SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H.)
OLEH :
RAIHAN ILHAMSYAH NIM : 11180454000016
PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYAHTULLAH JAKARTA
1444 H/2023 M
iii
SANKSI PIDANA BAGI PELAKU PENIPUAN DALAM JUAL BELI ONLINE MENURUT KUHP, UU ITE & HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Pengadilan Nomor.27/Pid.sus/2020/PN/Byw)
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Oleh:
Raihan Ilhamsyah NIM: 11180454000016
Dibawah Bimbingan Pembimbing
Dr. M. Nurul Irfan, M.Ag.
NIP. 19730802 200312 1001
PROGRAM STUDI HUKUM PIDANA ISLAM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1444 H/2023 M
v
ABSTRAK
Raihan Ilhamsyah (11180454000016) “Sanksi pidana Bagi Pelaku Penipuan Jual Beli Online MENURUT KUHP, UU ITE & HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Pengadilan Nomor 27/Pid.sus/2020/PN/Byw)”. Program Studi Hukum pidana Islam, Fakultas Syari‟ah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun 2023M / 1444 H.
Tujuan penelitian ini adalah mengenai Tindak pidana penipuan yang dilakukan oleh Nur Alamsyah Bin Suparmin yang terdapat pada putusan pengadilan Negeri Banyuwangi Nomor 27/Pid.sus/2020/PN/Byw yang di penjara selama 6 bulan. Skripsi ini dibuat bertujuan untuk menjelaskan sanksi terhadap pelaku penipuan jual beli online dalam perspektif hukum positif dan hukum Islam, serta pertimbangan dan penerapan hakim, serta analisa penulis mengenai putusan tersebut dalam putusan no.27/pid.sus/2020/PN/Byw.
Penelitian ini mengunakan jenis penelitian yuridis normatif dan library research dengan melakukan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan, buku-buku, dan sumber lainnya. Yang berkaitan dengan objek kajian.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam Hukum Pidana Islam bahwa pelaku tindak pidana penipuan jual beli online dikenakan hukum takzir sedangkan menurut hukum pidana positif dikenakan dalam pasal 28 ayat (1) UU ITE. Jika penerapan ketentuan pidana oleh Majelis Hakim PN Banyuwangi yang memeriksa dan mengadili perkara ini dengan mempertimbangkan dakwaan jaksa penuntut umum yang pada dasarnya menggunakan Pasal 45 A ayat 1 jo. Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 378 KUHP.
Kata Kunci : Tindak Pidana, Penipuan Online, Jual Beli Pembimbing Skripsi : Dr. M. Nurul Irfan, M.Ag.
Daftar Pustaka : Tahun 1997 sampai Tahun 2021
vi
KATA PENGANTAR
ِِمْسِب
ِِّالل
ِِنَم ْحَّرلا
ِْيِحَّرلا
Segala Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini dengan baik. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa risalah kebenaran untuk semua umat khususnya kepada umat Islam.
Skripsi ini berjudul “ SANKSI BAGI PELAKU PENIPUAN DALAM JUAL BELI ONLINE DALAM MENURUT KUHP, UU ITE & HUKUM ISLAM (Analisis Putusan Pengadilan No.27/Pid.sus/2020/PN/Byw) “ disusun sebagai salah satu syarat akademis untuk menyelesaikan program strata satu di Fakultas Syari‟ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat keilmuan khususnya di Fakultas Syari‟ah dan Hukum Program Studi Hukum Pidana Islam (Jinayah).
Saya sangat menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan yang saya miliki, tapi berkat dukungan dan bimbingan serta doa dari orang-orang sekeliling saya akhirnya dapat menyelesaikan Skripsi ini.
Dalam kesempatan ini perkenankanlah peneliti menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas bimbingan, masukan, saran, dan dukungan baik berupa moril ataupun materil kepada yang terhormat:
1. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum yaitu Bapak Prof. Dr. Muhammad Maksum, S.H., M.A., M.D.C. yang telah memberikan arahan serta banyak meluangkan waktunya untuk memberikan masukan sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini. Semoga diberikan umur panjang, murah rezekinya.
2. Ketua Program Studi Hukum Pidana Islam yaitu Bapak Qosim Arsadani, M.A.
yang telah sabar membimbing dan memberikan arahan serta banyak meluangkan waktunya untuk memberikan masukan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
3. Dosen Pembimbing yaitu bapak Dr. M. Nurul Irfan, M.Ag. yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan memberikan arahan kepada
vii
peneliti tiada lelah, sehingga peneliti dapat menyelesaikan segala proses dalam program Strata satu ini.
4. Dosen penguji pertama yaitu bapak Prof. Dr. Kamarusdiana, M.H. yang telah meluangkan waktunya untul menguji dan memberikan arahan kepada peneliti tiada lelah sehingga peneliti dapat menyempurnakan dari skripsi peneliti ini.
5. Dosen penguji kedua yaitu bapak Dr. Abu Tamrin, S.H., M.Hum. yang telah meluangkan waktunya untul menguji dan memberikan arahan kepada peneliti tiada lelah sehingga peneliti dapat menyempurnakan dari skripsi peneliti ini.
6. Kepada kedua orang tua peneliti yaitu Bapak Tugiman dan Ibu Hariyanti yang selalu berjuang keras dalam memberikan support baik moril maupun materil, yang selalu memberikan semangat serta mendoakan peneliti dalam setiap sholatnya agar peneliti mampu menyelesaikan kuliah Strata satu ini. Semoga diberikan umur panjang, murah rezekinya dan diberikan kesehatan oleh Allah SWT.
7. Kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam kelancaran penyusunan skripsi ini namun tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Demikian ucapan terima kasih ini, semoga Allah Subhanahu wa Ta‟ala memberikan balasan yang setara kepada para pihak yang telah berbaik hati terlibat dalam penyusunan skripsi ini dan semoga pula skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamualaikum, Wr.Wb
Jakarta, 12 Juni 2023
RAIHAN ILHAMSYAH
viii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
LEMBAR PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah ... 5
C. Perumusan Masalah... 6
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
E. Metode Penelitian ... 7
F. Sistematika Pembahasan ... 9
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAK PIDANA, CYBER CRIME DAN E-COMMERCE ... 11
A. Kerangka Teori, Konseptual dan Berfikir ... 11
B. Studi Review Terdahulu ... 12
C. Tindak Pidana ... 14
D. Tinjauan Umum Mengenai Cyber Crime ... 22
E. Tinjauan Umum Mengenai E-Commerce ... 23
BAB III TINDAK PIDANA PENIPUAN DALAM JUAL BELI ONLINE MENURUT HUKUM POSTIF SERTA HUKUM ISLAM ... 27
A. Tindak Pidana Penipuan Menurut Hukum Positif ... 27
B. Tindak Pidana Penipuan Menurut Hukum Islam ... 33
BAB IV PENYELESAIAN KASUS TINDAK PIDANA PENIPUAN DALAM JUAL BELI ONLINE (Putusan Pengadilan No.27/Pid.sus/2020/PN/Byw) ... 37 A. Sanksi Terhadap Pelaku Penipuan Jual Beli Online Perspektif Hukum
ix
Positif ... 37
B. Sanksi Terhadap Pelaku Penipuan Jual Beli Online Perspektif Hukum Islam ... 39
C. Penerapan dan Pertimbangan Hakim Terhadap Sanksi Pelaku Tindak Pidana Penipuan Dalam Jual Beli Online (Putusan Pengadilan No.27/Pid.sus/2020/PN/Byw) ... 43
D. Analisis Putusan Hakim Dalam Putusan Pengadilan No.27/Pid.sus/2020/PN/Byw Tentang Tindak Pidana Penipuan Dalam Jual Beli Online ... 55
BAB V PENUTUP ... 59
A. Kesimpulan... 59
B. Saran ... 61
DAFTAR PUSTAKA ... 62
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Teknolog informasi dan komunikasi pada saat ini sudah berkembang sangat pesat, sehingga pada setiap masyararakat dapat memperluas aktifitasnya melalui dunia teknologi. Dengan adanya teknologi informasi, setiap orang juga dapat mengakses, memperoleh informasi, serta menambah wawasan dan jaringan yang sangat luas, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini akan menyebabkan pada perubahan sosial yang sangat signifikan. Meski begitu, dengan munculnya teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya memberikan dampak positif semata, melainkan juga banyak dampak negatif yang muncul disebabkan adanya penyalahgunaan media elektronik sehingga menyebabkan munculnya cyber crimes sehingga diperlukan adanya wadah hukum dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Teknologi informasi dan komunikasi di zaman sekarang telah menempatkan pada posisi yang sangat strategis karena menghadirkan suatu dunia tanpa jarak dan waktu, yang sangat berdampak pada peningkatan produktivitas dan keefektifannya. Pengaruh era globalisasi sarana teknologi informasi dan komunikasi telah banyak mengubah pola hidup masyarakat, dan mendorong terjadinya perubahan sosial, ekonomi, budaya, keamanan, dan penegakan hukum.1 Siswanto Sunarso (2009) menjelaskan teknologi informasi dan komunikasi ini telah banyak dimanfaatkan dalam kehidupan pribadi, sosial dan masyarakat, dan telah banyak memasuki berbagai sektor kehidupan.
