• Tidak ada hasil yang ditemukan

Home - Open Access Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Home - Open Access Repository"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Hipertensi merupakan faktor risiko penting penyebab angka kematian dan kesakitan dari penyakit tidak menular kardiovaskular. Tekanan darah tinggi meningkatkan proses aterosklerosis otot jantung, otak dan ginjal, serta meningkatkan beban kerja jantung. Oleh karena itu, pasien hipertensi berisiko untuk berkembang terjadinya infark miokard, stroke, gagal ginjal dan gagal jantung. Hipertensi dapat menjadi penyebab langsung atau tidak langsung lebih dari 10-20% dari semua kematian (Hariyanto & Sulistyowati, 2015).

Berdasarkan data Word Health Organization (WHO) didapatkan kasus hipertensi dari tahun ketahun mengalami peningkatan, pada tahun 2019 prevalensi hipertensi berada pada 28,1% dan pada tahun 2020 prevalensi hipertensi di seluruh dunia mencapai 37,5% dan meningkat pada tahun 2021 yaitu sebesar 40,1%. Pada wilayah Asia Tenggara didapatkan prevalensi hipertensi berada pada 30,9 % pada tahun 2019, meningkat menjadi 36,1%

pada tahun 2020 dan pada tahun 2021 mengalami peningkatan kembali menjadi 40,1% dengan angka tertinggi berada pada negara-negara berkembang serta pada tahun 2022 mencapai 43,2% (WHO, 2023)

Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 prevalensi hipertensi di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 260 juta adalah 34,1%. Pada tahun 2019 prevalensi ini meningkat menjadi 39,7% dan pada tahun 2020 menjadi 40,1%, dan pada tahun 2021 menjadi 41,7%, tertinggi berdasarkan provinsi adalah di Kalimantan Selatan yaitu 44,3%, Untuk data tahun 2022 meningkat menjadi 45,7% tertinggi berdasarkan provinsi adalah di Papua yaitu 46,9%

(Direktorat P2 Kementrian Kesehatan, 2023).

(2)

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, prevalensi hipertensi di Kalimantan Selatan pada tahun 2019 berjumlah 23,79%. Pada tahun 2020 penderita Hipertensi di Kalimantan Selatan tercatat sebanyak 1.035.738 orang dan 28,8% sudah mendapatkan pelayanan kesehatan sedangkan untuk data tahun 2019 didapatkan 31,8% orang terdiagnosa hipertensi dan mendapatkan pengobatan. Tahun 2021 mencapai 30,9% dan pada tahun 2022 mencapai 33,1% (Profil Kesehatan Kalimantan Selatan, 2023). Data pasien hipertensi di RS Islam Banjarmasin didapatkan pasien hipertensi yang dirawat di ruang perawatan pada tahun 2020 berjumlah 223 pasien dirawat, dan meningkat pada tahun 2021 menjadi 366 pasien dan pada tahun 2022 sebanyak 522 orang. Kasus hipertensi yang dirawat di Ruang Al Biruni juga mengalami peningkatan, dari tahun 2020 sebanyak 107 pasien yang dirawat, tahun 2021 berjulah 119 pasien dan tahun 2022 sebanyak 129 pasien.

Hipertensi didefinisikan dsebagai peningkatan tekanan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg, dan peningkatan tekanan diastolik lebih besar atau sama dengan 90 mmHg. Hipertensi merupakan penyebab utama terjadinya gagal jantung, stroke dan gagal ginjal. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah, baik faktor yang dapat diubah maupun tidak.

Salah satu faktor yang dapat diubah adalah gaya hidup (life style), dimana gaya hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh pengetahuannya akan suatu penyakit.

Dan faktor yang tidak dapat diubah adalah genetik (Alim, 2020).

Penderita hipertensi pada umumnya cenderung mengalami stres psikososial yang merupakan reaksi tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan). Stresor psikososial terdiri dari stres adaptasi, frustasi, overload, dan deprivasi. Pada penderita hipertensi keadaan pikiran (yang meliputi stres, perasaan takut, atau cemas) akan berpengaruh terhadap pembacaan tekanan darah sewaktu dilakukan pemeriksaan tekanan darah.

