ISSN 0216-4329 TERAKREDITASI: A
NO : 179/AU1/P2MBI/8/2009
J PENELITIAN HASIL HUTAN
Joumd of Forest Products Resemh
Vol. 29 No. 4, Desember 2011
KEMENTERLAN KEHUTANAN (Ministry of Forestry)
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN Forestry Research and Development Agency (FOBDA) PUSAT P E N E L I T I A N DAN P E N G E M B A N G A N
K E T E K N I K A N KEHUTANAN DAN P E N G O L A H A N HASIL H U T A N
The Center for Research and Development on Forest Engineering and Forest Products Processing BOGOR - INDONESIA
I
J P E EUTIAN HASIL HUTAN JourmJ of Forest Products Research Vol. 29 No. 4, Desember 2011
Jurnal Penelitian Hasil Hutan adalah publikasi ilmiah bidang hasil hutan, keteknikan hutan dan bidang terkait lainnya, yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Bogor. Jurnal ini telah dinilai oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan diakreditasi sebagai Majalah Berkala Ilmiah yang masuk Predikat A dengan Sertifikat No.: 179/AUl /P2MBI/8/2009.
Journal of Forest Product Research is a scientificpublicatoin reporting researchfindings in thefield offorest products, basic properties as well asprocessing,forest engineering and other related fields. Thejournal has been evaluated by the Indonesian National Science Institute (LIPI) and accredited as a Scientific Periodical Magazine of Good Category (A-gtade) with Certificate number:
1791A U1 /P2MBI/8/2009.
Penanggung jawab {Editor in ctiief) Dewan Redaksi {EditorialBoard):
Ketua (Chairman), merangkap anggota Anggota (Members)
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan Dr. Jr. Maman Mansyur Idris, M.S.
1. Prof. Dr. HR. Sudradjat, M.Sc.
2. Prof. Ir. Dulsalam, MM.
3. Prof. Dr. Gustan Pari, M.Si.
4. Barly, B.Sc. S.H., M.Pd.
5. Dr. Ir. Han RoUadi, MS, M.Sc.
6. Ir, Jamal Balfas, M.Sc.
7. Dr. Ir. Bambang Wiyono, M.Sc.
8. Dr. Drs. Adi Santoso, M.Si.
9. Dra. Gusmailina, M.Si.
10. Dra. Sri Rulliaty, M.Sc.
; 1. Prof Dr. YusufSudoHadi, M.Sc.(Fakultas Kehutanan IPB) 2. Prof. Dr. Surdiding Ruhendi (Fakultas Kehutanan IPB) 3. Prof Dr. Wasrin Syafii, M.Agr. (Fakultas Kehutanan IPB) 4. Prof Dr. EUas, M.Sc. (Fakultas Kehutanan IPB) 5. Prof Dr. Imam Wahyudi, M.S. (Fakultas Kehutanan IPB) 6. Dr. Ir. Ketot N. Pandit (Fakultas Kehutanan IPB) 7. Dr. Ir. Naresworo Nugroho, M.Sc (Fakultas Kehutanan IPB) Sektetariat Redaksi {Editorial Secretariat) :
Ketaa (Chairmati) : Kepala Bidang Pengembangan Data dan Tindak Lanjut Penelitian Anggota (Members) : 1. Kepala Subbidang Data, Informasi dan Diseminasi
2. Drs. JuU Jajuli 3. Sophia Pujiastuti Mitta bestari {Peer reviewei)
Diterbitkan oleh (Publishedby):
Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan {The Centre for Research and Development on Forest Engineering and Forest Products Processing Alamat (Address)
Telepon (Phone) Fax (Faximile) E-mail
Jl. GunungBatuNo. 5,Bogor 16610, Indonesia (0251) 8633378,8633413
(0251)8633413 [email protected]
ISSN 0216 - 4329 TERAKREDITASI: A
N O : 179/AU1/P2MBI/8/2009
IfURNAL
PENEUHAN HASIL HUTAN Journal of Forest Products Research Vol. 29 No. 4, Desember 2011
KEMENTERIAN KEHUTANAN Ministry of Forestry)
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN Forestry Research and Development Agency (FORDA) PUSAT P E N E L I T I A N DAN PENGEMBANGAN
KETEKNIKAN KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN
The Center for Research and Development on Forest Engineering and Forest Products Processing BOGOR - INDONESIA
URNAL
PENELITIAN HASIL HUTAN Journal of Forest Products Research
Vol. 29 No. 4, Desember 2011
UAFTARISI (CONTENTS)
1. K E M U N G K I N A N PEMANFAATAN BEBERAPA JENIS BAMBU TERTENTU, BERDASARKAN POLA PENYUSUNAN BERKAS PEMBULUH, SEBAGAI BAHANBAKU PULP D A N KERTAS
(Possible Uses of Several Particular Bamboo Species, Scrutini^d through the Pattern of Their Vascular Bundle Arrangement, asKawMaterialPulp andPaper)
Nani Nuriyatin & Kurnia Sofyan 287 - 300 2. KUALITAS PAPAN PARTIKEL KAYU KARET {Hevea brasiliensis MueU. Arg) D A N
BAMBU TALI {Gigantochloa afus Kurz) D E N G A N PEREKAT LIKUIDA KAYU (Quality of Particle Board of Poibber Wood (Hevea brasiliensis Muell.Arg) and Tali Bamboo (Gigantochloa apus Kurz) with WoodUquidsAdhesive)
AryWidiyanto 301-311 3. PEMANFAATAN L I G N I N HASIL ISOLASI DARI L I N D I H I T A M PROSES
BIOPULPING BAMBU B E T U N G (Dendrocalamus asper) SEBAGAI M E D I A SELEKTIF JAMUR PELAPUK PUTIH
(Lignin Use of Isolation Process from Black Uquor on The Biopulping of Betung Bamboo (Dendrocalamus asper) as Selective MediaforWhite-rotFungi)
Sita Heris Anita, Dede Heri Yuli Yanto & Widya Fatriasari 312 - 321 4. AKTWITAS ANTIOKSIDAN D A N TOKSISITAS EKSTRAK KULIT KAYU RARU
(Cotylelobium sp.)
(Antioxidant andToxicity Activity of Ram (Cotylelobium sp.) Stem Bark
GunawanPasaribu&TitiekSetyawati 322-330 5. SAWING RECOVERY OF SEVERAL SAWMILLS I N JEPARA
(Rendemen Penggergajian Beberapa KilangPenggergajian diJepard)
Jamaludin MaUk& Gary P. Hopewel 331 -342 6. ESTIMASI POTENSI BIOMASSA D A N MASSA KARBON H U T A N T A N A M A N
Acacia crassicarpa D I L A H A N GAMBUT (Studi Kasus di Areal H T I Kayu Serat di Pelalawan, Propinsi Riau)
(Estimating Biomass and Carbon Mass Potency of Wood Plantation of Acacia crassicarpa Growing on PeatEand Site (A Case Study on Fiber Wood Plantation Area atPelalawan, Riau Province))
Yuniawati, Ahmad Budiaman & Elias 343-355 7. PERBANDINGAN CIRI A N A T O M I KAYU D A N KULIT 3 JENIS PULAI
(Alstonia sp.)