Manfaat teknologi informasi dan komunikasi selain memberi dampak positif juga didasari memberi peluang untuk dijadikannya sarana melakukan tindakan kejahatan baru atau sekarang biasa disebut cyber crime, sehingga diperlukan suatu
1 Siswanto Sunarso, Hukum Informasi dan Transaksi Elektronik, (Jakarta: Rineka Cipta,2009), h, 40.
upaya perlindungan, teknologi informasi dan komunikasi di era globalisasi ini dapat saja pedang bermata dua. Selain memberikan kontribusi positif, untuk peningkatan kesejahteraan manusia juga menjadi sarana potensial dan sarana efektif untuk melakukan perbuatan melawan hukum.
Perbuatan hukum di dunia maya merupakan fenomena yang sangat mengkhawatirkan, mengingat tindakan carding, hacking, penipuan, terorisme, dan penyebaran informasi destruktif telah menjadi bagian dari aktivitas pelaku didunia maya. Kenyataan itu demikian sangat kontras dengan ketiadaan regulasi yang mengatur pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi diberbagai sektor. Oleh regulasi terhadap berbagai aktivitas terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut.
Perkembangan jual beli online di Indonesia akhir-akhir ini sangat berkembang pesat baik dikalangan anak muda maupun kalangan orang tua seiring berjalannya zaman penggunaan internet di era digital ini. Perkembangan media internet komersil yang paling berpengaruh di dalam kehidupan sehari- hari ini adalah dalam kegiatan transaksi jual beli online melalui website maupun media sosial seperti Facebook, Instagram, dll. Kegiatan jual beli melalui media internet ini untuk mempermudahkan penjual maupun konsumen untuk mendapatkan barang yang diinginkan dan diharapkan secara instan.
Banyak sekali keuntungan dari manfaat adanya E- Commerce ini yaitu penjual tidak perlu mendirikan tempat atau toko untuk usaha, cukup hanya dengan memanfaatkan adanya internet penjual bisa mendirikan usaha dan menjual barang-barang yang dipunya dengan adanya internet penjual juga bisa mempromosikan dagangannya ke teman-teman yang ada di media sosial atau pun di website sekaligus. Mengenai transaksi jual beli ini secara umum (lex generalis) diatur dalam KUHPerdata yang terdapat dalam Buku III tentang perikatan, tetapi secara khususnya (lexspecialis) transaksi jual beli online ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 jo. Undang-Undang
3
Nomor 19 tahun 2018 tentang informasi dan Transaksi Elektronik.
Mengenai transaksi elektronik menurut Pasal 1 Ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE yaitu “Perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan media elektronik lainnya.”
Berdasarkan pengertian di atas adanya persamaan yaitu menimbulkan hubungan hukum antar para pihak dalam bertransaksi. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE ada karena perkembangan dari KUH Perdata dan untuk mengkoordinir kebutuhan masyarakat yang sekarang serba penuh dengan teknologi.
Mengenai sanksi dari tindak pidananya sendiri telah diatur dalam pasal 378 KUHP yang berbunyi “Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan menggunakan nama palsu atau martabat(hoedanigheid) palsu, dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan,menggerakan orang lain untukmenyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi utang maupun menghapuskan piutang, diancam, karena penipuan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun.”
Dalam Islam tidak ada larangan akan adanya transaksi jual beli akan tetapi Islam sangat amat melarang setiap tindakan jual beli yang mengandung sebuah kecurangan yang menyebabkan konsumen mengalami kerugian yang sangat besar. Dalam Islam juga setiap akad yang dilakukan harus sesuai dengan syarat dan rukun yang ada, jika syarat dan rukunnya tidak ada maka akad tersebut dianggap tidak sah menurut syariat agama Islam.2
Beberapa peristiwa jual beli melalui media sosial yang dilakukan oleh masyarakat indonesia banyak sekali yang bermasalah dengan hukum. Dari mulai barang tidak sesuai apa yang di pesan, ada pula yang barangnya tidak sampai kepada si pembeli. Tentu hal tersebut karena memang ranahnya pribadi bukan wanpretasi dalam hukum perdata. Akan tetapi berbeda ketika memang
2 Zainudin Ali, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 71.
5
ada unsur penipuan, maka ranahnya menjadi publik yaitu dengan ancaman pidana. Sebagaimana ketentuan dalam UU ITE dan UU perlindungan bagi konsumen.
Sebagaimana kasus yang terjadi di Kecamatan Jompie atas nama Nur Alamsyah bin Suparmin bersama dengan saksi Sunaryo (penuntutan dalam bekas perkara terpisah). Di mana kedua pelaku tersebut telah melakukan tindak pidana. Penipuan jual beli kendaraan sepeda motor mini melalui online website, sebagaimana tertulis dalam dakwaannya pelaku telah merugikan korban senilai Rp.5.400.000,00 sehingga dalam putusan pengadilan No.27/pid.sus/2020/PN/Byw, memberikan hukuman kepada pelaku berupa pidana penjara hanya 7 bulan dan membayar biaya perkara sebesar Rp.
5.000,00 (Lima Ribu Rupiah).
Berdasarkan dari kasus di atas, maka diperlukan untuk melakukan analisis lebih lanjut mengenai putusan Pengadilan Negeri Banyuwangi No 27/Pid.sus/2020/PN/Byw, tentang pemidanaan terhadap pelaku penipuan jual beli online yang menyebabkan kerugian bessar bagi konsumen diangkat menjadi sebuah skripsi dengan judul” SANKSI PIDANA BAGI PELAKU PENIPUAN JUAL BELI ONLINE PERSPEKTIF HUKUM PIDANA POSITIF DAN HUKUM PIDANA ISLAM.”
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka terdapat beberapa masalah yang teridentifikasi, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Masih sangat banyaknya terjadi berbagai tindakan kejahatan dengan cara memanfaatkan teknologi di zaman era globalisasi ini.
b. Kejahatan tentang penipuan jual beli online disebabkan karena terjadinya kurangnya sosialisasi tentang kejahatan dalam internet kepada masyarakat.
c. Perlu adanya upaya dari policy cyber untuk mencegah tindak pidana
pidana penipuan secara online agar tidak menimbulkan banyak korban yang menyebabkan kerugian yang besar bagi konsumen.
d. Masih sangat kurang tegas tentang peraturan yang mengatur penipuan jual beli online.
e. Hukuman terhadap tindak pidana penipuan dalam jual beli online masih belum bisa menimbulkan efek jera.
2. Pembatasan Masalah
Berangkat dari luasnya permasalahan-permasalahan yang ada mengenai penipuan dalam jual beli online ini, agar tidak melebar dan keluar dari pokok pembahasan, maka peneliti membatasi ruang lingkup penelitian skripsi ini, penelitimerasa perlu membuat pembatasan masalah sebagai berikut.
a. Skripsi ini hanya membahas pada kasus penipuan yang dilakukan melalui website penyedia jual beli online menurut hukum pidana positif maupun Hukum Pidana Islam.
b. Hukum pidana positif yang menulis maksud adalah KUHP (Kitab Undang- Undang Hukum Pidana) yang diatur dalam pasal 378 tentang penipuan dan pasal 45 Ayat (2) Jo. Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.
