• Tidak ada hasil yang ditemukan

INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) HIV/AIDS DAN SIFILIS

N/A
N/A
Putri Amaliah

Academic year: 2023

Membagikan "INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) HIV/AIDS DAN SIFILIS"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Mata Kuliah : Masalah dan Gangguan Sistem Reproduksi Dosen : Chandra Ariani Saputri, S.ST.,M.Keb

INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) HIV/AIDS DAN SIFILIS

OLEH : KELOMPOK 2

Ismawati Ramli (202009105) Putri Amaliah ( 202009107) Verawati (202009109) Marini Ali ( 202009003)

Afriani (202009099)

Fakultas Keperawatan dan Kebidanan ITKES Muhammadiyah Sidrap

Tahun 2023/2024

(2)

Kata Pengantar

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah SWT, pencipta alam semesta, Wahai Dia yang karenan-Nya terlepas simpul kesulitan, wahai Dia yang dari-Nya diperoleh jalan keluar menuju jalan keselamatan, yang telah menganugerahkan Rahmat serta Inayah-Nya kepada saya sehingga makalah kami dengan judul pembahasan ” INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) HIV/AIDS DAN SIFILIS.” ini dapat terselesaikan walaupun masih jauh dari kesempurnaan.

Semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada hambah-Nya yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam, sang revolusioner sejati yang telah mengantarkan kita dari pengetahuan klasik sampai kepada pengetahuan modern yaitu Baginda Nabi besar Muhammad SAW.

Makalah ini diajukan dalam rangka memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah “MASALAH DAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI” Makalah ini tidak akan pernah terwujud tanpa bantuan dan dorongan dari berbagai pihak.

Maka dari itu, saya menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak.

Tidak ada manusia yang sempurna, begitu pula dengan makalah ini, masih banyak kekurangan-kekurangan yang terdapat didalamnya. Oleh karena itu, saya mengharapkan saran dan kritikan dari semua pihak yang sifatnya membangun guna penyempurnaan makalah ini.

Wette’e, 19 September 2023

Kelompok II

(3)

Daftar Isi

Kata Pengantar...i

Daftar Isi...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar belakang...1

B. Tujuan...6

C. Manfaat...6

BAB II PEMBAHASAN...7

A. DEFENISI...7

B. CARA PENULARAN...8

C. DIAGNOSIS...9

D. PENCEGAHAN/PENATALAKSANAAN...10

E. PROGRAM TERKAIT...11

F. SIFILIS PADA KEHAMILAN,PERSALINAN NIFAS DAN MENYUSUI...18

G. HIV/AIDS PADA KEHAMILAN,PERSALINAN NIFAS DAN MENYUSUI...25

BAB III PENUTUP...27

A. Kesimpulan...27

B. Saran...27

Daftar Pustaka...28

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Cara hubungan seksual tidak hanya terbatas secara genito-genital saja, tetapi dapat juga secara oro-genital dan anal-genital sehingga kelainan yang timbul tidak terbatas hanya pada daerah genital tetapi juga pada daerah ekstra genital. Tidak semua IMS ditularkan hanya melalui hubungan seksual, tetapi ada IMS yang dapat menular melalui kontak langsung dengan alat- alat yang tercemar seperti handuk, termometer, jarum suntik, melalui cairan tubuh (darah, cairan vagina, sperma dan saliva) atau penularan ibu hamil kepada janin saat mengandung atau saat inpartu (proses kelahiran).IMS merupakan penyebab global utama penyakit akut, infertilitas, cacat jangka panjang dan kematian dengan konsekuensi medis dan psikologis yang serius antar manusia (Rini et al., 2023)

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan infeksi menular seksual (IMS) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia dan Indonesia, dan meluas hingga masalah sosial, ekonomi, dan budaya. Kasus HIV di kawasan Asia Tenggara menyumbang 10% dari total beban HIV di seluruh dunia. Di Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan jumlah orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) berjumlah 543.100 orang. Jumlah ini menurun dari angka sebelumnya pada tahun 2016 sebesar 643.443 ODHIV. Infeksi baru HIV di Indonesia terus mengalami penurunan, sejalan dengan penurunan infeksi baru HIV global.

Namun demikian, penurunan infeksi baru ini belum sebanyak yang diharapkan. Pada populasi kunci tertentu (LSL dan waria) terjadi peningkatan infeksi baru HIV (Kesehatan, 2023)

Secara nasional, epidemi HIV di Indonesia adalah epidemi terkonsentrasi pada populasi kunci dengan Prevalensi sebesar 0,26%. Hasil Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) populasi kunci tahun 2018

(5)

menunjukkan prevalensi HIV pada populasi kunci di atas 10%. Terjadi pergeseran pola penularan HIV di mana pada awal tahun 2000 penularan HIV pada penggunaan jarum suntik bersama di kalangan Penasun, sedangkan pada tahun 2020 penularan melalui hubungan seksual merupakan cara penularan HIV utama. Epidemi HIV di Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) merupakan epidemi meluas tingkat rendah, dengan angka prevalensi HIV pada populasi umum sebesar 2,3%

(STBP Tanah Papua, 2013). Kecenderungan prevalensi HIV lebih tinggi (2,9%) terjadi di wilayah pegunungan dan populasi suku Papua, sementara di dataran rendah dan perkotaan, prevalensi berada di bawah 2,3%

(Kesehatan, 2023)

Hasil Estimasi IMS, di Indonesia pada tahun 2020 menunjukkan prevalensi gonore dan infeksi klamidia pada populasi kunci mencapai hingga 30 kali lebih tinggi dibandingkan pada populasi umum. Namun secara umum terjadi penurunan prevalensi sifilis pada WPS dan LSL, sejalan dengan penurunan pada prevalensi HIV, karena peningkatan penggunaan kondom dan upaya pencegahan IMS dan HIV lainnya.

Sementara itu, estimasi sifilis kongenital menunjukkan jumlah kasus dan angka sifilis kongenital di Indonesia telah menurun, tetapi masih 10 kali lipat lebih tinggi daripada target global eliminasi sifilis kongenital, yaitu <

50 kasus per 100.000 kelahiran hidup. Pengendalian IMS baik pada populasi kunci maupun pada non populasi kunci, terutama ibu hamil, harus diperkuat agar target eliminasi IMS dapat tercapai (Kesehatan, 2023)

Sifilis, sebagaimana infeksi menular seksual (IMS) lainnya, meningkatkan risiko tertular HIV. Pada orang dengan HIV-AIDS (ODHA), sifilis meningkatkan daya infeksi HIV. Berbagai penelitian di banyak negara melaporkan bahwa infeksi sifilis dapat meningkatkan risiko penularan HIV sebesar 3-5 kali. Bila ibu hamil yang terinfeksi sifilis tidak diobati dengan adekuat, maka 67% kehamilan akan berakhir dengan abortus, lahir mati atau sifilis kongenital. Pencegahan penularan sifilis dari ibu ke bayi dapat dilakukan dengan deteksi dini melalui skrining pada ibu

(6)

hamil dan mengobati ibu yang terinfeksi sifilis dan pasangannya. Secara umum upaya tersebut sangat efektif, bahkan di daerah dengan prevalensi HIV yang sangat rendah.

Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Sifilis mempunyai sifat perjalanan penyakit yang kronik, dapat menyerang semua organ tubuh, menyerupai berbagai penyakit (great imitator disease), memiliki masa laten yang asimtomatik, dapat kambuh kembali, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin yang menyebabkan sifilis kongenital (Rinandari & Ellista Sari, 2020)

Penyakit HIV/AIDS adalah salah satu penyakit yang mematikan di dunia. WHO menyatakan AIDS merupakan permasalahan global.

Berdasarkan usia, kasus HIV/AIDS di Indonesia banyak diderita oleh usia produktif 25-49 tahun, dan usia remaja 15-19 tahun.(1) Acquired Immun Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Dimana virus HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal, padahal penyakit tersebut tidak akan menyebabkan gangguan yang sangat berarti pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya normal. Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immun Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) merupakan masalah yang harus mendapatkan perhatian yang lebih serius oleh semua pihak, bukan saja Pemerintah tetapi seluruh lapisan masyarakat. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi (Idhar Darlis, 2022)

Populasi terinfeksi HIV terbesar di dunia adalah di benua Afrika (25,7 juta orang), kemudian di Asia Tenggara (3,8 juta), dan di Amerika (3,5 juta). Sedangkan yang terendah ada di Pasifik Barat sebanyak 1,9 juta orang. Tingginya populasi orang terinfeksi HIV di Asia Tenggara mengharuskan Indonesia untuk lebih waspada terhadap penyebaran dan penularan virus ini (Idhar Darlis, 2022)

(7)

Jumlah Kasus HIV/AIDS di Indonesia, Meskipun cenderung fluktuatif, data kasus HIV AIDS di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Seperti pada gambar di bawah ini, terlihat bahwa selama sebelas tahun terakhir jumlah kasus HIV di Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 2019, yaitu sebanyak 50.282 kasus. Berdasarkan data WHO tahun 2019, terdapat 78% infeksi HIV baru di regional Asia Pasifik. Untuk kasus AIDS tertinggi selama sebelas tahun terakhir pada tahun 2013, yaitu 12.214 kasus (Dirjen P2P, 2020)

Berdasarkan data Ditjen P2P yang bersumber dari Sistem Informasi HIV, AIDS, dan IMS (SIHA) tahun 2019, laporan triwulan 4 menyebutkan bahwa kasus HIV dan AIDS pada laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Kasus HIV tahun 2019 sebanyak 64,50% adalah laki-laki, sedangkan kasus AIDS sebesar 68,60% pengidapnya adalah laki-laki. Hal ini sejalan dengan hasil laporan HIV berdasarkan jenis kelamin sejak tahun 2008-2019, dimana persentase penderita laki-laki selalu lebih tinggi dari perempuan (Dirjen P2P, 2020)

Berdasarkan data SIHA mengenai jumlah infeksi HIV tahun 2010- 2019 yang dilaporkan menurut kelompok umur, kelompok umur 25-49 tahun atau usia produktif merupakan umur dengan jumlah penderita infeksi HIV terbanyak setiap tahunnya (Idhar Darlis, 2022)

Distribusi penderita HIV baru berdasarkan populasi berisiko secara global (2018) pekerja seks 6%, orang yang memakai narkoba suntik 12%, LSL dan jenis pria lain yang melakukan seks dengan sesama jenis 17%, wanita transgender 1%, pelanggan pekerja seks dan partner seks dari populasi berisiko 18% dan populasi lainnya 46%.

Peningkatan risiko tertular HIV di antara populasi berisiko di dunia tahun 2018 lelaki seks lelaki 22 kali, Orang yang memakai narkoba suntik 22 kali, pekerja seks 21 kali dan transgender 12 kali (Idhar Darlis, 2022)

Jumlah Kasus HIV/AIDS di Indonesia, Meskipun cenderung fluktuatif, data kasus HIV AIDS di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Seperti pada gambar di bawah ini, terlihat bahwa selama sebelas

(8)

tahun terakhir jumlah kasus HIV di Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 2019, yaitu sebanyak 50.282 kasus. Berdasarkan data WHO tahun 2019, terdapat 78% infeksi HIV baru di regional Asia Pasifik. Untuk kasus AIDS tertinggi selama sebelas tahun terakhir pada tahun 2013, yaitu 12.214 kasus (Dirjen P2P, 2020)

Lima provinsi dengan jumlah kasus HIV terbanyak adalah Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Papua, dimana pada tahun 2017 kasus HIV terbanyak juga dimiliki oleh kelima provinsi tersebut. Diketahui bahwa provinsi dengan jumlah kasus AIDS terbanyak adalah Jawa Tengah, Papua, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Kepulauan Riau. Kasus AIDS di Jawa Tengah adalah sekitar 22% dari total kasus di Indonesia. Tren kasus HIV dan AIDS tertinggi dari tahun 2017 sampai dengan 2019 masih sama, yaitu sebagian besar di pulau Jawa (Dirjen P2P, 2020)

Sepuluh provinsi dengan kasus AIDS terbanyak adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kepulauan Riau, Bali, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat.

AIDS case rate sepuluh provinsi di atas melebihi angka nasional sebesar 38,93. AIDS case rate tertinggi ada di tiga provinsi yaitu Papua (653,82), Bali (177,65), dan Papua Barat (176,32). Sepuluh besar provinsi dengan AIDS case rate tertinggi berbeda dengan sepuluh provinsi yang melaporkan jumlah kasus AIDS terbanyak pada bulan Oktober-Desember tahun 2019 (Dirjen P2P, 2020)

Angka penderita HIV/AIDS di Sulsel masih cukup tinggi. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel hingga Juni 2019, jumlah penderita HIV di Sulsel sebanyak 537 orang sementara AIDS sebanyak 190 orang.

Angka itu lebih sedikit dibanding data Dinas Kesehatan pada tahun 2018 dimana jumlah penderita HIV sebanyak 1171. Sementara AIDS 575 orang.

Kendati angka penderita tahun 2018 mengalami penurunan, bukan berarti kasus HIV/AIDS berkurang (Idhar Darlis, 2022)

(9)

Dari data yang dirangkum, penderita HIV/AIDS terbanyak yang terdata berada di Kota Makassar. Dimana penderita HIV sebanyak 336 orang dan AIDS 94 orang. Selanjutnya Kabupaten Bone HIV 57 dan AIDS 1, Palopo HIV 27 dan AIDS 19, Pare pare HIV 19 dan AIDS 1, serta Sidrap HIV 19 dan AIDS 10 orang.(Idhar Darlis, 2022)

Sejauh ini, cukup banyak upaya yang dilakukan Pemprov Sulsel dalam menurunkan angka penderita HIV/AIDS. Diantaranya membuka layanan testing HIV/ARF 24 kabupaten/kota, penguatan layanan, pengobatan ARV di rumah sakit dan Puskesmas, pelacakan ODHA yang belum berobat dengan mengaktifkan kader, penyediaan, Viral, dan LOD dengan menggunakan dana APBD Sulsel (Idhar Darlis, 2022)

Dilihat dari kelompok umur, pengidap terbesar pada kelompok umur 15-29, yaitu sebanyak 36,4 persen, disusul dengan kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 34,5 persen. Sedangkan faktor penyebabnya telah bergeser dimana transmisi HIV secara heteroseksual menjadi penyebab utama (76,3%). Disusul oleh transmisi HIV melalui penggunaan NAPZA suntik tidak aman (16,3%), dan kemudian oleh transmisi HIV secara homoseksual (2,2%) (Dirjen P2P, 2020)

B. Tujuan

Untuk mengetahui defenisi,penyebab,cara penularan,pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS),HIV/AIDS, dan Sifilis dalam Kehamilan,Persalinan,Nifas dan Menyusui.

