HUBUNGAN PROGRAM MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) KAMPUS MENGAJAR DENGAN KETERAMPILAN
KOMUNIKASI SOSIAL MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi
Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Oleh:
Ilham Fadhil Shobahuddin Ahmad 1909580
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA DEPARTEMEN PENDIDIKAN KEPELATIHAN
FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2023
HUBUNGAN PROGRAM MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) KAMPUS MENGAJAR DENGAN KETERAMPILAN
KOMUNIKASI SOSIAL MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA
Oleh:
Ilham Fadhil Shobahuddin Ahmad
Sebuah Skripsi yang diajukan untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga
© Ilham Fadhil Shobahuddin Ahmad 2023 Universitas Pendidikan Indonesia
Juli 2023
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian,
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
HUBUNGAN PROGRAM MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) KAMPUS MENGAJAR DENGAN KETERAMPILAN
KOMUNIKASI SOSIAL MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Peneliti menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Hubungan program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) kampus mengajar dengan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga” ini sepenuhnya merupakan karya dari peneliti sendiri. Tidak ada bagian di dalamnya yang merupakan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang ada. Atas pernyataan ini, peneliti siap menanggung resiko/sanksi yang dijatuhkan apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya tulis ini, atau adanya klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya tulis ini.
Bandung, 16 Agustus 2023 Yang menyatakan,
Ilham Fadhil Shobahuddin Ahmad NIM. 1909580
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi rahmat serta karunia, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.
Peneliti sangat menyadari bahwa tanpa adanya dorongan dari berbagai pihak, penyelesaian skripsi ini akan sulit terwujud. Untuk itu, dengan ketulusan hati yang terdalam, peneliti mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT. Karena atas rahmat dan karunianya sehingga peneliti diberikan kesehatan, kecerdasan, kemudahan serta kelancaran dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr. R. Boyke Mulyana, M.Pd., selaku Dekan FPOK UPI yang telah menyediakan sarana dan prasarana yang sangat bermanfaat bagi peneliti.
3. Ibu Prof. Dr. Hj. Nina Sutresna, M.Pd., selaku ketua Departemen Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Pendidikan Indonesia.
4. Bapak Dr. H. Mulyana, M.Pd., selaku ketua Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, yang telah membina dan memberikan yang terbaik demi kelancaran skripsi peneliti. Terimakasih atas waktu dan dukungannya.
5. Ayah dan Bunda tercinta (Ayah Asep dan Bunda Rani) yang telah membesarkan, selalu menyayangi, membimbing, menyemangati, dan mendukung peneliti. Terima kasih atas nasehat, kasih sayang dan pengorbanan yang tiada hentinya. Meskipun karya ini jauh dari kata sempurna serta tak dapat membalas semua pengorbanan yang telah Ayah dan Bunda berikan, semoga dapat membuat Ayah dan Bunda bangga.
6. Ibu dr. Pipit Pitriani, M.Kes., Ph.D., selaku dosen pembimbing akademik dan juga Pembimbing I skripsi, yang telah membimbing peneliti dan memberikan ilmu yang terbaik serta mendukung peneliti.
7. Bapak Sagitarius, M.Pd., selaku Pembimbing II skripsi, yang telah membimbing peneliti juga mendukung kelancaran skripsi ini, terimakasih untuk waktu serta saran yang sangat bermanfaat bagi peneliti.
8. Ibu dan Bapak staf dosen yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman berharga kepada peneliti selama mengikuti perkuliahan.
9. Adik tersayang (Alfan Hakim Ahmad) yang tulus dan baik hati senantiasa membantu dan mendoakan dari jarak jauh, yang menjadi semangat peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. terima kasih untuk perhatian dan semangat yang telah diberikan.
10. Nenek dan Paman (Enin Eti dan Mang Fikfik) yang selalu mendoakan, memberi perhatian, dan tiada henti memberikan semangat untuk peneliti.
11. Kepada seluruh rekan-rekan peserta Program MBKM Kampus Mengajar dan Wirausaha Merdeka, terima kasih telah memberikan dukungan, motivasi, dan membantu peneliti dalam pembuatan skripsi ini.
12. Rekan-rekan kepelatihan angkatan 2019 yang sudah bersama-sama saling membantu hingga dapat menyelesaikan masa studi dengan baik dan lancar. Bersama dalam senyum kalian membuat hangat penuh semangat.
13. Sahabat akrab masa perkuliahan Sidiq, Apriza, Ade, Goldhy, Yusuf, Wisnu, Faujan, dan Bernard yang sering bersama dalam keadaan senang maupun susah. Terima kasih telah membantu peneliti dalam menyusun skripsi ini.
Terima kasih kepada seluruh pihak, saudara, dan teman-teman yang seluruhnya tidak dapat disebutkan satu-persatu yang sudah membantu kelancaran peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga semua kebaikan kalian dibalas lebih dengan sangat baik oleh Allah SWT. Semoga kita selalu diberi kebahagiaan, kesehatan, dan selalu ada di dalam lindungan-Nya.
ABSTRAK
HUBUNGAN PROGRAM MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) KAMPUS MENGAJAR DENGAN KETERAMPILAN
KOMUNIKASI SOSIAL MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA
Ilham Fadhil Shobahuddin Ahmad 1909580 [email protected]
Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Pendidikan Indonesia Pembimbing I: dr. Pipit Pitriani, M.Kes., Ph.D.
Pembimbing II: Sagitarius, M.Pd.
Keterampilan komunikasi sosial merupakan kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa agar mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru dan lebih mudah menjalin hubungan dengan individu lain. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan program MBKM kampus mengajar dengan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa.
Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan desain penelitian teknik korelasional. Sampel yang digunakan sebanyak 9 mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga yang telah mengikuti program MBKM kampus mengajar. Instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Data diolah menggunakan uji korelasi product moment pada aplikasi SPSS 23 for Windows.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang kuat antara program MBKM kampus mengajar dengan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga. Sehingga dapat disimpulkan bahwa program MBKM kampus mengajar dapat mempengaruhi keterampilan komunikasi sosial mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga.
Kata kunci: kampus mengajar, komunikasi sosial, mahasiswa
ABSTRACT
THE RELATIONSHIP OF MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) KAMPUS MENGAJAR PROGRAM AND THE SOCIAL
COMMUNICATION SKILLS OF STUDENTS IN THE SPORTS EDUCATION COACHING DEPARTMENT
Ilham Fadhil Shobahuddin Ahmad 1909580 [email protected]
Sport Coaching Education Indonesian Education University Advisor I: dr. Pipit Pitriani, M.Kes., Ph.D.
Advisor II: Sagitarius, M.Pd.
Social communication skills are essential competencies that students must possess in order to adapt to new social environments and establish better relationships with others. Therefore, the aim of this research is to determine the existence of a relationship between a MBKM kampus mengajar program and the social communication skills of students. This study utilized a quantitative descriptive method with a correlational research design. The sample consisted of 9 students from the Sports Education Coaching Department who had participated in the MBKM kampus mengajar program. A questionnaire was used as the instrument for data collection. The data was processed using a product moment correlation test in SPSS 23 for Windows. The research results indicate a strong correlation between MBKM kampus mengajar program and the social communication skills of students majoring in sports coaching education. Therefore, it can be concluded that MBKM kampus mengajar program can influence the social communication skills of students majoring in sports coaching education.
