• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN HAN DENGAN CABANG HUKUM LAIN

N/A
N/A
Alifiadi K

Academic year: 2024

Membagikan "HUBUNGAN HAN DENGAN CABANG HUKUM LAIN"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN HAN DENGAN CABANG HUKUM LAIN

HUBUNGAN HAN DENGAN HTN

1. MENURUT PRINS DAN KRANENBURG

Tidak terdapat perbedaan yg mendasar antara HAN dg HTN karena adanya HAN bukan krn perbedaan materi yg diatur tetapi karena perkembangan sejarah yang mengharuskan HAN menjadi cabang ilmu hukum yang bersifat mandiri.

(2)

 HTN mengatur hal-hal yg umum dari negara ( UUD, UU Organik) sedangkan HAN lebih mengatur hal-hal yang bersifat khusus /tehnis dalam penyelenggaraan pemerintahan ( UU ASN, UU Agraria, UUPLH dll).

(3)

2. MENURUT OPPENHEIM

 Hubungan keduanya sangat erat sekali karena obyek yang ditelaah sama , yaitu negara, tetapi ada perbedaannya.

 HTN membahas negara dalam keadaan diam/berhenti, sedangkan HAN membahas negara dalam keadaan bergerak;

(4)

 HTN diartikan : Aturan hukum yang mengadakan alat perlengkapan negara dan mengatur kekuasaan alat perlengkapan negara .

 Sedangkan HAN diartikan sebagai

aturan hukum yang mengikat alat

perlengkapan negara bila mau

menggunakan kekuasaannya yang

telah diberikan HTN.

(5)

3. C. VAN VOLLENHOVEN

 Memakai teori residu bahwa HAN merupakan sisa dari semua peraturan hukum nasional setelah dikurangi HTN materiil, Hk Perdata materiil dan Hk.

Pidana materiil.

(6)

4. BAGIR MANAN :

Segala keilmuan hukum yang mengatur tingkah laku negara (alat perlengkapan ) dimasukkan ke dalam kelompok HTN, sedangkan hukum yang mengatur tingkah laku pemerintah (dalam arti administrasi negara) masuk ke dalam kelompok HAN.

(7)

HUBUNGAN HAN DENGAN HUKUM PERDATA

Apabila dilihat dari pengelompokkan ilmu hukum sebenarnya antara HAN dengan Hukum Perdata berbeda, sebab HAN termasuk Hukum Publik sedang Hukum Perdata termasuk Hukum Privat, akan tetapi banyak ajaran-akaran Hukum perdata yang diambil alih oleh HAN.

(8)

MENURUT PAUL SCHOLTEN

HAN merupakan Hukum Khusus yaitu hukum tentang organisasi negara dan hukum perdata sebagai hukum umum;

Negara dan badan hukum publik lainnya dapat menggunakan peraturan yang berasal dari hukum perdata (mengapdoptir lembaga dan hkm perdata );

Berlaku Asas Lex Specialis Derogat Legi Generalis

(9)

MENURUT W.F. PRINS

 HAN dapat dilengkapi dengan aturan Hukum Perdata ;

 Antara HAN dg Hk.Perdata dapat terjadi persinggungan dalam hal:

a. Terjadi adopsi kaidah hukum perdata menjadi kaidah hukum HAN;

(10)

b. Apabila badan administrasi negara melakukan perbuatan-perbuatan yang dikuasai oleh Hukum Perdata;

c. Apabila suatu kasus dikuasai oleh Hk . Perdata dan HAN maka kasus tersebut diselesaikan berdasarkan ketentuan HAN.

(11)

3 TEORI HUKUM PERDATA YANG DIAMBIL ALIH OLEH HAN

1. Teori Perbuatan Melawan Hukum (Onrechtmatige daad)

2. Teori Kekhilafan (Dwalling Teorie);

3. Teori Kebatalan Hukum ( Nietig Teorie).

(12)

Ada Perbuatan Melawan Hukum Apabila Memenuhi 4 Unsur

• Perbuatan tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku

• Perbuatan itu merugikan hak orang lain

• Harus ada kerugian yang kongkrit diderita

• Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan yang dilakukan dengan kerugian yang timbul

(13)

Teori Kebatalan Hukum (Nietig Teorie)

a). Batal mutlak (Absolut Nietig);

b). Batal demi hukum (Nietig van Rechts Wege);

c). Dapat dibatalkan (Vernietig Baar).

(14)

Perbedaan antara ketiga teori kebatalan tersebut yaitu:

1. Akibat hukum yang timbul;

2.Aparat yang berwenang

menjatuhkan kebatalan.

