PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Karena hal ini dapat memperburuk kondisi ibu dan anak sehingga berdampak pada angka kematian ibu dan bayi (Winancy, 2019). Salah satu komplikasi kehamilan adalah preeklamsia yang persentasenya terjadi di negara berkembang sebesar 5-7% (Gustri, 2016). Preeklamsia sebagai komplikasi persalinan didefinisikan sebagai kumpulan gejala pada ibu hamil yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥ 140/90 MmHg dan tingginya kadar protein dalam urin (proteinuria) yang sering muncul pada usia kehamilan ≥ 20. minggu.
Permasalahan preeklamsia tidak hanya menimpa ibu pada masa kehamilan dan persalinan, namun juga menimbulkan permasalahan pasca melahirkan akibat disfungsi endotel pada berbagai organ. 7 Sectio Caesarea adalah persalinan melalui sayatan pada dinding perut dan rahim yang masih utuh dengan berat janin lebih dari 1000 gram atau usia kehamilan > 28 minggu. Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien preeklampsia bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi pada masa nifas serta mencegah terjadinya komplikasi pasca persalinan.
Oleh karena itu, asuhan keperawatan pada pasien preeklamsia dilakukan untuk meningkatkan penyesuaian diri pasien dalam menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan kondisinya setelah melahirkan dan memfasilitasi potensi pasien dalam beradaptasi dalam menghadapi perubahan kebutuhan dasarnya. Berdasarkan uraian di atas mengenai terjadinya komplikasi yang banyak berdampak pada ibu dan bayi, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian studi kasus tentang “Asuhan Keperawatan pada Ibu Nifas dengan Preeklampsia”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan data RSUD Dr Kanujoso Djatiwibowo Ruang Flamboyan C, terdapat 200 ibu yang melahirkan melalui operasi caesar karena indikasi preeklamsia.
Tujuan Penelitian
- Bagi Peneliti
Diharapkan dengan penulisan karya ilmiah ini dapat memberikan masukan atau saran serta luasnya pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada ibu pasca operasi caesar untuk indikasi preeklamsia di RSUD Dr. RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan bisa berkembang. Meningkatkan keluasan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan di bidang keperawatan dalam asuhan keperawatan pada ibu pasca operasi caesar untuk indikasi preeklamsia.
Konsep Dasar Preeklampsia
- Definisi
Lapisan luarnya terdiri dari keratin, suatu protein berkeratin, jaringan ini tidak memiliki pembuluh darah dan sel-selnya sangat padat. Anestesi diberikan selama operasi, yang akan menyebabkan pasien tidak dapat bergerak, yang akan menyebabkan masalah intoleransi aktivitas. Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan dan perawatan pasca operasi akan menimbulkan masalah kecemasan pada pasien.
Hal ini akan merangsang pelepasan histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan nyeri (nyeri akut). 26 Penggunaan 3 liter larutan Ringer laktat telah terbukti cukup selama intraoperatif dalam 24 jam pertama setelah operasi, namun jika keluaran urin jauh di bawah 30 ml/jam, pasien harus dinilai ulang paling lambat pada hari kedua. Biasanya pada hari pertama pasca operasi tidak terdengar bunyi usus, pada hari kedua masih lemas, dan baru pada hari ketiga baru aktif kembali.
Pada hari pertama pasca operasi, pasien dapat bangun sebentar dari tempat tidur minimal dua kali sehari dengan bantuan perawat, dan dapat berjalan pada hari kedua. Pasien yang baru melahirkan mungkin akan lebih aman jika diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari keempat atau kelima pasca operasi.
Konsep Dasar Post Partum
Menurut (Indah, 2010), bayi baru lahir mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: .. 33 aktif bergerak, mempunyai kulit kemerahan, menghisap ASI dengan baik dan tidak mempunyai cacat lahir. Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru-paru untuk mengambil oksigen dan beredar ke seluruh tubuh untuk mengantarkan oksigen ke jaringan. Oleh karena itu, upaya untuk mencegah kehilangan panas adalah prioritas utama, dan profesional kesehatan berkomitmen untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir.
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan dalam menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. 37 belum sempurna sehingga mengakibatkan terjadinya “meludah” pada bayi baru lahir dan neonatus, kapasitas lambung masih dibatasi kurang dari 30 cc untuk bayi baru lahir cukup bulan. Pencegahan infeksi merupakan penatalaksanaan awal yang sebaiknya dilakukan pada neonatus karena neonatus sangat rentan terhadap infeksi.
