• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Dinamika Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Jurnal Dinamika Pendidikan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ffi

(2)

Jurnal Dinamika Pendidikan tssN 1410 - 4695

Penanggungjawab Dekan FKIP UKI Pimpinan Redaksi Dr. Erni Murniarti M.Pd.

Reviewer

Prof. Dr. Ir. Amos Neolaka, M.Pd.

Dr. Anung Haryono, M.Sc.,CAS.

Dr. Tri Suratmi, M.Pd.

Miftachul Hidayah, S.Pd., M.Pd.

Pdt. Juliman Harefa, M.Th.

Hendrikus Male, S.Pd., M.Hum.

Candra Ditasona, M.Pd.

Dwi Maryam Suciati, S.Pd., M.Sc.

Sekretariat

Rumenta Rianto Lasmini

Alamat Sekretariat

Fakultas Keguruan dan Ilrnu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia

Jl. Mayjen Sutoyo No. 2. Gedung B Lantai II Cawang- Jakarta Timur, 13630 Telp. (02L\ 8092435, 8009190 ext. 310, 315. Fax. 80885229

email: jurnaldinamikapendidikan@yahoo. com

Website

: http: / /jdp.

uki. ac.

id

Jumal Dinamika Pendidikan terbit secara berkala tiga kali setahun

pada bulan April, Juli, dan November

(3)

lssN 1410 4695

Halaman

1-10

Volume 8 Nomor t, April 20L5 DAFTAR ISI

SEKOISH GRATIS DAN MUTU SEI(OLAH: STUDI KASUS DI

SIVIAN

2 BABAT TOIvIAN MUSI BAT\TruASIN SUMSEL

Afiantoni, lbrahim

PENDIDIIGI{ KIMIA BAHAN I\4I{KAI!AI{ IJNTUK MEMBAT.IGUN KESADARAN MAIG}.I MAIGI\AI\ SEHAT

Familia Nouita Simanjuntak

STUDI DESKRIPTtr MINAT CALON GURU SET(OI3FI DASAR TERFIADAP PEI\GGUINAU{}I ATAT PERAGA MATEMATIIG SETETAH PERKULIAFIAN MEDIA DAN MODEL PEMBETA.IARAN

IVTATEIVTATIKA

SD

Isna Rafianfi, Etika l{haerunnisa

GAYA BETA.IAR MAHASISWA YA}IG BEKER.IA:

PENEUTIAN DI STKIP PUB}.IAMA JAIGR'IA Jafriansen Damanik

MENINGKATKAN KONSERVASI AIAM METALUI MATERI

W HAYATI DAN KEARtrAN LOKAL

DI SEKOISH Marina Silalahi

KA.'IAN ANALI$S WACAI{A KRITIS TERHADAPACARA KOMEDI SENTIIS}I SENTILL'N

Rebecca EvelSn Laiw

11-L8

L9-24

25-34

35-42

JURNAL DINAMIKA PENDIDIKAN

43-54

(4)

I

M KONSERVASI AI.AIVI MEI.ALUI MATEBI

M HAYATI DAI{ KEARtrAN LOIGLDI SEI(OIAFI

Marina Silalatti marina- biouki @Yahoo. c om Universitas. Kristen Indonesia

ABSTBACT

Undersbnding the

toal

heritage

widom of

Indonesia and

bidiversity

through the enuironmenbl education is a firct step in consentation. This paper is

bad

on a litera-

ture review of sientific paperc that have been publishd in bool<s and scientificioumals.

The qwircnmental ducation is an educational proces that aims to create a community to have concem for the enuitonment and mattets

relatd

thereto. Formal ducation

in

schoob is considered

to

be one of the effectiw wa5n to promote the conseration

of bidfirusity.

Ptoviding the matertal

of

the concept lmowledge/ heritage

widom

and the concept of

bidiwtsity in

the formal cuniculum in schools is

arpectd

to

incrase

the awarcnass

of

the enuitonment to ptesente biodivercity. Biodivercity includes the dive$ity of

hablkb, speci*

diversity, and genetic diretsity. To

pr*rue

the enuiron- ment and the biodivercity local ethnic Indonesla has the local heritage widom and the lmowledge taught to live in hatmony with the enuironment and nature.

