i
BACA SISWA KELAS IV SDN SUNGGUMINASA III GOWA
SKRIPSI Disusun oleh:
Muh Khairul Aswar 10540970015
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2020
ii
iii
iv
v
vi
vii
“maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”
(QS. Al-Insyirah: 5-6)
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang berimn dan mengerjakan kebajikan serta salin menasehati untuk kebenaran dan
saling menasehati untuk kesabaran”
(QS. Al-Asr:1-3)
PERSEMBAHAN
Kuperuntukkan karya sederhana ini Sebagai baktiku kepada Ayahanda dan Ibundaku serta kepada rekan-rekan yang senantiasa memberi dukungan
dalam peroses pembuatan karya ini dengan segenap harapan terbaik dan do’a
saya haturkan kepada rekan-rekan
viii
MENUMBUH KEMBANGKAN MINAT BACA SISWA SDN SUNGGUMINASA III GOWA
Muh Khairul Aswar
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Budaya Literasi melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dalam menumbuhkembangkan minat baca siswa di SD Negeri Sungguminasa III Gowaberdasarkan dari segi implementasi serta peran pihak sekolah dalam mendukung program GLS di SD Negeri Sungguminasa III Gowa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Adapun objek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri Sungguminasa III Gowa tahun ajaran 2015/2016. Sumber data dalam penelitian ini terbagi atas dua yakni sumber data primer dan data sekunder yang diperoleh dari wawancara, kuesioner (angket), observasi, studi dokumentasi, studi kepustakaan. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan 3 tahap yaitu data reduction, data display, dan Conclusion drawing/Verification. Program GLS di SD Negeri Sungguminasa III Gowa mulai diterapkan pada tahun 2016 yang merupakan bentuk kebijakan pemerintah dalam mewujudkan budaya literasi bagi siswa melalui kegiatan membaca 15 menit setiap dari seblum pelajaran dimulai, sebagaimana tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa: (1) Budaya literasi melalui implementasi GLS dalam menumbuhkembangkan minat baca peserta didik SD Negeri Sungguminasa III Gowa belum berjalan efektif dari segi tahap- tahap pelaksanaan. Namun, melalui tahap pembiasaan dalam wujud menumbuhkembangkan minat baca siswa SD Negeri Sungguminasa III Gowa telah dilihat dari kegiatan siswa di dalam kelas sebelum memulai pelajaran, telah membiasakan diri untuk membaca selama 15 menit. (2) Peran pihak sekolah dalam mendukung program GLS di SD Negeri Sungguminasa III Gowa melalui penyediaan sarana dan pasarana, serta arahan dan motivasi guru maupun pustakawan terhadap siswa dalam tahap pembiasaan merupakan wujud kerjasama seluruh pihak sekolah SD Negeri Sungguminasa III Gowa dalam menumbuhkembangkan minat baca siswa.
Kata kunci : Budaya Literasi, Minat Baca, Sekolah Dasar
ix
Dengan menyebut syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya Penulis dapat meneyelesaiakn tugas penyusun proposal penelitian dengan judul “Budaya Literasi Melalui Program GLS dalam Menumbuh Kembangkan Minat Baca Siswa SD Negeri Sungguminasa III Gowa”.
Selama proses penulisan proposal ini, kami mengalami beberapa hambatan. Namun adanya doa restu, dan doronagn dari berbagai pihak menjadikan kami bersemangat untuk melanjutkan penulisan proposal ini. Untuk itu dengan segala bakti penulis memberikan penghargaan setinggi-setinggi dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Orang tua tercinta yang telah membantu kami dalam segi material maupun dalam segi motivasi salam penulian proposal ini.
2. Dr. Andi Sukri Syamsuri M.Pd Selaku Dosen Pembimbing.
3. Teman- teman seperjuang yang juga selalu memberikan motivasi dan berbagi pendapat mengenai penulisan proposal ini.
Akhir kata semoga proposal penelitian ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya untuk pembaca
Makassar, 08 Juli 2017
Penulis
x
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBARAN PENGESAHAN ... ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN. ... iii
ABSTRAK. ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL. ... vi
DAFTAR GAMBAR. ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 2
A. Latar Belakang ... 2
B. Rumusan Masalah... 7
C. Tujuan ... 7
D. Manfaat ... 7
BAB II LANDASAN TEORI ... 10
A. Penelitian Terdahulu ... 10
B. Tinjauan Pustaka... 12
1. Budaya Literasi ... 12
2. Minat Baca ... 21
3.Sekolah Dasar ... 25
C. Kerangka Berpikir ... 29
BAB III METODE PENELITIAN ... 32
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 32
B. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 33
C. Data dan Sumber Data ... 33
D. Teknik Pengumpulan Data ... 34
E. Teknik Analisis Data ... 36
DAFTAR PUSTAKA ... 68
xi
Tabel 3.1 Sampel Penelitian Murid Kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3 Tabel 3.2 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi Tabel 4.1 Respon Murid terhadap Angket Program GLS
Tabel 4.2 Minat Baca Murid Kelas IV
Tabel 4.3 Perhitungan Untuk memperoleh koefisien korelasi antara kebijakan gerakan literasi sekolah dengan hasil belajar murid
Tabel 4.4 pedoman untuk memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi
xii Gambar 2.1 Kerangka pikir
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rendahnya minat baca merupakan masalah dalam mencapai kemampuan berbahasa siswa, termasuk di dalamnya adalah keterampilan membaca yang memiliki banyak manfaat dalam perkembangan bahasa siswa.
Keterampilan membaca merupakan salah satu dasar bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan. Membaca merupakan suatu proses memahami isi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca, mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna. Melalui kegiatan membaca siswa mampu memperoleh banyak pengetahuan. Oleh sebab itu, guru sebaiknya memiliki perhatian khusus dalam kompetensi membaca ini karena selain manfaatnya yang besar bagi siswa, membaca merupakan kegiatan yang kompleks. Dengan membaca seseorang dapat memperluas cakrawala berfikir yang kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan (Dahlan, 2008:21) Membaca juga dapat dijadikan sebagai media informasi, kenyataannya saat ini beberapa masyarakat Indonesia masih minim dalam mengimplementasikan budaya literasi.
Menumbuhkan budaya literasi pada siswa memang tidaklah mudah, dibutuhkan keseriusan pihak tenaga pendidik untuk melakukannya. Inti literasi yaitu membaca, berpikir dan menulis sangat diperlukan siswa untuk menyelesaikan studi, melanjutkan studi, mempersiapkan diri memasuki dunia pekerjaan, dan belajar sepanjang hayat di tengah masyarakat. Sehingga
2
apabila literasi dijadikan metode pengembangan kegiatan pembelajaran di sekolah berarti aktivitas pembelajaran yang dirancang guru bertumpu pada kegiatan membaca, berpikir dan menulis dan kegiatan yang biasa menyertainya, seperti berdiskusi, memecahkan masalah, mengembangkan proposal kegiatan, meneliti dan melaporkannya. Literasi seakan mutlak dimiliki oleh setiap individu yang hidup ditengah kencangnya arus global tak terkecuali masyarakat Indonesia. Survei yang dilakukan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia walaupun sebagai salah satu Negara didunia yang menempati urutan ke lima terbesar dengan jumlah penduduk terbanyak, namun faktanya berbanding terbalik dengan kemampuan dalam menciptakan ekosistem literat.