C. Manfaat

Untuk pengkayaan literatur tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) HIV/AIDS dan Sifilis dalam Kehamilan,Persalinan,Nifas, Menyusui dan diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan sebagai informasi tambahan mengenai tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) HIV/AIDS dan Sifilis.

Adanya informasi ini, masyarakat bisa mendapat pelayanan kesehatan yang bermutu dan sesuai standar.

(10)

BAB II PEMBAHASAN

A. DEFENISI

Infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Cara hubungan seksual tidak hanya terbatas secara genito-genital saja, tetapi dapat juga secara oro-genital dan anal-genital sehingga kelainan yang timbul tidak terbatas hanya pada daerah genital tetapi juga pada daerah ekstra genital. Tidak semua IMS ditularkan hanya melalui hubungan seksual, tetapi ada IMS yang dapat menular melalui kontak langsung dengan alat- alat yang tercemar seperti handuk, termometer, jarum suntik, melalui cairan tubuh (darah, cairan vagina, sperma dan saliva) atau penularan ibu hamil kepada janin saat mengandung atau saat inpartu (proses kelahiran) (Rini et al., 2023)

Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Sifilis mempunyai sifat perjalanan penyakit yang kronik, dapat menyerang semua organ tubuh, menyerupai berbagai penyakit (great imitator disease), memiliki masa laten yang asimtomatik, dapat kambuh kembali, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin yang menyebabkan sifilis kongenital (Iskandar & Reza, 2022)

Sifilis merupakan Infeksi Menular Seksual yang disebabkan oleh Treponema Pallidum dapat mengakibatkan komplikasi berupa aborsi spontan, penghambatan pertumbuhan dalam rahim, kematian perinatal, dan menimbulkan gejala sisa yang serius pada anak-anak dengan infeksi sifilis (Rinandari & Ellista Sari, 2020)

Human Immunodeficiency Virus disingkat HIV adalah virus yang menyebabkan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). Keduanya merupakan suatu spektrum dari penyakit infeksi pada sistem imun yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus sehingga menyebabkan imunodefisiensi. Acquired Immuno Deficiency Syndrome yaitu suatu kumpulan gejala berkurangnya kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya virus HIV dalam tubuh seseorang.Seseorang

(11)

dengan HIV dan AIDS yang disingkat dengan ODHA adalah orang yang telah terinfeksi virus HIV (Wicaksana & Rachman, 2018)

Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang dapat menyerang limfosit (sel darah putih) fungsinya untuk membantu melawan bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh. HIV juga dapat menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat menyebabkan AIDS (Wicaksana & Rachman, 2018)

Orang tetap terlihat sehat walaupun dalam darah terdapat virus HIV belum tentu membutuhkan pengobatan (Tri & Liana, 2019). Virus HIV hanya dapat menyerang satu jenis sel yang ada di dalam tubuh manusia adalah set T helper / T-limfosit / T-sel / CD4. Sistem pertahanan tubuh manusia yang tertinggi yaitu sel CD4 / T-Helper. Jika sel ini rusak atau dihancurkan oleh virus HIV maka imunitas tubuh manusia akan rawan terinfeksi oleh virus-virus yang lain (Wicaksana & Rachman, 2018)

B. CARA PENULARAN

Cara penularan IMS adalah dengan cara kontak langsung, yaitu kontak dengan eksudat infeksius dari lesi kulit atau selaput lendir pada saat melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang telah tertular.

Lesi bisa terlihat ataupun tidak terlihat dengan jelas. Penularan hampir seluruhnya terjadi karena hubungan seksual baik vaginal, oral, maupun anal (Windari & Wiraguna, 2019)

Penularan HIV juga dapat terjadi dengan cara lain, yaitu transfusi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV, saling bertukar jarum suntik pada pemakaian narkoba, tertusuk jarum suntik yang tidak steril secara sengaja/ tidak sengaja, menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril, penggunaan alat pisau cukur secara bersama-sama, dari ibu kepada bayi saat hamil, saat melahirkan, dan saat menyusui (Windari

& Wiraguna, 2019)

Sifilis dini biasanya berhubungan dengan masuknya bakteri dengan jumlah yaang banyak dan tingkat transmisi dengan pasangan. Sedangkan

(12)

pada sifilis laten tingkat transmisi menurun dikarenakan ukuran inokulum yang mengecil (Iskandar & Reza, 2022)

Sedangkan maternal sifilis bisa menyebabkan infeksi fetal melalui beberapa rute. Penularan dapat terjadi pada masa kehamilan, kontak saat persalinan dan kontak dengan lesi sifilis setelah persalinan. Penularan sifilis dari ibu ke bayi biasanya berlangsung melalui transmisi transplasenta. Walaupun penularan dari ibu ke bayi dapat terjadi pada minggu ke-9 kehamilan, namun biasanya penularan terjadi pada minggu ke-16 dan ke-28 kehamilan. Sifilis pada ibu hamil yang tidak diobati dapat mengakibatkan keguguran, prematuritas, bayi berat lahir rendah, lahir mati dan sifilis kongenital (Iskandar & Reza, 2022)

C. DIAGNOSIS

Pada Infeksi Menular Seksual diagnosis ditegakan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan beberapa pemeriksaan penunjang yaitu: sediaan langsung, kultur (biakan), tes betalaktamase, tes Thomson (Daili, 2020)

Pada Sifilis diagnosis di tegakan dengan diagnosis klinis di konfirmasi dengan pemeriksaan labolatorium berupa pemeriksaan lapangan gelap (pemeriksaan lapangan gelap, mikroskop fluorensi) menggunakan bagian dalam lesi guna menemukan T.pallidum. Selain itu menggunkan penentuan antibody dalam serum ( tes menentukan anti body nonspesifik, tes menentukan antibodi spesifik, antibody terhadap kelompok antigen yaitu tes Reiter Protein Complement Fixation) (Daili, 2020)

Diagnosa HIV/AIDS dapat dilakukan melalui pemeriksaan antibody HIV meliputi :

1. Enzyme Immunasorbent Assay (EIA). Tes ini digunakan untuk mendeteksi antibodi IgM dan IgG HIV-1 dan HIV-2.

2. Rapid/simple assay. Tergantung jenisnya, tes ini dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 20 menit sampai 2 jam dan merupakan tes yang paling banyak digunakan dengan fasilitas yang terbatas.

(13)

3. Western Bloting (WB). Pemeriksaan ini membutuhkan waktu lama dan mahal, serta memerlukan waktu yang lama. Butuh keahlian khusus sehingga digunakan untuk konfirmasi diagnostik.

