• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI KEMANDIRIAN DAERAH DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH (STUDI PADA PEMERINTAH KOTA KENDARI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EVALUASI KEMANDIRIAN DAERAH DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH (STUDI PADA PEMERINTAH KOTA KENDARI)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Akuntansi (JAk) 1 EVALUASI KEMANDIRIAN DAERAH DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN

DAERAH (STUDI PADA PEMERINTAH KOTA KENDARI)

Haerani Christian Rimporok Sulvariany Tamburaka

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo Kendari Sulawesi Tenggara

This research aims to determine the level of financial independence to the reception area of the original income of Kendari City by comparing the transfer of funds from the central government. Data was collected by interviews and documentation. The analytical method used is ratio analysis method. Equipment used in the study is the Regional Independence Ratio

The results of this study showed that the ratio of local government Kendari City already does not depend kepaada transfer funds from the province during the period 2012 to 2013. It can be concluded that the independence of the regional government of Kendari in meeting the funding requirements to perform the duties of governance, development, and social service to the community has been very high and even increased year by year, from 111% in 2012 to 112% in 2013. This means that the government's dependence on equalization fund Kendari City center is already very low.

Keywords: Independence Regional, Local Revenue Receipts, and Fund Balance/Funds Transfer

I. PENDAHULUAN

Pelaksanaan otonomi daerah dan reformasi keuangan Negara telah melahirkan banyak peraturan perundangan-undangan yang mempengaruhi perkembangan akuntansi sektor publik. Keseriusan pemerintah Indonesia di wujudkan dengan dihasilkannya UU No.22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah yang kemudian diperbarui dengan UU No. 32 tahun 2004. Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004, pemerintah pusat dan daerah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat. Misi utama dari undang-undang tersebut bukan hanya keinginan untuk melimpahkan kewenangan dan pembiayaan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, tetapi yang lebih penting adalah keinginan untuk meningkatkan tingkat kemandirian dalam pengelolaan sumber keuangan daerah untuk peningkatan kesejahteraan dan pelayanan masyarakat.

Kemandirian daerah dapat dilihat melalui kemampuan keuangan suatu daerah dilihat dari besar kecilnya pendapatan asli daerah (PAD) yang diperoleh daerah yang bersangkutan dalam kaitannya dengan pemberian otonomi daerah yang lebih besar kepada daerah serta membandingkan dengan dana transfer dari pemerintah pusat. PAD selalu dipandang sebagai salah satu indikator atau

(2)

Jurnal Akuntansi (JAk) 2 kriteria untuk mengukur ketergantungan suatu daerah kepada pusat. Pada prinsipnya, semakin besar sumbangan PAD kepada APBD maka akan menunjukkan tingkat kemandirian suatu daerah. Dalam rangka implementasi undang-undang Nomor 32 dan 33 tahun 2004, salah satu faktor yang harus dipersiapkan oleh pemerintah daerah adalah kemampuan keuangan daerah, sedangkan indikator yang dipergunakan untuk mengukur kemampuan keuangan daerah tersebut ialah rasio PAD dibandingkan dengan total penerimaan APBD (Kuncoro, 2005: 8).

Dalam rangka memenuhi pembiayaan pembangunan dan penyelenggaraan daerah, sumber penerimaan dapat diperoleh dari penerimaan daerah sendiri atau dapat pula dari luar daerah. Sumber-sumber pendapatan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah dengan cara meningkatkan pendapatan dari hasil Pajak Daerah, Retribusi Daerah, hasil perusahaan milik daerah dan pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan serta lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. Upaya-upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah ini tidak terlepas dari mekanisme sistem pemerintahan daerah yaitu kerjasama antar Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dengan cara pendekatan terpadu dan tidak menghilangkan identitas, tugas serta fungsi masing-masing (Fajar, 2007).

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah tingkat rasio kemandirian keuangan daerah kota kendari tahun anggaran 2012-2013. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah untuk mengetahui tingkat rasio kemandirian keuangan daerah terhadap penerimaan PAD kota kendari tahun anggaran 2012-2013.

