Nama : Fathya Maulida Ayu Moesalevie
NIM : 2212551049
Mata Kuliah : Manajemen Media
ISU DALAM KONVERGENSI MEDIA
Pada tahun 1920, Pierre Teilhard de Chardin, seorang pastor pastor yesuit, membuat konsep dari konvergensi. Lalu McLuhan pada tahun 1964, kembali mengembangkan teori konvergensi Teilhard yang menjadi pondasi untuk teori ini di masa depan. Dennis (2003, p. 7) mengidentifikasi empat tahap dari konvergensi di industry komunikasi, yaitu: “kebangkitan bertahap (incremental awakening)” di 1980, “adopsi dini (early adoption)” awal hingga pertengahan tahun 1990-an,
“penerimaan yang tidak kritis (uncritical acceptance)” akhir tahun 1990, dan “anggapan kegagalan (presumptions offailure)” di awal tahun 2000-an.
Defisi dari konvergensi media berdokus pada konvergensi teknologi, konvergensi fungsional, konvergensi kompetitif/komplementer, dan konvergensi strategis/industri struktur.
Yoffie (1997,p. 2) melihat konvergensi sebagai penyatuan fungsi atau penggabungan produk- produk yang sebelumnya berbeda menggunakan teknologi digital. Sedangkan menurut Greenstein dan Khanna (1997, pp.203-204) konvergensi adalah dua produk yang bersubtitusi ketika pengguna menganggap salah satu produk dapat ditukar dengan yang lain.
Tanpa konvergensi teknologi, sebagian besar jenis manajemen media dan konvergensi ekonomi tidak akan mungkin terjadi. Namun, karena bidang konvergensi media sangat beragam dan berbeda, tinjauan pustaka yang diberikan di bawah ini berfokus secara eksklusif pada studi ilmiah terkait konvergensi di bidang ekonomi dan manajemen media.
Convergence in Substitutes/Complements
Weedon (1996)—The Book Trade and Internet Publishing: A British Perspective
Greenstein & Khanna (1997)—What does industry convergence mean?
Steemers (1997)—Broadcasting is dead. Long live digital choice: Perspectives from the United Kingdom and Germany
Media Industry Structure and Convergence
Vertical/Horizontal Business Structure/Transformation
Collis, Bane, & Bradley (1997)—Winners and losers: Industry structure in the converging world of telecommunications, computing and entertainment
Thielmann & Dowling (1999)—Convergence and innovation strategy for service provision in emerging web-TV markets
Media and Telecommunication Mergers and Acquisitions
Chan-Olmsted (1998)—Mergers, acquisitions, and convergence: The strategic alliances of broadcasting, cable television, and telephone services
Tseng & Litman (1998)—The impact of the Telecommunications Act of 1996 on the merger of RBOCs and MSOs: Case study: The merger of U.S. West and Continental Cablevision
Convergence and Strategic Management
Convergence and the Industrial Organization (IO) View
Chan-Olmsted (1998)—Mergers, acquisitions, and convergence: The strategic alliances of broadcasting, cable television, and telephone services
Dowling, Lechner, & Thielmann (1998)—Convergence—Innovation and change of market structures between television and online services
Convergence and the Resource-Based View (RBV)
Liu & Chan-Olmsted (2003)—Partnerships between the old and the new: Examining the strategic alliances between broadcast television networks and Internet firms in the context of convergence
Convergence and Consumer Demand
Yoffie (1997b)—Introduction: Chess and competing in the age of digital convergence
Dowling, Lechner, & Thielmann (1998)—Convergence—Innovation and change of market structures between television and online services
Lin & Jeffres (1998)—Factors influencing the adoption of multimedia cable technology Convergence and Culture
Singer (1997)—Still guarding the gate?: The newspaper journalist’s role in an online world
Cottle (1999)—From BBC newsroom to BBC newscentre: On changing technology and journalist practices
Palmer & Eriksen (1999)—Digital news—Paper, broadcast and more converge on the Internet
Yoffie (1997b, hlm. 2) berpendapat bahwa, berdasarkan penelitiannya dalam industri komputer, "kesuksesan lebih mungkin muncul dari kombinasi kreatif yang dibangun di atas teknologi yang saling melengkapi." Ini menunjukkan bahwa pasar lebih memilih produk yang berperan sebagai pelengkap daripada sebagai pengganti. Produk baru yang saling melengkapi, tetapi pengganti di bagian lain, juga lebih mudah masuk pasar.
Dampak konvergensi pada struktur industri media menunjukan ketertarikan di antara para sarjana ekonomi dan manajemen media. Dengan menggunakan kerangka kerja fungsional daripada kerangka kerja teknologi untuk meneliti dampak konvergensi pada struktur bisnis multimedia, para peneliti dapat membedah, menganalisis, dan memahami strategi bisnis multimedia dengan lebih tepat. Hal ini juga memberikan wawasan kepada para peneliti tentang model bisnis, yang mungkin terbukti lebih/kurang efektif di area tersebut. Studi ini berfokus pada dua area utama: gagasan bahwa konvergensi mengubah industri media dan telekomunikasi dari bisnis vertikal menjadi segmen horizontal (termasuk implikasi strategis dari transformasi) dan dampak konvergensi pada strategi merger dan akuisisi media dan telekomunikasi.
