PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM AHMAD TAFSIR (FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAMI)
Noorazmah Hidayati
Abstrak:
Education that happens now according to Ahmad Tafsir is only more concerned with cognitive elements. That is, only stop at knowing (knowing) Islam alone. The element of being religious, which actually plays a very urgent role in life, is lacking and has not been considered in education. Therefore, there is an imbalance in educating human elements, so there is an imbalance in life, where dominant behavior or behavior does not reflect the life of civilized civil society. In his thinking, explained the main causes of moral decline and alternative solutions to the analysis of philosophy and Sufism.
Kata kunci: hakikat dan inti manusia, hakikat dan core pendidikan, dan hakikat tujuan pendidikan
A. Pendahuluan
Pemikiran pendidikan Islam Ahmad Tafsir dalam buku Filsafat Pendidikan Islami jika dilihat berdasarkan urutan bab
Penulis adalah dosen tetap STAI Rakha Amuntai. Email:
terlihat bahwa ia menyusun buku tersebut seperti sebuah bunga rampai. Buku tersebut merupakan kumpulan makalah- makalah yang telah ia sampaikan untuk bahan perkuliahan selama berkecimpung sebagai dosen filsafat. Namun demikian, tulisan ini memiliki karakteristik tersendiri dalam memandang persoalan pendidikan di Indonesia.
Pendidikan yang terjadi sekarang menurut Ahmad Tafsir hanya lebih mementingkan unsur kognitif saja, hanya memprioritaskan pada aspek mengetahui saja, dan berhenti pada mengetahui agama Islam saja. Adapun unsur menjadi beragama, yang sebenarnya berperan sangat urgen dalam kehidupan, kurang dan belum diperhatikan dalam pendidikan.
Karena terjadi ketimpangan dalam mendidik unsur-unsur manusia, maka terjadilah ketidakseimbangan dalam kehidupan, dimana akhlak, perilaku, tindakan dominan belum mencerminkan kehidupan masyarakat madani, beradab.
Problematika kehidupan bangsa, yang juga menjadi permasalahan dalam pendidikan diuraikan oleh Ahmad Tafsir.
Ia menjelaskan penyebab utama atau pangkal terjadinya kemerosotan moral dan alternatif solusinya. Dalam
183 mendeskripsikan hal tersebut, ia cenderung banyak menggunakan sudut pandang filsafat dan sebagian aspek ia jelaskan dengan sudut pandang tasawuf.
B. Biografi Singkat Ahmad Tafsir
Ahmad Tafsir, lahir di Bengkulu 19 April 1942.
Pendidikannya diawali di Sekolah Rakyat (sekarang SD) di Bengkulu, melanjutkan sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama) 6 tahun di Yogyakarta. Selanjutnya, ia belajar di Fakultas Tarbiyah IAIN Yogyakarta, dan menyelesaikan Jurusan Pendidikan Umum tahun 1969. Tahun 1975-1976 (selama 9 bulan) mengambil Kursus Filsafat di IAIN Yogyakarta. Tahun 1982 mengambil Program S2 di IAIN Jakarta. Tahun 1987 ia menyelesaikan S3 di IAIN Jakarta.
Sejak tahun 1970, Ahmad Tafsir mengajar di Fakultas Tarbiyah IAIN Bandung, sampai sekarang. Tahun 1993, Guru Besar Ilmu Pendidikan ini mempelopori berdirinya Asosiasi Sarjana Pendidikan Islam. (ASPI). Sejak Januari 1997 ia diangkat menjadi Guru Besar pada Fakultas Tarbiyah IAIN
184 Bandung.1
Pada dasarnya Ahmad Tafsir adalah insan pendidik dan pendakwah. Pengalaman pendidikan, pekerjaan, dan pergaulannya menempatkannya sebagai sosok yang kaya pengalaman dengan lingkungan pergaulan yang luas. Latar belakang pendidikannya berangkat dari Pesantren Salafi, dan selanjutnya mengikuti pendidikan formal hingga S-3. Karya tulisnya tersebar pada berbagai media. Umumnya ia menulis tentang pendidikan dan filsafat. Namun, ia juga menulis tentang tasawuf. Di antara karya tulis yang telah dipublikasikan adalah:
1. Filsafat Pendidikan Islami; Integrasi Jasmani, Rohani, dan Qalbu Memanusiakan Manusia, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006).
Buku ini berisi sepuluh bab, dan diantara bab tersebut yang diletakkan sebagai bab pertama adalah tentang hakikat manusia. Sebabnya dijadikan bab pertama adalah karena menurut Ahmad Tafsir harus dibicarakan lebih dahulu tentang
1Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 343.
siapa manusia itu sebenarnya. Yang berarti pula harus berbicara tentang hakikat manusia. Pendidikan yang baik harus didesain sesuai dengan pengertian kita tentang hakikat manusia. Apa hakikat manusia? Penjelasan yang terbaik tentang hakikat manusia ialah penjelasan dari pencipta manusia itu. Penjelasan oleh rasio manusia mempunyai kelemahan karena akal itu terbatas kemampuannya. Bukti terbaik tentang keterbatasan akal ialah akal itu tidak mengetahui apa akal itu sebenarnya.2
2. Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2002).
Buku ini terdiri dari sepuluh bab. Dalam buku ini diuraikan pengertian "metodologi" yang dihubungkan dengan
"pengajaran agama Islam." Menurut Ahmad Tafsir bahwa dari pengalamannya, banyak orang menerjemahkan atau menyamakan pengertian "metode" dengan "cara." Ini tidak seluruhnya salah. Memang metode dapat juga diartikan cara.