Sehingga keadaan pikiran seperti stres, perasaan takut, atau cemas yang dialami oleh penderita hipertensi cenderung membuat tekanan darah

(3)

meningkat. Peningkatan tekanan darah ini diikuti dengan timbulnya tanda dan gejala yang menyertai seperti perasaan tidak nyaman di kepala, pusing, sakit kepala dan sakit daerah tungkuk, hal ini menjadi salah satu risiko terganggunya kualitas tidur pasien (Potter & Perry, 2019).

Pada penderita hipertensi keadaan stres yang terus-menerus akan mempengaruhi kualitas tidurnya, karena pada saat stres tubuh menghasilkan hormon yang disebut kortisol, hormon ini diproduksi oleh kelenjar adrenal.

Fungsinya membantu mengatur tekanan darah dan sistem kekebalan tubuh selama datangnya krisis, baik krisis fisik ataupun emosional. Kortisol baik untuk membentuk cadangan energi dan meningkatkan kemampuan tubuh melawan infeksi, namun kadar kortisol yang tinggi akan menyebabkan gangguan tidur pada seseorang karena menghambat produksi melatonin, yaitu suatu hormon yang mengatur ritme circadian dan berakibat pada kualitas tidur yang buruk pada penderita hipertensi (Alim, 2020)

Selain dapat menyebabkan perubahan kualitas tidur, dampak Hipertensi yang sangat berbahaya adalah dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi berbahaya bagi pasien yaitu terjadinya gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal apabila tidak ditangani dengan baik dan melakukan kontrol secara teratur serta mengendalikan hipertensinya (Potter & Perry, 2019).

Menurut Zeep Health Institute (2021), pasien yang mengalami kesulitan tidur selama dirawat di rumah sakit meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2019 sebesar 67,9% pasien dirawat menalami kesulitan tidur, pada tahun 2020 meningkat menjadi 69,1% dan pada tahun 2021 sampai bulan November mencapai 71,0%. Data dari WHO (2023) menemukan bahwa pasien yang mengalami kesulitan tidur saat dirawat di rumah sakit adalah Mencapai 72,9%.

Hal ini juga terjadi di Indonesia, pada tahun 2019 terdata 57,1% pasien mengalami kesulitan tidur, meningkat pada tahun 2020 menjadi 58,9% dan pada tahun 2021 menjadi 60,1%. Data pasien yang mengalami penurunan

(4)

kualitas tidur pada tahun 2022 didapatkan 62,1% (Sarjito, 2023). Sedangkan di Provinsi Kalimantan Selatan tercatat 47,9% pasien dirawat mengalami kesulitan tidur pada tahun 2019, meningkat menjadi 50,1% pada tahun 2020 dan pada tahun 2021 menjadi 52,5% dan pada tahun 2022 menjadi 52,9%

(Pirhadi, 2023).

Kualitas tidur adalah suatu keadaan tidur yang dijalani seorang individu menghasilkan kesegaran dan kebugaran saat terbangun. Seseorang dinyatakan memiliki kualitas tidur yang baik apabila tidur yang dirasakan individu membuat rasa nyaman, seseorang cepat jatuh dalam kondisi tidur, tidur teratur, lama tidur bagi orang dewasa lebih kurang 7 jam sehari, selama tidur tidak ngorok yang menyebabkan terbangun, tidak menggunakan obat-obatan tidur dan tidak ada aktivitas terganggu karena kurang tidur (Hidayat, 2018)

Penyebab dari penurunan kualitas tidur karena berbagai macam penyebab antara lain aktivitas fisik, stres emosional, obat-obatan, lingkungan, stimulan dan alkohol, diit dan penyakit (Mubarak, 2015).

Kualitas tidur dinilai dari tujuh komponen yaitu kualitas tidur subjektif, latensi tidur efisiensi tidur, durasi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur dan gangguan tidur yang dialami pada siang hari atau adanya gangguan pada kegiatan sehari-hari diakibatkan oleh perasaan mengantuk. Pengukuran kualitas tidur yang menjadi standar penilaian kualitas tidur adalah menggunakan kuisioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) (Nurhayati, 2020). Kualitas tidur yang buruk pada penderita hipertensi akan memperburuk penyakitnya karena beban kerja jantung meningkat, sehingga menyababkan tekanan darah yang tinggi pada penderita hipertensi saat dilakukan pemeriksaan tekanan darah. Kualitas tidur yang buruk berhubungan dengan meningkatnya resiko hipertensi, dan dengan demikian akan meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular (Potter & Perry, 2019)

