IDENTIFIKASI DAMPAK AKTIFITAS PENGOLAHAN KARET TERHADAP LINGKUNGAN
(STUDI KASUS : PT. WAY KANDIS, RAJABASA)
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah lingkungan dan sumberdaya alam
Oleh
Adam Irwansyah 23112002
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOMATIKA JURUSAN TEKNOLOGI INFRASTRUKTUR DAN
KEWILAYAHAN
INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
2015
PRAKATA
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat rahmat-Nyalah saya dapat menyelesaikan penelitian identifikasi isu lingkungan. Identifikasi isu lingkungan ini merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh seluruh peserta mata kuliah Lingkungan dan Sumber Daya Alam.
Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk kelulusan mata kuliah pilihan PL2101R Lingkungan dan Sumber Daya Alam. Makalah ini berisi uraian kegiatan yang telah dilakukan selama menjalani penelitian dan dikaitkan dengan pengetahuan yang telah diperoleh mahasiswa baik saat kuliah maupun melalui studi literatur.
Makalah ini diberi judul “Identifikasi Dampak Aktifitas Pengolahan Karet Terhadap Lingkungan”
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis selama pelaksanaan penelitian maupun penyusunan makalah, Akhir kata penulis sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat, baik bagi penulis sendiri dan semua pihak yang membutuhkannya.
Bandarlampung, November 2015
ABSTRAK
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.
PT Waykandis Rajabasa Bandar Lampung merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang industri pengolahan karet mentah (slab) menjadi karet remah (crumb rubber).
Dampak positif dari keberadaan pabrik pengolahan karet yaitu PT. Way Kandis ialah memberikan lapangan pekerjaan sehingga bisa mengurangi pengangguran dan mensejahterakan masyarakat. Masyarakat berpeluang untuk membuka usaha atau berdagang. Kesempatan kerja dan peluang usaha ini berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat. Sedangkan dampak negatif dari keberadaan pabrik ialah menimbulkan polusi udara seperti bau busuk yang sangat mengganggu kenyamanan masyarakat.
Pembangunan dalam konteks Negara selalu ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat kearah yang lebih baik yang merata. Pembangunan bukan hanya berarti penekanan pada akselerasi dan peningkatan pendapatan perkapita sebagai indeks dari pembangunan saja, akan tetapi pembangunan merupakan suatu proses multi dimensi yang meliputi pola reorganisasi dan pembaharuan seluruh sistem dan aktifitas ekonomi, sosial dan lingkungan dalam mensejahterakan kehidupan warga masyarakat.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Abstrak ... ii
Daftar Isi ... iii
Daftar Gambar ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 1
1.3 Ruang Lingkup Kajian ... 2
1.4 Tujuan Penulisan Makalah ... 2
1.5 Sistematika Penulisan ... 2
BAB II TEORI DASAR ... 3
2.1 Definisi Lingkungan dan Lingkungan Hidup ... 3
2.2 Prinsip Pembangunan Berkelanjutan ... 5
2.3 Gambaran Umum Aktifitas Pengolahan Karet ... 6
BAB III ANALISIS ... 11
3.1 Identifikasi Keadaan Lingkungan Sekitar Pabrik ... 11
3.2 Dampak Aktifitas Pabrik Terhadap Lingkungan ... 12
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ... 13
4.1 Simpulan ... 13
4.2 Saran ... 13
DAFTAR PUSTAKA ... 14
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Getah dari pohon karet sebelum diolah ... 7
Gambar 2.2. BOKAR sedang dalam proses peremahan ... 7
Gambar 2.3. BOKAR dalam proses pengeringan ... 8
Gambar 2.4. Alat untuk mengepres BOKAR ... 9
Gambar 2.5. BOKAR dalam proses pembungkusan ... 9
Gambar 2.6. BOKAR siap dikirim ... 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai dengan melaksanakan pembangunan di segala bidang. Pembangunan merupakan proses pengolahan sumber daya alam dan pendayagunaan sumber daya manusia dengan memanfaatkan tekhnologi. Dalam pola pembangunan tersebut, perlu memperhatikan fungsi sumber daya alam dan sumber daya manusia, agar dapat terus-menerus menunjang kegiatan atau proses pembangunan yang berkelanjutan.
Pengertian pembangunan berkelanjutan itu sendiri adalah perubahan positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi dan sosial dimana masyarakat bergantung padanya.