Untuk mengetahui pengertian metode secara tepat, dapat melihat penggunaan kata metode dalam bahasa Inggris. Dalam
2Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 14
bahasa Inggris ada kata way dan ada kata method. Dua kata ini sering diterjemahkan cara dalam bahasa Indonesia.
Sebenarnya yang lebih layak diterjemahkan cara adalah kata way itu, bukan kata method.3
3. Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004).
Buku ini berjumlah empat bab. Dalam buku ini diuraikan Ahmad Tafsir bahwa orang-orang yang mempelajari bahasa Arab mengalami sedikit kebingungan tatkala menghadapi kata
"ilmu". Dalam bahasa Arab kata al-'ilm berarti pengetahuan (knowledge), sedangkan kata "ilmu" dalam bahasa Indonesia biasanya merupakan terjemahan science. Ilmu dalam arti science itu hanya sebagian dari al-'ilm dalam bahasa Arab.
Karena itu kata science seharusnya diterjemahkan sain saja.
Maksudnya agar orang yang mengerti bahasa Arab tidak bingung membedakan kata ilmu (sain) dengan kata al-'ilm yang berarti knowledge. Dalam buku ini yang diuraikan tidak
3Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2002), hal. 9.
187 hanya pengetahuan sain (science), diuraikan juga seluruh yang disebut pengetahuan termasuk pengetahuan yang "aneh-aneh"
seperti pelet, kebal, santet, saefi, dan lain-lain. Apa sih pengetahuan itu? Menurut Ahmad Tafsir, pengetahuan ialah semua yang diketahui. Menurut al-Quran, tatkala manusia dalam perut ibunya, ia tidak tahu apa-apa. Tatkala ia baru lahir pun barangkali ia belum juga tahu apa-apa. Kalaupun bayi yang baru lahir itu menangis, barangkali karena kaget saja, mungkin matanya merasakan silau, atau badannya merasa dingin. Dalam rahim tidak silau dan tidak dingin, lantas ia menangis. Tatkala bayi itu menjadi orang dewasa, katakanlah ketika ia telah berumur 40 tahunan, pengetahuannya sudah banyak sekali. Begitu banyaknya, sampai-sampai ia tidak tahu lagi berapa banyak pengetahuannya dan tidak tahu lagi apa saja yang diketahuinya, bahkan kadang-kadang ia juga tidak tahu apa sebenarnya pengetahuan itu. Semakin bertambah umur manusia itu semakin banyak pengetahuannya. Dilihat dari segi motif, pengetahuan itu diperoleh melalui dua cara.
Pertama, pengetahuan yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa motif, tanpa keingintahuan dan tanpa usaha. Tanpa ingin
188 tahu lantas ia tahu-tahu, tahu. Seorang sedang berjalan, tiba- tiba tertabrak becak. Tanpa rasa ingin tahu ia tahu-tahu, tahu bahwa ditabrak becak, sakit. Kedua, pengetahuan yang didasari motif ingin tahu. Pengetahuan diperoleh karena diusahakan, biasanya karena belajar.4
4. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001).
Buku tersebut berisi tentang pertarungan antara ‘golongan akal’ dan ‘golongan suara hati’. Kajian dalam buku ini dilengkapi dengan tokoh-tokoh sejak yang dianggap sebagai filosof pertama, yakni Thales dan latar belakang yang mendasri filsafat mereka. Ketika ‘golongan akal’ menang manusia menjadi kacau. Juga, manakala ‘golongan suara hati menang manusia menjadi bingung. Ia menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan manusia agar tidak kacau dan tidak bimbang, yakni penggunaan akal dan hati secara seimbang.5
4Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 3, Lihat juga Dadang Hawari, Al-Qur'an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 2008), hal. 195-196.
5Lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), hal. 1-6
C. Pemikiran Pendidikan Islami Ahmad Tafsir
Konsep atau pemikiran Ahmad Tafsir tentang filsafat pendidikan Islami dalam hal ini dominan merujuk pada buku Filsafat Pendidikan Islami yang ditulis olehnya. Dalam karyanya tersebut Ahmad Tafsir membahas pandangan filsafat dalam dunia pendidikan dan menganalisisnya dari sudut pandang Islam.
Dalam bukunya tersebut, Ahmad Tafsir mengakui bahwa buku tersebut tidak ditulis berdasarkan urutan pembahasan layaknya sebuah buku filsafat. Tetapi, ditulis berdasarkan urutan alur berfikir terhadap cara memandang persoalan pendidikan melalui pendekatan deduktif-induktif. Dimulai dari pembahasan tentang hakikat manusia yang kemudian membahas hakikat pendidikan, dilanjutkan dengan beberapa kritik terhadap kebijakan pendidikan di Indonesia dilihat dari sudut pandang filsafat.
1. Hakikat dan inti manusia
Socrates mengatakan bahwa belajar yang sebenarnya ialah belajar tentang manusia. Pernyataan ini menurut Ahmad Tafsir
sangat mendasar. Manusia mengatur dirinya, lalu ia membuat peraturan untuk itu. Manusia juga mengatur alam dan ia membuat aturan pula untuk itu. Jadi, manusia mengurus dirinya dan alam berdasarkan manusia itu sendiri. Dengan demikian, manusia adalah sentral segalanya, sehingga wajar dan bahkan semestinya manusia mengenali siapa manusia itu sebenarnya.
Hakikat manusia menurut Ahmad Tafsir perlu dibahas terlebih dahulu karena sangat berkaitan dengan pendidikan.