Hukum Pidana yang dimaksud penulis adalah Fiqih Jinayah tentang penipuan dalam hukum Islam cyber crime.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah ada maka pokok permasalahannya mengenai proses penyelesaian perkara penipuan jual beli online. Penerapan dan pertimbangan hakim dalam putusan pengadilan No.27/Pid.sus/2020/PN/Byw. Adapun pokok permasalahan penelitian yang diuraikan dalam bentuk pertanyaan penelitiam sebagai berikut:
1. Bagaimana proses penyelesaian perkara penipuan online?
2. Bagaimana penerapan dan pertimbangan hakim dalam putusan nomor
7
No.27/Pid.Sus/2020/PN/Byw?
3. Bagaimana sanksi pidana bagi pelaku penipuan jual beli online perspektif hukum pidana positif dan hukum Islam?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini sebagaimana berikut:
a. Untuk menganalisa proses penyelesaian perkara penipuan online.
b. Untuk menganalisa penerapan hukum dan pertimbangan hakim dalam putusan No.27/Pid.Sus/2020/PN/Byw.
c. Untuk menganalisa sanksi pidana bagi pelaku penipuan jual beli online perspektif hukum positif dan hukum Islam
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Manfaat teoritis adalah dapat menambah keilmuan dan pengetahuan tentang tindak pidana penipuan dalam jual beli online, hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi kalangan pelajar, mahasiswa, dan akademisi lainnya.
b. Manfaat praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan berguna bagi kalangan pelajar, mahasiswa dan akademisi lainnya. Manfaat kebijakan, penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepda penegak hukum dalam penegakan hukum dalam penerapan hukum tentang penipuan.
E. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Metode atau jenis penelitian yang digunakan oleh penulis ini merupakan model penelitian hukum positif dan hukum Islam dengan pendekatan kualitatif sehingga metode yang diterapkan ialah kualitatif yang bersifat deskriptif yakni suatu cara melaporkan data dengan menerangkan,
memberi gambaran dan mengkualifikasikan data yang terkumpul secara apa adanya setelah itu baru di simpulkan. Dalam penelitian kualitatif, menurut Neong Muhajir diterapkan model logika reflektif yang di dalamnya proses berfikir membuat penjabaran berlangsung cepat. Ditinjau dari sudut metologi penelitian hukum pada umumnya, studi ini merupakan studi hukum (Positif) dengan penelitian hukum normatif. Menurut Soerjono Soekanto, penelitian hukum normatif ialah suatu penyelidikan ilmiah dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder semata1.
2. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini, menggunakan teknik studi dokumenter yaitu dari data penting berupa surat atau keterangan penting.
Bahan yang digunakan berupa bahan hukum primer yakni Undang-Undang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dalam berupa bahan sekunder yaitu berupa kajian, analisis dan hasil penelitian tentang undang-undang atau putusan yang terkait. Pustaka hukum yang digunakan adalah melakukan penelaahan dan memperlajari karya-karya ilmiah tentang teori dan doktrin hukumpositif maupun hukum Islam dari buku-buku, artikel, majalah-majalah internet (website) atau sumber lain yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.
3. Teknik Pengolahan Data
Pengelolaan dan merupakan kegiatan pendahuluan dari suatu analisis, penelitian ini menggunakan pengolahan bahan hukum dengan menginterpretasi apa yang tertulis dalam literatur dan sumber tertulis lainnya.
4. Teknis Analisa Data
Dalam penelitian kualitatif merupakan model penyajian yang khas dalam bentuk teks naratif. Analisis ini merupakan teknik yang bersisi ganda yang digunakan baik teknik kuantitatif maupun teknis kualitatif, tergantung pada sisi nama peneliti memanfaatkannya. Dalam menganalisis data hasil
3 Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, (Rajawali, 1998)
9
penelitian, penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu dengan
menggunakan proses deduktif. Data yang dianalisa yaitu bahan-bahan yang diperoleh dari sumber buku-buku, artikel, internet, Al-Qur‟an dan Hadist dan bahan informasi lainnya.
F. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah penulisan dan memperjelas pembacaanya. Maka susunlah sistermatika penulisan sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN : Berisi latat belakang permasalahan, identifikasi masalah, rumusan masalah, dan batasan masalah. Tujuan dan manfaat dalam penelitian ini juga terdapat di dalamnya. Selain itu, terdapat metode penelitian yang akan digunakan dalam melakukan penelitian ini, mulai dari sumber data, jenis data, pendekatan penelitian dan juga sistematika penulisan.
BAB II PEMBAHASAN : Membahas mengenai “ Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana, Cyber Crime dan E- Commerce”. Di dalam bab ini penulisan menguraikan teori yang berkaitan dengan penelitian yaitu tentang bagaimana pengertian ataupun penjelasan mengenai tindak pidana menurut hukum islam dan hukum positif baik secara unsur-unsur dan macam-macam tindak pidana, Tinjauan umum mengenai Cyber Crime, dan memberikan penjelasan umum mengenai transaksi jual beli online (E- commerce).
BAB III : Menjelaskan tentang “ Tindak Pidana Penipuan Dalam Jual Beli Online Menurut Hukum Islam dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik.” Pada bab ini penulis menguraikan tentang undang-undang informasi dan transaksi elektronik beserta informasi elektronik dan transaksi elektronik, Pengertian penipuan dalam hukum islam dan hukum positif baik secara jenis dan unsur tindak pidana penipuan, serta faktor-faktor yang mengakibatkan tindak pidana penipuan melalui internet.
BAB IV : berjudul “ Analisis Penyelesaian Kasus Tindak Pidana
Penipuan dalam Jual Beli Online (Putusan pengadilan No.27/Pid.Sus/2020/PN Byw)” di dalam bab ini penulis menguraikan bagaimana sanksi terhadap pelaku tindak pidana penipuan online serta penerapan dan pertimbangan hukum terhadap pelaku tindak pidana penipuan dalam putusan No.27/Pid.Sus/2020/PN Byw.
BAB V : Merupakan hasil akhir meliputi kesimpulan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. Kemudian pada penutup ini penulis juga memberikan saran- saran sesuai pokok.
11 BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAK PIDANA, CYBER CRIME DAN E-COMMERCE
A. Kerangka Teori, Konseptual dan Berfikir 1. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan abstraksi dari pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya bertujuan untuk mengadakan kesimpulan terhadap dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan untuk peneliti.1
Teori Dasar Pertimbangan Hakim, untuk membahas permasalahan pertama dalam skipsi ini sangat perlu kita ketahui mengenai teori bagaimana hakim menentukan dan menjatuhkan hukuman. Seorang hakim dalam menjatuhkan hukuman kepada terdakwa tidak boleh menjatuhkan hukuman pidana tersebut kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah, sehingga hakim memperoleh keyakinan bahwa suatu tundak kejahatan benar benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya (Pasal 183 KUHAP). Alat bukti yang sah adalah: (a). Keterangan saksi (b).
Keterangan ahli (c). Surat (d). Petunjuk (e). Keterangan terdakwa atau hal yang secara umum sudah diketahui sehingga tidak perlu dibuktikan (Pasal 184).
Pasal 185 Ayat 2 KUHAP menyebutkan bahwa keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa salah terhadap perbuatan yang diperbuatnya.
