i
HUKUM PERKAWINAN BW/KUHP PERDATA
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Perdata Dosen Pengampu: Inayatul Anisah, S. Ag. M, Hum.
Disusun oleh kelompok 2 :
1. Ifan Fauzi (224102030025)
2. Siti Laeli Wulandari (222102030077) 3. Siti Okta Hutami (222102030078)
4. Ummi Hamidah (222102030083)
5. Wazhelatul Hasanah (222102030085)
PROGRAM STUDI HUKUM TATA NEGARA FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
SEPTEMBER 2023
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kita ucapkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik serta hidayahnya sehingga kita dapat menyelesaikan penyusunan makalah hukum perdata dengan selesai.
Makalah ini dibuat dengan tujuan memenuhi tugas dari Ibu dosen Inayatul Anisah, S. Ag.
M, Hum. pada Progam Studi Hukum Perdata. Selain itu, penyusunan makalah ini bertujuan menambah wawasan kepada pembaca tentang mengenai pembahasan Hukum Perkawinan dalam BW/KUHP Perdata.
Makalah ini kami susun dengan segala kemampuan dan berusaha untuk semaksimal mungkin. Namun, kami menyadari dalam penyusunan dan penulisan makalah masih banyak melakukan kesalahan. Oleh karena itu, kami memohon maaf atas kesalahan dan ketidaksempurnaan yang pembaca temukan dalam makalah ini. Kami juga berharap adanya kritik serta saran dari pembaca apabila menemukan kesalahan dalam makalah ini.
Jember, 23 Aeptember 2023
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……… ii
DAFTAR ISI……… iii
BAB I PENDAHULUAN……… 1
A. Latar Belakang……… 1
B. Rumusan Masalah………... 1
C.T ujuan Masalah………. 2
BAB II PEMBAHASAN………... 3
A. Sejarah Pemberlakuan BW Pasca Kemerdekaan……….. 3
B. Pluralitas Hukum Perkawinan pada Masa Awal Kemerdekaan……… 4
C.Penggolongan Penduduk ps 131 IS ………. 6
D.Pengaturan hukum perkawinan dalam buku I BW/KUHPerdata……..6
BAB III PENUTUP………... 11
A. Kesimpulan……….. 11
DAFTAR PUSTAKA ………. 12
1 BAB I PENDAHULUAN
a. Latar belakang
Hukum perdata yang berlaku saat ini merupakan produk pemerintah Hindia Belanda yang berlaku di Indonesia berdasarkan atas asas Konkordansi, artinya bahwa hukum yang berlaku di Indonesia sama dengan ketentuan hukum yang berlaku di negeri Belanda. Di samping itu, yang menjadi dasar hukum berlakunya KUH Perdata di Indonesia adalah pasal II Aturan Peralihan UUD NRI 1945 dan masih dibutuhkan. KUH Perdata ditetapkan pada tahun 1838 di negeri Belanda, sedangkan di Indonesia di tetapkan pada tahun 1848. KUH Perdata terdiri atas empat buku, yaitu Buku 1tentang Hukum Orang; Buku 2 tentang Hukum Benda; Buku 3 tentang Perikatan; dan Buku 4 tentang Pembuktian dan Daluwarsa.
Oleh karena UU yang mengatur tentang hukum perdata secara khusus di Indonesia belum ada, maka yang menjadi acuan dalam pengkajian dan penelaahan buku Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW) ini adalah kepada KUH Perdata, yang merupakan produk pemerintah Hindia Belanda. di samping itu, yang juga menjadi acuan dalam penulisan buku ini adalah didasarkan pada UU Nomor 1 Tahun 1974 dan berbagai peraturan pemerintahnya, UU Nomor 4 Tahun 1996 , dan UU Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fiducia. Diharapkan pada masa yang akan datang , hukum perdata yang berlaku di indonesia adalah gabungan dari berbagai peraturan perundang-undangan yang bersumber dari KUH Perdata, hukum islam, hukum adat, dan berbagai kontrak-kontrak internasional yang tumbuh dan berkembang sat ini.