Keywords: kampus mengajar, social communication, student
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iv
UCAPAN TERIMAKASIH... v
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
1.5 Struktur Organisasi Skripsi ... 4
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 5
2.1 Komunikasi ... 5
2.2 Komponen Dalam Komunikasi ... 6
2.3 Proses Komunikasi ... 7
2.4 Keterampilan Komunikasi ... 8
2.5 Aspek Keterampilan Komunikasi ... 8
2.6 Tujuan Komunikasi ... 11
2.7 Fungsi Komunikasi ... 12
2.8 Komunikasi Sosial ... 12
2.9 Fungsi Komunikasi Sosial ... 13
2.10 Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ... 14
2.11 Tujuan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ... 16
2.12 Kampus Mengajar ... 16
2.13 Tujuan Program Kampus Mengajar ... 17
2.14 Ruang Lingkup Program Kampus Mengajar ... 18
2.15 Manfaat Program Kampus Mengajar ... 18
2.16 Indikator Keberhasilan Program Kampus Mengajar ... 19
2.17 Capaian Pembelajaran Program Kampus Mengajar ... 20
2.18 Kerangka Berpikir ... 21
2.19 Hipotesis Penelitian ... 22
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 23
3.1 Desain Penelitian ... 23
3.2 Partisipan ... 24
3.3 Populasi dan Sampel ... 24
3.4 Instrumen Penelitian ... 24
3.5 Prosedur Penelitian ... 34
3.6 Analisis Data ... 35
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN ... 38
4.1 Pengolahan dan Analisis Data ... 38
Deskripsi Data... 38
4.1. Uji Normalitas... 40
4.1. Uji Korelasi Product Moment ... 41
4.2 Pembahasan ... 43
Deskripsi Data ... 43
4.2. Berdasarkan Hasil Pengolahan Data ... 40
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI ... 49
5.1 Kesimpulan ... 49
5.2 Implikasi ... 49
5.3 Rekomendasi ... 49
DAFTAR PUSTAKA ... 50
LAMPIRAN ... 54
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Blue Print Skala Keterampilan Komunikasi Sosial ... 27
Tabel 3.2 Skor Skala Likert ... 28
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Instrumen ... 29
Tabel 3.4 Skala Keterampilan Komunikasi Sosial (setelah uji validitas) ... 31
Tabel 3.5 Angket Hasil Uji Validitas ... 32
Tabel 3.6 Hasil Uji Reliabilitas ... 34
Tabel 4.1 Pedoman Kategorisasi Rata-rata Skor Penilaian Responden ... 38
Tabel 4.2 Persentase Data Jawaban Responden ... 39
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas ... 40
Tabel 4.4 Hasil Uji Korelasi Product Moment... 41
Tabel 4.5 Interpretasi Koefisien Korelasi (r) ... 42
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Proses Komunikasi ... 7
Gambar 2.2 Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ... 15
Gambar 2.3 Program Kampus Mengajar ... 16
Gambar 2.4 Kerangka Berpikir ... 21
Gambar 3.1 Desain Penelitian ... 23
Gambar 3.2 Langkah-langkah Penelitian ... 34
Gambar 3.3 Rumus Uji Pearson Product Moment ... 36
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. SK Penetapan Pembimbing Skripsi ... 55
Lampiran 2. Surat Izin Penelitian... 58
Lampiran 3. Surat Balasan Penelitian ... 59
Lampiran 4. Lembar Bimbingan Skripsi ... 60
Lampiran 5. Bukti Izin Adaptasi Angket ... 61
Lampiran 6. Surat Tugas Mahasiswa Kampus Mengajar Angkatan 3 ... 62
Lampiran 7. Surat Tugas Mahasiswa Kampus Mengajar Angkatan 4 ... 64
Lampiran 8. Surat Tugas Mahasiswa Kampus Mengajar Angkatan 5 ... 66
Lampiran 9. Blueprint Skala Keterampilan Komunikasi Sosial ... 68
Lampiran 10. Angket Uji Validitas ... 69
Lampiran 11. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 73
Lampiran 12. Kuesioner Kemampuan Komunikasi Sosial Mahasiswa PKO ... 74
Lampiran 13. Angket Google Form ... 77
Lampiran 14. Pemberian dan Pengisian Angket oleh Responden ... 85
Lampiran 15. Data Hasil Penelitian ... 89
Lampiran 16. Uji SPSS ... 90
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kompetensi mahasiswa dibutuhkan untuk menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja, dan kemajuan teknologi yang begitu pesat demi memenuhi kebutuhan zaman. Perguruan Tinggi dituntut untuk dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal dan selalu relevan. Kebijakan MBKM dirancang untuk meningkatkan soft skills dan hard skills agar lulusan lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan yang unggul dan berkompeten (Dikti, 2020, hlm. 3).
MBKM dinilai mampu menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi perubahan teknologi, sosial, budaya, dan dunia kerja. Perguruan Tinggi dituntut untuk merancang dan mengaplikasikan proses pembelajaran yang inovatif demi keberlangsungan mahasiswa dalam mencapai pembelajaran yang optimal dan relevan yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Untuk mencapai pembelajaran yang optimal dan relevan, MBKM menerapkan sebuah sistem yang fleksibel bagi perguruan tinggi untuk melakukan kolaborasi dalam dunia pendidikan, industri, dan masyarakat umum (Dikti, 2020, hlm. 23).
Program MBKM yang telah diikuti oleh mahasiswa pada Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Pendidikan Indonesia adalah Magang, program Kegiatan Asistensi Mengajar pada Satuan Pendidikan atau lebih dikenal dengan program Kampus Mengajar, dan program Kegiatan Kewirausahaan atau lebih dikenal dengan program Wirausaha Merdeka. Bagi mahasiswa pada Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Pendidikan Indonesia, program MBKM merupakan ajang untuk mengasah soft skill dan hard skill mereka, karena dengan kegiatan tersebut, mahasiswa akan mengimplementasikan secara nyata ilmu yang dimilikinya dalam dunia kerja.
Kegiatan asistensi mengajar atau yang lebih dikenal dengan program kampus mengajar yang merupakan salah satu bagian dari kegiatan MBKM, program kampus mengajar saat ini sudah berjalan selama dua tahun setengah atau 5 angkatan. Program tersebut dilakukan oleh mahasiswa di sekolah dasar maupun sekolah menengah. Nantinya mahasiswa ditempatkan di sekolah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal). Salah satu keterampilan yang harus dimiliki dan diasah oleh mahasiswa ketika melaksanakan program MBKM kampus mengajar yakni mampu menerapkan dan membangun komunikasi sosial.
Menurut Rahayu (2018, hlm. 4) pentingnya memiliki keterampilan komunikasi sosial pada mahasiswa yaitu agar mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru dan lebih mudah menjalin hubungan dengan individu lain. Selain itu, saat ini mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, karena dalam kurikulum perguruan tinggi yang baru, mahasiswa akan lebih sering mempresentasikan tugas, lebih aktif di dalam kelas yaitu dengan memberikan dan menjawab pertanyaan, serta mengemukakan dan menerima pendapat dari orang lain, semua hal tersebut membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik. Selain itu, bagi mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga, keterampilan komunikasi sosial merupakan kompetensi yang dapat menunjang nantinya ketika mereka sudah menyelesaikan studinya untuk kemudian berkarir di dunia pendidikan maupun dunia kepelatihan. Keterampilan tersebut dapat memudahkan mereka untuk beradaptasi dan menjalin hubungan dengan siswa maupun atlet yang dilatihnya.
Berdasarkan pengamatan peneliti, mahasiswa Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Pendidikan Indonesia yang mengikuti Kampus Mengajar memiliki karakter yang beragam. Beberapa karakter mahasiswa secara umum seperti ceria, mudah bergaul, sopan, bertanggungjawab, minder, penyendiri, labil, dan lain sebagainya (Fahmi, 2023, hlm. 1). Karakter yang dimiliki seseorang mempengaruhi bagaimana cara mereka berkomunikasi terhadap lawan bicaranya (Diyawati, 2017, hlm. 8). Ketika ditugaskan ke sekolah, mahasiswa dituntut untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru melalui interaksi dengan setiap individu yang ditemuinya, maka dalam proses tersebut dibutuhkan kemampuan komunikasi sosial yang baik.
Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian berjudul “Hubungan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kampus Mengajar dengan Keterampilan Komunikasi Sosial Mahasiswa Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga.”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: Apakah terdapat hubungan program MBKM kampus mengajar dengan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dibuat, maka tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan program MBKM kampus mengajar dengan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat dari segi teori
Diharapkan penelitian ini dapat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya pada prodi pendidikan kepelatihan olahraga. Sebagai sumbangan pemikiran yang dapat memperkaya karya ilmiah yang berkaitan dengan program kampus mengajar dan komunikasi sosial.
