LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI TANAMAN
ISOLASI DAN UJI KUALITAS DNA DAUN NANGKA
Oleh : KELOMPOK 4
1. DEDE SISWANDA (12080210912)
2. FARA FADILA (12080223608)
3. FRYSKA SYNTHIA (12080223549)
4. M. NUR FAJRI (11782101842)
5. PEBRI SABRIAN (12080217045)
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU
2023
ii KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang telah dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Bioteknologi Tanaman yang berjudul “Isolasi dan Uji Kualitas DNA Daun Nangka.” Selanjutnya, shalawat dan salam penulis sanjungkan kepada Rasulullah SAW dan ucapan terima kasih penulis berikan kepada dosen pengampu dan para asdos mata kuliah Bioteknologi Tanaman yang telah memberikan bimbingan, arahan dan saran kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum ini dengan semaksimal mungkin.
Penulis berharap laporan praktikum yang telah dibuat dapat memenuhi harapan serta menjadi sebuah referensi penjelas untuk meningkatkan kualitas belajar dari para pembaca.
Pekanbaru, 21 Juni 2023
Penulis
iii DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR SINGKATAN ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Tujuan ... 2
1.3. Manfaat ... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1. DNA (Deoxyribo nucleid acid) ... 3
2.2. Isolasi DNA Tanaman ... 4
2.3. Uji Kualitas DNA ... 5
III. METODE PELAKSANAAN ... 6
3.1. Tempat dan Waktu ... 6
3.2. Alat dan Bahan ... 6
3.2.1. Isolasi DNA ... 6
3.2.2. Uji Kualitas DNA ... 6
3.3. Cara Kerja ... 6
3.3.1. Isolasi DNA ... 6
3.3.2. Uji Kualitas DNA ... 7
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 8
4.1. Hasil dan Pembahasan ... 8
V. PENUTUP ... 10
5.1. Kesimpulan ... 10
5.2. Saran ... 10
DAFTAR PUSTAKA ... 11
LAMPIRAN ... 13
iv DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
4.1. Hasil Uji Kualitas DNA ... 8
v DAFTAR SINGKATAN
CTAB Cetyl tetrimhetyl ammonium bromide
DNA Deoxyribo nucleid acid
ETDA Ethylen diamene tetra acetic PCR Polymerase chain reaction pH Potential of Hydrogen
PVP Polyvinylpyrrolidone
RNA Ribonucelic acid
TAE Tris acetate EDTA
TBE Tris boric EDTA
vi DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Dokumentasi Praktikum Isolasi DNA ... 13 2. Dokumentasi Praktikum Uji Kualitas DNA ... 14
1 I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bioteknologi merupakan ilmu terapan biologi yang melibatkan disiplin ilmu mikrobiologi, biokimia, genetika dan biologi molekuler. Bioteknologi ini merupakan penerapan teknik pendayagunaan organisme hidup atau bagian dari organisme untuk membuat modifikasi, meningkatkan atau memperbaiki sifat makhluk hidup serta mengembangkan mikroorganisme untuk penggunaan khusus.
Bioteknologi selalu berkaitan dengan reaksi-reaksi biologis atau komponen yang dapat berupa organel sel atau jaringan bahkan molekul-molekul tertentu seperti DNA, RNA, protein atau enzim (Yuwono, 2019). Dalam perkembangan ilmu bioteknologi molekuler, informasi genetik pada tanaman dapat diketahui salah satunya dengan melakukan isolasi DNA.
Isolasi DNA memainkan peranan penting dalam analisis molekuler sebagai langkah utama untuk melakukan penelitian di bidang biologi molekuler.
Isolasi DNA merupakan tahap awal yang dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat DNA. Harahap (2018), menyatakan di dalam sel terdapat molekul DNA yang dapat diekstraksi atau diisolasi dan dapat digunakan untuk amplifikasi dan analisis DNA. Prinsip dari isolasi DNA adalah mendapatkan DNA yang murni yang tidak tercampur dengan komponen sel lainnya seperti karbohidrat dan protein. Sesuai dengan pendapat Stefunova et al., (2015) menyatakan DNA yang diisolasi dari suatu organisme tertentu harus memiliki kemurnian yang tinggi terhadap senyawa-senyawa kontaminan yang berada di dalam sel organisme tersebut.