b. Rumusan masalah
1. Bagaimana sejarah pemberlakuan BW pasca kemerdekan
2. Bagaimana pluralitas hukum perkawinan pada masa awal kemerdekaan 3. Apa saja penggolongan penduduk ps 131 IS
4. Apa saja pengaturan hukum perkawinan dalam buku I BW/KUHPerdata:
2 c. Tujuan masalah
1. Untuk mengetahu sejarah pemberlakuan BW pasca kemerdekan
2. Untuk mengetahui bagaimana pluralitas hukum perkawinan pada masa awal kemerdekaan
3. Untuk mengetahui apa saja penggolongan penduduk ps 131 IS
4. Untuk mengetahui apa saja pengaturan hukum perkawinan dalam buku I BW/KUHPerdata
3
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah pemberlakuan BW pasca kemerdekan
Pada masa ini yang perlu menjadi perhatian adalah Undang- Undang Dasar 1945, Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950. Di dalam UUD 1945 Pasal II Aturan Peralihan menyatakan bahwa segala badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung/tetap berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang- Undang Dasar ini.
Berdasarkan ketentuan ini Burgerlijk Wetboek (BW) masih tetap berlaku. Pernyataan tersebut diperkuat dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 1945 tanggal 10 Oktober 1945 (yang lazim disebut maklumat X), yang pada pokoknya menyatakan segala badan Negara dan peraturan yang berlaku masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan UUD 1945. Ketentuan itulah yang menjadi dasar hukum berlakunya hukum Hindia Belanda termasuk BW itu. Dalam Konstitusi RIS 1959 pada Pasal 192 dan Pasal 142 UUDS 1950 juga mengatur hal yang sama. Kini di era reformasi ini, walau 4 (empat) kali diadakan perubahan UUD 1945 menjadi namanya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Pasal 7 UUNo.10 Tahun 2004), ketentuan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 tidak diadakan perubahan, sehingga berarti sampai saat buku ini ditulis, BW masih tetapberlaku sebagai hukum pokok hukum perdata di Indonesia.1
Berlakunya BW di Indonesia saat ini sejak Tahun 2006, berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa melihat lagi soal golongan penduduk. Karena pada tanggal tersebut telah diundangkan Undang-undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan. Memanfaatkan ketentuan BW bagi orang-orang pribumi tidak lagi atas dasar penundukan diri, baik secara sukarela maupun secara diam-diam, seperti yang telah diuraikan di atas.
Pada masa kini, BW bisa dipahami sedang mengalami alienasi eksistensi sebagai imbas dari tuntutan perkembangan jaman. Mau tidak mau, suka tidak suka sampai kapanpun BW akan tetap berlaku di Indonesia sebelum ada penetapan yang baru
1 Dr. Kelik Wardiono, S.H., M.H., Septarina Budiwati, S.H., M.Kn., Nuswardhani, S.H., S.U., Saepul Rochman, S.H., M.H., Hukum Perdata, Surakarta: Muhammadiyah Univesity Press, 2018, hal. 13.
4
peraturan tentang hukum perdata nasional sebagai amanat UUD 1945 sekalipun sangat bertolak belakang dengan kebudayaan Indonesia. Sehingga tidak mengherankan jika masih banyak yang menyangsikan keabsahan BW saat ini.
Mr. Sahardjo yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kehakiman pernah melontarkan bahwa BW (KUH Perdata) itu hanya dianggap sebagai Recht Boek, bukan Wet Boek. Akan tetapi pandangan itu ditentang keras oleh R. Subekti yang tetap berpandangan bahwa BW tetaplah Wet Boek, karena dalam konsiderans Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria (UUPA), jelas disebutkan bahwa sepanjang ketentuan dalam Buku II BW yang mengatur tentang bumi, air serta kekayaan yang terkandung didalamnya, dicabut kecuali ketentuan mengenai hipotik (hypotheek)2.
Sudah secara jelas dan terang-benderang bahwa BW hingga saat ini masih diakui eksistensinya sebagai undang-undang dalam peraturan perundang-undangan, sekalipun dalam penyebutannya diistilahkan kitab (KUH Perdata) yang tidak sama tingkatannya dengan UUD 1945. Terlebih pasal-pasal dalam Buku III BW perihal hukum perikatan atau hukum perjanjian sebagai acuan dalam berkontrak.