1.4.2 Manfaat dari segi kebijakan
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi tambahan informasi bagi masyarakat khususnya mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga mengenai hubungan program MBKM kampus mengajar dengan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga.
1.4.3 Manfaat dari segi praktek
Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengalaman secara langsung mengenai hubungan program MBKM kampus mengajar dengan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga.
1.4.4 Manfaat dari segi isu serta aksi sosial
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi kepada semua pihak mengenai hubungan program MBKM kampus mengajar dengan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga.
1.5 Struktur Organisasi Skripsi
Berdasarkan Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2021, maka sistematika penulisan laporan penelitian (skripsi) yang akan disusun adalah sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Berisikan latar belakang penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan struktur organisasi skripsi.
1.5.2 BAB II Tinjauan Pustaka
Berisikan landasan teori, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian.
1.5.3 BAB III Metode Penelitian
Berisikan penjabaran mengenai desain penelitian, partisipan, populasi dan sampel, instrumen penelitian, prosedur penelitian, dan teknik teknik analisis data.
1.5.4 BAB IV Temuan dan Pembahasan
Berisikan hasil pengolahan data yang dituliskan secara tersusun dan pembahasan mengenai hasil data tersebut untuk menjawab rumusan masalah penelitian.
1.5.5 BAB V Kesimpulan dan Saran
Berisikan kesimpulan dan saran terhadap hasil analisis temuan penelitian.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Komunikasi
a) Pengertian Komunikasi Secara Etimologis
Menurut Uchjana (dalam Hariyanto, 2021, hlm. 16) secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa Inggris (communication), dan bersumber dari kata latin communicare atau communis (sama), yaitu berarti sama makna mengenai suatu hal. Jadi komunikasi terjadi apabila antar pelaku komunikasi yang terlibat, terdapat kesamaan mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Lebih jelasnya, jika seseorang mengerti tentang makna pesan yang disampaikan orang lain kepadanya, maka komunikasi akan berlangsung. Begitu juga sebaliknya jika salah satu pelaku komunikasi tidak mengerti makna pesan yang disampaikan, maka komunikasi tidak berlangsung.
b) Pengertian Komunikasi Secara Terminologis
Menurut Uchjana (dalam Hariyanto, 2021, hlm. 16) secara terminologi komunikasi merupakan proses penyampaian suatu pernyataan oleh individu kepada individu lain. Jadi, yang terlibat dalam komunikasi itu adalah manusia, karena manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain untuk kelangsungan hidupnya. Jadi konteks komunikasi dalam hal ini adalah komunikasi antar manusia (human communication), yang sering juga disebut juga komunikasi sosial (social communication).
c) Pengertian Komunikasi Menurut Para Ahli
Berikut definisi komunikasi yang dibuat oleh beberapa pakar komunikasi yang terkhusus pada studi komunikasi antar manusia bahwa:
Komunikasi merupakan proses penyampaian suatu gagasan atau ide dari individu ke individu lain (Djamarah, 2014, hlm. 107).
Menurut Newstrom (dalam Maghfur et al., 2020, hlm. 6) komunikasi merupakan proses menyampaikan informasi dari satu individu ke individu lain, sebagai cara untuk menjangkau orang lain dengan mengungkapkan ide, perasaan, fakta, dan nilai.
Menurut Devito (dalam Budianto, 2013, hlm. 62) komunikasi adalah tindakan individu atau lebih dari satu orang yang mengirim dan menerima pesan dalam konteks tertentu, memiliki efek tertentu dan terdapat kesempatan untuk memberikan umpan balik.
Nimmo (2005, hlm. 6) menguraikan arti komunikasi merupakan suatu proses interaksi sosial yang dipakai manusia untuk menyusun makna yang mana merupakan citra mereka mengenai dunia serta untuk saling bertukar citra tersebut lewat simbol-simbol.
Shanon & Weaver (dalam Wiryanto, 2004, hlm. 7) menjelaskan komunikasi merupakan wujud interaksi individu yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain, baik sengaja atau tidak sengaja serta tidak hanya terbatas pada komunikasi verbal, namun juga dalam hal seni, ekspresi muka, lukisan, maupun teknologi.
Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan proses interaksi antar individu dengan menyampaikan suatu hal atau pendapat untuk mencapai suatu tujuan.
2.2 Komponen Dalam Komunikasi
Menurut Hariyanto (2021, hlm. 29) terdapat beberapa komponen dalam komunikasi, yaitu:
a) Source (Sumber)
Sumber merupakan dasar yang digunakan di dalam penyampaian pesan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri.
b) Communicator/komunikator (Pengirim pesan)
Komunikator dapat berupa seseorang yang sedang menulis atau berbicara, kelompok orang, organisasi komunikasi seperti televisi, radio, koran, dan lain sebagainya.
c) Message (Pesan)
Pesan merupakan simbol atau lambang yang mengandung makna dan dipilih oleh komunikator untuk disampaikan kepada komunikan. Pesan ini dapat berupa verbal maupun nonverbal. Pesan secara verbal dapat secara tertulis seperti buku, surat, majalah, sedangkan pesan yang secara lisan dapat berupa percakapan secara tatap muka, percakapan melalui telepon, dan lain sebagainya.
d) Channel (Saluran atau media)
Channel atau media merupakan alat untuk menyampaikan pesan.
Channel bisa berupa media elektronik seperti media sosial maupun media cetak.
Media komunikasi merupakan tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan.
e) Communicant/komunikan (Penerima Pesan)
Komunikan merupakan penerima pesan yang disampaikan oleh komunikator baik secara langsung maupun melalui media.
f) Effect (Hasil)
Efek komunikasi merupakan hasil akhir dari suatu komunikasi yakni sikap dan tingkah laku seseorang, sesuai atau tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Apabila sikap dan tingkah laku seseorang itu sesuai, maka komunikasi dapat dikatakan berhasil. Efek komunikasi bisa pengetahuan, sikap atau perilaku komunikan.
g) Feedback (Umpan Balik)
Feedback merupakan respon atau efek yang dikembalikan oleh komunikan kepada komunikator setelah mendapatkan pesan komunikasi dari komunikator.
h) Noise (Gangguan)
Noise merupakan Hambatan atau gangguan yang terjadi dalam proses komunikasi, akibatnya pesan yang diterima oleh komunikan berbeda dengan yang disampaikan oleh komunikator.
2.3 Proses Komunikasi
Berikut merupakan proses komunikasi menurut Stephen P Robbins:
Gambar 2.1 Proses Komunikasi (Sumber: Robbins, 2007)
Sebelum komunikasi berlangsung diperlukan adanya suatu tujuan/pesan yang akan disampaikan. Pesan ini lewat antara suatu sumber (pengirim) dan penerima. Pesan diubah dalam bentuk simbolik (pengkodean) dan melewati media (saluran) ke penerima, mengubah kembali pesan pengirim (pembacaan kode) dan diterima oleh penerima yang nantinya penerima akan memberikan umpan balik.
2.4 Keterampilan Komunikasi
Menurut Eggen (dalam Angraini et al., 2021, hlm. 87) keterampilan komunikasi yaitu ketika seseorang menggunakan pengetahuannya dalam teknik komunikasi verbal dan nonverbal, serta melalui media komunikasi secara efektif untuk mempertahankan keaktifan dalam bertanya, kolaborasi, dan berinteraksi dengan lawan bicara.
Menurut Santrock (dalam Haq, 2016, hlm. 33) keterampilan komunikasi merupakan keterampilan yang diperlukan individu dalam berbicara, mendengar, mengatasi hambatan komunikasi verbal, memahami komunikasi nonverbal dari lawan bicara, dan mampu memecahkan konflik secara konstruktif.
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa keterampilan komunikasi adalah keterampilan individu dalam menggunakan teknik komunikasi verbal maupun nonverbal sehingga dapat menyampaikan pesan dengan baik kepada dan mendapatkan respon dari lawan bicaranya.