Konseptual adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep konsep secara khusus yang merupakan kumpulan dari arti yang berkaitan dengan istilah yang akan diteliti. Untuk memberikan kesatuan pemahaman terhadap
1 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 2007), h. 127.
judul skripsi ini, maka di bawah ini akan dibahas mengenai konsep atau arti dari beberapa istilah yang digunakan dalam penulisan skripsi.
a. Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang pleh suatu aturan hukum, larangan mana yang disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa melanggar larangan tersebut.
b. Jual beli adalah suatu persetujuan dengan nama pihak yang satu mengikat dirinya untuk menyerahkan suatu barang dan pihak lain untuk membayar harga yang dijanjikan.
c. Penipuan berasal dari kata tipu yang artinya perbuatan atau perkataan yang bohong atau tidak jujur, tidak benar, palsu, dan sebagainya dengan maksud menyesatkan, mengakali, atau mencari keuntungan dari orang lain.
d. Kejahatan elektronik (cyber crime) adalah kejahatan yang dilakukan dengan menggunakan media internet sebagai alat untuk menjalankan perbuatan kejahatan.
e. Transaksi elektronik (E-commerce) adalah transaksi/kegiatan bisnis yang menyangkut konsumen, manufaktur, service providers, dan pedagang perantara dengan menggunakan jaringan jaringan komputer.2
B. Studi Review Terdahulu
Mendukung penelaahan yang lebih komperehnsif penulis melakukan penyajian Awal terhadap literatur pustaka atau karya karya yang mempunyai relevansi terhadap topik yang akan diteliti . Telaah pustaka yang telah dilakukan oleh penulis adalah dari berbagai karya ilmiah selain berbentuk buku melainkan juga berbentuk jurnal, dan skripsi-skripsi yang ada, berikut pemaparannya:
Skripsi oleh Anni Nadiyatul Ilmu.3 Skripsi ini membahas perihal Tindak pidana penipuan jual beli online melalui Instagram dalam tinjauan hukum islam. Perbedaan kedua penelitian ini terletak pada tindak pidana
2 Ninik Suparni, Cyberspace Problematika & Antisiasi Pengaturannya, (Jakarta: Sinar Grafika).
3 Anni Nadiyatul Ilmu, “Tindak pidana penipuan jual beli online melalui Instagram dalam tinjauan hukum islam”, (Skripsi: Fakultas Syariah Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Tahun 2021).
13
penipuan jual beli online melalu instagram dengan menerapkan peraturan perundang undangan Islam yang berlaku di Indonesia, tetapi dalam skripsi ini hanya di jelaskan dalam Perspektif hukum pidana Islam.
Skripsi oleh Della Ravista.4 Skripsi ini membahas perihal Studi Kecendrungan tentang penyebab terjadinya penipuan pada jual beli online.
Perbedaan pada penelitian ini dalam skripsi ini menjelaskan tentang kecendrungan penyebab terjadinya penipuan pada jual beli online disini penulis tidak menjelaskan secara spesifik mengenai pelindungan konsumen.
Skripsi oleh Satria Nur Fauzi.5 Skripsi ini membahas tentang tindak pidana penipuan dalam transaksi di situs jual beli online (e-commerce).
Perbedaan pada penelitian ini yaitu dalam skripsi ini menguraikan tindak pidana penipuan dalam transaksi jual beli online dengan menerapkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di indonesia. Tetapi dalam skripsi ini tidak membahas tentang penipuan dalam perspektif Hukum Pidana Islam.
Artikel Jurnal oleh Muhammad Kamran.6 Artikel Jurnal ini membahas perihal Penipuan dalam jual beli online perspektif Hukum telematika. Perbedaan pada penelitian ini dalam jurnal ini menjelaskan tentang penipuan jual beli online dalam perspektif hukum telematika, Tidak di jelaskan menurut perspektif hukum pidana Islamnya.
Artikel Jurnal oleh Erline permata sari, Deyana Annisa febriyanti, Riska hikmah fauziah, .7 Artikel Jurnal ini membahas tentang fenomena penipuan transaksi jual beli online melalui media baru berdasarkan kajian space transition theorie. Perbedaan dalam artikel jurnal ini menjelaskan tentang penipuan jual brli online ini berdasarkan dari kajian space transition theorie, tidam di jelaskannya menurut hukum pidana islamnya.
4 Della Ravista, “Studi Kecendrungan tentang penyebab terjadinya penipuan pada jual beli online.”, (Skripsi: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara 2017).
5 Nur Fauzi, “Tindak Pidana Penipuan dalam Transaksi di Situs Jual Beli Online”, (Skripsi Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Tahun 2017).
6 Muhammad Kamran, Maskun, “Penipuan dalam jual beli online perspektif Hukum telematika”, (Artikel Jurnal: Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin 2021).
C. Tindak Pidana
1. Tindak Pidana Dalam Hukum Islam a. Pengertian Tindak Pidana
Istilah dari tindak pidana dalam hukum pidana islam adalah jinayah, istilah jinayah yang berasal dari bahasa Arab, berasal dari kata jana- yajnu-jinayatan yang berarti adznaba (berbuat dosa) atau tanawala (menggapai atau memetik dan mengumpulkan) seperti dalam kalimat jana al-dzahaba (seseorang mengumpulkan emas dari penambangan)8. Dalam menerangkan makna kata jinayah ini, Louis Ma‟luf mengatakan bahwa kata jana berarti irtakaba dzanban (melakukan dosa). Pelakunya disebut janin dan bentuk jamaknya adalah junatin.9
Itulah arti jinayah secara etimologis. Sementara itu, secara terminologis, jinayah didefinisikan oleh beberapa pakar dengan pernyataan yang tidak sama antara pakar yang satu dan pakar yang lain.
1) Menurut Al-Jurjanji dalam kitab Al-ta‟rifat. Ia mendefinisikan jinayah dengan semua perbuatan yang dilarang yang mengandung mudarat terhadap nyawa atau selain nyawa.10
2) Menurut Al-sayyid sabiq. Menurutnya, jinayah secara terminologi adalah setiap tindakan yang diharamkan; tindakan yang diharamkan ini adalah setiap tindakan yang diancam dan dilarang oleh Syar‟i atau Allah dan Rasul karena di dalamnya terdadpat aspek kemudharatan yang mengancam agama, nyawa, akal, kehormatan, dan harta.11 3) Menurut Abdul Qodir Audah. Menurutnya, pengertian fiqh jinayah
secara istilah adalah nama bagi sebuah tindakan yang diharamkan secara syara, baik tindakan itu terjadi pada jiwa, harta, maupun hal- hal lain.12
7 Erline Permatasari, Deyana Annisa Febriyanti, Riska Hikmah Fauziah, Fenomena Penipuan Transaksi Jual Beli Online Melalui Media Baru Berdasarkan Kajian Space Transition Theorie, (Artikel Jurnal FakultasvIlmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia Tahun 2022).
8 Ibrahim Anis, Abdul Halim Munthasir, dkk., Al- Mujham, Al- Wasith, h. 141.
9 Louis Ma‟luf, Al- munjid fi Al- lughah, (Damaskus Dar Al-fikr, 1973), cet, ke- 17, h. 105.
10 Ali bin Muhammad Al- jurjani, Al- Ta‟rifat, (Jakarta: Dar Al- Hikmah), h. 79.
11 Al- Sayyyid Sabiq, Fiqh Al- Sunnah, (Beirut: Dar Al- Fikr, 1983), cet. Ke-4, jilid 2, h.422
15
4) Menurut Wahbah Al-Zuhaili. Menurutnya, jinayah atau jarimah13 secara terminologi mencakup dua pengertian, ada pengertian secara umum dan khusus. Terminologi secara umum sama persis dengan definisi jinayah menururul Abdul Qadir Audah. Adapun terminologi jinayah secara khusus adalah “Kejahatan secara mutlak berupa pelanggaran yang di ajukan atas nyawa atau tubuh manusia, yaitu pembunuhan, pelukaan, pemukulan”14.
Dari sejumlah pengertian yang sudah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa jinayah adalah sebuah tindakan atau perbuatan seseorang yang mengancam keselamatan fisik manusia serta dapat menimbulkan kerugian pada harga diri dan harta kekayaan manusia sehingga tindakan perbuatan itu dianggap haram untuk dilakukan, bahkan pelakunya harus dikenai sanksi hukum di dunia dan di akhirat sebagai hukuman Tuhan.
b. Unsur-Unsur Tindak Pidana
Ditinjau dari unsur-unsur jarimah atau tindak pidana, objek utama kajian fiqh jinayah dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu 1) al-rukn al- syar‟i atau unsur formil, 2) al-rukn al-madi,atau unsur materil 3) al- rukn al- adbi atau unsur moril.15
Al-rukn al-syar‟i atau unsur formil ialah unsur yang menyatakan bahwa seseorang dapat dinyatakan sebagai pelaku jarimah jika ada undang-undang yang secara tegas melarang dan menjatuhkan hukuman sanksi bagi pelaku.