Itqvotds:

local hertbge

widom,

biodivetsity, enuironmental education, consenntion 1

ABSTRAK

Tujuan dari kajian ini unhrk

mendeskripsikan pentingnya pemberian materi keanfan/pengetahuan lokal

dan

konsep keanekaragaman hayati dalam kurikulum formal di sekolah. Kearifan lokal merupakan sikap, pandangan hidup, pengetahuan, dan strategi kehidupan masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebuhrhan.Keanekaragaman

hayati

mencakup keragaman habitat,

keragaman spesies [ems), dan keragaman genetik (variasi sifat

dalam

spesies).Sedangkan Pendidikan Lingkungan

Hidup

(PLFI) merupakan pendidikan formal di sekolah yang dianggap cara efektif untuk mensosialisasikan kelestarian alam.

Kajian

ini

didasarkan pada studi literatur

dari

berbagai tulisan ilmiah yang telah dipublikasikan melalui buku maupun jumal ilmiah. Berdasarkan kajian

ini

ditemukan bahwa pemahaman kearifan lokal masyarakat dan pengetahuan keanekaragaman hayati perlu dimasukkan dalam materi PLH dan merupakan suatu langkah awal dalam konservasi. Kajian terhadap kearifan dan peng€tahuan lokal diharapkan memberikan cara pandang untuk menyelaraskan hidup dengan alam dan menambah khasanah pengetahuan untuk menjaga kelestarian di alam.

Kata

kund:

kearifan lokal, keanekaragaman hayati, pendidikan lingkungan hidup, konservasi

(5)

l

JDP

Volume 8, Nomor 1, Apnl 2015:

3H2

PENDAHULUAN

Keanekaragaman

hayati atau

sering

disebnt

biodivercity

atau biolqical

dhetsity

merupakan isHlah yang digunakan

untuk menggambarkan

kekayaan berbagai

bentuk kehidupan didunia inimulai dari organisme bersel

hrnggal sampai organisme tingkat

tinggr.

Indonesia merupakan salah satu

pusat

keanekaragaman hayati dunia sehingga sering dijuluki sebagai megabiodiversitas. Dperkirakan sekitar 25.000 spesies tumbuhan berbunga (10%o

dari

tumbuhan berbunga dunia),

515

spesies (L2o/o dan jurnlah mamalia dunia,

600

spesies

reptilia,

1500

spesies bumng, dan

270

spesies

amfibia

(lndrawan

dkk. 2007\.

Dperkirakan 21.000 spesies tumbuhan di dunia dimanfaatkan unfuk memenuhi kebutuhan kesehatan manusia (Joy, dkk. 1998). Tidak lrurang dari 1.040 spesies tumbuhan dimanfaatkan sebagai bahan obat dan kosmetik (Heyne, L987).

Keanekaragaman hayati

mencakup

keragaman habitat, keragaman spesies fienis) dan keragaman genetik (variasi sifat dalam spesies).

Berbicara mengenai keanekaragaman hayati,

maka

keanekaragaman

spesies

merupakan bentuk nynta

yang

mudah terlihat

dan

dapat dihitung dengan angka. Hal tersebut disebabkan setiap spesies memiliki ciri

png

berbeda antara satu spesies dengan spesies lainnya. Berbeda dengan keanekaragaman gen

png

sulit dihifung

dengan angka karena setiap individu

yang kelihatannya

sarna atau mirip belum

tenfu memilih gengen sama. Oleh sebab itu hrlisan ini

lebih membahas

keanekaragaman spesies sebagai salah satu indikator yang dapat digunakan untuk kelestarian lingkungan hidup.

Berdasarkan kajian ilmiah dari waktu ke

waktu, bila dilihat dari

keanekaragaman atau jumlah spesiesyang terdapat di dunia maupun di

Indonesia mengalami ancaman

degradasi (penurunan) Srangsangat serius akibat kegiatan manusia yang tidak selaras lingkungan. Benfuk nyata yang dapat terlihat adalah terjadinya alih fungsi hutan menjadi pemukiman, perkebunan,

dan

pertambangan.