2.5 Aspek Keterampilan Komunikasi
Menurut Santrock (dalam Haq, 2016, hlm. 35) terdapat beberapa aspek keterampilan komunikasi diantaranya adalah sebagai berikut:
a) Keterampilan Bicara
Merupakan keterampilan mengkomunikasikan informasi dengan jelas pada beberapa atribut antara lain: penggunaan tata bahasa yang baik dan benar, pemilihan kosa kata yang mudah dimengerti lawan bicara, tempo bicara yang pas, menggunakan strategi gaya komunikasi yang baik untuk memberikan pemahaman pada lawan bicara, menyampaikan dengan jelas maksud yang ingin diutarakan, tidak ambigu, dan logis.
b) Keterampilan Mendengar
Merupakan kemampuan mendengar secara aktif. Beberapa atribut antara lain: memberi perhatian yang cermat pada lawan bicara, menyatakan kembali maksud dari lawan bicara dengan kalimat sendiri, menyimpulkan tema pembicaraan dan perasaan lawan bicara, dan memberi tanggapan secara cepat, jujur, jelas dan informatif.
c) Keterampilan Berkomunikasi Secara Nonverbal
Komunikasi nonverbal merupakan komunikasi yang diungkapkan melalui objek di setiap kategori lainnya (the object language), komunikasi menggunakan gerak (gesture) sebagai sinyal (sign language), serta komunikasi melalui tindakan atau gerakan tubuh (action language). Beberapa bentuk komunikasi nonverbal diantaranya sebagai berikut.
1) Kinesik
Merupakan komunikasi nonverbal yang dilakukan melalui gerakan tubuh baik facial (ekspresi wajah), gesture (gerakan sebagian tubuh) maupun postur (gerakan seluruh tubuh). Beberapa bentuk kinesik antara lain:
a. Kontak Mata, mengacu pada pandangan atau tatapan, bagaimana dan berapa banyak atau berapa sering melihat pada lawan bicara. Kontak mata menunjukkan perhatian seseorang pada lawan bicaranya dan dapat menyampaikan serangkaian emosi.
b. Ekspresi Wajah, merupakan pengaturan otot-otot muka untuk berkomunikasi yang menunjukkan reaksi terhadap pesan. Ekspresi wajah menyampaikan enam dasar emosi yakni kesedihan, kegembiraan, kejutan, ketakutan, kemarahan dan kemuakan.
c. Emosi, merupakan kecenderungan-kecenderungan yang dirasakan terhadap rangsangan. Emosi mempunyai kekuatan untuk memotivasi tindakan.
d. Gerak Isyarat atau Gesture, merupakan gerakan bagian tubuh yang menimbulkan makna tertentu seperti gerakan tangan, lengan dan jari yang digunakan untuk menegaskan, gerakan kepala, dan lain sebagainya.
e. Sikap Tubuh atau Posture, merupakan posisi dan gerakan seluruh tubuh yang memberikan makna tertentu.
f. Sentuhan atau Touch, yakni menempatkan bagian tubuh untuk melakukan kontak dengan sesuatu. Sentuhan merupakan bentuk pertama komunikasi nonverbal untuk menyampaikan atau menerima pesan. Seperti berjabat tangan, mencubit, menepuk, memukul menggelitik dan lain-lain merupakan sentuhan yang mengkomunikasikan berbagai emosi.
2) Paralanguage
Merupakan komunikasi nonverbal mengenai apa yang didengar dan bagaimana sesuatu dikatakan. Macam-macam paralanguage antara lain:
a. Pola Titinada (Pitch), merupakan tinggi rendahnya nada suara yang digunakan pada situasi tertentu dan memiliki makna tertentu.bicaranya dan dapat menyampaikan serangkaian emosi baik marah, sedih, bahagia, dan lain sebagainya.
b. Volume, merupakan keras atau lembutnya nada yang digunakan untuk menunjukkan sebuah makna. Misalnya, mengeraskan suara ketika sedang marah, berbicara lembut pada orang yang lebih tua dan dihormati.
c. Kecepatan, berkaitan dengan tempo suara atau kecepatan pada saat berbicara. Misalnya orang cenderung bicara cepat ketika sedang gugup, terkejut dan berbicara lambat ketika sedang cemas berpikir menemukan sebuah solusi.
d. Kualitas Suara, berkaitan dengan bunyi dari suara seseorang. Setiap orang memiliki kualitas suara yang berbeda ada yang nyaring, serak ataupun parau. Namun secara keseluruhan berfungsi untuk menyampaikan keadaan pikiran maupun perasaan.
e. Intonasi, yakni tinggi rendahnya nada pada kalimat maupun penekanan pada kata yang memberikan makna tertentu.
3) Penggunaan Ruang
a. Proksemik (Kedekatan), merupakan penggunaan ruang komunikasi yang berkaitan dengan kedekatan antara pelaku komunikasi. Dalam hal ini menunjukkan kedekatan atau kenyamanan pelaku komunikasi ketika berbicara yakni jarak akrab atau intimate distance (0-50 cm), jarak pribadi atau personal distance (50-125 cm), jarak sosial atau social distance (125 cm-4 m), dan jarak umum atau public distance (lebih dari 4 m).
b. Teritorial (Wilayah), mengacu pada ruang dimana seseorang menuntut kepemilikan wilayah dalam berkomunikasi. Wilayah mengandung dimensi kekuasaan, orang yang memiliki status yang lebih tinggi umumnya menuntut wilayah yang lebih besar dan luas, lebih bergengsi dan melindungi.
c. Artifacts atau Artefak, merupakan ruang komunikasi verbal yang menunjukkan diri seseorang atau apa yang dimiliki seseorang sebagai pesan komunikasi. Misalnya penampilan tubuh pakaian, maupun kosmetik, warna dinding rumah, dan lain sebagainya.
2.6 Tujuan Komunikasi
Menurut Gordon (dalam Hariyanto, 2021, hlm. 43) mengatakan bahwa tujuan utama dari proses komunikasi adalah untuk mempengaruhi, menyampaikan informasi, menarik perhatian, menumbuhkan empati, dan lain sebagainya. Namun secara universal tujuan dari komunikasi yaitu:
1. Attitude Change (Mengubah Sikap) 2. Opinion Change (Mengubah Opini) 3. Behavior Change (Mengubah Perilaku)
Selain tujuan tersebut, komunikasi juga dapat digunakan dalam mempermudah interaksi antar pelaku komunikasi seperti untuk mempermudah menyampaikan gagasan agar dimengerti oleh para pelaku komunikasi, memahami orang lain, dan menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu.
Jadi dapat kita katakan bahwa komunikasi itu bertujuan mengharapkan pengertian, dukungan, gagasan dan tindakan. Setiap komunikasi tentunya mempunyai tujuan bagi para pelaku komunikasi sesuai dengan karakteristik masing-masing. Tujuan komunikasi dari sudut kepentingan sumber atau komunikator yaitu memberikan informasi, mendidik, menghibur, dan menganjurkan suatu tindakan/persuasi. Tujuan komunikasi dari sudut kepentingan penerima yaitu memahami informasi, mempelajari, menikmati, dan menerima atau menolak anjuran.
2.7 Fungsi Komunikasi
Menurut Mulyana (dalam Hariyanto, 2021, hlm. 45) terdapat empat fungsi komunikasi, yaitu:
1) Komunikasi Ekspresif
Fungsi utama komunikasi digunakan sebagai alat untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosi). Perasaan-perasaan tersebut dikomunikasikan melalui pesan-pesan nonverbal.
2) Komunikasi Ritual
Komunikasi ritual biasanya dilakukan secara serempak. Contoh dari komunikasi ritual yaitu: upacara bendera, upacara kelahiran, sunatan, ,berdoa, ulang tahun, siraman, pernikahan, upacara kematian. Dalam acara- acara tersebut, individu biasanya mengucapkan kata-kata atau menampilkan perilaku-perilaku tertentu yang bersifat simbolik.
3) Komunikasi Instrumental
Komunikasi instrumental memiliki beberapa tujuan umum, yaitu:
menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan, dan menghibur. Kesemua tujuan tersebut dapat disebut membujuk (persuasi).