Al-rukn al-madi atau unsur materil ialah unsur yang menyatakan bahwa seseorang dapat dijatuhkan pidana jika ia benar-benar terbukti
12 Abdul Qodir Audah, Al- Tasyri‟ Al- jinat‟i Al- Islami, (Beirut: Mu‟assasah Al- Risalah, 1992). Cet. Ke-11, jilid, jilid 1, h. 67.
13 Jarimah adalah sebuah istilah yang populer dikalangan ahli fiqh. Jarimah adalah kejahatan, tindak pidana, perbuatan pidana, peristiwa pidana, delik, atau criminal act.
14 Wahbah Al- Zuhaili, Al-Fiqh Al- Islami wa Adillatuh, (Beirut: Dar Al- Fikr Al- Ma‟
ashir, 1997), cet, ke-4, jilid 7, h. 5611.
15 M.Nurul Irfan, Hukum Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016), h.2-3.
melakukan sebuah jarimah, baik bersifat positif (aktif dalam melakukan sesuatu) maupun yang bersifat negatif (pasif dalam melakukan sesuatu).
Al-rukn al-adbi atau unsur moril ialah unsur yang menyatakan bahwa seseorang dapat di pesalahkan apabila seseorang itu bukan gila alias waras, anak dibawah umur, atau sedang berada dalam ancaman.
c. Macam-Macam Tindak Pidana
Diantara pembagian jarimah paling penting diliat dari segi hukumnya, jarimah dari segi hukum nya terbagi menjadi 3 bagian, yaitu jarimah hudud, jarimah qishas dan diat, jarimah ta‟zir.16
1) Jarimah Hudud
Jarimah hudud ialah semua jenis tindak pidana yang telah ditetapkan jenis, bentuk, dan sanksinya oleh Allah, dalam Al-Qur‟an dan oleh Nabi dalam hadist. Dengan definisi tersebut, had atau hudud mencakup semua jarimah, baik hudud itu sendiri, qishas atau diyat, sebab sanksi keseluruhannya telah ditentukan secara syara.
Dari penjelasan di atas banyak para ahli hukum pidana Islam yang berpendapat bahwa hudud tidak hanya meliputi tujuh macam jarimah, tetapi sembilan, termasuk pembunuhan dan penganiayaan.
Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, hudud adalah sanksi yang telah ditentukan dan wajib diberlakukan kepada seseorang yang melanggar akibatnya sanksi itu dituntut, baik dalam rangka memberikan peringatan kepada pelaku maupun memaksanya.
Al-Sayyid Sabiq menyebut sanksi tersebut dengan hudud karena pada umumnya bisa mencegah pelaku dari tindakan mengulang.
Secara umum arti dari kata hudud menunjukkan larangan sebagaimana firman Allah berikut.
اَهىُبَشْقَت َلََف َِللّٱ ُدوُذُح َكْهِت
16 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), h. 11-12.
17
Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. (QS. Al- Baqarah (2): 187).17
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ciri khas dari jarimah hudud ialah hukumannya tersebut merupakan ketentuan dari Allah SWT semata mata kalau ada hak manusia di samping hak Allah maka Allah yang lebih dominan.
2) Jarimah hudud ini ada tujuh macam, yaitu jarimah zinah, jarimah qadzaf, jarimah syurb al-khamr, jarimah pencurian, jarimah hirabah, jarimah riddah, dan jarimah pemberontakan (Al-Baghyu).
3) Jarimah Qisas dan Diat
Jarimah qisas dan diat adalah jarimah yang diancam dengan hukuman qisas dan diat. Kedua duanya merupakan hukuman yang telah ditentukan oleh syara‟. Perbedaan antara hukuman had yaitu kalau hukuman had merupakan hak Allah (hak masyarakat), sedangkan qisas dan diyat merupakan hak individu (hak manusia).
Selain itu perbedaan lainnya adalah karena hukuman qisas dan diyat merupakan hak individu maka hukuman terebut bisa dimaafkan atau digugurkan oleh korban atau keluarganya, sedangkan hukuman had tidak bisa di maafkan ataupun di gugurkan.
4) Jarimah Ta‟zir
Secara etimologis ta‟zir berarti menolak dan mencegah. Tim penyusun kampus Al-Mu‟jam Al-Wasith, mendefinisikan takzir sebagai pengajaran yang tidak sampai pada ketentuan had syar‟i seperti pengajaran terhadap seseorang yang mencaci maki (pihak lain), tetapi bukan berupa tuduhan berzina.
Berbeda dengan qisas dan hudud, bentuk sanksi takzir tidak disebutkan secara tegas di dalam Alquran dan hadis. Dari definisi yang dijelaskan di atas adalah bahwa hukuman ta‟zir hukuman yang belum ditentukan oleh syara‟ dan wewenang untuk menetapkannya
17 Al- Qur‟an dan terjemahannya, Departemen Agama RI.
diserahkan kepada ulil amri. Selain itu dapat disimpulkan bahwa ciri khas ta‟zir sebagai berikut:18 Hukumannya tidak tertentu dan tidak terbatas dan penentuan hukuman tersebut adalah hak penguasa (ulil amri).
2. Tindak Pidana Dalam Hukum Positif a. Pengertian Tindak Pidana
Tiga masalah sentral/pokok dalam hukum pidana berpusat dengan tindak pidana (criminal act, strafbaarfeit, delik, perbuatan pidana), pertanggung jawaban pidana (criminal responsibility) dan masalah pidana dan pemidanaan. Istilah tindak pidana merupakan masalah yang berhubungan erat dengan masalah kriminalisasi (criminal policy) yang diartikan sebagai proses penetapan perbuatan orang yang semula bukan merupakan perbuatan tindak pidana menjadi tindak pidana.19
Istilah tindak pidana dipakai sebagai tarjamah dari istilah strafbaar feit dan delict. Strafbaar feit terdiri dari 3 kata, yakni straf, baar, feit, secara literjik, kata “straf” artinya pidana, “baar” artinya dapat atau boleh dan “feit” adalah perbuatan. Dalam kaitannya dengan istilah Strafbaar feit secara utuh, ternyata straf diterjemahkan juga dengan kata hukum dan sudah lazim hukum itu adalah terjemahan dari kata recht, seolah olah arti straf sama dengan recht. Untuk kata baar, ada dua istilah yang di yakini mempunyai arti boleh dan dapat. Sedangkan kata “feit”
digunakan empat istilah yakni, tindak, peristiwa, pelanggaran, dan perbuatan.20
Para pakar asing menggunakan istilah “Tindak pidana”, “Perbuatan pidana”, atau “Peristiwa pidana” dengan istilah:
1) Strafbaar Feit adalah peristiwa pidana;
2) Strafbaar Handlung diterjemahkan dengan “Perbuatan Pidana” yang digunakan oleh para Sarjana Hukum Pidana Jerman dan;
18 Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam...., h. 11-12.
19 Rasyid Ariman dan Fahmi Raghib, Hukum Pidana, (Malang: Setara Press, 2016), h. 57.
20 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 69.
19
3) Criminal Act diterjemahkan dengan istiah “Perbuatan Kriminal”
Jadi, istilah Strafbaar feit adalah peristiwa yang dapat dipidana atau perbuatan yang dapat dipidana. Sedanngkan menurut beberapa ahli hukum tindak pidana (Strafbaar feit) adalah:
1) Menurut pompe, “strafbaar feit” secara teoritis dapat merumuskan sebagai suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan sengaja ataupun tidak disengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, dimana penjatuhan terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan hukum.21
2) Menurut Indiyanto Seno Adji tindak pidana adalah perbuatan seseorang yang diancam pidana, perbuatannya bersifat melawan hukum, terdapat suatu kesalahan yang bagi pelakunya dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.22
Melihat definisi di atas, maka ada beberapa syarat untuk menentukan perbuatan itu sebagai tindak pidana, syarat tersebut adalah sebagai berikut:
1) Harus ada perbuatan manusia;
2) Perbuatan manusia bertentangan dengan hukum;
3) Perbuatan itu dilarang oleh undang undang dan diancam dengan pidana;
4) Perbuatan itu dilakukan oleh orang yang dapat dipertanggung jawabkan;
5) Perbuatan itu harus dapat dipertanggung jawabkan kepada si pembuat.23
21 Erdianto Effendi, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2014), h. 97.
22 Indriyanto Seno Adji, Korupsi dan Hukum Pidana, (Jakarta: Kantor Pengacara dan Konsultasi Hukum Oemar Seno Adji & Rekan, 2002), h. 155.
