PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
REKAPITULASI POKOK-POKOK PERMOHONAN UJI MATERI KE MAHKAMAH KONSTITUSI ATAS UU PERTAMBANGAN MINERBA NOMOR 3 TAHUN 2020
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
1 • Asosiasi Advokat Konstitusi
• Dr. Bahrul Ilmi Yakup, S.H., M.H.
• Dhabi K. Gumayra, S.H., M.H.
• Yuseva, S.H.
• Iwan Kurniawan, S.Sy. • Mustika Yanto, S.H. • Rosalina Pertiwi
Gultom, S.H.
Para pemohon mengajukan Permohonan Uji Materi terhadap norma Pasal 35 ayat (1) dan ayat (4) UU No.3 Tahun 2020.
• Pasal 35 ayat (1): Usaha Pertambangan dilaksanakan berdasarkan Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat. • Pasal 35 ayat (4): Pemerintah Pusat dapat mendelegasikan
kewenangan pemberian Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Pemerintah Daerah provinsi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. • Penjelasan Pasal 35 ayat (4) yang berbunyi: Pendelegasian
kewenangan Perizinan Berusaha oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah provinsi didasarkan pada prinsip efektivitas, efisiensi, akuntabilitas, dan eksternalitas dalam penyelenggaraan urusan Pemerintahan, antara lain dalam pemberian IPR dan SIPB.
Bahwa para Pemohon meminta norma Pasal 35 ayat (1) dan (4) serta Penjelasan Pasal 35 ayat (4) Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 tentang Perubahan Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Minerba a quo diuji terhadap Pasal 18 ayat (1) dan ayat (5) dan Pasal 28C (1) Pasal 28D ayat (1)
• Pasal 35 ayat (1)
• Pasal 35 ayat (4) • Pasal 18 ayat (1), (2) dan (5) UUD NRI 1945 • Pasal 24C ayat (1) UUD
NRI 1945 jo Pasal 10 ayat (1) huruf a UU No 24 tahun 2003 tentang MK • Pasal 28D ayat (1) UUD NRI 1945
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
1. Pasal tersebut inkonstitusional berdasarkan penalaran historis-teoritis dan konstitusional-yuridis
2. Bertentangan dengan materi muatan dan original intent Pasal 18 ayat (1), (2), dan ayat (5) UUD 1945
3. Pasal 35 ayat (1) UU No. 3 Tahun 2020 bertentangan dengan materi muatan UU 23 Tahun 2014 tentang Pemda 4. Pasal 35 ayat (1) dan ayat (4) UU No. 3 Tahun 2020
inkonstitusional karena bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945
2 Pemda Prov Kepulauan Bangka Belitung, Dr.H. Erzaldi Rosman, S.E., M.M.
1. Bahwa Negara Indonesia dalam UUD 1945 dikonstruksikan dalam bentuk NKRI yang dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota yang mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang.
2. Bahwa berdasarkan amanah Pasal 18 (1) UUD 1945 tersebut disusun UU tentang Pemda. Sebagai UU yang dibentuk atas UUD 1945 maka UU Pemda dikualifikasikan sbg undang-undang organik
3. Bahwa, Pemerintahan Daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh
undangundang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat [Pasal 18 ayat (5) UUD 1945]. Frasa “menjalankan otonomi seluas-luasnya” mengandung makna pemberian
kewenangan seluas-luasnya kepada “daerah” untuk
• Pasal 4 • Pasal 6 • Pasal 7 • Pasal 8 • Pasal 21 • Pasal 48 huruf a dan huruf b • Pasal 67 • Pasal 173 • Pasal-pasal lain • Pasal 18 ayat (1) (2) dan (5) UUD NRI 1945
• Pasal 18A ayat (2) UUD NRI 1945
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan di luar urusan yang menjadi kewenangan absolut pemerintah pusat.
4. Bahwa sejak diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemda hingga UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemda. Pemda Provinsi diberikan otonomi utk mengurus “urusan Pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral kecuali yang berkaitan dengan pengelolaan minyak dan gas bumi sebagai pembagian urusan konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi serta Daerah Kabupatern/Kota” [Pasal 13 ayat 1 jo Pasal 14 ayat (3) UU No.23 Tahun 2014
5. Bahwa dengan otonomi pengurusan urusan Pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral, in cassu
penambangan timah di provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terbukti memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
6. Bahwa ketentuan Pasal 173B UU No. 3 Tahun 2020 yang mencabut dan menyatakan tidak berlakunya ketentuan dalam Matrik Pembagian Urusan Pemerintah Konkuren antara Pemerintah Pusat dan Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota huruf CC Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Energi dan Sumber Daya Alam Mineral dan Batubara
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
yang tertuang dalam Lampiran UU No. 23 Tahun 2014 bertentangan dengan Pasal 18 ayat (2) dan ayat (5) UUD 1945
3 • Dr. Drs. Helvis, S.Sos., S.H., M.H.
