NEGARA HUKUM
Pengertian, Klasifikasi, dan CirinyaPengaturan: UUD 1945
Penjelasan UUD 1945:
SISTIM PEMERINTAHAN NEGARA
Sistim Pemerintahan Negara yang ditegaskan
dalam Undang-undang Dasar ialah:
I. Indonesia, ialah Negara yang berdasar atas
Hukum (Rechsstaat)
Negara Indonesia berdasar atas Hukum
(Rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan
belaka (Machtsstaat).
II. Sistim Konstitusionil
Pemerintah berdasar atas sistim konstitusi
(hukum dasar), tidak bersifat absolutisme
(kekuasaan yang tidak terbatas).
Pengaturan: KRIS
Pasal 1
1. Republik
Indonesia
Serikat
yang
merdeka dan berdaulat ialah sesuatu
negara-hukum yang demokrasi dan
berbentuk federasi.
2. Kekuasaan
kedaulatan
Republik
Indonesia
Serikat
dilakukan
oleh
Pemerintah
bersama-sama
dengan
Pengaturan: UUDS 1950
Pasal 1
1. Republik Indonesia yang merdeka dan
berdaulat ialah suatu negara hukum
yang
demokratis
dan
berbentuk
kesatuan.
2. Kedaulatan Republik Indonesia adalah
ditangan rakyat dan dilakukan oleh
Pemerintah
bersama-sama
dengan
Pengaturan
: UUD Negara RI Tahun 1945
Pasal 1
1. Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik.
2. Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.(***)
3. Negara Indonesia adalah negara hukum. (***)
Pasal 28I ayat (5)
5. UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan”.
Pengertian
Negara
Hukum
merupakan
paham
pembatasan. Unsur-unsur pembatasan itu
antara lain:
Supremasi hukum,
Persamaan Kedudukan dalam hukum,
Konstitusi berdasarkan HAM,
Pengakuan HAM,
Pemisahan Kekuasaan,
Pemerintahan berdasarkan UU,
Macam Negara Hukum
Negara Hukum
Formal Negara HukumMaterial
Negara Jaga Malam (Nachwachterstaat) Tugas Pemerintahan Harus Aktif Negara Kesejahteraan (Welfare Staat) Tugas Pemerintahan Sangat Pasif Wetmatigheid van het Bestuur
Negara Hukum Formal + Freies
Ermessen/ Diskresionare
Konsep Reschtstaat
1.
Pengakuan HAM,
2.
Pemisahan kekuasaan untuk
menjamin
hak-hak
asasi
manusia,
3.
Pemerintahan
berdasarkan
atas UU (wetmatigeheid van
bestuur), dan
4.
Peradilan
administrasi
(PTUN).
Identik dengan konsep dan ciri
reschtstaat
dari Frederic Julius
Stahl.
Konsep Rule of Law
1. Supremacy of law:Tidak boleh ada kesewenang-wenangan sehingga orang hanya dapat dihukum jika melanggar hukum.
2. Equality before the law:
Kedudukan yang sama di depan hukum baik bagi rakyat biasa maupun pejabat.
3. Constitution base on human rights:
Bahwa pengaturan dan isi konstitusi harus mengikuti perumusan HAM.
Identik dengan konsep dan ciri rule of law dari Albert venn Dicey.
Perbandingan
Rule of Law & Rule of Just Law: Friedman
Rule of Law:
Anglo Saxon,Common Law. Evolusioner vs. Kekuasaan
absolute. (Perlindungan HAM atas perilaku absolutism)
Albert Venn Dicey:
Supremacy of Law,
Equality before the Law, Constitution based on
Individual Rights.
Supremacy of Law Due
Process of Law.
Equality before the Law
Hak Imunitas.
Invidual rights Kepentingan
Umum.
Reschtsstaat:
Continental Law, Modern Roman
Law, Civil Law.
Revolusioner vs. Absolitisme.
(Perlindungan HAM atas perilaku absolutism)
Immanuel Kant: Negara Hukum
Liberal (Sicherheit Polizei (antonim: Wohlfart Polizei)) Laise Faire, Laise passer. Negara Hukum Formal (FJ.Stahl) Wetmatigheid van Bestuur Doelmatigheid van Bestuur.
PTUN: Ada perbedaan perlakuan
antara WN dan Pejabat. Merupakan bentuk perlindungan bagi WN dan juga perlindungan bagi Pejabat atas tindakan yang diambilnya.
