• Tidak ada hasil yang ditemukan

Industri farmasi dan kosmetik juga merasakan implikasi pasar global tersebut

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Industri farmasi dan kosmetik juga merasakan implikasi pasar global tersebut"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kondisi pasar global memberikan implikasi yang cukup besar terhadap kinerja industri domestik. Pasar global berimplikasi terjadinya persaingan ketat antara produk-produk hasil industri lokal dengan produk-produk impor. Pasar global juga memberikan implikasi terhadap transfer teknologi, kelestarian lingkungan, dan sosio-politik masyarakat. Industri farmasi dan kosmetik juga merasakan implikasi pasar global tersebut.

Industri farmasi dan kosmetik yang berbasis riset, memerlukan inovasi secara berkelanjutan. Promosi dengan biaya yang cukup tinggi, pengelolaan mekanisme pemasaran yang lebih baik diperlukan untuk mempertahankan pangsa pasar masing – masing industri farmasi dan kosmetik. Ketetapan dan peraturan pemerintah juga harus dipatuhi oleh industri farmasi dan kosmetik agar tetap bisa beroperasi.

Menurut Sarnianto (2001), selama 30 tahun terakhir, industri farmasi di Indonesia tidak mengalami banyak perkembangan. Pangsa pasar industri farmasi di Indonesia pada tahun 2002 mencapai 15 triliun rupiah. Pangsa pasar tersebut kurang dari 1 % terhadap pangsa pasar farmasi dunia. Pangsa pasar yang rendah tersebut karena para pelaku lokal, komposisi pasar, perkembangan teknologi, dan riset di bidang industri obat-obatan dan kosmetik masih kurang berkembang. Hal tersebut mengakibatkan dunia farmasi Indonesia masih belum mendapatkan perhatian yang besar dari perusahaan-perusahaan multinasional.

(2)

Menurut Sudarmadi (2001), pangsa pasar industri farmasi diduga akan tumbuh sekitar 20 % pada tahun 2003 – 2004 walaupun daya beli konsumen mengalami penurunan. Pangsa pasar produk - produk farmasi dikuasai oleh 198 buah pabrik (4 buah pabrik farmasi milik BUMN, 31 buah pabrik milik PMA, dan 163 buah milik PMDN). Pabrik farmasi yang menguasai lebih dari 80 % total pasar sekitar 60 buah, sedangkan sebanyak 20 % dari total pasar diperebutkan oleh sisa pabrik farmasi yang ada. Data tersebut menunjukkan ketatnya persaingan industri farmasi dan kosmetik di Indonesia. Pertumbuhan distribusi produk- produk farmasi yang mencapai 15 % per tahun merupakan hal yang juga perlu diperhatikan oleh industri farmasi dan kosmetik lokal. Faktor distribusi juga merupakan salah satu fokus di dalam persaingan antara produk-produk farmasi lokal dengan produk-produk farmasi impor. Beberapa industri farmasi terbesar di Indonesia disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Perusahaan Produsen dan Distributor Produk-Produk Farmasi Indonesia

Sumber: Sudarmadi (2001)

Menurut Sudarmadi (2001), industri farmasi domestik termasuk sebagai salah satu industri yang keberadaannya akan terancam jatuh dalam persaingan

No. Preusan Pangsa Pasar (%)

1. Kalbe Farma 6,6

2. Sanbe Farma 5,8

3. Tempo Scan Pacific 4,7

4. Dexa Medica 3,5

5. Kimia Farma 3,5

6. Bintang Toedjoe 3,5 7. Aventis Pharma 2,8

8. Konimex 2,4

9. Roche 2,3

10. Indo Farma 2,2

Lain-Lain 62,7

(3)

global dengan dibukanya pasar AFTA tahun 2003. Industri domestik terancam jatuh apabila posisinya tidak diperkokoh dengan berbagai karakteristik produk yang ditetapkan berdasarkan perundang-undangan maupun regulasi hukum lain yang berlaku. Karakteristik produk dan persyaratannya adalah farmakope, implementasi c-GMP (current - Goods Manufacturing Practice), ketentuan dari Pharmaceutical Inspection Cooperation Scheme (tahun 2005) maupun penelitian lebih lanjut dalam bentuk BABE Studies (bioavailabity – bioequivalence). Setiap produk farmasi yang beredar di pasar Asia Tenggara maupun dunia harus memenuhi karakteristik dan persyaratan tersebut.

