IQ, SQ, dan SQ MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah PSIKOLOGI BELAJAR PAI
Dosen Pembimbing Drs. H. Syaifuddin, M.Pd.I
Oleh :
Muhammad Romadhon (D01215030) Anif Rachmawati (D91215048)
Rismaya Dewi (D91215076)
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA 2015
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas rahmat dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
makalah dengan judul "IQ, EQ, dan SQ, Dalam Pikologi belajar" dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukan kepada kita jalan kebenaran.
Penulis ucapkan terima kasih kepada Dosen Pengampu matakuliah
“Pikologi Belajar PAI” yang telah membimbing dan memberi banyak pengetahuan kepada penulis serta memberikan kesempatan kepada penulis untuk membuat, mempresentasikan makalah ini. Serta juga kepada pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini, memberikan referensi dan sumbangsi pemikirannya semoga Allah membalas dengan sebaik-baiknya.
Sebagai penutup, kritik dan saran penulis harapkan dari segenap pembaca atas segala kekurangan yang terdapat dalam makalah ini dan juga sebagai bahan koreksi dan pembelajaran untuk perbaikan makalah
berikutnya.
Surabaya, 09 September 2016
Tim Penyusun
i
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...
KATA PENGANTAR...
DAFTAR ISI...
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...1 1.2 Rumusan Masalah...1 1.3 Tujuan...1 BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian IQ, EQ, dan SQ.
...
2
2.2 Perbedaan IQ, EQ, dan SQ
...
4
...
2.3 Eksistensi IQ, EQ, dan SQ Pada Setiap Individu.
...
7
2.4 Hubungan antara aspek – aspek kognisi, emosi, dan konasi dengan IQ, EQ, dan SQ
...
9
2.5 Aplikasi konsep IQ, EQ, dan SQ secara proporsional dalam proses pembelajaran.
...
12
BAB III PENUTUP...14 3.1 Kesimpulan...14 3.2. Saran...15
DAFTAR PUSTAKA...16
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Semua manusia memiliki kemampuan berpikir, akan tetapi saat ini kemampuan yang di miliki berbeda. banyak orang menganggap bahwa kemampuan berpikir seseorang hanya dapat dilihat melalui hasil IQ. Hal itu tidaklah sepenuhnya benar, karena kemampuan seeeorang juga dapat dipengaruhi oleh EQ dan SQ. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahi apa yang di maksud IQ, EQ, dan SQ dan bagaimana hubungan juga cara mengaplikasikanya dalam kehiduan shari-hari.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan IQ, EQ, dan SQ?
2. Bagaimana eksistensi IQ, EQ, dan SQ ada setiap individu dan kapasitasnya?
3. Bagaimana Hubungan antara aspek – aspek kognisi, emosi dan konasi dengan IQ, EQ, dan SQ?
ii
1.3. Tujuan
1. Agar dapat mengtahui dan menganalisa apa yang dimaksud dengan IQ, EQ, dan SQ.
2. Agar dapat menjelaskan eksistensi IQ, EQ, dan SQ ada setiap individu dan kapasitasnya.
3. Agar dapat mengetahui Hubungan antara aspek – aspek kognisi, emosi dan konasi dengan IQ, EQ, dan SQ
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian IQ, EQ, dan SQ.
IQ (Intelligence Quotient) adalah suatu adalah suatu indeks tingkat relatif intelegensi seseorang, setelah dibandingkan dengan orang lain yang sesuai dengannya. Dengan dmikian, IQ pada dasarnya adalah
1
2
sebuah ukuran tingkat kecerdasan.1 Semntara itu, intelegensi menurut W.stern adalah suatu daya jiwa untuk data menysuaikan diri dengan cepat dan tepat dalam suatu yang baru dengan mempergunakan alat - alat berpikir sesuai tujuannya.2 Secara global IQ berisi pertanyaan - pertanyaan dan dibuat mengnai segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan pelajaran sekolah. dengan kata lain Kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut. Kecerdasan intelektual (IQ) diyakini menjadi sebuah ukuran standar kecerdasan selama bertahun-tahun. Bahkan hingga hari ini pun masih banyak orangtua yang mengharapkan anak-anaknya pintar, terlahir dengan IQ (intelligence quotient) di atas level normal (lebih dari 100).
