• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Pidana Pertemuan 2

N/A
N/A
Muhammad Burhantio

Academic year: 2024

Membagikan "Hukum Pidana Pertemuan 2"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

SUMBER-SUMBER HUKUM PIDANA DI INDONESIA

• KUHP

• UU PIDANA DI LUAR KUHP

• KETENTUAN PIDANA DALAM PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN NON-PIDANA /YURISPRUDENSI

• HUKUM ADAT DAERAH

TERTENTU berdasarkan UU drt.

No. 1 tahun 1951 Pasal 5 ayat

3sub b.

(2)

KUHP

• Buku I : Ketentuan Umum ( ps 1 – ps 103)

Pasal 103  Ketentuan-ketentuan dalam Bab I sampai Bab VIII buku I juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh

ketentuan perundang-undangan lainnya diancam dengan pidana, kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain

• Buku II : Kejahatan (ps 104 – 488)

• Buku III : Pelanggaran (ps 489 – 569)

(3)

UU Pidana di luar KUHP

• UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

• UU Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

• UU Tindak Pidana Ekonomi

• UU Narkotika

• UU Kekerasan dalam Rumah tangga

(KDRT)

(4)

Contoh UU non pidana yang memuat sanksi pidana

• UU Lingkungan

• UU Pers

• UU Pendidikan Nasional

• UU Perbankan

• UU Pajak

• UU Partai Politik

• UU pemilu

• UU Merek

• UU Kepabeanan

• UU Pasar Modal

(5)

Sejarah KUHP

• KUHP atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana adalah peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai perbuatan pidana secara materiil di Indonesia. KUHP yang sekarang diberlakukan adalah KUHP yang bersumber dari hukum kolonial Belanda, yakni Wetboek van Strafrecht voor Nederlands-Indië.

Pengesahannya dilakukan melalui Staatsblad Tahun 1915 nomor 732 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1918. Setelah Indonesia merdeka, KUHP tetap diberlakukan disertai penyelarasan kondisi berupa pencabutan pasal-pasal yang tidak relevan lagi. Hal ini berdasarkan pada Ketentuan Peralihan Pasal II UUD 1945 yang menyatakan bahwa: "Segala badan negara dan peraturan yang masih ada langsung diberlakukan selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini." Ketentuan tersebutlah yang kemudian menjadi dasar hukum pemberlakuan semua peraturan perundang-undangan pada masa kolonial pada masa kemerdekaan.[2]

Untuk menegaskan kembali pemberlakuan hukum pidana pada masa kolonial tersebut, pada tanggal 26 Februari 1946, pemerintah kemudian mengeluarkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Undang-undang inilah yang kemudian dijadikan dasar hukum perubahan Wetboek van Strafrecht voor Netherlands Indie menjadi Wetboek van Strafrecht (WvS), yang kemudian dikenal dengan nama Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Meskipun demikian, dalam Pasal XVII UU Nomor 1 Tahun 1946 juga terdapat ketentuan yang menyatakan bahwa: “Undang-undang ini mulai berlaku buat pulau Jawa dan Madura pada hari diumumkannya dan buat daerah lain pada hari yang akan ditetapkan oleh Presiden.” Dengan demikian, pemberlakuan Wetboek van Strafrecht voor Netherlands Indie menjadi Wetboek van Strafrecht hanya terbatas pada wilayah jawa dan Madura.

Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana di seluruh wilayah Republik Indonesia baru dilakukan pada tanggal 20 September 1958, dengan diundangkannya UU No. 73 Tahun 1958 tentang Menyatakan Berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Republik Indonesia tentang Peraturan Hukum Pidana Untuk Seluruh Wilayah Republik Indonesia dan Mengubah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 1 UU No. 7 Tahun 1958 yang berbunyi: “Undang- Undang No. 1 tahun 1946 Republik Indonesia tentang Peraturan Hukum Pidana dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Republik Indonesia.”

Referensi

Dokumen terkait

Kewenangan pemberian grasi oleh presiden menurut hukum nasional diatur dalam UUD 1945 yaitu dalam ketentuan Pasal 14 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa,

yang berlaku Republik Indonesia. Undang-undang ini juga tercantum dalam pasal Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945. Semua peraturan yang menambah atau mengubah KUHP

Setiap warga negara berhak mendapatkan kehidupan dan pekerjaan yang layak sebagaimana yang sudah dituangkan dalam Pasal 27 ayat (2) UUD NRI 1945. Akan tetapi,

Pembentukan peraturan perundang-undangan ini didasarkan pada pemikiran bahwa negara Indonesia adalah negara hukum, dan atas perintah pasal 22 A UUD’45 yang menyatakan bahwa

Pandangan negara tersebut didasarkan pada Pasal 28 Undang Undang Dasar 1945, beserta perubahannya Pasal 28 G (ayat 1) UUD 1945 menentukan bahwa “setiap

Jika corak konstitusi tersebut diukur dari ketentuan-ketentuan mengeanai kebijakan perekonomian seperti yang diatur dalam Pasal 33 UUD 1945, maka dapat dikatakan bahwa UUD

ketentuan Norma Pasal 27 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “segala warga negara bersamaan kedudukannnya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan

Pasal peralihan yang dimaksud berikut; Segala Badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut undang-undang dasar ini Di dalam