Hal

tersebut disebabkan terjadinp kerusakan lingkungan terutama karena kerusakan

hutan,

padahal

hutan

merupakan pertahanan terakhir unfuk menjaga kelesetarian

sumber daya alam hayati. Menurut Fod

Agricultural Organization (FAO) dalam laporan State

of

World Foresttahun 2009 lajukerusakan hutan

di

Indonesia mencapai sekitar

1,87

juta hektar pertahun. Kerusakan hutan menyebabkan terjadipenurunan keanekaragaman hayati bahkan kepunahan bunf,uk spesies hewan dan tumbuhan.

Salah satu akibat langsung

dari kerusakan lingkungan adalah menunrnnya jumlah indMdu atau populasi pada spesies tertenfu dan

akhimya menjadi punah. Sebagai

contoh kebakaran hutan

di

Sumatera akan berimplikasi pada berkurangnya harimau Sumatera (Panthera tigris Sumatanus) maupun gaiah (Elephas maxi- mus Sumatranus). Halyang hampir mirip terjadi pada Badak bercula

atu

(Rhinoceros sundaicu$

semakin berkurang jurnlahnya

karena

terjadi ganguan habitatnya.

Terjadinya kensakan lingkungan hidup

dan

penurunan keanekaragaman

hayati

ber- sumber pada kesalahan pemahaman manusia terhadap lingkungan, yang berbasis pada cara

pandang antroposentris.

Pandangan

anhoposentris menempatlan manusia sebagai pusat dari alam semesta, sementara alam seisinya hanya sebagai alat bagi pemuasan kepentingan manusia. Bila dilihat

dari

pola hidup bertagai ebris lokal Indonesia terutama masyarakat sehtar

yang tinggal di pinggrran hutan

mereka menyelaraskan hidupnya dengan alam. Mereka

mengembangkan pengetahuan lokal

atau tepakrya kearifan lokal yang dapat menjamin kebutuhan hidup yang diperoleh dari alam dapat terpenuhi

unfuk

saat

ini dan untuk

generasi selanjutnya. Sabulungan"

di Siberut

(Walujo,

2011),

sasi

di Maluku,srlo pada

suku Dani (Purwanto, 2000), " Lat babt layee bated' pada orang Leukon (Yuliati,

dkk. 2009)

merupakan beberapa kearifan lokal yang dikembangkan oleh nenek moyang

kita

unfuk menjaga kelestarian Iingkungan.

Untuk menyelaraskan

kehidupan

manusia dengan kelestarian

lingkungan

diperlukan

pemahaman

yang

komprehensip

tentang lingkungan hidup.

Untuk

mensosialisaikan pemahaman

tentang lingkungan

hidup

diperlukan berbagai usaha

seperti melalui

pendidikan

formal,

informal, maupun non formal. Yustina 12006l mengatakan bahwa instifusi pengajaran melalui pendidikan

(6)

glalahl, Maitgkat*an Kotwtud Ahrna melalui l,lateri Xanelenganan Halati dan t{earifan Lot+at di Sekalah

formal merupakan salah safu cam yang paling tepat membangkitkan kesadaran dan kecintaan terhadap lingkungan hidup. Dalam pembelajaran

formal

pemahaman

lingkungan hidup

pada

umumnya dimuat dalam Pendidikan Lingkungan Hidup atau disingkat dengarr PLH.

Berdasarkan

kajian terhadap

materi ajarPLH di sekolah sebagian besar berhubungan dengan banjir, sampah, pencemaran lingkungan,

dan

penggundulan

hutan,

padahal kelestarian

lingkungan hidup sangat

berhubungan erat dengan kearifan lokal maupun keanekaragaman hayati. Kearifan lokal maupun keanekaragaman hayati sebagai materi pembelajaran pengetahuan lingkungan hidup

di

sekolah masih sedikit dikaji atau bahkan hampir

tidak

ada. Kearifan lokal merupakan sikap, pandangan hidup, dan penge- tahuan serta strategi kehidupan masyarakat lokal

dalam menjawab berbagai masalah

dalam pemenuhan kebutuhan (Permana, 2010).