Keberhasilan dari kegiatan isolasi DNA dapat dilihat dengan melakukan uji kualitas dan kuantitas DNA. Keberhasilan suatu teknik isolasi DNA dapat diketahui dari hasil visualisasi DNA yang menunjukkan kualitas DNA dari kontaminan selain asam nukleat seperti polisakarida dan protein. Pengujian kuantitas dan kualitas DNA genom yang dihasilkan dari isolasi DNA digunakan untuk mengetahui seberapa efektif metode yang digunakan dan seberapa baik serta murninya DN yang diperoleh baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya serta efisiensi waktu pengerjaan. Sari dan Restanto (2022), menyatakan bahwa pengujian kualitas DNA bertujuan untuk mengetahui tingkat kemurnian DNA dari kontaminan RNA serta keutuhan DNA hasil isolasi yang
2 dapat dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer dan elektroforesis gel yang dapat diketahui melalui munculnya pita DNA. Kualitas DNA genom yang baik merupakan hal penting yang dibutuhkan dalam aplikasi biologi molekuler dan dapat digunakan untuk kegiatan seperti pemanfaatan marka molekuler, pembuatan pustaka genom dan sekuensing (Murtiyaningsih, 2017).
1.2. Tujuan Praktikum
1. Mengetahui bahan kimia yang digunakan untuk isolasi DNA tanaman serta fungsinya masing-masing.
2. Mengetahui tahapan-tahapan pekerjaan dalam isolasi DNA.
3. Mengetahui kesuksesan isolasi DNA dengan metode elektroforesis pada gel agarose.
1.3. Manfaat Praktikum
Manfaat dari praktikum ini adalah memperoleh pengetahuan mengenai tahapan-tahapan dalam melakukan proses isolasi DNA dan mengetahui kesuksesan isolasi DNA melalui uji kualitas DNA dengan metode elektroforesis pada gel agrarose.
3 II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. DNA (Deoxyribo nucleid acid)
DNA (Deoxyribo nucleic acid) adalah polimer asam nukleat yang tersusun secara sistematis dan merupakan pembawa informasi genetik yang diturunkan kepada keturunannya. Informasi genetik disusun dalam bentuk kodon yang berupa tiga pasang basa nukelotida (Yosephi dkk., 2016 ). DNA berfungsi untuk mengatur perkembangan biologis seluruh bentuk kehidupan secara seluler. DNA pada organisme tingkat tinggi seperti manusia, hewan dan tumbuhan terdapat di dalam inti sel dan beberapa organ lain di dalam sel seperti mitokondria dan kloroplas. Sehingga penyebutan nama DNA juga didasarkan pada lokasi asalnya.
DNA genome inti berasal dari inti sel, DNA genom mitokondria berasal dari mitokondria serta DNA genom kloroplast berasal dari kloroplast. Perbedaan diantara ketiganya adalah DNA nucleus berbentuk linear dan berasosiasi sangat erat dengan protein histon sedangkan DNA mitokondria dan kloroplas berbentuk sirkular dan tidak berasosiasi dengan protein histon.
Selain itu, DNA mitokondria dan kloroplas memiliki ciri khas, yaitu hanya mewariskan sifat-sifat yang berasal dari garis ibu. Hal ini sangat berbeda dengan DNA nukleus yang memiliki pola pewarisan sifat dari kedua orang induk.
Dilihat dari organismenya, struktur DNA prokariot berbeda dengan struktur DNA eukariot. DNA prokariot tidak memiliki protein histon dan berbentuk sirkular sedangkan DNA eukariot berbentuk linear dan memiliki protein histon (Octavia dkk., 2021).
DNA dapat diisolasi, diamplifikasi dan dianalisis untuk berbagai tujuan seperti mengidentifikasi tanaman atau menentukan hubungan genetik. DNA ditemukan di dalam inti sel organisme eukariotik. DNA harus diisolasi terlebih dahulu sebelum digunakan untuk berbagai tujuan analisis pada tingkat molekuler (Fatchiyah dkk., 2011). Metabolit sekunder dan polisakarida juga dapat menghambat aktivitas enzim, misalnya DNA tidak sensitif oleh enzim retriksi dan dapat mengganggu proses amplifikasi DNA dengan PCR akibat penghambatan aktivitas polymerase. Oleh karena itu diperlukan suatu teknik isolasi DNA genom tanaman yang tepat sehingga diperoleh kualitas DNA yang baik bagi proses amplifikasi PCR (Hairuddin, 2015).