Tabel 2. Penjualan Industri Farmasi Over the Counter (OTC) di Asia Pasifik Tahun 2000

Sumber: Sudarmadi (2002)

Pangsa pasar industri farmasi domestik masih rendah dibandingkan dengan pangsa pasar industri farmasi di negara-negara penghasil produk-produk farmasi dan kosmetika lain di dunia. Pangsa pasar yang masih rendah tersebut merupakan peluang yang sangat potensial bagi industri farmasi nasional, tetapi kinerjanya sangat dipengaruhi adanya perdagangan bebas. Oleh karena itu para pelaku bisnis farmasi domestik harus mampu bersaing dengan industri - industri Negara Pertumbuhan Pasar (%) Pangsa Pasar Dunia (%)

Jepang 6 7,76

Korea 3 1,33

RR Cina 14 1,13

Australia 10 0,73

India 6 0,58

Taiwan 1 0,41

Indonesia 32 0,33

Thailand 6 0,25

Filipina 7 0,23

Malaysia 7 0,15

(4)

farmasi dari negara-negara di kawasan Asia Pasifik, seperti Jepang, Korea, Cina, Australia, India, Taiwan, Filipina dan Malaysia. Pertumbuhan pasar dan pangsa pasar masing – masing negara terhadap pangsa pasar dunia disajikan pada tabel 2.

AFTA bukanlah sebuah ancaman bagi keberadaan industri farmasi di Indonesia, melainkan merupakan sebuah peluang yang harus dimanfaatkan dengan baik. Mutu produk farmasi lokal yang prima dan harga yang terjangkau dibandingkan dengan produk-produk farmasi impor yang nilainya sangat tinggi akan mampu meningkatkan kinerjanya.

PT. Yupharin Pharmaceutical sebagai salah satu perusahaan farmasi dan kosmetik nasional, saat ini telah menerapkan berbagai sistem yaitu CPOB (cara pembuatan obat yang baik, terjemahan dari c-GMP), CPKB (cara pembuatan kosmetika yang baik) dan ISO 9001-2000. Perusahaan tersebut decara langsung maupun tidak langsung telah memiliki potensi untuk menghadapi kompetisi antar industri farmasi, baik pada level lokal maupun internasional di pasar global.

Visi perusahaan adalah menjadi perusahaan yang terkemuka, inovatif dan berstandar internasional sehingga dapat berdiri kokoh di pasar lokal, regional maupun internasional dalam memberikan pelayanan dan produk yang bermutu kepada masyarakat. Sedangkan misi perusahaan adalah Bertekad teguh untuk mengembangkan prinsip – prinsip pengelolaan usaha yang sehat dengan cara mengembangkan, menghasilkan dan memasarkan produk serta jasa yang bermutu sehingga dapat memberikan hasil yang terbaik bagi stake holder.

Perusahaan didalam perkembangannya perlu melakukan berbagai perencanaan untuk mendukung perkembangan bisnisnya di masa depan. Akan tetapi perusahaan saat ini telah memiliki beberapa produk yang dipasarkan secara

(5)

lokal, dengan pangsa pasar dan umur produk yang berbeda-beda. Keunggulan kompetitif untuk mencapainya diperlukan kinerja produksi yang lebih fokus, dan efisien terutama dalam segi biaya – biaya produksinya.