METODOLOGI

tGjian ini

bertujuan

untuk

membuka

wawasan baru tentang kearifan lokal

dan

keanekaragaman ha5nti unfuk

menjaga

kelestarian linglnrngan hidup sebagai bahan untuk

ajar Pendidikan Lingkungan Hidup

(PLH).

Metodologi

yang

digunakan

dalam kajian

ini didasarkan

pada

kajian pustaka

dari

berbagai naskah ilmiah 1;ang telah terpublikasi.

HASIL DAT.[ PEMMFIASAN

Pendidilon

Flidup

Pendidikan Lingkungan

Hidup

(PLFI)

merupakan suaJu proses pendidikan

yang

berhrjuan unfuk menciptakan

masyarakat

memilih

kepedulian terhadap lingkungan dan masalah-masalah yang terkait didalamn5n.Tujuan

lain dari PLH

menciptakan masyarakat agar memiliki pengetahuan, motivasi, komitnen, dan keterampilan,

untuk mencari altematif

atau memberi solusi terhadap perusakan lingkungan hidup yang ada sekarang serta dapat menghindari (mencegah) masalah-masalah lingkungan hidup baru. Untuk mempermudah sosialisasi PLH bagi masyarakat khususnya generasi muda dilakukan berbagai pendekatan melalui proses pendidikan formal, informal, dan non formal.

Pendidikan formal merupakan kegiatan pendidikan

png

diselenggarakan melalui sekolah yang terdiri atas pendidikan dasar, menengah,

dan tinggr.

Pendidikan

dasar dan

menegah

merupakan pendidikan yang wajib dilaksanakan

bagi

seluruh warga negara Indonesia. Dalam

proses pendidikan formal di

sekolah

dikembangkan

kurikulum

sebagai

salah

satu

acuan yang digunakan dalam

proses

pembelajaran termasuk

PLH. lGjian

terhadap kurikulumPlH digunakan

di

sekolah dilakukan terintegrasi dengan bidang

ilnu lain

maupun sebagai materi tersendiri.

Sebagai materi maupun mata pelajaran dalam pendidikan formal, PLH telah dimulai sejak

tahun 1977/L978.

Pada tahun tersebut pLH diuji-cobakan

di

15 Sekolah Dasar Jakarta. pada tahun 1979 pelaksanaannya diperluas di berbagai pada berbagai Perguruan Tinggr Negeri/Swasta dan dibentuk Pusat Studi Lingkungan (pSL) di

bawah koordinasi Kantor Menteri

Negara Pengawasan Pembangunan

dan

Lingkungan

Hidup (Meneg PPLH). Pada tahun tgTg

jugaPendidikan

Analisis Mengenai

Dampak Lingkungan

(AMDeq mdai

dikembangkan di Perguruan

Tingggi.Tahun L986,

Pendidikan

Lingkungan Hidup dan

Kependudukan dimasukkan

ke dalam

pendidikan

formal

di sekolah menengah dengan dibentuknya mata

pelajaran Pendidikan Kependudukan

dan

Lingkungan Hidup (PKLFI yang

materinya terintegrasi pada semua mata pelajaran. Sejak

tahun

l,989

/l99O,berbagai

pelatihan tentang

lingkungan hidup telah

diperkenalkan oleh Departemen Pendidikan Nasional bagi guruguru Sekolah Dasar dan Menengah.Pada tahun 1996

disepakati kerjasama pertiama

antara

Departemen Pendidikan Nasional

dan Kementerian Negara Lingkungan

Hidup,

No.

0142N/1996 dan No

Kep:

89A4ENLH/5/1996

tentang Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup (hnp r

/

/ id.wrkipedia. orglwiki,zPendidikan_lingku ngan*hidup).

Sebagai pendidikan formal

pLH

mengalami pasang surut. Pada sebagian besar sekolah PLH dilaksanakan sebagai muatan lokal dan dilalsanakan dalam bentuk ekstuakurikuler.