Pergeseran Konsepsi
Negara Hukum
Wetmatige van bestuur
(Kewenangan Pemerintah Wajib Tertulis dalam UU)Rechtmatige van bestuur
(Kewenangan Pemerintah Wajib Tertulis dalam Produk Hukum)
Doelmatige van bestuur
(Kewenangan Pemerintah Tidak Wajib Tertulis dalam Produk Hukum asal untuk kepentingan umum)
Menuju Welfare State
The International Commision of Jurists 1955
merumuskan ciri pemerintahan yang demokratis di
bawah Rule of law:
1.
Perlindungan konstitusional (selain menjamin
hak-hak individu, konstitusi harus menentukan
cara prosedural memperoleh perlindungan HAM);
2.
Badan
kehakiman
yang
bebas
dan
tidak
memihak;
3.
Pemilihan umum yang bebas;
4.
Kebebasan menyatakan pendapat;
5.
Kebebasan berserikat/berkumpul dan beroposisi;
dan
Welfare State
Welfare state merupakan konsep negara hukum
modern. Pemerintah diberi tugas membangun
kesejahteraan masyarakat (bestuurzorg menurut
Lemaire),
dengan
konsekuensi
kebebasan
administrasi
negara menjalankan kewenangan
atas inisiatif sendiri tanpa menunggu inisiatif
parlemen. Dengan begitu, Pemerintah
diberi
“pouvoir discretionnaire” atau “freies ermessen”.
Untuk melaksanakan tugasnya pemerintah dapat
membuat aturan dan menafsirkan aturan, yang
dibatasi dengan Asas-asas Umum Pemerintahan
yang Baik (AAUPB).
Freies Ermessen
Freies Ermessen: wewenang yang diberikan
kepada Pemerintah untuk mengambil tindakan
guna menyelesaikan suatu masalah penting
dan/atau mendesak yang datang secara tiba-tiba
dimana belum ada peraturannya.
Jadi kebijakan itu diambil tanpa ada peraturan
umum yang memberi kewenangan kepada
administrasi negara untuk membuat kebijakan
tersebut
yang
dituangkan
dalam
bentuk
Keputusan (misalnya, Surat Edaran).
AAUPB
1.
Tidak
menyalahgunakan
wewenang
(detournement de pouvoir);
2.
Tidak
bertindak
sewenang-wenang
(willekeur);
3.
Perlakuan yang sama (gelijkheidsbeginsel);
4.Kepastian hukum (rechtszekerheid);
5.
Memenuhi
harapan
yang
ditimbulkan
(gewekte ver wachtingen honoreren);
6.
Perlakuan yang sama (fair play);
7.Kecermatan (zorgvuldigheid); dan
8.
Keharusan
motivasi
dalam
tindakan
Negara tunduk pada hukum.
Pemerintah wajib menghormati hak-hak individu:
Keamanan Pribadi harus dijamin.
Tidak ada hak-hak fundamental yang dapat ditafsirkan. Jaminan kebebasan menyatakan pendapat.
Jaminan kehidupan pribadi.
Jaminan kebebasan beragama.
Jaminan mendapatkan pendidikan.
Jaminan berserikat, berkumpul, dan ikut Parpol.
Jaminan ikut serta dalam Pemilu berdasarkan suara
mayoritas.
Pengakuan hak untuk menentukan diri sendiri.
Peradilan yang bebas & tidak memihak.
Jaminan perlindungan bagi kelompok minoritas.
Ciri Negara Hukum
Ciri Negara Hukum
T. Azhary
1.
Prinsip kekuasaan sebagai amanah;
2.
Prinsip musyawarah;
3.
Prinsip keadilan;
4.
Prinsip persamaan;
5.
Prinsip pengakuan dan perlindungan
terhadap HAM;
6.
Prinsip peradilan bebas;
7.
Prinsip perdamaian;
8.
Prinsip kesejahteraan; dan
Ciri Negara Hukum Indonesia dalam
UUD
1.
Hukumnya bersumber pada Pancasila;
2.
Berkedaulatan Rakyat;
3.
Pemerintahan
berdasar
atas
sistem
konstitusi;
4.
Persamaan kedudukan di dalam hukum
dan pemerintahan;
5.
Kekuasaan kehakiman yang bebas;
6.
Perlindungan HAM;
7.
Pembentukan UU oleh DPR dan Presiden;
dan
8.
Pemisahan kekuasaan dengan checks
1. Supremasi Hukum (Supremacy of Law).
2. Persamaan dalam Hukum (Equality Before the Law). 3. Asas Legalitas (Due Process of Law).
4. Pembatasan Kekuasaan (Separation of Powers). 5. Organ Eksekutif yang Independen (Independent
Executive Agencies).