Jumlah penduduk Indonesia hasil survei penduduk oleh Badan Pusat Statistik tahun 2012 (BPS) memaparkan bahwa penduduk Indonesia berumur 10 tahun keatas pada tahun 2012 yang gemar membaca surat kabar/ majalah yakni 17.66 % dan mengalami penurunan pada tahun 2015 sebanyak 4,55 % sehingga tersisa 13,11 %. Berbeda dengan penduduk yang gemar menonton yakni 91,68 % (2012) dan mengalami peningkatan ditahun 2015 yakni 91,68
% yang merupakan hasil dominan dari empat opsi yang di sediakan oleh BPS.
Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa hampir mayoritas penduduk Indonesia 10 tahun keatas lebih gemar menonton dibandingkan membaca dan juga merupakan salah satu rendahnya minat baca penduduk indonesia. Hal tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah dalam mewujudkan Indonesia
3
menjadi negara berpengetahuan tinggi setara dengan negara maju lainnya, dan merupakan kesadaran yang harus diubah kedepannya.
Budaya literasi di Indonesia sejatinya harus berbanding lurus dengan jumlah penduduknya. Hasil penelitian Programme for Internasional Student Assessment (PISA) menyatakan, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia.
Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut.Sementar Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar,pada penelitian yang sama,PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. PISA menyatakan, tidak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi ditingkat kelima, hanya 0,4% siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat empat. Selebihnya di bawah tingkat tiga, bahkan di bawah tingkat satu. Hal tersebut membuktikan bahwa kurangnya minat baca masyarakat Indonesia.
Minat baca masyarakat Indonesia tercatat oleh UNESCO pada tahun 2012 yang menyatakan baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Ia menilai rendahnya budaya literasi Indonesia, salah satu penyebabnya karena pejabat dan birokrat pendidikan tidak paham tentang literasi itu sendiri. Akibatnya, literasi tidak menjadi bagian dari kurikulum termasuk dalam kurikulum 2013. Memang masalah yang sangat kompleks ketika minat baca dikalangan pejabat Indonesia saja sudah sangat kurang sebagaimana dicatat oleh penelitian UNESCO diatas.
4
Indonesia sebagai salah satu negara yang telah berhasil mengurangi angka buta huruf. Data UNDP tahun 2014 mencatat bahwa tingkat kemelekhurufan masyarakat Indonesia mencapai 92,8% untuk kelompok dewasa, dan 98,8% untuk kategori remaja.Capaian ini sebenarnya menunjukkan bahwa Indonesia telah melewati tahapan krisis literasi dalam pengertian kemelekhurufan. Meskipun demikian, hasil penelitian tersebut tidak serta merta menjadikan masyarakat Indonesia berbangga diri, karena nyatanya tantangan yang saat ini dihadapi adalah rendahnya minat baca sehingga menjadi salah satu tugas pemerintah dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat. Upaya pemerintah dalam meminimalisir rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yakni dengan mengeluarkan suatu kebijakan seperti yang tertuang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan Budi Pekerti,menggunakan 15 menit waktu sebelum pembelajaran dimulai untuk memebaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Hal tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia.
Minat baca pada tingkat sekolah dasar juga harus segera ditanamkan pada siswa, karena dengan menimbulkan dan menanamkan kebiasaan baca pada siswa, maka secara tidak langsung keterampilan membaca siswa akan semakin terasah. Keterampilan membaca yang dimiliki dapat mendorong siswa dalam membahami informasi secara analitis, kritis dan reflektif. Oleh karena itu, sekolah-sekolah tingkat satuan dasar yang ada di indonesia sudah mulai menerapkan budaya baca hampir secara keseluruhan. Penerapan minat baca yang diterapkan dalam penelitian ini adalah melalui jenjang pendidikan
5
tingkat satuan hpendidikan sekolah dasar, yang sangat mempengaruhi perkembangan anak ke jenjang selanjutnya yaitu pada masa remaja.
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang menjadi salah satu langkah pemerintah dalam menanamkan serta menumbuhkan minat baca. Gerakan Literasi Sekolah selain bertujuan untuk membangun karakter peserta didik juga bertujuan untuk menjadikan lingkungan sekolah menjadi lingkungan pembelajar sepanjang hayat dengan membudayakan membaca dan menulis (literasi). Kebijakan mengenai Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah banyak diimplementasikan pada jenjang pendidikan tingkat satuan pendidikan, baik pada Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menegah Pertama (SMP), serta Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menegah Kejuruan (SMK). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) tidak hanya menjurus untuk membangkitkan minat baca pada siswa saja, namun lebih mengarah kepada menciptakan warga sekolah yang literat, Dalam penerapannya pun berlangsung secara bertahap.
Peran guru dalam menerapkan gerakan literasi sekolah (GLS) menjadi bagian integral didalamnya. Sebagai tenaga pendidik yang selalu berusaha untuk mengembangkan kompetensi dan profesionalismenya sudah seharusnya berperan aktif dalam program gerakan literasi sekolah ini. Tenaga pendidik, dalam hal ini adalah guru berperan sebagai pelopor budaya literasi di sekolah dan pemberi motivasi, terlibat aktif berarti senantiasa berpartisipasi dalam setiap kegiatan.
Gerakan Literasi Sekolah di Kota Makassar sudah lama digagas oleh pihak pemerintah. Dalam reportasependidikan.com 20/10/2016, siswa kelas IV SDN Sungguminasa III Gowa yang didampingi oleh Syamsurya,
6
S.Pd selaku wali kelasnya melakukan kunjungan ke salah satu toko buku di Makassar beliau mengatakan bahwa “kegiatan ini berkaitan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia yakni membuat laporan kunjungan sekaligus memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih buku sesuai minat dan keinginannya masing-masing. Beragam metode yang digunakan oleh guru-guru dalam meningkatkan budaya baca di sekolah melalui gerakan literasi sekolah.
SDN Sungguminasa III Gowa juga sudah memulai program pemerintah ini sejak lama Membaca 15 menit menjadi sesuatu yang wajib yang ada di sekolah SDN Sungguminasa III Gowa . Dengan adanya budaya membaca 15 menit yang dilakukan setiap pagi sebelum memulai pelajaran akan menjadi suatu kebiasaan yang positif bagi siswa SDN Sungguminasa III Gowa. Budaya membaca melalui gerakan literasi sekolahdi SDN Sungguminasa III Gowa akan terus dikembangkan melalui metode membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran maupun metode lain.
Penelitian kali ini akan mengkaji lebih mendalam minat baca di SDN Sungguminasa III Gowa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) terhadap peningkatan minat baca peserta didik Sungguminasa III Gowa dan mengetahui hasil implementasi program pemerintah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dalam menumbuhkan minat baca peserta didik SDN Sungguminasa III Gowa dengan judul Hubungan Budaya Literasi Melalui Program GLS dalam Menumbuhkembangkan Minat Baca Siswa SD Negeri Sungguminasa III Gowa
7 B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Bagaimanakah hubungan implementasi progam Gerakan Literasi Sekolah terhadap perkembangan minat baca pada murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa III Kabupaten Gowa ?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang hubungan progam Gerakan Literasi Sekolah terhadap perkembangan minat baca pada murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa III Kabupaten Gowa.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat (teoritis)
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan khususnya dalam kajian hubungan Implementasi Gerakan Literasi Sekolah tehadap peningkatan minat baca siswa maupun warga sekolah.
