1 Nama : Danisha Vanya Yusuf
NIM : 2304551043
Kelas : B
Mata Kuliah : Gender dalam Hukum
Dosen : 1. Prof. Dr. I Wayan Windia, S.H., M.Si 2. I Gede Pasek Pramana, S.H., M.H.
SEJARAH PERGERAKAN GENDER DI INDONESIA
Gender, suatu kata yang dapat menggambarkan jenis kelamin pada manusia dan makhluk hidup lainnya. Di balik itu, kata gender dimulai dari pergerakan perempuan di London pada tahun 1977 yang tidak terlepas dari kesadaran akan pergaulan atas hak-hak perempuan yang semakin tertindas. Hal tersebut dapat menggerakkan perempuan Indonesia hingga saat ini untuk menyuarakan ketidakadilan gender yang sering terjadi di lingkungan sekitarnya.
Pergerakan gender telah ada sejak masa Hindia-Belanda melalui pergerakan yang dilakukan oleh para perempuan pribumi. R.A. Kartini yang terkenal dengan karyanya berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi sosok pelopor emansipasi wanita di Indonesia di abad ke-19.
Emansipasi wanita di Indonesia muncul karena stigma masyarakat terhadap perempuan yang dianggap sebagai “the second sex”, yakni seorang perempuan hanya ditugaskan untuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan derajatnya dianggap lebih rendah dari seorang laki-laki.
Stigma tersebut membuat perempuan merasa ragu meraih pendidikan tinggi yang dilatarbelakangi oleh budaya patriarki di tanah Jawa. Bahkan, stigma mengenai pendidikan terjadi hingga saat ini, di mana masyarakat menganggap bahwa ‘Buat apa sekolah tinggi, kalau ujungnya di dapur’ kepada perempuan yang sedang memperjuangkan gelar pendidikannya.
Stigma di atas menimbulkan ketidakadilan gender, hingga akhirnya organisasi Boedi Oetomo lahir pada tahun 1908, yang salah satu tujuannya adalah untuk memperjuangkan kesetaraan gender dengan berdirinya organisasi perempuan di bawah organisasi milik Soetomo yakni Putri Mardika dan Pawiyatan Wanito sebagai organisasi pejuang emansipasi wanita.
Setelahnya, Kongres Perempuan Indonesia I diadakan pada tahun 1928 yang berlokasi di Yogyakarta dan menjadi titik awal terbentuknya suatu federasi yang bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia atau disingkat PPPI. Pasca kemerdekaan Indonesia, pemerintah Indonesia mengakui persamaan gender dengan diundangkannya Undang-Undang
2 Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) melalui Pasal 27 ayat (1) yang berbunyi, “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.” Begitu pula gender dalam konstitusional Indonesia berhubungan dengan Pasal 28I ayat (2) yang berbunyi,
“Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.” Maka, pergerakan gender di Indonesia diakui secara konstitusional Indonesia tanpa terkecuali.
Demikian pula dengan kesetaraan hak perempuan dalam konteks jabatan politik melalui pembentukan Kementerian Muda Urusan Peranan Wanita (saat ini berganti nama menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) pada tahun 1978, dengan Lasijah Soetanto sebagai menteri perdana. Atas hal tersebut, pergerakan gender melalui para feminis di Indonesia semakin maju hingga saat ini dengan kesetaraan gender dalam pendidikan, sampai hal mudah seperti penyediaan lahan parkir khusus bagi perempuan. Produk hukum yang dihasilkan dari adanya pergerakan gender yakni Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, dan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Namun demikian, pergerakan gender harus tetap dilakukan dan disuarakan agar hak laki-laki maupun perempuan tidak tertindas di masa yang akan datang sesuai dengan asas hukum equality before the law;
setiap orang setara di hadapan hukum tanpa adanya perbedaan gender, ras, agama, dan status sosial seseorang.