EQ (Emotional Qoutient), menurut Ge Muzaik kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan untuk mengenali,
mengekspresikan, dan mengelola emosi, baik emosi dirinya sendiri maupun emosi orang lain, dengan tindakan konstruktif, yang berupaya bekerjasama dengan tim yang mengacu pada produktivitas dan bukan pada konflik. Johanes Pap menyatakan kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi dirinya sendiri.3 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan. Substansi dari kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi.4 Orang yang EQ-nya baik, dapat memahami perasaan orang lain, dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap bahasa
1 Rohmalina Wahab, Psikologi Belajar¸(Jakarta : Rajawali Pers, 2015), h. 142 2 H. Jaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara), h.64
3 Rohmalina Wahab, Psikologi ,……. h. 151
4 Steven S. Stein, dan Howard, Ledakan EQ :15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional meraih Sukses, ( Bandung : Kaifa, 2003), h. 32.
verbal dan non verbal. Semua pemahaman tersebut akan menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya Dapat dimengerti kenapa orang yang EQ-nya baik, sekaligus kehidupan sosialnya juga baik.
Istilah spiritual bersal dari kata “spirit”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “spirit” diartikan “semangat, jiwa, sukma, roh”.
Kecerdasan spiritual lebih merupakan sebuah konsep yang berhubungan dengan bagaimana seseorang “cerdas” dalam mengelola dan
mempergunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan spiritualnya. Kehidupan spiritual di sini meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencari makna hidup (the meaning of life) dan mendambakan hidup bermakna (the meaningful life).5 Spiritual Quotient (SQ) adalah suatu kecerdasan dimana kita berusaha menyelesaikan masalah dalam hidup berdasarkan nilai-nilai agama yang diyakini.6 Kecerdasan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan
perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan orang lain.7 Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-
pengertian manusia dan sudah menjadi terkapling-kapling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa.
Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan
penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Kecerdasan Spritual bukanlah sebuah agama
5 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ (Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), h. 325
6 Rohmalina Wahab, Psikologi Belajar¸(Jakarta : Rajawali Pers, 2015), h. 152 7 Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ (Kecerdasan Spiritual), (Bandung: PT Mizan
Pustaka, 2007), h. 4.
3
(religi) semata. Terlepas dari agama, manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. menggambarkan, SQ sebagai kemampuan untuk membingkai ulang atau mengontekstualisasi ulang pengalaman kita. Dan dengan demikian, SQ merupakan kemampuan untuk mentransformasi pemahaman kita tentangnya. Pengalaman dari kecerdasan spiritual kita bukan sekedar keadaan pikiran, tetapi
merupakan sebuah jalan untuk mengetahui, sebuah jalan wujud, yang pada akhirnya akan mentransformasikan pemahaman dalam kehidupan kita.8
2.2. Perbedaan IQ, EQ, dan SQ.
Kecerdasan intelegensi adalah suatu indeks tingkat relatif intelegnsi / kemampuan seseorang untuk mengolah dan berfikir kognitif.
Kecerdasan yang terukur dengan angka-angka sejak kita di bangku sekolah hingga kuliah. Seseorang dapat dikatakan pintar karena orang tersebut cepat dalam menangkap informasi yang diberikan.9 IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu. Kecerdasan intelektual dapat diartikan sebagai kecerdasan yang berhubungan dengan proses kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan, dan menilai atau memperhitungkan sesuatu atau kecerdasan yang berhubungan dengan strategi pemecahan masalah dengan menggunakan logika.10
Ada beberapa indikator yang menunjukkan hadirnya kecerdasan intelektual dalam diri seseorang, diantaranya:
1. Kerja akal/pikir senantiasa dalam koordinasi nurani 2. Buah pemikiran mudah dipahami dan diamalkan.
8 Taufik Pasiak, Revolusi IQ/EQ/ SQ, ( Bandung : Mizan, 2006), h. 66.
9 Rohmalina Wahab, Psikologi Belajar¸(Jakarta : Rajawali Pers, 2015), h. 142
10 Suriansyah Salati, Hakikat IQ, EQ, dan SQ dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam (Banjarmasin: Antasari Press, 2009), h.15
4
3. Buah pikiran bersifat kausalitatif, artinya memiliki kemampuan mengetahui, memahami, dan menganalisis hakikat dari suatu masalah, kejadian atau peristiwa.