2. Manfaat praktis.
a. Bagi pemerintah
8
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mulai membumikan budaya literasi di indonesia dengan menelurkan kebijakan berupa Gerakan Literasi Nasional yang tujuannya agar literasi dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, dengan adanya penelitian ini dapat memberikan referensi kepada pihak pemerintah untuk melaksanakan pengembangan dalam pengambilan setiap kebijakan yang berkaitan dengan penerapan budaya literasi.
b. Bagi sekolah
Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Sungguminasa III Gowa dengan maksud untuk mengetahui budaya literasi melalui Gerakan Literasi Sekolah di SD Negeri Sungguminasa III Gowa.
Dengan mengetahui hasil implementasi budaya literasi melalui Gerakan Literasi Sekolah. Pihak sekolah dapat menganalisis berbagai kekurangan maupun kelebihan terhadap minat baca siswa SD Negeri Sungguminasa III Gowa sehingga dapat melakukan pengembangan secara berkelanjutan.
c. Bagi guru
Sebagai seorang tenaga pendidik yang berfungsi memberikan arahan kepada siswa, tentang materi yang akan dipelajari tentunya harus mempunyai wawasan yang luas dan mempunyai banyak referensi tentang mata pelajaran yang akan diajarkan oleh siswa. Manfaat praktis yang didapatkan oleh pihak tenaga pendidik dalam hal ini adalah guru ketika dilakukan
9
penelitian yaitu proses pengejawantahan budaya literasi dengan Gerakan Literasi Sekolah yang akan di transformasi oleh guru ke siswa akan lebih mudah.
d. Bagi siswa
Siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat sudah sejatinya proses pembelajaran itu dilakukan dengan membaca.
Seperti yang kita ketahui bahwa penelitian ini berorientasi pada penelitian budaya baca.
e. Bagi pembaca
Bagi pembaca dapat menambah referensi maupun wawasan tentang khasanah ilmu pengetahuan budaya literasi . f. Bagi peneliti
Manfaat penelitian ini bagi peneliti dapat memberikan manfaat yang sangat banyak salah satu diantaranya adalah wawasan serta pengalaman yang sangat berguna dikemudian hari jika menghadapi ujian skripsi maupun hal-hal yang berkaitan dengan penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan peneliti dalam melakukan penelitian sehingga peneliti dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu, peneliti tidak menemukan penelitian dengan judul yang sama seperti judul penelitian peneliti. Namun peneliti mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam memperkaya bahan kajian pada penelitian ini. Berikut merupakan penelitian terdahulu berupa beberapa skripsi terkait dengan penelitian yang dilakukan peneliti.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wulandari (2017) Skripsi Universitas Negeri Yogyakarta dengan judul “Implementasi Kebijakan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar Islam Terpadu Lukman Al Hakim Internasional”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar dalam meningkatkan budaya literasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian ini membahas implementasi kebijakan gerakan literasi sekolah disekolah dasar Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang sudah ada. Penilitian ini akan berfokus pada implementasi kebijakan gerakan literasi sekolah disekolah dasar. Melihat bagaimana program ini dijalankan dengan berbagai faktor yang dapat mendukung maupun menjadi penghambat. Penelitian ini menjadi menarik karena akan melihat proses dibalik jalannya sebuah kebijakan yang
menjadi penentu dari keberhasilan gerakan ini dalam meningkatkan budaya literasi pada siswa sekolah dasar.
Sofa (2010). Skripsi ini membahas tentang penerapan literasi informasi melalui penulisan proyek penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Penelitian ini membahas tentang proses penelitian yang dikaitkan dengan beberapa aspek literasi seperti pemanfaatan perpustakaannya. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa langkah-langkah dalam penulisan penulisan proyek penelitian hampir sama dengan model literasi yang ada. Dari penelitian ini juga disarankan agar perpustakaan dilibatkan dalam penulisan proyek penelitian sebagai tempat sumber literasi.”
Rianthi (2010) , telah melakukan penelitian dengan judul
“Peningkatan Minat Baca Anak melalui Mendongeng: Studi Kasus di Perpustakaan Pustaka Kelana Rawamangun”. Pada penelitian tersebut kegiatan yang dilakukan Perpustakaan Kelana untuk meningkatkan minat baca anak melalui kegiatan mendongeng di perpustakaan. Berdasarkan hasil penelitian, anak yang gemar mendengarkan mendongeng memiliki minat membaca yang cukup baik.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang sudah ada. Penilitian ini berfokus pada program gerakan literasi sekolah disekolah dasar. Penelitian ini akan melihat proses dibalik jalannya sebuah kebijakan dan hubungan program literasi dalam meningkatkan minat baca pada siswa sekolah dasar.
B. Tinjauan Pustaka 1. Budaya Literasi a. Pengertian Literasi
Menurut Harras dalam Suwandi (2015 :6), menyatakan bahwa Literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis atau kadang disebut dengan istilah “melek aksara” atau keberaksaraan. Sedangkan menurut Wiedarti (2016: 2 ) Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya.
Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Yang dikenal dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi , misalnya literasi computer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy) Jadi, keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melekteknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik (Permatasari 2015 :3). Representasi budaya tekstual atau budaya literasi dalam aktivitas akademik berbentuk kegiatan membaca,
menulis dan presentasi lisan berdasarkan teks merupakan rutinitas yang harus dilakukan oleh seluruh warga kampus, terutama oleh mahasiswa dan staf pengajar(Syahrani 2013 : 159 ).
Berdasarkan beberapa defenisi diatas mengenai literasi, dapat diartikan bahwa literasi adalah kemampuan seseorang dalam membaca maupun menulis atau dapat disebut melek aksara. Namun seiring perkembangan zaman, pengertian literasi semakin meluas bahkan hampir mencakup seluruh bidang ilmu pengetahuan sehingga tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis namun juga pada kemampuan analisis.Beragam macam kemampuan literasi disesuaikan dengan bidang yang berhubungan.
Adapun tahap-tahap pembentukan atau program dalam membangun Budaya literasi menurut (Permatasari 2015 :8) yakni sebagai berikut.
1) Kita perlu memperbaiki kualitas dan pemerataan pendidikan agar bisa mendorong tingkat melek huruf yang lebih tinggi. Infrastruktur (fasilitas) dan suprastruktur (sumber daya manusia) perlu dikembangkan hingga menjangkau pelosok Tanah Air. Jangan sampai ada masyarakat di pedalaman Nusantara yang masih sulit belajar garagara tidak ada sekolah, kekurangan guru, atau minim fasilitas lain. Negara bertanggung jawab memenuhi fasilitas pendidikan bagi warganya.
2) Kita bangun lebih banyak perpustakaan di semua daerah sebagai tempat yang nyaman untuk membaca, jumlah koleksi buku yang banyak, dan menawarkan kegiatan yang menarik.
3) Dibutuhkan program-program berkelanjutan untuk lebih memperkenalkan buku dan mendorong minat baca buku ke sekolah dan masyarakat umum. Jangan terpaku pada seremoni, tetapi fokus pada terobosan yang lebih membumi dan memikat kaum muda untuk membaca.
4) Dari sisi penerbit, kita dorong agar semakin banyak buku diterbitkan, terutama buku-buku yang berkualitas dari berbagai bidang. Kian banyak tawaran buku menarik, kian banyak alternatif bacaan bagi masyarakat.
5) Kita dukung kekuatan masyarakat madani untuk bersama-sama pemerintah dan semua pihak membangun peradaban membaca buku.