(5)

Penatalaksanaan terhadap kualitas tidur yang buruk dapat dibagi yaitu secara farmakologis dan non farmakologis. Pemberian obat-obatan sebagai terapi kualitas tidur dapat menimbulkan efek negatif, menyebabkan penderita gangguan tidur mengalami ketergantungan obat sehingga kualitas tidur yang baik tidak akan tercapai. Penatalaksanaan non farmakologis saat ini sangat dianjurkan, karena tidak menimbulkan efek samping dan dapat memandirikan lansia untuk dapat menjaga kesehatan mereka sendiri (Haryadi, 2013). Salah satu pengobatan secara non farmakologis dalam mengatasi gangguan tidur adalah teknik relaksasi otot progresif. Teknik relaksasi otot progresif diperkenalkan oleh Edmund Jacob tahun 1929 dengan buku Progressive Relaxation. Latihan relaksasi otot progresif merupakan kombinasi latihan pernafasan dan rangkaian kontraksi serta relaksasi kelompok otot (Alim, 2020)

Teknik relaksasi otot progresif adalah memusatkan perhatian pada suatu aktifitas otot, dengan mengidentifikasi otot yang tegang kemudian menurunkan ketegangan dengan melakukan teknik relaksasi untuk mendapakan perasaan relaks. Relaksasi otot progresif juga dapat melatih otot kepala, leher lengan dan punggung terkontrol, cara kerjanya berlawanan dengan sistem syaraf simpatis sehingga tercapai keadaan rilek dan tenang. Perasaan rilek ini di teruskan ke hipotalamus untuk menghasilakan Corticotropin Releasing Factor (CRF) yang nantinya akan menstimulasi kelenjar pituitary untuk meningkatkan hormon Endhorphin, Enkhefalin dan Serotonin (Ramdhani & Putra, 2018).

Latihan relaksasi progresif yang dilaksanakan 15-30 menit, satu kali sehari secara teratur selama satu minggu cukup efektif dalam menurunkan insomnia karena dapat memberikan efek pemijitan halus pada berbagai kelenjar-kelenjar pada tubuh, menurunkan produksi kortisol dalam darah, mengembalikan pengeluaran hormon yang secukupnya sehingga memberi keseimbangan emosi dan ketenangan pikiran. Waktu pelaksanaan teknik relaksasi otot progresif untuk meningkatkan kualitas tidur ini dilakukan maksimal 1 jam sebelum atau sesudah kebiasaan klien tidur setiap hari, hal ini secara tidak langsung mampu

(6)

menyiapkan tubuh untuk merasakan relaks sehingga meningkatkan rangsangan untuk mengantuk (Sitralita, 2018).

Penelitian Sunaringtyas (2018) menemukan bahwa pada penderita hipertensi mengalami kualitas tidur yang buruk akibat dari keluhan yang muncul yaitu pusing, nyeri dileher bagian belakang, stress, kecemasan dan keletihan. Lansia dengan hipertensi akibat manifestasi yang di alami tersebut, maka dapat menggangu tidurnya sehingga berpengaruh terhadap tekanan darahnya.

Setelah di lakukan relaksasi otot progresiaf (85%) respon kualitas tidurnya baik. Hal ini sesuai hasil penelitian, setelah dilakukan relaksasi otot progresif kualitas tidur pasien baik (85%). Karena pasien lebih tenang, seluruh otot tubuh lebih relaks, maka hormon melatonin terslimulasi, yang berfungsi sebagai regulasi siklus tidur. Penelitian ini didukung oleh penelitian Amanda (2019) yang menemukan bahwa terdapat penurunan rata-rata kualitas tidur pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah diberikan relaksasi otot progresif, dalam penelitian ini terdapat beberapa aspek kualitas tidur yang diukur yaitu tinggi rendahnya kualitas tidur, lama tidur, latensi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat dan gangguan aktivitas pada perempuan menopause.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Rumah Sakit Islam Banjarmasin di ruang Al-Biruni pada tanggal 18 Desember 2022 sampai 22 Desember 2022 dengan melakukan wawancara kepada pasien hipertensi yang dirawat sebanyak 10 orang pasien, didapatkan keterangan bahwa semua pasien mengeluhkan tidak bisa tidur dan sering terbangun sejak mengalami hipertensi. Pasien juga ditanya alasan tidak bisa tidur yaitu 8 orang menyatakan karena merasa pusing atau kepala terasa berat atau tidak enak dan 2 orang menyatakan karena berada di lingkungan baru (ruang perawatan) sehingga tidak terbiasa tidur tidak dirumah sendiri. Pasien juga ditanyakan tentang cara mengatasi tidak bisa tidur yang dialami pasien, semuanya menajawab tidak ada, hanya melaporkan dengan dokter dan mendapatkan obat untuk tidur.

