau disukai kehadirannya, menghambat perkembangan seseorang, menimbulkan keuslitan baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan ingin atau perlu dihilangkan (Poerwandarminta, 1991).
Peneliti menemukan hambatan dari strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang. Yaitu sulitnya berkomunikasi dengan orang tua siswa karena tidak semua orang tua memiliki ponsel pintar untuk memiliki aplikasi chatting WhatsApp, guru menyediakan grup WhatsApp untuk orang tua agar guru di sekolah bisa terus melaporkan perkembangan anak didiknya, dan orang tua bisa melaporkan perkembangan anaknya dirumah kepada sang guru.
Hal itu menjadi hambatan karena mengingat kondii ekonomi yang tidak semua mampu untuk memiliki ponsel yang mendukung aplikasi chat. Orang tua justru membelikan ponsel pintar hanya untuk kebutuhan anaknya saja, maka dari itu terkadang guru menitipkan pesan melalui ponsel pintar anak didiknya untuk disampaikan ke orang tua.
Kedua, tingkat kesiangan yang tinggi sulit di hilangkan karena guru sangat mengerti keadaan pagi hari dengan lalu linta yang padat serta jalanan yang tidak terlalu besar untuk sampai ke sekolah SMK PGRI 1 Kota Serang, serta jauhnya jarak rumah ke sekolah. Terkadang guru harus menghubungi orang tua siswa untuk mengingatkan agar membangunkan anaknya lebih pagi lagi untuk meminimalisir tingkat kesiangan.
59
Ketiga, orang tua masih kurang kesadaran dengan malah mempercayakan sekolah anak kepada sekolah saja dengan tingkat kepercayaan 100%, sementara sang anak lebih banyak menghabiskan waktu diumah ketimbang disekolah. Orang tua kurang mengevaluasi apakah sang anak benar-benar pergi ke sekolah atau tidak,.
Dalam menjelaskan analisis hambatan strategi komunikasi dalam dunia Pendidikan, peneliti membuat kerangka berdasarkan informasi dari informan terkait sebagai berikut:
Dalam kerangka diatas dapat diuraikan bahwa ketiga hasil temuan tersebut adalah hambatan utama strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter siswa- siswi di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang. Ketiga hal tersebut masih dirasa sangat sulit untuk dihilangkan, namun masih bisa di minimalisir.
4.3.3 Solusi yang digunakan untuk strategi komunikasi dalam Pendidikan karakter siswa siswi kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang?
Pertama, memberikan siraman rohani kepada anak didik sebelum belajar mengajar dilaksanakan. Guna membuat anak didik merasa tenang, santai, dan nyaman. Lalu kedua, melakukan pendekatan mendalam dengan anak didik yang bermasalah atau sedang memiliki beban dalam kehidupan pribadinya.
Karena sejatinya, siwa yang memiliki beban dalam kehidupannya akan terlihat berbeda dengan siswa yang tidak memiliki beban pikiran. Maka dari itu tugas guru adalah mendekati mereka sesuai dengan teori self disclosure dan membuat sang anak aman, nyaman, dan terbuka sehingga timbul rasa percaya dan dapat menjalin hubungan yang akrab antar guru dan siswa. Guru pun
60
dapat memberikan solusi terbaiknya atau hanya sekedar menjadi teman bergai keluh kesah.
Ketiga, sekiranya masalah tersebut tidak bisa diselesaikan hanya oleh guru saja, maka pihak sekolah akan mempersilakan guru atau guru BK untuk melakukan home visit atau kunjungan ke rumah siswa-siswi yang berkaitan.
Teori self disclosure juga berlaku dalam komunikasi guru dengan orang tua murid, karena orang tua pun saat sudah tumbuh rasa aman dan percaya terhadap guru yang bersangkutan, maka mereka tidak akan ragu untuk mengungkapkan masalah pribadinya sehingga guru dapat memberikan solusi terbaiknya.
Berikut adalah kerangka dari Solusi yang digunakan dalam strategi komunikasi Pendidikan karakter:.
Gambar 4.4 Kerangka Hasil Penelitian Strategi Komunikasi Guru Dalam Pendidikan Karakter Siswa-Siswi Kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1
Kota Serang
Strategi komunikasi yang digunakan guru
dalam Pendidikan karakter siswa-siswi
di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota
Serang
Hambatan yang ditemukan
Solusi yang digunakan
Siswa- Siswi Dibiarkan
Aktif
Guru mengikuti perkembangan
Tidak semua orang tua memiliki ponsel
Tingkat kesiangan
masih tinggi
Melakukan siraman
rohani sebelum
belajar
Melakukan pendekatan
secara pribadi
61
Dari hasil kerangka analisis, peneliti mengemukakan bahwa strategi komunikasi guru dalam Pendidikan karakter di kelas 2 TKJ 2 SMK PGRI 1 Kota Serang dimulai dengan berstrategi melalui membiasakan anak untuk lebih aktif dari guru agar meminimalisir siswa-siwi yang pasif didalam kelas. Kemudian diusul dengan mengikuti perkembangan teknologi, agar tidak lepas pantauan dalam memantau sikap dan perilaku anak diluar sekolah. Serta mengadakan bimbingan kelompok, dan bimbingan klasikal.
Adapun hambatan yang ditemukan hanyalah terbatasnya komunikai dengan orang tua siswa karena tidak semua memiliki ponsel, serta anak didik masih sering kesiangan karena arus lalu lintas yang padat. Lalu sikap orang tua yang terlalu mempercayakan anaknya kepada sekolah, atau mempercayakan sekolah kepada anaknya setinggi 100% tanpa diadakan evaluasi antar orang tua dan anak.
62
Serta solusi yang digunakan adalah melakukan siraman rohani sebelum memulai belajar mengajar agar anak didik merassa nyaman dan yakin. pendekatan agar anak didik mau terbuka dan mau percaya terhadap gurunya, serta agar guru bisa membantu anak didiknya menyelesaikan masalah Bersama anak yang bersangkutan. Jika tidak bia diselesaikan empat mata saja, guru akan melakukan kunjungan atau home visit ke rumah siswa bersangkutan dan menyelesaikan masalahnya Bersama keluarga dari siswa tersebut.