4) Komunikasi Sosial
Fungsi komunikasi sebagai komunikasi sosial mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur, dan memupuk hubungan dengan orang lain. Melalui komunikasi kita bekerja sama dengan masyarakat untuk mencapai tujuan bersama.
2.8 Komunikasi Sosial
Handoko (dalam Mudjiono, 2013, hlm. 6) berpendapat bahwa komunikasi merupakan proses pemindahan pengertian/maksud dalam bentuk gagasan atau informasi dari satu individu ke individu lainnya.
Menurut Rummel (dalam Sapitri, 2021, hlm. 10) interaksi sosial merupakan aktivitas dua orang atau lebih yang saling menyesuaikan diri tentang kehidupan yang mereka miliki. Sehingga dalam interaksi sosial diharuskan terdapat rasa empati dalam setiap perilaku interaksi tersebut. Interaksi sosial menjadi awal terbentuknya sebuah sistem sosial. Melalui interaksi terbentuk pula penyatuan masyarakat.
Berdasarkan definisi oleh para ahli, definisi komunikasi sosial yaitu proses pemindahan informasi yang melibatkan dua orang atau lebih yang saling menyesuaikan dan melibatkan rasa empati dalam setiap perilaku interaksi yang dilakukan.
2.9 Fungsi Komunikasi Sosial
Menurut Mulyana (2004, hlm. 55) terdapat beberapa fungsi komunikasi sosial diantaranya:
1) To Inform
Memberikan informasi (Public Information) kepada masyarakat. karena perilaku menerima informasi merupakan perilaku alamiah masyarakat.
2) To Education
Mendidik masyarakat (Public Education). Kegiatan komunikasi kepada masyarakat memberikan informasi yang tidak lain agar masyarakat menjadi lebih baik, maju, dan berkembang pola pikir serta kebudayaannya.
3) To Entertainment
Menghibur masyarakat (Public Entertainment). Dalam rangka menerima informasi masyarakat tidak hanya dapat terpengaruh dan terdidik namun juga dapat terhibur.
4) To Influence
Komunikasi yang dilakukan dengan masyarakat dapat mempengaruhi lingkungan sekitarnya sesuai dengan sikap dan perilaku yang diharapkan.
Misalnya dalam kegiatan pemilihan kepala daerah, kampanye, dan propaganda.
Menurut Mulyana (dalam Hariyanto, 2021, hlm. 45) fungsi komunikasi sosial terbentuk karena adanya proses pembentukan dari dalam diri diantaranya:
1) Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri merupakan pandangan individu terhadap diri sendiri yang biasanya diperoleh melalui penilaian dari individu lain. Setiap manusia harus menyadari bahwa orang-orang di sekelilingnya memperlihatkan perilaku verbal maupun nonverbal sehingga setiap manusia menyadari bahwa dirinya terlahir sebagai makhluk sosial.
Melalui komunikasi dengan orang lain seseorang tidak hanya belajar mengenai dirinya tetapi juga memahami bagaimana orang lain memandang dirinya.
2) Pernyataan Eksistensi Diri
Orang berkomunikasi untuk menunjukkan eksistensi dirinya, yang lebih tepatnya disebut sebagai aktualisasi diri.
3) Untuk kelangsungan hidup, memupuk hubungan dan memperoleh kebahagiaan.
Sejak lahir manusia tidak dapat hidup sendiri untuk mempertahankan hidupnya. Manusia perlu berkomunikasi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti makan, minum, dan memperoleh kebahagiaan.
2.10 Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)
Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan salah satu kebijakan yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Salah satu program utamanya yaitu hak belajar tiga semester diluar program studi. Mahasiswa dapat mengambil SKS diluar program studi, tiga semester yang dimaksud berupa 1 semester kesempatan mengambil mata kuliah diluar program studi dan 2 semester melaksanakan aktivitas pembelajaran diluar perguruan tinggi asal (Dikti, 2020, hlm. 2).
Proses pembelajaran pada kampus Merdeka merupakan perwujudan dari pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered learning).
Pembelajaran pada kampus Merdeka memberikan tantangan dan peluang untuk mengembangkan inovasi, kreativitas, keterampilan, kepribadian dan kebutuhan mahasiswa, serta kemandirian dalam mencari dan menemukan informasi tentang dinamika yang ada di lingkungan sekitar seperti persyaratan kemampuan, permasalahan nyata, interaksi sosial, kolaborasi, manajemen diri, tuntutan kinerja, target dan pencapaian. Melalui program merdeka belajar yang dirancang dan diimplementasikan dengan baik, maka hard dan soft skills mahasiswa akan terasah dengan kuat (Dikti, 2020, hlm. 3).
Gambar 2.2 Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) (Sumber: https://teknikindustriuajy.id/2022/03/27/merdeka-belajar-kampus-
merdeka diakses pada 16 Maret 2023 pukul 14.26 WIB)
Terdapat 8 program dalam pelaksanaan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), yaitu pertukaran pelajar, magang/praktek kerja, asistensi mengajar di satuan pendidikan/kampus mengajar, penelitian/riset, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, studi/proyek independen, dan membangun desa/kuliah kerja nyata tematik.
Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka diharapkan dapat menjadi solusi atas tantangan Perguruan Tinggi yang dituntut untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan perkembangan zaman, kemajuan IPTEK, tuntutan dunia industri, dan maupun permasalahan yang menjadi keresahan pada masa sekarang.
2.11 Tujuan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM)
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills, agar lebih relevan dan siap dengan kebutuhan zaman, menyiapkan lulusan berkompeten melalui program-program pembelajaran yang berpusat pada pengalaman dengan jalur yang fleksibel dan diharapkan dapat memudahkan mahasiswa dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan keinginan dan bakatnya (Dikti, 2020, hlm. 3).
2.12 Kampus Mengajar
Berdasarkan Buku Panduan Kampus Mengajar Angkatan 4 (2022), kegiatan Asistensi Mengajar di Satuan Pendidikan atau yang lebih dikenal dengan program Kampus Mengajar merupakan salah satu program dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dimana memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di luar kelas dengan menjadi mitra guru dalam proses pembelajaran di tingkat pendidikan dasar. Dengan mengikuti kegiatan Kampus Mengajar, mahasiswa akan memiliki kesempatan untuk mengasah soft skills dan karakter, serta mendapat pengalaman mengajar yang dapat diakui dalam bentuk satuan kredit semester (sks).
Gambar 2.3 Program Kampus Mengajar (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Program Kampus Mengajar merupakan kolaborasi yang penerima manfaatnya adalah mahasiswa dan siswa jenjang pendidikan SD dan SMP.
Program ini berfokus pada dua hasil luaran, yaitu pengembangan kompetensi mahasiswa peserta program melalui peningkatan kapasitas kepemimpinan, kreativitas dan inovasi, penyelesaian masalah, komunikasi, manajemen tim, dan peningkatan cara berpikir analitis, serta peningkatan literasi dan numerasi bagi siswa di sekolah sasaran. Konteks ini semakin kuat mengingat kondisi literasi dan numerasi Indonesia yang masih rendah seiring upaya peningkatan literasi dan numerasi sebagai salah satu agenda prioritas nasional.
2.13 Tujuan Program Kampus Mengajar
Berdasarkan Buku Panduan Kampus Mengajar Angkatan 4 (2022), secara umum program Kampus Mengajar bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa mempertajam kompetensi abad 21 (berpikir analitis, penyelesaian masalah, kepemimpinan, manajemen tim, kreativitas dan inovasi, komunikasi) melalui aktivitas pengembangan pembelajaran di satuan pendidikan dasar.
mahasiswa memperdalam ilmu dan keterampilan (soft skills) dengan cara mendampingi proses pengajaran di SD atau SMP di daerah yang ditetapkan Kemendikbud Ristek. Selain itu, program ini bertujuan antara lain:
1) Peningkatan pemerataan kualitas pendidikan dasar;
2) Peningkatan keterampilan kepemimpinan dan empati sosial mahasiswa melalui:
a. Peningkatan kemampuan berpikir analitis dan penyelesaian masalah, peningkatan kemampuan kerjasama dan manajemen tim, kerjasama lintas bidang ilmu dan ragam asal mahasiswa dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi;
b. Peningkatan kreativitas dan inovasi dalam merancang strategi, metode dan model pembelajaran bersama di SD dan SMP untuk meningkatkan kualitas pembelajaran;
c. Peningkatan kemampuan komunikasi saat melakukan kegiatan bersama para pemangku kepentingan terkait.