6. Peradilan Bebas dan Tidak Memihak (Independent and
Impartial Judiciary).
7. Peradilan Tata Usaha Negara (Administrative Court). 8. Peradilan Tata Negara (Constitutional Court).
9. Perlindungan HAM (Protection of Human Rights). 10. Bersifat Demokrasi (Democratische Rechtsstaat).
11. Berfungsi sebagai Sarana Mewujudkan Tujuan Bernegara
(Welfare Rechtsstaat).
12. Transparan dan Kontrol Sosial (Transparent and Social
Control).
Ciri Negara Hukum Modern
Indonesia Sebagai
Negara Hukum
Indonesia
Negara Indonesia adalah Negara Hukum
(Pasal 1 Ayat (3) UUD Negara RI Tahun
1945).
Negara Indonesia berdasarkan atas Hukum
(Rechtstaat),
tidak
berdasarkan
atas
Kekuasaan belaka (Machstaat) (SPN Point I).
Dasar Hukum (Bagian Mengingat) (Lampiran
UU No.10 Tahun 2004, Angka 26):
Peraturan
yang
mendasari
kewenangan
pembentukan peraturan perundang-undangan; dan
Peraturan yang memerintahkan pembentukan
Pembukaan UUD Negara RI Tahun 1945
Tujuan Negara menurut Pembukaan UUD
1945:
1.
Melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia;
2.
Memajukan kesejahteraan umum;
3.
Mencerdaskan kehidupan bangsa; dan
4.
Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan
kemerdekaan,
perdamaian
abadi, dan keadilan sosial.
Menuju
pada
negara
kesejahteraan
Supremasi Hukum
(supremacy of law)
Prinsip supremasi hukum adalah adanya pengakuan normatif
dan empirik segala hal diselesaikan dengan hukum sebagai pedoman tertinggi. Dalam perspektif supremasi hukum, konstitusi sebagai hukum yang tertinggi. Pengakuan normatif atas supremasi hukum tercermin dalam perumusan hukum dan/atau konstitusi, sedangkan pengakuan empirik tercermin dalam perilaku sebagian terbesar masyarakatnya bahwa hukum itu memang ‘supreme’.
A.V. Dicey menyatakan supremacy of law berarti tidak ada
kekuasaan yang sewenang-wenang (arbitrary power). Prinsip supremasi hukum ini, selain dinyatakan secara tegas dalam Pasal 1 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945, juga dalam pasal-pasal lainnya dalam UUD Negara RI Tahun 1945 yang membatasi setiap kekuasaan dan kewenangannya diatur dan dibatasi dengan peraturan perundang-undangan, misalnya tercermin Pasal 2 ayat (1), Pasal 4 ayat (1), Pasal 6 ayat (2), Pasal 6A ayat (5) UUD 1945.
Persamaan Dalam Hukum
(equality before the law)
Prinsip persamaan dalam hukum (equality before the law)
adalah adanya persamaan kedudukan setiap orang dalam hukum dan pemerintahan, yang diakui secara normatif dan dilaksanakan secara empirik. Prinsip ini juga dapat dimaknai bahwa tidak ada hukum yang istimewa. Jaminan prinsip ini dinyatakan dalam UUD Negara RI Tahun 1945 misalnya dalam Pasal 27 ayat (1) yaitu “segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”; Pasal 28D ayat (1) yaitu “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakukan yang sama di depan hukum”; dan Pasal 28I ayat (2) yang menyatakan “setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakukan yang diskriminatif itu”.
Asas Legalitas
(Due Process of Law)
Asas legalitas dalam segala bentuknya (due process of
law) adalah segala tindakan pemerintahan harus
didasarkan atas peraturan perundang-undangan yang
sah dan tertulis.
Peraturan perundang-undangan tertulis harus ada dan
berlaku lebih dulu atau mendahului tindakan atau
perbuatan administrasi yang dilakukan. Dengan
demikian, setiap perbuatan atau tindakan administrasi
harus didasarkan atas aturan atau ‘rules and
procedures’ (regels) yang juga membuka ruang
adanya beleid (kebijakan)tertentu yang dibolehkan.
Jaminan atas prinsip ini misalnya tertuang dalam Pasal
28I ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 yang
menyatakan “hak untuk tidak disiksa, ...., hak untuk
tidak dituntut atas atas dasar hukum yang berlaku
surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat
dikurangi dalam keadaan apapun”.
Pembatasan Kekuasaan
(Separation of Powers)
Prinsip pembatasan kekuasaan negara dan organ-organ
negara dengan cara menerapkan prinsip pembagian kekuasaan secara vertikal atau pemisahan kekuasaan secara horizontal-fungsional.