Peningkatan efektifitas dan efisiensi unit bisnis produksi sabun, dengan pola permintaan yang berfluktuasi, yang harus diperhatikan pertama kali adalah bagaimana unit bisnis dalam hal manajemen permintaannya (demand management). Manajemen permintaan didefinisikan sebagai suatu fungsi pengelolaan dari semua permintaan produk untuk menjamin penyusunan jadwal induk produksi.

Manajemen permintaan akan menjaring informasi yang berkaitan dengan peramalan (forecasting), order entry, order promising, dll. Aktivitas peramalan merupakan suatu fungsi bisnis yang berusaha memperkirakan penjualan yang sekaligus target produksi dan penggunaan produk sehingga produk – produk itu dapat dibuat dalam kuantitas yang tepat. Peramalan merupakan suatu dugaan terhadap permintaan yang akan datang berdasarkan pada beberapa variabel peramalan, sering berdasarkan data deret waktu historis.

Efektifitas dan efisiensi dari sistem manufakturing sangat tergantung pada efektifitas dan efisiensi dari production planning and inventory control, yang pada dasarnya sangat tergantung pada efektifitas dari manajemen permintaan. Sistem manufacturing harus mampu memenuhi kebutuhan permintaan melalui penggunaan sumber daya manufacturing secara efektif dan efisien. Sasaran ini dapat dicapai apabila ada keseimbangan operasional antara sisi permintaan (marketplace) yang dikelola melalui manajemen permintaan (demand

(6)

management) dan sisi penawaran (manufacturing) yang secara operasional dikelola melalui production planning and inventory control.

Sasaran peningkatan efektifitas dan efisiensi melalui inventory control adalah pengurangan biaya dan meningkatkan arus perputaran modal (Capital Turnover Ratio). Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan minimum inventory. Minimum inventory dapat dikelola dengan memperhatikan perencanaan material (material requirements planning = MRP) yang merupakan metode penjadwalan untuk purchased planned orders dan manufactured planned order.

Planned manufacturing orders selanjutnya diajukan untuk analisis lanjutan berkenaan dengan ketersediaan kapasitas.

Menurut Gaspers (1998), motto dari MRP adalah memperoleh material yang tepat, untuk penempatan yang tepat, pada waktu yang tepat. Berdasarkan jadwal induk produksi yang diturunkan dari rencana produksi, suatu sistem MRP mengidentifikasi ítems apa yang harus dipesan, berapa banyak kuantiítas ítems yang harus dipesan, dan bila mana waktu memesan items itu, sehingga akan mengurangi stock on hand di masa mendatang.

Efektifitas dan efisiensi proses produksi ditentukan oleh unjuk kerja aktual dari pusat kerja relatif terhadap standar yang ditetapkan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran kapasitas pusat kerja. Pengukuran kapasitas kerja ini bisa dipakai dengan metode time motion study. Hasil dari pengukuran kapasitas pusat kerja ini dipakai sebagai bahan agregate planning dalam horison waktu tertentu, misalnya 1 tahun, untuk minimisasi biaya produksi (peningkatan efisiensi dalam penggunaan sumber daya), untuk memenuhi permintaan pasar yang berfluktuasi.

(7)

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan manajemen sistem mutu yang telah diimplementasikan di PT Yupharin Pharmaceutical, salah satu fokusnya selalu berorientasi terhadap kepuasan pelanggan. Perusahaan dalam pelayanannya untuk memberikan kepuasan pelanggan, salah satunya kebijakannya adalah selalu menyediakan produk sabun yang dibutuhkan, walaupun kebutuhan tersebut dalam horison waktu tertentu selalu berfluktuasi. Fluktuasi permintaan pasar tersebut sangat mempengaruhi pengelolaan pada unit produksi. Sehingga saat ini manajemen PT.

Yupharin Pharmaceutical dihadapkan pada masalah – masalah sebagai berikut : 1. Rata – rata persedian bahan baku, bahan pengemas dan produk jadi sangat

tinggi, sehingga PT. Yupharin Pharmaceutical harus meyediakan dana yang cukup besar terhadap barang – barang tersebut di atas, termasuk biaya bunga bila dana yang dipakai dari pinjaman.