Adapun manfaat yang ingin dicapai penelitian ini, yaitu: Manfaat teoritis (1) Menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang kemandirian suatu pemerintah daerah dengan menggunakan rasio kemandirian. (2)Dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan perbandingan untuk penelitian selanjutnya. Manfaat praktisi (1) Sebagai bahan masukan dan pertimbangan pemerintah kota kendari khususnya instansi terkait dalam peningkatan kemandirian suatu daerah. (2) Memberikan pemahaman kepada pemerintah daerah khususnya instansi terkait kemandirian suatu daerah.

II. TINJAUAN PUSTAKA 1. Otonomi Daerah

Dalam undang-Undang No. 33 Tahun 2004 pasal 1 ayat 5, pengertian otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Daerah otonomi adalah kesatuan masyarakat yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 pasal 1 ayat (8), (9), (10) tentang Pemerintah Daerah, ada 3 dasar sistem hubungan antara pusat dan daerah yaitu:

(3)

Jurnal Akuntansi (JAk) 3 1. Desentralisasi yaitu penyerahan wewenang pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.

3. Tugas perbantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan. 2. Keuangan Pemerintah Daerah

Keuangan merupakan sumber daya bagi perusahaan atau organisasi yang mempunyasi sifat terbuka. Karena terbatasnya, maka dalam mengelola keuangan perlu rencana dan sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber daya terkait. Sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan filosofi dari sebuah sistem yang diterapkan dalam pengelolaan keuangan sebuah organisasi adalah bahwa pencatatan atau rekening dapat menunjukan perbandingan antara jumlah yang dianggarkan dengan jumlah pengeluaran yang sesungguhnya secara sistematis dan terus menerus. didalam perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah diatur tentang sumber-sumber penerimaan daerah yang terdiri dari:

1. Pendapatan asli daerah (PAD) yang terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil BUMD dan pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisahkan serta lain-lain pendapatan daerah yang sah.

2. Dana perimbangan yang terdiri dari bagi hasil SDA dan non SDA, Dana alokasi umum (DAU), Dana alokasi khusus (DAK)

3. Pinjaman daerah

4. Lain-lain penerimaan yang sah

Pendapatan tersebut diatas terbukti dengan keluarnya Undang-undang Nomor 32 tahun 2005 tentang pemerintahan daerah yang mencantumkan pendapatan asli daerah berupa :

a. Pendapatan Asli Daerah : - Hasil pajak daerah

- Hasil retribusi daerah

- Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan

- Lain-lain hasil usaha yang sah b. Dana Perimbangan

c. Pinjaman Daerah

d. Lain-lain pendapatan daerah yang sah 3. Anggaran

Anggaran menurut The National Committee on Govermental Accounting (NCGA) adalah “a budget is plan of financial embodying an estimated of proposed expenditures for a given period of time and the proposal means of financing them“. Jadi, anggaran adalah rencana kegiatan yang diwujudkan dalam bentuk financial, meliputi usulan pengeluaran yang diperkirakan untuk suatu periode waktu, serta usulan cara-cara memenuhi pengeluaran tersebut. (Sugijanto,dkk, 1999:22)

(4)

Jurnal Akuntansi (JAk) 4 Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 “Anggaran merupakan pedoman tindakan yang akan dilaksanakan pemerintah meliputi rencana pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan yang diukur dalam satuan rupiah, yang disusun menurut klasifikasi tertentu secara sistematis untuk satu periode”.

Anggaran pemerintah merupakan dokumen format hasil kesepakatan antara eksekutif dan legislatif tentang belanja yang ditetapkan untuk melaksanakan kegiatan pemerintah dan mendapatkan yang diharapkan untuk menutup keperluan belanja tersebut atau pembiayaan yang diperlukan bila diperkirakan akan terjadi defisit atau suplus. Dengan demikian, anggaran mengkondisikan belanja pemerintah dan memberi landasan bagi upaya perolehan pendapatan dan pembiayaan oleh pemerintah untuk satu masa tertentu.Masa anggaran biasanya mencakup masa tahunan.Namun, tidak tertutup kemungkinan disisipkan anggaran untuk masa lebih atau kurang dari satu tahunan.