Penggabungan dan akusisi media dan telekomunikasi juga berdampak besar dalam industri ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Chon, Choi, Barnett, Danowski, dan Joo pada 2003 menunjukan bahwa konvergensi media, deregulasi, dan digitalisasi mendorong konsolidasi industri, dengan puncaknya pada merger AOL–Time Warner. Meski konvergensi ini menjanjikan, hasilnya belum tentu optimal karena biayanya yang tinggi dan ketidakpastian pasar. Studi menunjukan bahwa setelah tahun 1996, perusahaan distribusi lebih dominan dalam M&A dibanding perusahaan
konten. Aliansi lintas industri masih terbatas akibat perbedaan budaya perusahaan. Di Eropa, regulasi merger dinilai belum cukup efektif untuk menjaga keragaman dan persaingan di industri informasi.
Teori dari bidang manajemen strategis menjadi teori yang digunakan dalam penelitian berbasis konvergensi. Liu dan Chan-Olmsted (2003) membedakan dua jenis utama penelitian manajemen strategis: pendekatan yang menghubungkan strategi dengan lingkungan eksternal (pandangan industrial organization/IO) dan pendekatan berbasis sumber daya (resource-based view/RBV) yang menganalisis strategi dan kinerja berdasarkan keunikan sumber daya perusahaan. Banyak studi konvergensi menggunakan pendekatan IO, sementara Liu dan Chan-Olmsted (2003) menjadi satu-satunya contoh studi berbasis RBV dalam konteks konvergensi. Pendekatan IO membantu menganalisis dampak struktur industri terhadap strategi konvergensi media. Menurut Rolland pada tahun 2003, menyatakan bahwa digitalisasi membuat produk media makin mirip, mendorong konvergensi organisasi dan nilai. Chan-Olmsted dan Jung (2001) menemukan bahwa TV AS awalnya fokus memperkuat layanan lewat internet dan ke depannya akan mengembangkan pasar dan produk secara online.
Baru-baru ini, pendekatan resource-based view (RBV) mulai digunakan untuk menganalisis strategi konvergensi perusahaan media. RBV menekankan pentingnya sumber daya internal perusahaan. Liu dan Chan-Olmsted (2003) menemukan bahwa dalam aliansi antara jaringan TV AS dan perusahaan internet, TV menyumbang sumber daya berbasis properti, sementara perusahaan internet menyumbang pengetahuan. Perbedaan kompetensi dan model bisnis membuat aliansi ini sebagian besar berupa investasi kecil, dan jaringan TV dengan lebih banyak aliansi memiliki kehadiran internet yang lebih kuat.
Dowling dkk. (1998) menekankan pentingnya penelitian tentang kebutuhan konsumen seiring perubahan dari komunikasi massal ke komunikasi yang lebih spesifik. Produk konvergensi yang sukses harus memenuhi kebutuhan konsumen dengan cara yang lebih murah atau lebih praktis.
Picard pada tahun 2000, menekankan bahwa konvergensi meningkatkan kecepatan dan fleksibilitas komunikasi, bukan merevolusinya. Studi lain menunjukkan bahwa komputer dan TV melayani fungsi berbeda, perubahan perilaku konsumen akan terjadi secara bertahap, dan produk baru seperti berita online bisa melengkapi atau lambat laun menggantikan media cetak. Selain itu, konsumen lebih tertarik mengadopsi layanan multimedia jika kurang puas dengan layanan lama.
Peneliti media mempelajari dampak konvergensi terhadap budaya media, khususnya integrasi berita cetak, siaran, dan online. Studi menunjukkan konvergensi menuntut jurnalis beradaptasi, meningkatkan beban kerja, dan menuntut kualitas informasi. Keberhasilan konvergensi membutuhkan spesialisasi konten, pelatihan, komunikasi organisasi yang baik, serta strategi yang fokus pada kebutuhan konsumen dan kolaborasi antarplatform.
Kesimpulan
Kemajuan teknologi dan peningkatan layanan data cepat mempercepat perkembangan konvergensi media. Konvergensi terbukti efektif, mendorong para pengusaha media untuk terus mengembangkan strategi berbasis konvergensi. Peneliti media didorong untuk memperkuat dasar teoretis penelitian mereka, meningkatkan riset empiris, dan berfokus pada pertanyaan analitis daripada deskriptif. Studi masa depan disarankan untuk mengkaji dampak konvergensi terhadap aliansi strategis, kinerja perusahaan, rantai nilai, model bisnis, persaingan pasar, serta strategi globalisasi, keuangan, akuisisi, manajemen, dan pemasaran. Konvergensi masih dalam tahap awal penelitian sehingga banyak peluang riset tersedia, dengan tantangan utama adalah mendefinisikan dan mengukur konvergensi secara jelas.
Daftar Pustaka
Albarran A. B., Michael O. Wirth (2006) Handbook of Media Management and Economics.
Chapter 20: Issues in Media Convergence.