Bentuknya bisa berupa pendirian taman bacaan hingga ke pelosok Nusantara, program pendorong membaca, atau langkah-langkah lain yang mungkin diambil untuk memprovokasi kaum muda agar mencintai buku.
Peraturan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.Dalam Permendikbud tertera bahwa salah satu kegiatan wajib siswa dalam mengembangkan potensi diri peserta didik secara utuh yakni Menggunakan 15 menit waktu sebelum hari pembelajaran dimulai untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap
hari).Pada implementasinya, Pemerintah dalam upaya menumbuhkan gemar membaca pada masyarakat yakni melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) serta Gerakan Literasi Bangsa (GLB).
Menurut Irsyad (2015 :96), menyatakan bahwa Untuk mendukung berkembangnya kondisi sekolah yang berbudaya literasi seperti yang diharapkan, sekurang-kurangnya kepala sekolah mampu (1) menentukan arah perubahan, (2) menyeleraskan hubungan kerja SDM di sekolah, dan (3) meningkatkan motivasi berprestasi. Ketiga indikator tersebut mencakup keseluruhan dari program pemerintah melalui Geakan Literasi Sekolah.
b. Pengertian GLS (Gerakan Literasi Sekolah)
Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS (Gerakan Literasi Sekolah) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara (Retnaningdyah,dkk 2016: 2). Selain itu, GLS (Gerakan Literasi Sekolah) juga merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik (Sutrianto,dkk, 2016: 2).
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa melalui GLS (Gerakan Literasi Sekolah), seluruh warga sekolah diharapkan dapat membudayakan serta mewujudkan ekosistem yang literat dalam berbagai aktivitas pendidikan.
c. Tujuan GLS (Gerakan Literasi Sekolah)
GLS (Gerakan Literasi Sekolah) dalam implementasinya memiliki tujuan sebagai berikut.
1) Tujuan Umum
Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
2) Tujuan khusus
a) Menumbuhkankembangkan budaya literasi di sekolah.
b) Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat.
c) Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengeola pengetahuan.
d) Menjaga kebelanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca(Wiedart,dkk, 2016: 5).
Tujuan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) pada intinya adalah untuk menumbuhkembangkan budaya literasi agar tercipta ekosistem yang literat.
d. Prinsip-Prinsip GLS (Gerakan Literasi Sekolah)
Dalam penerapannya, GLS memiliki Prinsip-prinsip meliputi:
1) perkembangan literasi berjalan sesuai tahapan pengembangan yang diprediksi,
2) program literasi bisa berimbang,
3) program literasi berlangsung di semua kurikulum,
4) tidak ada istilah terlalu banyak membaca dan menulis yang bermakna, 5) diskusi dan strategi bahasa lisan, serta,
6) keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah (Supiandi2016: 7).
e. Tahapan GLS (Gerakan Literasi Sekolah)
Dalam buku Saku Gerakan Literasi Sekolah, ada tiga tahap dalam pelaksanaan GLS (Geakan Literasi Sekolah), yakni sebagai berikut .
1) Tahap Pembiasaan yakni, Penumbuhan minat bacamelalui kegiatan 15 menit membaca(Permendikbud No. 23 Tahun 2015).
2) Tahap Pengembangan yakni, Meningkatkan kemampuan literasimelalui kegiatan menanggapibuku pengayaan.
3) Tahap Pembelajaran yakni, Meningkatkan kemampuan literasi disemua mata pelajaran: menggunakanbuku pengayaan dan strategimembaca di semua mata pelajaran (Antoro, 2016: 9)
Tahap pembiasaan pada kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan untuk menumbuhkan minat peserta didik terhadap materi bacaan dalam kegiatan membaca. Secara tidak langsung, dengan menerapkan kegiatan membaca buku, baik itu buku fiksi maupun non fiksi serta yang berkenaan dengan materi pembelajaran akan menjadi bentuk pengayaan dalam tahap pembiasaan. Dalam Buku panduan gerakan literasi sekolah di Sekolah Dasar, adapun prinsip-prinsip Kegiatan membaca dan penataan lingkungan kaya literasi pada tahap pembiasaan, meliputi:
1) buku yang dibaca/dibacakan adalah buku bacaan, bukan buku teks pelajaran.
2) buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik. Peserta didik diperkenankan untuk membaca buku.
yang dibawa dari rumah.
3) kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini tidak diikuti oleh tugas-tugas menghafalkan cerita, menulis sinopsis, dan lain-lain.
4) kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini dapat diikuti dengan diskusi informal tentang buku yang dibaca/
dibacakan, atau kegiatan yang menyenangkan terkait buku yang dibacakan apabila waktu memungkinkan. Tanggapan dalam diskusi dan kegiatan lanjutan ini tidak dinilai/dievaluasi.
5) kegiatan membaca/membacakan buku di tahap pembiasaan ini berlangsung dalam suasana yang santai dan menyenangkan.
Gurumenyapa peserta didik dan bercerita sebelum membacakan buku dan meminta mereka untuk membaca buku(Faizah, 2016:18)
Tahap pengembangan pada kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan untuk mempertahankan minat peserta didik dalam hal bacaan serta kegiatan membaca, yang dapat meningkatkan kelancarannya maupun pemahaman membaca peserta didik. Pada tahap pengembangan terdapat prinsip-prinsip meliputi :
1) buku yang dibaca/dibacakan adalah buku selain buku teks pelajaran.
2) buku yang dibaca/dibacakan adalah buku yang diminati oleh peserta didik.
3) peserta didik diperkenankan untuk membaca buku yang dibawa dari rumah.
4) kegiatan membaca/membacakan buku di tahap ini dapat diikuti oleh tugastugas menggambar, menulis, kriya, seni gerak dan peran untuk menanggapi bacaan, yang disesuaikan dengan jenjang dan kemampuan peserta didik.
5) penilaian terhadap tanggapan peserta didik terhadap bacaanbersifatnon-akademik dan berfokus pada sikap peserta didik dalam kegiatan. Masukan dan komentar pendidik terhadap karya peserta didik bersifat memotivasi mereka.
6) kegiatan membaca/membacakan buku berlangsung dalam suasana yang menyenangkan (Faizah, 2016: 30).
Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran yakni memiliki tujuan untuk mempertahankan minat peserta didik dalam hal bacaan serta kegiatan membaca untuk serta meningkatkan kecakapan literasi peserta didik melalui buku-buku pengayaan dan buku teks pelajaran. Dalam tahap pembelajaran, terdapat beberapa prinsip-prinsip meliputi:
1) kegiatan membaca disesuaikan dengan kemampuan literasi (jenjang kemampuan membaca dan menulis) peserta didik dan tujuan kegiatan membaca.
2) kegiatan membaca bervariasi, dengan memberikan porsi yang seimbang untuk kegiatan membacakan nyaring, membaca mandiri, membaca terpandu, dan membaca bersama.
3) guru memanfaatkan buku-buku pengayaan fiksi dan non-fiksi untuk memperkaya pemahaman peserta didik terhadap materi ajar dan buku teks pelajaran.
4) pengajaran berfokus pada proses, dan bukan pada hasil. Peserta didik berbagi dan mendiskusikan draf pekerjaannya untuk mendapat masukan dari guru dan teman.
5) kegiatan menanggapi bacaan mempertimbangkan kecerdasan majemuk dan keragaman gaya belajar peserta didik.