4. ELISA (Enzyme-linked immunoassay). Pemeriksaan ini juga merupakan pemeriksaan yang mahal dan memerlukan waktu yang (Wicaksana & Rachman, 2018)

D. PENCEGAHAN/PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan pasien IMS yang efektif, tidak terbatas hanya pada pengobatan antimikroba untuk memperoleh kesembuhan dan menurunkan tingkat penularan namun juga memberikan pelayanan paripurna yang dibutuhkan untuk mencapai derajat kesehatan reproduksi yang baik. Komponen penatalaksanaan IMS meliputi:

1. Anamnesis tentang riwayat infeksi/ penyakit,

2. Pemeriksaan fisik dan pengambilan spesimen/bahan pemeriksaan, 3. Diagnosis yang tepat,

4. Pengobatan yang efektif,

5. Nasehat yang berkaitan dengan perilaku seksual, 6. Penyediaan kondom dan anjuran pemakaiannya, 7. Penatalaksanaan mitra seksual,

8. Pencatatan dan pelaporan kasus, dan 9. tindak lanjut klinis secara tepat.

Penatalaksanaan HIV/AIDS

Perawatan pada saat terinfeksi HIV menurut (Wicaksana & Rachman, 2018)

a. Suportif dengan cara mengusahan agar gizi cukup, hidup sehat dan mencegah kemungkinan terjadi infeksi 20

b. Menanggulangi infeksi opportunistic atau infeksi lain serta keganasan yang ada

c. Menghambat replikasi HIV dengan obat antivirus seperti golongan dideosinukleotid, yaitu azidomitidin (AZT) yang dapat

(14)

menghambat enzim RT dengan berintegrasi ke DNA virus, sehingga tidak terjadi transkripsi DNA HIV

d. Mengatasi dampak psikososial

e. Konseling pada keluarga tentang cara penularan HIV, perjalanan penyakit, dan prosedur yang dilakukan oleh tenaga medis

f. Dalam menangani pasien HIV dan AIDS tenaga kesehatan harus selalu memperhatikan perlindungan universal atau keseluruhan

Saat ini tidak ada vaksin untuk sifilis, namun kita dapat melakukan pencegahan dengan cara menghindari aktivitas seksual dan kontak secara langsung pada lesi aktif yang merupakan faktor utama terjadinya penularan sifilis. Pada penderita yang manifestasi klinis asimtomatik diperlukan kontrasepsi seperti condom sehingga dapat meminimalisir transmisi infeksi yang akan menular secara seksual.

Kemudian dilakukan konseling untuk memberikan pengetahuan tentang perlunya abstinesia sexual (pria tidak ejakulasi selama 4 - 7 hari), tidak melakukan multi sexual partner, dan melakukan hubungan seksual yang aman. Pada penderita sifilis stadium primer, sekunder atau fase laten awal dianjurkan terapi pada kedua partner seksual dan lakukan tes serologis untuk mendapatkan pengobatan secara maksimal dengan pemberian Benzathine Penicilline 2,4 juta unit. Pada sifilis ini dapat menular dari ibu ke anak sehingga harus dilakukan tesskrining secara rutin yang merupakan hal penting pada setiap kehamilan

E. PROGRAM TERKAIT

1. Kegiatan promosi kesehatan

Strategi pemberdayaan dan promosi dalam upaya pengendalian IMS, HIV/AIDS, dan Sifilis didasari atas 3 (tiga) strategi dasar promosi kesehatan, yaitu Gerakan Pemberdayaan sebagai ujung tombak, yang didukung oleh Bina Suasana dan Advokasi. Strategi tersebut harus dikombinasikan dengan semangat dan dukungan dari pasangan. Seluruh strategi tersebut

(15)

diarahkan agar masyarakat mampu mempraktekkan perilaku mencegah dan mengatasi masalah kesehatannya (Windari &

Wiraguna, 2019)

2. Pemberdayaan masyarakat

Merupakan proses pemberian informasi secara terus- menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran, agar sasaran memiliki pengetahuan, sikap, dan mempraktekan perilaku yang diharapkan.

Sasaran dari pemberdayaan dalam konteks penanggulangan HIV dan AIDS adalah masyarakat umum, khususnya individu kelompok usia15-24 tahun agar tidak tertular IMS dan HIV-AIDS, serta mencegah kelompok sasaran yang berperilaku risiko tinggi agar tidak terkena HIV-AIDS (Windari & Wiraguna, 2019)

3. Bina suasana

Merupakan upaya untuk menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong masyarakat umum, populasi berperilaku risiko tinggi, petugas kesehatan agar bersedia menanggulangi penyebaran HIV dan AIDS secara bersama. Lingkungan sosial yang mendukung dapat diartikan sebagai (Windari & Wiraguna, 2019) :

a. Hilangnya sikap menstigma dan mendiskriminasi masyarakat maupun petugas kesehatan terhadap populasi berperilaku risiko tinggi pada umumnya (Wanita pekerja seks komersial, waria, LSL, pelanggan penjaja seks dan pengguna narkoba) dan orang dengan HIV positif pada khususnya.

b. Adanya dukungan positif dari masyarakat umum terhadap praktek pencegahan penularan IMS dan HIV dengan perilaku seks aman dan persepsi positif terhadap kondom sebagai alat pencegahan dalam bidang kesehatan.

(16)

c. Adanya dukungan positif dari masyarakat umum terhadap praktek pencegahan penularan HIV dengan perilaku penggunaan jarum suntik steril.

4. Advokasi

Merupakan upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan komitmen dan dukungan dari seluruh masyarakat. Advokasi diarahkan untuk menghasilkan kebijakan yang mendukung pada upaya penanggulangan HIV dan AIDS, terutama pada upaya penurunan IMS dan HIV melalui praktek perilaku seks aman maupun praktek penggunaan jarum suntik steril. Strategi untuk menghasilkan kebijakan yang mendukung pada upaya penanggulangan HIV dan AIDS adalah sebagai berikut (Windari & Wiraguna, 2019) :

a. Mendapatkan komitmen dan dukungan gubernur dan bupati/walikota.

b. Mendapatkan komitmen dan dukungan dari departemen teknis terkait pada wilayah prioritas.

c. Mendapatkan komitmen dan dukungan dari populasi kelompok umur 15 tahun ke atas, dengan prioritas 15-24 tahun.

5. Kemitraan

Kemitraan adalah upaya menjalin kerja sama denganberbagai pihak untuk menjalankan program yang terintegrasi dan koordinatif dalam setiap komponen program yang ditentukan. Adapun strategi dalam kemitraan yakni (Windari &

Wiraguna, 2019) :

a. Kerjasama dengan gubernur, walikota/bupati pada wilayah prioritas.

b. Kerjasama dengan departemen teknis terkait pada wilayah prioritas.

c. Kerjasama dengan stakeholder pada wilayah prioritas.

(17)

d. Kerjasama dengan lembaga mitra strategis (Lembaga Swadaya Masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi, dunia usaha, lembaga donor).

e. Kerjasama dengan media massa nasional hingga lokal berdasarkanprioritas dan kebutuhan.

6. Program intervensi perubahan perilaku Dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS, secara umum intervensi dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok besar yakni:

1) Intervensi Perilaku 2) Intervensi Biomedis.

Intervensi, memiliki makna memasukkan sesuatu di antara satu hal dengan hal lain. Misalnya, menengahi antara layanan kesehatan dengan pasien. 15 Asumsi utama dari sebagian besar intervensi adalah untuk mengurangi atau menekan biaya ekonomi dan sosial yang ditanggung jika intervensi tidak dilakukan atau dibiarkan begitu saja. Intervensi, khususnya perubahan perilaku dibutuhkan agar setiap orang, terlebih populasi berperilaku risiko tinggi dapat terhindar dari IMS/HIV. Intervensi agar orang yang berperilaku risiko tinggi memahami cara-cara melindungi diri, sehingga terhindar dari penularan (Windari & Wiraguna, 2019) .

Dalam hal ini pencegahan atas risiko yang lebih buruk lebih diutamakan, mengingat beberapa pertimbangan sebagai berikut :

a. HIV belum dapat disembuhkan, sehingga mencegah agar tidak menjadi HIV positif sangatlah menguntungkan dibanding mengatasi masalah yang muncul menjadi positif.

b. Jika telah positif HIV, untuk mempertahankan kualitas hidup yang baik, maka pada tingkat tertentu harus mengkonsumsi ARV. ARV adalah obat yang harus diminum seumur hidup. Dengan demikian biaya ekonomi yang harus ditanggung untu menyediakan obat agar dapat

(18)

diminum secara teratur harus ditanggung seumur hidup pula.

c. Stigma masih melekat kuat pada orang-orang yang telah terinfeksi HIV, sehingga biaya psikososial yang harus ditanggung pun sangat besar. Intervensi Perubahan Perilaku adalah kombinasi berbagai kegiatan yang terencana secara strategis berkaitan dengan kebutuhan kelompok tertentu dan dikembangkan dengan kelompok itu untuk membantu mengurangi perilaku berisiko dan rentan pada penularan IMS dan HIV denga menciptakan lingkungan yang mendukung untuk perubahan individu dan kolektif (Windari & Wiraguna, 2019) .

7. Membentuk klinik infeksi menular seksual

Infeksi menular seksual dapat meningkatkan penularan HIV, disamping itu juga dapat menjadi penyebab infertilitas, kehamilan ektopik, infeksi kongenital. Kasus IMS yang tidak diobati akan menambah beban tingginya morbiditas dan mortalitas pada perempuan, laki-laki, dan anak-anak. Pencegahan dan pengendalian IMS merupakanbagian integral dalam upaya pelayanan kesehatan. Penularan IMS dapat dikendalikan dengan intervensi pada pekerja seks komersial dan pelanggannya serta kelompok risiko tinggi lainnya dengan cara yang efektif (Windari

& Wiraguna, 2019).

Intervensi pada penjaja dan pelanggan seks memberikan dampak yang besar dalam menurunkan prevalensi IMS. Meskipun demikian intervensi juga perlu dilakukan pada populasi risiko rendah (remaja, anak, WUS, bumil), termasuk eliminasi sifilis kongenital. Pelaksanaan program harus dilakukan secara integrasi dan komprehensif dengan program dan layanan yang telah ada (Windari & Wiraguna, 2019).

(19)

Tujuan umum dari program ini adalah menurunnya angka kesakitan dan angka kematian akibat IMS/HIV. Tujuan Khusus aadalah menegah penularan untuk menurunkan insiden IMS dan meningkatkan penatalaksanaan kasus IMS untuk menurnkan morbiditas dan mortalitas serta meningkatkan kinerja manajemen program.Sasaran dari kelompok berperilaku risiko tinggi dan masyarakat umum/ kelompok yang dianggap berisiko rendah (ibu hamil, remaja,anak-anak) (Windari & Wiraguna, 2019).

Strategi yang dilakukan mengacu kepada 4 pilar pengendalian IMS, yaitu perubahan perilaku berisiko menjadi tidak berisiko, promosi penggunaan kondom secara terus menerus, keterlibatan sektor terkait untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, layanan IMS (dan HIV-AIDS) yang memadai baik untuk kelompokberperilaku risiko tinggi maupun non risiko tinggi (Windari & Wiraguna, 2019).

8. Pengurangan dampak buruk napza

Pengurangan dampak buruk Napza mulai menjadi perhatian di Indonesia pada tahun 1999. Pada saat itu data epidemi HIV/AIDS bergeser dari penularan melalui hubungan seksual ke penularan melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian/bersama. Jarum suntik dan peralatan yang berkaitan dengan penyuntikan yang digunakan tidak sekali pakai dan atau digunakan secara bergantian, serta perilaku penyuntikan Napza telah terbukti sebagai jalan yang sangat efektif dalam penularan HIV (Windari & Wiraguna, 2019).

Di dunia pada saat ini, dihitung secara kumulatif, diperkirakan terdapat sekitar 2-3 juta pengguna napza yang terinfeksi HIV. Lebih dari 110 negara telah melaporkan adanya epidemi HIV yang berkaitan dengan pengunaan Napza dengan cara suntik. Sampai saat ini bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengurangan dampak buruk napza masih dianggap sebagai salah

(20)

satu pendekatan yang efektif dan berhasil untuk menangani masalah penyalahgunaan napza dan HIV (Windari & Wiraguna, 2019).

Istilah pengurangan dampak buruk berasal dari terjemahan Harm Reductionyang berarti pengurangan/penurunan kerugian/kerusakan. Pengurangan dampak Buruk Napza merupakan bentuk konsep program yang digunakanuntuk mencegah atau mengurangi konsekuensi negatif yang berkaitan denganperilaku penggunaan Napza, khususnya dengan cara suntik (penasun = penggunanapza suntik). Upaya pencegahan infeksi HIV harus dilaksanakan secepat mungkin agar tujuan jangka panjang berupa penghentian penggunaan napzatidak sia-sia (Windari &

Wiraguna, 2019).

Program ini bertujuan mencegah penularan HIV pada kelompok penasun dan pasangannya. Tujuan ini lebih bersifat jangka pendek dan pragmatis dari pada tujuan jangka panjang berupa penghentian penggunaan napza. Pengguna narkotika jarum suntik menjadi sasaran utama, sedangkan pengguna Napza yang laindan pasangan seks penasun serta keluarga penasun menjadi sasaran sekunder. Sedangkan masyarakat luas menjadi sasaran tersier (Windari & Wiraguna, 2019).

9. Pembentukan klinik Prevention of Mother to Child Transmission Human Immunodeficiency Virus bisa ditularkan melalui berbagai cara, salah satunya adalah melalui jalur penularan melalui penularan dari ibu HIV positif kepada bayi yang dikandungnya.

Lebih dari 90% kasus bayi yang terinfeksi HIV, ditularkan melalui proses dari ibu ke bayi. Di negara maju, risiko seorang bayi tertular HIV dari ibunya sekitar 1- 2% karena tersedia layanan optimal pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi (Windari & Wiraguna, 2019).

(21)

Tetapi di negara berkembang atau negara miskin, tanpa adanya akses intervensi, risikonya antara 25%–45%. Pencegahan Penularan HIV dari ibu ke anak adalah upaya yang ditujukan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak yang dilakukan secara terintegrasi dan komprehensif dengan program-program lainnya yang berkaitan dengan pengendalian HIV-AIDS melalui strategi 4 prong (strategi) (Windari & Wiraguna, 2019).

Tujuan dari program ini adalah menurunkan penularan HIV dari ibu kepada bayinya. Sasaran dari program ini antara lain ibu hamil, bayi yang dilahirkan, perempuan usia reproduktif, remaja dan anak muda. Strategi program terdiri dari menurut (Windari &

Wiraguna, 2019):

1) Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia reproduktif,

2) Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif,

3) Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV positif beserta bayi dan keluarganya,

4) Memberi dukungan psikologis dan sosial; dan perawatan kepada ibu HIV positif beserta bayi dan keluarganya.