(7)

Berdasarkan gambaran diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas tidur pasien yang menderita hipertensi tergangu dan selama dirawat tidak dilakukan upaya non farmakologis dalam mengatasi kualitas tidur pasien. Data-data dari permasalah diatas menyebabkan peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang “Pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi di ruang Al-Biruni Rumah Sakit Islam Banjarmasin”.

1.2 Rumusan masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah apakah ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi di ruang Al-Biruni Rumah Sakit Islam Banjarmasin?

1.3 Tujuan penelitian 1.3.1 Tujuan umum

Mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi di ruang Al-Biruni Rumah Sakit Islam Banjarmasin.

1.3.2 Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

a. Mengidentifikasi kualitas tidur pada pasien hipertensi sebelum dilakukan relaksasi otot progresif di ruang Al-Biruni Rumah Sakit Islam Banjarmasin

b. Mengidentifikasi kualitas tidur pada pasien hipertensi sesudah dilakukan relaksasi otot progresif di ruang Al-Biruni Rumah Sakit Islam Banjarmasin

c. Menganalisis pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi di ruang Al-Biruni Rumah Sakit Islam Banjarmasin.

1.4 Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat pada berbagai pihak meliputi:

(8)

1.4.1 Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan pengembangan Ilmu pengetahuan keperawatan khususnya keperawatan dasar.

1.4.2 Praktis

1.4.2.1 Bagi Perawat

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi perawat tentang pentingnya melakukan tindakan keperawatan mandiri dalam membantu meningkatkan kualitas tidur pasien.

1.4.2.2 Bagi Pasien

Hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan wawasan kepada pasien tentang pentingnya mencegah terjadinya hipertensi dan cara sederhana untuk mendapatkan tidur yang berkualitas.

1.4.2.3 Bagi Rumah Sakit

Hasil dari peneltian ini dapat dipakai untuk memberikan gambaran kepada rumah sakit tentang pentingnya memberikan alternatif non farmakologis untuk meningkatkan kualitas tidur 1.4.2.4 Bagi Institusi Pendidikan

Memberikan gambaran kepada institusi pendidikan tentang pentingnya melengkapi referensi tentang tindakan keperawatan mandiri dan alternatif untuk mahasiswa.

1.4.2.5 Bagi Peneliti lain

Memberikan gambaran dan bahan referensi untuk penelitian lebih lanjut tentang cara meningkatkan kualitas tidur pada pasien hipertensi lainnya seperti meditasi, penggunaan herbal dan zikir.

1.5 Penelitian Terkait

Penelitian sejenis yang dapat dijadikan bahan referensi adalah :

1.5.1 Penelitian Amanda, Steffy Putri (2019) dengan judul” Pengaruh

(9)

Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kualitas Tidur Pada Perempuan Menopause”. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur. Desain penelitian ini menggunakan Quasi Eksperimen dengan pre and post test with control group.

Populasi dalam penelitian adalah perempuan menopause di Puskesmas Gondokusuman II Yogyakarta. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 perempuan menopause tehnik pengambilan sampel menggunakan probability sampling. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), Uji mengunakan Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relaksasi otot progresif dapat meningkatkan kualitas tidur pada perempuan menopause.

Perbedaan dengan penelitian ini tujuan penelitian yaitu mengetahui Pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi di Ruang perawatan RS Islam Banjarmasin. Desain penelitian menggunakan Pre test dan post test. Populasi semua pasien hipertensi yang dirawat di Ruang Al Biruni. Sampel diambil dengan metode purpossive sampling berjumlah 32 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).