4 2.2. Isolasi DNA Tanaman
Isolasi DNA merupakan salah satu tahap penting dalam kegiatan memperoleh informasi genetik dan analisis genetik. DNA dengan kualitas yang baik digunakan untuk kegiatan seperti pemanfaatan marka molekuler, pembuatan pustaka genom, hingga sekuensing. Secara umum, ekstraksi DNA memiliki beberapa tahapan, yaitu: 1) tahap penghancuran jaringan tanaman menggunakan nitrogen cair atau bufer ekstraksi, 2) tahap eliminasi senyawa kontaminan menggunakan pelarut organik seperti fenol, kloroform dan isoamil alcohol serta 3) tahap presipitasi DNA menggunakan etanol atau isopropanol (Nugroho dkk., 2019).
Permasalahan utama yang sering muncul dalam proses isolasi DNA tanaman adalah kandungan senyawa polisakarida, polifenol, protein, RNA dan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman yang dapat menghambat tahapan isolasi DNA. Metode Cetyl Trimethyl Ammonium Bromide (CTAB) dan kit komersial isolasi DNA merupakan metode isolasi DNA yang paling sering digunakan dalam mengisolasi DNA tanaman. Menurut Triani (2020), kedua metode tersebut memiliki efektivitas yang berbeda dalam mengisolasi DNA tanaman. Perbedaan efektivitas tersebut dipengaruhi antara lain oleh perbedaan komposisi dan senyawa kimia yang digunakan dari masing- masing metode isolasi DNA dan kandungan senyawa-senyawa kontaminan yang berasal dari tanaman yang akan diisolasi.
Metode ekstraksi DNA dengan CTAB akan menghasilkan pita DNA yang berukuran tebal dan dapat memisahkan DNA dari polisakarida karena adanya perbedaan karakteristik kelarutan. Menurut Anuradha et al., (2013) CTAB merupakan deterjen kationik yang bersifat melarutkan membran plasma dan membentuk kompleks ikatan dengan fruktan serta senyawa polisakarida lainnya yang nantinya dapat dihilangkan selama penambahan senyawa kloroform.Metode ini memiliki keunggulan, yaitu tidak membutuhkan biaya yang lebih mahal, mudah, cepat serta hasil isolasi DNA memiliki kemurnian dan konsentrasi yang baik dibandingkan dengan metode isolasi tanaman lainnya (Rizko dkk., 2020).
5 2.3. Uji Kualitas DNA
Isolasi DNA adalah proses pemisahan DNA dari komponen sel seperti protein, membran sel dan komponen sel lain. Teknik isolasi DNA merupakan gabungan dari metode fisika dan kimia. Isolasi DNA menjadi faktor yang penting karena dapat mempengaruhi kualitas DNA.
Setelah DNA berhasil diisolasi, langkah selanjutnya yaitu pengukuran kualitas dan kuantitas DNA. Pengukuran kualitas DNA dilakukan dengan elektroforesis. Elektroforesis adalah teknik yang digunakan untuk memisahkan DNA berdasarkan ukuran (berat molekul) dan struktur fisik molekulnya (Wasdili dkk., 2018). Hasil elektroforesis dilihat secara visual dengan menggunakan alat Biodoc Analyze/Chemi Doc/Gel Doc. DNA berkualitas baik apabila hasil elektroforesis menunjukkan pita DNA yang jelas. Dalam pengujian kualitas DNA digunakan Ethidium Bromide (EtBr) yang berfungsi sebagai pewarna DNA pada gel elektroforesis.
6 III. METODE PELAKSANAAN
3.1. Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Genetika dan Pemuliaan, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Waktu pelaksanaan praktikum ini dilaksanakan pada bulan Juni 2023.
3.2. Alat dan Bahan 3.2.1. Isolasi DNA
Adapun alat yang digunakan adalah mortar dan pestle, microtube 1,5 ml, micropipet ukuran 100-1000 µl, microtipe, pemanas elektrik, freezer, sentrifuse, waterbath, gelas ukur 100 ml, steroform, air destilasi dan kulkas (refrigerator).
Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah daun tanaman nangka, larutan CTAB 10%, Buffer Tris-HCl 1 M pH 8.0, larutan EDTA 0.5 M, pH 8.0, NaCl 5 M, etanol 96% dan etanol 70%, isopropanol dingin, komponen buffer ekstraksi dan kloroform : isoamylalkohol (24:1).
3.2.2. Uji Kualitas DNA
Alat yang digunakan adalah Power supply, seperangkat alat elektroforesis, mikropipet, pipet tipe kuning, beaker glass, pemanas dan stirer. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah agarose, larutan TAE 1x, ethidium bromide, loading dye dan sampel DNA.
