• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Kinerja Pemerintah Kota Malang 2010-2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Implementasi Kinerja Pemerintah Kota Malang 2010-2011"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Implementasi Kinerja

Pemerintah Kota Malang 2010-

2011

(2)

Analisis Kinerja Pemerintah

Analisis rasio keuangan pada APBD dilakukan dengan membandingkan hasil yang dicapai dari satu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi. Selain itu dapat pula dilakukan dengan cara membandingkan dengan rasio keuangan daerah lain yang terdekat ataupun yang potensi daerahnya relatif sama untuk dilihat bagaimana posisi rasio keuangan pemerintah tersebut terhadap

pemerintah daerah lainnya.

Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dengan rasio keuangan pada APBD ini adalah:

1. DPRD sebagai wakil dari pemilik daerah (masyarakat).

2. Pihak eksekutif sebagai landasan dalam menyusun APBD berikutnya.

3. Pemerintah pusat/ propinsi sebagai bahan masukan dalam pembinaan pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah.

4. Masyarakat dan kreditur, bersedia memberi pinjaman ataupun membeli obligasi.

(3)

Implementasi Analisis Kinerja Pemerintah

1. Ratio Kemandirian Keuangan Daerah

Rasio kemandirian keuangan daerah menunjukan Kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber yang diperlukan oleh daerah.

Rasio Kemandirian = Pendapatan Asli Daerah × 100 Bantuan pem. pusat / propinsi daerah

(4)

Kemandirian keuangan daerah kota Malang:

Tahun 2010 = 101.519.488.155,00 x 100 =12,56%

808.411.181.053,54

Tahun 2011 = 158.446.783.268,90 x 100 = 16,04%

987.863.621.439,41

Berdasarkan perhitungan rasio kemandirian keuangan diatas bahwa kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan,

pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat pada tahun anggaran 2010-2011 masih cukup rendah jumlah presentase 28,6% kurang dari 50%, yaitu pada tahun 2010 sebesar 12,56%, pada tahun 2011 sebesar 16,04% .Kinerja pengelolaan keuangan kota Malang kurang baik meskipun pada tahun 2011 rasio kemandirian keuangan mengalami kenaikan dari 12,56% menjadi 16,04 %.

(5)

2. Ratio Efektifitas

Ratio Efektifitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan pendapatan asli daerah yang direncanakan dibandingkan dengan target yang telah

ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah

.

Rasio Efektifitas = Realisasi penerimaan PAD X 100 Target penerimaan PAD yang telah ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah

(6)

Rasio efektifitas pemerintah kota Malang:

Tahun 2010 = 69.429.062.441,70 x 100 = 68,39%

101.519.488.155,00

Tahun 2011 = 67.571.686.021,77 x 100 = 42,65%

158.446.783.268,90

Dari perhitungan rasio efektifitas dapat dilihat bahwa

efektifitas pengelolaan keuangan daerah kota Malang kurang baik karena realisasi PAD dibawah 100% yaitu rata-rata dari tahun 2010-2011 sebesar 55,52% .

(7)

3. Ratio Efisien

Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima.

(8)

Rasio efisiensi Kota Malang:

Tahun 2010 = 36.064.868.224,88 x 100 = 51,94%

69.429.062.441,70

Tahun 2011 = 22.935.709.374,88 x 100 = 33,94%

67.571.686.021,77

(9)

3. Ratio Aktifitas

Rasio Aktifitas menggambarkan bagaimana pemerintah

daerah dalam memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin atau pada belanja pembangunan secara optimal. Rasio aktifitas dihitung sebagai berikut:

Rasio belanja rutin terhadap APBD = Total belanja rutin x 100 Total APBD

Rasio belanja pembangunan terhadap APBD = Total belanja pembangunan x 100

Total APBD

(10)

Rasio aktifitas pemerintah kota Malang:

Rasio belanja rutin/ langsung Kota Malang

Tahun 2010 = 337.794.853.961,00 x 100 = 41,78%

808.411.181.053,54

Tahun 2011 = 402.401.123.450,00 x 100 = 40,73%

987.863.621.439,41

b. Rasio Belanja pembangunantidak langsung Kota Malang

Tahun 2010 = 506.681.195.317,42 x 100 = 62,68%

808.411.181.053,54

Tahun 2011 = 608.398.207.364,29 x 100 = 61,59%

987.863.621.439,41

Dari perhitungan rasio aktifitas diatas terlihat bahwa sebagian besar dana dialokasikan untuk belanja pembangunan sehingga rasio pembangunan tehadap APBD sudah cukup tinggi. Ratio belanja pembangunan pada tahun 2010 adalah 62,68% dan rasio belanja belanja rutin

sebesar 41,78%, pada tahun 2011 ratio belanja pembangunan turun menjadi 61,59% dan rasio belanja rutin juga mengalami penurunan menjadi 40,73%.

(11)

4. Ratio Pengelolaan Belanja

Rasio pengelolaan belanja menunjukan bahwa kegiatan belanja yang dilakukan oleh pemerintah daerah memiliki ekuitas antar periode yang positif, yaitu belanja yang dilakukan tidak lebih besar dari total pendapatan yang diterima oleh pemerintah daerah. Rasio ini menunjukan adanya surplus/ defisit

anggaran.

Ratio pengelolaan belanja = Total pendapatan x 100 Total belanja

(12)

• Rasio pengelolaan Belanja Kota Malang:

Tahun 2010 = 808.411.181.053,54 x 100 = 95,73%

844.476.049.278,42

Tahun 2011 = 987.863.621.439,41 X 100 = 97.73%

1.010.799.330.814,29

(13)

5. Rasio Pertumbuhan

Rasio pertumbuhan menunjukan seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan

meningkatkan keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode.

(14)

• Rasio Pertumbuhan Kota Malang:

Rasio pertumbuhan kota Malang =

67.571.686.021,77 - 69.429.062.441,70 X 100 = -2,67%

69.429.062.441,70

(15)

TERIMAKASIH

Referensi

Dokumen terkait

Dan untuk tahun 2010 Rasio Kemandirian Keuangan Daerah sebesar 10,71% yang masih mempunyai arti bahwa kemampuan Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali dalam

Hasil dari analisis rasio keuangan dapat digunakan untuk (Halim, 2002). Menilai kemandirian keuangan daerah dalam membiayai penyelenggaraan otonomi daerah. Mengukur

Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah merupakan suatu pengukuran untuk menggambarkan tingkat kemampuan keuangan pemerintah daerah dalam urusan membiayai sendiri

Kemandirian keuangan daerah menunjukkan tingkat kemampuan suatu daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang

Kemandirian keuangan pemerintah daerah adalah tingkat kemampuan suatu daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat

Tingkat kemandirian keuangan daerah merupakan kemampuan pemerintah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, yang meliputi pembangunan dan pelayanan kepada

Rasio Kemandiran Keuangan Daerah menunjukkan kemampuan daerah dalam mendanai atau membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada

Rasio kemandirian keuangan daerah atau yang sering disebut sebagai otonomi. fiskal menunjukkan daerah dalam membiayai sendiri kegiatan