Pendidikan yang didambakan bergantung pada pemahaman tentang hakikat dan inti manusia karena tujuan dan komponen pendidikan lainnya ditentukan berdasarkan pada pemahaman tentang hakikat manusia. Ini penting, sebab pendidikan adalah untuk manusia. Menurutnya, adalah berbahaya bila pendidikan didesain tanpa memiliki pemahaman tentang manusia.
Kesalahan yang membahayakan adalah mendesain pendidikan secara parsial, tidak terintegrasi. Seringkali yang dididik adalah tangan , keterampilan, mata, otak manusia. Manusianya sendiri belum atau bahkan tidak tersentuh. Karena itu, lulusan akan ahli tangannya, terampil, ahli melukis, memainkan alat
191 musik tetapi ia belum tentu manusia. Muncullah manusia koruptor, tidak peduli sosial, dan anti sosial. Padahal, pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu, perlu diketahui hakikat atau kesejatian manusia.
Hakikat manusia dijelaskan oleh Ahmad Tafsir dengan mengambil pendapat al Syaibani yang mengatakan bahwa manusia terdiri atas tiga unsur yang sama pentingnya, yaitu jasmani, akal, dan ruhani. Oleh karena itu, pendidikan harus mengembangkan ketiga aspek tersebut secara seimbang dan terintegrasi.
Berdasarkan pendapat di atas, menurut Ahmad Tafsir pendidikan haruslah terarah membina ketiga unsur manusia secara proporsional. Dikatakan proporsional ketika unsur tersebut terintegrasi. Dikatakan terintegrasi manakala inti atau core manusia ditemukan dan menyetujui setiap tindakan yang dilakukan.
Inti manusia dideskipsikan oleh Ahmad Tafsir dengan mengetengahkan dua Hadits Nabi saw. Hadits Nabi saw memberitakan bahwa suatu ketika serombongan Arab padang pasir (Badui) datang menemui Nabi saw sambil berkata: “Ya
192 Rasul Allah, kami telah beriman”. Nabi saw mengatakan:
“Janganlah kalian mengatakan kami telah beriman, katakan
saja kami telah tunduk, sebab iman itu belum masuk ke dalam kalbu kalian”.
Iman yang begitu tinggi kedudukannya dalam kehidupan manusia menurut dalil di atas terletak di dalam kalbu, bukan di kepala atau di jasmani. Selain itu, manusia dikendalikan oleh world viewnya, karena iman adalah world view, maka manusia dikendalikan oleh imannya. Jadi, inti manusia adalah imannya, karena iman di kalbu. Dengan kata lain, dapat dikatakan inti manusia ada di kalbunya. Oleh karena itu, kalbu tersebutlah yang menjadi sasaran pendidikan untuk diisi dengan iman.
Inti manusia juga dijelaskan oleh Hadits qudsi Nabi saw yang artinya: “Aku jadikan pada manusia itu ada istana (qashr), di dalam istana itu terdapat dada (shadr), di dalam shadr itu terdapat kalbu (qalb), di dalam qalb itu terdapat fu’ad, di dalamfu’aditu terdapat syaghaf, di dalam syaghaf itu terdapat lubb, di dalam lubb itu terdapat sirr, dan di dalam sirr itu ada Aku (Ana)”.
qashr
Hadits di atas menjelaskan bahwa Aku menjadi inti. Jadi, inti manusia ialah sesuatu yang bersifat Ilahiayah, atau dalam Kamrani Buseri adalah manusia yang nilai-nilai Ilahiyah
qalb Fu’ad
syaghaf
lubb sirr
ANA
melingkupi setiap perilakunya.6Jadi, dapat disimpulkan bahwa inti manusia, esensi yang paling esensial dari manusia, sejatinya manusia ialah imannya.
Karena inti manusia adalah iman, maka pembinaan manusia agar menjadi manusia dilakukan dengan cara mengisi kalbu dengan mempertebal iman. Iman diisi dan dipertebal dengan materi atau bahan yang bersumber pada Qu’an, Hadits, dan kawn. Semua yang baik menurut Ilahi, itulah yang harus diisikan.7
2. Hakikat pendidikan
Hakikat pendidikan sebagaimana yang telah dirumuskan oleh orang-orang Yunani sekitar 600 tahun SM adalah usaha membantu manusia menjadi manusia. Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia, yakni memiliki nilai atau
6Lihat Kamrani Buseri, Pendidikan Holistik dalam Islam, makalah disampaikan pada mata kuliah Pengembangan Teori dan Praktik Pendidikan Islam, Program Doktoral IAIN Antasari Banjarmasin pada 13 Maret 2013, hal. 27
7Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 7-31, Lihat juga Ahmad Tafsir, Problematika Pendidikan Keimanan Zaman Global dan Strategi Pemecahannya, dalam Kamrani Buseri, dkk (ed), Metodologi Penelitian Pendidikan Islam, (Banjarmasin: IAIN Antasari Banjarmasin, 1997), hal.20
195 sifat kemanusiaan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tidaklah mudah menjadi manusia. Karena itu, sejak dahulu terdapat manusia yang gagal menjadi manusia. Agar usaha memanusiakan manusia dan program dapat disusun maka ciri- ciri manusia yang sesungguhnya haruslah jelas.
Kriteria manusia yang menjadi tujuan pendidikan ditentukan oleh filsafat hidup. Ahmad Tafsir menjelaskannya dengan menggunakan filsafat dari sudut pandang Islam. Ia menyatakan bahwa kriteria manusia adalah memiliki pengetahuan yang tinggi atau mampu berpikir benar. Berpikir benar adalah dapat mengendalikan diri agar berperilaku sesuai fitrah dan mencerminkan nilai-nilai Ilahiah.