Kekuasaan selalu harus dibatasi dengan cara
memisah-misahkan kekuasaan ke dalam cabang-cabang yang bersifat ‘checks and balances’ dalam kedudukan yang sederajat dan saling mengimbangi dan mengendalikan satu sama lain. Dengan demikian, kekuasaan tidak tersentralisasi dan terkonsentrasi dalam satu organ atau satu tangan yang memungkinkan terjadinya kesewenang-wenangan. Prinsip ini telah tercantum dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia dengan adanya kekuasaan pemerintah (eksekutif) (Pasal 4 -18 UUD Negara RI Tahun 1945); legislatif (Pasal 19 - 22C UUD Negara RI Tahun 1945); dan kekuasaan kehakiman (yudikatif) (Pasal 24 - 25 UUD Negara RI Tahun 1945).
Organ Eksekutif Yang Bersifat Independen
(Independent Executive Agencies)
Adanya organ-organ eksekutif yang bersifat independen karena
pembatasan kekuasaan tidak lagi cukup sebagaimana kekuasaan pemerintah dipisah dan dibagi-bagikan ke dalam beberapa organ seperti selama ini.
Organ-organ yang independen ini diperlukan untuk
meningkatkan kualitas demokrasi dan demokratisasi. Kekuasaan pemerintahan juga semakin dikurangi dengan dibentuknya berbagai ‘independent body’ sehingga dalam menjalankan tugas utamanya tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik.
Dalam konteks Indonesia, organ-organ yang bersifat
independen ini misalnya Komnas HAM, Komisi Pemilihan Umum, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan sebagainya.
Peradilan yang Bebas dan Tidak Memihak
(impartial and independent judiciary)
Dalam menjalankan tugas yudisialnya, hakim tidak boleh
dipengaruhi oleh siapapun juga, baik karena kepentingan jabatan (politik) maupun kepentingan uang (ekonomi).
Untuk menjamin keadilan dan kebenaran, tidak diperkenankan
adanya intervensi ke dalam proses pengambilan putusan keadilan oleh hakim, baik intervensi dari lingkungan kekuasaan eksekutif maupun legislatif ataupun dari kalangan masyarakat dan media massa. Dalam menjalankan tugasnya, hakim tidak boleh memihak kepada siapapun juga kecuali hanya kepada kebenaran dan keadilan.
Prinsip peradilan yang merdeka sebagai tonggak untuk
mencapai peradilan yang bebas dan tidak memihak ini tercantum dalam Pasal 24 ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan “kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”.
Peradilan Tata Usaha Negara
(administrative court)
Perlu adanya Peradilan Tata Usaha Negara yang membuka
kesempatan bagi tiap-tiap warga negara untuk menggugat keputusan pejabat administrasi negara dan dijalankannya putusan hakim tata usaha negara oleh pejabat administrasi negara.
Pengadilan Tata Usaha Negara ini akan menjamin agar warga
negara tidak didzalimi oleh keputusan-keputusan para pejabat administrasi negara sebagai pihak yang berkuasa. Jika hal itu terjadi, maka harus ada pengadilan yang menyelesaikan tuntutan keadilan itu bagi warga negara, dan harus ada jaminan bahwa putusan hakim tata usaha negara itu benar-benar dijalankan oleh para pejabat tata usaha negara yang bersangkutan.
Jaminan adanya mekanisme untuk menggugat keputusan
administrasi negara tersebut tercermin dalam Pasal 24 ayat (2) UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”.
Peradilan Tata Negara
(Constitutional Court)
Jika suatu negara mengklaim menganut paham negara hukum, tetapi
tidak tersedia mekanisme untuk mengontrol konstitusionalitas
pembuatan undang-undang ataupun konstitusionalitas
penyelenggaraan demokrasi, maka negara yang bersangkutan tidak sempurna untuk disebut sebagai negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat) ataupun negara demokrasi yang berdasar atas hukum (constitutional democracy).
Keberadaan pengadilan tata negara (constitutional court) diakui
dalam Pasal 24 ayat (2) UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”.
Pengujian undang-undang sebagai mekanisme untuk mengontrol
konstitualisme pembuatan undang-undang ini tercantum dalam Pasal 24C ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 yaitu “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-undang Dasar, ...”.
Perlindungan Hak Asasi Manusia
(Protection of Human Rights)
Perlindungan terhadap hak asasi manusia dimasyarakatkan
secara luas dalam rangka mempromosikan penghormatan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia sebagai ciri yang penting suatu negara hukum yang demokratis.