Hal

tersebut dilatar-belakangi dengan semakin

37

(7)

JDP

Volume 8, Nomor 7, APril 2015: 3542

tinggi kerusakan sumber daya alam hayati terlihat

dari semakin banyaknya laporan

tentang

kepunahan berbagai spesies.

Kerusakan

lingkungan

berdampak

pada bencana

alam seperti seperti

banjir,

kekeringan,

dan

tanah

longsor. Pada

beberapa

kota

besar seperti Jakarta, Medan, dan Bandung menjadi langganan banjir setiap.

Di

sisi

lain

setiap tahun banyak

terjadi gagal panen karena lahan

pertanian

mengalami kekeringan atau karena

adanya bencana banjir.

Terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang dihadapi dunia saat

ini

termasuk Indonesia bersumber pada kesalahan pemahaman manusia terhadap lingkungan, 5nng berbasis pada cara pandang antroposentris. Antroposentris menem- patkan manusia sebagai pusat dari alam semesta, sementara alam seisinya hanya sebagai alat bagi pemuasan kepentingan manusia. Kesalahan cara pandang tersebut telah menyebabkan kekeliruan manusia dalam menempatkan diri ketika berper-

ilaku di dalam

ekosistemnya.

Hal

senada

diungkapkan oleh Keraf (2010), bahwa kesalahan fundamental filosofis yang teriadi pada manusia adalah mereka menempatkan posisinya sebagai pusat dari alam semesta, sehingga mereka dapat

melakukan apa saia terhadap alam

demi pemenuhan segala kebuhrhannya atau dengan

kata lain,

sumberdaya

yang lain

diposisikan sebagai sub-orrdinahya.

Kesalahan cara pandang yang demikian temyata

telah

menyebabkan krisis lingkungan yang berkepanjangan, yang sumbemya terletak pada masalah moral manusia. Lebih lanjut lagi (Keraf,

2010) meqptakan

masalah lingkungan

hidup

adalah masalah

moral, yang

berkaitan

dengan perilaku

manusia.

Moral

merupakan

kunci utama yang penting

dibenahani untuk menyelaraskan kepentingan manusia dengan lingkungan hidup. Penanaman nilai moral pada manusia tidak dapat dilalokan secara mendadak, tetapi harus mengikuti perjalanan hidup manusia, mulai

dari

anakdewasa hingga

fua,

sehingga sering

disebut

pendidikan sepanjang vsta (life long

ducatiorl.

Masalah lingkungan

hidup

merupakan masalah

yang

sangat kompleks.

Hal

tersebut

berhubungan dengan sifat lingkungan hidup yang intetdependency (saling ketergantungan). Salah

safu bahan kajian untuk melestarikan lingkungan hidup atau sering disebut dengan konsevasi dapat dilakukan dengan mengkaji pengetahuan atau kearifan lokal etnis di Indonesia maupun mangkaji keanekaragaman hayati.

Keartfan Lokal sebagai Konsenrasi

Sudah sejak ribuan tahun

manusia

beriteraksi

dengan alam, namun

kerusakan lingkungan

yang

sangat

tinggi terlihat

pada beberapa dekade

terakhir.

Nenek moyang kita mengembangkan berbagai pengetahuan maupun kearifan lokal untuk dapat hidup selaras dengan

alam sehingga dapat menekan

kerusakan

lingkungan. Banyak masyarakat

tradiional memiliki etika konservasi yang kuat dan cocok

baE perlindungan

keanekaragaman hayati.

Melindungi

keanekaragaman

hayati

secara

menyeluruh merupakan

hal

yang

sulit

karena masih banyak spesies yang belum ditemukan ilmu pengetahuan (ilmuwan), bahkan spesies yang adapun sering

tidak

dikenal

oleh

masyarakat unum.