Menurut Ahmad Tafsir dalam pernyataan usaha memanusiakan manusia terkandung aspek menolong. Hal ini karena pendidik mengetahui bahwa pada manusia terdapat potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi manusia dan menjadi bukan manusia. Kata menolong juga menegaskan bahwa perbuatan mendidik adalah sekadar menolong. Jadi, pendidik sebelumnya mengetahui bahwa nantinya terdapat muridnya yang menjadi manusia dan terdapat pula yang tidak.
196 Selain itu, menolong juga mengiaskan agar pendidik tidak sombong. Bila pendidikannya berhasil, maka itu adalah berkat usaha murid itu sendiri, usaha dari orang lain, atau pengaruh lainnya, dan sebagiannya merupakan hasil pendidik. Kata menolong juga mengajarkan kepada pendidik bahwa menolong atau mendidik haruslah dilakukan dengan kasih sayang. Kata menolong selain itu juga mengandung pengertian selalu ke arah yang benar. Jadi, dalam pertolongan harus berisi sesuatu yang benar.
Pendidikan juga pada hakikatnya berlangsung seumur hidup. Tegasnya, karena manusia selalu menghadapi masalah maka selama itu pula ia memerlukan pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan merupakan hal yang tidak pernah selesai. Hal tersebut terjadi karena pengaruh pandangan hidup. Perubahan pandangan hidup turut berpengaruh terhadap ketidakpuasan seseorang akan keadaan pendidikan. Juga, fitrah setiap manusia menginginkan yang lebih baik, termasuk pendidikan.
Selain itu, karena teori pendidikan dan teori umum lainnya selau ketinggalan oleh keperluan masyarakat. Umumnya, teori pendidikan dibuat berdasarkan keperluan masyarakat pada
waktu dan tempat tertentu. Karena waktu dan tempat dinamis maka keperluan masyarakat juga berubah, sehingga manusia menjadi tidak puas dengan teori pendidikan yang ada.8 Penyebab yang lain adalah pendidikan menggunakan jasa ilmu-ilmu lain. Ketika ilmu-ilmu yang berkontribusi terhadap pendidikan berkembang pesat, maka pendidikan juga ikut berkembang dinamis.9
Karena manusia tidak pernah puas dengan pendidikan yang ada, maka ia berusaha memperbaikinya. Adapun cara yang terbaik dalam memperbaiki pendidikan yang dilakukan oleh ahli pendidikan menurut Ahmad Tafsir adalah mengkaji ulang pendidikan pada tingkat filsafat. Selanjutnya, diturunkan pada level filsafat pendidikan, sehingga akan muncul bentuk paradigma baru tentang pendidikan. Berikutnya, diturunkan lagi ke tahap penyusunan dan pembangunan kembali teori ilmu pendidikan yang disesuaikan dengan paradigma pada level dua. Setelah itu, didesain model pendidikan yang sejalan
8Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 32-44
9Muhaimin, Pengembangan Pendidikan Islam: Teori dan Praktik, Handsout disampaikan pada kuliah Program Doktor (S-3) PPS IAIN Antasari Banjarmasin pada 30 Maret 2013, hal. 22
dengan teori ilmu pendidikan yang baru tersebut.10
3. Dasar dan tujuan pendidikan
Pendidikan harus dirancang sebaik-baiknya agar menghasilkan lulusan manusia sempurna (insan kamil). Dalam rancangan tersebut harus diletakkan dasar yang kokoh. Dasar tersebut harus dapat menjamin lulusan pendidikan menjadi manusia yang sebaik-baiknya.
Dasar pendidikan Indonesia adalah Pancasila, karena nilai-nilai Pancasila merupakan sumber peraturan yang mengoperasikan negara, termasuk pendidikan. Terdapat lima nilai dasar yang dimiliki Pancasila. Pertama, bangsa Indonesia harus beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut agamanya masing-masing. Makna penting dalam nilai ini adalah dalam kebudayaan Indonesia tidak boleh berkembang sekularisme, terlebih atheisme. Nilai ini menjiwai empat nilai lainnya. Dengan demikian, maka nilai kedua adalah kemanusiaan yang adil dan beradab berdasarkan keimanan pada Tuhan YME, nilai ketiga, persatuan Indonesia
10Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 43
199 berdasarkan pada keimanan pada Tuhan YME. Nilai keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan berdasarkan keimanan pada Tuhan YME, dan nilai kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berdasarkan keimanan pada Tuhan YME.
Nilai pertama merupakan inti (core) yang menjiwai, mewarnai, mendasari, dan mengarahkan empat nilai lainnya.
Nilai-nilai Pancasila di atas dijadikan sumber dalam menghasilkan dan mengembangkan serta mewarnai kebudayaan bangsa Indonesia. Menurut Ahmad Tafsir falsafah Pancasila merupakan suatu sistem nilai yang pada dasarnya diambil dari ajaran agama.11
Falsafah Pancasila merupakan landasan pijakan bagi bangsa Indonesia. Isi dan nilai Pancasila berintikan keimanan pada Tuhan YME. Inti falsafah tersebut diturunkan pada UUD 45 yang juga masih berada pada level filosofis. Secara filsafat, dapat dikatakan keimanan kepada Tuhan YME harus menjadi aksiologi setiap pasal UUD 45 tersebut. Karena itu, UUD harus mengandung seluruh ide dalam Pancasila. Dalam hal ini,
11Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 45-74
200 UUD belum operasional. Oleh sebab itu, UUD harus diturunkan secara konsisten ke undang-undang yang operasional untuk mengatur segala macam keperluan hidup bernegara, termasuk mengatur sistem pendidikan nasional, yaitu UUSPN No. 20/2003 yang di dalamnya tertulis bahwa keimanan dan ketakwaan adalah inti tujuan pendidikan nasional. Undang-undang tersebut lalu diturunkan ke dalam peraturan yang lebih operasional, yaitu ke dalam peraturan pemerintah (PP). PP telah menghasilkan antara lain kurikulum sekolah yang dalam bentuk materialnya berupa buku GBPP, RPP, LKS, LKG, yang berisi antara lain nama-nama mata pelajaran dan silabusnya masing-masing. Pada buku-buku tersebutlah menurut Ahmad Tafsir konsep penting, yaitu keimanan tidak muncul. Ia menyatakan keadaan tersebut sangat disesalkan karena justru pada level operasional, pada tahap pelaksanaan paradigma penting itu menghilang.
Akibat inkonsistensi nilai keimanan yang seharusnya diturunkan dari tahap filsafat ke tahap operasional terjadi, maka keimanan tidak menjadi inti kurikulum sekolah.
Selanjutnya, pelaksanaan pendidikan di sekolah tidak
menjadikan pendidikan keimanan sebagai inti semua kegiatan pendidikan. Dampak yang lebih jauh lagi adalah lulusan sekolah tidak memiliki keimanan yang kuat. Ahmad Tafsir berkeyakinan di sinilah letak kekeliruan terbesar pendidikan nasional, karena tidak menjadikan keimanan sebagai core pendidikan nasional. Ia juga meyakini hal di atas merupakan penyebab utama terjadinya krisis moral yang dialami bangsa, disebabkan keimanan yang lemah.
Kekeliruan tersebut di atas harus segera diatasi. Menurut Ahmad Tafsir harus segera ditulis secara tegas bahwa paradigma pendidikan dan inti kurikulum setiap sekolah adalah keimanan kepada Tuhan YME. Penegasan itu di antaranya dituliskan pada kata pengantar buku GBPP, RPP, LKG, LKS, disamping pada tataran metode pendidikan, metode pembelajaran, dan teknik pelaksanaan pendidikan juga berintikan keimanan. Bila ini tidak dilakukan, maka dapat dikatakan sulit untuk mendapatkan peningkatan keimanan pada lulusan sekolah bangsa kita, baik bagi diri lulusan maupun bagi bangsa dan negara.12
12Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 300-305
Dasar pendidikan yakni falsafah Pancasila dijadikan sebagai pandangan hidup, yang kemudian dari sana dirumuskan tujuan pendidikan. Secara umum, tujuan pendidikan adalah menghasilkan manusia terbaik. Ciri manusia terbaik menurut Ahmad Tafsir adalah mampu hidup tenang dan produktif dalam kehidupan bersama. Ciri tersebut diperinci lagi menjadi: pertama, badan sehat serta kuat. Kedua, cerdas dan pandai. Ketiga, lulusan harus beriman kuat.
Tiga karakteristik manusia terbaik di atas selanjutnya diperinci oleh Ahmad Tafsir menjadi sembilan karakter.
Pertama, lulusan harus berdisiplin tinggi yang muncul bila terdapat iman yang kuat dan pengetahuan yang mencukupi tentang itu. Kedua, lulusan harus memiliki sifat jujur yang merupakan salah satu perwujudan dari hati yang penuh iman.
Ketiga, lulusan harus kreatif yang mampu melakukan inovasi.
Selanjutnya, lulusan harus ulet, berdaya saing tinggi, mampu hidup berdampingan dengan orang lain, demokratis, menghargai waktu, dan mampu mengendalikan diri.13
13Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 75-97
203 4. Kurikulum pendidikan
a. Definisi dan isi kurikulum
Pada umumnya, isi kurikulum adalah nama-nama mata pelajaran beserta silabusnya atau pokok bahasan. Selain itu, dapat pula berupa nama kegiatan. Menurut Ahmad Tafsir esensi kurikulum adalah program dalam mencapai tujuan pendidikan. Jadi, tidak hanya sekadar nama mata pelajaran, materi atau silabus saja.
Hal yang harus diperhatikan adalah kurikulum ditentukan oleh tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Pada hakikatnya, tujuan pendidikan adalah mewujudkan manusia yang terbaik.
Oleh karena itu, kurikulum harus berupa program untuk mengembangkan manusia agar menjadi manusia yang baik.
Manusia yang baik adalah yang memiliki budi pekerti atau akhlak. Akhlak adalah kepribadian, tingkah laku yang tidak menyimpang dari norma. Karena akhlak adalah kepribadian, maka kurikulum haruslah mengutamakan akhlak. Bahkan, Ahmad Tafsir menyatakan akhlak inilah yang menjadi core kurikulum. Menurutnya, akhlak yang baik haruslah mempunyai penjamin, dan penjamin terkuat adalah iman yang
204 kuat. Model kurikulum adalah untuk menghasilkan lulusan yang baik, yaitu lulusan yang beriman dan beramal saleh; amal saleh tersebut berdasarkan imannya.
Amal saleh dapat berupa tindakan mendalami pengetahuan yang diberi dasar, dikendalikan, dan dinilai oleh keimanannya. Selain itu, dapat pula berupa keterampilan mengerjakan suatu bidang (vokasi) yang penggunaannya dan jenisnya dikendalikan oleh keimanannya.
Adapun indikator manusia yang baik berdasarkan semua agama, semua pandangan filsafat, dan semua orang adalah:
1) Berakhlak baik; akhlak yang baik tentu berdasarkan iman yang kuat.
2) Berpengetahuan yang benar atau keterampilan kerja kompetitif.
3) Menghargai keindahan
Tiga pilar di atas pada hakikatnya menurut Ahmad Tafsir merupakan isi semua kurikulum: akhlak, ilmu atau keterampilan, dan seni. Akhlak atau iman menjadi core.
Menurutnya, jika seseorang telah memiliki tiga pilar di atas, maka orang itu dijamin menjadi insan yang baik. Inilah
kurikulum pendidikan, baik dalam arti minimal maupun maksimal.
Akhlak diperlukan agar kehidupan anak didik stabil. Ciri utamanya ialah kemampuan mengendalikan diri tingkat tinggi.
Ahmad Tafsir mengistilahkannya dengan orang yang sabar dan tahan banting.14Goleman mengatakan bahwa seseorang di atas adalah orang yang mempunyai emotional quotient (EQ) yang tinggi.15
Pengetahuan diperlukan agar peserta didik mengetahui sesuatu, dan sebaiknya juga memahami cabang pengetahuan secara khusus. Pengetahuan diperlukan untuk mengenali kebaikan dan bekal bekerja. Demikian halnya, keterampilan kerja juga diperlukan untuk menghasilkan sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan. Keterampilan pada umumnya berasal dari pengetahuannya tadi, yaitu melaksanakan apa yang ia ketahui.
Seni merupakan sesuatu yang menyangkut keindahan. Ini
14Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 98-101.
15Lihat Daniel Goleman, Emotional Intelligence, alih bahasa: T.
Hermaya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997)
diperlukan setidaknya untuk kesempurnaan hidup. Hidup akan dirasakan lebih nyaman bila dapat dan mampu menikmati keindahan. Bila kemampuan ini berkembang jauh, maka seseorang akan mampu menciptakan keindahan.
Pada hakikatnya, kurikulum berisi tiga program di atas.
Bila diurai maka isi kurikulum akan banyak. Hal tersebut dianggap tidak mengapa selama penguraian tidak keluar dari tiga pilar di atas. Tiga isi kurikulum tersebut merupakan satu kesatuan dan corenya adalah akhlak. Artinya, pengetahuan yang diajarkan haruslah dikendalikan oleh ajaran akhlak, keterampilan yang dikuasai harus dikendalikan ajaran akhlak, dan seni yang diajarkan haruslah seni yang dikendalikan akhlak.16
b. Pendidikan Akhlak sebagai Core Pendidikan
Budi pekerti, atau lebih tepatnya akhlak merupakan hal paling utama dalam kehidupan, karena akhlak menunjukkan sifat atau fitrah manusia. Menurut Ahmad Tafsir, pendidikan akhlak mestinya menjadi core pendidikan nasional. Peserta
16Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 99-102
207 didik berakhlak mulia, santun dimana pun berada merupakan dambaan semua. Seorang penyair besar Syauqi Bey seperti yang dikutip Ahmad Tafsir menyatakan bahwa bangsa adalah akhlaknya, hilang akhlak hilanglah bangsa itu. Dengan demikian, dapat dikatakan akhlak merupakan perihal yang sangat urgen bagi eksistensi manusia.
Agar pendidikan mampu menghasilkan lulusan berakhlak mulia setidaknya dapat ditinjau dari dua hal, yakni paradigma dan operasional. Dalam hal ini, Ahmad Tafsir menguraikannya dimulai dari falsafah negara. Menurutnya, inti Pancasila adalah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Konsep ini turun ke UUD 45 yang dapat dilihat pada bagian mukaddimah.
Selanjutnya, turun ke UU no 20/2003. Menurutnya, ketika konsep tersebut seharusnya turun di sekolah, justru disinilah konsep itu sering hilang. Konsep itu sering gagal turun pada tahap operasional.
Tidak turunnya konsep kunci yakni keimanan ke dalam silabus membawa akibat penting untuk direnungkan. Akibat yang tampak ialah seolah-olah hanya guru agama saja yang bertanggung jawab dalam pendidikan keimanan. Bila
208 disebutkan dalam silabus bahwa core silabus adalah pendidikan keimanan, maka pendidikan keimanan itu akan menjadi tanggung jawab kepala sekolah, dewan guru, karyawan, dan pelaksana pendidikan lainnya. Kenyataannya, pendidikan di sekolah nyaris gagal. Hal ini dapat dilihat pada akhlak peserta didik yang dapat dikatakan hampir sebagian besarnya cenderung kurang baik, bahkan kenakalan semakin meningkat. Tugas utama sekolah seharusnya menanamkan keimanan. Iman yang kuat inilah yang akan memunculkan akhlak yang luhur. Jadi, penanaman iman bukan hanya tugas guru agama semata.
Keadaan di atas harus mendapatkan perhatian serius.
Perhatian tersebut menurut Ahmad Tafsir dapat dimulai dengan ‘memasang’ paradigma baru bagi pendidikan nasional, yaitu dengan meletakkan pendidikan keimanan sebagai core sistem pendidikan nasional pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
Pada tataran metodologis pendidikan akhlak lebih kepada pengajaran akhlak oleh guru agama dan berhenti pada aspek kognitif (knowing). Peserta didik diajarkan banyak tentang
materi akhlak dalam pelajaran agama, lalu ketika diuji mereka mampu menjawab. Dalam hal ini, kebanyakan pengajar menganggap atau dianggap telah berhasil. Namun, hal tersebut hanya pengajaran, knowing dan doing. Tetapi bagaimana akhlak mereka sehari-hari tampaknya cenderung belum terealisasikan (being).