23 Rasyid Ariman dan Fahmi Raghib, Hukum Pidana...., h. 60.
Tindak pidana pada dasarnya cenderung melihat pada perilaku atau perbuatan(yang megakibatkan) yang dilarang oleh undang-undang.
Tindak pidana khusus lebih pada persoalan persoalan legalitas atau yang telah diatur dalam undang-undang. Tindak pidana mengacu pada persoalan norma hukum semata atau legal norma, hal-hal yang diatur dalam perundang-undangan tidak termasuk dalam pembahasan.24
b. Unsur Tindak Pidana
Setelah mengetahui definisi dan pengertian yang lebih mendalam dari tindak pidana itu sendiri, maka di dalam tindak pidana tersebut terdapat unsur-unsur tindak pidana. Pada hakikatnya, setiap perbuatan pidana harus dari unsur-unsur lahiriah (fakta) oleh perbuatan, mengandung kelakuan dan akibat yang ditimbulkan karenanya.
Keduanya memunculkan kejadian dalam alam lahir (dunia).
Unsur-unsur tindak pidana yaitu:
1) Unsur Objektif
Unsur yang terdapat di luar si pelaku. Unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan, yaitu dalam keadaan dimana tindakan- tindakan si pelaku itu hanya dilakukan terdiri dari:
a) Sifat melanggar hukum b) Kualitas dari si pelaku c) Kausalitas
2) Unsur Subjektif
Unsur yang terdapat atau melekat pada diri si pelaku dan termasuk di dalamnya segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya, unsur ini terdiri dari:
a) Kesengajaan dan ketidaksengajaaan (dolus atau culpa)
b) Maksud pada suatu percobaan, seperti ditentukan dalam pasal 53 ayat (1) KUHP.
24 Nandang Alamsyah D dan Sigit Suseno, Modul 1 Pengertian dan Ruang Lingkup Tindak Pidana Khusus, h. 7.
21
c) Macam-macam maksud seperti terdapat dalam kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, dan sebagainya25
Menurut Simons, unsur-unsur tindak pidana (straafbar feit) adalah:26 1) Perbuatan manusia (positif atau negative, berbuat atau tidak berbuat
atau membiarkan) 2) Diancam dengan pidana 3) Melawan hukum
4) Dilakukan dengan kesalahan c. Macam-Macam Tindak Pidana
Dalam kepustakaan hukum pidana yaitu, para ahli hukum pidana telah mengadakan pembedaan antara berbagai macam jenis tindak pidana (delik).
Beberapa di antara perbedaan yang terpenting yaitu:27 1) Delik kejahatan dan delik pelanggaran
Pembedaan delik atas delik kejahatan dan delik pelanggaran merupakan pembedaan yang didasarkan pada sistematika KUHP.
Buku II KUHP memuat delik-delik yang disebut pelanggaran (overtredingen).
2) Kejahatan dan kejahatan ringan
Dalam Buku II (Kejahatan), ada suatu jenis kejahatan yang bersifat khusus yaitu kejahatan-kejahatan ringan (lichte misdrijven). Menurut J.E, Jonkers, yaitu kejahatan berasal dari Hindia Belanda sendiri.
Hukum pidana negeri Belanda tidak mengenal kejahatan ringan.
Diadakannya jenis kejahatan ini karena pengadilan berada dalam jarak-jarak yang jauh, sehingga untuk bentuk-bentuk kejahatan yang lebih ringan, dipandang perlu dibuat klasifikasi agar dapat diadili oleh hakim sedaerah.
25 Teguh Prasetyo, Hukum Pidana Edisi Revisi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), h. 50.
26 Rahmanudin Tomalili, Hukum Pidana, (Yogyakarta: CV. Budi Utama, 2012), h. 12.
27 Frans Maramis, Hukum Pidana Umum dan Tertulis Di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), h. 69-82.
3) Delik Hukum dan Delik Undang-Undang
Delik hukum (rechtsdelict) adalah perbuatan yang oleh masyarakat sudah dirasakan sebagai melawan hukum, sebelum pembentuk undang-undang merumuskannya dalam undang-undang. Contoh adalah misalnya pembunuhan dan pencurian. Sekalipun orang tidak membaca undang- undang, tetapi pada umumnya sudah akan merasa bahwa pembunuhan dan pencurian merupakan perbuatan melawan hukum.28
D. Tinjauan Umum Mengenai Cyber Crime 1. Pengertian Cyber Crime
Istilah cyber cirme pada saat ini adalah merujuk pada suatu tindakan kejahatan yang sangat berhubungan dengan dunia maya dan tindakan kejahtan yang menggunakan komputer. Ada pra ahli yang menyamakan antara tindak kejahatan cyber dengan tindakan kejahatan komputer, dan ahli ada yang membedakan diantara keduanya.
Secara umum yang dimaksud dengan kejahatan komputer atau kejahatan di dunia cyber (cyber crime) adalah upaya memiliki dan atau menggunakan fasilitas komputer atau jaringan komputer tanpa izin dan dengan melawan hukum dengan disengaja atau tanpa disengaja.29
2. Ruang Lingkup Kejahatan Cyber Crime
Membahas ruang lingkup kejahatan telematika adalah hal yang penting dalam rangka memberi batasan cakupan kejahatan telematika. Didasari bahwa perkembangan telematika begitu sangat cepat berbanding lurus dengan modus kejahatan yang muncul. Beberapa tahun lalu, puluhan pemakai internet terkena virus e-mail yang menyebar dengan cepat, menghapuskan arsip-arsip, menghapuskan sistem-sistem, dan menyebabkan perusahaan-perusahaan harus mengeluarkan jutaan dolar untuk mendapatkan bantuan dan batas waktu.
28 Frans Maramis, Hukum Pidana Umum dan Tertulis Di Indonesia...., h. 69-82.
29 Didik M. Arief Mansur, Elisatris Gultom, Cyber Law Aspek Hukum Teknologi Informasi, (Bandung: PT Refika Aditama, 2005), h.7-8.
23
3. Bentuk-Bentuk CyberCrime.
Kejahatan yang berhubungan erat dengan penggunaakn teknologi yang berbasis komputer dan jaringan telekomunikasi dalam beberapa literatur dan praktiknya dikelompokkan dalam beberapa bentuk antara lain.30
a. Unauthorized Acces to Computer System and Service, yaitu kejahatan yang dilakukan ke dalam suatu sistem jaringan komputer secara tidak sah, tanpa izin, atau tanpa pengetahuan dari pemilik sistem jaringan komputer yan dimasukinya. Biasanya pelaku kejahatan (hacker) melakukannya dengan maksud sabotase atau pencurian informasi penting dan rahasia.
b. Illegal Contents, yaitu kejahatan dengan memasukan data atau informasi ke internet tentang suatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dianggap melanggar hukum atau mengganggu ketertiban umum.
c. Offense Againts Intellectual Property, yaitu kekayaan yang ditujukan terhadap hak kekayaan intelektual yang dimiliki seseorang di internet.
d. Infringements of Privacy, yaitu kejahatan yang dilakukan terhadap informasi seseorang yang merupakan hal yang sangat pribadi dan rahasia.31
E. Tinjauan Umum Mengenai E-Commerce 1. Pengertian E-Commerce
Secara umum, sesuatu yang bermunculan di internet merupakan pertukaran informasi antar berbagai pihak. Pertukaran ini menjadi sebuah transaksi bila ada hak dan kewajiban para pihak-pihak yang terlibat. Transaksi melalui internet memiliki perbedaan sifat jika dibandingkan dengan transaksi biasa secara langsung dan nyata fisik.