Fungsi anggaran dilingkungan pemerintah mempunyai pengaruh penting dalam akuntansi dan pelaporan keuangan antara lain karena:

a) Anggaran merupakan pernyataan kebijakan publik;

b) Anggaran merupakan target fiskal yang menggambarkan keseimbangan antara belanja, pendapatan dan pembiayaan yang diinginkan;

c) Anggaran menjadi landasan pengendalian yang memiliki konsekuensi hukum;

d) Anggaran memberi landasan penelitian kinerja pemerintah;

e) Hasil pelaksanaan anggaran harus dituangkan dalam laporan keuangan pemerintah sebagai pernyataan pertanggungjawaban pemerintah kepada publik.

4. Rasio Kemandirian

Halim (2001:128) mengemukakan bahwa kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal) menunjukan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan, dan pelayanan publik kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah. Kemandirian keuangan daerah dapat ditinjau oleh besar kecilnya pendapatan asli daerah dibanding dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber yang lain, misalnya bantuan pemerintah pusat maupun propinsi dengan pinjaman. Rasio kemandirian keuangan daerah dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

(Halim : 2001)

Ada empat macam pola yang memperkenalkan “hubungan situsional” yang dapat digunakan dalam pelaksanaan otonomi daerah, terutama pelaksanaan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang “Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah” (Halim, 2002: 168-169), antara lain :

a. Pola hubungan intruktif, peranan pemerintah pusat lebih dominan daripada kemandirian daerah. (daerah yang tidak mampu melaksanakan otonomi daerah)

(5)

Jurnal Akuntansi (JAk) 5 b. Pola hubungan konsultatif, campur tangan pemerintah pusat sudah mulai berkurang, karena daerah dianggap sedikit lebih mampu melaksanakan otonomi.

c. Pola hubungan partisipatif, peranan pemerintah pusat semakin berkurang mengingat daerah yang bersangkutan tingkat kemandiriannya mendekati mampu melaksanakan urusan otonomi daerah.

d. Pola hubungan delegatif, campur tangan pemerintah pusat sudah tidak ada karena telah benar-benar mampu mandiri dalam melaksanakan urusan otonomi daerah.

Bertolak dari teori tersebut, adanya potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berbeda, akan terjadi pula perbedaan pola hubungan dan tingkat kemandirian suatu daerah. Sebagian pedoman dalam melihat pola hubungan daerah dengan kemampuan daerah (dari sisi keuangan) dapat dikemukakan tabel sebagai berikut :

Tabel 1 Pola Hubungan dan Tingkat Kemampuan Daerah Kemampaun Keuangan Kemandirian Pola Hubungan Rendah Sekali Rendah Sedang Tinggi 0%-25% 25%-50% 50%-75% 75%-100% Instruktif Konsultatif Partisipatif Delegatif 5. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan oleh I Dewa Gde Bisma 2010 dengan judul “Evaluasi kinerja keuangan daerah Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat Tahun Anggaran 2003–2007”. Kesimpulan dalam penelitian terdahulu adalah Berdasarkan analisis kinerja keuangan daerah, secara umum Propinsi NTB pada Tahun Anggaran 2003-2007 menggambarkan kinerja yang tidak optimal dalam pelaksanaan otonomi daerah, hal ini ditunjukkan oleh indikator kinerja keuangan yang antara lain; Ketergantungan Keuangan Daerah Sangat Tinggi terhadap Pemerintah Pusat sehingga tingkat Kemandirian Daerah Sangat Kurang.

Penelitian yang dilakukan oleh Ratna Sholikhah 2011 dengan judul “Analisis Kemampuan Kemandirian Keuangan Daerah dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Wonogiri Tahun Anggaran 2000-2009”. Kesimpulan dalam penelitian terdahulu adalah Berdasarkan rasio kemampuan keuangan daerah yang ditunjukkan rasio kemandirian daerah yang ditunjukkan darti kemampuan Pemerintah Kabupaten Wonogiri dalam memenuhi kebutuhan dana untuk penyelenggaraan tugas-tugas Pemerintahan, Pembangunan, dan Pelayanan Sosial masyarakat masih relatif rendah meskipun dari tahun ke tahun terus meningkat.