Menurut taxonomi Bloom, bila suatu konsep telah dipahami peserta didik (kognitif) tentu mereka menerimanya (afektif), selanjutnya dengan sendirinya mereka akan berbuat seperti itu (psikomotor). Misalnya, mereka mengetahui bahwa mengukur luas adalah panjang kali lebar. Mereka mengiyakan (afektif) dan bila mengukur luas seperti mengukur luas tanah mereka mengalikan panjang dan lebar (psikomotor). Dengan kata lain, dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai, seperti baik dan buruk (seperti pengajaran matematika) proses dari knowing ke doing, dari doing ke being akan berjalan secara otomatis. Artinya, jika peserta didik telah mengetahui konsepnya, telah terampil melaksanakannya, secara otomatis ia akan melaksanakan konsep tersebut dalam kehidupannya, sehingga proses pembelajaran untuk mencapai aspek being
dapat dikatakan tidaklah sulit.
Dalam hal nilai, seperti akhlak, keadaannya akan berbeda.
Peserta didik mengetahui bahwa jujur baik dan bohong tidak (kognitif), dan mereka menerima nilai itu (afektif), tetapi suatu ketika dalam keadaan tertentu mereka berbohong (psikomotor). Ini menunjukkan bahwa pendidikan agama, akhlak tidak dapat dilakukan melalui paradigma Bloom.17 Dalam hal ini, diperlukan paradigma lainnya. Ahmad Tafsir mengemukakan metode sebagaimana yang diajarkan Nabi saw, yakni metode internalisasi dengan teknik peneladanan dan pembiasaan.
Ahmad Tafsir berkeyakinan bahwa salah satu syarat untuk menjadi manusia sejati ialah individu harus taat beragama atau beriman. Ia menggarisbawahi kata beragama. Menurutnya, mengetahui agama tidaklah sulit (knowing, doing), sementara menjadi beragama (being) memerlukan perjuangan. Oleh karena itu, diperlukan metode yang telah terbukti kehandalannya, yakni metode internalisasi sebagai cara untuk mencapai tujuan being manusia, muslim. Istilah metode ini
17Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 117-128
211 dikutip oleh Ahmad Tafsir dari Achmad Sanusi. Oleh Djawad Dahlan metode tersebut diistilahkan dengan metode personalisasi.
Pengetahuan atau keterampilan masih berada di daerah extern. Upaya memasukkan pengetahuan (knowing) dan keterampilan melaksanakan (doing) ke dalam pribadi disebut sebagai upaya internalisasi atau personalisasi. Disebut internalisasi karena memasukkan pengetahuan daerah extern ke intern. Adapun istilah personalisasi digunakan karena upaya tersebut berusaha menjadikan pengetahuan atau keterampilan menyatu dengan pribadi (person).
Adapun teknik yang digunakan dalam metode internalisasi di antaranya adalah peneladanan. Teknik ini dianggap sangat efektif untuk internalisasi karena murid secara psikologis senang meniru. Selain itu, karena sanksi sosial, dimana seseorang akan merasa bersalah bila ia tidak meniru orang- orang di sekitarnya. Teknik lainnya adalah pembiasaan, pembiasaan hidup beragama, seperti pembiasaan salat zuhur berjama’ah, urunan untuk membantu teman yang sakit, dan seterusnya. Dengan teknik pembiasaan ini keberagamaan yang
212 baik dapat dicapai.18
Metode internalisasi di atas berfokus pada pemikiran bahwa tujuan utama pendidikan adalah keberagamaan murid, bukan terutama pada pemahaman tentang agama. Jadi, yang diutamakan adalah being, bukan knowing ataupun doing.
Tentu terdapat kendala dalam mendidik murid agar beragama (berpribadi dan mengamalkan agama). Oleh karena itu, strategi utama untuk menghasilkan lulusan dengan keimanan yang ‘tahan banting’ adalah menerapkan metode internalisasi dengan teknik peneladanan dan pembiasaan.
Menurut Ahmad Tafsir, pada tataran operasional tidaklah cukup hanya mengandalkan aspek paradigma, metode, dan teknik. Ia menekankan akhlak yang mulia hanya akan dimiliki seseorang bila terdapat sanksi. Sanksi yang ketat berupa hukuman dan penegakan hukum secara ketat akan membentuk dan mengawal kebudayaan yang Islami. Namun sanksi dari luar ini tidaklah cukup kuat. Harus ada sanksi dari dalam yang sebenarnya lebih kuat pengaruhnya, yakni iman, dimana
18Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 223-231
seseorang akan selalu merasa dilihat Tuhan.19 5. Murid dan Guru
Di antara beragam istilah yang menunjukkan istilah murid, Ahmad Tafsir lebih memilih menggunakan istilah murid. Menurutnya, istilah murid mengandung kesungguhan belajar, memuliakan guru, keprihatinan guru terhadap murid.
Dalam konsep murid terkandung keyakinan bahwa mengajar dan belajar adalah wajib dan dalam perbuatan tersebut terdapat barakah. Dalam hal ini, istilah murid dianggap mengandung muatan profane dan transendental.