Keberhasilan penerapannya memerlukan kebijakan, perencanaan dan proses pembelajaran sosial yang terpadu, viabilitas politiknya tergantung pada dukungan penuh masyarakat melalui pemerintahannya, kelembagaan sosialnya, dan kegiatan dunia usahanya. Proses pembangunan terutama bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat baik secara spiritual maupun material.
Pembangunan dalam konteks Negara selalu ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat kearah yang lebih baik yang merata. Pembangunan bukan hanya berarti penekanan pada akselerasi dan peningkatan pendapatan perkapita sebagai indeks dari pembangunan saja, akan tetapi pembangunan merupakan suatu proses multi dimensi yang meliputi pola reorganisasi dan pembaharuan seluruh sistem dan aktifitas ekonomi, sosial dan lingkungan dalam mensejahterakan kehidupan warga masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, muncul beberapa persoalan yaitu:
1. Apa definisi lingkungan dan lingkungan hidup?
2. Apa saja dampak lingkungan yang timbuk akibat aktifitas industri karet ? 3. Bagaimana pola kehidupan masyarakat di sekitar lokasi industri ?
4. Apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi dampak melalui identifikasi pilar-pilar pembangunan berkelanjutan?
1.3 Ruang Lingkup Kajian
Untuk menjawab rumusan masalah di atas perlu pengkajian beberapa pokok, yaitu:
1. Definisi lingkungan dan lingkungan hidup 2. Aktifitas pengolahan karet
3. Dampak industri pengolahan karet
4. Upaya penanggulangan melalui pembangunan berkelanjutan
1.4 Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan umum yang hendak dicapai melalui penulisan makalah ini ialah untuk mengetahui dampak suatu industri pengolahan karet terhadap lingkungan. Sedangkan tujuan khusus yang hendak dicapai ialah mengidentifikasi isu dampak lingkungan melalui pilar-pilar pembangunan berkelanjtan.
1.5 Sistematika Penulisan
Penulisan makalah ini terbagi menjadi empat bab, yaitu pendahuluan, teori dasar pencemaran tanah, analisis dampak pencemaran tanah, serta simpulan dan saran. Pada bab satu akan dibahas mengenai latar belakang pengangkatan makalah ini, rumusan masalah, tujuan, ruang lingkup kajian, serta sistematika penulisan. Pada bab dua akan disajikan penjelasan umum dan aspek-aspek yang akan dikaji dengan menggunakan berbagai literatur sebagai sumbernya berupa pengertian lingkungan, gambaran umum aktifitas pengolahan karet dan prinsip pembangunan berkelanjutan. Bab tiga akan menjabarkan dan menganalisis masalah-masalah yang telah dirumuskan secara lengkap berupa identifikasi keadaan lingkungan sekitar pabrik dan analisa dampak industri pabrik. Bab empat berisi tentang simpulan dan saran dari penulis mengenai masalah yang kami angkat.
BAB II TEORI DASAR
2.1 Definisi Lingkungan dan Lingkungan Hidup
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.
Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia serta mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.
Lingkungan dibedakan menjadi dua yaitu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik.
Lingkungan biotik adalah lingkungan yang hidup, misalnya tanah, pepohonan, dan para tetangga. Sementara lingkungan abiotik mencakup benda-benda tidak hidup seperti rumah, gedung, dan tiang listrik. Sebagai contoh di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman- teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.
Secara khusus, kita sering menggunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi. Secara umum pengertian lingkungan hidup adalah sebuah kesatuang ruang dengan segala benda dan makhluk hidup di dalamnya termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi keberlangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup yang lainnya. Lingkungan hidup mencakup ekosistem, perilaku sosial, budaya, dan juga udara yang ada. (ArtikeLlingkunganHidup.com, 2012)
Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a) Unsur Hayati (Biotik)
Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.
b) Unsur Sosial Budaya
Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
c) Unsur Fisik (Abiotik)
Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi.
Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.
2.2 Prinsip Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah pembangunan yang berguna untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan saat ini tanpa perlu merusak atau menurunkan kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. (Subagia, 2013)
Pada dasarnya konsep ini merupakan strategi pembangunan yang memberikan batasan pada laju pemanfaatan ekosistem alamiah dan sumberdaya yang ada didalamnya. Ambang batas ini tidak absolut (mutlak) tetapi merupakan batas yang luwes (flexible) yang bergantung pada teknologi dan sosial ekonomi tentang pemanfaatan sumberdaya alam, serta kemampuan biosfer dalam menerima akibat yang ditimbulkan dari kegiatan manusia.