6) guru melakukan pemodelan dan pendampingan terhadap peserta didik (Faizah, 2016: 63)
Melalui tahap pembiasaan, tahap pengembangan serta tahap pembelajaran menjadi suatu struktur penerapan GLS (Gerakan Literasi Sekolah) pada tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar yang mengacu pada peningkatan minat baca peserta didik agar tercipta lingkungan sekolah yang literat.
2. Minat Baca
a. Pengertian Minat Baca
Sinambela dalam Sudarsana dan Bastiano (2010: 4.27) mengartikan minat membaca adalah sikap positif dan adanya rasa keterikatan dalam diri anak terhadap aktivitas membaca dan tertarik terhadap buku bacaan. Menurut Lilawati dalam Sudarsana dan Bastiano (2010: 4.27) minat baca adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga mengarahkan individu untuk membaca dengan kemauannya sendiri. Rahim (2011: 28) menyebutkan minat baca merupakan keinginan yang kuat disertai usaha seseorang untuk membaca.
Dalman (2014: 141) mendefinisikan minat baca sebagai dorongan untuk memahami kata demi kata dan isi yang terkandung dalam teks bacaan, sehingga pembaca dapat memahami hal-hal yang dituangkan dalam bacaan itu.Sedangkan pengertian minat baca menurut Tarigan dalam Dalman (2014: 141) adalah kemampuan seseorang berkomunikasi dengan diri sendiri untuk menangkap makna yang terkandung dalam tulisan, sehingga memberikan pengalaman emosi akibat dari perhatian yang mendalam terhadap makna bacaan.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa minat baca adalah keinginan kuat yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan membaca atas kemauannya sendiri dan didasari dengan perasaan senang.Dalam kegiatan membaca tersebut,
seorang pembaca juga memiliki keinginan untuk dapat memahami makna yang dimaksud penulis dalam tulisannya.
b. Tujuan Minat Membaca
Secara umum, tujuan orang membaca adalah untuk mendapatkan suatu informasi (pengetahuan dan wawasan) baru.
Namun dalam kenyataanya, terdapat tujuan khusus dari kegiatan membaca seperti yang diungkapkan oleh Darmono,yaitu :
1) membaca untuk tujuan kesenangan.
Termasuk dalam kategori ini adalah membaca novel, surat kabar, majalah dan komik. Bacaan yang dijadikan objek kesenangan menurut David Eskey adalah sebagai bacaan ringan.
2) membaca untuk meningkatkan pengetahuan.
Seperti pada membaca buku-buku pelajaran, buku ilmu pengetahuan, kegiatan membaca untuk meningkatkan pengetahuan.
3) membaca untuk melakukan suatu pekerjaan.
Misalnya, para mekanik perlu membaca buku petunjuk dan ibu-ibu membaca booklet tentang resep masakan.
c. Faktor yang Memengaruhi Minat Baca
Dalam usaha pembinaan minat baca, tentu terdapat faktor- faktor yang memengaruhi minat baca seseorang. Bunata dalam Dalman (2014: 142- 143) menjelaskan bahwa minat baca ditentukan oleh beberapa faktor, sebagai berikut.
1) Faktor lingkungan keluarga.
Di tengah kesibukan sebaiknya orang tua menyisihkan waktu untuk menemani anaknya membaca buku, dengan begitu orang tua dapat memberikan contoh yang baik dalam meningkatkan kreativitas membaca anak.
2) Faktor kurikulum dan pendidikan sekolah yang kurang kondusif Kurikulum yang tidak secara tegas mencantumkan kegiatan membaca dalam suatu bahan kajian, serta staf tenaga kependidikan baik guru maupun pustakawan yang tidak memberikan motivasi pada siswa bahwa membaca itu penting untuk menambah ilmu pengetahuan, melatih berpikir kritis, menganalisis persoalan, dan sebagainya.
3) Faktor infrastruktur masyarakat yang kurang mendukung peningkatan minat baca.
Kurangnya minat baca masyarakat bisa dilihat dari kebiasaan sehari-hari. Banyak orang yang memilih menghabiskan uang untuk hal lain daripada membeli buku.
Orang juga kadang lebih suka pergi ke tempat hiburan daripada ke toko buku, mereka hanya pergi ke toko buku atau perpustakaan bila memang diperlukan.
4) Faktor keberadaan dan kejangkauan bahan bacaan.
Sebaiknya pemerintah daerah mengadakan program perpustakaan keliling atau perpustakaan tetap di tiap-tiap daerah agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemahaman bacaan menurut Pandawa dalam Arisma (2012: 29). Faktor-faktor tersebut adalah: 1) faktor kognitif, 2) faktor afektif, 3) faktor teks bacaan,dan 4) faktor penguasaan bahasa. Faktor yang pertama berkaitan dengan pengetahuan, pengalaman, dan tingkat kecerdasan (kemampuan berpikir) seseorang. Faktor kedua berkaitan dengan kondisi emosional, sikap, dan situasi. Faktor ketiga berkaitan dengan tingkat kesukaran dan keterbacaan suatu bacaan yang dipengaruhi oleh pilihan kata, struktur, isi bacaan, dan penggunaan bahasanya.
Selanjutnya faktor terakhir berkaitan dengan tingkat kemampuan berbahasa yang berkaitan dengan penguasaan perbendaharaan kata, struktur, dan unsur-unsur kewacanaan.
Berdasarkan beberapa pendapat mengenai faktor-faktor yang memengaruhi minat baca seseorang, peneliti dapat menyimpulkan bahwa faktor personal dari dalam diri anak mempengaruhi minat baca anak itu sendiri, seperti tingkat kecerdasan,emosional, sikap,dan situasi.
Selain itu faktor dari lingkungan serta sarana dan prasarana yang memadai dalam mendukung kegiatan membaca juga berpengaruh terhadap minat baca seorang anak. Dikarenakan faktor lingkungan yang efektif juga menjadi salah satu alasan dan dorongan anak untuk membaca, seperti dengan ketersediaan buku bacaan maupun tempat untuk membaca yang nyaman seperti perpustakan.
3. Sekolah Dasar
a. Pengertian Sekolah Dasar
Desmita dalam Dheni Purwanti (2015 : 30), menyatakan bahwa Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah dasar adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Pasal 17 mendefinisikan pendidikan dasar sebagai berikut: (1) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah;
(2) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.
b. Fase Sekolah Dasar
Suryosubroto dalam Dheni Purwanti (2015 : 30), menganggap bahwa usia sekolah sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif anak-anak lebih mudah dididik daripada masa sebelum dan sesudahnya.Menurutnya masa ini dapat diperinci menjadi dua fase, yaitu sebagai berikut.
1) Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar
Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini antara lain sebagai berikut.
a) Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dengan prestasi di sekolah.
b) Adanya sikap yang cenderung untuk mematuhi peraturan- peraturan permainan yang tradisional.
c) Ada kecenderungan memuji diri sendiri.
d) Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain kalau hal itu dirasanya menguntungkan untuk meremehkan anak lain.
e) Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting.
f) Pada masa ini (terutama pada umur 6 - 8) anak menghendaki nilai (angka rapor) yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
2)Masa kelas-kelas tinggi sekolah dasar
a) Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret, hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis.
b) Amat realistik, ingin tahu, dan ingin belajar.
c) Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus.
d) Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orangorang dewasa lainnya.
e) Anak-anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Di
dalam permainan ini biasanya anak tidak lagi terikat pada peraturan permainan yang tradisional, mereka membuat peraturan sendiri.
c. Tujuan Sekolah Dasar
Sekolah dasar merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan enam tahun.Sekolah dasar merupakan bagian dari pendidikan dasar (Bafadal, 2003:3).