6. Kerangka Paradigma Penelitian

Halim (2001 : 127) analisis keuangan adalah suatu usaha mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan yang tersedia.Analisis rasio keuangan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dilakukan dengan membandingkan hasil yang telah dicapai pada tahun yang bersangkutan sehingga dapat diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi. Selain itu,

(6)

Jurnal Akuntansi (JAk) 6 dapat pula dilakukan dengancara membandingkan rasio keuangan yang dimiliki suatu pemerintah daerah tertentu dengan rasio keuangan daerah lain yang terdekat ataupun potensi daerahnya relatif sama untuk dilihat posisi rasio keuangan pemerintah daerah tersebut terhadap pemerintah daerah lainnya. Beberapa rasio yang dapat dikembangkan berdasarkan data keuangan yang bersumber dari APBD antara lain rasio kemandirian.

Untuk mengetahui hal tersebut maka dalam penelitian ini penulis menggunakan alat analisis deskriptif. Untuk lebih jelasnya maka dapat dilihat pada skema berikut :

Skema 1. Kerangka Paradigma Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN

Objek penelitian ini adalah Kemandirian Daerah yang diukur dengan rasio kemandirian keuangan daerah Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara lokasi di komplek bumi praja anduonohu kecamatan poasia.. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif, sumber datanya adalah data sekunder.

Metode yang digunakan pengumpulan data yaitu interview dan dokumentasi, serta metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Peralatan analisis yang digunakan adalah analisis rasio keuangan terhadap APBD yaitu dengan rumus sebagai berikut :

Untuk memperjelas arah penelitian ini, penulis memberikan definisi operasional sebagai berikut : (1) Kemandirian daerah adalah suatu sikap dan keadaan daerah dengan mengandalkan potensi yang dimiliki suatu daerah serta

PEMERINTAH DAERAH

1. Pajak Daerah 2. Retribusi Daerah 3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan 4. Lain-lain PAD yang

sah

Dana Transfer

1. Dana Bagi Hasil Pajak

2. Dana Bagi Hasil SDA 3. Dana Alokasi Umum 4. Dana Alokasi Khusus

(7)

Jurnal Akuntansi (JAk) 7 kemampuan mengendalikan lingkungan eksternal dan otonom dalam mengambil keputusan dan tindakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi. (2) Pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. (3) PAD adalah pendapatan yang bersumber dari jenis penerimaan asli daerah, yang terdiri dari pajak daerah, pajak, permodalan daerah, dinas daerah, lain-lain pendapatan daerah (5 Jenis). (4) Dana perimbangan (dana transfer) merupakan dana yang bersumber dari penerimaan anggaran pendapatan belanja Negara (APBN) dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah. (6) Anggaran adalah pedoman yang dilaksanakan pemerintah meliputi rencana pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan yang diukur dalam satuan rupiah, yang disusun menurut klasifikasi tertentu secara sistematis untuk satu periode; (7) Laporan perhitungan APBD tahun anggaran 2012-2013 adalah laporan berupa perhitungan atau pelaksanaan dari semua yang telah dianggarkan dalam tahun anggaran berkenaan baik pendapatan, belanja dan biaya. (8) Rasio kemandirian keuangan daerah adalah kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian

Untuk mengetahui kemampuan Pemerintah Kota Kendari dalam membiayai kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan sosial kepada masyarakat, dapat diketahu dengan meggunakan analisis rasio keuangan berpa Rasio Kemandirian.Analisis rasio kemandirian yaitu rasio yang digunakan untuk mebandingkan pendapatan asli daerah dengan bantuan pemerintah pusat berupa dana perimbangan seperti : Dana Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus serta Dana Penyusuaian.Sedangkan pendapatan dari pemerintah provinsi yaitu : Dana Bagi Hasil Pajak dari provinsi,dan Bantan Keuangan dari Provinsi.Untuk mengetahui lebih jelas, mengenai keadaan rasio keuangan berupa rasio kemandirian Pemerintah Kota Kendari Tahun Anggaran 2012 dan Anggaran 2013 dapat dlihat pada table sebagai berikut :

Tabel 2 Ringkasan Laporan Realisasi Anggaran Kota Kendari Tahun Anggaran 2012-2013