Analisis data dalam penelitiaan ini menggunakan analisis Univariat dan Analisis Bivariat (wilcoxon signed rank test). Hasil penelitian didapatkan bahwa terbanyak kualitas tidur pada pasien hipertensi sebelum dilakukan relaksasi otot progresif adalah buruk yaitu sebesar 23 responden atau 71,9%, kualitas tidur pada pasien hipertensi sesudah dilakukan relaksasi otot progresif terbanyak adalah baik yaitu sebesar 30 Responden atau 93,8% dan ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi dengan hasil uji wilcoxon ρ = 0,000

1.5.2 Penelitian oleh Faridah, Virgianti Nur (2020) berjudul “Literature Review: Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kualitas Tidur Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis”

(10)

Tujuan penelitian ini untuk mengkaji dengan literature review pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pasien penyakit ginjal kronis. Desain dalam penelitian menggunakan literatur review. Populasi adalah 4 database (Scopus, Science Direct, Google Scholar, dan Pubmed) untuk mencari jurnal dengan kriteria jurnal yang terbit tahun 2015-2020. Instrumen yang di gunakan adalah menggunakan flow diagram PRISMA 2009. Hasil penelitian didapatkan terapi relaksasi otot progresif dapat meningkatkan kualitas tidur pasien penyakit ginjal kronik.

Perbedaan dengan penelitian ini tujuan penelitian untuk mengetahui Pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi di Ruang perawatan RS Islam Banjarmasin. Desain penelitian ini menggunakan Pre test dan post test. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien hipertensi yang dirawat di Ruang Al Biruni. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan metode purpossive sampling berjumlah 32 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data menggunakan analisis Univariat dan Analisis Bivariat (wilcoxon signed rank test). Hasil penelitian didapatkan bahwa terbanyak kualitas tidur pada pasien hipertensi sebelum dilakukan relaksasi otot progresif adalah buruk yaitu sebesar 23 responden atau 71,9%, kualitas tidur pada pasien hipertensi sesudah dilakukan relaksasi otot progresif terbanyak adalah baik yaitu sebesar 30 Responden atau 93,8% dan ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi dengan hasil uji wilcoxon ρ = 0,000

1.5.3 Penelitian Fitriyani, Nisa Alfira (2020) dengan judul “Terapi Relaksasi Otot Progresif Dalam Meningkatkan Kualitas Tidur Pasien Hipertensi:

Study Kasus”. Tujuan penelitian mengetahui gambaran kualitas tidur Responden hipertensi dengan terapi relaksasi otot progresif di RSUD Ciamis. Desain penelitian menggunakan jenis desain kualitatif dengan

(11)

menggunakan pendekatan studi kasus. Populasi dari penelitian ini adalah pasien hipertensi dengan sampelnya adalah 2 orang kasus hipertensi. Instrumen penelitian PSQI. Uji statistik menggunakan wilcoxon. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa pada kedua pasien hipertensi setelah diberikan tindakan relaksasi otot progresif kualitas tidurnya ada yang baik dan ada yang masih buruk, tetapi terjadi penurunan nilai PSQI setiap harinya.

Perbedaan dengan penelitian ini antara lain tujuan penelitian untuk mengetahui Pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi di Ruang perawatan RS Islam Banjarmasin.

Desain penelitian ini menggunakan Pre test dan post test. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien hipertensi yang dirawat di Ruang Al Biruni RS Islam Banjarmasin. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan metode purpossive sampling berjumlah 32 orang.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dalam penelitiaan ini menggunakan analisis wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian didapatkan bahwa terbanyak kualitas tidur pada pasien hipertensi sebelum dilakukan relaksasi otot progresif adalah buruk yaitu sebesar 23 responden atau 71,9%, kualitas tidur pada pasien hipertensi sesudah dilakukan relaksasi otot progresif terbanyak adalah baik yaitu sebesar 30 Responden atau 93,8% dan ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi dengan hasil uji wilcoxon ρ = 0,000

1.5.4 Penelitian Aprilyawan, Grenda (2021) dengan judul “Pengaruh Relaksasi Otot Progresif terhadap Kualitas Tidur Lansia”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Jara Mara Pati Kabupaten Buleleng. Desain penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian pre eksperimen dengan desain one group pre test-post test design dalam satu kelompok.

(12)

Populasi dalam penelitian adalah seluruh lansia yang mengalami insomnia di Panti Sosial Tresna Werdha Jara Mara Pati Kab. Buleleng.

Total sampel dalam penelitin ini sebanyak 25 responden, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling.