Pendidikan sekolah dasar sebagai jenjang paling dasar pada pendidikan mempunyai peran besar bagi keberlangsungan proses pendidikan selanjutnya. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 pasal 17 ayat 1 yang menyebutkan bahwa
“pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah”. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk Satuan Pendidikan Dasar (Tahun 2007 Semester I dan II) dijelaskan bahwa “Tujuan Pendidikan Dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlaq mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut Muhaimin dalam Norhafizah,dkk (2012:
53). Sebagai satu bentuk satuan pendidikan, sekolah dasar merupakan satuan pendidikan yang paling penting keberadaanya.Setiap orang mengakui bahwa tanpa menyelesaikan pendidikan pada sekolah dasar atau yang sederajat, secara formal seseorang tidak mungkin dapat mengikuti pendidikan di SLTP.Besarnya peranan pendidikan di sekolah dasar sangat disadari oleh semua negara di dunia (Bafadal 2003:11).
d. Karakteristik Siswa Sekolah Dasar
Setiap siswa dan kelompok kelas memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda, sehingga perlakuan yang sama terhadap semua siswa dan kelompok kelas justru akan mengakibatkan kurang maksimalnya proses pembelajaran. Oleh karenanya salah satu tahap penting dalam proses perencanaan pembelajaran yang penting adalah melakukan analisis karakteristik siswa. Dimana karakteristik siswa di tingkat sekolah dasar itu berbeda dengan mereka yang berada pada tingkat sekolah menengah. Pola pikir, persepsi dan cara mengatasi masalah yang mereka tempuh sangat berbeda. Pada masa anak-anak kecenderungan untuk melakukan imitasi kepada seseorang yang diidolakan sangat besar.Sementara para remaja ingin sekali diakui eksistensi mereka sebagai manusia yang utuh, dewasa dan dapat menentukan jalan hidup sendiri. Masa kanak- kanak adalah masa bermain dan belajar. Beban yang berat pada sekolah terkadang mengurangi hak-hak mereka untuk bermain.
Sehingga yang terjadi mereka cenderung malas dan bosan pada saat belajar di dalam kelas, karena mereka menghadapi situasi pembelajaran yang nyaris sama (Alfin, 2015).
Sukiman, dkk (2016:5) mengungkapkan bahwa Karakteri stik umum anak Sekolah Dasar antara lain:
1) senang bermain terutama mereka yang di kelas-kelas awal.
2) mulai memasuki masa pubertas.
3) aktif bergerak.
4) masih belum bisa duduk diam pada waktu yanglama.
5) mempunyai rasa ingin tahu yang besar.
6) masih lebih mudah memahami hal-hal yang bersifat konkret.
7) mulai berpikir logis dan bias memecahkan masalah sederhana.
8) mulai mencari sendiri hal-hal yang mereka ingin ketahui.
9) mulai memasuki masa pubertas.
10) senang bekerja dalam kelompok dan mulai tidak bergantung pada kehadiran orang dewasa.
C. Kerangka Berpikir
Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen.Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian.Pertautan antar variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigma penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir (Sugiyono, 2010:60 ).
Peraturan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dalam Permendikbud tercantum bahwa salah satu kegiatan wajib siswa dalam mengembangkan potensi diri peserta didik secara utuh, yakni Menggunakan 15 menit waktu sebelum hari pembelajaran dimulai untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Pelaksanaanya merupakan
implementasi dari program pemerintah itu sendiri yakni Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Sri Wahyuningsih, dkk 2016 :2). GLS dalam implementasinya yakni peserta didik dibiasakan untuk membaca selama 15 menit sebelum memulai pelajaran setiap hari.Peran guru dalam hal ini yakni mengarahkan peserta didik serta menuntun dalam pembiasaan, pengembangan, serta pembelajaran sebagai tahapan menumbuhkembangkan budaya literasi siswa.
Salah satu tingkat satuan pendidikan di Kota Makassar yang telah mengimplementasikan kebijakan pemerintah dalam mewujudkan budaya literasi dikalangan Sekolah Dasar yakni SD Negeri Sungguminasa III Gowa bjyang berlokasi di JL. Andi baso erang No. 6, RT/RW 1/2, Dsn.
Sungguminasa, Kec. Somba Opu, Kab. Gowa, Prov. Sulawesi Selatan. Terkait penerapan GLS pada SD Sungguminasa III Gowa, peneliti berinisiatif untuk mengetahui adanya hubungan budaya literasi terhadap peningkatan minat baca peserta didik.
Kerangka pikir tersebut dapat digambarkan dengan bagan berikut:
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir
D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan dari uraian kajian teoritis dan kerangka pikir di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah “Tedapat Peningkatan Minat Baca pada peserta didik SDN Sungguminasa III Gowa ditinjau dari penerapan GLS oleh guru dalam pembiasaan membaca 15 menit”
Implementasi GLS
Tidak ada Hubungan Ada Hubungan
Peran Guru dalam Menumbuhkan Budaya Literasi Siswa
Menyimak Membaca Berbicara Menulis
Analisis
Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 Penumbuhan Budi Pekerti Literasi
BAB III
METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
1. Pendekatan
Berdasarkanpadapendekatannya,penelitian ini secara garis besar merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Menurut Bunging (2005:48-49) Penelitian kuantitatif deskriptif digunakan untuk menggambarkan, menjelaskan, atau meringkaskan berbagai kondisi, situasi, fenomena, atau berbagai variabel penelitian menurut kejadian sebagaimana adanya yang dapat dipotret, diwawancara, diobservasi, serta yang dapat diungkapkan melalui bahan-bahan documenter.
2. Jenis Penelitian
Secara lebih spesifik, penelitian ini merupakan jenis penelitian survei. Survei sendiri merupakan salah satu dari beberapa metode penelitian yang termasuk ke dalam penelitian kuantitatif.
Menurut Singarimbun (2006) pengertian survei pada umumnya dibatasi pada penelitian yang datanya dikumpulkan dari sampel atau populasi untuk mewakili seluruh populasi. Dengan demikian, penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok.
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian
33
Menurut Sugiyono (2014: 297) populasi adalah wilayah
generalisasi yang terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3 Kabupaten Gowa yang terdiri dari 25 orang laki-laki dan 15 orang perempuan dengan total keseluruhan yaitu 40 murid.
2. Sampel Penelitian
Menurut Sugiyono (2014: 297) sampel adalah “sebagian dari populasi itu. Sehingga sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Berdasarkan pendapat tersebut, maka peneliti
menggunakan teknik sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Jadi, sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seluruh murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3 yang berjumlah 40 murid. Berikut rinciannya.
Tabel 3.1 Sampel Penelitian: Murid Kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3
No. Kelas Jenis Kelamin
Jumlah
L P
1. IV 25 15 40
Sumber : Dokumen profil kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3
C. Prosedur Penelitian
Tahap – tahap penelitian ex-post facto korelasi yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Memilih subjek penelitian yaitu guru kelas dan murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3 Kabupaten Gowa dan subjek uji coba instrument kuisioner (angket) pada murid .
2. Menyusun kisi-kisi dan instrument pengumpulan data yang berupa angket
3. Menguji cobakan instrument pengumpul data pada subjek uji coba instrument.
4. Menganalisa data dan dari hasil uji coba instrument untuk mengetahui apakah instrument yang disusun telah valid dan reliabel.