2. Saat permintaan / target produksi bulanan meningkat, karyawan harus dimasukkan lembur, dilain pihak saat target produksi rendah karyawan menganggur / menunggu pekerjaan.

3. Saat ada peningkatan permintaan yang cukup signifikan, permintaan tidak terpenuhi seluruhnya karena persediaan produk jadi tidak cukup, beberapa bahan baku atau bahan pengemas yang kurang.

1.3. Perumusan Masalah

Penelitian difokuskan pada hal-hal yang berhubungan dan mempengaruhi dalam proses unit bisnis produksi sabun PT. Yupharin Pharmaceutical, yang meliputi beberapa hal berikut ini.

(8)

1. Sejauh mana Unit Bisnis Produksi Sabun PT. Yupharin Pharmaceutical untuk memenuhi kebutuhan pasar yang berfluktuasi, dalam pengelolaan bahan baku yang merupakan penggerak utama biaya produksi serta pengelolaan terdadap sediaan barang jadi.

2. Apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam proses produksi sehingga dapat ditemukan cost saving pada unit bisnis produksi sabun?

3. Bagaimana strategi pengembangan sistem unit bisnis produksi sabun PT.

Yupharin Pharmaceuticals, untuk bisa memenuhi kebutuhan pasar yang berfluktuasi dengan pengelolaan sistem yang efektif dan efisien?

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian tesis ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui langkah langkah manajemen operasional saat ini dalam memenuhi permintaan pasar yang berfluktuasi.

2. Melakukan pengkajian peningkatkan efektifitas dan efisiensi (cost saving) pada unit bisnis produksi sabun.

3. Mengkaji rekomendasi alternatif strategi pengembangan sistem pengelolaan yang efektif dan efisien terhadap unit bisnis produksi sabun PT Yupharin Pharmaceuticals.

1.5. Ruang Lingkup

Masalah yang akan dikaji di dalam tesis hanya dibatasi untuk manajemen / pengelolaan unit bisnis produksi sabun (bahan baku, proses produksi, dan

(9)

inventori produk jadi). Hasil produksinya beberapa jenis merek / jenis produk dalam satu lini produksi yang aktif : JF Sulfur 10 % 100 gram, JF Sulfur 5 % 100 gram, JF Sulfur 2 % 100 gram, JF sulfur 10 % 65 gram, JF sulfur 5 % 65 grams, JF Sulfur 2 % 65 gram, Oilum 85 gram, serta beberapa jenis lainnya. Masing – masing jenis / type produk yang di produksi dalam bulan berjalan disesuaikan dengan permintaan pasar, dan proses produksinya dalam sistem batch.

Unit bisnis produksi sabun terdiri dari beberapa urutan proses. Proses dimulai dari penyediaan bahan baku dan bahan kemas, proses produksi dan pengemasan, dan proses penyimpanan produk jadi. Proses produksinya melalui lini produksi yang terdiri dari beberapa mesin : Mesin Roll mill (penghancur soap chip), beberapa unit mesin mixer, mesin three roll mill, mesin duplex ploder, mesin stamping ( mesin cetak) serta proses pengemasan.

1.6. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini untuk PT. Yupharin Pharmaceuticals diharapkan dapat diperoleh rekomendasi yang tepat terhadap strategi pengembangan sistem pengelolaan / operasional yang efektif dan efisien pada unit bisnis produksi sabun. Sistem pengelolaan / operasional ini meliputi pengelolaan bahan baku, pengelolaan proses produksi, dan pengelolaan persediaan barang jadi.

Referensi

Dokumen terkait

Teman-teman seperjuangan di Tadris Biologi IAIN Kdus yang sama- sama berjuang untuk mewujudkan harapan orang tua dipundak kalian, terimakasih telah menjadi bagian dari

Endry Martius, MSc IV/a 4 Prof.Dr.Ir... Hasmiandy Hamid, SP, MSi III/d 8