3.3. Cara Kerja 3.3.1. Isolasi DNA
Adapun tahapan dalam melakukan isolasi DNA adalah ambil sampel daun nangka sebanyak 0,5 gram, letakkan dalam mortar. Masukkan buffer ekstraksi DNA 500 µl dan PVP 200 µl, kemudian digerus sampai menjadi bubur.
Pindahkan hasil gerusan ke microtube baru (jika terlalu padat tambahkan larutan buffer 300 µl). Inkubasi dalam waterbath pada suhu 65ºC selama 45 menit. Setiap 15 menit divorteks, angkat dan dinginkan sesuai suhu ruangan.
Tambahkan larutan kloroform: isoamylalkohol dengan perbandingan (24:1) sebanyak 500 µl, sentrifuse dengan kecepatan 4.000 rpm selama 9 menit.
Pindahkan fase atas ke dalam microtube baru, ulangi tahapan nomor. 5 sekali lagi.
7 Tambahkan 200 µl NaCl 5 M dan 500 µl isopropanol dingin (atau etanol 96%
dingin) kemudian simpan di freezer selama 15 menit. Kemudian sentrifuse dengan kecepatan 4.000 rpm selama 9 menit. Fase cair dibuang dan pellet yang terbentuk dicuci dengan 300 µl etanol 96%, kemudian sentrifuse pada kecepatan 4.000 rpm selama 9 menit. Ulangi tahapan ini sekali lagi dengan menggunakan konsentrasi etanol 70%. Keringkan pellet DNA dengan menggunakan 50 µl larutan TE.
Simpan di freezer sampai analisis kualitatif dan kuantitatif dilakukan.
3.3.2. Uji Kualitas DNA
Adapun tahapan dalam uji kualitas DNA adalah ambil beaker glass (250 ml), isi dengan larutan TAE 1x sebanyak 50 ml dan agarose 0.4 gram, kemudian campuran dipanaskan menggunakan pemanas, aduk dengan stirrer. Sambil menunggu larutan tersebut mendidih, siapkan cetakan agarose dan sisirnya.
Setelah mendidih, biarkan di suhu ruangan sekitar 30 detik dan tuangkan larutan ke dalam cetakan gel dan simpan di kulkas atau di suhu ruangan. Untuk mempercepat pengerasan agarosenya lebih baik disimpan di kulkas sekitar 20-30 menit. Sambil menunggu gel agarose mengeras, siapkan sampel yang akan dielektroforesis.
Ambil plastik yang telah disterilkan dengan alkohol, kemudian tambahkan DNA hasil isolasi sebanyak 4 µl juga. Gel yang telah mengeras kemudian diletakkan dalam chamber elektroforesis (sisir dicabut secara perlahan sebelum dimasukkan ke chamber elektroforesis). Kemudian diisi dengan buffer TAE 1x hingga gel terendam setinggi 1-2 mm. Posisi sumur harus berada dekat kutub negatif. Sampel yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam sumur yang terdapat pada gel. Alat elektroforesis disambungkan dengan power supply dan disetting tegangannya pada 100 v dengan waktu 30 menit. Gel yang telah selesai dielektroforesis direndam dalam larutan Ethidium bromide dengan konsentrasi 5 µl/500 ml air selama 30 menit, kemudian dibilas dengan aquades. Gel kemudian diletakkan di atas UV transilluminator dan didokumentasikan.
8 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pembahasan
Berdasarkan hasil elektroforesis pada gel agarose yang dilakukan pada praktikum ini menunjukkan bahwa terdapat 4 sampel daun tanaman yang memiliki pita dan 1 sampel daun tanaman tidak terdapat pita. Dimana pada sampel 1,2 dan 3 menunjukkan pita yang tebal dan jelas. Sedangkan pada sampel 4 pita terlihat samar dan pada sampel 5 tidak terlihat adanya pita. Hasil uji kualitas DNA dapat dilihat pada gambar 4.1. dibawah ini.