Kegiatan 1 dan 2 dapat dilaksanakan di seluruh jenjang dan Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) sedangkan kegiatan 3 dan 4 dilaksanakan pada UPK dengan fasilitas lebih tinggi, yang pada umumnya dapat diperoleh di Rumah Sakit.

F. SIFILIS PADA IBU HAMIL,PERSALINAN,NIFAS DAN MENYUSUI Penyebaran sifilis tersering dikarenakan sexually transmitted disease yaitu melalui kontak vaginal, anogenital dan orogenital, tapi secara nonsexual juga bisa terjadi meskipun sangat jarang terjadi seperti kulit ke kulit atau transfusi darah. Transmisi secara vertical bisamelalui

(22)

transplasenta atau dari ibu ke janin sehingga dapat menyebabkan syphilis congenital pada janin (Darmawan et al., 2020).

Klasifikasi terjadinya sifilis digolongkan dalam beberapa stadium yaitu :

1) Masa inkubasi tanpa gejala,

2) Sifilis sekunder terjadi disebabkan penyebaran bakteri ke seluruh tubuh ditambah dengan manifestasi klinis,

3) Stadium laten bisa berlangsung secara bertahun– tahun hanya dapat dideteksi dengan pemeriksaan serologis;

4) Sifilis tersier merupakan stadium akhir dari sifilis yang bersifat progresif sehingga akan melibatkan susunan saraf pusat dan pembuluh darah.

Pada fase primer sifilis bersifat infeksius 60%, sedangkan pada fase sekunder dan laten ketika penderita kontak secara langsung dengan lesi penderita sifilis primer atau sifilis sekunder maka akan beresiko terjadinya penularan. Namun ketika akan memasuki fase latenawal resiko terjadinya infeksi akan menurun menjadi 25%. Pada bayi juga dapat mengalamiinfeksi sifilis baik itu ketika dalam rahim atau ketika kontak langsung dengan lesi genital pada ibu saat persalinan (Darmawan et al., 2020).

Resiko terjadinya penularan sifilis primer dan sekunder jika tidak terobati dengan baik akan mencapai 70 – 100% namun resiko ini akan menurun sampai 40% jika ibu hamil berada dalam fase laten awal dan 10% berada pada fase laten lanjutan pada sifilis tersier, penularan sifilis juga dapat ditularkan melalui ASI dari ibu yang terinfeksi siflissifilis atau sekunder walau jarang dijumpai (Darmawan et al., 2020).

Pergerakan T.Pallidum akan menembus membrane mukosa kulit dengan cara mikroabrasi sehingga tidak butuh waktu lama untuk T.Pallidum akan menimbulkan gejala infeksi secara sistemik dan berfokus pada metastasis sebelum timbulnya lesi primer. T.Pallidum dapat bereplikasi setiap 30 hingga 33 jam, penderita yang berada dalam masa

(23)

inkubasi dan stadium awal sangat menular, pada fase inkubasi Treponema semakin banyak jumlah treponema yang bersikulasi di dalam tubuh maka masa inkubasinya akan memendek,dengan masa inkubasi rata-rata treponema berlangsung 3 minggu sejak masa inokulasi pertama terjadi dan jarang terjadi lebih dari 6 minggu (Darmawan et al., 2020).

Menandai sifilis primer akan munculnya lesi primer pada area inokulasi yang disebut dengan canchre akan bertahan dalam waktu 4 hingga 6 minggu dan kemudia akan sembuh dengan sendirinya. Pada pemeriksaan gambaran histopatologi dapat ditemukan infiltasi massif perivascular terutama oleh sel limfosit CD4 dan CD8, sel plasma serta makrofag sertadapat ditemukannya proliferasi endotel kapiler dan obliterasi pembuluhpembuluh darah kecil. Pada sifilis sekunder gejala nya akan muncul antara 6 – 8 minggu setelah hilangnya lesi primer ataupun masih adanya lesi primer, namun ada beberapa penderita sifilis sekunder tidakmengalami lesi primer namun langsung memasuki fase laten (Darmawan et al., 2020).

Gambaran histopatologis padalesi sifilis dapat berupa hyperkeratosis epidermis, proliferasi capiler ditambah dengan pembengkakan endotel dan infiltrasi ke perivasculare oleh sel limfosit CD4 dan CD8, sel plasma serta makrofag. Treponema juga dapat ditemukan dibeberapa jaringan termasuk Cerebrospinal Liquid dan Aquous Humor cairan pada mata, dengan penyebaran Treponema pada susunan saraf pusat (SSP) terjadi pada minggu pertama infeksi dan kelainan pada SSP paling sering terjadi pada sifilis sekunder (Darmawan et al., 2020).

Setelah terjadinya masa inkubasi rata -rata tiga minggu akan muncul chancre atau munculnya ulcus durum pada daerah yang masuknya Treponema pallidum, pada lesi primer dia berbatas tegas dengan ulserasi atau tanpa rasa sakit, batas indurasi yang keras, diikuti oleh kelenjar getah bening tidak terasa nyeri. Munculnya ulkus durum bisa di dalam atau diluar vagina atau di dalam vulva, bisa disekitaran anus, rekutm atau di

(24)

perianal, pada daerah oral bisa di dalam bibir maupun diluar (Darmawan et al., 2020).

Ketika penderita mengalami chancre rasanya sangat sakit,namun stadium infeksi primer biasanya diabaikan sehingga bakteri akan menyebar ke berbagai bagian tubuh lainnya secara hematogen, menyebabkan stadium sekunder penyakit sifilis ini akan muncul setelah 2 sampai 10 minggu. Dapat diikuti oleh gejala umum berupa suhu badan tinggi, limfadenopati serta perubahan pada kulit dan mukosa dapat terlihat (Darmawan et al., 2020)..

Perubahan pada kulit biasanya berupa ruam macula, popular yang akan sering muncul ditelapak tangan dan telapak kaki. Terkadang akan muncul alopecia, atau dapat menyebar dalam bentuk patch alopecia, sementara di daerah intertriginous papulanya sangat menulardan dapat muncul dalam bentuk kondiloma lata (Darmawan et al., 2020).

Pada daerah oral akan muncul dalam bentukmucus yang asimtomatik sehingga plak akan tertutupi dengan selaput hyperkeratosisberwarna putih – keabu – abuan. Pada stadium sekunder tidak diobati dengan baik, maka akanberlanjut ke stadium laten awal, dengan asimtomatik dan berlangsung selama satu tahun darisaat terjadi infeksi. Pada fase ini pasien masih dapat menularkan secara kontak seksual. Dikarenakan sifilis dikenal dengan the great imitator disease atau peniru yang hebat dikarenakan penyakit ini sering terjadi misdiagnosed selama pengobatan (Darmawan et al., 2020).

Infeksi yang terjadi pada wanita hamil dapat ditularkan secara transplasenta atau selama kelahiran ketika bayi memiliki kontak dengan lesi genital ibu. Treponema Palidum dapat ditularkan melalui plasenta dari minggu 14 selama kehamilan dan resiko penularan akan meningkat dengan usia kehamilan. Plasenta yang terinfeksi akan menyuplai aliran darah kepada janin hingga terjadi kematian pada bayi yang merupakan penyebab paling umum (Darmawan et al., 2020).