Setiap manusia sejak kelahirannya menyandang hak-hak dan
kewajiban-kewajiban yang bersifat bebas dan asasi. Terbentuknya negara dan penyelenggaraan kekuasaan suatu negara tidak boleh mengurangi arti atau makna kebebasan dan hak-hak asasi kemanusiaan itu.
Perlindungan hak asasi manusia sebagai bagian penting dari
konsep negara hukum yang dianut Indonesia dinyatakan dalam Bab XA (Pasal 28A sampai Pasal 28J) UUD Negara RI Tahun 1945 tentang Hak Asasi Manusia.
Secara khusus penegasan mengenai jaminan hak asasi
manusia dalam negara hukum yang demokratis tertuang dalam Pasal 28I ayat (5) UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan bahwa “untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan”.
Prinsip Demokrasi yang Menjamin Peranserta
Masyarakat
(Democratische Rechtsstaat)
Dengan adanya peranserta masyarakat dalam proses pengambilan
keputusan, setiap peraturan perundang-undangan yang ditetapkan dan ditegakkan dapat diharapkan benar-benar mencerminkan perasaan keadilan yang hidup di tengah masyarakat. Hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tidak boleh ditetapkan dan diterapkan secara sepihak oleh dan/atau hanya untuk kepentingan penguasa secara bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Karena hukum tidak dimaksudkan untuk hanya menjamin kepentingan segelintir orang yang berkuasa, melainkan menjamin kepentingan akan rasa adil bagi semua orang tanpa kecuali.
Artinya, negara hukum (rechtstaat) yang dikembangkan bukanlah
‘absolute rechtstaat’, melainkan ‘democratische rechtstaat’ atau negara hukum yang demokratis. Dengan perkataan lain, dalam setiap negara hukum yang bersifat nomokratis harus dijamin adanya demokrasi, sebagaimana di dalam setiap negara demokrasi harus dijamin penyelenggaraannya berdasar atas hukum.
Jaminan dalam UUD Negara RI Tahun 1945 tentang pembentukan
peraturan perundang-undangan ini dituangkan dalam Pasal 22A yaitu “ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pembentukan undang-undang diatur dengan undang-undang-undang-undang”.
Berfungsi Mewujudkan Tujuan Kesejahteraan
(Welfare Rechtsstaat)
Cita-cita hukum, baik yang dilembagakan melalui gagasan
negara demokrasi (democracy) maupun yang diwujudkan melalui gagasan negara hukum (nomocracy), dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan umum, sebagaimana cita-cita dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa tujuan Bangsa Indonesia bernegara adalah dalam rangka melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Negara hukum berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan
dan mencapai keempat tujuan Negara Indonesia tersebut. Tujuan tersebut juga dijabarkan dalam pasal-pasal dalam UUD Negara RI Tahun 1945 misalnya jaminan atas perlindungan hak asasi manusia (Pasal 28A sampai dengan Pasal 28J), jaminan atas hak atas pendidikan oleh negara (Pasal 32), dan jaminan kemakmuran rakyat (Pasal 33).
Transparansi dan Kontrol Sosial
(Transparent and Social Control)
Transparansi dan kontrol sosial yang terbuka terhadap setiap
proses pembuatan dan penegakan hukum, sehingga kelemahan dan kekurangan yang terdapat dalam mekanisme kelembagaan resmi dapat dilengkapi secara komplementer oleh peranserta masyarakat secara langsung (partisipasi langsung) dalam rangka menjamin keadilan dan kebenaran.
Adanya partisipasi langsung ini penting karena sistem
perwakilan rakyat melalui parlemen tidak pernah dapat diandalkan sebagai satu-satunya saluran aspirasi rakyat. Karena itulah, prinsip ‘representation in ideas’ dibedakan dari ‘representation in presence’, karena perwakilan fisik saja belum tentu mencerminkan keterwakilan gagasan atau aspirasi. Bentuk transparansi dan kontrol sosial dengan adanya kelembagaan resmi maupun partisipasi secara langsung ini dijamin dalam Pasal 28 UUD Negara RI Tahun 1945 yang menyatakan “kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.
Empirical Issues:
Bagaimana dengan hak recall?
Bagaimana dengan monopoli BUMN?
Bagaimana dengan kebebasan beragama?
Bagaimana
dengan
kebebasan
untuk
dipilih?
Bagaimana
dengan
akses
terhadap
keadilan & kepastian hukum?
Bagaimana
dengan
hak
asasi
yang
dilanggar oleh legislasi?
Reading Assignment: