• Tidak ada hasil yang ditemukan

NEGARA HUKUM. Pengertian, Klasifikasi, dan Cirinya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NEGARA HUKUM. Pengertian, Klasifikasi, dan Cirinya"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

NEGARA HUKUM

Pengertian, Klasifikasi, dan Cirinya

(2)

Pengaturan: UUD 1945

Penjelasan UUD 1945:

SISTIM PEMERINTAHAN NEGARA

Sistim Pemerintahan Negara yang ditegaskan

dalam Undang-undang Dasar ialah:

I. Indonesia, ialah Negara yang berdasar atas

Hukum (Rechsstaat)

Negara Indonesia berdasar atas Hukum

(Rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan

belaka (Machtsstaat).

II. Sistim Konstitusionil

Pemerintah berdasar atas sistim konstitusi

(hukum dasar), tidak bersifat absolutisme

(kekuasaan yang tidak terbatas).

(3)

Pengaturan: KRIS

Pasal 1

1. Republik

Indonesia

Serikat

yang

merdeka dan berdaulat ialah sesuatu

negara-hukum yang demokrasi dan

berbentuk federasi.

2. Kekuasaan

kedaulatan

Republik

Indonesia

Serikat

dilakukan

oleh

Pemerintah

bersama-sama

dengan

(4)

Pengaturan: UUDS 1950

Pasal 1

1. Republik Indonesia yang merdeka dan

berdaulat ialah suatu negara hukum

yang

demokratis

dan

berbentuk

kesatuan.

2. Kedaulatan Republik Indonesia adalah

ditangan rakyat dan dilakukan oleh

Pemerintah

bersama-sama

dengan

(5)

Pengaturan

: UUD Negara RI Tahun 1945

Pasal 1

1. Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik.

2. Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.(***)

3. Negara Indonesia adalah negara hukum. (***)

Pasal 28I ayat (5)

5. UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan”.

(6)

Pengertian

Negara

Hukum

merupakan

paham

pembatasan. Unsur-unsur pembatasan itu

antara lain:

Supremasi hukum,

Persamaan Kedudukan dalam hukum,

Konstitusi berdasarkan HAM,

Pengakuan HAM,

Pemisahan Kekuasaan,

Pemerintahan berdasarkan UU,

(7)

Macam Negara Hukum

Negara Hukum

Formal Negara HukumMaterial

Negara Jaga Malam (Nachwachterstaat) Tugas Pemerintahan Harus Aktif Negara Kesejahteraan (Welfare Staat) Tugas Pemerintahan Sangat Pasif Wetmatigheid van het Bestuur

Negara Hukum Formal + Freies

Ermessen/ Diskresionare

(8)

Konsep Reschtstaat

1.

Pengakuan HAM,

2.

Pemisahan kekuasaan untuk

menjamin

hak-hak

asasi

manusia,

3.

Pemerintahan

berdasarkan

atas UU (wetmatigeheid van

bestuur), dan

4.

Peradilan

administrasi

(PTUN).

Identik dengan konsep dan ciri

reschtstaat

dari Frederic Julius

Stahl.

(9)

Konsep Rule of Law

1. Supremacy of law:

Tidak boleh ada kesewenang-wenangan sehingga orang hanya dapat dihukum jika melanggar hukum.

2. Equality before the law:

Kedudukan yang sama di depan hukum baik bagi rakyat biasa maupun pejabat.

3. Constitution base on human rights:

Bahwa pengaturan dan isi konstitusi harus mengikuti perumusan HAM.

Identik dengan konsep dan ciri rule of law dari Albert venn Dicey.

(10)

Perbandingan

Rule of Law & Rule of Just Law: Friedman

Rule of Law:

 Anglo Saxon,Common Law.  Evolusioner vs. Kekuasaan

absolute. (Perlindungan HAM atas perilaku absolutism)

 Albert Venn Dicey:

 Supremacy of Law,

 Equality before the Law,  Constitution based on

Individual Rights.

 Supremacy of Law  Due

Process of Law.

 Equality before the Law 

Hak Imunitas.

 Invidual rights  Kepentingan

Umum.

Reschtsstaat:

 Continental Law, Modern Roman

Law, Civil Law.

 Revolusioner vs. Absolitisme.

(Perlindungan HAM atas perilaku absolutism)

 Immanuel Kant: Negara Hukum

Liberal (Sicherheit Polizei (antonim: Wohlfart Polizei)) Laise Faire, Laise passer.  Negara Hukum Formal (FJ.Stahl) Wetmatigheid van Bestuur Doelmatigheid van Bestuur.

 PTUN: Ada perbedaan perlakuan

antara WN dan Pejabat. Merupakan bentuk perlindungan bagi WN dan juga perlindungan bagi Pejabat atas tindakan yang diambilnya.

(11)

Pergeseran Konsepsi

Negara Hukum

Wetmatige van bestuur

(Kewenangan Pemerintah Wajib Tertulis dalam UU)

Rechtmatige van bestuur

(Kewenangan Pemerintah Wajib Tertulis dalam Produk Hukum)

Doelmatige van bestuur

(Kewenangan Pemerintah Tidak Wajib Tertulis dalam Produk Hukum asal untuk kepentingan umum)

(12)

Menuju Welfare State

The International Commision of Jurists 1955

merumuskan ciri pemerintahan yang demokratis di

bawah Rule of law:

1.

Perlindungan konstitusional (selain menjamin

hak-hak individu, konstitusi harus menentukan

cara prosedural memperoleh perlindungan HAM);

2.

Badan

kehakiman

yang

bebas

dan

tidak

memihak;

3.

Pemilihan umum yang bebas;

4.

Kebebasan menyatakan pendapat;

5.

Kebebasan berserikat/berkumpul dan beroposisi;

dan

(13)

Welfare State

Welfare state merupakan konsep negara hukum

modern. Pemerintah diberi tugas membangun

kesejahteraan masyarakat (bestuurzorg menurut

Lemaire),

dengan

konsekuensi

kebebasan

administrasi

negara menjalankan kewenangan

atas inisiatif sendiri tanpa menunggu inisiatif

parlemen. Dengan begitu, Pemerintah

diberi

“pouvoir discretionnaire” atau “freies ermessen”.

Untuk melaksanakan tugasnya pemerintah dapat

membuat aturan dan menafsirkan aturan, yang

dibatasi dengan Asas-asas Umum Pemerintahan

yang Baik (AAUPB).

(14)

Freies Ermessen

Freies Ermessen: wewenang yang diberikan

kepada Pemerintah untuk mengambil tindakan

guna menyelesaikan suatu masalah penting

dan/atau mendesak yang datang secara tiba-tiba

dimana belum ada peraturannya.

Jadi kebijakan itu diambil tanpa ada peraturan

umum yang memberi kewenangan kepada

administrasi negara untuk membuat kebijakan

tersebut

yang

dituangkan

dalam

bentuk

Keputusan (misalnya, Surat Edaran).

(15)

AAUPB

1.

Tidak

menyalahgunakan

wewenang

(detournement de pouvoir);

2.

Tidak

bertindak

sewenang-wenang

(willekeur);

3.

Perlakuan yang sama (gelijkheidsbeginsel);

4.

Kepastian hukum (rechtszekerheid);

5.

Memenuhi

harapan

yang

ditimbulkan

(gewekte ver wachtingen honoreren);

6.

Perlakuan yang sama (fair play);

7.

Kecermatan (zorgvuldigheid); dan

8.

Keharusan

motivasi

dalam

tindakan

(16)

Negara tunduk pada hukum.

Pemerintah wajib menghormati hak-hak individu:

 Keamanan Pribadi harus dijamin.

 Tidak ada hak-hak fundamental yang dapat ditafsirkan.  Jaminan kebebasan menyatakan pendapat.

 Jaminan kehidupan pribadi.

 Jaminan kebebasan beragama.

 Jaminan mendapatkan pendidikan.

 Jaminan berserikat, berkumpul, dan ikut Parpol.

 Jaminan ikut serta dalam Pemilu berdasarkan suara

mayoritas.

 Pengakuan hak untuk menentukan diri sendiri.

Peradilan yang bebas & tidak memihak.

Jaminan perlindungan bagi kelompok minoritas.

Ciri Negara Hukum

(17)

Ciri Negara Hukum

T. Azhary

1.

Prinsip kekuasaan sebagai amanah;

2.

Prinsip musyawarah;

3.

Prinsip keadilan;

4.

Prinsip persamaan;

5.

Prinsip pengakuan dan perlindungan

terhadap HAM;

6.

Prinsip peradilan bebas;

7.

Prinsip perdamaian;

8.

Prinsip kesejahteraan; dan

(18)

Ciri Negara Hukum Indonesia dalam

UUD

1.

Hukumnya bersumber pada Pancasila;

2.

Berkedaulatan Rakyat;

3.

Pemerintahan

berdasar

atas

sistem

konstitusi;

4.

Persamaan kedudukan di dalam hukum

dan pemerintahan;

5.

Kekuasaan kehakiman yang bebas;

6.

Perlindungan HAM;

7.

Pembentukan UU oleh DPR dan Presiden;

dan

8.

Pemisahan kekuasaan dengan checks

(19)

1. Supremasi Hukum (Supremacy of Law).

2. Persamaan dalam Hukum (Equality Before the Law). 3. Asas Legalitas (Due Process of Law).

4. Pembatasan Kekuasaan (Separation of Powers). 5. Organ Eksekutif yang Independen (Independent

Executive Agencies).

6. Peradilan Bebas dan Tidak Memihak (Independent and

Impartial Judiciary).

7. Peradilan Tata Usaha Negara (Administrative Court). 8. Peradilan Tata Negara (Constitutional Court).

9. Perlindungan HAM (Protection of Human Rights). 10. Bersifat Demokrasi (Democratische Rechtsstaat).

11. Berfungsi sebagai Sarana Mewujudkan Tujuan Bernegara

(Welfare Rechtsstaat).

12. Transparan dan Kontrol Sosial (Transparent and Social

Control).

Ciri Negara Hukum Modern

(20)

Indonesia Sebagai

Negara Hukum

(21)

Indonesia

Negara Indonesia adalah Negara Hukum

(Pasal 1 Ayat (3) UUD Negara RI Tahun

1945).

Negara Indonesia berdasarkan atas Hukum

(Rechtstaat),

tidak

berdasarkan

atas

Kekuasaan belaka (Machstaat) (SPN Point I).

Dasar Hukum (Bagian Mengingat) (Lampiran

UU No.10 Tahun 2004, Angka 26):

Peraturan

yang

mendasari

kewenangan

pembentukan peraturan perundang-undangan; dan

Peraturan yang memerintahkan pembentukan

(22)

Pembukaan UUD Negara RI Tahun 1945

Tujuan Negara menurut Pembukaan UUD

1945:

1.

Melindungi segenap bangsa Indonesia dan

seluruh tumpah darah Indonesia;

2.

Memajukan kesejahteraan umum;

3.

Mencerdaskan kehidupan bangsa; dan

4.

Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang

berdasarkan

kemerdekaan,

perdamaian

abadi, dan keadilan sosial.

Menuju

pada

negara

kesejahteraan

(23)

Supremasi Hukum

(supremacy of law)

 Prinsip supremasi hukum adalah adanya pengakuan normatif

dan empirik segala hal diselesaikan dengan hukum sebagai pedoman tertinggi. Dalam perspektif supremasi hukum, konstitusi sebagai hukum yang tertinggi. Pengakuan normatif atas supremasi hukum tercermin dalam perumusan hukum dan/atau konstitusi, sedangkan pengakuan empirik tercermin dalam perilaku sebagian terbesar masyarakatnya bahwa hukum itu memang ‘supreme’.

A.V. Dicey menyatakan supremacy of law berarti tidak ada

kekuasaan yang sewenang-wenang (arbitrary power). Prinsip supremasi hukum ini, selain dinyatakan secara tegas dalam Pasal 1 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945, juga dalam pasal-pasal lainnya dalam UUD Negara RI Tahun 1945 yang membatasi setiap kekuasaan dan kewenangannya diatur dan dibatasi dengan peraturan perundang-undangan, misalnya tercermin Pasal 2 ayat (1), Pasal 4 ayat (1), Pasal 6 ayat (2), Pasal 6A ayat (5) UUD 1945.

(24)

Persamaan Dalam Hukum

(equality before the law)

Prinsip persamaan dalam hukum (equality before the law)

adalah adanya persamaan kedudukan setiap orang dalam hukum dan pemerintahan, yang diakui secara normatif dan dilaksanakan secara empirik. Prinsip ini juga dapat dimaknai bahwa tidak ada hukum yang istimewa. Jaminan prinsip ini dinyatakan dalam UUD Negara RI Tahun 1945 misalnya dalam Pasal 27 ayat (1) yaitu “segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”; Pasal 28D ayat (1) yaitu “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakukan yang sama di depan hukum”; dan Pasal 28I ayat (2) yang menyatakan “setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakukan yang diskriminatif itu”.

(25)

Asas Legalitas

(Due Process of Law)

Asas legalitas dalam segala bentuknya (due process of

law) adalah segala tindakan pemerintahan harus

didasarkan atas peraturan perundang-undangan yang

sah dan tertulis.

Peraturan perundang-undangan tertulis harus ada dan

berlaku lebih dulu atau mendahului tindakan atau

perbuatan administrasi yang dilakukan. Dengan

demikian, setiap perbuatan atau tindakan administrasi

harus didasarkan atas aturan atau ‘rules and

procedures’ (regels) yang juga membuka ruang

adanya beleid (kebijakan)tertentu yang dibolehkan.

Jaminan atas prinsip ini misalnya tertuang dalam Pasal

28I ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 yang

menyatakan “hak untuk tidak disiksa, ...., hak untuk

tidak dituntut atas atas dasar hukum yang berlaku

surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat

dikurangi dalam keadaan apapun”.

(26)

Pembatasan Kekuasaan

(Separation of Powers)

 Prinsip pembatasan kekuasaan negara dan organ-organ

negara dengan cara menerapkan prinsip pembagian kekuasaan secara vertikal atau pemisahan kekuasaan secara horizontal-fungsional.

 Kekuasaan selalu harus dibatasi dengan cara

memisah-misahkan kekuasaan ke dalam cabang-cabang yang bersifat ‘checks and balances’ dalam kedudukan yang sederajat dan saling mengimbangi dan mengendalikan satu sama lain. Dengan demikian, kekuasaan tidak tersentralisasi dan terkonsentrasi dalam satu organ atau satu tangan yang memungkinkan terjadinya kesewenang-wenangan. Prinsip ini telah tercantum dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia dengan adanya kekuasaan pemerintah (eksekutif) (Pasal 4 -18 UUD Negara RI Tahun 1945); legislatif (Pasal 19 - 22C UUD Negara RI Tahun 1945); dan kekuasaan kehakiman (yudikatif) (Pasal 24 - 25 UUD Negara RI Tahun 1945).

(27)

Organ Eksekutif Yang Bersifat Independen

(Independent Executive Agencies)

 Adanya organ-organ eksekutif yang bersifat independen karena

pembatasan kekuasaan tidak lagi cukup sebagaimana kekuasaan pemerintah dipisah dan dibagi-bagikan ke dalam beberapa organ seperti selama ini.

 Organ-organ yang independen ini diperlukan untuk

meningkatkan kualitas demokrasi dan demokratisasi. Kekuasaan pemerintahan juga semakin dikurangi dengan dibentuknya berbagai ‘independent body’ sehingga dalam menjalankan tugas utamanya tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik.

 Dalam konteks Indonesia, organ-organ yang bersifat

independen ini misalnya Komnas HAM, Komisi Pemilihan Umum, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan sebagainya.

(28)

Peradilan yang Bebas dan Tidak Memihak

(impartial and independent judiciary)

 Dalam menjalankan tugas yudisialnya, hakim tidak boleh

dipengaruhi oleh siapapun juga, baik karena kepentingan jabatan (politik) maupun kepentingan uang (ekonomi).

 Untuk menjamin keadilan dan kebenaran, tidak diperkenankan

adanya intervensi ke dalam proses pengambilan putusan keadilan oleh hakim, baik intervensi dari lingkungan kekuasaan eksekutif maupun legislatif ataupun dari kalangan masyarakat dan media massa. Dalam menjalankan tugasnya, hakim tidak boleh memihak kepada siapapun juga kecuali hanya kepada kebenaran dan keadilan.