Nomor Uraian Realisasi 2012 Realisasi 2013

1 Pendapatan 745.296.446.455.44 916.010.599.607.80 1.1 Pendapatan Asli Daerah 70.857.916.205.44 94.863.574.284.80 1.1.1 Pendapatan Pajak Daerah 36.563.070.410.00 45.570.995.637.00 1.1.2 Pendapatan Retribusi Daerah 36.563.070.148.00 35.878.632.755.34 1.1.3 Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 2.508.479.673.00 2.264.077.845.00

(8)

Jurnal Akuntansi (JAk) 8 1.1.4

Lain-lain pendapatan

asli daerah yag sah 6.552.368.777.44 11.149.868.047.46

1.2 Pendapatan Transfer 667.130.181.690.00 817.751.030.440.00 1.2.1 Transfer Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan 662.952.415.359.00 651,100.975.648.00 1.2.1.1

Dana Bagi Hasil

Pajak 33.656.234.707.00 30.426.620.625.00

1.2.1.2

Dana Bagi Hasil

BukanPajak 8.284.356.652.00 10.722.104.023.00

1.2.1.3 Dana Alokasi Umum 478.763.604.000.00 555.693.881.000.00

1.2.1.4 Dana Alokasi Khusus 42.248.220.000.00 54.258.370.000.00

1.2.2 Transfer Pemerintah Pusat-Lainnya 1.949.779.000.00 94.748.137.000.00 1.2.2.2 Dana Penyesuaian 71.949.779.000.00 94.748.137.000.00 1.2.3 Transfer Pemerintah Provinsi 32.227.987.331.00 71.901.917.792.00 1.2.3.1 Pendapatan Bagi Hasil Pajak 31.427.336.452.00 71.327.791.751.00 1.2.3.2 Pendapatan Bagi Hasil Retribusi 800.650.879.00 574.126.041.00 1.3 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH 7.308.348.560.00 3.395.994.883.00 1.3.1 Pendapatan Hibah 5.710.436.000.00 1.242.144.000.00 1.3.2 Pendapatan lainnya 1.597.912.360.00 2.153.850.883.00 Jumlah 715.044.891.360.00 849.332.245.959.00 2.1 Belanja Operasi 603.526.713.337.00 652.372.171.376.46 2.1.1 Belanja Pegawai 471.427.571.415.00 512.828.182.021.15 2.1.2 Belanja Barang 104.899.811.423.00 136.660.716.404.31 2.1.3 Belanja Bunga 71.711.160.00 52.431.439.00 2.1.5 Belanja Hibah 32.070.069.379.00 2.337.341.512.00 2.1.6 Belanja Bantuan Sosial 5.057.550.000.00 493.500.000.00 2.2 Belanja Modal 111.198.677.817.00 196.885.074.583 2.2.1 Belanja Tanah 6.819.571.000.00 12.815.075.450.00 2.2.2 Belanja Peralatan dan Mesin 16.292634.117.00 26.464.831.357.00 2.2.3

Belanja Gedung dan

Bangunan 53.998.386.403.00 90.125.444.437.34

2.2.4

Belanja Jalan, Irigasi

dan Jaringa 32.223.028.297.00 64.201.928.954.00

2.2.5

Belanja Aset tetap

Lainnya 1.865.058.000.00 3.277.794.385.00 2.3 Belanja Tak Terduga 319.500.000.00 75.000.000.00 2.3.1 BelanjaTak Terduga 319.500.000.00 75.000.000.00 Surplus /(Defisit) 30.251.555.261.44 66.678.353.648.00

(9)

Jurnal Akuntansi (JAk) 9 3 Pembiayaan Daerah 28.811.683.402.60 44.226.331.903.04 3.1.1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SiLPA) 20.144.708.402.60 34.768.128.903.04 3.1.5 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah 8.666.975.000.00 9.458.203.000.00 3.2 Pengeluaran Pembiayaan daerah 24.295.109.761.00 13.914.280.719.00 3.2.2 Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah 15.524.029.040.00 4.367.200.000.00 3.2.4 Pembayaran Pokok Utang 160.080.721.00 160.080.719.00 3.2.5 Pemberian Pinjaman Daerah 8.611.000.000.00 9.387.000.000.00 Pembiayaan Netto 4.561.573.641.00 30.312.051.184 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Berkenaan (SiLPA) 34.768.128.903.04 96.990.404.832.04

Sumber: Laporan Realisasi Anggaran Tahun Anggaran 2012-2013 2. Pembahasan Hasil Penelitian

Rasio Kemandirian Daerah

Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal) menunjukkan kemampuan pemerintah daerah membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah. Rasio kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber data ekstern.