(15)

Batal Mutlak (Absolut Nietig)

1. Yang berhak menjatuhkan kebatalan adalah pihak yudikatif/pengadilan.

2. Akibat hukum yang timbul semua

perbuatan yg sudah dilakukan

dianggap tidak pernah ada sehingga

segala sesuatunya harus

dikembalikan seperti sedia kala.

(16)

Batal Demi Hukum

(Nietig van Rechts Wege)

1. Yang dapat membatalkan di samping yudikatif juga eksekutif atau aparat administrasi negara.

2. Akibat hukumnya semua /sebagian perbuatan yang pernah dilakukan dianggap tidak/belum pernah ada . Jadi yang dipulihkan adalah yang dibatalkan saja.

(17)

Di dalam HAN :

 Kedua teori kebatalan di atas disebut dengan BATAL EX TUNC batal yang berlaku surut )

 Kebatalan ini berlaku surut terhadap

semua perbuatan sejak

keputusan/ketetapan dibuat.

(18)

Dapat Dibatalkan (Vernietig Baar )

1. Yang dapat membatalkan yudikatif dan aparat administrasi negara.

2. Akibat hukumnya semua perbuatan

yang sudah dilakukan dianggap sah

yang dibatalkan hanyalah perbuatan

yang belum dilaksanakan.

(19)

Dalam HAN :

1.Dapat dibatalkan ini disebut dengan batal EX NUNC (Kebatalan yang tidak berlaku surut).

2.Kebatalan ini tidak berlaku surut.

(20)

Teori Kekhilafan (Dwalling Teorie)

• Teori ini terjadi apabila perbuatan yang dilakukan tidak sesuai dengan kehendak si pelaku akan tetapi bukan karena faktor kesengajaan.

• Dalam Hukum Perdata salah kira dibedakan menjadi 2 macam dilihat dari akibat hukum yang muncul , yaitu :

(21)

1. Salah kira yang sungguh-sungguh ( Eigenlijke dwalling), salah kira

yang akibatnya tidak fatal.

2. Salah kira yang tidak sungguh-sungguh ( On Eigenlijke dwalling) , salah kira yang akibatnya tidak fatal.

(22)

Hubungan HAN dengan Hukum Pidana

• Di dalam pelaksanaan hukum perlu adanya suatu ketaatan/kepatuhan untuk melaksanakannya;

• Salah satu cara untuk membuat tingkat kepatuhan masyarakat tinggi terhadap hukum yaitu dengan mencantumkan ketentuan hukum pidana dalam peraturan tersebut;

(23)

• Dalam HAN , ada peraturan-peraturan hukum yang mencantumkan

ketentuan hukum pidana dalam

materinya. Ini berarti ketentuan

hukum pidana dalam HAN bersifat

khusus dan ketentuan hukum pidana

dalam KUHP bersifat umum;

(24)

• Dari perbedaan di atas menimbulkan adagium khusus yaitu “ Lex Specialis Derogat Lex Generalis”. Tetapi apabila dalam HAN tidak memuat ketentuan hukum pidana, maka ketentuan umum dalam KUHP dapat digunakan.

(25)

SUMBER HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

• Macam-Macam Sumber Hukum Dilihat Dari Bentuknya

1. Sumber Hukum Materiil

Faktor-faktor masyarakat yang mempengaruhi pembentukan hukum atau faktor-faktor yang ikut mempengaruhi isi/materi aturan hukum atau tempat dari mana materi hukum diambil.

(26)

• Faktor-faktor yang mempengaruhi isi aturan hukum terdiri dari:

1). Faktor Historis (Sejarah);

2). Faktor Sosiologis;

3). Faktor Filosofis.

(27)

2. Sumber Hukum Formiil

adalah sumber hukum dari berbagai bentuk aturan hukum yang ada atau sumber hukum formal diartikan juga sebagai tempat atau sumber dari mana suatu peraturan memperoleh kekuatan hukum.

(28)

Sumber Hukum Administrasi Negara

1. Sumber Hukum Materiil atau disebut juga dengan Sumber Hukum Ideal.

Artinya sumber hukum yang berupa cita- cita (das sollen) jadi berupa sesuatu yang ingin/akan dicapai. Sumber hukum ini terdiri dari “Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.

(29)

Sumber Hukum Formil/ Faktual dari HAN terdiri atas :

• UU/Peraturan Perundang-Undangan

• Konvensi /Kebiasaan/Praktek Administrasi Negara;

• Yurisprudensi;

• Doktrin/Teori Para Ahli HAN.

(30)

2. Sumber Hukum Formil atau disebut juga Sumber Hukum faktual. Artinya sumber hukum yang berwujud sesuatu yang kongkrit dan dapat mewujudkan sesuatu yang dicita-citakan sebelumnya (das Sein). Setelah lahirnya UU No. 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan (UU AP) sumber hukum formil HAN adalah UU ini

(31)

Peraturan Perundang- Undangan/UU

UU dibedakan menjadi :

1. Undang-Undang dalam arti materiil : setiap keputusan atau ketetapan penguasa yang dilihat dari isinya disebut UU karena mengikat setiap orang secara umum. UU dalam arti materill itulah yang dikenal dengan Peraturan Perundang- undangan.

(32)

2.Undang-Undang dalam arti formiil : setiap keputusan yang dilihat dari bentuknya dan cara terjadinya disebut UU. Di Indonesia yang dimaksud dengan UU dalam arti formiil ini adalah UU yang dimaksud dalam ketentuan UUD Negara RI Tahun 1945 Pasal 5 jo Pasal 20.

(33)

PENGERTIAN PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN

• Menurut UU No. 5 Tahun 1986 (Pasal 1 Angka 2) peraturan perundang-undangan adalah:

“ Semua peraturan yang bersifat mengikat secara umum yang dikeluarkan oleh Badan Perwakilan Rakyat bersama –sama Pemerintah baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah serta semua keputusan Badan atau pejabat Tata Usaha Negara, baik ditingkat pusat maupun ditingkat daerah, yang juga bersifat mengikat secara umum”.

(34)

• Menurut UU No. 10 Tahun 2004 Pasal 1 angka 2 peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum.

(35)

Peraturan PerUUan ≠ UU

• Peraturan perundang-undangan lebih luas dari pada UU;

• Peraturan perundang-undangan dibuat oleh aparat pemerintah secara hierarkis;

• UU produk hukum yang dibuat DPR- Presiden;

(36)

Kebiasaan/Praktek Administrasi Negara/Konvensi

• Adalah Keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh alat administrasi negara guna menyelesaikan suatu masalah konkrit yang terjadi berdasarkan peraturan hukum yang sifatnya abstrak;

Dalam memprodusir keputusan-keputusan inilah timbul praktek administrasi negara yang membentuk hukum administrasi negara kebiasaan/HAN tidak tertulis;

(37)

• Praktek administrasi negara ini harus bersifat positif;

• Praktek administrasi negara dapat menjadi sumber hukum jika belum diatur dalam hukum yang tertulis;

(38)

Yurisprudensi

• Yurisprudensi adalah keputusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan diikuti oleh hakim lainnya.

• Yang dapat membentuk HAN adalah keputusan hakim administrasi yang diputuskan melalui peradilan administrasi negara/PTUN.

(39)

• Pada asasnya hakim tidak terikat pada keputusan hakim terdahulu terhadap perkara hukum yang sama dengan perkara hukum yang akan diputus (tidak terikat pada precedent).

• Meskipun Indonesia tidak menganut sistem Precedent/ Stare decisis/ The Binding Force of Precedent akan tetapi demi kepastian hukum dan kesamaan hukum banyak hakim mengacu kepada putusan hakim terdahulu yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap di dalam menjatuhkan putusannya.

(40)

Doktrin/ Pendapat Para Ahli

• Tidak setiap teori para ahli bisa diterima sebagai sumber HAN yang faktual, tetapi perlu proses yang lama

• Di Indonesia teori/pendapat para ahli akan disaring dengan menggunakan filter UUD 1945 dan Pancasila;

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Utrecht dalam bukunya “Pengantar Hukum Administrasi Negara” mengatakan bahwa : Administrasi Negara adalah gabungan jabatan (compleks van kambten) “Apparaat”

Di era modern diberbagai negara mulai menjamur praktek sewa menyewa yang berbeda dari biasanya. Yaitu praktek sewa rahim. Khususnya banyak terjadi di Negara

Dalam kenyataannya masih sering terjadi bahwa ketentuan-ketentuan dalam Konvensi Jenewa 1949 dan perjanjian internasional serta kebiasaan internasional lainnya yang

Kedua perbuatan hukum publik tersebut, dituangkan dalam bentuk keputusan yang meciptakan hubungan-hubungan hukum administrasi negara, yitu hubungan hukum antara penguasa dan

Bimbingan Teknis Hukum Acara Pengujian Undang-Undang bagi Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) Angkatan IV.. No Nama dan Gelar Jenis

Bahwa berdasarkan Pasal 12 ayat (1) Anggaran Dasar Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN) perlu ditetapkan Pengurus Pusat sebagai badan

2Kebiasaan-kebiasaan dan peraturan hukum tertulis yang berupa undang- undang dan peraturan administrasi negara diakui juga, kerena pada dasarnya terbentuknya kebiasaan dan peraturan

Menurut Sjahran Basah, izin adalah suatu perbuatan hukum administrasi Negara sebagai suatu yang menerapkan peraturan dalam hal konkrit yang bersumber pada persyaratan dan prosedur