 Prinsip peradilan yang merdeka sebagai tonggak untuk

mencapai peradilan yang bebas dan tidak memihak ini tercantum dalam Pasal 24 ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan “kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”.

(29)

Peradilan Tata Usaha Negara

(administrative court)

 Perlu adanya Peradilan Tata Usaha Negara yang membuka

kesempatan bagi tiap-tiap warga negara untuk menggugat keputusan pejabat administrasi negara dan dijalankannya putusan hakim tata usaha negara oleh pejabat administrasi negara.

 Pengadilan Tata Usaha Negara ini akan menjamin agar warga

negara tidak didzalimi oleh keputusan-keputusan para pejabat administrasi negara sebagai pihak yang berkuasa. Jika hal itu terjadi, maka harus ada pengadilan yang menyelesaikan tuntutan keadilan itu bagi warga negara, dan harus ada jaminan bahwa putusan hakim tata usaha negara itu benar-benar dijalankan oleh para pejabat tata usaha negara yang bersangkutan.

 Jaminan adanya mekanisme untuk menggugat keputusan

administrasi negara tersebut tercermin dalam Pasal 24 ayat (2) UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”.

(30)

Peradilan Tata Negara

(Constitutional Court)

 Jika suatu negara mengklaim menganut paham negara hukum, tetapi

tidak tersedia mekanisme untuk mengontrol konstitusionalitas

pembuatan undang-undang ataupun konstitusionalitas

penyelenggaraan demokrasi, maka negara yang bersangkutan tidak sempurna untuk disebut sebagai negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat) ataupun negara demokrasi yang berdasar atas hukum (constitutional democracy).

Keberadaan pengadilan tata negara (constitutional court) diakui

dalam Pasal 24 ayat (2) UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”.

 Pengujian undang-undang sebagai mekanisme untuk mengontrol

konstitualisme pembuatan undang-undang ini tercantum dalam Pasal 24C ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 yaitu “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-undang Dasar, ...”.

(31)

Perlindungan Hak Asasi Manusia

(Protection of Human Rights)

 Perlindungan terhadap hak asasi manusia dimasyarakatkan

secara luas dalam rangka mempromosikan penghormatan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia sebagai ciri yang penting suatu negara hukum yang demokratis.

 Setiap manusia sejak kelahirannya menyandang hak-hak dan

kewajiban-kewajiban yang bersifat bebas dan asasi. Terbentuknya negara dan penyelenggaraan kekuasaan suatu negara tidak boleh mengurangi arti atau makna kebebasan dan hak-hak asasi kemanusiaan itu.

 Perlindungan hak asasi manusia sebagai bagian penting dari

konsep negara hukum yang dianut Indonesia dinyatakan dalam Bab XA (Pasal 28A sampai Pasal 28J) UUD Negara RI Tahun 1945 tentang Hak Asasi Manusia.

 Secara khusus penegasan mengenai jaminan hak asasi

manusia dalam negara hukum yang demokratis tertuang dalam Pasal 28I ayat (5) UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan”.

(32)

Prinsip Demokrasi yang Menjamin Peranserta

Masyarakat

(Democratische Rechtsstaat)

 Dengan adanya peranserta masyarakat dalam proses pengambilan

keputusan, setiap peraturan perundang-undangan yang ditetapkan dan ditegakkan dapat diharapkan benar-benar mencerminkan perasaan keadilan yang hidup di tengah masyarakat. Hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tidak boleh ditetapkan dan diterapkan secara sepihak oleh dan/atau hanya untuk kepentingan penguasa secara bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Karena hukum tidak dimaksudkan untuk hanya menjamin kepentingan segelintir orang yang berkuasa, melainkan menjamin kepentingan akan rasa adil bagi semua orang tanpa kecuali.

Artinya, negara hukum (rechtstaat) yang dikembangkan bukanlah

‘absolute rechtstaat’, melainkan ‘democratische rechtstaat’ atau negara hukum yang demokratis. Dengan perkataan lain, dalam setiap negara hukum yang bersifat nomokratis harus dijamin adanya demokrasi, sebagaimana di dalam setiap negara demokrasi harus dijamin penyelenggaraannya berdasar atas hukum.