Dalam pemahaman yang sangat sederhana, e-commerce berhubungan dengan pertukaran umum barang-barang dan jasa jasa melalui internet.
30 Maskun, Kejahatan Siber Cyber Crime Suatu Pengantar, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2014), h. 50-51.
31 Maskun, Kejahatan Siber Cyber Crime Suatu Pengantar...., h. 51-54.
Definisi yang sederhana dari e-commerce adalah transaksi elektronik yang dilakukan melalui internet, namun definisi luasnya dari e-commerce adalah transaksi elektronik yang dilakukan melalui jaringan komputer, sedangkan definisi lain dari e-commerce adalah suatu proses bisnis dengan menggunakan teknologi elektronik antara perusahaan.32
2. Ruang Lingkup E-Commerce
Kegiatan e-commerce mencakup banyak hal, untuk membedakannya e- commerce dibedakan menjadi 3 berdasarkan karakteristiknya:
a. Business to Business, karakteristiknya:33
1) Trading partner, yang sudah saling mengetahui dan antara mereka sudah terjalin hubungan yang cukup lama.
2) Pertukaran yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkala dengan format data yang telah disepakati
3) Salah satu pelaku tidak harus menunggu partner mereka lainnya untuk mengirimkan data
b. Business to Consumer, karakteristiknya:
1) Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan secara umum.
2) Pelayanan yang dilakukan juga bersifat umum, sehingga mekanismenya juga dapat dilakukan juga bersifat umum.
3) Pelayanan yang diberikan adalah berdasarkan permintaan.
c. Consumer to Consumer, merupakan transaksi bisnis secara elektronik yang dilakukan antar konsumen untuk memenuhi suatu kebutuhan
tertentu dan pada saat tertentu pula.
3. Tujuan Transaksi E-Commerce
Dengan adanya sistem transaksi melalui e-commerce saat ini banyak memberikan manfaat serta kemudahan dalam melaksanakan transaksi jual beli. Tujuan e-commerce ini tertuang dalam pasal 4 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang bertujuan untuk:
32 Dian Mega Erianti Renouw, Perlindungan Hukum E-Commerce, (Jakarta: Yayasan Taman Pustaka, 2017), h. 48.
33 Haris Faulidi Asnawi, Transaksi Bisnis E-Commerce perspektif Islam,(Yogyakarta:
Magistra Insania Press, 2004), h. 17.
25
a. Mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia.
b. Mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
c. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik.
d. Memberikan rasa aman, keadilan dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara teknologi informasi.
4. Macam-Macam Kejahatan Dalam E-Commerce a. Penipuan Online
Cirinya adalah harga produk yang banyak diminati sangat rendah, penjual tidak menyediakan nomor telfon, tidak ada respon terhadap pertanyaan melalui E-mail, menjanjikan produk yang tidak tersedia.
b. Penipuan Pemasaran Belanja Online
Cirinya adalah mencari keuntungan dari merekrut anggota dan menjual produk secara fiktif
c. Penipuan Kartu Kredit
Cirinya adalah terjadi biaya misterius pada tagihan kartu kredit untuk produk internet yang tidak pernah dipesan oleh pemilik kartu kredit.
5. Pihak-Pihak Dalam Transaksi E-Commerce
Menurut Budiyanto pihak pihak yang terlibat dalam transaksi E- commerce terdiri dari34:
a. Penjual (merchant), yaitu produsen yang menawarkan produknya melalui internet, untuk menjadi merchant seseorang harus mendaftarkan diri sebagai merchant account pada sebuah bank, tentunya ini dimaksud agar penjual dapat menerima pembayaran dari customer dalam bentuk kartu kredit.
b. Konsumen (card holder), yaitu orang-orang yang ingin membeli suatu produk dari pembeli baik berupa barang atau jasa melalui internet /
34 Didik M. Arief Mansur, Elisatris Gutom, Cyber Law Aspek Hukum Teknologi Informasi..., h.7-8.
c. secara online. Konsumen yang akan berbelanja di internet dapat berstatus perorangan atau perusahaan.
d. Acquirer, yaitu pihak perantara penagihan dan perantara pembayaran.
Perantara penagihan adalah pihak yang meneruskan tagihan kepada penerbit berdasarkan tagihan yang masuk kepadanya yang diberikan oleh sang penjual. Pihak perantara pembayaran adalah bank dimana pembayaran kredit dilakukan oleh pemilik kartu kerdit.
e. Certification authorithies, yaitu pihak ketiga yang netral yang memegang hak untuk mengeluarkan sertifikasi kepada merchant.
Ceritification authors merupakan suatu lembaga pemerintahan atau lembaga swasta. Di Italia, dengan alasan kebijakan publik, menempatkan pemerintahannya sebagai pemilik kewenangan untuk menyelenggarakan pusat Certification Authorities. Sebaliknya di Jerman, jasa sertifikasi terbuka untuk dikelola oleh sektor swasta untuk menciptakan iklim kompetisi yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas pelayanan jasa tersebut.
27 BAB III
TINDAK PIDANA PENIPUAN DALAM JUAL BELI ONLINE MENURUT HUKUM POSTIF SERTA HUKUM ISLAM
A. Tindak Pidana Penipuan Menurut Hukum Positif 1. Pengertian dan Unsur-Unsur Penipuan
Tindak pidana penipuan atau bedrog ataupun yang di dalam doktrin tersebut juga disebut oplitching dalam bentuk pokok oleh pembentuk undang-undang telah diatur dalam pasal 378 mengenai penipuan tersebut berbunyi: “Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu maupun keadaan palsu, baik dengan akal muslihat, maupun dengan karangan perkataan bohong, membuat utang atau menghapuskan piutang, dihukum penjara karena penipuan, dengan hukuman penjara selama- lamanya empat tahun.”
Walaupun pembentuk Undang-Undang tidak mensyaratkan unsur kesengajaan bagi pelaku untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang dalam pasal 378 KUHP, Tetapi dengan melihat pada syarat tentang keharusan adanya suatu bijikomed oogmerk atau suatu naastedoel ataupun suatu maksud selanjutnya dari pelaku untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, orang bisa saja dapat menarik kesimpulan bahwa tindak pidana penipuan dalam bentuk pokoknya diatur dalam pasal 378 KUHP merupakan suatu kejahatan yang harus dilakukan dengan sengaja.1
Penjelasan dari pasal yang baru saja dibahas itu merupakan suatu kejadian yang ada di alam nyata. Berbeda dengan penipuan yang ada di internet yang diatur dalam UU ITE. Penipuan ini memiliki ruang yang lebih sempit dibanding
1 P.A.F. Lamintang, Delik Delik Khusus Terhadap Harta Kekayaan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 150-151.
pengaturan dalam KUHP. Sebagai perbandingan dalam hal pengaturan perlindungan terhadap konsumen bahwa pasal 7 UU No.8 Tahun1999, kewajiban pelaku usaha adalah:
a. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya.
b. Memberikan informasi yang benar dan jelas.
c. Memperlakukan atau melayani konsumen secara jujur serta tidak diskriminatif.
d. Menjaminkan mutu bagi suatu barang atau jasa yang telah diproduksi atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu bagi barang atau jasa tersebut.
e. Memberikan kompensasi, ganti rugi atau penukaran barang apabila terdapat kerusakan atau kecacatan pada barang yang sesuai perjanjian.
Berbeda halnya dengan perlindungan konsumen yang diatur dalam UU Pelindungan Konsumen, pengaturan dalam UU ITE ini terbatas dalam hal transaksi elektronik. Nilai strategis dari kehadiran UU ITE sesungguhnya pada kegiatan transaksi elektronik dan pemanfaatan di bidang teknologi dan informasi dan komunikasi (TIK). Sebelumnya sektor ini tidak mempunyai payung hukum yang jelas, tetapi semakin perkembangan zaman yang sekarang ini semakin jelas sehingga bentuk-bentuk transaksi elektronik sekarang ini dapat dijadikan sebagai alat bukti elektronik yang sah. Namun tetap saja bahwa pengaturannya dalam hal ini masih memiliki keterbatasan.2
Keterbatasan itu terletak pada perbuatan hukum yang hanya digantungkan pada hubungan transaksi elektronik, yaitu antara produsen dan konsumen serta dalam lingkup pemberitaan bohong dan penyesatan melalui internet. Jika merugikan konsumen, pemberitaan bohong tersebut dapat dijerat dengan Pasal 28 ayat (1) menentukan:
“Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dangan pidana penjara paling lama 6
29
2 Budi Suhariyanto, Tindak Pidana Teknologi Informasi (CyberCrime) Urgensi Pengaturan dan Celah Hukumnya, (Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 2014), h. 125-126.