5. Melaksanakan penelitian dengan membagikan instrument angket kepada sampel penelitian.
6. Menghitung data yang diperoleh untuk mengetahui hubungan dan tingkat keterhubungan antara komunikasi guru dengan hasil belajar murid pada mata pelajaran IPS kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3 Kabupaten Gowa.
7. Interpretasi hasil analisis data.
D. Definisi Operasional Variabel
Menurut Sugiyono (2014: 63) variabel penelitian pada dasarnya adalah
“segala sesuatu yang berbentuk apa aja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, demikian ditarik kesimpulannya”.
Pada penelitian ini, penulis mengambil dua variabel yaitu : 1. Variabel Independen (bebas)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kemampuan komunikasi guru. Kemampuan komunikasi guru yang dimaksud merupakan kemampuan guru dalam memahami dan mendesain informasi, memilih dan menggunakan saluran atau media, serta kemampuan komunikasi antar pribadi dalam proses pembelajaran sehingga murid mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
2. Variabel Dependen (terikat)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku dan kemampuan secara keseluruhan yang dimiliki oleh murid setelah belajar yang wujudnya berupa kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.
E. Instrument Penelitian
Dalam penelitian ini, instrument yang disiapkan adalah sebagai berikut.
1. Daftar Pertanyaan
Daftar pertanyaan ini dimuat dalam bentuk angket tertutup, yakni tiap- tiap item (soal/pertanyaan) tersedia alternatif jawaban sehingga responden tinggal memilih. Adapun alternatif jawaban yang disediakan yaitu:
a. Sangat setuju, dalam artian bahwa apa yang dilakukan guru dalan proses pembelajaran dikerjakan secara terus menerus, tidak pernah tidak dikerjakan dengan diberikan skor 4.
b. Setuju, dalam artian bahwa apa yang dilakukan guru selama proses pembelajaran kerap dikerjakan dengan diberikan skor 3.
c. Tidak setuju, maksudnya adalah adakalanya dikerjakan atau sekali- kali dikerjakan oleh guru dengan skor 2.
d. Sangat tidak setuju, dalam artian pernah dilakukan diberikan skor 1.
2. Dokumentasi
Untuk dokumentasi alat yang digunakan yaitu kamera, peneliti
menggunakannya untuk mengambil foto atau gambar dalam proses penelitian.
F. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu : 1. Angket atau Kuisioner
Menurut Sugiyono (2014: 193) angket/kuisioner adalah “teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya”.
Dalam penelitian ini angket yang digunakan adalah angket tertutup. Angket ini akan diberikan kepada murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3 Kabupaten Gowa sebanyak 1 kali untuk mengetahui pendapat murid mengenai
kemampuan komunikasi guru dalam proses pembelajaran.
2. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan cara mengumpulkan data yang ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film
dokumenter, data yang relevan dengan penelitian. Dokumentasi dalam
penelitian ini digunakan untuk memperkuat data penelitian, yang berupa data
hasil belajar murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3 dan gambar/foto yang menggambarkan kegiatan penelitian.
G. Teknik Analisis Data
Menurut Sugiyono (2014: 333) teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh. Hasil yang dimaksud adalah wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun maupun orang lain.
Untuk mencari signifikasi korelasi antara dua variabel bisa menggunakan rumus korelasi product moment. Rumus yang digunakan adalah :
rxy n xy ( x)( y)
√n x2 ( x)2 √n y2 ( y)2
Keterangan :
rxy = angka indeks korelasi product moment N = sampel
xy jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y x jumlah seluruh skor x
y jumlah seluruh skor y
Tabel 3.2 Pedoman untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat lemah
0,20 – 0,399 Lemah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat kuat
Sumber : Sugiyono (2014:242) dalam bukunya metode penelitian kombinasi
Pada langkah terakhir dalam pengolahan data adalah menghitung Koefisien Determinasi (KD) dengan rumus :
KD = r² x 100%
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Hasil Analisis Deskriptif
Hasil analisis deskriptif menunjukkan tentang hubungan antara program GLS dengan minat baca murid SD Negeri Sungguminasa 3 Kabupaten Gowa.
Analisis deskriptif yang dilakukan oleh peneliti dalam hal ini tidak terbatas dengan menganalisis data-data baik dari hasil angket, namun juga dengan cara dokumentasi langsung di kelas. Dalam penelitian ini jumlah sampel yang mewakili populasi diambil dari kelas IV sebanyak 40 murid. Penerapan GLS dalam tahap pembiasaan tidak lepas daripada kontrol langsung dari pihak Guru dalam mengarahkan peserta didik untuk membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. kegiatan tersebut merupakan wujud pembiasaan dan penanaman dini mengenai pentingnya membaca. Pihak guru maupun pustakawan turut andil dalam memotivasi siwa di SD Negeri Sungguminasa 3 Gowa dalam mewujudkan budaya membaca atau budaya literasi
a. Data Pogram GLS
Langkah pertama yang peneliti lakukan sebelum menganalisis data, terlebih dahulu peneliti menentukan data yang akan dianalisis.
Untuk datanya diperoleh dari angket yang diberikan pada murid kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3 dan untuk hasil angket yang diisi oleh murid dapat dilihat pada lampiran. Untuk analisis data, peneliti menguraikan terlebih dahulu rekapitulasi nilai hasil pengisian angket tentang program GLS yang terdiri dari beberapa tabel yang berhubungan dengan analisis data sebagai berikut :
39
Table 4.1 Respon Murid terhadap Angket Program GLS
Nomor Respo
nden
A(4 )
B(3 )
C(2 )
D(1 )
Jumla h As pe k
Jumla h Sk or
R 1 9 3 5 3 20 58
R 2 8 6 6 0 20 62
R 3 10 8 2 0 20 68
R 4 8 3 3 6 20 53
R 5 11 8 1 0 20 70
R 6 17 2 1 0 20 76
R 7 10 3 7 0 20 63
R 8 16 3 1 0 20 75
R 9 13 7 0 0 20 73
R 10 13 7 0 0 20 73
R 11 13 7 0 0 20 73
R 12 13 7 0 0 20 73
R 13 12 8 0 0 20 72
R 14 15 5 0 0 20 75
R 15 11 5 4 0 20 67
R 16 11 8 1 0 20 70
R 17 12 8 0 0 20 72
R 18 11 8 1 0 20 69
R 19 14 6 0 0 20 74
R 20 12 7 1 0 20 71
R 21 16 4 0 0 20 76
R 22 14 6 0 0 20 74
R 23 19 1 0 0 20 79
R 24 18 2 0 0 20 78
R 25 19 10 0 0 20 70
R 26 11 7 2 0 20 69
R 27 10 9 1 0 20 69
R 28 11 9 0 0 20 71
R 29 20 0 0 0 20 80
R 30 20 0 0 0 20 80
R 31 12 7 1 0 20 71
R 32 14 4 0 2 20 70
R 33 11 8 1 0 20 70
R 34 13 6 1 0 20 72
R 35 13 6 1 0 20 72
R 36 9 10 1 0 20 68
R 37 14 6 0 0 20 74
R 38 17 3 0 0 20 77
R 39 13 7 0 0 20 72
R 40 15 4 1 0 20 74
Jumlah 2853
Rata-Rata 71,325
Sumber : Hasil angket murid kelas IV
Untuk mengetahui skor rata-rata, maka peneliti menggunakan rumus :
∑
= 71,325
Keterangan : Mx = Mean
x = Jumlah nilai X N = Jumlah Sampel
b. Data Minat baca murid
Minat Baca yang dimaksud adalah nilai-nilai yang diperoleh murid selama proses penrapan program GLS. Nilai yang diambil peneliti adalah nilai yang diberikan oleh guru mengenai tinkat minat baca murid yang bersangkutan kemudian di rata-ratakan.