1. Rasio Kemandirian Tahun Anggaran 2012

Pendapatan Asli Daerah

Rasio Kemandirian = 100%

Bantuan Pemerintah Provinsi Atau Pusat + Pinjaman

745.296.446.455,44

= x 100% 667.130.181.690,00 + 0

= 111%

2. Rasio Kemandirian Tahun Anggaran 2013

Pendapatan Asli Daerah

Rasio Kemandirian = x100%

(10)

Jurnal Akuntansi (JAk) 10 916.010.599.607.80

= x 100% 817.751.030.440.00 + 0

= 112%

Tabel 3 Rasio Keuangan Daerah Kota Kendari Tahun Anggaran 2012-2013

Uraian 2012 2013 Keterangan

Rasio Kemandirian Daerah

111% 112% Kemandirian daerah dalam mencukupi kebutuhan pembiayaan untuk melakukan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat sudah sangat tinggi

Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa rasio kemandirian keuangan daerah Kota Kendari Tahun Anggaran 2012-2013 sudah sangat tinggi dalam mencukupi kebutuhan pembiayaan untuk melakukan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat. Terlihat dari Pendapatan Asli Daerah yang mengalami peningkatan dari tahun 2012 ke tahun 2013. Oleh karena itu, perlu adanya usaha untuk tidak tergantung terhadap bantuan pihak ekstern (terutama pemerintahan pusat dan provinsi), baik melalui pengoptimalan sumber pendapatan asli daerah khusunya pada pendapatan lain-lain PAD yang sah sehingga mengalami peningkatan di tahun anggaran 2012-2013

Berdasarkan hasil analisis rasio menunjukkan bahwa pemerintah daerah Kota Kendari sudah tidak bergantung kepaada dana transfer dari provinsi selama kurun waktu 2012 sampai 2013. Hasil penelitian ini belum sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh I Dewa Gde Bisma (2010) dan Ratna Sholikhah 2011, dari penelitian yang mereka lakukan menunjukkan bahwa tingkat kemandrian yang terdapat di wilayah masing-masing masih tergolong rendah.

Menurut Halim (2002) rasio kemandirian dengan tingkat kempuan keuangan daerah tinggi maka campur tangan pemerintah pusat sudah tidak ada karena daerah telah benar-benar mampu melaksanakan otonomi (pola hubungan delegatif). Selanjutnya Halim mengungkapkan bahwa Kemandirian Keuangan Daerah (otonomi fiskal) menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah.”

Salah satu alasan yang bisa mendukung dari hasil penelitian ini adalah tingginya realisasi pendapatan asli daerah di tahun 2012 yakni Rp 745 miliar kemudian mengalami peningkatan yang cukup besar di tahun 2013 menjadi Rp. 916 miliar. Sedangkan jumlah bantuan pemerintah pusat dan provinsi relative lebih kecil yakni Rp. 667 miliar di tahun 2012 dan mencapai Rp. 817 miliar di tahun 2013. Uraian tersebut menerangkan bahwa kota kendari sudah memiliki kemampuan dalam membiayai kegiatannya dan tidak memiliki ketergantungan yang besar terhadap dana bantuan pusat maupun provinsi.

(11)

Jurnal Akuntansi (JAk) 11 V. KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa Kemandirian Pemerintah Daerah Kota Kendari dalam memenuhi kebutuhan dana untuk penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan sosial kepada masyarakat sudah sangat tinggi dan bahkan mengalami peningkatan tahun ke tahun, yaitu dari 111% pada tahun 2012 menjadi 112% pada tahun 2013. Artinya ketergantungan pemerintah kota kendari terhadap dana perimbangan pusat sudah sangat rendah.