• Muhammad Kholid Syeirazi, M.Si
Para pemohon mengajukan Permohonan Pengujian Pasal 169A UU No.3 Tahun 2020, yang mengatur:
Pasal 169A
(1) KK dan PKP2B sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 diberikan jaminan perpanjangan menjadi IUPK sebagai Kelanjutan Operasi Kontrak /Perjanjian setelah memenuhi persyaratan dengan ketentuan:
a. kontrak/perjanjian yang belum memperoleh perpanjangan dijamin mendapatkan 2 (dua) kali perpanjangan dalam bentuk IUPK sebagai Kelanjutan Operasi Kontrak/Perjanjian masing-masing untuk jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) tahun sebagai kelanjutan operasi setelah berakhirnya KK atau PKP2B dengan mempertimbangkan upaya peningkatan penerimaan negara.
b. kontrak/perjanjian yang telah memperoleh perpanjangan pertama dijamin untuk diberikan perpanjangan kedua dalam bentuk IUPK sebagai Kelanjutan Operasi Kontrak/Perjanjian untuk jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) tahun sebagai kelanjutan operasi setelah berakhirnya perpanjangan pertama KK
• Pasal 169A • Pasal 18A ayat (2) UUD NRI 1945
• Pasal 27 UUD NRI 1945
• Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD NRI 1945
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
atau PKP2B dengan mempertimbangkan upaya peningkatan penerimaan negara.
(2) Upaya peningkatan penerimaan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dilakukan melalui:
a. pengaturan kembali pengenaan penerimaan pajak dan penerimaan negara bukan pajak; dan
b. luas wilayah IUPK sebagai Kelanjutan Operasi Kontrak/ Perjanjian sesuai rencana pengembangan seluruh wiiayah kontrak atau perjanjian yang disetujui Menteri. (3) Dalam pelaksanaan perpanjangan IUPK sebagai Kelanjutan
Operasi Kontrak/Perjanjian, seluruh barang yang diperoleh selama masa pelaksanaan PKP2B yang ditetapkan menjadi barang milik negara tetap dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pengusahaan Pertambangan Batubara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Pemegang IUPK sebagai Kelanjutan Operasi
Kontrak/Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk komoditas tambang Batubara wajib melaksanakan kegiatan Pengembangan dan/atau Pemanfaatan Batubara di dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(5) Pemegang IUPK sebagai Kelanjutan Operasi
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
yang telah melaksanakan kewajiban Pengembangan dan/atau Pemanfaatan Batubara secara terintegrasi di dalam negeri sesuai rencana pengembangan seluruh wilayah perjanjian yang disetujui Menteri diberikan perpanjangan selama 10 (sepuluh) tahun setiap kali
perpanjangan setelah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bahwa ketentuan norma a quo bertentangan dengan UUD 1945 dengan alasan sebagai berikut:
1) Bahwa kebijakan makro dan mikro di bidang Sumber Daya Alam, maka perlu dipertimbangkan yang utama oleh penyelenggara negara adalah soal Ideologi Politik Ekonomi Bangsa Indonesia
2) Bahwa secara prinsip Bung Hatta pernah mengatakan bahwa “demokrasi sebagaimana yang dipancangkan
melalui revolusi Perancis pada abad ke-18 hanya membawa masyarakat Perancis pada demokrasi politik an sich yang dalam level tertentu hanya menguntungkan masyarakat borjuasi dan menepikan rakyat jelata. Dan demokrasi sepeti itu, dianggap tidak sesuai dengan cita-cita perjuangan Indonesia yang mencita-citakan terlaksananya dasar-dasar perikemanusiaan dan keadilan sosial. Oleh karena itu, di sebelah demokrasi politik harus pula berlaku demokrasi
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
ekonomi. Kalau tidak, manusia belum merdeka, persamaan dan persaudaraan belum ada. Sebab itu, cita-cita demokrasi Indonesia harus mengarah pada demokrasi sosial yang meliputi seluruh lingkungan hidup yang menentukan nasib manusia
3) Bahwa UU Minerba bermasalah secara materiil karena kehilangan “ruh” ideologi politik ekonomi (prinsip
demokrasi ekonomi) yang berbasis pada ketentuan Pasal 33 UUD 1945 yang mana negara pada akhirnya kehilangan peran dan kedaulatannya. Hal tersebut tergambar dalam ketentuan norma “a quo”
4) Bahwa ketentuan norma a quo berimplikasi terhadap beberapa hal”
a. Pemegang KK dan PKP2B yang akan berakhir
kontrak/perjanjiannya dapat secara langsung (otomatis) diperpanjang dengan jaminan mendapatkan 2 (dua) kali perpanjangan dalam bentuk IUPK (2x10 tahun)
b. Pemegang KK dan PKP2B yang memperoleh
perpanjangan melalui IUPK langsung memperoleh luas wilayah yang eksisting berdasarkan kontrak yang terdahulu
c. Pemegang KK dan PKP2B selain memperoleh luas wilayah yang eksisting dapat mengajukan permohonan