Dengan kata lain, pembangunan berkelanjutan adalah semacam strategi dalam pemanfaatan ekosistem alamiah dengan cara tertentu sehingga kapasitas fungsionalnya tidak rusak untuk memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia.
Hal ini bukan saja untuk kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat generasi mendatang. Dengan demikian diharapkan bahwa kita tidak saja mampu melaksanakan pengelolaan pembangunan yang ditugaskan, tetapi juga dituntut untuk mampu mengelolanya dengan suatu lingkup yang lebih menyeluruh.
Upaya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup perlu memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara cermat dan bijaksana.
a. Sumber daya alam yang mencakup air, tanah, udara, hutan, kandungan mineral, dan keanekaragaman hayati.
b. Sumber daya manusia yang mencakup jumlah penduduk, pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan kebudayaan.
c. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mencakup transportasi, informasi, komunikasi, dan hasil-hasil ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) lainnya.
Sumber-sumber daya tersebut sifatnya terbatas, sehingga dalam penggunaannya harus cermat dan bijaksana. Ketidakcermatan dan kekurangbijaksanaan dalam penggunaan sumber daya dapat menimbulkan beragam masalah, seperti polusi lingkungan, kerusakan sumber daya alam, dan timbulnya masalah permukiman.
Pembangunan berwawasan lingkungan yang dikenal dengan pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan manusia melalui
pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, efisiensi, dan memerhatikan pemanfaatannya, baik untuk masa kini maupun yang akan datang.
Pembangunan berwawasan lingkungan yang memerhatikan keberlanjutan lingkungan hidup memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
➢ Menjamin Pemerataan dan Keadilan. Strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan dilandasi oleh pemerataan distribusi lahan dan faktor produksi, pemerataan kesempatan bagi perempuan, dan pemerataan ekonomi untuk peningkatan kesejahteraan.
➢ Menghargai Keanekaragaman Hayati Keanekaragalan hayati merupakan dasar bagi tatanan lingkungan. Pemeliharaan keanekaragaman hayati memiliki kepastian bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berlanjut untuk masa kini dan masa yang akan datang.
➢ Menggunakan Pendekatan Integratif Dengan menggunakan pendekatan integratif, maka keterkaitan yang kompleks antara manusia dengan lingkungan dapat dimungkinkan untuk masa kini dan masa yang akan datang.
➢ Menggunakan Pandangan Jangka Panjang Pandangan jangka panjang dilakukan untuk merencanakan pengelolaan pemanfaatan sumber daya yang mendukung pembangunan agar secara berlanjut dapat digunakan dan dimanfaatkan.
2.3 Gambaran Umum Aktifitas Pengolahan Karet
PT Waykandis Rajabasa Bandar Lampung merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang industri pengolahan karet mentah (slab) menjadi karet remah (crumb rubber). Crumb rubber adalah karet kering yang proses pengolahannya melalui tahap peremahan. Bahan baku berasal dari lateks yang diolah menjadi koagulum dan dari lump. Bahan baku yang paling dominan adalah lump karena pengolahan crumb rubber bertujuan untuk mengangkat derajat bahan baku mutu rendah menjadi produk yang lebih bermutu. Penetapan mutu berdasarkan pada sifat-sifat teknis. Warna atau penilaian visual
menjadi dasar penentuan kelas mutu pada jenis karet crepe, sheet, maupun lateks pekat tidak berlaku untuk crumb rubber.
Gambar 2.1 Getah dari pohon karet sebelum diolah
Tahap pengolahan Crumb Rubber meliputi :
➢ Peremahan
BOKAR yang telah mengalami penuntasan selama 10-15 hari diremahkan dalam
granulator. Bahan Olah Karet (BOKAR) adalah lateks kebun dan gumpalan lateks kebun yang diperoleh dari pohon karet (Hevea brasiliensis M).
Gambar 2.2 BOKAR setelah proses peremahan
Peremahan bertujuan untuk mendapatkan remahan yang siap untuk dikeringkan. Sifat yang dihasilkan oleh peremahan adalah mudah dikeringkan sehingga dicapai kapasitas produksi yang lebih tinggi dan kematangan remah yang sempurna.