Cara mencegah infeksi pada mata bayi baru lahir adalah dengan merawat mata bayi baru lahir dengan cara mencuci tangan terlebih dahulu, membersihkannya. Setelah menilai kondisi bayi baru lahir dengan cepat dan akurat, bayi dibaringkan tengkurap ibu sambil ditutup handuk.
Konsep Asuhan Keperawatan
Dalam riwayat penyakit keluarga perlu dikaji jenis penyakit keturunan dan penyakit menular lainnya yang pernah diderita keluarga tersebut. Selain itu, riwayat obstetri dan ginekologi ibu yang sebaiknya ditinjau adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan riwayat menstruasi ibu, termasuk menarche. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi citra diri pasien adalah dampak penyakitnya, perubahan akan mempengaruhi citra diri, cita-cita diri, moral.
54 Diagnosa keperawatan yang ditegakkan menurut teori adaptasi Roy diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan menurut 4 mode adaptasi yaitu fisiologi, konsep diri, fungsi peran dan saling ketergantungan, serta dihubungkan dengan rangsangan terkait Hidayati (2014). Intervensi perencanaan adalah kategori perilaku keperawatan di mana tujuan yang berpusat pada klien dan hasil yang diprediksi diidentifikasi dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut. Perencanaan merupakan langkah awal dalam menentukan apa yang harus dilakukan untuk membantu klien memenuhi dan mengatasi masalah keperawatan yang telah ditentukan.
Tahap perencanaan keperawatan adalah menentukan prioritas diagnosis keperawatan, menentukan kriteria evaluasi dan merumuskan intervensi keperawatan (Purba, 2019). Implementasi outcome keperawatan menggunakan tiga komponen outcome keperawatan yaitu Label, Ekspektasi dan Kriteria Outcome. Komponen tindakan yang dilakukan dalam intervensi keperawatan terdiri dari Observasi, Terapi, Edukasi dan Kolaborasi (Tim Pokja DPP Siki PPNI, 2018).
Pendekatan intervensi keperawatan menurut Roy direncanakan dengan tujuan mengubah rangsangan fokal, kontekstual dan residu serta memperluas kemampuan koping klien dalam lingkungan adaptif, sehingga kemampuan adaptif meningkat. . dalam diagnosa keperawatan klien (Hidayati, 2014). Intervensi berikut dapat dilakukan sesuai Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Tim Pokja Siki DPP PPNI, 2018). Tujuan umum : Setelah dilakukan intervensi keperawatan dalam jangka waktu tertentu diharapkan tingkat nyeri dapat menurun. b.. a) Pasien melaporkan nyeri berkurang b) Keluhan nyeri meringis berkurang.
Tujuan umum : Setelah dilakukan intervensi keperawatan dalam jangka waktu tertentu diharapkan eliminasi urin pasien membaik. b.. a) Pasien melaporkan peningkatan sensasi berkemih. Tujuan umum : Setelah dilakukan intervensi keperawatan dalam jangka waktu tertentu diharapkan status menyusui dapat membaik. b.. a) Kelekatan anak pada payudara ibu semakin meningkat. Tujuan umum : Setelah upaya keperawatan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu diharapkan kemampuan berperan dalam keberfungsian keluarga akan meningkat. B.
Metode Penelitian
Pada bayi pasien 2 ditemukan satu diagnosis yaitu risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak memadai. 152 Prosedur invasif (D.0142) Kurangnya pengetahuan tentang pemberian ASI yang benar berhubungan dengan kurangnya paparan informasi (D.0111). Risiko perdarahan berhubungan dengan komplikasi pasca melahirkan (D.0012). Intervensi keperawatan yang disiapkan pada klien 1 dengan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik, prosedur pembedahan yaitu; Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri berkurang, dengan kriteria luaran klien menyatakan nyeri berkurang, klien tampak rileks dan klien dapat melakukannya.
Intervensi yang diberikan pada pasien 2 dengan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik, prosedur pembedahan yaitu: 3 x 24 jam nyeri berkurang dengan kriteria outcome pasien yang menyatakan nyeri berkurang dan pasien sudah relaks sama.
Hasil dan Pembahasan
Hasil
- Diagnosa
- Intervensi
- Pelaksanaan/Implementasi
- Evaluasi
Pasien mengatakan ada nyeri pada bekas luka tusuk SC - Pasien mengatakan takut untuk bergerak karena masih merasakan nyeri O.
Pembahasan
Berdasarkan tabel diatas, masalah keperawatan pasien 1 mulai teratasi, bayi pasien 1 teratasi, dan pasien 2 mulai teratasi. Status obstetri pasien 1 TFU 2 jari dibawah tengah, kontraksi uterus baik, perdarahan 60 cc, lochea rubra. Untuk riwayat KB pasien 1 tidak mempunyai riwayat penggunaan KB, sedangkan pasien 2 mempunyai riwayat penggunaan KB suntik sejak anak pertamanya berumur 1 tahun dan tidak ada keluhan selama penggunaan KB.