B. Pluralitas hukum perkawinan pada masa awal kemerdekaan
Pada awal kemerdekaan, upaya pembangunan di bidang hukum mulai dirintis.
Uniknya justru hukum di bidamg perkawinanlah yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 Tentang Nikah Cerai, Talak dan Rujuk (NCTR) yang pertama kali dibuat oleh bangsa Indonesia walau hanya berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura saja.
Setelah itu diundangkan melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 sehingga Undang-Undang NCTR berlaku di seluruh Indonesia.3
Eksistensi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 ini adalah sebagai kelanjutan dari Staatsblad Nomor 198 Tahun 1895 dan sebagai pengganti dari Huwelijks Orgonatie Staatsblad Nomor 467 Tahun 1931 dan Vorstenlandse Huwelijks Ordonantie Staatsblad Nomor 98 Tahun 1933. Kemudian
2 R. Subekti, 1998, Ceramah Perbandingan Hukum Perdata, Mahkamah Agung RI: Bina Yustisia, hal. 49.
Bandingkan dengan R. Subekti, 2003, Hukum Perdata, Jakarta: Intermasa, hal. 14.
3 A. Wasit Aulawi, Sejarah Perkembangan Hukum Islam di Indonesia dalam Amrullah Ahmad Dimensi Hukum
Islam dalam sistem Hukum Nasional, Jakarta: INIS,2002. hal.22.
5
Departemen Agama melalui menterinya mengeluarkan Permenag mengenai wali hakim dan tata cara pemeriksaan perkara fasid nikah, talak dan rujuk di Pengadilan Agama.
Pada tanggal 6 Mei 1961, Menteri Kehakiman membentuk Lembaga Pembinaan Hukum Nasional yang secara mendalam mengajukan konsep Rancangan Undang- Undang Perkawinan, sehingga pada tanggal 28 Mei 1962 Lembaga hukum ini mengeluarkan rekomendasi tentang asas-asas yang harus dijadikan prinsip dasar hukum perkawinan di Indonesia. Kemudian diseminarkan oleh lembaga hukum tersebut pada tahun 1963 abekerjasama dengan Persatuan Sarjana Hukum Indonesia bahwa pada dasarnya perkawinan di Indonesia adalah perkawinan monogami, namun masih dimungkinkan adanya perkawinan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Serta merekomendasikan batas minimum usia calon pengantin.4
Usaha selanjutnya dalam upaya melahirkan Undang-Undang Perkawinan, disaat acara simposium Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI) tanggal 29 Januari 1972 memberikan rekomendasi kepada pengurusnya agar kembali memperjuangkan Rancangan Undang-Undang Perkawinan dan mendesak pemerintah agar mengajukan Rancangan Undang-Undang Perkawinan kepada pemerintah agar dibahas kembali oleh DPR RI dan dilaksanakan sebagai Undang-Undang yang diberlakukan seluruh warga Indonesia. 5
Pada tahun 1973 Fraksi Katolik di parlemen menolak Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang berdasarkan Islam. Konsep RUU Perkawinan khusus umat Islam yang disusun pada tahun 1967 dan rancangan 1968 yang berfungsi sebagai Rancangan Undang-Undang Pokok Perkawinan yang di dalamnya mencakup materi yang diatur dalam rancangan tahun 1967. Akhirnya Pemerintah menarik kembali kedua rancangan dan mengajukan Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang baru pada tahun 1973.6 Pada tanggal 22 Desember 1973, Mentri Agama mewakili Pemerintah membawa konsep Rancangan Undang-Undang Perkawinan yang disetujui oleh DPR menjadi
4 R. Soetedjo Prawirohamidjojo, Pluralisme Dalam Perundang-Undangan Perkawinan di Indonesia, Surabaya:
Universitas Airlangga, 1988, hal.70.
5 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal. 4.