➢ Pengeringan
BOKAR yang terlah mengalami peremahan selanjutnya dikeringkan dalam dryer selama 3 jam. Pemasukan kotak pengering kedalam dryer 12 menit sekali, suhu pengering 122°C untuk bahan baku BOKAR dan 110°C untuk proses WF. Suhu produk yang keluar dari dryer dibawah 40°C.
Gambar 2.3 BOKAR sedan dalam proses pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air sampai batas aman simpan baik dari serangan serangga maupun mikrobiologis, enzimatis dan hidrolis. Dalam pengeringan faktor yang dapat memepengaruhi hasil adalah lamanya penuntasan, ketinggian remahan, suhu dan lama pengeringan.
➢ Pengepresan
Pengepresan merupakan pembentukan bandela-bandela dari remah karet kering. Bahan yang keluar dari pengering kemudian ditimbang seberat 35kg/bandela yang akan dikemas
dalam kemasan SW dan 33,5kg/bandela untuk kemasan. Setelah itu produk dipress dengan menggunakan mesin press bandela. Ukuran hasil pengepresan 60 x 30 x 17 cm.
Gambar 2.4 alat untuk mengepres BOKAR
➢ Pembungkusan dan Pengepakan Crumb Rubber
Pembungkusan dimaksudkan untuk menghindari penyerapan uap air dari lingkungan serta bebas kontaminan lain. Setelah produk dipress, kemudian disimpan diatas meja alumunium untuk penyortiran dengan menggunakan pengutip.
Gambar 2.5 BOKAR dalam proses pembungkusan
Setelah itu produk dibungkus dengan plastik transparan tebal 0,03 mm dan titik leleh 108°C. Bandela yang telah dibungkus, kemudian dimasukkan dalam peti kemas dengan susunan saling mengunci.
Gambar 2.6 BOKAR siap untuk dikirim
BAB III ANALISIS
3.1 Identifikasi Keadaan Lingkungan Sekitar Pabrik
PT. Way Kandis berlokasi di jalan H Komarudin 9, Rajabasa, Bandarlampung. Berikut merupakan citra yang satelit yang menunjukkan lokasi dan lingkungan sekitar pabrik.
Dari citra di atas, secara geografis letak pabrik berada di area pendidikan dan pemukiman.
Dalam radius 500 meter dari pabrik terdapat dua institusi pendidikan yaitu Politeknik Negeri Lampung dan Yayasan Al-Kautsar dan terdapat dua perumahan yaitu Perumahan Griya Intan dan Perumahan Glora Persada. Dalam radius satu kilometer terdapat satu institusi pendidikan yaitu Universitas Lampung dan dua perumahan yaitu Perumahan Polri Hajimena dan Perumahan Bataranila. Jika dilihat dari aspek ekonomi, masih terpetak- petak untuk area perumahan cenderung memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas dan untuk daerah pemukiman yang berada di luar perumahan cenderung memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah. Untuk kalangan menengah ke atas mayoritas memliki pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil dan pemilik kos-kosan/kontrakan. Sedangkan untuk kalangan menengah ke bawah mayoritas memiliki pekerjaan sebagai pedagang kecil dan buruh. Serupa dengan aspek ekonomi, dipandang dari aspek sosial, interkasi sosial antar individu di lingkungan pabrik relatif minim untuk area perumahan, namun berbeda untuk wilayah pemukiman biasa, interaksi sosial masih tinggi dan masih sering dijumpai penduduk yang melakukan musyawarah, kerja bakti dan ronda bersama-sama.
3.2 Dampak Aktifitas Pabrik Terhadap Lingkungan 3.2.1 Dampak Lingkungan
Bau busuk menyengat terjadi disebabkan oleh pertumbuhan bakteri pembusuk yang melakukan biodegradasi protein di dalam bokar menjadi amonia dan sulfida. Kedua hal tersebut terjadi karena bahan pembeku lateks yang digunakan saat ini tidak dapat mencegah pertumbuhan bakteri. Kemudian bau busuk tersebut dibawa terus sampai ke pabrik karet remah dan di pabrik yang menjadi sumber bau busuk tersebut adalah berasal dari tempat penyimpanan bokar, kamar gantung angin (pre-drying room), dan mesin pengering (dryer). Masalah bau busuk yang mencemari udara di sekitar pabrik karet remah ini sampai saat ini sangat sulit diatasi walaupun semua pabrik sudah menggunakan scrubber (cerobong asap), padahal di sekeliling pabrik sudah menjadi kawasan perumahan. Pada akhirnya bau busuk ini menimbulkan keluhan- keluhan masyarakat di sekeliling pabrik bahkan yang jauh dari pabrik (bau terbawa oleh angin). Bau busuk yang ditimbulkan oleh PT. Way Kandis berdampak negatif bagi masyarakat sekitar. Masyarakat sangat terganggu terhadap bau busuk, ini menandakan bahwa masyarakat yang tinggal sekitar pabrik karet mengalami tekanan dari lingkungan tempat tinggal sehingga kenyamanan masyarakat sekitar terganggu.