(The Comparison of Wood and BarkAnatomj on Three Pulai Species (Alstonia sp.j)
Andianto 356 - 368 8. PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PEMANENAN KAYU MELALUI T E K N I K
P E M A N E N A N K A Y U R A M A H L I N G K U N G A N : KASUS D I SATU PERUSAHAAN HUTAN RAWA GAMBUT D I K A L I M A N T A N BARAT
(Increasing logging productivity through reduced impact logging technique: A case study at a peat swamp forest company in West Kalimantan)
Sona Suhartana & Yuniawati 369-384
9. IndeksPengarang 385-387
PRNAL
J PENEUTIAN HASH HUTAN
Journal of Forest Products Research
ISSN 0216 - 4329 Vol. 29 No. 4, Desember 2011
Kata kunci yang digunakan adalah istUah bebas. Lembar abstrak ini boleh dikopi tanpa ijin atau biaya
ABSTRAK
UDC (OSDC) 630*861
Nani Nuriyatin & Kurnia Sofyan (Program Pascasarjana Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan IPB)
Pemanfaatan Pola Ikatan Pembuluh Bambu Sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas
J. PeneHt. Has. Hut. Des. 2011, Vol 29 No. 4, him. 287 - 294 Ketersediaan bahan baku bambu yang berlimpah diharapkan dapat menggantikan posisi kayu terutama dalam peranarmya sebagai bahan baku dalam pembuatan pulp dan kertas. Adapun tujuan penelitian ini adalah mendapatkan informasi mengenai kemungkinan penggunaan bambu sebagai bahan baku pulp dan kertas setelah bambu terlebih dahulu dikelompokan ke dalam pola ikatan pembuluh. Pendekatan yang dilakukan adalah melalui pengukuran dimensi serabut dan turimannya. Bahan penelitian adalah 8 jenis bambu yang mewakili 4 pola ikatan pembuluh.Pengolahan data menggunakan fungsi peluang serta anaHsa keragaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap pola ikatan pembuluh pada bambu memiliki panjang serabut dan daya tenun yang termasuk ke dalam kelas I sementara rulai mrunan lain seperti fleksibilitas, koefisien kekakuan, runkel ratio dan muhlstep ratio termasuk ke dalam kelas III. Karakter khas yang dimiliki oleh pola ikatan pembuluh 1 adalah mempunyai fleksibilitas yang paling tinggi dibandingkan dengan pola-pola lain serta memiliki rulai koefisien kekakuan serta runkel ratio yang paling rendah dibandingkan dengan pola-pola lain. Sedangkan pola ikatan pembuluh 4 mempunyai karakter dengan panjang serabut dan daya tenun yang paling tinggi dibandingkan dengan pola-pola lain.
Kata kunci: Pola ikatan pembuluh, dimensi serabut dan turunarmya.
UDC (OSDC) 630*832.29
AryWidiyanto (Balai Penelitian Teknologi Agroforestry)
KuaUtas Papan Partikel Kayu Karet (HeveaBrasiliensisMacil. Arg) dan Bambu Tali (gigantochloa Apus Kurz) dengan Perekat Likuida Kayu J. PeneUt. Has. Hut. Des. 2011, Vol 29 No. 4, Mm. 295 - 306
Pemakaian perekat alami likuida kayu (wood liquids adhesive) dengan campuran kayu karet dan bambu taU dimaksudkan sebagai upaya pemanfaatan limbah kayu karet dan bambu tali, di samping sebagai substitusi perekat sintetis. Dalam penelitian ini digunakan analisis faktorial 3x3 dalam rancangan acak lengkap dengan dua kali ulangan. Faktor-faktor yang diteliti adalah jenis partikel (karet, bambu tali dan campurannya dengan perbandingan 50: 50 berdasarkan berat kering tanur) dan kadar perekat (10%, 15% dan 20%). Hasil penelitian menunjukan bahwa perekat likuida kayu memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pH kurang dari 1, viskositas sebesar 2,03 poise, kadar padat perekat 91%, waktu gelatinasi (90) 9 menit 48 detik, berat jenis 1,153 dan warna perekat hitam. Berdasarkan ciri tersebut, perekat likuida kayu belum memenuhi syarat SNI 06-0121-1987 untok perekat phenol formaldehida. Papan partikel campuran kayu karet dan bambu taH memiliki kerapatan 0,83 g/cm, kadar air 6,9%, pengembangan tebal 19%, daya serap air 28%, MOE 10540 kgf/cm", MOR 258 kgf/cm\n Internal Bond (IB) 2,2 kgf/cml Berdasarkan ciri tersebut, papan partikel tersebut belum memenuhi syarat SNI 03- 2105-1996 untuk papan partikel berkerapatan sedang (medium density particleboard).
Kata kunci: Perekat, likuida kayu, kualitas, papan partikel.
UDC (OSDC) 630*813.11
Sita Heris Anita, Dede Heri Yuli Yanto & Widya Fatriasari (UPT Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial, LIPI, Cibinong -Bogor)
Pemanfaatan Lignin Hasil Isolasi dari Lindi Hitam Prosesbiopulping Bambu Betung {dendrocalamus Asper) Sebagai Media Selektif Jamur Pelapuk Purih
J. Penelit. Has. Hut. Des. 2011, Vol 29 No. 4, him. 307 - 315 Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manfaat Ugnin hasil isolasi proses biopulping sebagai media selektif untuk jamur pelapuk putih. Lignin hasil isolasi ditambahkan pada media untuk uji selektifitas Phanerochaete crysosporium dan Trametes versicolor. Pengujian selektifitas jamur pada media lignin menunjukkan fungi T. versicolor mensekresi enzim lebih cepat daripadaP. chrysosporium.
Kata kunci: Lignin, lindi hitam, biopulping, jamur pelapuk putih, media selektif
UDC (OSDC) 630*811.7
Gunawan Pasaribu & Titiek Setyawari (Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan)
Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak Kulit Kayu Raru (Cotylelobium sp.)
J. PeneUt. Has. Hut. Des. 2011, Vol 29 No. 4, him. 316 - 324
Penelitian tumbuhan obat terus berkembang seiring dengan minat masyarakat pada bahan obat yang berasal dari alam yang berhubungan dengan keamanannya dibanding dengan obat sintetik. Salah satu kulit kayu yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara yang lebih dikenal dengan sebutan raru diidentifikasi sebagai Cotylelobium sp, sudah sangat luas dimanfaatkan oleh masyarakat di Sumatera Utara. Kulit kayu ini biasanya digunakan oleh masyarakat sebagai campuran minuman tuak (minuman tradisional Batak). Masyarakat juga meyakini kulit kayu raru dapat digunakan sebagai obat penurun kadar gula darah (and diabetes).
Penelitian ini bertajuan untuk mendapatkan data potensi antioksidan dari kulit kayu raru dengan metoda DPPH dan mengetahui toksisitas ekstrak menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSUT) • HasU penelitian menunjukkan bahwa rendemen ekstrak Cotyklobium melanoxjilon Pierre adalah 30,11% dan Cotylelobium lanceolatum Craib sebesar 14,50%. Uji fitokimia menunjukkan kedua jenis ekstrak mengandung flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid dan hidrokuinon. Ekstrak Cotyklobium melanoxylon Pierre memiliki aktivitas antioksidan terhadap radikal DPPH dengan nilai ICjo sebesar 108,487 ppm dan Cotylelobium lanceolatum Craib memiliki nilai ICso sebesar 77,909 ppm. Selanjumya, toksisitas Cotylelobium melanoxjilon Pierre memiliki nilai LC,, sebesar 643,550 ppm and Cotyklobium lanceolatum OTeOTaSf>faLC;„sebesar 767,191 ppm. .
Kata kunci: Tumbuhan obat, raru, antioksidan, toksisitas
Hopewel (Forest Product Innovations, Agri-Science Queensland Salisbury Research Centre)
Rendemen Penggergajian Beberapa KUang Penggergajian di Jepara
J. PeneHt. Has. Hut. Des. 2011, Vol 29 No. 4, him. 325 - 336 Dalam situasi kekurangan bahan baku, para pengrajin furnitur harus mcmanfaatkan kayu secara efisien. Peningkatan efisiensi yang bertujuan untuk meningkatkan rulai tambah industri kecil menengah (IKM) furnitur di Jepara perlu dilakukan sejak tahap pertama pengolahan kayu, yaitu penggergajian yang mengkonversi log menjadi kayu gergajian.
PeneHtian telah dilakukan terhadap peningkatan angka rendemen kayu gergajian melalui pembuatan papan jeblosan sebagai bahan baku furnitur di Jepara. Pola penggergajian yang digunakan adalah pola satu sisi. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengukuran angka rendemen dari proses penggergajian selama sam hari penuh di setiap empat sampel iadustri penggergajian dan sam pengrajin yang menggergaji kayu dengan gergaji rantai.
Hasil peneUtian menunjukkan bahwa angka rendemen dari kilang penggergajian di Jepara mencapai 70 - 80 %. Angka ini relatif lebih tinggi karena pola penggergajian yang digunakan adalah pola sam sisi dan kayu gergajian yang dihasilkan tidak mengalami perataan sisi atau digergaji ulang menjadi papan persegi. Dibandingkan dengan ketentuan yang dikeluarkan pemerintah, kilang penggergajian di Jepara telah mempraktekan penggergajian yang efisien..