Gambar 4.1. Hasil uji kualitas DNA
Hasil uji kualitas DNA dengan metode elektroforesis pada gel agarose menunjukkan bahwa pada daun tanaman nangka (sampel 4) terdapat pita akan tetapi terlihat samar. Hal ini menandakan bahwa isolasi DNA berhasil dilakukan akan tetapi kemurnian hasil isolasi DNA masih kurang baik. Pita DNA terlihat samar dapat disebabkan karena konsentrasi DNA yang rendah, terjadinya purifikasi DNA dengan kloroform kurang sempurna sehingga masih terdapat kontaminan pada DNA, cara penggerusan sampel dan cara pengambilan sampel DNA pada tube yang kurang baik. Menurut Harahap (2018) konsentrasi DNA akan berdampak pada kualitas fragmen hasil amplifikasi. Konsentrasi DNA yang terlalu rendah akan menghasilkan fragmen yang sangat tipis pada gel atau bahkan tidak terlihat secara visual, sebaliknya konsentrasi DNA yang terlalu tinggi akan
9 menyebabkan fragmen terlihat tebal sehingga sulit dibedakan antara satu fragmen dengan fragmen lainnya.
Hasil praktikum ini juga menunjukkan terdapat sampel daun tanaman (sampel 5) yang tidak terdapat pola pita pada sampel menandakan bahwa isolasi genom DNA belum berhasil dilakukan. Hal ini diduga karena proses penggerusan sampel tidak sempurna sehingga DNA tidak terekstrak dengan baik. Setiap tumbuhan memiliki kandungan senyawa sekunder di dalam selnya yang berbeda- beda. Sehingga untuk memperoleh DNA genom untuk analisis molakuler diperlukan prosedur yang optimum bagi setiap tumbuhan. Turrahmi dkk. (2021), menyatakan penggerusan sampel yang tidak terlalu kuat menyebabkan komponen- komponen lain tidak pecah secara keseluruhan sehingga masih bisa ditemukan protein dan karbohidrat yang larut.
Dalam isolasi DNA terdapat beberapa faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan dalam kegiatan isolasi DNA, seperti kesehatan dan kebersihan sampel daun yang digunakan, memperhatikan komposisi larutan buffer lisisnya dan teknik penggerusan yang dilakukan. Hasil penelitian Ferniah dan Pujiyanto (2013) pada tanaman cabai menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses isolasi DNA, yaitu kualitas jaringan tanaman yang digunakan, kuantitas jaringan tanaman serta teknik penghancuran jaringan tersebut. Sedangkan Menurut Nugroho dkk. (2015), terdapat tiga faktor penentu dalam proses ekstraksi dan purifikasi DNA secara optimal antara lain proses penghomogenan jaringan tanaman, komposisi penambahan larutan buffer pada saat penggerusan daun/jaringan tanaman sampel dan penghilangan enzim penghambat polisakarida khususnya untuk tanaman tahunan.
Sedangkan dalam proses pengujian kualitas DNA dengan metode elektroforesis juga terdapat beberapa faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan proses elektroforesis diantaranya adalah ukuran molekul DNA, konsentrasi gel agarose, konformasi DNA, voltase, keberadaan pewarna DNA dan komposisi buffer elektroforesis (Fahlevi dkk., 2018).
10 V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Isolasi DNA merupakan tahap awal yang dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat DNA yang dianalisis dengan metode elektroforesis gel agarose.
Keberhasilan dari kegiatan isolasi DNA dapat dilihat dengan melakukan uji kualitas dan kuantitas DNA yang dapat diketahui dari hasil visualisasi DNA yang menunjukkan kualitas DNA dari kontaminan selain asam nukleat seperti polisakarida dan protein.
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan menunjukkan bahwa bahwa pada daun tanaman nangka terdapat pita akan tetapi terlihat samar. Hal ini menandakan bahwa isolasi DNA berhasil dilakukan akan tetapi kemurnian hasil isolasi DNA masih kurang baik. Penyebab pita DNA terlihat samar karena konsentrasi DNA yang rendah dan terjadinya purifikasi DNA dengan kloroform kurang sempurna sehingga masih terdapat kontaminan pada DNA, cara penggerusan sampel dan cara pengambilan sampel DNA pada tube yang kurang baik.
5.2. Saran
Sebaiknya praktikum isolasi DNA dan uji kualitas DNA harus dilakukan dengan teliti, cermat dan hati-hati dalam proses pengerjaannya agar dapat menghasilkan kualitas dan kuantitas DNA yang baik.
11 DAFTAR PUSTAKA
Anuradha, H.J., K. Vijayan, C.V. Nair, and A. Manjula. 2013. A Novel and Efficient Protocol for the Isolation of Genomic DNA from Mulberry (Morus L.). J. Food Agric. 25(2): 124-131.
Fahlevi, M. R., Bakti, D., Sitepu, S. F., dan Prasetyo, A. E. 2018. Karakterisasi Molekuler (Elaeidobius kamerunicus Faust.) Asal Sumatera Utara Menggunakan Metode Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP).