(25)

Pada sepertiga wanita hamil terinfeksi, maka janin akan lahir dengan sifilis kongenital; dalamsepertiga bayi yang lahir dengan ibu pengidap infeksi sifilis hanya menunjukkan BBLR sebagai satu-satunya manifestasi infeksi. Pada sifilis kongenital diklasifikasi menjadi fase dini dan lanjutan, pada fase dini dimana tanda-tanda infeksi akan muncul pertama kali duatahun kehidupan hepatosplenomegaly (70%), lesi pada kulit (70%), demam (40%), neurosifilis (20%), pneumonitis (20%), serta limfadenopati generalisata (Darmawan et al., 2020).

Pada lesi kulit ditandai adanya vesikel pada telapak tangan, telapak kaki dan di sekitaran hidung, mulut danakan muncul osteokondritis pada tulang panjang hingga dapat mengakibatkan pseudoparalisis, terjadinya gangguan pertumbuhan, lesi pada selaput hidung dan faring hingga berujung terjadinya meningitis (Darmawan et al., 2020).

Pada sifilis kongenital lanjutan akan muncul setelah 2 tahun kehidupan, dengan manifestasi klinis sangat banyak salah satunya keratitis intertisial, gigi Hutchinson, gigi mulberry dan gangguan nervus VIII sehingga mengakibatkan tuli, neurosifilis, sclerosis pada tulang yang menyerupai pedang (saber sign’s), perforasi palatumdurum dan septum nasi dan tanda paling khas terjadi destruksi pada gumma (saddle nose), penonjolan frontal, fissure disekitar mulut dan hidung disertai ragaden (sifilis rhinits infatil) (Darmawan et al., 2020).

Ada 3 rute utama penularan :

1) Hubungan seksual Merupakan jalur utama penularan yang paling umum ditemukan. Virus dapat ditularkan seseorang yang sudah terkena kepada pasangan seksualnya melalui hubungan seksual tanpa pengaman (kondom).

2) Kontak langsung dengan darah, produk darah, atau jarum suntik 3) Transmisi vertikal Lebih dari 90 % anak yang terinfeksi sifilis

didapat dari ibunya. sifilis dari ibu ke janin dapatterjadi intrauterine, intrapartum dan post-partum.

(26)

Transmisi intrauterine dimungkinan karena adanya limfosit yang terinfeksi masuk ke janin melakui sirkulasi uteroplasenta.

Transmisi intrapartum terjadi akibat adanya lesi pada kulit atau mukosa bayi atau bayi tertelan darah ibuselama proses persalinan.

Transmisi post-partum dapat juga melalui ASI.

Ada 3 faktor risiko penularan dari ibu ke anak, yaitu sebagai berikut : 1) Faktor Ibu

a. Status gizi selama kehamilan : berat badan yang rendah serta kekurangan zat gizi terutama protein, vitamin, dan mineral selama kehamilan meningkatkan risiko ibu untuk mengalami penyakit infeksi yang dapat meningkatkan kadar HIV dalam darah ibu, sehingga menambahrisiko penularan ke bayi.

b. Penyakit infeksi selama kehamilan, IMS, misalnya sifilis, infeksi organ reproduksi, malaria, dan tuberkulosis berisiko meningkatkan kadar pada darah ibu, sehingga risiko penularan HIV kepada bayi semakin besar.

c. Masalah pada payudara misalnya puting lecet, mastitis dan abses pada payudara akan meningkatkan risiko penularan melalui pemberian ASI.

2) Faktor Bayi

a. Usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahir. Bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah lebih rentan tertular sifilis karena sistem organ dan kekebalan tubuh belum berkembang baik.

b. Periode pemberian ASI : risiko penularan melalui pemberian ASI bila tanpa pengobatan berkisar antara 5–

20%.

c. Adanya luka di mulut bayi, risiko penularan lebih besar ketika bayi diberi ASI.

3) Faktor Tindakan Obstetrik

(27)

Risiko terbesar penularan dari ibu ke anak terjadi pada saat persalinan, karena tekanan pada plasenta meningkat sehingga bisa menyebabkan terjadinya hubungan antara darah ibu dan darah bayi. Selain itu, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan dari ibu ke anak selama persalinan adalah sebagai berikut.

a. Jenis persalinan : risiko penularan pada persalinan per vaginam lebih besar daripadapersalinan seksio sesaria;

namun, seksio sesaria memberikan banyak risiko lainnya untuk ibu.

b. Lama persalinan : semakin lama proses persalinan, risiko penularan dari ibu ke anak jugasemakin tinggi, karena kontak antara bayi dengan darah/lendir ibu semakin lama.

c. Ketuban pecah lebih dari empat jam sebelum persalinan meningkatkan risiko penularan hingga dua kali dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari empat jam. d.

Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum, dan forsep meningkatkan risiko penularan HIV.

Pemberian Makanan pada Bayi Kandungan ASI pada ibu yang mengidap sifilis akan mengandung kuman, namun padapanduan pemberian makanan bayi semua tergantung pada sumber daya yang tersedia dari ibu.Jika ibu memiliki akses untuk mendapatkan susu formula, air bersih dan sanitasi yang cukup baik secara teratur dan berkelanjutan, maka dapat direkomendasikan untuk tidak menyusui danmemberikan susu formula untuk bayi (Darmawan et al., 2020).

Sedangkan jika ibu memiliki sumber daya yang terbatasdan tidak memiliki akses ke susu formula dan air bersih, disarankan menyusui secara eklusif dengan secara bersamaan ibu. Pemberian susu formula harus melihat persyaratan AFASS (Affordable,Feasible, Acceptable, Sustainable, Safe). Di negara miskin dan berkembang syarat ini umumnya akan sulit dipenuhi, sehingga WHO akan merekomendasikan ibu

(28)

menyusui secara eklusif selama 6 bulan dan tidak dicampur dengan susu formula (mixed breasfeeding) (Darmawan et al., 2020).

Pemberian secara kombinasi susu formula dan ASI akan meningkatkan risiko penularan pada bayi. Pemberian makanan pada bayi dengan ibu positifsangat bervariasi tergantung dari kasusdan sumber daya yang dimiliki ibu. Tugas sebagai dokter dan tenaga medis untuk memilihkan dan mengedukasi cara pemberian makanan terbaik kepada bayi (Darmawan et al., 2020).