4. Buah pikiran bersifat solutif, artinya memiliki kemampuan menggunakan akal pikiran dalam memecahkan masalah yang dihadapi, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan
bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak
melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya. Kecerdasan emosional merupakan hasil kerja dari otak kanan, sedang kecerdasan intelektual merupakan hasil kerja otak kiri. Menurut DePorter dan Hernacki, otak kanan manusia memiliki cara kerja yang acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik, sedangkan otak kiri memiliki cara kerja yang logis, sekuensial, rasional, dan linier. Kedua belahan otak ini harus diperankan sesuai dengan fungsinya, sebab jika tidak maka masing- masing belahan akan menganggu pada belahan lain.11
EQ memiliki empat pilar utama yang bisa kita jadikan pedoman.
Keempat pilar itu oleh Steve Hein disingkat dengan sebutan B.A.R.E yang isinya adalah: B=balance (keseimbangan diri)
A=awareness (kesadaran diri) R=responsibility (tanggung jawab) E=emphaty (empati)
Dari keempat hal di atas yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan EQ, yaitu:
11 Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2002),h. 321.
5
1. Belajar menjaga keseimbangan 2. Belajar mempertebal kesadaran diri
3. Belajar meningfkatkan rasa tanggung jawab 4. Belajar berempati
Kecerdasan spiritual bukanlah doktrin agama yang mengajak umat manusia untuk ‘cerdas’ dalam memilih atau memeluk salah satu agama yang dianggap benar. Kecerdasan spiritual lebih merupakan sebuah konsep yang berhubungan dengan bagaimana seseorang ‘cerdas’ dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan
kualitas-kualitas kehidupan spiritualnya. Kecerdasan spiritual sebagai bagian dari psikologi memandang bahwa seseorang yang taat beragama belum tentu memiliki kecerdasan spiritual. Melalui penggunaan
kecerdasan spiritual kita secara lebih terlatih dan melalui kejujuran serta keberanian diri yang dibutuhkan bagi pelatihan semacam itu, kita dapat berhubungan kembali dengan sumber dan makna terdalam di dalam diri kita.12
Menurut saran Ian Marshall dan Danah Zohar, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan SQ, antara lain:
1. Selalu menyadari di mana saat ini saya berada (menyadari keadaan diri). Ketahuilah diri anda di mana saat ini berada dan kemana arah yang anda tujuh
2. Punya kemauan keras untuk berubah kearah yang lebih bagus.
Munculkan berbagai ide untuk memperbaiki diri anda 3. Selalu menggali sumber motivasi ke dalam diri. Misalnya
memperjelas visi hidup, menghayati misi hidup, memperjelas tujuan hidup
4. Selalu mengusahakan solusi atas setiap masalah yang muncul 5. Selalu mengeksplorasi kemungkinan dan peluang untuk meraih
kemajuan
12 Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ : kecerdasan spiritual, (Bandung: Mizan, 2002), h.
15.
6
6. Milikilah komitmen untuk berjalan di atas jalan yang sudah kita pilih (jalan yang tidak melanggar kebenaran atau jalan yang lurus) 7. Selalu sadar bahwa di dunia tidak hanya ada satu jalan untuk
meraih keinginan
8. Selain ketujuh hal di atas, ada juga yang perlu kita lakukan untuk mengembangkan SQ ini, yaitu memunculkan motivasi positif dan melawan motivasi negatif.
2.3. Eksistensi IQ, EQ, dan SQ Pada Setiap Individu.
IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan saat
seseorang mulai sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah dan ibu di samping faktor gizi makanan yang cukup. Perkembangan taraf intelegensi sangat pesat pada masa umur balita dan mulai menetap pada akhir masa remaja. Taraf intelegensi tidak mengalami penurunan,yang menurun hanya penerapannya saja terutama setelah berumur 65 tahun keatas bagi mereka yang alat inderanya mengalami kerusakan. Awal untuk melihat IQ pada setiap individu adalah pada saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara kemampuan seseorang tersebut dengan IQ-nya. Apabila seseorang dengan IQ tinggi masuk sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak. IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan.
IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu. Dengan seperti itu kemunculan IQ akan dapat diketahui tingkat keberadaan dan tinggi IQ seorang anak tersebut. Berkembang bersamaan dengan sejarah manusia itu sendiri; kebutuhan untuk mengatasi,beradaptasi,dan bergaul dengan manusia lain yang penting Artinya bagi kelangsungan hidup generasi pemburu-pengumpul di zaman purba. Otak manusia mencerminkan fakta yang tak terbantahkan ini. Teknik pemetaan yang canggih baru-baru ini,memastikan bahwa
7
banyak proses berfikir halus melalui pesat emosi otak saat mengalami proses fisiologi yang mengubah informasi dari luar menjadi tindakan atau tanggapan individu.
Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan
bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan
kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik- baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya.Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan- pengertian manusia dan sudah menjadi terkapling-kapling sedemikian rupa.
Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa.
Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan
penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
2.4. Hubungan antara aspek – aspek kognisi, emosi, dan konasi dengan IQ, EQ, dan SQ.
IQ menjadi standarisasi terhadap kecerdasan dan ukuran
keberhasilan seseorang dalam keilmuan dan kehidupan. Namun seiring dengan perkembangan zaman Daniel Goleman yang bergelut dalam bidang neurosains dan psikologi dengan kegigihannya akhirnya ia
8
menemukan sebuah teori yang sangat menggegerkan dunia, yakni bahwa ukuran keberhasilan seseorang ternyata bukan ditentukan oleh tingkat rasionalitas atau IQ namun ditentukan oleh kecerdasan emosi (EQ). Dalam penelitian Daniel Goleman bahwa kesuksesan manusia lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional dan lainya ditentukan oleh IQ-nya.
Menurut Stephen R. Covey, IQ adalah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan mentalitas, yaitu kecerdasan untuk menganalisis, berfikir, menentukan kausalitas, berfikir abstak, bahasa, visualisasi, dan memahami sesuatu. IQ adalah alat kita untuk melakukan sesuatu letaknya di otak bagian korteks manusia. Kemampuan ini pada awalnya dipandang sebagai penentu keberhasilan sesorang. Namun pada
perkembangan terakhir IQ tidak lagi digunakan sebagai acuan paling mendasar dalam menentukan keberhasilan manusia. Karena membuat sempit paradigma tentang keberhasilan, dan juga pemusatan pada konsep ini sebagai satu satunya penentu keberhasilan individu dirasa kurang memuaskan karena banyak kegagalan yang dialami oleh individu yang ber IQ tinggi.
Ketidak puasan terhadap konsepsi IQ sebagai konsep pusat dari kecerdasan seseorang telah melahirkan konsepsi yang memerlukan riset yang panjang serta mendalam. Daniel Goleman mengeluarkan konsepsi EQ sebagai jawaban atas ketidak puasan manusia jika dirinya hanya dipandang dalam struktur mentalitas saja. Konsep EQ memberikan ruang terhadap dimensi lain dalam diri manusia yang unik yaitu emosional. Disamping itu Goleman mempopulerkan pendapat para pakar teori kecerdasan bahwa ada aspek lain dalam diri manusia yang berinteraksi secara aktif dengan aspek kecerdasan IQ dalam
menentukan efektivitas penggunaan kecerdasan yang konvensional tersebut dalam Danah Zohar dan Ian Marshal.
IQ dan EQ merupakan sumber daya sinergis, saling melengkapi satu
9
sama lain, IQ tanpa EQ akan membuat seseorang mempunyai kemampuan akademik baik akan tetapi tidak membuat seseorang berhasil dalam kehidupannya. Wilayah EQ menyangkut hubungan pribadi antar pribadi, bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial dan kemampuan beradaptasi sosial. Kecerdasan
membantu mengenali beragam tindakan, tetapi tidak menggerakkan untuk bertindak, emosilah yang menggerakkan.13
Komponen utama dari kecerdasan sosial ini adalah kesadaran diri, motivasi pribadi, pengaturan diri, empati dan keahlian sosial. Letak dari kecerdasan emosional ini adalah pada sistem limbik. EQ lebih pada rasa, Jika kita tidak mampu mengelola aspek rasa kita dengan baik, maka kita tidak akan mampu untuk menggunakan aspek kecerdasan konvensional kita (IQ) secara efektif, karena IQ menentukan sukses hanya 20 persen dan EQ 80 persen.