3) Peningkatan kemampuan literasi dan numerasi pada siswa di satuan pendidikan dasar dan menengah.
2.14 Ruang Lingkup Program Kampus Mengajar
Berdasarkan Buku Panduan Kampus Mengajar Angkatan 4 (2022), ruang lingkup program Kampus Mengajar mencakup, antara lain:
1) Pendampingan kepada guru dalam pembelajaran di semua mata pelajaran, khususnya dalam pembelajaran literasi dan numerasi;
2) Pendampingan adaptasi teknologi dalam proses pembelajaran di SD dan SMP menggunakan metode daring maupun luring;
3) Pengenalan produk kebijakan dan pembelajaran Kemendikbud Ristek.
Platform Merdeka Mengajar (PMM), dan AKM kelas; Kurikulum Merdeka, dan Rapor Pendidikan Indonesia;
4) Sosialisasi dan improvisasi materi promosi profil pelajar pancasila;
5) Duta edukasi perubahan perilaku di masa pandemi;
6) Memberikan inspirasi terkait perencanaan program sekolah yang berfokus pada kemajuan ilmu dan teknologi;
7) Memberikan motivasi kepada siswa agar tetap memiliki semangat untuk terus belajar dan menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi; dan 8) Pendampingan kepada kepala sekolah dan guru dalam bidang administrasi
dan manajerial sekolah yang berkaitan dengan program.
2.15 Manfaat Program Kampus Mengajar
Berdasarkan Buku Panduan Kampus Mengajar Angkatan 4 (2022), manfaat program Kampus Mengajar mencakup, antara lain:
1) Mahasiswa mendapatkan peningkatan kualitas lulusan dalam hal keterampilan (soft skills) dan karakter;
2) Dosen mendapatkan peningkatan kualitas jumlah keluaran berupa laporan kinerja yang dapat ditransaksikan kinerjanya ke dalam bentuk Laporan Kinerja Dosen (LKD);
3) Perguruan tinggi dapat meningkatkan kualitas kurikulum dan pembelajaran pendidikan tinggi yang mengimplementasikan kelompok berbasis proyek (team-based project), case method, dan penilaian yang terkait dalam pelaksanaan program Kampus Mengajar di SD dan SMP;
4) Perguruan tinggi dapat meningkatkan kemitraan dengan pihak-pihak terkait yang berperan dalam program Kampus Mengajar;
5) Sekolah mendapatkan peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa.
2.16 Indikator Keberhasilan Program Kampus Mengajar
Berdasarkan Buku Panduan Kampus Mengajar Angkatan 4 (2022), indikator keberhasilan dari program Kampus Mengajar dirancang untuk memenuhi Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi yaitu:
1) Pengalaman mahasiswa belajar di luar kampus
Terjadi peningkatan dan pengalaman belajar mahasiswa sehingga memantapkan mereka untuk siap di dunia kerja. Hal ini diukur dengan indikator jumlah sks yang disetarakan sebanyak 20 sks;
2) Keterlibatan dosen dalam program
Dosen mendapatkan luaran berupa laporan kinerja yang dituangkan ke dalam bentuk Laporan Kinerja Dosen (LKD). Keterlibatan dosen dalam program diukur dengan meningkatnya jumlah partisipan dosen yang mendaftar menjadi dosen pembimbing lapangan Kampus Mengajar;
3) Kerja sama perguruan tinggi dengan mitra
Perguruan tinggi dapat meningkatkan capaian IKU 2, yaitu persentase mahasiswa yang menghabiskan paling sedikit 20 sks di luar kampus atau berprestasi minimal tingkat nasional; IKU 3, yaitu persentase dosen yang berkegiatan di luar kampus/sekolah mitra; dan IKU 5, yaitu jumlah luaran riset/pengabdian masyarakat dosen yang digunakan oleh masyarakat/sekolah. Hal ini diukur dengan indikator jumlah program studi yang melaksanakan kerjasama dengan mitra sekolah dan dinas pendidikan.
4) Inovasi pembelajaran di SD dan SMP yang berfokus pada peningkatan literasi dan numerasi
Siswa mengalami peningkatan kemampuan literasi dan numerasi, serta guru dapat merancang strategi pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Hal ini diukur dengan indikator hasil Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) kelas yang dilaksanakan di awal dan akhir penugasan.
2.17 Capaian Pembelajaran Program Kampus Mengajar
Berdasarkan Buku Panduan Kampus Mengajar Angkatan 4 (2022), capaian Pembelajaran Program (CPP) Kampus Mengajar tentunya dikaitkan dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) program studi. Prodi non kependidikan lebih berkaitan dengan aspek pengetahuan dan keterampilan umum, sedangkan prodi kependidikan lebih berkaitan dengan aspek keterampilan khusus. Program Kampus Mengajar memberi potensi mahasiswa memperoleh kompetensi tambahan berupa soft skills dan hard skills yang belum tentu diperoleh di dalam mata kuliah prodi.
CPP Kampus Mengajar yang diharapkan setelah mahasiswa menyelesaikan program Kampus Mengajar dijelaskan sebagai berikut:
1) Memiliki kepekaan sosial dan rasa empati terhadap permasalahan di kehidupan masyarakat yang ada di sekitar (sikap);
2) Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah (sikap);
3) Berinovasi dan memiliki kreativitas dalam berkolaborasi dengan guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (keterampilan khusus);
4) Memiliki kemampuan menyusun, merancang, dan mengembangkan strategi pembelajaran yang kreatif, inovatif dan menyenangkan (keterampilan khusus);
5) Memiliki keterampilan berpikir kritis dalam berkolaborasi lintas bidang keilmuan (keterampilan umum);
6) Memiliki kemampuan untuk menyampaikan ide/gagasan dalam berbagai forum dan media (keterampilan umum);
7) Memiliki kemampuan dalam menerima dan menyampaikan informasi (keterampilan umum);
8) Memiliki jiwa kepemimpinan (keterampilan umum);
9) Memiliki pertahanan diri yang baik dalam berbagai situasi (keterampilan umum);
10) Memiliki kinerja bermutu dan terukur (keterampilan umum);
11) Memiliki kemampuan mengambil keputusan secara tepat dalam konteks di berbagai bidang keahlian (keterampilan umum);
12) Mengembangkan jaringan dengan pembimbing, kolega, dan rekan sejawat (keterampilan umum).
2.18 Kerangka Berpikir
Komunikasi sosial merupakan kemampuan individu untuk berkomunikasi secara sosial serta saling berbagi pengalaman dan emosi dengan setiap orang dalam berbagai konteks dan peristiwa (Diningrum, 2020, hlm. 40). Ketika melaksanakan program MBKM kampus mengajar, mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan keterampilan komunikasi sosial dalam dirinya karena sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Rahayu (2018, hlm. 4), pentingnya memiliki keterampilan komunikasi sosial pada mahasiswa yaitu agar mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru dan lebih mudah menjalin hubungan dengan individu lain. Dalam pelaksanaan program MBKM Kampus Mengajar, mahasiswa dituntut untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru melalui interaksi dengan setiap individu yang ditemuinya, maka dalam proses tersebut dibutuhkan keterampilan komunikasi sosial yang baik.
Berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan serta mengacu pada Buku Panduan Kampus Mengajar (2022, hlm. 3), program MBKM kampus mengajar dinilai mampu mengasah berbagai soft skill mahasiswa termasuk kemampuan komunikasi. Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu tujuan program MBKM kampus mengajar, yaitu meningkatkan kemampuan komunikasi mahasiswa saat melakukan kegiatan melalui interaksi bersama para pemangku kepentingan terkait, selain itu terdapat materi pembekalan pra-penugasan, yaitu komunikasi dan adaptasi budaya di lingkungan sekolah, mahasiswa dituntut untuk proaktif dalam menyampaikan gagasannya melalui komunikasi yang baik dengan berbagai perangkat sekolah seperti kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, rekan sejawat, dan dosen pembimbing demi tercapainya tujuan dari program yang telah disepakati bersama.
2.19 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian, yang dimana rumusan masalah penelitian telah dikemukakan dalam bentuk pertanyaan. Hipotesis dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan didasarkan pada teori saja (Sugiyono, 2007, hlm. 64).
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan, maka terdapat hipotesis dalam penelitian ini yang perlu dibuktikan kebenarannya yaitu: “Terdapat hubungan program MBKM kampus mengajar dengan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga.”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik korelasional.Penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggunakan observasi, wawancara atau angket mengenai keadaan sekarang dan subjek yang sedang diteliti.
Melalui angket dan sebagainya, peneliti mengumpulkan data untuk menguji hipotesis atau menjawab suatu pertanyaan (Ruseffendi, 2010, hlm. 33).
Teknik korelasional bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara suatu variabel dengan variabel lainnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Sukmadinata (2015, hlm. 52) bahwa penelitian korelasional bertujuan untuk mengetahui hubungan suatu variabel dengan variabel-variabel lainnya. Hubungan antara satu dengan beberapa variabel lain dinyatakan dengan besarnya koefisiensi korelasi dan keberartian (signifikan) secara statistik.
Pada penelitian korelasional ada yang namanya korelasi positif dan negatif.
Korelasi positif berarti adanya nilai tinggi dari satu variabel tersebut terhadap variabel lainnya. Sedangkan korelasi negatif yang mana adanya nilai rendah dari satu variabel tersebut terhadap variabel lainnya. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang diteliti, yaitu variabel (X) program MBKM kampus mengajar yang merupakan variabel bebas dan variabel (Y) keterampilan komunikasi sosial mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga yang merupakan variabel terikat.
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab munculnya variabel terikat. Sedangkan variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau akibat dari adanya variabel bebas.
Gambar 3.1 Desain Penelitian (Sumber: Fraenkel dan wallen, 2008)
MBKM kampus mengajar Keterampilan komunikasi sosial
3.2 Partisipan
Menurut Moleong (2014, hlm. 224) partisipan merupakan seseorang yang memiliki kemampuan untuk memberikan informasi mengenai topik penelitian yang ditentukan oleh peneliti.
Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa prodi pendidikan kepelatihan olahraga, Universitas Pendidikan Indonesia yang telah mengikuti program MBKM kampus mengajar yang berjumlah 9 mahasiswa.
3.3 Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2015, hlm. 21) populasi adalah wilayah generasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Berdasarkan penjelasan tersebut, populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Mahasiswa prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Pendidikan Indonesia yang telah mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kampus Mengajar pada tahun 2022 dan 2023 awal.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik total sampling. Total sampling merupakan teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi (Sugiyono, 2007, hlm. 32). Dalam hal ini sampel yang digunakan berjumlah 9 mahasiswa. Alasan peneliti menggunakan teknik total sampling karena semua anggota dalam populasi mempunyai probabilitas atau kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel.
3.4 Instrumen Penelitian
Menurut Arikunto (2002, hlm. 136) instrumen penelitian merupakan alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data untuk mempermudah pekerjaannya dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.
Dalam penelitian ini, peneliti mengadaptasi angket keterampilan komunikasi sosial yang telah disusun oleh Ika Mauli Diyawati (2017, hlm. 30) yang dinilai dalam skala likert 4 pilihan. Instrumen ini dipilih peneliti karena memiliki kemiripan dengan karakteristik variabel yang diteliti oleh peneliti.
1) Variabel dan Indikator Penelitian
Dalam mengumpulkan data kuantitatif peneliti memperoleh data dengan beberapa teknik sebagai berikut.
a) Variabel Independen (Variabel Bebas)
Variabel Independen (Variabel Stimulus, Variabel Predictor, Variabel Antecedent, Variabel Eksogen) merupakan variabel yang tidak terikat atau yang mempengaruhi, bisa juga variabel yang menjadi sebab terjadinya variabel dependen. Dalam prosesnya, ditemukan bahwa variabel bebas menjadi sebab hadirnya atau timbulnya timbulnya variabel lain.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:
X = Program MBKM kampus mengajar
Indikator:
1) Penguasaan Materi Pra-Penugasan:
Pemahaman materi saat pembekalan/pra-penugasan mengenai komunikasi yang disampaikan oleh pemateri dari pihak kementrian pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi republik Indonesia (KEMENDIKBUD RISTEK).
2) Proses Pelaksanaan Program:
Proses adaptasi dan pendekatan di lingkungan sekolah, serta kemampuan mengorganisir siswa untuk turut serta dalam pelaksanaan program kampus mengajar.
3) Capaian program MBKM kampus mengajar:
Mahasiswa berpartisipasi atau ikut andil dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa di sekolah tempat mereka ditugaskan.
b) Variabel Dependen (Variabel Terikat)
Variabel Dependen (Variabel Terikat) merupakan yang dipengaruhi atau akibat dari variabel independen. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah:
Y = Keterampilan komunikasi sosial mahasiswa Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Indikator:
1) Keterampilan Komunikasi Verbal:
Kemampuan berbicara, keberanian berpendapat, kemampuan berbahasa, gaya bicara, dan kemampuan berdiskusi.
2) Keterampilan Komunikasi Nonverbal:
Kontak mata, ekspresi wajah, dan gerak tubuh.
Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan angket yang berisi butir- butir pernyataan berdasarkan indikator yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam bahasa Inggris angket disebut dengan Questionnaire (daftar pertanyaan). Metode kuesioner dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden. Kuesioner dapat berupa pertanyaan terbuka atau tertutup, dapat diberikan secara langsung atau melalui pos dan internet (Sugiyono, 2015, hlm. 201). Dalam penelitian ini kuesioner menjadi instrumen yang dipakai dalam pengumpulan data kuantitatif. Peneliti menggunakan Angket yang berisi butir-butir pernyataan berdasarkan indikator yang telah ditentukan sebelumnya. Metode kuesioner dilakukan dengan cara memberi pernyataan kepada responden.
Kuesioner dibagikan secara langsung dan melalui media “Google Form” yang digunakan dalam mengumpulkan data untuk mengetahui ada atau tidaknya serta tingkat hubungan program MBKM kampus mengajar dengan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Pendidikan Indonesia. Pada tabel 3.1 berikut merupakan blue print skala keterampilan komunikasi sosial yang menjadi pedoman atau acuan peneliti untuk melakukan penelitian ini.
Tabel 3.1 Blue Print Skala Keterampilan Komunikasi Sosial Variabel Indikator Sub-Indikator No. Item Pernyataan
(+) (-)
Program MBKM Kampus Mengajar
Penguasaan Materi Pra-
Penugasan
Pemahaman Terkait Materi
Komunikasi
1, 2, 3
Proses Pelaksanaan-
Program Kampus Mengajar
Adaptasi dan
Pendekatan 4, 5, 6, 7 Mengorganisir
Siswa 8,9
Capaian Program Kampus Mengajar
Meningkatkan Kemampuan
Literasi dan Numerasi Siswa
10, 11, 12, 13, 14, 15
Keterampilan Komunikasi
Sosial Mahasiswa
Komunikasi Verbal
Kemampuan
Berbicara 16, 17, 18 Keberanian
Berpendapat 19, 20, 21 Kemampuan
Berbahasa 22, 23, 24 Gaya Bicara
25, 26 Kemampuan
Berdiskusi 27, 28, 29, 31 30
Komunikasi Non-Verbal
Kontak Mata 32, 33 Ekspresi Wajah
(Ramah) 34, 35
Gerak Tubuh 36, 37, 38, 39, 40 (Sumber: Diyawati, 2017)
Berdasarkan tabel 3.1 pada blue print skala keterampilan komunikasi sosial, terdapat indikator dan sub indikator dari variabel program MBKM kampus mengajar dan keterampilan komunikasi sosial mahasiswa. Skala yang digunakan peneliti pada penelitian ini yaitu skala likert 4 pilihan. Skala likert dapat dipergunakan untuk mengukur persepsi, sikap, dan pendapat individu tentang suatu gejala atau fenomena sosial. Variabel yang diteliti dijabarkan menjadi menjadi indikator-indikator yang dapat diukur (Djaali & Muljono, 2007, hlm.53). Pada penelitian ini untuk kategori skor dari skala yang digunakan dibagi menjadi 2, yaitu pernyataan mendukung (favourable) dan pernyataan menolak (unfavourable).