Kearifan

lokal

merupakan sikap, pan- dangan

hidup,

pengetahuan,

dan shateg

ke-

hidupan

masyarakat

lokal dalam

menjawab

berbagai

masalah

dalam

pemenuhan kebu- tuhan.Kearifan lokal sering dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat Uocal

widonl,

pengetahuan setempat

(local knowldgd, atau

kecerdasan setempat Uocal geni ull (Permana, 20 1 0).Kearifan lokal sering menjadi jawaban terhadap situasi ge- ografis-politis, historis, dan sifuasional yang bersi- fat lokal.Pemanfaatan secara berkelanjutan meru- pakan salah safu upaya yang dilakukan oleh etnis lokal Indonesia yangdapat menyelamatkan upaya

konservasi. Masyarakat setempat

seringkali mempunyai afuran unfuk menunjang keselarasan hidup dengan alam telah dipatuhi secara kadisi dan hukum adat.

Masyarakat kadisional atau masyarakat lokal padaumumnya melakukan pola pemanenan secara lestari

atau

perilaku konservasi dalam memanfatkan sumber daya alam hayati sehtar.

Sebagai

contoh suku Wana di

Cagar Alam Morowali yang hidup dengan mengekstaksi hasil hutan dan berburu. Secara adat terdapat aturan bahwa hewan yang dapat diburu memiliki kriteria tertentu seprti memiliki ukuran dewasa, umur

(8)

sllahl'l' Mq,*ukakan Kon%vadAhna metalui luratqi Keane.l<angaman Hayati dan l{adfan Lotat di sekorah

yang lebih tua dan lebih memilih

jantan dibandingkan betina.

Hal

tersebut memberikan waktu

dan

kesempatan

untuk

berbiak terlebih dahulu sebelum hewan tersebut diburu (lndrawan,

dkk. 2007). Aturan-aturan

tersebut

memungkinkan masyarakat tradisional untuk memanfaatlan sumber daya alam milik bersama dalam jangka waktu yang panjang.

Peningkatan jumlah penduduk mengaki_

batkanpeningkatan kebutuhan ut un .,rrnU"r daya alam unfuk memenuhi kebufuhan baik sebagai

lm* pangan, papan, maupun

kebufuhan

lainnya. Walaupun sumber daln alam hayati yang dapat digunakan

untuk

memenuhi kebufuhan

manusia sangat beragam

terdapat

kecenderungan manusia

*fuk ."rn_faatkan

jenis-jenis tumbuhan tertenfu. Sebagai contoh ekslusifitas padi (Otyza satid,jagung "(Z*

*uyd,

dan gandum (Tricum aesuvuttl-geUigui

.*U",

karbohidrat. Hal tersebut ,"rigd

iUu*un keberadaan sumber karbohidrat

a*i pii.

lainnya

lt*-g

diperhatikan, sehingga kelstariannya di alam diabaikan.

Pada saat

ini di

berbagai desa, kontrol maupun afuran adat

unfuk

memanen sumber

dayn alam secara lestari

sudah,"-Jn ,"lemah.

Hal tersebut berrdampak negatif terhadap usaha pelestarian keanekaragaman hayati. Maqnrakat

sebagian besar berpikir oportrrri.

dengan mernanen sumber

daya a6Tr hayati

secara berlebihan

terutama pada

tefumbuhan atau hewan yang mudah untuk

dipasarkan-lnnn*

harga

jual yang tinggi.

Sebagai

contoh

pada masyarakat lokal di sekitar pasar Kabanjahe dan Berastagi Sumatera Utara melakukan

p"rbrrrun

dan pemanenan

berlebihterhadap anggrek

Macodes dan HoJm, yang

mengakibatkan fumbuhan tersebut mulai sulit ditemulon di hutan.

MacodesdanHoyamerntlilanilai jualRp.10.000- 50.000 perhelai daun (Silalahi

,

ZOt+y.'

.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolahan hutan temyata berimplikasi positit teihajap t<etes_

tarian hutan. Hubungan yang erat

antara masyarakat lokal dengan alam lingkungan,meru-

pakan cerminan

pengetahuan

-

tohf

dalam pengelolaan lingkungan,

ufifuk

mempertahan_

I{an

kelangsungan

hidup.