Kata kunci: Rendemen penggergajian, papan jeblosan, bahan furnitur,Jepara
Hutan)
Estimasi potensi biomassa dan massa karbon hutan tanaman Acacia Crassicarpa di lahan gambut (Studi kasus di areal H T I kayu serat di Pelalawan, Propinsi Riau)
J. PeneUt. Has. Hut. Des. 2011, Vol 29 No. 4, him. 337 - 349 Tujuan peneUtian adalah mendapatkan potensi biomassa dan massa karbon pohon A . crassicarpa yang mendominasi tegakan hutan tanaman kayu serat berlokasi di areal lahan gambut, sektor Pelalawan, propinsi Riau. HasU peneUtian menunjukkan bahwa potensi biomassa tegakan A . crassicarpa pada kelas umur 2,3,4 dan 5 tahim berturut-torut sebesar 44,98;
70,35; 134,5; dan 234,78 tons/ha, dan potensi massa karbon pohon tegakannya berturut-turut sebesar 12,09; 36,23;76,09 dan 133,10 tons/ha.
Kata kunci: Hutan gambut, tegakan pohon Acacia crassicarpa, nUai dan potensi biomassa dan massa karbon, perhitungan persamaan alometrik
U D C (OSDC) 630*811.1
Andianto (Pusat PeneHtian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan)
Perbandingan Ciri Anatomi Kayu dan KuHt 3 Jenis Pulai [alstonia Sp.)
J PeneHt. Has. Hut. Des. 2011, Vol 29 No. 4, him. 350 - 362 Pulai (Alstonia sp.). yang termasuk ke dalam suku Apocynaceae banyak diinformasikan mengandung getah yang sering digunakan sebagai obat tradisionil. Dalam berbagai Hteratur, jenis pohon berkhasiat obat sudah banyak disinggvmg namun diskripsi anatomi kayu maupun kuUt (pepagan) jenis Pulai hingga tingkat species masih belum banyak ditemui.
Contoh kayu dan kuHt Alstonia scholaris, A.angustikba dan A . pneumatophora disayat dengan mikrotom untuk memperoleh sayatan tipis guna pengamatan struktur anatomi. Dimensi sel pembuluh dan serat kajru diukur melalui preparat maserasi. HasU pengamatan menunjukkan bahwa kayu dari ketiga jenis Pulai ini dapat dibedakan diantaranya berdasarkan perbedaan diameter dan frckuensi sel pembuluh, tipe dan susunan sel parenkim serta lebar sel jari-jari. KuHt ketiga jenis ini dapat dibedakan melalui bentuk sel sklereid dan kehadiran jari-jari terdilatasi (sel jari-jari yang mengalami pelebaran).
Kata kunci: Apocynaceae, pulai, kayu dan kuHt (pepagan), struktur anatomi
U D C (OSDC) 630*38
Suhartana, S. & Yuniawati. 2011. (Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan HasU Hutan).
Peningkatan Produktivitas Pemanenan Kayu melalui Teknik Pemanenan Kayu Ramah Lingkungan: Kasus di Satu Perusahaan Hutan Rawa Gambut di Kalimantan Barat.
J. PeneUt. Has. Hut. Des. 2011, Vol 29 No. 4, him. 363 - 378 Tujuan peneUtian ini adalah unmk mengetahui besarnya peningkatan produktivitas, penurunan biaya produksi, subsidensi dan fluktuasi tinggi muka air dari penerapan teknik pemanenan R I L di hutan rawa gambut. HasU peneUtian menunjukkan bahwa apabUa R I L diterapkan pada kegiatan penebangan, penyaradan, muat-bongkar dan pengangkutan, 1.
Dapat meningkatkan produktivitas masing-masing sebesar 0,946 m'/jam, 2,449 mVjam, 1,96 mVjam, 1,871 mVjam, dan 2,158 m /jam; 2. Dapat mengurangi biaya produksi masing-masing sebesar Rp 992,1 /m', Rp 3.088,6/m', Rp 127,9/m', Rp 99,7/m', dan Rp 158,6/m'; 3. ApabUa menerapkan teknik R I L dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan kayu sebesar 6% yang setara dengan tambahan keuntungan Rp 74.400.000/tahun.
Dengan demikian terbuka peluang bagi perusahaan untuk serius menerapkan teknik penebangan RIL; 4. Rata-rata subsidensi adalah 0,375 cm/tahun lebih kecU daripada PP Nomor 150 Tahun 2000. 5. Rata-rata tinggi muka air di petak tebang dan di kanal adalah 61,75 cm dan 52,25 cm.
Kata kunci: Teknik RIL, lahan gambut, produktivitas, biaya, efisiensi.
f
"=
0
ISSN 0216 - 4329
»
•U]
PE
Jouina
EUHAN HASIL HUTAN
/ of Forest Products Research
Vol. 29 No. 4, December 2011
Keywoords given are free terms. Abstracts may be reproduced without permission or charge ABSTRACT
UDC (OSDC) 630*861
Nani Nuriyatin <& Kurnia Sofyan (Graduate School of Forestry Science Studies hogor Agricultural University)
Manufacture of PulpfromEmptyOil-PalmFruitBunchesforPaperhoard J. of Forest Products Research. Dec2011, Vol29NO. 4,pp 287-294
The abundance of bamboo offers a possibility of replacing wood by bamboo, includingin the production of pulp and paper. The purpose of this researchis toexaminethe possibility to use bambooasraw material forpulp andpaper after the bamboo is first grouped into apatternof vascular bundles.
The approach used is measurement of fiber dimensions and its derivatives.
The research materials areSspecies representing 4 bamboo patternsof vascular bundle. Datawas analy^d using the opportunity functionand analysis of variance. The results howed that any pattern of vascular bundlesin bamboof ibersandweavingpower belongs toclass I, while thevalue of other derivatives such as flexibility, stiffness coefficient, runhelratio and muhlstepratio belong to class III. Vascular bundlepatem 1 has the highest flexibility andthe lowest coefficient of stiffness and runkel ratioas
comparedwiththe otherpatterns. Whilethe patternof vascular bundles 4 is characterised with longestfiber and the highest weavingpower as comparedto theotherpatterns.
Keyword: Patternof vascular bundles,fiber dimension and derivative.
UDC (OSDC) 630*832.29
Ary Widiyanto (BalaiPenelitian Teknologi Agroforestry)
Quality of Particle Board of Rubber Wood (Hevea brasiliensis Muell.Arg) and Tali Bamboo (Gigantochloa apus Kurz) with Wood UquidsAdhesive
J. of ForestProducts Research. Dec2011, Vol29 NO. 4,pp 295 - 306 As an effort to utili:^ rubber wood waste and the abundant resource of tali bamboo a study of producingparticle board using a mix of the two materials was conducted. In addition, in order to find an alternative to synthetic adhesive, natural adhesive of wood liquid was used. This research was conducted in a 3x3 factorial analisys in acomplete randomis^ed block design with two replicates. The factors studied were the type of particles (rubber, bamboo rope and mixtures with a ratio of 50: 50 by oven dry weight) and levels of adhesive (10%, 15% and 20%. Results show that wood liquids adhesive is characterised with pH < 1, viscosity 2,03 poise, solid content 91%, gelatin time (90) 9 min 48 sec, spesiftcgravity 1,153 and having black colour. The characteristics do not fulfil requirement of SNI 06-0121-1987for phenol adhesive. The produccedparticle board has a density of 0,83 glcm\ content 6,9%, thickness swelling 19%, water adsorbtion 28%, MOE 10540 kglcm\ 258 kg/cm', and Internal Bond (IB) 2,2 kg/ cm'. The characteristics also do not fulfill the requirement of SNI 03-2105-1996for medium density particleboard.
Further research is still needed to meet the SNI requirements.
Keyword: Adhesive, wood liquids, quality, particle board UDC (OSDC) 630*813.11
Sita Heris Anita, Dede Heri Yuli Yanto <& Widya Fatriasari (UPT Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial, LIPI, Cibinong -Bogor) Ugnin Use of Isolation Process from Black Uquor on The Biopulping of Betung Bamboo (Dendrocalamus asper) as Selective Media for White- rotFungi
J. of ForestProducts Research. Dec2011, Vol29 NO. 4,pp. 307-315 The purpose of study was to evaluate the isolated lignin from biopulping as medium selective for white-rotfungi. The isolated lignin was added to media to test the selectivity of Phanerochaete crysosporium and Trametes versicolor. En^me secretion from T. versicolor occurs more rapidly than P. chrysosporium on selective media.