6 Deliar Noer, Administrasi Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali, Bandung, hal.99.
6
Undang-undang Perkawinan, Maka pada tanggal 2 Januari 1974, Presiden mengesahkan Undang-Undang tersebut dan diundangkan dalam Lembaran Negara Nomor 1 tahun 1974 tanggal 2 Januari 1974.7
C. Penggolongan penduduk ps 131 IS
Keanekaragaman hukum perdata ini semakin dipertegas oleh pemerintah Belanda yang membagi penduduk Hindia Belanda menjadi 3 (tiga) golongan, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 163 IS: yakni golongan Eropa, golongan Asing Timur, dan yang terakhir golongan Bumi Putera.8 Selanjutnya pada Pasal 131 IS dengan jelas menyatakan bahwa bagi golongan Eropa, hukum yang berlaku adalah hukum Belanda.
Untuk Golongan asing Timur, berlaku hukumnya sendiri. Selanjutnya untuk kelompok terakhir yaitu golongan Bumi Putera, hukum yang berlaku adalah hukum adat. Namun, jika kepentingan sosial memerlukannya, hukum Eropa bisa berlaku untuk semua kelompok. Penerapan selanjutnya disebut mematuhi hukum Eropa atau penundukan diri terhadap hukum Eropa, baik seluruhnya maupun sebagian saja. Penundukan yang sempurna berarti ketentuan Hukum Eropa berlaku sepenuhnya bagi badan hukum mana pun yang melakukan suatu perbuatan hukum. Dengan kata lain, pokok bahasan undang-undang tersebut dianggap identik dengan kelompok Eropa, sehingga undang- undang tersebut juga merupakan hukum Eropa.9
D. Pengaturan hukum perkawinan dalam buku I BW/KUHPerdata a. pengertian dan tujuan perkawinan
Manusia adalah makhluk sosial. sejak dilahirkan manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya di dalam suatu pergaulan hidup. Hidup bersama antara seorang pria dan seorang wanita yang memenuhi syarat-syarat tertentu disebut perkawinan.
Pasal 1 Undang-Undang No 1 Tahun 1974 menyebutkan, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorangwanita sebagai suami isteri dengan tujuan
7 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal.123.
8 http://repository.ub.ac.id/id/eprint/9578/4/5.%20BAB%20IV.pdf
9 https://bphn.go.id/data/documents/ae_peraturan perundang-undangan_peninggalan_kolonial_belanda
7
membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 10
Dari definisi tersebut, terdapat beberapa pengertian di dalamnya, yaitu:
1. Perkawinan ialah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri.
2. Ikatan lahir batin dan ditujukan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia, kekal dan sejahtera.
3. Dasar ikatan lahir batin dan tujuan bahagia yang kekal itu berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa." Perkawinan dalam agama Islam disebut nikah, ialah suatu akadatau perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang pria dan wanita, guna menghalalkan hubungan kelamin antara kedua belah pihak, dengan dasar sukarela dan keridhoun kedua belah pihak untuk mewujudkan suatu kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang dan ketentraman dengan cara-cara yang diridhoi Allah.
Wirjono Prodjodikoro, mengatakan perkawinan adalah hidup bersama dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
Sedangkan menurut Subekti perkawinan adalah pertalian yang sah antara seorang laki- laki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama."
Muhammad Abu Ishrah mendifinisikan "nikah adalah akad yang memberikan faedah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga (suami isteri) antara pria dan wanita dan mengadakan tolong menolong serta memberi batas hak-hak bagi pemiliknya dan pemenuhan kewajibannya masing-masing.
Berdasarkan pengertian di atas, bahwa perkawinan mengandung aspek akibat hukum yaitu saling mendapatkan hak dan kewajiban, serta bertujuan mengadakan pergaulan yang dilandasi tolong menolong. Oleh karena perkawinan termasuk dalam pelaksanaan syariat agama, maka di dalamnya terkandung tujuan dan maksud. Dengan demikian kata nikah atau zawaj atau tazwiz mempunyai arti "kawin atau perkawinan".
Menurut pendapat Tengku M. Hasbi Ash Shiddiqi, perkawinan ialah melaksanakan
10 https://bphn.go.id/data/documents/ae_peraturan perundang-undangan_peninggalan_kolonial_belanda
8
akad antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan atas kerelaan dan kesukaan kedua belah pihak, oleh seorang wali dari pihak perempuan, menurut sifat yang telah ditetapkan syara' untuk menghalalkan pencampuran antara keduanya dan untuk menjadikan yang seorang condong kepada seorang lagi dan menjadikan masing-masing dari padanya sekutu (seumur hidup) bagi yang lainnya.