Kecerdasan spiritual mampu mengoptimalkan kerja kecerdasan yang lain. Individu yang mempunyai kebermaknaan (SQ) yang tinggi, mampu menyandarkan jiwa sepenuhnya berdasarkan makna yang ia peroleh, dari sana ketenangan hati akan muncul. Jika hati telah tenang (EQ) akan memberi sinyal untuk menurunkan kerja simpatis menjadi para simpatis. Bila ia telah tenang karena aliran darah telah teratur maka individu akan dapat berfikir secara optimal (IQ), sehingga ia lebih tepat dalam mengambil keputusan. Manajemen diri untuk mengolah hati dan potensi kamanusiaan tidak cukup hanya dengan IQ dan EQ, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang sangat berperan dalam diri manusia sebagai pembimbing kecerdasan lain. Karena itu sesuai dengan pendapat Covey diatas bahwa “SQ merupakan kunci utama kesadaran dan dapat membimbing kecerdasan lainnya”.
spiritualis sekalipun. Namun temuan “God Spot” mereka baru sebatas hardware-nya saja (spiritual center pada otak manusia), belum ada software (isi dan kandungannya)nya. Sinergi antara IQ, EQ dan SQ
13 Jeanne Segal, Melejitkan Kepekaan Emosional , (Bandung: Kaifa, 2000), h.32
3
10
yang diharapkan sebagai solusi atas problem diatas. Seiring dengan waktu muncullah Ary Ginanjar dengan konsep ESQ yang
mensinergikan ketiganya. ESQ mendapat sambutan hangat dari
masyarakat internasional dengan melalui berbagi trainingnya yang saat ini dianggap mampu menginterpretasikan secara sempurna kecerdasan IQ, EQ dan SQ. ESQ-lah yang kemudian diharapkan oleh Ary Ginanjar sebagai software-nya.14
Dengan kata lain, SQ adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita.
Dari pernyataan tersebut, jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan, karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. Jadi seharusnya IQ, EQ dan SQ pada diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik), Mind (Psikis) and Soul (Spiritual).
Fakta-fakta ini makin memperkuat fenomena bahwa SQ yang perlahan namun pasti menempati ruang di hati manusia, walau bukan seorang
2.5 Aplikasi konsep IQ, EQ, dan SQ secara proporsional dalam proses pembelajaran.
Saat ini seringkali banyak dijumpai orang yang sebenarnya memiliki kemampuan intelektual luar biasa namun gagal karena rendahnya kecerdasan emosi yang dimiliki. Akan tetapi sering juga dijumpai orang yang memiliki kemampuan intelektual biasa saja namun ternyata sukses dalam pekerjaan ataupun dalam hubungan masyarakat.
Dua keadaan tersebut tampaknya perlu dijadikan bahan renungan tentang cara kita “membaca” kecerdasan. Hal ini menjadi penting
14 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ (Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), h. 25
11
karena selama ini sistem pendidikan yang ada terlalu menekankan pentingnya nilai akademik, kecerdasan otak (IQ) saja. Indikatornya adalah dalam mekanisme pelaksanaan ujian, baik nasional maupun institusional, tolok ukurnya adalah penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang bersifat remembering dan recalling.
Jelas ini sangat ironis karena pada dasarnya salah satu kelemahan pendidikan terletak pada aspek afektif. Banyaknya kasus negatif dalam bidang afektif yang mewarnai dunia pendidikan seperti pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru terhadap murid, murid laki-laki terhadap murid perempuan, tawuran pelajar, penyontekan, menurunnya rasa hormat murid terhadap guru, narkoba, dan lain sebagainya
merupakan deretan panjang pelanggaran dalam bidang afekif.
Kondisi yang demikian ini mengindikasikan bahwa pendidikan telah terjangkit penyakit klinis yang kronis. Oleh karena itu perlu ada upaya praktis dari seluruh stakeholders dengan merubah paradigma pendidikan yang intelektual sentris (kognitif) menuju paradigma
pendidikan yang mampu menyeimbangkan dan menyelaraskan dimensi intelektual (kognitif), dimensi emosional (afektif) dan juga dimensi spiritual. Keseimbangan ketiga dimensi tersebut diperlukan mengingat dalam mengarungi kehidupan, seseorang tidak hanya cukup dengan bekal cerdas secara intelektual, namun lemah dalam pengendalian emosi serta hampa dalam urusan spiritual. Hal ini dikarenakan dalam berhubungan dengan manusia, tidak hanya dibutuhkan orang yang cerdas secara IQ, tetapi juga dibutuhkan orang yang cerdas secara emosi. Selain itu, kesuksesan seseorang dalam kehidupan juga tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi IQ yang dimiliki, tetapi EQ juga sangat berperan dalam segala sendi kehidupan. IQ hanya menyumbang kira-kira 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, sedangkan 80% sisanya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain, termasuk kecerdasan emosi.