Keyword-.Ugnin, black liquor, biopulping, white-rot fungi, selective media
UDC (OSDC) 630*811.7
Gunawan Pasaribu Titiek Setyawati (The Centre for Research and Development on ForestFngtneering and ForestProducts Processing) AntioxidantandToxicity Activity of Raru (Cotylelobium sp.) StemBark J. of ForestProductsResearch. Dec2011, Vol29NO. 4,pp 316-324
Research on natural medicinal plants has been growing due to the increasing interest to natural meMcinal material that is considered safer than synthetic medicines. In North Sumatera, bark of Cotylelobium sp which is locally known as raru, has been widely utilii^ed by the local community. The skin bark of this species is commonly used as a mixture of "nira" to produce "tuak"
(Batak's traditional alcoholic liquor). In addition, local community has been using this species for traditional healing as well This research is to study the potency of raru's skin bark inproducingantioxidantusingDPHHmethod. The
toxicity activity of the material was also examined using Brine Shrimp Tethality Test (BSLT) method. Results show that the yield extract of Cotylelobium melanoxylon Pierre was 30.11% and Cotylelobium lanceolatum Craib was 14.50%. Both extracts contains flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid and hidroquinon. The extract of Cotylelobium melanoxylon Pierre has antioxidant activity against DPPH radical with value of IC„ as much as 108.487ppm and 77.909ppm for Cotylelobium lanceolatum Craib. Furthermore, the toxicity of Cotylelobium melanoxylon Pierre was 643.550 ppm and Cotyklobium lanceolatum Craib was 767.191ppmU,^
Keyword: Medicinalplant, raru, antioxidant, toxicity
Product Innovations, Agri Science Queensland Salisbury Research Centre) SawingRecoveiy of Several Sawmills in Jepara
J. of ForestProductsR£search. Dec2011, Vol29NO. 4,pp 325-336 In the situation of wood material shortage, it is important to furniture manufacturers to efficiently utili^ie the wood. Increasing efficiency for improving value added of small medium enterprises of wood furniture
industries in jepara should be carried out from the first stage in wood processing: sawing that will convert logs into sawn timber.
A study has been carried out on improving sawing recovery of sawntimber by live-sawing pattern to make loseware lumber for furniture material in Jepara region. This study was done by investigating the current sawing recovery data as determined during onefull day'sprocessing at each of thefour bandsaw mill facilities and one chainsaw/ carvingfarility.
The results indicate that the current recovery rate of sawmilling services companies in Jepara reached 70 - 80 %. These recoveries are relatively high due to the live sawing pattern used and the fact that sawn boards were not edged or resawn into square pieces at the mill Compared to existing rules and the Government standard for calculating the recovery rate, sawmilling service companies in Jepara have practiced efficientprocessing in sawing.
Keyword: Sawn-recovery, live-sawing, loseware lumber, furniture material, Jepara
Estimating Biomass and Carbon Mass Potency of Wood Plantation of Acacia crassicarpa Growing on PeatEand Site (A Case Study on Fiber
Wood Plantation atPelalawan, Riau Province
J. of ForestProducts Research. Dec2011, Vol29 NO. 4,pp 337 - 349 The research obfectives was to obstain the biomass and carbon mass potency of A crassicarpa tree. Pledominantly growing on fiber wood plantation forest, situated at a peat land area, Pelalawan sector, Riau Province. The result showed that the biomass potency of thosestandof 2,3,4 and 5years old was consecutively 44.98; 70.35; 134.05; and 234.78 tons! ha. Meanwhile, the corresponding value for carbon mass potency amountedto 12.09;36.23;76.09andl33.10tons/ha, respectively Keyword: Peat forest. Acacia crassicarpa, tree stands, biomass and
carbon mass content and potency, allometric equation estimation.
UDC (OSDC) 630*811.1
Andianto (The Centre for Research and Development on Forest Engineering and ForestProducts Processing)
The Comparison of Wood and Hark Anatomy on Three Pulai Species (Alstonia sp)
J of ForestProductsResearch. Dec2011, Vol29N0.4,pp 350-362 Pulai (Alstonia sp.j belonging to the family Apocynaceae, produces latex which is frequently used as a traditional medicine. Various literatures on medicinal tree species frequently mention about it, but a description of the wood and bark anatomy of pulai up to the species level is hardly found. Anatomical structure of wood and bark of Alstonia scholaris, A. angustiloba and A.
pneumatophora were observed on samples produced using a microtome.
Dimensions of wood fiber and vessel cells also were measured. Observations showed that the three species of pulai wood can be distinguishedfrom the differences in diameter and frequency of vessel cells, type and arrangement of parenchyma cells, width and composition of the ray cells. The bark of these species can be distinguished based on theform of sklereid cells and the presence of dilationed ray cells (widening ray cell).
Keyword: Apocynaceae, pulai, woodandbark, anatomical structure
UDC (OSDC) 630*38
Suhartana, S. <&Yuniawati. 2011. (CenterforResearchandDevelopment on Forestry Engineering and ForestProducts Processing).
Increasing loggingproductivity through reduced impact logging technique: A case study at apeat swamp forest company in West Kalimantan)
J of ForestProductsResearch. Dec2011, Vol29N0.4,pp 363 - 378 This study examinedpossibility of increasingproductivy, decreasing logging cost, subsidence, and water fluctuation using R I L technique. Results revealed that the use of RIL in felling, skidding, loading, un-loading, and hauling atpeat swampforest could: 1. Increase productivityfor each activity of consecutively 0,946 m'1 hour, 2,449 m'1 hour, 1,96 m'1 hour, 1,871 m'/hour, and 2,158 m'/hour; 2. Decreased production cost of Rp 992,11m', Rp 3.088,6/m', Rp 127,9/m', Rp 99,7/m', and Rp 158,6/m consecutively; 3. Inceased timber efficiency utilisation (TUE) about6% equal toRp74,400,000/year;4.Subsidenceproceededat0.375 cm/year rate, which corresponded to 1.875 cm infiveyears. This figure was still lower than that stipulated in the Indonesia's Government Decree (PP) No. 150-2000. The averages of water level at logging site and canal were 61.75 cm and52.25 cm, respectively.
Keyword: RIL technique,peatlands,productivity, cost, effidency.
KEMUNGKINAN PEMANFAATAN BEBERAPA JENIS BAMBU TERTENTU, BERDASARKAN POLA PENYUSUNAN BERKAS PEMBULUH, SEBAGAI BAHAN BAKU PULP DAN KERTAS
(Possible Uses of Several Particular Bamboo Species, Scrutinized through the Pattern of Their Vascular Bundle Arrangement,
as Raw Material Pulp and Paper) Oleh/By:
Nani Nuriyatin & Kurnia Sofyan
Program Pascasarjana Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan IPB Jl. Lingkar Akademik Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
Telp. +62 251 862677 Fax. +62 251 862 256 e-mail : [email protected] Diterima 17 Januari 2011, disetujui 7 Oktober 2011
ABSTRACT
The abundant availability of bamboos in Indonesia has prompted their possible uses as raw material for pulp and paper. This is expected to replace its corresponding conventional raw materials (i.e. woods),which nowadays tend to be dwindling, scarce, and limited. In relevant, this research aims to assess the suitability of bamboo stem for such comprision several species. The grouping of bamboo species brought out the results,i.e. Arundinaria hundsii and Arundinaria
javonica as pattern 1; and as pattern 2;
and Dendrocalamus giganteus as pattern 3; and r and as
patterns 3 and 4). In assessing the bamboo suitability for pulp and paper, an approach was taken whereby the bamboo species in the particular pattern was examined of fiber dimensions (i.e. fiber length, fiber flexibility, rigidity coefficient, Runkel ratio, and Muhlstep ratio). To evaluate whether there were significant differences in the examination/determination results among those 4 patterns, the analysis of variances (probability levels)with completely standardized one-factor design was employed followed with the different range test of the resulting means (i.e. Tuckey procedures). The factor was those four bamboo patterns.
Results revealed that each of those four patterns based on fiber length and felting power belonged to class I, indicating as the most favourable for pulp and paper. Meanwhile, other scrutiny based on fiber flexibility, rifidity coefficient, Runkel ratio, and Muhlstep ratio turnd out that all the patterns belonged to class III. Further, bamboo species catagoried as pattern I exhibited species characters such as affording the highest fiber flexibility and lowest rigidity coefficient as well as runkel ratio compared to those of the ather patterns. Meanwhile, bamboo species in pattern 4 exhibited the highest fiber length and felting power. Ultimately, assessment on the overall fiber dimensions and their derived values came about that all the four bamboo pattern belonged to class III, as indicative qualities of the resulting pulp and paper However, to make sure whether such indication proved true, further in-depth research on the pulp and paper processing from those entire bamboos (pattern 1 until 4) deserves carrying out.
Abundant availability, pulp and paper, bamboo spesies, patterns of vascular bundles arrangement, fiber dimension and their derivative values.
Cephalostachyum pergracile Melocanna baccifera Dendrocalamus
strictus Dendrocalamus aspe Gigantochloa apus
Keyword :
ABSTRAK
Ketersediaan bahan baku bambu yang berlimpah di Indonesia telah mendorong kemungkinan penggunaan bambu sebagai bahan baku untuk pulp dan kertas. Hal ini diharapkan untuk menggantikan bahan baku konvensional (dalam hal ini kayu) yang mana sekarang cenderung menurun, langka dan terbatas. Terkait dengan hal ini, penelitian bertujuan untuk menilai kesesuaian batang bambu dari spesies tertentu untuk hal trsebut diatas. Pengelompokan spesies bambu menetapkan hasil yaitu
dan sebagai pola 1, dan
sebagai pola 2, dan sebagai pola 3, dan
sebagai pola 3 dan 4. Dalam penilaian kesesuaian bambu untuk pulp dan kertas, sebuah pendekatan diambil dengan cara spesies-spesies bambu dalam pola tertentu diamati dimensi serabutnya (yaitu panjang serabut, fleksibilitas serabut, koefisien kekakuan, nisbah Runkel dan nisbah muhlstep).
Untuk mengevaluasi apakah ada perbedaan signifikan dalam pengamatan/ penentuan hasil diantara ke-4 pola, analisis keragaman berpola acak lengkap satu factor diterapkan yang diikuti oleh uji perbedaan rata-rata hasil tersebut (prosedur Tuckey). Dan sebagai factor adalah 4 pola.
Hasilnya menyatakan bahwa setiap pola berdasarkan panjang serabut dan daya tenun termasuk ke dalam kelas I, menunjukkan sebagai bahan terbaik untuk pulp dan kertas. Sementara pencermatan berdasarkan fleksibilitas serabut, koefisien kekakuan, nisbah Runkel, dan nisbah Muhlstep seluruhnya termasuk ke dalam kelas III. Lebih lanjut, spesies bambu dikatagorikan sebagai pola I menunjukkan karakter spesies seperti menghasilkan fleksibilitas serabut tertinggj dan koefisien kekakuan dan nisbah Runkel terendah dibandingkan dengan pola-pola lain. Sementara itu spesies bambu dalam pola 4 memiliki panjang serabut dan daya tenun tertinggi. Pada akhirnya, pencermatan pada seluruh dimensi serabut dan nilai turunannya menyatakan bahwa seluruh 4 pola bambu termasuk ke dalam kelas III sebagai indikasi mutu dari pulp dan kertas yang dihasilkan. Bahkan untuk menjamin apakah indiksi ini benar, memerlukan riset mendalam pada proses pembuatan pulp dan kertas dari seluruh bambu (pola 1 sampai 4) yang sebaiknya dikerjakan.
Ketersediaan yang berlimpah, pulp dan kertas, spesies bambu, susunan pola ikatan pembuluh, dimensi serabut dan turunannya.
Arundinaria hundsii Arundinaria javonica Cephalostachyum pergracile Melocanna baccifera Dendrocalamus strictus Dendrocalamus giganteus Dendrocalamus asper Gigantochloa apus
Kata kunci :
I. PENDAHULUAN
Keperluan serat pulp untuk pembuatan kertas terus meningkat. hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini dipicu dengan ketersediaan kayu khususnya dari hutan alam yang semakin terbatas dengan harga semakin mahal. Khusus untuk Indonesia yang berada di daerah tropis, tanaman bambu merupakan salah satu alternatif pilihan bahan baku pulp dan kertas paling penting (Lybeer 2006). Bambu memiliki keunggulan jika digunakan sebagai bahan baku kertas antara lain adalah laju pertumbuhan yang cepat dan mudah diputihkan setelah diolah menjadi pulp menggunakan proses kraft karena tekstur bambu sebagai tanaman monokotil (di mana lebih banyak jaringan parenkim) sehingga tidak sepadat kayu (Stephenson 1952; Casey 1980). Sebaliknya kerugiannya adalah adalah kandungan lignin yang lebih tinggi dan keberadaan jaringan parenkim tersebut berakibat konsumsi bahan kimia pemasak selama pengolahan pulp menjadi lebih tinggi daripada pemasakan kayu. Di samping itu serabut bambu lebih kaku dibanding ikatan serat kayu karena dinding sel yang tebal serta lumen yang sempit (Rowell 1997). Sementara itu Pasaribu dan Silitonga (1974) dan Patt (2005) menyatakan bahwa selain komponen kimia dan kondisi pengolahan, morfologi serat bahan berlignoselulosa juga merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pulp dan kertas karena komposisi jaringan tanaman
et al.
et al et al.
dalam sel yang beragam dalam ketebalan dinding sel mempunyai efek yang besar terhadap penggunaan bambu dalam proses industri kayu. Secara khusus serat yang panjang, fleksibilitas yang tinggi, dan nisbah tebal dinding terhadap lumen yang rendah adalah dikehendaki dalam pembuatan pulp dan kertas (Xu 2005).
Di antara berbagai jenis bambu yang ada ternyata bambu memiliki berbagai pola ikatan pembuluh. Menurut Grosser dan Liese (1971), pola ikatan pembuluh yang terdapat pada bambu terdiri atas 4 jenis yaitu tipe 1, 2, 3 dan 4 yang menjadi pembeda antar genus dan spesies. Pada bagian pangkal batang tidak menutup kemungkinan tersusun atas lebih dari 1 pola ikatan pembuluh seperti yang terdapat pada pola/tipe 2, 3 dan 4. Gabungan pola/tipe yang dapat terjadi pada bagian pangkal adalah pola 2 bergabung dengan pola 3 seperti dalam genus Schizostachyum, Melocanna, dan Teinostachyum. Sementara gabungan pola lain seperti pola 3 bergabung dengan pola 4 dapat muncul pada genus Bambusa, Dendrocalamus, Gigantochloa, dan Thyrsostachys. Dalam hal ini khusus untuk genus Cephalostachyum dari mulai bagian pangkal ke bagian ujung murni tersusun atas satu pola, yaitu pola 2 demikian pula yang terjadi pada genus Oxynanthera spp yang memiliki pola 3 murni pada keseluruhan bagian batang. Diantara ke-4 pola ikatan yang ada, setiap pola memiliki ciri yang berbeda dan perbedaan ini signifikan diantara spesies dan genus. Hal ini dapat berdampak nyata terhadap sifat pengolahan pulp bambu dan sifat pulp/kertasnya.
Terkait dengan seluruh uraian, telah dilakukan pencermatan pola ikatan pembuluh bambu, sehubungan dengan pemanfaatannya untuk pulp dan kertas. Bahan baku bambu dalam penelitian dipilih berdasarkan keterwakilan pola-pola tersebut yang dimiliki oleh
bambu yaitu (mewakili pola 1),
dan (mewakili pola 2), dan
(mewakili pola 3) serta dan (mewakili pola 3 dan 4).
Tujuan penelitian adalah mendapatkan informasi secara lengkap mengenai kemungkinan penggunaan bambu yang terwakili dalam bentuk pola ikatan pembuluh sebagai bahan baku pulp dan kertas serta menentukan karakteristiknya pada setiap pola ikatan pembuluh.
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian adalah bambu terdiri dari 4 macam pola ikatan pembuluh dimana masing-masing pola terwakili oleh 2 jenis bambu yaitu berturut-
turut ,
. Dalam hal ini khusus untuk
mewakili pola 3 dan 4 karena adanya perbedaan pola antar bagian batang. Pengambilan contoh bambu dilakukan di Kebun Raya Bogor dan sekitar lokasi Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Contoh uji ditetapkan pada jenis-jenis bambu yang mewakili pola ikatan pembuluh 1 sampai 4 dengan dibantu panduan dari Grosser dan Liese (1971). Contoh uji tersebut diambil
et al.
Arundinaria hundsii dan Arundinaria javonica Melocanna baccifera Cephalostachyum pergracile Dendrocalamus gigantus Dendrocalamus strictus
Dendrocalamus asper Gigantochloa apus
Arundinaria hundsii (Ah) Arundinaria javonica (Aj); Melocanna baccifera (Mb), Cephalostachyum pergracile (Cp); Dendrocalamus giganteus (Dg), Dendrocalamus strictus (Ds); dan
Dendrocalamus asper (Da), Gigantochloa apus (Ga) Dendrocalamus
asper (Da) dan Gigantochloa apus (Ga) II.
A.
BAHAN DAN METODE Bahan
B. Penetapan Contoh Uji
Kemungkinan Pemanfaatan Beberapa Jenis Bambu Tertentu, Berdasarkan ... (Nani Nuriyatin & Kurnia Sofyan)
dari bagian pangkal, tengah dan ujung pada tengah-tengah ruas dengan ulangan masing- masing 3 kali berupa bagian bambu kecuali untuk untuk dan
hanya dilakukan pada bagian tengah bambu saja karena keterbatasan bahan baku terkait dengan kecilnya diameter batang jenis bambu tersebut (±1.63 cm).
Semua contoh dimaserasi dengan metode (Sass, 1951) menggunakan KClO , HNO 50%, dan pewarna safranin 2 %.
Karakteristik yang dicermati mencakup dimensi serat dan nilai turunannya. Dimensi serat yang diukur adalah panjang serat (L), diameter serat (D), diameter lumen (l), dan tebal dinding sel (w). Tahap selanjutnya adalah menghitung nilai turunan dimensi serat (Casey 1980) yang meliputi nisbah Runkel (2w/l), daya tenun (L/D), nisbah muhlsteph [(D - l )/D ] x 100, fleksibilitas (l/D), koefisien kekakuan (w/D).
Data dimensi serat dan nilai turunan dimensi dari beberapa macam bambu (yang diklasifikasikan ke dalam 4 macam pola ) diolah dengan analisa keragaman berfola acak lengkap satu faktor (Lampiran 2) dilanjutkan uji Tuckey (Lampiran 3), dan sebagai faktor adalah pola penyusunan ikatan pembuluh sebanyak 4 buah. Hasil olahan tersebut lalu dibandingkan dengan mengacu kepada standar persyaratan kayu sebagai bahan baku pulp dan kertas (Lampiran 1).
Pengukuran dimensi serabut bambu pada berbagai pola memberikan hasil seperti yang tercantum pada Tabel 1. Dalam hal ini pengamatan difokuskan pada pola bambu (tidak kepada jenis bambu), sehingga nilai dimensi serat dan turunannya juga dihitung berdasarkan pola. Untuk lebih jelas, hasil yang diperoleh seperti tercantum pada Tabel 1 dan 2. Terlihat bahwa panjang serabut (serat) bambu pada pola 1 memiliki nilai yang terendah sedangkan panjang serabut cenderung meningkat dengan urutan pola ke 2, 3, hingga ke 4 dimana pada pola 4 memiliki nilai yang tertinggi. Hal ini diperkuat berdasarkan hasil analisa keragaman dan uji Tuckey (Lampiran 3). Dalam hal diameter rongga (lumen) serabut bambu ternyata nilainya tertinggi pada pola 1 dan cenderung menurun dengan urutan pola ke 3, 4 hingga ke dua (terendah). Mengenai diameter serabut terlihat nilai diameter yang tertinggi dimiliki oleh pola 4 dan berturut-turut menurun nilainya mulai dari pola 3, pola 1 hingga pola 2. Demikian pula ketebalan dinding sel menunjukkan kecenderungan yang tidak teratur dengan dinding serabut yang paling tebal dimiliki oleh bambu dengan pola 4 dan berturut-turut cenderung menurun dengan urutan pola ke 3, pola 2 hingga ke pola 1 (terendah).
Arundinaria hundsii A. javonica
Schultze C. Penyiapan Contoh
D. Pencermatan Karakteristik Hasil Maserasi Contoh
E. Analisis Data
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengukuran Dimensi Serabut dan Nilai Turunannya
3 3
2 2 2
Tabel 1. Rerata dimensi serat bambu (mikron) pada pola 1 hingga 4 dari 8 jenis bambuu
Table 1. Average fibre dimension of bamboo fibre (micron) at pattern 1 until 4 overall covering 8 bamboo species
Keterangan ( ):
*) Terkait dengan pola ikatan pembuluh pada bambu
; Pola (patterns) 1, 2, 3, 4 berarti pada bagian batang bambu terdapat berturut-turut berkas pembuluh sebanyak 1,2,3,4
Ah = ; Aj =
; Mb = ; Cp = ; Dg =
; Ds = ; Da = ; Ga =
; p = bagian pangkal ; t = bagian tengah ; u = bagian ujung masing-masing bagian tersebut diambil dari bagian tengah ruas bambu
; (p, t, u), (t,u), (t), (p), (u) masing-masing mencakup berturut-turut / Remarks
(Related to the pattern of vascular bundle of bamboo in bamboo stem/culm
(imply there are consecutively vascular bundles 1, 2, 3, and 4 in the portion of bamboo culm). Arundinaria hundsii Arundinaria javanica Melocanna baccifera Cephalostachyum pergracile Dendrocalamus giganteus Dendrocalamus strictus Dendrocalamus asper
Gigantochloa apus (lower portion) (middle portion)
(upper portion),
(each of these portion taken approximately halfway axially between internodes at bamboo
stem/culm) Each covers
(p, t, u) portions, (t, u) portions, t portion, p portion, and u portion, respectively; mikron (micron) = 10 m (meter).
-6
Tabel 2. Nilai turunan dimensi serat 8 jenis bambu dirinci menurut 4 macam pola Table 2. Derived fiber dimension values of 8 bamboo species, scrutinized into 4
patterns Jenis bambu (Bamboo species)
Pola*)
(Pattern) Panjang serabut (Fiber length)
L
Diameter serabut
(Fibre diameter)
D
Tebal dinding (Fibre wall)
w
Lebar rongga (Lumen diameter)
l
Ah dan Aj (t) 1 2373.626 17.241 5.741 5.759
Mb dan Cp (p, t, u) 2 2571.403 15.776 6.171 3.434
Dg (p, t, u) , Ds (p, t, u) , Da
(t, u), Ga (u) 3 2841.406 17.350 6.752 3.845
Da (p), Ga(t, u) 4 3734.514 18.422 7.317 3.787
Pola (Pattern)
Daya tenun (Felting power)
L/D
Fleksibilitas serat ( Fiber flexibility)
L/D
Koef. kekakuan (Rigidity coeff)
w/D
Nisbah Runkel (Runkel ratio)
2w/l
Nisbah Muhlsteph (Muhlstep ratio) [100 [(D2-l2)/D2]
1 140.294 0.329 0.336 2.125 88.939
2 162.222 0.217 0.391 3.788 95.093
3 168.435 0.224 0.388 4.023 94.416
4 205.366 0.209 0.396 4.245 95.237
Kemungkinan Pemanfaatan Beberapa Jenis Bambu Tertentu, Berdasarkan ... (Nani Nuriyatin & Kurnia Sofyan)
Mengulas satu persatu terhadap nilai dimensi dan turunannya antara lain yang pertama adalah panjang serabut. Panjang serabut yang lebih dari 2000 mikron berindikasi kalau diolah menjadi pulp dan kertas memiliki keteguhan sobek kertas yang tinggi yang artinya semakin panjang serabut maka keteguhan sobeknyapun akan semakin tinggi (Haygreen dan Bowyer 1996). Demikian pula daya tenunnya akan memiliki mutu yang baik karena jalinan antar seratnya akan sangat baik pada proses pembentukan kertas. Kekurangan yang dimiliki oleh bambu sebagai bahan dasar pulp dan kertas dalam penelitian ini adalah nilai fleksibiltas yang rendah (di bawah 0.5), koefisien kekakuan yang tinggi (>0.15), nisbah Runkel yang bernilai tinggi (lebih dari 1) dan nisbah Muhlstep yang juga bernilai tinggi pula (lebih dari 80). Dengan nilai fleksibilitas yang rendah maka kertas yang dihasilkan tidak plastis demikian pula dengan koefisien kekakuan yang tinggi maka kertas yang dihasilkan akan kaku, dan serat sukar menggepeng pada saat pembentukan lembaran kertas. Apabila melihat hasil olahan data (Lampiran 2) terutama panjang serabut untuk berbagai pola ikatan pembuluh maka terlihat bahwa panjang serabut pola 1 sama dengan pola 2 dan 3 namun berbeda dengan pola 4 . Melihat pada nilai panjang serabut yang dimiliki oleh pola 1, 2 dan 3 dengan 4 ternyata panjang serabut yang dimiliki pola 4 mempunyai nilai yang paling panjang artinya bahwa bambu yang memiliki pola 4 bila diolah menjadi pulp dan kertas berindikasi mempunyai kekuatan sobek yang paling tinggi dibandingkan dengan pola-pola lain. Panjang serabut merupakan salah satu faktor untuk mengontrol sifat-sifat kekuatan kertas karena terkait dengan kemampuan mengikat dan jalin-menjalin diantara serabut (Wangaard dan Woodson 1973) dalam Mohmod (1972). Lapierre (2006) juga menegaskan bahwa panjang serabut berpengaruh positif terhadap kekuatan kertas.