Pasal 4 Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum Islam sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan." Disebut "Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya".
Masalah perkawinan sebagaimana yang telah diuraikan di atas, tidak dapat lepas dengan masalah seks dan hubungan seksual antara laki-laki dengan perempuan, sebab perkawinan merupakan lembaga yang mengatur hubungan seksual tersebut agar sah dan halal. Manusia normal tentu saja berpendapat bahwa perkawinan yang mereka laksanakan untuk mengesahkan dan menghalalkan hubungan biologis mereka dan untuk mendapatkan keturunan yang sah.
Allah SWT telah mensyariatkan perkawinan dengan kebijaksanaan yang tinggi dan tujuan yang mulia, serta merupakan jalan yang bersih untuk melanjutkan keturunan dan memakmurkan bumi. Perkawinan merupakan sarana untuk mewujudkan ketenangan jiwa dan ketentraman hati, menjaga kesucian diri dari perbuatan keji sebagaimana juga menjadi kenikmatan, kebahagian hidup, sarana untuk membentengi diri agar tidak jatuh pada jurang kenistaan, serta penyebab keturunan yang shaleh
b. asas perkawinan
Asas perkawinan menurut UU No. 1/1974 adalah:
(1) Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal.
(2) Sahnya perkawinan sangant tergantung pada ketentuan hukum agama dan kepercayaan masing-masing.
(3) Asas monogami.
(4) Calon suami dan istri harus telah dewasa jiwa dan raganya.
c. syarat perkawinan (materiil dan formil)
Syarat materil adalah syarat yang mengenai atau berkaitan dengan diri pribadi seseorang yang akan melangsungkan perkawinan yang harus dipenuhi untuk dapat
9
melangsungkan perkawinannya, sedangkan syarat formil adalah syarat yang berkaitan dengan tata cara (prosedur) untuk melangsungkan perkawinan.
d. akibat perkawinan
Terjadinya perkawinan akan menimbulkan akibat hukum bagi pihak suami maupun istri. dalam BW atau KUHPERDATA buku 1 diatur akibat dari perkawinan kurang lebih 3 akibat hukum yaitu :
1. hak dan kewajiban suami istri
hak dan kewajiban suami istri ditulis dalam kitab undang-undang hukum perdata bab v pasal 103-118.
2. Harta kekayaan
harta kekayaan suami istri dijelaskan dalam bab VI harta bersama menurut undang undang dan pengurusannya yang kemudian dibagi lagi menjadi 3 bagian.
bagian pertama adalah harta bersama menurut undang undang pasal 119 sampai pasal 123 yang menjelaskan bahwa harta bersama adalah harta menyeluruh antara suami istri sejak dilangsungkan perkawinan, baik berupa barang bergerak dan barang tidak bergerak.
bagian kedua adalah pengurusan harta bersama meliputi pasal 124 dan pasal 125 yaitu dijelaskan bahwa hanya suami yang boleh mengurus harta bersama itu, namun apabila suami tidak ada atau tidak dalam keadaan yang tidak memungkinkan maka maka istrinya yang boleh mengurus harta bersama.
bagian ketiga adalah Pembubaran Gabungan Harta Bersama dan Hak untuk Melepaskan Diri Padanya diatur dalam pasal 126 sampai pasal 138
3. hubungan orang tua dan anak
Diatur dalam bab XIV tentang kekuasaan orang tua seperti Setiap anak, berapa pun juga umurnya, wajib menghormati dan menghargai orang tuanya. Orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka yang masih di bawah umur.
tidak hanya berkuasa pada anaknya tapi juga pada barang barang anaknya seperti Orang yang berdasarkan kekuasaan orang tua wajib mengurus barang-barang anak-anaknya, harus bertanggung jawab, baik atas hak milik barang-barang itu
10
maupun atas pendapatan dari barang-barang demikian yang tidak boleh dinikmatinya.
e. perjanjian perkawinan
Perjanjian kawin diatur dalam bab VII dan masih terbagi menjadi 4 bagian yaitu bagian pertama pasal 139 -154 tentang perjanjian kawin pada umumnya, bagian kedua pasal 155-167 tentang Gabungan Keuntungan dan Kerugian dan Gabungan Hasil dari Pendapatan, bagian ketiga pasal 168-175 tentang Hibah-Hibah Antara Kedua Calon Suami Isteri, dan bagian terakhir pasal 176_179 tentang Hibah-Hibah yang Diberikan Kepada Kedua Calon Suami Isteri atau Kepada Anak-anak dan Perkawinan Mereka.