Adapun nilai yang diperoleh peneliti dari nilai rata-rata minat baca murid yang diajar oleh guru A sebagai berikut.
Tabel 4.2 Minat Baca Murid Kelas IV No Nama Guru / Tingkat
Minat Baca Murid
Responden ke
Nilai Rata-Rata
Murid Kategori
1 Guru A / Sangat baik
R 1 75 Baik
2 R 2 75 Baik
3 R 3 85 Sangat baik
4 R 4 75 Baik
5 R 5 80 Sangat baik
6 R 6 90 Sangat baik
7 R 7 75 Baik
8 R 8 85 Sangat baik
9 R 9 90 Sangat baik
10 R 10 90 Sangat baik
11 R 11 85 Sangat baik
12 R 12 80 Sangat baik
13 R 13 90 Sangat baik
14 R 14 85 Sangat baik
15 R 15 80 Sangat baik
16 R 16 90 Sangat baik
17 R 17 90 Sangat baik
18 R 18 90 Sangat baik
19 R 19 70 Baik
20 R 20 85 Sangat baik
21 R 21 80 Sangat baik
22 R 22 90 Sangat baik
23 R 23 90 Sangat baik
24 R 24 90 Sangat baik
25 R 25 85 Sangat baik
26 R 26 80 Sangat baik
27 R 27 90 Sangat baik
28 R 28 85 Sangat baik
29 R 29 95 Sangat baik
30 R 30 95 Sangat baik
31 R 31 90 Sangat baik
32 R 32 85 Sangat baik
33 R 33 85 Sangat baik
34 R 34 85 Sangat baik
35 R 35 85 Sangat baik
36 R 36 75 Baik
37 R 37 85 Sangat baik
38 R 38 85 Sangat baik
39 R 39 80 Sangat baik
40 R 40 85 Sangat baik
Sumber : Daftar Nilai Kelas IV SD Negeri Sungguminasa 3
Berdasarkan tabel 4.2 minat baca murid dapat dikualifikasi. Data
mengenai hasil minat baca semester I tahun ajaran 2019/2020 dapat dilihat pada nilai rata-ratanya dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
∑
= 84,625
Keterangan : Mx = Mean
x = Jumlah nilai X N = Jumlah Sampel
Dari tabel tersebut dapat kita lihat bahwa kebijakan gerakan literasi sekolah berhubungan pada minat baca murid. Murid yang memiliki nilai yang sangat baik sebanyak 34 orang (85%) dan yang memiliki nilai baik sebanyak 6 orang (15%).
2. Analisis Korelasi
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan
perhitungan koefisien. Untuk menghitung koefisien korelasi antara lain kebijakan gerakan literasi sekolah (Variabel X) dengan minat baca murid (Variabel Y) digunakan Person Product Moment. Adapun langkah-langkah perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.3 Perhitungan untuk memperoleh koefisien korelasi antara kebijakan gerakan literasi sekoah dengan hasil belajar murid
No Responden X Y XY
1 R 1 58 75 4350 3364 5625
2 R 2 62 75 4650 3844 5625
3 R 3 68 85 5780 4624 7225
4 R 4 53 75 3975 2809 5625
5 R 5 70 80 5600 4900 6400
6 R 6 76 90 6840 5776 8100
7 R 7 63 75 4725 3969 5625
8 R 8 75 85 6375 5625 7225
9 R 9 73 90 6570 5329 8100
10 R 10 73 90 6570 5329 8100
11 R 11 73 85 6205 5329 7225
12 R 12 73 80 5840 5329 6400
13 R 13 72 90 6480 5184 8100
14 R 14 75 85 6375 5625 7225
15 R 15 67 80 5360 4489 6400
16 R 16 70 90 6300 4900 8100
17 R 17 72 90 6480 5184 8100
18 R 18 69 90 6210 4761 8100
19 R 19 74 70 5180 5476 4900
20 R 20 71 85 6035 5041 7225
21 R 21 76 80 6080 5776 6400
22 R 22 74 90 6660 5476 8100
23 R 23 79 90 7110 6241 8100
24 R 24 78 90 7020 6084 8100
25 R 25 70 85 5950 4900 7225
26 R 26 69 80 5520 4761 6400
27 R 27 69 90 6210 4761 8100
28 R 28 71 85 6035 5041 7225
29 R 29 80 95 7600 6400 9025
30 R 30 80 95 7600 6400 9025
31 R 31 71 90 6390 5041 8100
32 R 32 70 85 5950 4900 7225
33 R 33 70 85 5950 4900 7225
34 R 34 72 85 6120 5184 7225
35 R 35 72 85 6120 5184 7225
36 R 36 68 75 5100 4624 5625
37 R 37 74 85 6290 5476 7225
38 R 38 77 85 6545 5929 7225
39 R 39 72 80 5760 5184 6400
40 R 40 74 85 6290 5476 7225
2853 3385 242200 204625 287825
Sumber : Data variabel kebijakan gerakan literasi sekolah dan minat baca murid Presentasi perhitungan diatas menunjukkan bahwa :
x = 2853 y = 3385 x² 204625 y² 287825
xy 242200 N = 40
3. Pengujian hipotesis
Perhitungan analisis korelasi dengan menggunakan rumus korelasi product moment :
rxy n Y-( )( Y)
√n 2- ( )2 √n Y2- ( Y)2
( ) ( )( )
√ ( ) ( ) √ ( ) ( )
√ ) ( )
√( ) ( )
√
= 0,626
Berdasarkan hasil perhitungan diatas ternyata angka korelasi antara variabel X dan variabel Y bertanda positif dengan memperhatikan besarnya r xy yang diperoleh yaitu 0,626. Berikut pedoman interpretasi koefisien korelasi:
Tabel 4.4 Pedoman untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat lemah
0,20 – 0,399 Lemah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat kuat
Sumber : Sugiyono (2014:242) dalam bukunya metode penelitian kombinasi
Tabel tersebut menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara 2 variabel yaitu variabel kebijakan gerakan literasi sekolah dan minat baca murid yang bernilai 0,626 termasuk kuat. Selanjutnya untuk mengetahui apakah hubungan itu signifikan atau tidak maka rHitung perhitungan dibandingkan rTabel. Uji signifikansi korelasi product moment secara praktis, yang tidak perlu dihitung tetapi langsung dikonsultasikan pada tabel r product moment yang dapat dilihat pada lampiran. Dari tabel dapat dilihat bahwa, untuk n = 40, taraf kesalahan 5%
maka harga r tabel = 0,312. Selanjutnya analisis korelasi dapat dilanjutkan dengan menghitung koefisien determinasi, dengan cara mengkuadratkan koefisien yang ditemukan.
Setelah diperoleh r Hitung = 0,626 dan r Tabel = 0,312 maka diperoleh r Hitung> rTabel atau 0,626 > 0,312. Ketentuannya bila r Hitung lebih kecil dari r Tabel maka tidak ada hubungan, tetapi sebaliknya bila r Hitung lebih besar dari r Tabel
maka terdapat hubungan yang berarti hipotesis diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Ini berarti bahwa terdapat hubungan antara