Adapun secara dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Pemerintah Daerah Kota Kendari dapat menggunakan analisis rasio keuangan untuk melakukan penilaian dan evaluasi kinerja untuk kepentingan manajemen birokrasi pemerintah serta untuk menambah kualitas sistem informasi keuangan daerah. (2) Pemerintah Daerah Kota Kendari diharapkan dapat meningkatkan kemampuan semua pihak yang terlibat dalam penyusunan laporan keuangan, baik itu dengan memberikan bimbingan teknis dan pelatihan mengenai pengelolaan keuangan daerah. Dengan begitu diharapkan penyusunan laporan keuangan dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu sehingga memudahkan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk tahun anggaran berikutnya serta dapat menjadi informasi yang relevan bagi pihak yang membutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adriansyah, 2003. “Perimbangan Keuang an Pusat dan Daerah dalam Kerangka Pelaksanaan Otda”.

Darise, Nurlan. 2006. Pengelolaan Keuangan Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah. Gorontalo : PT. INDEKS.

Halim, Abdul 2004, Manajemen Keuangan Daerah.Yogyakarta: UPPAMPYKPN Halim, Abdul 2013, Akuntansi keuangan Daerah Berbasis Akrual. Jakarta

Selatan: Salemba Empat

--- 2001. Akuntansi Sektor Publik Keuangan Daerah.Jakarta : PT. Salemba empat

Kristiadi. 1991. Keuangan Daerah Otonomi di Indonesia. Yogyakarta : BPFE-UGM

Mardiasmo.2008. Perpajakan, Jakarta :LPFE-UI

--- 2002. Otonomi Daerah Sebagai Upaya Memperkokoh Basi Perekonomian Daerah.

http://www.ekonomirakyat.org/edisi4/artikel3.htm

--- 2002. Akuntansi Sektor Publik.Yogyakarta : Andi

Mahsun, Mohammad.2006. Pengukuran Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta : BPFE.

Peraturan Pemerintah Nomor 24. Tahun 2005.Standar Akuntansi Pemerintah. Jakarta : Pustaka Pergaulan.

Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

Siagian,P.Malayu. Pajak Daerah Sebagai Sumber Pendapatan Asli Daerah. Jakarta : Eresco.

(12)

Jurnal Akuntansi (JAk) 12 Syamsi, Ibnu S. 1999. Dasar-dasar Kebijakan Keuangan Daerah.Jakarta:

UI-Press.

Suprapto, Tri. 2006. Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman Tahun 2000-2004. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Skripsi tidak dipublikasikan.

Sholikhah, Ratna. 2011. Analisis Kemampuan Kemandirian Keuangan Daerah dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Wonogiri Tahun Anggaran 2000-2009. Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta, Solo

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.Bandung : Penerbit Fokusmedia.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.Bandung : Penerbit Fokusmedia.

Widarta. I. 2001. Cara Mudah Memahami Otonomi Daerah .Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama.

http://www.ekonomirakyat.org/edisi4/artikel3.htm

Gambar

Tabel 1 Pola Hubungan dan Tingkat Kemampuan Daerah
Tabel  2  Ringkasan  Laporan  Realisasi  Anggaran  Kota  Kendari  Tahun  Anggaran 2012-2013

Referensi

Dokumen terkait

Hasil analisis rasio derajat desentralisasi fiskal, rasio indeks kemampuan rutin (IKR), rasio ketergantungan keuangan daerah menunjukkan bahwa tingkat kemandirian Pemerintah

Hasil analisis rasio derajat desentralisasi fiskal, rasio indeks kemampuan rutin (IKR), rasio ketergantungan keuangan daerah menunjukkan bahwa tingkat kemandirian Pemerintah

Hasil analisis rasio derajat desentralisasi fiskal, rasio indeks kemampuan rutin (IKR), rasio ketergantungan keuangan daerah menunjukkan bahwa tingkat kemandirian Pemerintah

Kemandirian keuangan daerah menunjukkan tingkat kemampuan suatu daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang

Rasio kemandirian menggambarkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat serta menunjukan

Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah merupakan suatu pengukuran untuk menggambarkan tingkat kemampuan keuangan pemerintah daerah dalam urusan membiayai sendiri

Kemandirian keuangan daerah menunjukkan tingkat kemampuan suatu daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang

Tingkat kemandirian keuangan daerah adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan keuangan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan