Jesslyn Evangely Wijaya NPM : 6082201030 Inovasi Disruptif – B
Tugas Summary Bab 1-3 Strategic Management + Dosen – Dr. Orpha Jane, S.Sos., M.M.
BAB 1 DIGITAL ECONOMY
Digitalisasi merupakan sebuah realitas aktivitas masyarakat saat ini seluruhnya dipengaruhi oleh teknologi digital. Perubahan lingkungan bisnis yang disebabkan oleh arus digitalisasi. Fenomena tersebut mengikuti perkembangan internet seperti munculnya konsep ekonomi digital, model bisnis e- commerce dan start up.
Konsep tumbuhan eksponensial yang mengakibatkan munculnya kondisi 6D (digitized, deceptive, disruptive, dematerialization, demonetization, democracy).
1.1. Fenomena Digital Economy
Perkembangan bisnis berbasis digital ditandai dengan kehadiran world wide web (www) pada tahun 1989. Setahun surat hadiran Amazon.com pada tahun 1994, Piere mendirikan rumah lelang berbasis internet (eBay Inc) yang langsung jalma menjadi pasar online terbesar untuk distributor komersial dan pribadi. Masyarakat informasi adalah sebuah tahap pembangunan yang dinamis, sehingga perusahaan beroperasi secara inovatif dan fleksibel.
Hari kemudian dipicu oleh kehadiran ponsel pintar pertama yang diproduksi oleh Nokia pada tahun 1991.
Kemudian, pada tahun 1998, Google berdiri dan perubahan pada pasar on line dan kondisi ekonomi semakin nyata serta menjadi fondasi perusahaan.com. Selain itu, implementasi jaringan universal mobile telecomunication sistem (UMTS) pertama dilakukan oleh Manx Telecom pada tahun 2001 sebagai tonggak sejarah penting bagi teknologi informasi dan komunikasi seluler.
Merk Apple juga mengenalkan iTunes serta di tahun yang sama jejaring sosial Facebook serta sosial media dan Web 2.0 (twitter) semakin intensif. Hingga tahun 2017, pengguna internet telah mencapai 3,7 miliar pengguna, menurut Internet World Stats.
Pertumbuhan secara global dan pada skala nasional tersebut menunjukkan bahwa saat ini kita sedang dalam era Revolusi Industri 4.0, yang ditandai dengan 13 karakteristik sebagai berikut (Thomson, 2016;
World Economic Forum's Global Agenda Council on the Future of Software and Society, 2015).
1. Implantable and wearable technologies 2. Digital presence
3. Vision as the new interface 4. Ubiquitous computing
5. A supercomputer in your pocket 6. Storage for all
7. The internet of and for things 8. Smart cities and smarter homes 9. Big data for big insights
10. Robots, decision-making and the world of work 11. The rise of digital currencies
12. The sharing economy 13. 3D printing
1.2. Enam Tahap Pertumbuhan Eksponensial
Keenam eksponensial ini (6D) merupakan sebuah alat analisis yang dikembangkan untuk membantu perusahaan dan pelaku bisnis dalam memahami situasi dan kondisi pada Era digitalisasi.
§ 3 D Pertama – digitalization, deception dan disruption (telah mengubah dunia saat ini secara radikal, tetapi reaksi berantai yang kita telusuri bersifat kumulatif)
§ 3 D Terakhir – demonetization, dematerialization dan democratization (memiliki kekuatan yang lebih besar dan kaitannya dengan pertumbuhan eksponensial)
1. Digitalization
Digitalisasi dipicu oleh kehadiran computer, lebih spesifik lagi adalah internet, yang membuat ide ide inovasi yang ditampilkan, disimpan, termasuk dipertukarkan. Penyebaran tersebut mengikuti pola yang konsisten, yaitu kurva pertumbuhan eksponensial. Contoh implementasi kurva eksponensial yang baik dan fenomenal adalah :
• Kodak – foto kertas tergantikan dengan foto digital.
Ke mana yang tidak disadari oleh Kodak bahwa teknologi film negative dan kamera analog dapat dengan cepat tergantikan oleh teknologi digital.
2. Deception
Pertumbuhan eksponensial yang terjadi seringkali mengecoh atau menipu karena tidak disadari. Dengan penggandaan pertumbuhan yang terjadi dengan menggunakan hukum Moore.
3. Disruption
Teknologi yang mengganggu (disruptive technology) merupakan inovasi yang menciptakan pasar baru dan mengganggu pasar yang ada. Perusahaan yang sudah ada dan baru muncul keduanya tidak memahami bahwa disrupsi akan terjadi secara eksponensial.
4. Demonetization
Demonetisasi berarti pengharapan penggunaan uang dalam transaksi bisnis. Ketika hal ini terjadi, maka pada umumnya, perusahaan tidak mengetahui apa yang mereka alami, termasuk para Ekonom.
Perusahaan yang mempraktikkan demonatisasi (Skype, Spotify) ini dapat mengecoh atau menipu, ini juga disebut dengan ekonomi bayangan di setiap negara.
5. Dematerialization
Dematerialisasi berkaitan dengan menghilangnya produk dan jasa. Misalnya perusahaan Kodak, kehadiran smartphone dengan resolusi kamera yang semakin hari semakin tinggi, pada akhirnya akan membuat kamera digital terdematerialisasi.
6. Democratization
Demokratisasi terjadi apabila biaya yang besar mengalami penurunan yang signifikan, sehingga perusahaan menjadi tersedia dan bisa di akses oleh hamper semua orang. Demokratisasi merupakan akhir dari reaksi berantai eksponensial, dalam hal yang merupakan hasil logis dari demonatisasi dan dematerialisasi.
1.3. Digital Economy
Sempat tahapan dalam pertumbuhan eksponensial, tatanan dan lanskap ekonomi dan bisnis termasuk kehidupan bermasyarakat di era 4.0 memunculkan sebuah model ekonomi Baru yaitu digital ekonomi.
Disamping potensi positif yang ditawarkan oleh Era Network Intelegence terdapat potensi risiko juga, terutama untuk individu, organisasi dan masyarakat yang terlambat beradaptasi dengan Era ini.
Hal hal terkait aspek digital pada dasarnya bisa memunculkan kebingungan, ketidakpastian bahkan kecerobohan, bencana dan bahaya. Dengan implementasi sebagai berikut :
§ Pada ekonomi lama, arus informasi bersifat fisik, yaitu uang tunai, cek, tagihan, laporan, rapat tetap muka langsung, telepon analog, trasmisi televisi dan periklanan melalui surat.
§ Sedangkan, ekonomi baru semua informasi berbentuk digital dengan menggunakan kode Bhiner satu dan nol, semua informasi dan komunikasi menjadi digital.
1.3.1. 12 Tema Ekonomi Digital / Baru – Tapscott
1. Tema 1 : Pengetahuan
Teknologi informasi memberikan basis pengetahuan seperti perkembangan kecerdasan artifisial intelijen dan pengetahuan teknologi lain baik memberikan pengetahuan kepada para pekerja professional termasuk konsumen.
2. Tema 2 : Digitisasi
Dalam bus ekonomi baru ini, informasi adalah dalam bentuk digital, yaitu dikenal dengan istilah bits.
Jumlah informasi yang sangat banyak bisa di kompres dan ditransmisikan dengan sangat cepat oleh berbagai bentuk informasi menjadi dokumen multimedia.
3. Tema 3 : Virtualisasi
Ketika informasi berubah dari analog ke digital, maka barang-barang fisik berubah menjadi virtual-dan ini mengubah metabolisme ekonomi, mengubah tipe institusi dan relasi yang mungkin terjadi, termasuk hakikat dari aktivitas ekonomi itu sendiri.
Dalam hal ini, kita bisa menemukan berbagai jenis. virtualisasi, yaitu sebagai berikut.
a. Perusahaan (virtual corporation-virtual enterprise, extended enterprise, inter-enterprise), merupakan pengelompokkan perusahaan, individu, dan organisasi berdasarkan jejaring.
b. Kupon virtual (virtual coupon), kupon yang disediakan di internet untuk mendorong konsumen untuk membeli.
c. Agen pemerintah (virtual government agency), agen-agen pemerintah yang memiliki karakteristik layanan yang mirip bisa disatukan dan memberikan layanan 'satu atap secara virtual'.
d. Pekerjaan (virtual job), kontrak individual untuk mengerjakan sebuah pekerjaan yang telah disepakati bersama.
e. Mal (virtual mall), pusat perbelanjaan online.
f. Pasar (virtual market), dikenal dengan istilah market place.
g. Kantor (virtual office), lokasi kantor yang bisa diakses di mana pun.
h. Kenyataan (virtual reality), penggambaran situasi nyata dengan teknologi.
4. Tema 4 : Molekularisasi
Segala sesuatu yang biasanya dilakukan dengan massal, diganti menjadi sesuatu yang kecil seperti molekul dan struktur industry serta ekonomi yang sepenuhnya digerakkan oleh molecular organisasi dan struktur ekonomi.
5. Tema 5 : Integrasi atau Internetworking
Alliance for Converging Technologies menuliskan bahwa organisasi baru sebagai sebuah Internet Worked Experience merupakan jaringan hubungan luas, termasuk semua tingkatan dan fungsi bisnis di mana batas batas di dalam dan di luar dapat ditembus dan cair.
The Internetworked Enterprise akan jadi Perluasan jangkauan virtual perusahaan, karena terdapat akses pada mitra bisnis, rekonfigurasi konstan dari hubungan bisnis serta pemanfaatan alih daya yang dramatis.
6. Tema 6 : Disintermediasi
Disintermediasi berkaitan hilangnya peran perantara melalui jejaring digital. Oleh karena nya, para pelaku bisnis di industry saluran pemasaran ini perlu melakukan Transformasi untuk menciptakan nilai baru jika tidak ingin tergantikan oleh jejaring digital.
7. Tema 7 : Konvergensi
Terdapat tiga industry yang ter konvergensi menyediakan infrastruktur untuk penciptaan kesejahteraan yang diantaranya adalah media, komunikasi dan konten. Ketiganya ter konvergensi dalam sebuah media Komputasi.
8. Tema 8 : Inovasi
Penggerak kunci di ekonomi baru adalah inovasi, termasuk di dalamnya adalah komitmen untuk melakukan pembaruan produk, sistem, proses, pemasaran dan orang secara terus menerus. Hal ini terlihat dari siklus hidup produk.
9. Tema 9 : Prosumption
Perbedaan antara produsen dan konsumen tidak terlalu jelas hal ini menunjukkan konsumen yang di Era sebelumnya merupakan penikmat produk yang diciptakan oleh produsen di pabrikan, pada masa sekarang konsumen ikut terlibat dalam proses produksi.
10. Tema 10 : Kesegaran
Kesegaran (immediacy) menjadi variable kunci dengan mengarahkan aktivitas kesuksesan ekonomi dan bisnis. Dengan cara membuat siklus hidup produk yang semakin pendek.
11. Tema 11 : Globalisasi
Ekonomi global ditandai dengan perdagangan dalam barang, jasa, modal, tenaga kerja dan informasi.
Globalisasi bisnis menuntut perusahaan untuk harus terkoneksi dengan pelanggan, melalui berbagai strategi seperti aliansi, partnership dan penguasaan teknologi informasi menjadi vital jalannya perusahaan.
12. Tema 12 : Perpecahan
Era ekonomi baru juga terdapat hal yang cukup berbahaya, yaitu tema kedua belas ini berkaitan dengan isu sosial yang menimbulkan trauma dan konflik. Seperti pencarian politik ekonomi baru dengan format kekuasaan, akses, kualitas hidup dan kerja baru serta proses demokrasi.
5 Sektor kunci yang terdapat dalam ekonomi internet berdasarkan laporan e- economy oleh Google Bain (2019), diantaranya adalah :
• Online travel: penerbangan, hotel, dan rerkreasi.
• Online media: periklanan, permainan (gaming), musik berlangganan, dan video on demand.
• Ride hailing: transportasi dan pengantaran makanan.
• E-commerce
• Digital financial services: pembayaran, pinjaman, investasi, dan asuransi.
1.4.E – Commerce
Salah satu bentuk nyata yaitu e-commerce. Ekonomi berbasis platform digital ini mampu mengembangkan modal manusia melalui konektivitas perusahaan kecil dengan pelaku digital global.
Kategori e-commerce yang mengalami pertumbuhan tercepat adalah makanan dan kebutuhan pribadi berdasarkan usia dan gender, menurut We Are Social dan Hootsuite (2021).
1.5. Perkembangan Sektor Ekonomi Internet di Asia Tenggara dan Indonesia
Ride Hailing adalah daya tarik besar bagi orang orang di kota padat, di mana kepemilikan kendaraan pribadi mahal, berkontribusi terhadap polusi udara dan dikaitkan dengan kemacetan.
Adapun jenis e-commerce di Indonesia meliputi kategori bisnis to consumer (B2C), Consumer to Concumer (C2C), dan Business to Business (B2B).
Secara spesifik, fenomena ini memunculkan yang disebut dengan ekonomi digital, Tapscott dicirikan dengan 12 tema. Mereka adalah start-up, khususnya yang berbasis teknologi. Selain itu, ada juga e- commerce yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat digital saat ini. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki visi digital, karena menyadari potensi yang dimiliki dalam pengembangan kapabilitas digital.
BAB II DIGITALISASI
Sebelum pandemi, pemicu driver ekonomi digital adalah pemanfaatan internet yang semakin masif, ditandai dengan dimulainya Revolusi Industri 4.0 dan mulai maraknya istilah digital disruption.
2.1. Penggerak, Objek dan Dampak Digitalisasi
Secara spesifik, digitalisasi didorong dan terpicu oleh terobosan teknologi yang saat ini marak digunakan oleh masyarakat, seperti media sosial, komputasi seluler, analitik big data, komputasi dengan cloud, internet untuk segala sesuatu (internet of things-IOT), kecerdasan buatan (artificial intelligence), virtual reality, dan augmented reality.
Faktor yang menyebabkan penyebaran teknologi digital meluas adalah perubahan sikap, perilaku, dan ekspektasi masyarakat, khususnya pada kecepatan mereka mengadopsi teknologi baru, tuntutan pada lingkungan yang diharapkan, dan cara berkomunikasi di antara mereka, membagi pengalaman, cara berbelanja, dan juga menjual.
Þ Konsep 'inventing it themselves' mengarahkan kita pada driver ketiga, yaitu rendahnya hambatan masuk sehingga setiap orang yang terkoneksi internet bisa dengan mudah menjadi pengusaha meskipun dengan modal terbatas (Manyika et al., 2015a; Hirt dan Willmott, 2014).
Þ Kehadiran start-up menyebabkan pesaing yang inovatif muncul dari tempat- tempat tidak terduga dan dengan cepat dapat posisi perusahaan incumbent melalui akses platform digital global untuk riset, pengembangan, pemasaran, penjualan, dan distribusi dengan meningkatkan kualitas, kecepatan, dan harga sesuai dengan nilai yang ditawarkannya.
2.2. Objek Digitalisasi
Objek digitalisasi adalah seluruh proses dan pekerjaan; produk dan jasa, dan termasuk model bisnis.
Digitalisasi produk dan jasa merupakan proses yang bergerak dalam kontinum dari produk dominan fisik ke dominan digital, 50% digital dan 50% fisik.
2.3. Dampak Digitalisasi
Dimensinya dampak digitalisasi sangat bervariasi, meliputi pertumbuhan, model bisnis, lanskap industri, struktur rantai nilai, investasi, produktivitas, konsumsi, lapangan pekerjaan, keahlian, karakteristik pekerjaan, aturan main, persaingan dan bagaimana bisnis dijalankan.
Selain itu, digitalisasi berdampak juga pada semua geografi, industri, dan perusahaan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Dampak lebih jauh dari digitalisasi terutama pada implementasi model bisnis platform-topik (Model Bisnis Platform vs Pipeline)-yaitu sebuah model bisnis yang memberi kemudahan kepada konsumen untuk memperoleh alternatif produk yang lebih berkualitas; sedangkan, dari sisi
perusahaan adalah distribusi produk dan atau jasanya menjadi lebih pendek atau bahkan nol tingkat, karena langsung terakses pada konsumen tanpa harus melalui perantara.
2.4. Digital Business
Digital business pada bentuk yang paling sederhana, bersifat terbatas pada tampilan produk atau jasa perusahaan yang berbentuk publikasi informasi bagi segmen sasarannya, baik potensial konsumen maupun investor. Misalnya, website perusahaan atau organisasi yang sifatnya seperti brosur elektronik.
Bentuk selanjutnya adalah layanan digital bersifat pribadi, contohnya pertanyaan pelanggan, komunikasi melalui e-mail, penawaran umum, atau pengiriman informasi langsung ke pelanggan.
Tahap ketiga adalah layanan transaksi diselesaikan secara online. Terakhir, tahap keempat adalah pengintegrasian mitra transaksi secara online dalam bentuk aplikasi.
Keempat tahapan tersebut merupakan situasi yang saat ini terjadi dan dialami oleh seluruh organisasi- bisnis maupun public, dengan beberapa tahapan, berikut ini :
• Tahap pertama dalam bentuk presentasi statis, misalnya website banyak diimplementasikan oleh perusahaan dengan tujuan memublikasikan keberadaannya.
• Tahap kedua, interaksi komunikasional dengan bentuk dasar tetap sama, yaitu sebuah website namun disediakan media bagi konsumen untuk mengirimkan permintaan.
• Tahap ketiga, transaksi komersial berbasis online. Dalam hal ini, bukan lagi hanya sekedar memberikan informasi dan menerima pertanyaan konsumen semata, tetapi sudah pada tahap yang lebih jauh, yaitu terjadi transaksi.
• Tahap keempat berbentuk aplikasi yang mengintegrasikan layanan penawaran produk perusahaan, fasilitas pembayaran, dan pengantaran barang. Semua aplikasi digital bisnis yang berkembang saat ini adalah bentuk tahap keempat. Misalnya, Tokopedia, Traveloka, Shopee, dan lain-lain.
2.5. Model Business Kategori E- Business
Selama ini sektor transaksi yang paling umum terjadi dan paling penting adalah Business to Business (B2B) dan Business to Consumer (B2C), di mana perusahaan bisa berperan sebagai pembeli maupun sebagai penjual. Sementara itu, terkait penciptaan nilai di segmen B2C, maka komposisinya adalah perusahaan berada di sisi supply dan konsumen di sisi demand.
Selain B2B dan B2C, terdapat juga B2A, yaitu Business to Administrative process antara pelaku atau institusi bisnis dengan lembaga layanan pubik melalui media informasi dan komunikasi elektronik. C2B atau Consumer to Business merupakan sebuah bentuk interaksi sukarela seorang individu untuk melakukan pertukaran atau pemberian data kepada perusahaan. Transaksi yang terjadi antara individu- individu dalam sebuah platform e-business merupakan sebuah bentuk C2C (Consumer to Consumer).
Transaksi dalam skema A2C (Administration to Consumer) bersifat tidak komersial. Adapun skema A2A (Administration to Administration) merujuk pada proses elektronik terkait informasi khusus tugas-tugas antarotoritas pemerintah pada skala nasional dan internasional.
2.6. Model Business di Pasar Digital
Model bisnis digital pada dasarnya dirancang dengan tipologi: Business to Consumer B2C (4C-Net Business Model) dan Business to Business-B2B (45-Net Business Model).
1. Business to Consumer
Model bisnis Business to Consumer terdiri atas Content, Commerce, Context. dan Connection.
• Karakteristik model bisnis konten adalah pengumpulan, seleksi, sistematisasi, kompilasi (pengemasan), dan pengiriman konten pada platform.
• Jenis kedua adalah perdagangan (commerce) dengan transaksi melalui internet.
• Model ketiga adalah model bisnis konteks yang berfokus pada peng- klasifikasian dan sistematika informasi yang pada dasarnya sumber informasi tersebut berasal dari pihak lain. Klasifikasi model bisnis terdiri atas search engines, web directories, dan bookmarking services.
• Adapun model terakhir, yaitu model bisnis koneksi atau social media yang berkaitan dengan penyediaan pilihan untuk pertukaran informasi, sehingga ia memampukan interaksi antara pelaku digital yang tidak mungkin dilakukan secara fisik oleh karena tingginya biaya transaksi dan adanya hambatan komunikasi
2. Business to Business
Tipologi model bisnis 45-Net menggambarkan karakteristik yang relevan dengan model bisnis B2B, yaitu terdiri atas Sourcing, Sales, Supportive Collaboration, dan Service Broker.
A. Model bisnis sourcing
terdiri atas inisiasi dan/atau penyelesaian transaksi bisnis dari pembeli ke penjual. Tujuan model bisnis ini adalah untuk mengelola transaksi manajemen pembelian atau pengadaan dengan menggunakan internet.
B. Model bisnis penjualan (sales)
berkaitan dengan transaksi penjualan yang diinisiasi oleh penjual. Tidak seperti model source, di sini, hubungan langsung dibangun atas inisiatif penjual.
C. Model bisnis kolaborasi dukungan (supportive sollaborative)
terdiri atas kegiatan kolaborasi yang bernilai, khususnya dalam bidang riset dan pengembangan, produksi, dan penjualan.
D. Model bisnis service broker
mendukung transaksi bisnis B2B dengan menyediakan informasi dan marketplace. Jenis ini berbeda dengan jenis lain. Pada model ini, terdapat peran pihak ketiga sebagai penyedia jasa atau perantara.
2.7. Model Bisnis Platform vs Pipeline
Model bisnis platform merupakan sebuah model bisnis yang mempertemukan produsen dan konsumen dalam transaksi bernilai tinggi. Umumnya platform memiliki ekosistem dengan struktur dasar yang sama, yang terdiri atas empat tipe pemain, yaitu pemilik platform, penyedia (provider), produser yang membuat konten, dan konsumen yang menggunakannya.
¨ Perpindahan dari pipeline ke platform melibatkan tiga perubahan utama, yaitu sebagai berikut:
Þ Dari kendali sumber daya ke pengaturan sumber daya.
Persaingan ber- dasarkan Resource-based Views (RBV) bermakna bahwa perusahaan bisa mendapatkan keunggulan apabila ia mampu mengendalikan sumber daya yang langka dan bernilai, bahkan yang tidak bisa ditiru.
Þ Dari optimasi internal ke interaksi eksternal.
Perusahaan-perusahaan di pipeline mengelola sumber daya dan tenaga kerja secara internal agar bisa menciptakan nilai dengan mengoptimalkan seluruh rantai aktivitas, mulai dari bahan-bahan baku sampai dengan penjualan dan layanan setelah penjualan. Sementara itu, platforms menciptakan nilai dengan memfasilitasi interaksi antara eksternal produser dengan konsumen.
Þ Dari fokus pada nilai pelanggan ke nilai ekosistem.
Tipe pipeline mencari maksimalisasi nilai seumur hidup pelanggan, yang sebagai akibatnya, pelanggan selalu berada di ujung proses linier produksi. Sebaliknya, platforms mencoba memaksimalkan total nilai dari perluasan ekosistem melalui proses sirkuler, iteratif, dan terarah pada umpan balik.
Digitalisasi mengakibatkan terjadinya perubahan signifikan bagi dunia bisnis. Perubahan ini berdampak pada model bisnis, baik yang berorientasi pada konsumen (Business to Consumer-B2C), pada organisasi atau perusahaan (Business to Business-B2B), pada lembaga pemerintah (Business to Administration- B2A). Model bisnis platform merupakan model bisnis yang saat ini merevolusi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan platform yang terdiri atas empat pemain utama (provider, producer, owner, dan consumer) menjadi sebuah ekosistem yang sangat powerful.
BAB III
DAMPAK DIGITALISASI
Kekuatan digital memberi peluang dan tantangan semua jenis bisnis.Perusahaan incumbent atau perusahaan konvensional yang tidak dirancang sesuai dengan karakteristik ekonomi digital sangat perlu melakukan inovasi dan transformasi digital.
1.1. Transformasi Digital
Transformasi digital merupakan proses di mana perusahaan menyatukan beberapa teknologi digital baru, ditingkatkan dengan konektivitas di mana-mana, dengan mengubah beberapa dimensi bisnis, termasuk model bisnis, pengalaman pelanggan (terdiri atas produk dan layanan yang diaktifkan secara digital) dan operasi (terdiri atas proses dan pengambilan keputusan), dan secara bersamaan berdampak pada orang (termasuk bakat keterampilan dan budaya) dan jaringan (termasuk seluruh sistem nilai).
Konteks transformasi berarti bahwa proses transformasi yang terjadi dipicu oleh aspek konteks internal dan eksternal.
a. Konteks internal meliputi upaya-upaya perusahaan melakukan penghematan biaya (cost saving), dalam rangka inovasi dan mengimplementasikan strategi diferensiasi, untuk mencapai efisiensi dan efektivitas operasional.
b. Konteks eksternal meliputi adanya emerging technologies yang cepat dan merusak (disrupt), pelanggan berorientasi digital (tech-savvy customer).
c. Konten transformasi dapat terjadi pada rantai nilai (value chain) dan sistem nilai (value system).
Pada sisi rantai nilai, transformasi terjadi pada pengambilan keputusan di elemen operasional yang secara langsung memengaruhi elemen sumber daya manusia, yaitu orang dan budaya.
d. Pada sisi sistem nilai, transformasi terjadi pada pengalaman pelanggan atas produk maupun jasa;
hal ini akan memengaruhi elemen integrasi jaringan nilai.
Proses transformasi yang terfokus pada aspek strategi berkaitan juga dengan konten dan proses. Dalam hal ini, strategi tersebut perlu diidentifikasi dengan mengacu pada orientasi saat memulai transformasi digital, yaitu meliputi:
a. customer engagement strategy berkaitan dengan penawaran pengalaman yang superior, inovatif, dipersonalisasi, dan terintegrasi;
b. digital solutions strategy bertujuan merumuskan kembali proposisi nilai perusahaan melalui integrasi produk, layanan, dan data.
1.2. Lima Area Transformasi Digital
Transformasi digital membutuhkan cara pandang menyeluruh atas strategi bisnis dengan fokus pada lima area: pelanggan, persaingan, data, inovasi, dan nilai yang ditawarkan perusahaan.
Area yang terdampak dalam proses transformasi digital perusahaan adalah Customers, Competition, Data, Innovation, dan Value.
1. Pelanggan (Customers)
Teori tradisional dalam ilmu ekonomi dan bisnis, yaitu konsumen atau pelanggan dilihat sebagai aktor utama yang disasar oleh perusahaan dan harus dibujuk supaya membeli produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan.
2. Persaingan
Jika biasanya persaingan dan kerja sama adalah hal yang berlawanan, maka di era digital ini karena batasan industri sudah cair, maka persaingan tidak lagi datang hanya dari pemain dalam industri yang sama. Ini disebut dengan persaingan yang asimetris dan merupakan tantangan terbesar bagi perusahaan pada masa sekarang.
3. Data
Data berkaitan erat dengan cara perusahaan menghasilkan, mengelola, dan memanfaatkan data. Data dihasilkan melalui alat ukur yang telah direncanakan sebelumnya oleh perusahaan, misalnya data survei.
Data tersebut kemudian digunakan untuk mengevaluasi, mem- proyeksi, dan pengambilan keputusan.
Setiap bisnis kini memiliki akses ke aliran data tidak terstruktur yang dihasilkan tanpa perencanaan dan yang semakin dapat digunakan dengan alat analisis baru. Kondisi ini dikenal dengan istilah big data.
4. Inovasi
Area keempat adalah inovasi, yaitu proses pembangkitan, pengujian, dan pengembangan ide baru ke pasar. Kita bisa memperoleh umpan balik dari sejak awal proses inovasi, sepanjang perjalanan peluncuran produk, dan bahkan setelahnya.
5. Value
Nilai yang ditawarkan oleh perusahaan selama ini bersifat konstan meskipun produk dimutakhirkan, pesan-pesan promosi dibuat lebih baru, atau sistem produksi ditingkatkan.
Di era digital, hal tersebut akan menjadi ancaman bagi perusahaan dan bukan tidak mungkin memberikan peluang bagi pesaing baru untuk merusaknya (disrupsi).
1.3. Digital Transformation Playbook
Beberapa kerangka kerja baru untuk perusahaan dalam strategi digital perusahaan, sebagai berikut : 1. Harness Customer Networks
Perusahaan perlu menciptakan strategi melayani konsumen secara efektif, perusahaan perlu memahami konsep-konsep kunci terkait konsumen sebagai aset strategis, menginvensi saluran-
saluran pemasaran, mengidentifikasi jalur digital yang biasa digunakan konsumen dalam melakukan pembelian.
2. Ciptakan Platforms, Jangan Sekedar Produk
Pesaing asimetris adalah pesaing yang berasal dari luar industri yang saat ini memiliki peran signifikan dalam persaingan dan kerja sama di dalam setiap industri.
Dalam mengembangkan strategi bersaing di era digital, perusahaan harus memahami beberapa hal, yaitu model bisnis platform, dampak jejaring langsung dan tidak langsung, kerja sama- persaingan di antara perusahaan-perusahaan, dinamika intermediasi dan disintermediasi, serta nilai persaingan.
3. Data Menjadi Aset
Aset data memberikan nilai bagi perusahaan dalam bentuk: wawasan pasar baru. Untuk itu, perusahaan perlu memahami empat model penciptaan nilai dari data, sumber baru dan kemampuan analitik big data, peran kausalitas dalam pengambilan keputusan berbasis data, dan risiko seputar keamanan dan privasi data.
4. Inovasi dengan Percobaan yang Cepat
Percobaan yang cepat dapat meliputi: pengujian A/B dan multivarian yang terus-menerus, penggunaan prototipe minimum yang layak untuk mengeksplorasi produk baru, melibatkan pengujian yang ketat terhadap asumsi inovasi, uji coba, dan peluncuran yang hati-hati, serta untuk mendorong kegagalan cerdas dalam organisasinya.
5. Sesuaikan Proposisi Nilai
Agar proposisi nilai perusahaan bisa proaktif beradaptasi, maka perusahaan harus memahami elemen: konsep kunci nilai perusahaan, tiga langkah posisi pasar yang menurun, dan tahap-tahap esensial untuk menganalisis proposisi nilai secara efektif, identifikasi ancaman dan peluang yang muncul, serta sintesakan tahap selanjutnya dengan efektif.
1.4. Mengelola Perubahan Organisasi dalam Transformasi Digital
Manajemen perubahan didefinisikan sebagai penerapan intervensi khusus untuk mendukung transisi individu atau kelompok dari saat ini ke keadaan masa depan yang diinginkan. Hal tersebut mencakup empat bidang utama, yaitu Align Leadership, Mobile Organization, Build Capabilities, dan Ensure Sustainability.
Keempat bidang tersebut dijelaskan secara berurutan sebagai berikut:
1. Kepemimpinan yang Selaras (Alignment)
Pemimpin harus menciptakan kebutuhan untuk digitisasi, membangun visi, dan memastikan pemimpin sebagai role model.
a. Creat Urgency for Digitization
Urgensi berarti bahwa sejumlah besar orang dalam organisasi merasa bahwa seolah-olah tidak ada pilihan lain bagi organisasi untuk melakukan transformasi dan apabila hal tersebut tidak dilakukan, maka organisasi akan melewatkan momen penting, yaitu peluang strategis yang besar.
b. Develop a Compelling Digital Vision
Visi harus memiliki kualitas dan bersifat holistic, karena dipandang sebagai prasyarat kritis menyelaraskan kepemimpinan di sekitar masa depan digital organisasi dan untuk mendorong perubahan digital di seluruh organisasi.
c. Pemimpin Menjadi Role Model
Para senior harus terlihat menggunakan teknologi digital dan harus berbagi pengalaman mereka dengan organisasi. Mereka harus menjadi pionir yang menggunakan teknologi digital tersebut dan intensif bergabung dalam percakapan.
2. Memobalisasi Organisasi
Hal ini bertujuan agar bukan hanya kesadaran dan pengaturan untuk digitalisasi meningkat, akan tetapi agar tercapai transformasi digital yang sukses.
a. Acces the Organizational Implication of Digitization
Perusahaan dapat membuat analisis perubahan, alat lain yang berguna untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang dampak perubahan teknologi digital adalah customer road map, Peta ini menggambarkan, "harapan, pengalaman, dan refleksi pelanggan dari waktu ke waktu, beberapa tahapan dan titik kontak saat menggunakan produk atau mengonsumsi layanan".
b. Promote Digitization via Communication
Komunikasi yang efektif selalu berhubungan dengan perasaan orang dan dengan apa yang mereka anggap bermakna, misalnya dengan visi digital.
c. Build a Network of Digital Champions
Jaringan akan mendukung pengelolaan masalah perubahan di lapangan, sementara memberikan umpan balik kepada kepemimpinan dan perubahan proyek yang relevan dengan tim manajemen.
3. Membangun Kapabilitas
Perusahaan perlu melakukan hal-hal seperti pengembangan kompetensi dan keahlian digital, meningkatkan peran bagian sumber daya manusia, dan memberikan kesempatan berkembang.
a. Build Digital Skill and Competencies
Program latihan harus fokus terutama pada karyawan yang tidak menguasai teknologi, misalnya, bagi karyawan lebih tua, serta kurikulum yang digunakan untuk mencakup semua teknologi dan aplikasi yang berhubungan dengan digitalisasi.
b. Offer Test and Learning Opportunities
Program pelatihan harus memanfaatkan penggunaan alat digital dalam penyampaian pelatihan, misalnya, menyediakan lingkungan belajar virtual yang inovatif, di mana karyawan dapat bereksperimen dengan cara berperilaku baru, misalnya melalui pendekaran Design Thinking.
c. Leverage HR Practices
Perusahaan perlu bekerja sama dengan bagian SDM untuk memanfaatkan proses SDM yang ada, misalnya dalam proses perekrutan dan manajemen bakat (talent management).
4. Memastikan Keberlanjutan
Perusahaan harus membuat divisi khusus, menyelaraskan sistem penilaian (key performace indicators) dan insentif, serta melakukan peninjauan berkala.
a. Adapt the Formal Organization
Organisasi harus menyesuaikan organisasi mereka dengan tantangan digital, misalnya, labo- ratorium virtual tempat aplikasi dan berbagai metode dikembangkan dapat dengan cepat dimasukkan ke dalam sebuah gugus tugas lintas fungsi, atau penyediaan mekanisme inovasi.
b. Align KPI and Incentive Systems
Setelah mengadaptasi organisasi formal untuk mendukung perubahan digital yang bergerak cepat, maka perlu juga menyelaraskan KPI dan sistem insentif untuk mempertahankan proses ini.
c. Monitor the Digital Adoption Process
Metodologi manajemen perubahan organisasi biasanya mencakup berbagai metode pemantauan perubahan, seperti survei kesiapan perubahan atau wawancara untuk menilai pendapat dan keyakinan dari karyawan.
1.5. Hybrid Company Model
Hybrid Company Model (HCM) merupakan sebuah model hibrida perusahaan yang memadukan konsep Strategic Entrepreneurship dan Kapabilitas Dinamis, dan mengombinasikannya dengan Collaborative Innovation serta Resources Orchestration.
Adapun dua jalur transformasi tersebut adalah Transformasi A berupa hybrid configuring dan Transformasi B berupa collaborative innovation. Selain dikenal dengan istilah Hybrid Company Model, model ini juga dikenal dengan istilah transformasi bimodal.
Ringkasnya, transformasi digital yang dilakukan perusahaan apabila mengadopsi model ini adalah menggabungkan gaya korporasi dan gaya start-up.
1.6. Hybrid Configuring
Transformasi jalur A ini merupakan upaya perusahaan menemukan kemungkinan- kemungkinan baru dalam rangka melayani pasar saat ini. Ini disebut dengan istilah reposisi inti, yaitu ketika perusahaan melakukan reposisi setelah melakukan asesmen eksternal dan dalam rangka mengantisipasi persaingan yang terjadi.
Dalam melakukan hal tersebut, perusahaan melalui para manajer- nya akan (Utoyo, 2020) :
(1) mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan unik yang masih bisa diandalkan untuk memberi solusi pada kebutuhan konsumen saat ini;
(2) ber- inovasi pada model bisnis baru;
(3) menentukan dan memantau metrik baru; dan (4) melaksanakannya secara agresif
1.7.Collaborative Innovation
Transformasi ini, menurut Utoyo, merupakan upaya penciptaan mesin per- tumbuhan baru yang menekankan pada inovasi disruptif.
Atas kondisi tersebut, Anthony et al. (dalam Utoyo, 2020:189-190) menyatakan ada empat hal yang harus dilakukan oleh para manajer, yaitu:
(1) mengidentifikasi pasar terbatas dengan masalah baru;
(2) menemukan cara baru bagi konsumsi yang lebih murah dan nyaman;
(3) mengembangkan bisnis model baru;
(4) memanfaatkan kemitraan, akuisisi, dan rekrutmen baru dalam mengantisipasi kompetisi baru.
1.8. Implementasi Hybrid Company Model oleh Bank BRI
Hybrid Company Model ini kemudian diuji olehnya di Bank Rakyat Indonesia (BRI), perusahaan inkumben yang terdampak secara langsung dengan perubahan karakter persaingan di era digital ini.
Hal ini terbukti berhasil, di mana BRI bisa bersaing dengan memberikan layanan konvensional maupun digital sebagaimana tampak pada tabel berikut.
Era digitalisasi memberi dampak pada perusahaan konvensional (incumbent untuk bertransformasi, baik pada skala makro (misalnya, model bisnisnya) atau pada aspek mikro (misalnya, pemasaran dengan mulai menggunakan berbagai media pemasaran digital, khususnya social media).
Secara spesifik, hal ini berkaitan dengan lima hal dalam perusahaan, yaitu value proposition, customer, data, innovation, dan termasuk persaingan. Adapun jalur transformasi digital yang bisa dilalui oleh perusahaan meliputi jalur A, yaitu transformasi dengan fokus pada reposisi inti, dan jalur B, yaitu transformasi secara menyeluruh.