Istilah murid dianggapnya memiliki banyak kelebihan dibandingkan istilah lainnya, seperti anak didik, peserta didik, dan dinidik. Di dalam istilah murid tercantum konsep sebagai beriku:
a. Murid harus berusaha mensucikan batinnya
b. Murid harus menganggap bahwa belajar dan menyucikan batin merupakan suatu bentuk ibadah
c. Murid berhak mendapat kasih sayang dari gurunya
19Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 128
a. Murid harus dikembangkan daya kreativitasnya dalam pembelajaran
Konsep di atas yang terkandung dalam istilah murid menurut Ahmad Tafsir lebih menjamin tercapainya tujuan pendidikan, yakni terwujudnya manusia yang memiliki kemanusiaan yang tinggi.
Salah satu pelaksana yang menolong mewujudkan tujuan pendidikan adalah guru. Guru merupakan pendidik kedua menurut Ahmad Tafsir setelah orang tua sebagai pendidik utama dan dominan dalam memanusiakan anak. Guru juga menghadapi masalah yang sama dengan orang tua di rumah, yaitu kekurangan waktu dan ‘gempuran’ kebudayaan global. Ia tidak merinci lebih lanjut kriteria dan tugas guru secara spesifik, namun ia menegaskan bahwa tujuan pendidikan dalam pembelajaran yang dilakukan oleh guru haruslah mengarah pada usaha memanusiakan manusia yang berakhlak mulia.20
20Lihat Ahmad Tafsir, 2006, hal. 164-175
215 D. Penutup
Uraian di atas menegaskan bahwa problematika yang dihadapi bangsa kita, seperti krisis lingkungan, krisis alam, krisis sosial, krisis kemanusiaan, krisis moral yang merupakan pangkal terjadinya krisis di berbagai lini kehidupan penyebab utamanya adalah lemahnya keimanan bangsa. Iman merupakan sesuatu yang teramat penting bagi kehidupan manusia, karena ia mengontrol setiap tindakan manusia. Iman juga merupakan world view manusia yang mengendalikan dirinya. Kondisi ini pada hakikatnya merupakan problema yang dihadapi pendidikan. Melalui pendidikan upaya mengatasi kondisi tersebut lebih cepat dampaknya. Dengan kata lain, pendidikan merupakan langkah utama dalam meningkatkan, mengkristalkan keimanan pada peserta didik, termasuk pendidikan formal. Oleh karena itu, paradigma, kurikulum, metode, teknik pembelajaran, dan komponen pendidikan lainnya harus berintikan keimanan. Jika hal ini dilaksanakan, maka lulusan atau output lembaga pendidikan akan menciptakan manusia sejati yang pada tahapan selanjutnya akan menjadikan keberlangsungan dan
216 kehormatan bangsa, negara tetap eksis.
Urgensi keimanan bagi kehidupan manusia ini dijelaskan oleh Ahmad Tafsir melalui pemikirannya dalam filsafat pendidikan Islami. Menurutnya, agar dapat menghasilkan manusia yang benar-benar manusia maka pendidikan harus dibenahi. Ia mengawali uraiannya dengan menegaskan unsur dan hakikat manusia yang harus dikenali, terutama bagi pemangku kebijakan dan pelaksana pendidikan agar secara proporsional dan terintegrasi mengembangkan unsur tersebut dengan keimanan sebagai core hakikat dan unsur manusia.
Dengan menyadari bahwa inti manusia adalah iman, maka upaya perbaikan pendidikan adalah menetapkan paradigma pendidikan dengan mengutamakan pendidikan ahklak sebagai manifestasi keimanan yang kuat. Ini berarti iman berperan sebagai core sistem pendidikan.
Dalam sistem pendidikan yang berintikan iman semestinya landasan filosofis dan operasional konsisten.
Dalam tataran filosofis, dasar dan tujuan pendidikan telah memiliki core keimanan. Paradigma dan pelaksanaan pembelajaran seharusnya konsisten berintikan dan dijiwai oleh
iman. Namun, inkonsistensi justru terjadi pada pendidikan, terutama pada tahap operasional. Ini menyebabkan kurikulum, tujuan pembelajaran, metode, dan unsur pembelajaran lainnya tidak berintikan iman. Akibatnya, krisis moral terjadi, sebagaimana dirasakan sekarang.
Pada tataran operasional, pendidikan cenderung hanya mengarah pada aspek kognitif dan afektif saja, berhenti pada knowing dan doing. Padahal, aspek being sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pengetahuan yang mengandung nilai, yang mencerminkan kepribadian, perilaku, akhlak individu. Namun, justru unsur being cenderung kurang atau bahkan tidak menjadi prioritas dalam pendidikan. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap kemerosotan akhlak. Metode internalisasi dengan teknik peneladanan dan pembiasaan hidup beragama dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi hal tersebut di atas.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, 2001, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
---, 2002, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
---, 2004, Filsafat Ilmu Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pengetahuan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
---, 2006, Filsafat Pendidikan Islami, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
---, 1997, Problematika Pendidikan Keimanan Zaman Global dan Strategi Pemecahannya, dalam Kamrani Buseri, dkk (ed), Metodologi Penelitian Pendidikan Islam, Banjarmasin: IAIN Antasari Banjarmasin.
Dadang Hawari, 2008, Al-Qur'an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa.
Daniel Goleman, 1997, Emotional Intelligence, alih bahasa:
T. Hermaya, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kamrani Buseri, Pendidikan Holistik dalam Islam, makalah disampaikan pada mata kuliah Pengembangan Teori
219 dan Praktik Pendidikan Islam, Program Doktor IAIN Antasari Banjarmasin pada 13 Maret 2013.
Muhaimin, Pengembangan Pendidikan Islam: Teori dan Praktik, Handsout disampaikan pada kuliah Program Doktor (S-3) PPS IAIN Antasari Banjarmasin pada 30 Maret 2013.
220