11
BAB III PENUTUP Kesimpulan
Di dalam UUD 1945 Pasal II Aturan Peralihan menyatakan bahwa segala badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung/tetap berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang- Undang Dasar ini. Berdasarkan ketentuan ini Burgerlijk Wetboek (BW) masih tetap berlaku. Pernyataan tersebut diperkuat dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 1945 tanggal 10 Oktober 1945.
Mr. Sahardjo yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kehakiman pernah melontarkan bahwa BW (KUH Perdata) itu hanya dianggap sebagai Recht Boek, bukan Wet Boek. Akan tetapi pandangan itu ditentang keras oleh R. Subekti yang tetap berpandangan bahwa BW tetaplah Wet Boek.
Pada tanggal 6 mei 1961 Mentri kehakiman membentuk lembaga pembinaan Hukum Nasional secara mendalam untuk mengajukan konsep rancangan undang-undang perkawinan, dan mengeluarkan sebuah rekomendasi mengenai asas asas prinsip dasar hukum perkawinan. Salah satu upaya untuk memperjuangkan undang-undang perkawinan adalah dengan mendesak pemerintah agar mengajukan rancangan undang-undang perkawinan kepada DPR RI. Kemudian pemerintah menarik kembali kedua rancangan tersebut dan mengajukan rancangan undang-undang yang baru pada tahun 1973. Sehingga pada tanggal 22 desember 1973 Mentri Agama membawa konsep Rancangan Undang- Undang yang telah disetujui oleh DPR menjadi Undang-undang Perkawinan yang kemudian disahkan pada tanggal 2 Januari 1974.
Pasal 131 IS menentukan bahwa bagi golongan Eropa, hukum yang berlaku adalah hukum yang ada di negeri Belanda. Adapun golongan Timur Asing berlaku hukumnya sendiri. Selanjutnya bagi golongan terakhir, yakni golongan Bumi Putera, hukum yang berlaku adalah hukum adat.
12
Dan Pengaturan hukum perkawinan dalam buku I BW/KUHPerdata meliputi Pengertian dan tujuan perkawinan, asas perkawinan, syarat perkawinan baik secara formill maupun materil, akibat perkawinan,dan perjanjian perkawinan.
13
Daftar Pustaka
A.Wasit Aulawi, Sejarah Perkembangan Hukum Islam di Indonesia dalam Amrullah Ahmad Dimensi Hukum Islam dalam sistem Hukum Nasional, Jakarta:INIS, 2002, hal.22
Abdul Manan Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal.123.
Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, hal.4.
Deliar Noer, Administrasi Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali, Bandung, hal.99.
Dr. Kelik Wardiono, S.H., M.H., Septarina Budiwati, S.H., M.Kn., Nuswardhani, S.H., S.U., Saepul Rochman, S.H., M.H., Hukum Perdata, Surakarta: Muhammadiyah Univesity Press, 2018, hal. 13.
http://repository.ub.ac.id/id/eprint/9578/4/5.%20BAB%20IV.pdf
https://bphn.go.id/data/documents/ae_peraturan perundang-undangan_peninggalan_kolonial_belanda Mariam Darus Badrulzaman, 2015, Hukum Perikatan dalam KUH Perdata, Buku Ketiga,
Yurisprudensi, Doktrin serta Penjelasan, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, hal. 205.
R. Subekti, 1998, Ceramah Perbandingan Hukum Perdata, Mahkamah Agung RI: Bina Yustisia, hal. 49. Bandingkan dengan R. Subekti, 2003, Hukum Perdata, Jakarta: Intermasa, hal. 14.