Jurnal Agroekoteknologi, 6(2), 259-270.
Fatchiyah, A. E. L., Widyarti, S., dan Rahayu, S. 2011. Biologi Molekular:
Prinsip Dasar Analisis. Erlangga. Jakarta.
Ferniah, R. S., dan Pujiyanto, S. 2013. Optimasi Isolasi DNA Cabai (Capsicum Annuum L.) Berdasarkan Perbedaan Kualitas dan Kuantitas Daun serta Teknik Penggerusan. Bioma: Berkala Ilmiah Biologi, 15(1); 14-19.
Hairuddin, R. 2015. Analisis DNA pada Tanaman Gandum (Triticumaestivum l.). Jurnal Dinamika, 4(2); 41-46.
Harahap, A. S. 2018. Uji kualitas dan kuantitas DNA beberapa populasi pohon kapur Sumatera. Jasa Padi, 2(02); 1-6.
Murtiyaningsih, H. 2017. Isolasi DNA Genom dan Identifikasi Kekerabatab Genetik Nanas Menggunakan RAPD (Random Amplified Polimorfic DNA). Agritrop, 15(1); 84-93.
Nugroho, K., Terryana, R. T., dan Lestari, P. 2015. Optimasi Metode Isolasi DNA pada Jatropha spp. Jurnal Agroteknologi, 5(2); 15-22.
Nugroho, K., Terryana, R. T., dan Lestari, P. 2019. Metode Ekstraksi DNA Tanaman Tanpa Presipitasi Etanol untuk Kegiatan Polymerase Chain Reaction (PCR). Jurnal Bioteknologi dan Biosains Indonesia (JBBI), 6(1);
29-38.
Octavia, D., Mukaromah, A. S., Martiansyah, I., Mimin, M., Ma'mun, S., dan Rukmanto, H. 2021. Isolasi DNA Tumbuhan Hasil Eksplorasi di Nusakambangan dengan Metode Kit di Laboratorium Treub, Kebun Raya Bogor. In Prosiding Seminar Nasional Biologi, 7(1); 291-299.
Rizko, N., Kusumaningrum, H. P., Ferniah, R. S., Pujiyanto, S., Erfianti, T., Mawarni, S. N., dan Khairunnisa, D. 2020. Isolasi DNA Daun Jeruk Bali Merah (Citrus maxima Merr.) dengan Modifikasi Metode Doyle dan Doyle. Berkala bioteknologi, 3(2); 1-7.
12 Sari, V. K., dan Restanto, D. P. 2022. Review Artikel: Metode Ekstraksi DNA Genom untuk Tanaman Tinggi Kandungan Polisakarida dan Metabolit Sekunder. Agroteknika, 5(2); 118-129.
Stefunova, V. E. R. O. N. I. K. A., Bezo, M. I. L. A. N., Ziarovska, J. A. N. A., and Ražná, K. A. T. A. R. Í. N. A. 2015. Detection of the Genetic Variability of Amaranthus by RAPD and ISSR Markers. Pakistan Journal of Botany, 47(4);1293-1301.
Triani, N. 2020. Isolasi DNA Tanaman Jeruk dengan Menggunakan Metode CTAB (Cetyl Trimethyl Ammonium Bromide). G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan, 3(2); 221-226.
Turrahmi, M., Nurhidayani, N., Hasyimuddin, H., dan Pabendon, M. B. 2021. Uji Kualitas dan Kuantitas Tanaman Jewawut (Setaria italic) di Balai Penelitian Tanaman Serealia Kabupaten Maros. Filogeni: Jurnal Mahasiswa Biologi, 1(2); 57-62.
Wasdili, F. A. Q., dan Gartinah, T. 2018. Penentuan Kualitas Isolasi DNA Salmonella typhimurium dengan Metode Spektrofotometri dan Elektroforesis. Prosiding PIN-LITAMAS 1, 1(1); 578-582.
Yosephi, V., Dhanardhono, T., dan Saebani, S. 2016. Perbedaan Kuantitas Dna Yang Diekstrak Dari Akar Rambut Berbagai Fase Pertumbuhan.
Disertasi. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Semarang.
Yowono, T. 2019. Bioteknologi Pertanian. UGM PRESS. Yogyakarta. 309 hal.
13 LAMPIRAN
1. Praktikum Isolasi DNA
14 2. Praktikum Uji Kualitas DNA