12
Contoh sederhana tentang IQ, EQ, dan SQ adalah sebagai berikut:
seorang siswa yang belajar dengan niat supaya menjadi pintar, adalah motifasi intelektual yang bersumber dari IQ. Namun jika siswa itu kemudian melanjutkan: setelah menjadi pintar, ia akan menggunakan kepintarannya untuk menolong sesama manusia, ini adalah motifasi emosional yang bersumber dari EQ. Sedangkan jika masih melanjutkan:
karena belajar dan bermanfaat bagi manusia adalah wujud
pengabdiannya kepada Alloh, maka inilah motifasi spiritual yang bersumber dari SQ. Inilah esensi tertinggi dalam hidup. Bahwa semua kebaikan yang kita lakukan harus di niatkan hanya untuk mencari ridho Alloh, supaya amalan-amalan itu tidak hanya bermanfaat di dunia kita namun juga di akhirat kita. jika IQ dan EQ hanya menjawab pertanyaan tentang apa yang di fikirkan dan apa yang dirasakan, maka SQ ini menjawab pertanyaan yang jauh lebih dalam lagi, yaitu “siapakah aku?
Apa tujuan hidupku?”
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
IQ (Intelligence Quotient) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut. EQ (Emotional Qoutient), menurut Ge Muzaik kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan untuk mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosi, baik emosi dirinya sendiri maupun emosi orang lain, dengan tindakan konstruktif, yang berupaya bekerjasama dengan tim yang mengacu pada
13
produktivitas dan bukan pada konflik. Spiritual Quotient (SQ) adalah suatu kecerdasan dimana kita berusaha menyelesaikan masalah dalam hidup berdasarkan nilai-nilai agama yang diyakini.
Kemunculan IQ akan dapat diketahui tingkat keberadaan dan tinggi IQ seorang anak tersebut. Berkembang bersamaan dengan sejarah manusia itu sendiri, kebutuhan untuk mengatasi,beradaptasi,dan bergaul dengan manusia lain. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai
penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya.
Ukuran keberhasilan seseorang ternyata bukan ditentukan oleh tingkat rasionalitas atau IQ namun ditentukan oleh kecerdasan emosi (EQ). Kecerdasan spiritual mampu mengoptimalkan kerja kecerdasan yang lain. Individu yang mempunyai kebermaknaan (SQ) yang tinggi, mampu menyandarkan jiwa sepenuhnya berdasarkan makna yang ia peroleh, dari sana ketenangan hati akan muncul. Jika hati telah tenang (EQ) akan memberi sinyal untuk menurunkan kerja simpatis menjadi para simpatis. Bila ia telah tenang karena aliran darah telah teratur maka individu akan dapat berfikir secara optimal (IQ).
3.2 Kritik Dan Saran
Setelah memahami apa yang telah dijelaskan dalam makalah diatas diharapkan bagi pembaca agar lebih memperhatikan antara IQ, SQ,dan EQ.
14
15
DAFTAR PUSTAKA
Rohmalina Wahab, Psikologi Belajar¸ Jakarta : Rajawali Pers, 2015.
H. Jaali, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara.
Steven S. Stein, dan Howard, Ledakan EQ :15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional meraih Sukses, Bandung : Kaifa, 2003.
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001.
Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ (Kecerdasan Spiritual), Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007.
Taufik Pasiak, Revolusi IQ/EQ/ SQ, Bandung : Mizan, 2006.
Suriansyah Salati, Hakikat IQ, EQ, dan SQ dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam, Banjarmasin: Antasari Press, 2009.
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam Jakarta:
PT Rajagrafindo Persada, 2002.
Jeanne Segal, Melejitkan Kepekaan Emosional , Bandung: Kaifa, 2000
16