 Jaminan dalam UUD Negara RI Tahun 1945 tentang pembentukan

peraturan perundang-undangan ini dituangkan dalam Pasal 22A yaitu “ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pembentukan undang-undang diatur dengan undang-undang-undang-undang”.

(33)

Berfungsi Mewujudkan Tujuan Kesejahteraan

(Welfare Rechtsstaat)

 Cita-cita hukum, baik yang dilembagakan melalui gagasan

negara demokrasi (democracy) maupun yang diwujudkan melalui gagasan negara hukum (nomocracy), dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan umum, sebagaimana cita-cita dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa tujuan Bangsa Indonesia bernegara adalah dalam rangka melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

 Negara hukum berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan

dan mencapai keempat tujuan Negara Indonesia tersebut. Tujuan tersebut juga dijabarkan dalam pasal-pasal dalam UUD Negara RI Tahun 1945 misalnya jaminan atas perlindungan hak asasi manusia (Pasal 28A sampai dengan Pasal 28J), jaminan atas hak atas pendidikan oleh negara (Pasal 32), dan jaminan kemakmuran rakyat (Pasal 33).

(34)

Transparansi dan Kontrol Sosial

(Transparent and Social Control)

 Transparansi dan kontrol sosial yang terbuka terhadap setiap

proses pembuatan dan penegakan hukum, sehingga kelemahan dan kekurangan yang terdapat dalam mekanisme kelembagaan resmi dapat dilengkapi secara komplementer oleh peranserta masyarakat secara langsung (partisipasi langsung) dalam rangka menjamin keadilan dan kebenaran.

 Adanya partisipasi langsung ini penting karena sistem

perwakilan rakyat melalui parlemen tidak pernah dapat diandalkan sebagai satu-satunya saluran aspirasi rakyat. Karena itulah, prinsip ‘representation in ideas’ dibedakan dari ‘representation in presence’, karena perwakilan fisik saja belum tentu mencerminkan keterwakilan gagasan atau aspirasi. Bentuk transparansi dan kontrol sosial dengan adanya kelembagaan resmi maupun partisipasi secara langsung ini dijamin dalam Pasal 28 UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan “kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.

(35)

Empirical Issues:

Bagaimana dengan hak recall?

Bagaimana dengan monopoli BUMN?

Bagaimana dengan kebebasan beragama?

Bagaimana

dengan

kebebasan

untuk

dipilih?

Bagaimana

dengan

akses

terhadap

keadilan & kepastian hukum?

Bagaimana

dengan

hak

asasi

yang

dilanggar oleh legislasi?

(36)

Reading Assignment:

Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu

Referensi

Dokumen terkait

Dengan berlakunya kembali UUD 1945, presiden yang sebelumnya hanya berlaku sebagai kepala negara selanjutnya juga sebagai kepala pemerintahan. Menteri-menteri tersebut sebagai

UUD 1945 PS.26.1; YG MENJADI WARGA NEGARA IALAH ORANG-2 BANGSA INDONESIA ASLI DAN ORANG-2 BANGSA LAIN YG DISAHKAN UU SEBAGAI WARGA NEGARA2. UUD 1945 PS.26.2.(II)PENDUDUK IALAH

Jaminan persamaan kedudukan warga negara Indonesia dalam bidang hukum telah ditegaskan dalam UUD 1945 pasal 27 ayat (1). Pasal tersebut memberikan

“segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintah dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu degan tidak ada kecualinya“ Dengan demikian, dimaksudkan

Indonesia secara formal sudah sejak tahun 1945 (UUD 1945 praamendemen) mendeklarasikan diri sebagai negara hukum terbukti dalam penjelasan UUD 1945 pernah

• PRINSIP PEMERINTAHAN DAERAH SEBELUM PERUBAHAN

Satuan Pemerintahan Daerah yang bersifat khusus atau istimewa seperti dimaksud oleh Pasal 18B ayat (1) UUD 1945, diatur dengan undang-undang.. Karena kedudukannya yang

Negara Hukum dalam Undang-undang Dasar 1945 (sebelum amandemen) terdapat pada Penjelasan Umum UUD 1945, Bab Sistem Pemerintahan Negara, Indonesia ialah negara yang