Mengamati nilai daya tenun untuk ke-4 pola ikatan pembuluh pada bambu ternyata memberikan pengaruh yang nyata (Lampiran 2). Melalui uji Tukey (Lampiran 3) terlihat bahwa nilai daya tenun untuk pola 1, 2 dan 3 berbeda dibandingkan dengan daya tenun pada pola 4. Melihat nilai daya tenun untuk seluruh pola terdapat kecenderungan nilai daya tenun yang meningkat dari mulai dari pola 1 sampai pola 4. Hal ini berarti bahwa kertas yang akan dihasilkan dari bambu dengan pola 4 cenderung akan memberikan susunan serat kertas yang lebih rapat sehingga kekuatan sobeknya lebih tinggi. Semakin tinggi nilai daya tenun maka kertas akan memiliki kekuatan lentur yang lebih baik yang mengindikasikan berpengaruh positif terhadap keteguhan lipat kertas tersebut.
Nilai fleksibilitas, berdasar analisa keragaman nilai tersebut dipengaruhi secara nyata (P<0.05) menurut pola ikatan pembuluh (Lampiran 2). Melalui uji nilai tengah ternyata nilai fleksibilitas pola 1 berbeda dengan pola-pola lain. Dengan uji Tukey (Lampiran 3) terlihat bahwa nilai fleksibilitas pola 2 sama dengan nilai fleksibilitas pola 3 dan 4. Fleksibilitas merupakan nisbah diameter lumen dengan diameter serabut, nilai fleksibilitas yang semakin besar maka semakin baik kualitas serabut. Pada pola 1 terlihat bahwa nilai fleksibilitas paling tinggi yang juga berarti bahwa diameter lumennya paling lebar sehingga mudah untuk menggepeng dan kertas yang dihasilkan memiliki kekuatan panjang putus yang baik walaupun dalam hal ini keseluruhan nilai fleksibilitas masih jauh di bawah persyaratan kelas III.
Menurut Xu (2005) dengan nilai fleksibilitas yang tinggi diharapkan akan mempunyai efek positif pada kekuatan tarik dan sobek.
Sementara hasil analisa keragaman untuk nilai koefisien kekakuan menunjukkan bahwa nilai koefisien kekakuan untuk berbagai pola menunjukkan adanya perbedaan (Lampiran 2).
Melihat lebih jauh pada uji Tuckey (Lampiran 3) terlihat bahwa koefisien kekakuan pola 1 et al.
et al.
berbeda dengan nilai kekakuan pada pola-pola lain namun nilai koefisien kekakuan pola 2 sama dengan nilai koefisien kekakuan pada pola 3 dan 4. Melalui uji Tuckey terbaca bahwa nilai koefisien kekakuan untuk pola 1 paling rendah dibanding dengan nilai koefisien kekakuan untuk pola lain yang berarti bahwa kualitas kertas yang akan diperoleh dari bambu yang mempunyai pola 1 relatif cenderung memiliki kerapatan yang lebih rendah sehingga lembaran kertas yang dihasilkan lebih lentur, ketahanan lipatnya lebih baik dan cenderung memiliki ketahanan tarik yang lebih baik.
Berdasarkan hasil analisa keragaman pada Lampiran 2 ternyata pola ikatan pembuluh pada bambu tidak berpengaruh nyata terhadap nilai nisbah Runkel walaupun dalam hal ini terdapat kecenderungan bahwa nilai nisbah Runkel semakin meningkat nilainya dari mulai pola ikatan pembuluh 1 sampai ke pola 4. Diantara ke-4 pola yang ada maka nisbah runkel pola 1 memiliki nilai yang terendah artinya dibandingkan pola-pola lain maka nisbah Runkel pola 1 adalah yang terbaik. Hal ini berarti bahwa serat bambu pada pola 1 memiliki dinding sel yang paling tipis dengan diameter lumen yang paling besar. Dengan nisbah Runkel yang paling rendah maka kertas yang dibentuk dari bambu yang memiliki pola 1 akan bersifat relatif lebih baik dalam kekuatan tarik dan lipat dibandingkan pola-pola lain.
Bila ditinjau dari analisa keragaman ternyata pola ikatan pembuluh berpengaruh nyata terhadap nilai nisbah Muhlstep (P<0.05) (Lampiran 2). Berdasar uji Tuckey (Lampiran 3) untuk melihat lebih jauh posisi nisbah Muhlstep pada pola ikatan pembuluh ternyata nisbah pada pola 1 berbeda nyata dengan nilai nisbah muhlstep pada pola ikatan pembuluh 2, 3 dan 4.
Nilai-nilai nisbah Muhlstep pada bambu dengan pola ikatan pembuluh 2 sama dengan nilai nisbah Muhlstep pola 3 dan 4. Nisbah Muhlstep sebagaimana diuraikan sebelumnya merupakan nisbah antara luas penampang tebal dinding serabut dengan luas penampang lintang serabut. Semakin kecil nilai nisbah muhlstep berarti semakin besar diameter lumen sehingga sel semakin mudah menggepeng dan mempunyai daya lipat yang tinggi (tidak kaku).
Pengamatan terhadap keseluruhan pola, nilai nisbah Muhlstep pada pola 1 paling kecil sehingga nilai nisbah Muhlstep pada pola 1 paling baik dibandingkan dengan pola-pola lain.
Dengan nilai nisbah Muhlstep yang semakin kecil berarti pola 1 mempunyai diameter lumen yang besar. Memang diantara pola-pola lain (Tabel 1), diameter lumen pola 1 paling besar dengan dinding yang juga paling tipis sehingga sel akan dengan mudah pipih serta akan memiliki ketahanan tarik dan retak yang baik.
Hasil penelaahan dimensi serat dan nilai turunan serat bambu dari 4 macam pola yang dibandingkan standar (Lampiran 1) disajikan pada Tabel 3.
Pada Tabel 3 terlihat bahwa semua pola memiliki panjang serabut kelas 1 demikian pula daya tenunnya sementara untuk nilai dimensi turunan lainnya yaitu fleksibilitas, koefisien kekakuan, nisbah Runkel dan nisbah Muhlstep memiliki kelas kualitas III (dengan catatan bahwa pengelompokan ke dalam kelas III untuk nilai-nilai yang berada dan di bawah kelas III). Kalau setiap nilai turunan dikonversi ke dalam bentuk nilai maka sebenarnya seluruh pola pada bambu termasuk dalam kategori kelas II (bernilai 300) yang artinya kalau semua bahan tersebut dijadikan lembaran pulp (kertas) maka daya jalin serat cukup baik tetapi serat masih agak kaku sehingga sukar menggepeng dan kontak antar serat menjadi kurang efektif.