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
wilayah di luar WIUPK untuk tahap kegiatan Operasi Produksi kepada Menteri (potensi perluasan wilayah) d. Pemegang KK dan PKP2B diperlakukan berbeda dengan
Badan Usaha swasta sebagai akibat dari tidak tunduknya Pemegang KK dan PKP2B terhadap ketentuan Pasal 75 ayat (4) yang harusnya mengikuti lelang Bersama Badan Usaha swasta lainnya jika ingin memperoleh IUPK e. Negara melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) kehilangan peluangnya untuk mengambil alih kepemilikan
pertambangan yang ditinggalkan oleh pemegang KK dan PKP2B sebagai akibat dari berakhirnya
kontrak/perjanjian
f. Rumusan Pasal 169A memberikan peran yang terlalu besar kepada Menteri dan menegasikan peran Pemerintah Daerah
5) Bahwa berdasarkan pelbagai implikasi di atas menunjukkan bahwa ketentuan Pasal169A bertentangan dengan
ketentuan Norma Pasal 27 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “segala warga negara bersamaan kedudukannnya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya” hal tersebut karena adanya perbedaan perlakuan antara pemegang KK dan PKP2B dengan Badan Usaha swasta untuk
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
memperoleh IUPK. Padahal secara hukum pemegang KK dan PKP2B juga merupakan Badan Usaha swasta yang sama posisinya dengan Badan Usaha swasta yang diatur dalam Pasal 75 ayat (4) UU Minerba
6) Bahwa penambahan Pasal 169A dalam perubahan UU Minerba 2020 yang memberikan kesempatan kepada pemegang KK dan PKP2B memperoleh jaminan
perpanjangan menjadi IUPK tidak memiliki politik hukum yang jelas, dikarenakan tidak ada ratio legis/alasan hukum dari pembentuk undang-undang tiba-tiba mengubah undang-undang untuk mengatur hak-hak pemegang KK dan PKP2B yang mana 2 (dua) jenis kontrak tersebut adalah Badan Usaha swasta (Perlu diketahui Badan Usaha swastas berbeda dengan Badan Usaha swasta nasional. Yang dimaksud dengan “Badan Usaha swasta nasional” adalah badan usaha yang berbadan hukum Indonesia yang
kepemilikan sahamnya 100% (seratus persen) dalam negeri 7) Bahwa berdasarkan sejumlah data yang dimiliki pemohon
penting untuk mengaitkan penambahan Pasal 169A dalam perubahan UU Minerba 2020 dengan beberapa perusahaan pemegang PKP2B yang masa kontraknya akan berakhir diantaranya
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
Perusahaan Luas wilayah Berakhirnya kontrak PT Kendilo Coal Indonesia 1.869 13 Sept 2021 KPC 84.938 31 Des 2021 PT. Multi Harapan Utama 40.531 1 Apr 2022 PT. Arutmin Indonesia 55.573 1 Nov 2020 PT. Adaro Indonesia 31.379 1 Okt 2022 PT. Kedico Jaya Agung 47.500 13 Mar 2023 PT. Berau Coal 106.009 26 Apr 2025 Sumber: Kolom opini Harian Kompas, 18 Juli 2020
8) Bahwa sejumlah perusahaan pemegang PKP2B pada tabel di atas adalah pemasok utama batubara ke Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk memenuhi kelistrikan nasional. Tahun 2019, misalnya realisasi batubara PLN untuk kelistrikan mencapai 91.1 juta ton dan perusahaan-perusahaan swasta nasional memasok 70 persen batubara dan sisanya 30 persen dari anak usaha PLN di sektor batubara. Berdasarkan
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
ketentuan tersebut terlihat bahwa PLN masih
menggantungkan diri kepada perusahaan-perusahaan PKP2B sebagai pemasok batubara untuk aliran listrik nasional
9) Bahwa Pasal 169A UU Minerba memperlihatkan
ketidakberpihakan pembentuk undang-undang terhadap peran (oragan negara) melalui BUMN dan BUMD yang memperoleh prioritas dalam mendapatkan IUPK [Vide: Pasal 75 ayat (3)], akan tetapi pihak yang memegang KK dan PKP2B diberikan jaminan perpanjangan menjadi IUPK sebagai Kelanjutan Operasi Kontrak/Perjanjian tanpa mengikuti pelbagai mekanisme yang diatur dalam Pasal 75 UU Minerba
10) Bahwa keberadaan Pasal 169A telah memberikan kewenangan yang terlampau luas kepada Menteri untuk memberikan jaminan perpanjangan menjadi IUPK kepada pemegang KK dan PKP2B tanpa mengikutsertakan
Pemerintah Daerah sebagai pihak yang secara langsung berdampak dari keberadaan kegiatan yang tertuang dalam KK dan PKP2B. Sehingga ketentuan pasal a quo
bertentangan dengan Pasal 18A ayat (2) UUD1945 yang menyatakan bahwa “hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah
PUSAT STUDI HUKUM ENERGI DAN PERTAMBANGAN
Centre for Energy and Mining Law Studies
NO PEMOHON ALASAN PERMOHONAN PASAL YANG DI UJI DASAR KONSTITUSIONAL
yang diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang”. Di samping itu, keberadaan Pasal 169A menunjukkan relasi yang tidak adil antara pusat dan daerah dalam mengelola sumber daya alam.