Untuk diagnosis klien 1 diperoleh hasil pengkajian dengan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (D.0077), penurunan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri (D.0054), risiko tidak efektifnya perfusi serebral berhubungan dengan faktor risiko (D. .0017), risiko infeksi berhubungan dengan efeknya. Pasien 2 didiagnosis dengan nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik, risiko infeksi berhubungan dengan faktor risiko, konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot, pemberian ASI efektif berhubungan dengan puting menonjol, risiko perdarahan berhubungan dengan komplikasi pasca melahirkan. Dengan menggunakan intervensi keperawatan tertulis yang diuraikan untuk Pasien 1 dan Pasien 2 menurut Standar Hasil dan Standar Intervensi Keperawatan, intervensi nyeri akut yang berhubungan dengan agen penyebab cedera fisik menjadi; Setelah dilaksanakan intervensi keperawatan selama 1 x 6 jam diharapkan tingkat nyeri L.08066 dapat menurun sesuai dengan ukuran outcome; Pasien melaporkan keluhan nyeri berkurang, keluhan nyeri menurun, meringis, pasien menunjukkan penurunan protektif, pasien tidak tampak cemas.
Dalam pelaksanaannya, penerapannya dilakukan pada pasien 1 dan pasien 2, pasien bayi 1 dan pasien 2 sesuai dengan diagnosa yang ada. Pada pasien 1 semua permasalahan teratasi dan intervensi dihentikan, diagnosis pasien 1 teratasi yaitu Untuk diagnosis klien 1 diperoleh hasil pengkajian dengan diagnosis nyeri akut berhubungan dengan zat berbahaya fisik (D .0077), gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri (D.0054), Risiko ketidakefektifan perfusi serebral berhubungan dengan faktor risiko (D.0017), Risiko infeksi berhubungan dengan konsekuensi prosedur invasif (D.0142) Kurangnya pengetahuan tentang cara menyusui yang benar berhubungan dengan kurangnya paparan informasi (D.0111), Resiko perdarahan berhubungan dengan komplikasi pasca melahirkan (D.0012), intervensi dihentikan. Pada pasien 2 didiagnosis nyeri akut berhubungan dengan agen berbahaya fisik, risiko infeksi berhubungan dengan faktor risiko, konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot, menyusui efektif berhubungan dengan puting menonjol, risiko perdarahan berhubungan dengan komplikasi pasca melahirkan dan semua masalah teratasi, intervensi dihentikan.
Berdasarkan hasil studi kasus penggunaan asuhan keperawatan pada pasien pasca operasi caesar dengan indikasi preeklampsia, Ny. M dan Ny. Peneliti mampu menghasilkan rencana untuk Pasien 1 dan Klien 2 dengan menggunakan SLKI dan SIKI. Pada pasien 1 dari 6 diagnosa yang diberikan, 4 masalah terselesaikan, sedangkan pada klien 2 masalah terselesaikan sebagian dari 3 diagnosa yang diberikan.
159 Hasil penelitian yang dilakukan peneliti diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi perawat dan rumah sakit agar dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan pada pasien preeklamsia secara profesional dan komprehensif. Pemakaian kacamata: ya/tidak, pengecapan: berkurang, sensorik: ya/tidak, mati rasa pada anggota badan: ya/tidak, penciuman: berkurang: ya/tidak. Hubungan dengan keluarga: baik/tidak, dukungan suami: ya/tidak, hubungan dengan teman: baik/tidak, hubungan dengan tetangga: baik/tidak.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Penerapan pada klien 1 dan klien 2 sesuai dengan kebutuhan klien preeklampsia pasca operasi caesar. Implementasi untuk Klien 1 dan Klien 2 dilakukan setelah intervensi yang dipersiapkan selama 6 hari.
Saran
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memajukan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan khususnya mengenai pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan kasus preeklampsia secara komprehensif, serta mengikuti perkembangan literatur keperawatan terkini dan menginformasikan kedepannya akan mendorong peneliti untuk menjadi pembanding ketika melakukan penelitian pada klien dengan preeklampsia. Kondisi saat ini mengganggu istirahat dan tidur: ya/tidak Nyeri hilang dengan istirahat dan tidur: ya/tidak. Ikuti saran dan petunjuk ahli kesehatan: ya/tidak Minum tablet zat besi secara teratur: ya/tidak.