Pengambilan data menggunakan lembar kuesioner. Uji statistik menggunakan paired sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan sesudah diberikan terapi relaksasi otot progresif yaitu minimal 3 dan maksimal 15 dengan mean 8,72, median 8,00, modus 12, dan standar deviasi 3,247, maka dapat disimpulkan ada perubahan tingkat insomnia dari sebelum dan sesudah diberikan terapi relaksasi otot progresif. Dari hasil uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test didapatkan p- value (0,000) ≤ α (0,05) artinya H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya terdapat pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur (insomnia) pada lansia.

Perbedaan dengan penelitian ini antara lain tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi di Ruang perawatan RS Islam Banjarmasin.

Desain penelitian ini menggunakan Pre test dan post test. Populasi adalah semua pasien hipertensi yang dirawat di Ruang Al Biruni RS Islam Banjarmasin. Sampel diambil dengan metode purpossive sampling berjumlah 32 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data dalam penelitiaan ini menggunakan analisis wilcoxon signed rank test.

Hasil penelitian didapatkan bahwa terbanyak kualitas tidur pada pasien hipertensi sebelum dilakukan relaksasi otot progresif adalah buruk yaitu sebesar 23 responden atau 71,9%, kualitas tidur pada pasien hipertensi sesudah dilakukan relaksasi otot progresif terbanyak adalah baik yaitu sebesar 30 Responden atau 93,8% dan ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi dengan hasil uji wilcoxon ρ = 0,000

(13)

1.5.5 Penelitian Manitu, Indrawan (2022) berjudul “Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kualitas Tidur Mahasiswa Stikes Husada Mandiri Poso”. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur mahasiswa.

Desain penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasy experiment dengan pretest dan post test with control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Stikes Husada Mandiri Poso, yang melibatkan 64 responden dengan teknik stratified proportional random sampling. dengan mengunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini di dapatkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur mahasiswa. Relaksasi otot progresif dapat mengaktifkan saraf parasimpatik untuk merangsang hipotalamus memproduksi serotonin yang dapat menimbulkan tidur.

Perbedaan dengan penelitian ini antara lain tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi di Ruang perawatan Rumah Sakit Islam Banjarmasin. Desain penelitian menggunakan Pre test dan post test.

Populasi adalah semua pasien hipertensi yang dirawat di Ruang Al Biruni RS Islam Banjarmasin. Sampel diambil dengan metode purpossive sampling berjumlah 32 orang. Instrumen yang digunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis data menggunakan analisis Univariat dan Analisis Bivariat (wilcoxon signed rank test).

Hasil penelitian didapatkan bahwa terbanyak kualitas tidur pada pasien hipertensi sebelum dilakukan relaksasi otot progresif adalah buruk yaitu sebesar 23 responden atau 71,9%, kualitas tidur pada pasien hipertensi sesudah dilakukan relaksasi otot progresif terbanyak adalah baik yaitu sebesar 30 Responden atau 93,8% dan ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur pada pasien hipertensi dengan hasil uji wilcoxon ρ = 0,000

Referensi

Dokumen terkait

PENGARUH LATIHAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA LANSIA.. DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA KASIH

Beda Pengaruh Kualitas Tidur Sebelum dan Sesudah Pemberian Relaksasi Otot Progresif pada Kelompok Perlakuan dan Kontrol di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta 38 C. 41

kualitas tidur pada lanjut usia di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta. Untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas. tidur pada kelompok perlakuan di Panti

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tekanan darah sistolik sebelum relaksasi otot progresif, mengetahui tekanan darah sistolik sesudah relaksasi otot

Oma Y berusia 71 tahun sebelum dilakukan relaksasi progresif menunjukkan kualitas tidur yaitu sering terbangun ditengah malam hari dikarenakan sering BAK pada saat itu dan sulit

Ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur petani penyadap karet Di PTPN XII Kebun Kalisanen yang ditunjukkan adanya perbedaan antara kualitas

APLIKASI RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KUALITAS TIDUR PADA WANITA MENOPAUSE KARYA ILMIAH AKHIR NERS KIAN Diajukan kepada Universitas Katolik Musi Charitas untuk memenuhi

Pengaruh Teknik Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia Pasien Hipertensi Di Puskesmas Muliorejo Tahun 2020: Hipertensi, Teknik relaksasi otot Progresif,