(enam) tahun dan atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000 (satu miliar rupiah)”.
Tindak pidana penipuan diatur dalam bentuk pokok seperti yang diatur dalam pasal 378 KUHP terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut:
a. Unsur Subyektif: dengan maksud (met het oogmerk) untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum;
b. Unsur Objektif:
Barang siapa;
1) Menyerahkan suatu benda
2) Mengadakan suatu perikatan utang 3) Meniadakan suatu piutang
c. Dengan memakai:
1) Sebuah nama palsu 2) Suatu sifat palsu 3) Tipu muslihat
4) Rangkaian kata-kata bohong.
2. Jenis-Jenis Tindak Pidana Penipuan
Tindak Pidana Penipuan diatur oleh Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dalam buku II bab XXV, terdapat dalam pasal 378- 395. Pasal-pasal tersebut menjelaskan tentang beberapa klasifikasi mengenai jenis-jenis tindak pidana penipuan, antara lain yaitu:
a. Pasal 378 KUHP, mengenai tindak pidana penipuan dalam bentuk pokok;
b. Pasal 379 KUHP, mengenai tindak pidana penipuan ringan. Kejahatan ini
c. Merupakan bentuk privilege delict atau suatu penipuan dengan unsur- unsur yang meringankan;
d. Pasal 379 (a) KUHP, mengenai bentuk pokok yang disebut dengan flessentrekkerij yang mengatur tentang tindak pidana kebiasaan membeli barang tanpa membayar lunas harganya. Unsur dari
flessentrekkerij adalah unsur menjadikan sebagai mata pencaharian atau sebagai kebiasaan;
e. Pasal 380 ayat (1) dan (2) KUHP, mengenai tindak pidana pemalsuan nama dan tanda atas sesuatu karya ciptaan orang lain
f. Pasal 383 KUHP, mengenai tindak pidana penipuan dalam jual-beli, dan sebagainya.
3. Pembuktian Tindak Pidana Penipuan Jual Beli Online
Sistem pembuktian terhadap pelaku tindak pidana penipuan jual beli online jika menggunakan KUHAP sebagai dasar untuk membuktikan kejahatan non konvensional tersebut sangatlah sulit untuk membuktikannya karena keterbatasan alat bukti yang sah menurut Pasal 184 KUHAP, untuk lebih tepatnya membuktikan kesalahan seseorang yang melakukan kejahatan melalui internet maka UU ITE yang digunakan untuk membuktikan kesalahan seseorang dalam pembuktian tersebut karena UU ITE ini bersifat khusus mengatur kejahatan di dunia maya.
Untuk membuktikan kesalahan seseorang yang melakukan tindak pidana penipuan jual beli online, pasal yang lebih tepat digunakan yaitu pada Pasal 5 dan Pasal 6 UU ITE yang merupakan perluasan dari alat bukti surat dan petunjuk pada Pasal 184 ayat (1) huruf (c) dan (d) KUHAP.
Walaupun ada keterbatasan dalam alat bukti elektronik yang terdapat pada pasal 5 ayat(4) yaitu surat yang menurut undang-undang harus dibuat dalam bentuk tertulis dan surat beserta dokumennya yang menurut undang-undang harus dibuat dalam bentuk akta notaril atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akta.3
Dokumen elektronik yang dipakai sebagai alat bukti adalah dokumen yang bisa dipastikan keasliannya dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya sebab dokumen elektronik ini gampang sekali untuk dimanipulasi. Dalam Pasal 6 UU ITE dijelaskan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dianggap sah sepanjang informasi yang tercantum di dalamnya dapat diakses ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan
31
3 Josua Sitompul, Cyberspace, Cybercrimes, Cyberlaw: Tinjauan Aspek Hukum Pidana, (Jakarta: Tatanusa, 2012), h. 230.
dapat dipertanggung jawabkan sehingga menerangkan suatu keadaaan4. Menurut Soerjono Soekanto mengemukakan ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penegakan hukum, yaitu:5
a. Faktor Hukumnya sendiri, yang dibatasi dengan undang-undang saja;
b. Faktor Penegak Hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun yang menerapkan hukum;
c. Faktor Sarana atau Fasilitas, yaitu yang mendukung penegakan hukum d. Faktor Masyarakat, yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku e. Faktor karsa manusia di dalam pergaulan hidup
4. Faktor-Faktor Yang Mengakibatkan Terjadinya Tindak Pidana Penipuan Jual Beli Online6
a. Faktor ekonomi
Faktor ekonomi bisa dikatakan sebagai salah satu faktor terjadinya penipuan jual beli online, karena kebutuhan hidup di daerah perkotaan sangatlah kompleks dan tidak semua masyarakat/individu sanggup untuk memenuhinya, maka beberapa individu pada akhirnya melakukan norma yang bertentangan pada aturan yaitu, melakukan hal Tindak Pidana Penipuan Jual Beli Online.
b. Faktor lingkungan
Selain faktor ekonomi yang sudah dijelaskan seperti yang diatas, selanjutnya ada faktor lingkungan, faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terjadinya tindak pidana penipuan jual beli online, karena adanya kurang adanya kontrol dari masyarakat dan keluarga terhadap pelaku sehingga pelaku seringkali bergaul dengan orang sering melakukan tindakan kriminal atau sering melakukan melanggar norma hukum, khususnya Tindak Pidana Penipuan Jual Beli Online.
4 Josua Sitompul, Cyberspace, Cybercrimes, Cyberlaw: Tinjauan Aspek Hukum Pidana...., h. 230.
5 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi penegakan Hukum, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2013), h.8.
6 Wahyu Adi Susanto, Heni Hendrawati, Basri, Tinjauan Kriminologi Terhadap Tindak Pidana Penipuan Jual Beli Online, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Magelang, Vol. 13 Nomer. 1, Maret 2017, h. 41-44.
c. Faktor Sosial Dan Budaya
Karena di Indonesia sering kali terjadi adanya pergeseran budaya dari budaya lama ke budaya baru yang dianggap oleh masyarakat/individu lebih baru atau modern dan karena itulah penyebab seringnya terjadi penyalahgunaan ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan tanggung jawab masyarakat atau individu yang melakukannya.
d. Faktor Mudahnya Melakukan Tindak Pidana Penipuan Jual Beli Online Setelah Faktor sosial dan budaya, selanjutnya ada pula faktor lain yang menunjang terjadinya Tindak Pidana Penipuan Jual Beli Online yaitu mudahnya melakukan kejahatan penipuan tersebut. Hanya berbekal Handphone ataupun pergi ke warnet pelaku bisa saja langsung menawarkan suatu produk yang hanya copy paste dari internet dan pelaku langsung bisa melancarkan aksinya tersebut.
e. Faktor Minimnya Resiko Tertangkap Oleh Pihak Berwajib
Faktor berikutnya adalah minimnya resiko tertangkap oleh pihak berwajib. Dengan menggunakan media sosial dan membuat akun palsu pelaku kejahatan dengan mudahnya melancarkan aksinya tanpa diketahui oleh pihak berwajib.49
f. Faktor Pendorong
1) Belum adanya sertifikasi menyeluruh terhadap setiap jual beli online.
2) Banyaknya kemiskinan, pengangguran, tuna wisma, yang menyebabkan masyarakat melakukan segara cara untuk hidup termasuk dengan melakukan penipuan
3) Masih lemahnya keamanan dalam sistem jual beli online g. Faktor Penarik
1) Efisiensi, kebutuhan kota akan kemudahan bertransaksi dan berbisnis 2) Kebutuhan akan pelayanan jual beli yang mudah dan cepat