Berikut peneliti tuangkan dalam tabel 3.2.
Tabel 3.2 Skor Skala Likert
Pernyataan Skor
Favourable (+) Unfavourable (-)
Sangat setuju 4 1
Setuju 3 2
Tidak setuju 2 3
Sangat tidak setuju 1 4
(Sumber: Sugiyono, 2015)
Mengacu pada tabel 3.2 adapun bobot nilai dari setiap pertanyaan atau pernyataan dalam suatu skala likert, untuk item favorable (mendukung) yaitu sebagai berikut:
1) Sangat Setuju (SS) : 4 2) Setuju (S) : 3 3) Tidak Setuju (TS) : 2 4) Sangat Tidak Setuju (STS) : 1
Sedangkan untuk item unfavorable (menolak) yaitu sebagai berikut : 1) Sangat Setuju (SS) : 1
2) Setuju (S) : 2 3) Tidak Setuju (TS) : 3 4) Sangat Tidak Setuju (STS) : 4
2) Uji Validitas dan Reliabilitas a) Uji Validitas
Teknik uji validitas yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik korelasi melalui koefisien korelasi product moment. Skor ordinal dari setiap item pertanyaan yang diuji validitasnya kemudian dikorelasikan dengan skor ordinal keseluruhan item, jika koefisien korelasi tersebut positif, maka item tersebut valid, sedangkan jika negatif maka item yang tersebut tidak valid dan akan dikeluarkan dari kuesioner.
Rumus korelasi product moment adalah sebagai berikut: Keputusan pengujian validitas item responden adalah sebagai berikut:
1. Nilai r dibandingkan dengan nilai r tabel dengan dk= n-2 dan taraf signifikansi sebesar 5%
2. Item pernyataan yang diteliti dikatakan valid jika r Hitung > r Tabel 3. Item pernyataan yang diteliti dikatakan tidak valid jika r Hitung < r Tabel
Pada tabel 3.3 berikut merupakan jumlah pernyataan pada setiap indikator yang belum dilakukan uji validitas. Pengujian validitas instrumen dalam penelitian ini dilakukan pada setiap item pernyataan, yang terdiri dari 40 item dan pengujian dilakukan ke responden selain daripada sampel penelitian, yakni mahasiswa Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan yang telah mengikuti program MBKM kampus mengajar berjumlah 14 responden. Hasil pengujian validitas instrumen untuk setiap item pernyataan diperlihatkan pada tabel 3.3 berikut:
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Instrumen No. Item
Pernyataan R Hitung R Tabel
Sig = 5% Keterangan
1 0,467 0,532 Tidak Valid
2 0,642 0,532 Valid
3 0,426 0,532 Tidak Valid
4 0,845 0,532 Valid
5 0,486 0,532 Tidak Valid
6 0,608 0,532 Valid
7 0,594 0,532 Valid
8 0,631 0,532 Valid
9 0,157 0,532 Tidak Valid
10 0,213 0,532 Tidak Valid
11 0,441 0,532 Tidak Valid
12 0,622 0,532 Valid
13 0,718 0,532 Valid
14 0,337 0,532 Tidak Valid
15 0,374 0,532 Tidak Valid
16 0,690 0,532 Valid
17 0,566 0,532 Valid
18 0,350 0,532 Tidak Valid
19 0,608 0,532 Valid
20 0,297 0,532 Tidak Valid
21 0,599 0,532 Valid
22 0,664 0,532 Valid
23 0,635 0,532 Valid
24 0,552 0,532 Valid
25 0,580 0,532 Valid
26 0,296 0,532 Tidak Valid
27 0,752 0,532 Valid
28 0,478 0,532 Tidak Valid
29 0,527 0,532 Tidak Valid
30 0,701 0,532 Valid
31 0,479 0,532 Tidak Valid
32 0,845 0,532 Valid
33 0,676 0,532 Valid
34 0,752 0,532 Valid
35 -0,057 0,532 Tidak Valid
36 0,595 0,532 Valid
37 0,600 0,532 Valid
38 0,206 0,532 Tidak Valid
39 0,540 0,532 Valid
40 0,266 0,532 Tidak Valid
Berdasarkan tabel 3.3 dapat dilihat hasil uji validitas yang dilakukan peneliti, dari total 40 pernyataan kuesioner yang disebar, hanya terdapat 23 pernyataan yang valid sedangkan 17 tidak valid. Akan tetapi dari 23 pernyataan tersebut sudah mewakili setiap indikator dan sub indikator yang ada. Berikut peneliti tuangkan no. item pernyataan yang valid pada tabel 3.4
Tabel 3.4 Skala Keterampilan Komunikasi Sosial (setelah uji validitas)
Variabel Indikator Sub-Indikator No. Item Pernyataan
(+) (-)
Program MBKM Kampus Mengajar
Penguasaan Materi Pra-
Penugasan
Pemahaman Terkait
Materi Komunikasi 2 (1)
Proses Pelaksanaan-
Program Kampus Mengajar
Adaptasi dan Pendekatan
4 (2), 6 (3), 7 (4)
Mengorganisir Siswa 8 (5)
Capaian Program Kampus Mengajar
Meningkatkan Kemampuan Literasi
dan Numerasi Siswa
12 (6), 13 (7)
Keterampilan Komunikasi
Sosial Mahasiswa
Komunikasi Verbal
Kemampuan
Berbicara 16 (8), 17 (9) Keberanian
Berpendapat 19 (10), 21 (11) Kemampuan
Berbahasa 22 (12), 23 (13), 24 (14) Gaya Bicara
25 (15)
Kemampuan
Berdiskusi 27 (16) 30 (17)
Komunikasi Non-Verbal
Kontak Mata 32 (18), 33 (19) Ekspresi Wajah
(Ramah) 34 (20)
Gerak Tubuh 36 (21), 37 (22), 39 (23)
Berdasarkan tabel 3.4 selanjutya peneliti membuat angket yang berisi pernyataan yang valid untuk kemudian dibagikan kepada para responden. Berikut peneliti tuangkan angket dari hasil uji validitas sebelumnya, pada tabel 3.5
Tabel 3.5 Angket Hasil Uji Validitas
No Pernyataan SS S TS STS
1. Saya memahami materi komunikasi dan adaptasi budaya pada saat pembekalan Kampus Mengajar.
2. Saya mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah penugasan.
3. Saya mampu berbaur dengan siswa di sekolah penugasan.
4. Saya mampu berbaur dengan guru di sekolah penugasan.
5. Saya mampu mengelola kelas saat kegiatan pembelajaran (akademik).
6. Saya terlibat aktif dalam peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa.
7. Saya berbagi wawasan dengan guru mengenai peningkatan literasi dan numerasi pada siswa.
8. Saya aktif berbicara di hadapan siswa, guru, dan teman kelompok.
9. Saya selalu berbicara dengan lancar (tidak terbata- bata) saat berbicara di hadapan siswa, guru, dan teman kelompok.
10. Saya berani menyampaikan pendapat atau usulan.
11. Saya yakin bahwa pendapat atau usulan yang saya sampaikan akan berdampak positif.
12. Saya menggunakan tata bahasa yang baik saat berbicara dengan siswa, guru, dan teman kelompok.
13. Saya mampu menggunakan bahasa lokal atau bahasa daerah di sekolah penugasan.