G. HIV/AIDS PADA IBU HAMIL,PERSALINAN,NIFAS DAN MENYUSUI

Penularan HIV tertinggi umumnya terjadi pada saat persalinan ketika kemungkinan terjadi percampuran darah ibu dan lendir ibu dengan bayi. Tetapi sebagian besar bayi dari ibu HIV positif tidak tertular HIV.3 Jika tidak dilakukan intervensi terhadap ibu hamil HIV positif, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi berkisar antara 25-45%. Frekuensi rata- rata transmisi vertikal dari ibu ke anak dengan infeksi HIV mencapai 25- 30%. Pada tahun 2001, United Nations General Assembly Special Session untuk HIV/AIDS berkomitmen untuk menurunkan 50% proporsi infeksi HIV pada bayi dan anak pada tahun 2019 (Setiyawati & Meilani, 2019)

Program tersebut termasuk intervensi yang berfokus pada pencegahan primer infeksi HIV pada wanita dan pasangannya, pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita infeksi HIV, pencegahan transmisi dari ibu ke anak, pengobatan, perawatan serta bantuan bagi wanita yang hidup dengan HIV/AIDS, anak dan keluarga mereka. Oleh karena itu, untuk memberantas transmisi vertical HIV yang terus meningkat diperlukan penatalaksanaan yang tepat pada ibu dan bayi selama masa antepartum, intrapartum dan postpartum. Selain itu adanya ibu hamil dengan HIV/AIDS mengalami diare kronis lebih dari 1 bulan, dan adanya demam lama lebih dari 1 bulan (Setiyawati & Meilani, 2019)

(29)

Ibu hamil dengan HIV mengalami peningkatan depresi dan kekhawatiran terhadap stigma masyarakat. Adanya penurunan kondisi fisik dan psikologis tersebut mempengaruhi kondisi ibu hamil dengan HIV yang sudah mengalami penurunan kondisi dari kehamilannya sendiri.

Sehingga, ibu dengan HIV/AIDS saat hamil mengalami penurunan kondisi fisik dan psikologis yang tidak terjadi ibu hamil sehat maupun penderita HIV/AIDS yang tidak hamil (Setiyawati & Meilani, 2019)

. Penularan ini umumnya didapatkan dari pasangan yang memiliki perilaku beresiko tinggi seperti berhubungan seks dengan wanita selain pasangan (wanita pekerja seks). Resiko penularan HIV dari ibu ke bayi cukup tinggi termasuk setelah melahirkan dan hal inidapat dihindari dengan tidak memberikan ASI dan diganti dengan PASI. Secara teori, ASI dapat membawa HIV dan dapat meningkatkan transmisi perinatal, oleh karena itu WHO tidak merekomendasikan pemberian ASI pada ibu dengan HIV positif meskipun mereka sudah mendapatkan ARV (Setiyawati & Meilani, 2019)

Ketakutan akan ketidakmampuan dalam merawat bayinya serta takut bayinya tertular HIV membuat ibu nifas merasakan kecemasan setelah melahirkan. Kecemasan tentang penularan HIV ke bayinya ada sampai dengan kepastian bahwa bayinya tidak tertular HIV dan ini bias berlangsung selama 2 tahun (Setiyawati & Meilani, 2019)

Salah satu faktor yang berkontribusi dalam adaptasi wanita dalam masa persalinan adalah pengalaman ibu dan pelayanan yang optimal dari pihak rumah sakit. Pelayanan dari pihak Rumah Sakit memiliki peran penting untuk meningkatkan koping adaptasi seseorang terhadap situasi yang penuh dengan tekanan, mengurangi angka kesakitan serta mendisiplinkan pengobatan pada pasien sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kesehatan fisik seseorang (Setiyawati & Meilani, 2019)

(30)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Cara hubungan seksual tidak hanya terbatas secara genito-genital saja, tetapi dapat juga secara oro-genital dan anal-genital sehingga kelainan yang timbul tidak terbatas hanya pada daerah genital tetapi juga pada daerah ekstra genital. Tidak semua IMS ditularkan hanya melalui hubungan seksual, tetapi ada IMS yang dapat menular melalui kontak langsung dengan alat- alat yang tercemar seperti handuk, termometer, jarum suntik, melalui cairan tubuh (darah, cairan vagina, sperma dan saliva) atau penularan ibu hamil kepada janin saat mengandung atau saat inpartu (proses kelahiran) (Rini et al., 2023)

B. Saran

Disarankan untuk memberikan edukasi atau melaksanaakan program terkait untuk mencegah penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) HIV/AIDS dan Sifilis.

(31)

Daftar Pustaka

Daili, S. F. (2020). Infeksi Menular Seksual Ed. 4. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 8.

Darmawan, H., Purwoko, I. H., & Devi, M. (2020). Sifilis Pada Kehamilan.

Sriwijaya Journal of Medicine, 3(1), 73–83.

https://doi.org/10.32539/sjm.v3i1.70

Dirjen P2P. (2020). Laporan Kinerka Direktorat Jenderal Pencegahan dan

Pengendalian Penyakit. Kemkes, 206. https://e-

renggar.kemkes.go.id/file2018/e-performance/1-465827-3tahunan-768.pdf Idhar Darlis, U. K. (2022). Tingkat Pengetahuan Masyarakat Rw 9 Kelurahan

Sudiang Raya Tentang Hiv / Aids. 3(2), 2059–2066.

Iskandar, & Reza, M. D. (2022). Sifilis pada Kemahilan. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh Vol.1, 1(3), 61–76.

Kesehatan, K. (2023). Laporan Kinerja 2022 Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan. 1–129.

Rinandari, U., & Ellista Sari, E. Y. (2020). Terapi Sifilis Terkini. Cermin Dunia Kedokteran, 47(11), 647. https://doi.org/10.55175/cdk.v47i11.1188

Rini, P., Noorma, N., & Imamah, I. N. (2023). FAKTOR RISIKO KEJADIAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) DI POLI KULIT DAN KELAMIN RSD dr. H. SOEMARNO SOSROATMODJO TANJUNG SELOR TAHUN 2023. Aspiration of Health Journal, 1(1), 36–44.

https://doi.org/10.55681/aohj.v1i1.83

Setiyawati, N., & Meilani, N. (2019). Determinan Perilaku Tes HIV pada Ibu Hamil. Kesmas: National Public Health Journal, 9(3), 201.

https://doi.org/10.21109/kesmas.v9i3.565

Wicaksana, A., & Rachman, T. (2018). HIV/AIDS. Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 3(1), 10–27.

https://medium.com/@arifwicaksanaa/pengertian-use-case-a7e576e1b6bf Windari, M. M., & Wiraguna, A. (2019). Pencegahan Penularan dan Infeksi

Menular Seksual dan Human Immunodeficiency Virus. Wiraguna, AAGP, 1–

(32)

27.

Referensi

Dokumen terkait

Chandra Dwi Putranto, 2014, PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU SEKSUAL PEKERJA SEKS KOMERSIAL PEREMPUAN DALAM KAITANNYA DENGAN PENCEGAHAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) DAN

PERILAKU REMAJA TENTANG PENCEGAHAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) DI SMA PRAYATNA MEDAN TAHUN 2015.

Skripsi berjudul Gaya Hidup Seksual “Ayam Kampus” dan Dampaknya terhadap Risiko Penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) ” (Studi Kualitatif pada Mahasiswi di Kecamatan

Skripsi berjudul Gaya Hidup Seksual “Ayam Kampus” dan Dampaknya terhadap Risiko Penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) ” (Studi Kualitatif pada Mahasiswi di Kecamatan

Kasus penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) terus mengalami peningkatan, fenomena peningkatan dan penyebaran kasus infeksi menular seksual yang terjadi pada

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh sosialisasi dan konseling tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) HIV/AIDS terhadap pengetahuan dan sikap waria di

Saudara diundang untuk berpartisipasi dalam studi pengaruh sosialisasi dan konseling tentang infeksi menular seksual (IMS) HIV/AIDS terhadap pengetahuan dan sikap waria di

Penyakit menular seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan secara langsung dari seseorang ke orang lain melalui kontak seks.. Namun penyakit gonore ini