Kesesuaian indikasi tersebut perlu diuji lebih lanjut melalui pengolahannya menjadi pulp dan kertas, terutama terkait dengan porsi kerapatan ikatan pembuluh. Berdasarkan hasil B. Peluang Bambu pada Berbagai Pola sebagai Bahan Baku Pulp dan Kertas
Kemungkinan Pemanfaatan Beberapa Jenis Bambu Tertentu, Berdasarkan ... (Nani Nuriyatin & Kurnia Sofyan)
penelitian Nuriyatin (2011) tentang sifat anatomi pada 8 jenis bambu, ternyata kerapatan ikatan pembuluh berturut-turut yang tertinggi ke yang terendah dimiliki oleh pola 1, pola 2, pola 4 dan pola 3.
Tabel 3. Hasil penetapan nilai serat bambu berdasar dimensi serat dan nilai turunannya 8 jenis bambu yang dikelompokan menjadi 4 macam pola mengacu kepada standar kriteria*)
Table 3. Results of determination of values for bamboo fibre based on fiber dimensions and their derived values of 8 bamboos species further grouped into 4 patterns by referring to the criteria standard*).
Dimensi serat dan nilai turunannya (Fibre dimensions and their derivated
values)
Pola ikatan pembuluh pada batang bambu (Patterns of vascular bundle arrangement in bamboo stem) Pola(Pattern)
1
Pola (Pattern) 2
Pola(Pattern) 3
Pola(Pattern) 4 Y ** Nilai
(value) Y** Nilai
(value) Y** Nilai
(value) Y** Nilai
(value) Panjang serat
(Fibre length),µ
>2000 100 >2000 100 >2000 100 >2000 100 Daya tenun
(Felting power)
>90 100 >90 100 >90 100 >90 100
Fleksibilitas (Flexibility)
<0.5 25 <0.5 25 <0.5 25 <0.5 25
Koefisien kekakuan (Rigidity coefficient)
>0.15 25 >0.15 25 >0.15 25 >0.15 25
Nisbah runkel (Runkel ratio)
>1 25 >1 25 >1 25 >1 25
Nisbah muhlstep (Muhlstep ratio)
>80 25 >80 25 >80 25 >80 25
Total nilai (Total value)
300 300 300 300
Keterangan (
*) Lihat Lampiran 1 µ = Mikron/
Remarks):
(Refer to Appendix 1), Micron
**) Angka rata-rata(Mean figure)
Hal ini terkait dengan porsi serat yang cenderung semakin menurun sedangkan jaringan parenkim semakin banyak. Meningkatnya jaringan parenkim akan meningkatkan konsumsi bahan kimia pemasak selama pengolahan pulp sehingga bila kondisi pemasakan sama akan menurunkan efektifitas bahan kimia dalam pemisahan serat (delignifikasi) menjadi pulp. Sebaliknya dengan porsi serat yang menurun maka pada kondisi pemasakan yang sama akan memungkinkan banyak serat terdegradasi sehingga rendemen pulp dan sifat kekuatan kertas menurun. Dengan demikian maka dugaan-dugaan tersebut perlu ditelaah kebenarannya melalui uji pengolahan pulp dan kertas.
Hasil penelitian Fatriasari dan Hermiyati (2008) terhadap 6 jenis bambu sebagai bahan baku pulp dan kertas memberikan hasil dimana 83% bambu memiliki daya tenun kualitas I dengan sisanya termasuk kualitas II, sementara nilai turunan lainnya termasuk ke dalam kelas III. Hasil yang sama juga diungkapkan oleh Nuriyatin (2000) yang melakukan penelitian terhadap 5 jenis bambu namun dengan nilai daya tenun semuanya termasuk ke dalam klas I.
Di dalam pelaksanaan di lapangan pada umumnya bahan baku pembuatan pulp dan kertas merupakan perpaduan antara berbagai macam ukuran serabut sehingga diharapkan akan diperoleh hasil yang lebih solid dalam pembentukan lembaran (Casey 1980).
Penggunaan bambu sebanyak 8 jenis sebagai bahan baku pulp dan kertas yang terwakili mulai dari bambu dengan pola ikatan pembuluh 1 sampai 4 memberikan hasil yang sama, yaitu setiap pola menghasilkan daya tenun kelas I sementara untuk nilai fleksibilitas, koefisien kekakuan, nisbah runkel dan nisbah muhlstep semuanya termasuk ke dalam kelas III. Pengamatan lebih mendalam terhadap karakter pola ikatan pembuluh terkait dengan perannya sebagai bahan baku bambu terlihat bahwa bambu pada pola 1 mempunyai ciri tertentu yaitu memiliki fleksibilitas yang paling tinggi dibandingkan dengan pola-pola lain juga mempunyai nilai koefisien kekakuan serta nisbah Runkel yang paling rendah dibandingkan dengan pola-pola lain. Pola ikatan pembuluh 4 mempunyai ciri yaitu memiliki panjang serabut dan daya tenun yang paling tinggi dibandingkan dengan pola-pola lain.
Berdasarkan telaahan dimensi serat dan turunannya dibandingkan dengan persyaratan standar maka keseluruhan serat bambu dari pola 1 hingga 4 termasuk katagori kelas II (nilai 300). Dengan demikian berindikasi cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pulp dan kertas. Selanjutnya untuk mengetahui kebenaran indikasi tersebut perlu penelaahan lebih lanjut melalui pengolahan bambu (mulai pola ke 1 hingga ke 4) menjadi pulp dan kertas.
Anonim 1976. Penentuan dimensi serat dan nilai turunannya pada kayu dan bahan berserat lingo-selulosa menurut cara LPHH (Lembaga Penelitian Hasil Hutan). Laporan LPHH No. 75. Bogor.
Casey JP. 1980. Pulp and Paper Vol. I. New York: Interscience Publishers.
Fatriasari W, Hermiati E. 2008. Analisis morfologi serat dan sifat fisis-kimia pada enam jenis bambu sebagai bahan baku pulp dan kertas. J Ilm Teknol Has Hut 1(2): 67-72.
Grosser D, Liese W. 1971. On the anatomy of Asian bamboos, with special reference to their vascular bundles. W Sci Technol V 5: 290-312.
Haygreen JG, Bowyer JL. 1996. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu Suatu Pengantar . Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Lapierre L, Bouchard J, Berry R. 2006. On the relation between fibre length, cellulose chain length and pulp viscosity of a softwood sulfite pulp. Hoizforschung, V 60: 372-377.
IV. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Kemungkinan Pemanfaatan Beberapa Jenis Bambu Tertentu, Berdasarkan ... (Nani Nuriyatin & Kurnia Sofyan)
Lybeer B, Van Acker J, Goetghebeur P. 2006. Variability in fibre and parenchyma cell walls of temperate and tropical bamboo culms of different ages. Springer-Verlag
Mohmod AL, Amin A, Kasim J, Jusuh MZ. 1972. Effect of anatomical characteristics on the physical and mechanical properties of Bambusa blumeana. J Tropc For Sci 6(2): 159- 170.
Nuriyatin N. 2000. Studi analisa sifat-sifat dasar bambu pada beberapa tujuan penggunaan [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Nuriyatin N. 2011. Sifat anatomi 8 jenis bambu [bagian draft disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Pasaribu RA, Silitonga T. 1974. Pulp campuran kayu daun lebar dan bambu. Laporan (report) no 35, Lembaga Penelitian Hasil Hutan, Direktorat Jenderal Kehutanan, Departemen Pertanian. Bogor.
Patt R, Kordsachia O, Fehr J. 2005. European hardwoods versus Eucalyptus globules as a raw material for pulping.
Rowell RM, Young RA, Rowell JK. 1997. Paper and Composites from Agro-based Resources.
New York: Lewis Publishers.
Sass JE. 1951. . Iowa: The Iowa State College Press.
Stephenson JN. 19952 Pulp and Paper Manufacture, Vol. I & II. Mc Graw-Hill Book Co, Inc.
New York-Toronto-London.
Xu F, Zhong XC, Sun RC, Lu Q, Jones GL. 2005. Chemical composition, fibre morphology, and pulping of P bolleana Lauche.
Botanical Microtechnique