3.2.2 Dampak Sosial
Hubungan sosial industri dan komunitas Iokal telah menciptakan Fragmentasi di komunitas. Terdapat dua kelompok yaitu Penduduk lama (pekerja pabrik dan bekas pekerja pabrik) dan pendatang. Keduanya berbeda pandangan dan sikap dalam merespon keberadaan pabrik. Dalam waktu yang cukup lama telah terjadi konflik yang bersifat laten antar komunitas itu sendiri dan antara komunitas pendatang dengan pihak pabrik.
3.2.3 Dampak Ekonomi
Hubungan ekonomi industri dan komunitas lokal ditemukan masalah. PT Way Kandis merupakan industri padat modaldan teknologi yang sedikit menyerap tenaga kerja. Sementara itu sebagian kecil tenaga kerja lokal hanya ditampung sebagai buruh harian tetap dan lepas. Upah kerja mereka relatif rendah dan menempati perumahan yang tak terawat dan kumuh. Tenaga kerja borongan, jumlahnya Iebih
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Dampak positif dari keberadaan pabrik pengolahan karet yaitu PT. Way Kandis ialah memberikan lapangan pekerjaan sehingga bisa mengurangi pengangguran dan mensejahterakan masyarakat. Masyarakat berpeluang untuk membuka usaha atau berdagang. Kesempatan kerja dan peluang usaha ini berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat. Sedangkan dampak negatif dari keberadaan pabrik ialah menimbulkan polusi udara seperti bau busuk yang sangat mengganggu kenyamanan masyarakat.
4.2 Saran
Untuk mengatasi dampak negatif yang ditumbulkan oleh pengolahan karet remah khususnya bau busuk ialah dengan melakukan penyemprotan asap cair di atas bokar. Hal ini dapat menghilangkan/menetralkan bau busuknya dan asap cair dapat membekukan lateks (getah karet) dengan sempurna dengan nilai plastisitas tinggi, dan sifat fisik vulkanisat setara atau bahkan lebih baik dibandingkan dengan karet yang dihasilkan dengan pembeku asam format (semut). Selain itu masyarakat sebaiknya juga melakukan tindakan adaptif terhadap bau dengan memasang pengharum ruangan di rumah.
DAFTAR PUSTAKA
Amadi, I. A. (2011). Masalah Pembangunan Berkelanjutan. 3-8.
Amadi, Iqbal, Nur, A., & Irfan. (2002). Hubungan industri dan komunitas lokal (studi di PT. Way Kandis Rajabasa Kedatan Bandarlampung). Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.
ArtikeLlingkunganHidup.com. (2012). PENGERTIAN LINGKUNGAN HIDUP.
ArtikelLingkunganHidup.com.
Dewan Perwakilan Rakyat. (1997). Undang-Undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup No.23 Tahun 1997.
PT. KENCANA RUBBERINDO. (2013, February 9). Tahap pengolahan Crumb Rubber. Diambil kembali dari http://www.kencanarubberindo.com/2014/12/pabrikasi-crumb-rubber-1.html
Safitri, L., & Nurhamlin. (2013). DAMPAK SOSIAL KEGIATAN PABRIK KARET PT. P&P BANGKINANG DI KELURAHAN WONOREJO KECAMATAN MARPOYAN DAMAI KOTA PEKANBARU. 9-10.
(2002). Standar Bahan Olahan Karet Untuk Produk Karet Olahan. Pusat Teknologi Material - BPPT.
Subagia, W. (2013). Pembangunan Berwawasan Lingkungan. 3-6.
Sutini. (2009). SISTEM PEMBELIAN BAHAN BAKU KARET PT WAYKANDIS RAJABASA BANDAR LAMPUNG.