Konsepsi,

O"rrg"_

tahuan, dan pemahaman masyarakat lokal ter-

hadap

lingkungan, menghasilkan

corak

dan afuran yang berteda antara safu tempat

a"ng*

tempat 1ang lain. perbedaan tersebut jipengaruhi

oleh

unsur-unsur

sosial, budaya,

eko"nomi,

teknologi, dan politik yang tumbuh dalam suatu komumtas

(Yuliati, dkk, 2009).Hal

tersebut

Selahirlon isfilah

pengetahuan

lokal

yang berbeda

antar

efuiis

amupun antar

aa"rufr.

Pentingnya pengeloalaan

keanekaragaman hayati dalam menunjang ke_

hidupan telah

disadari

oleh nenek

moyang hta.Banyak masyarakat tidak menyadari bahwa pemanfaatan keanekaragaman haSrati seringkali didasarkan pada sistem pengetahuan lokal

png

telah lama dikembangkan selama UeraUaa_aUJ Sejak

tahun 1927

para peneliti telah mencatat lebih dari 3.500 jenis tumbuhan dan jamur yang dimanfaatkan manusia

unfuk

bahan makanan, pakaian, perlindungan

dan

kesehatan (Heyne,

1987).Hasil penelitian ilmiah

terhadap pengetahuan lokal diperoleh lebih dari 110 jenis tumbuh-tumbuhan penghasil karbohidmt non biji_

bijian dari berbagai jenis akar-akaran, sagu, dan

jenis lainnya atau tanaman

penghasil gula digunakan masyarakat lokal Indonesia unfuk sum- ber karbohidrat sehari-hari (Flach

&

Rumawas,

19921. Sekitar 44 jenis tumbuhan

kacang-

kacangan dan jenis kelompok tanaman lainnya menghasilkan protein, minyak nabati, dan lemak (Van der Vossen, dkk. 2002).Selain itu lebih dari 200 jenis sayuran digunakan sebagai sumber vit_

amin dan mineral (Siemonsma

&

piluek, L9g4).

Unfuk kebuhrhan makanannya, orang_orang In_

donesia tercatat menggunakan lebitr

dari

120 jenis bambu-bambu atau rempah_rempah yang separuh dari jumlah tersebut masih dipanen dari lam, dan tidak pemah tercatat sebagai sebagai tanaman gang dibudidayakan (de Guzman

&

Sie_

monsma, 19991. Sedihkrya

60

yenis bambu digunakan unfuk berbagai macam kebutuhan mu- lai dari konstn:ksi rumah hingga kudapan, dan 45 jenis diantaranya merupakan jenis_jenis dengan nilai kegunaan dan ekonomi yang sangat tinggi (Dansfiels dan Wi;aya, 1995). t-"Uin

al,i

1OOO spesies tumbuhan liar maupun budidaya dari sedi- kitnya

448

marga tercatat sebagai obut_oburun kadisional (Lemmens

&

Bunynprapatsara,

lggg-

2003)

39

(9)

JDP

Votume 8, Nomor 7, APril 2015: 3542

Sabutungarrtrerupakan

kearifan lokal

pada

maqprakat

di

Siberut (Walujo,

2011),

sasr di Maluku

dan

s/opada

suku Dani

(Purwanto'

2000),

lat

batat lcayee batqada omng Leukon (Yuliati,

dkk, 2009).

Setiap pengetahuan lokal tersebut memiliki arti yang berbeda-beda, nalnun semua mengatur hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam.

Selain mengembangkan

istilah

pengetahuan

lokal untuk

menjaga kehidupan

yang

selaras dengan

alam,

masyarakat yang tinggal dipinggiran hutan mamanfaatkan jenis-

jenis tumbuhan maupun organ

dengan

proporsional. Sebagai contoh sebagai bahan obat masyarakat

lokal etris

Batak Sumatera Utara lebih banyak memanfaatkan daun dibandingkan

organ lainnya (Silalahi, 20t4; Silalahi,

dkk'

2015). Pemanfaatkan bagan daun sebagai obat' karena bagian daun merupakan baEan yang mu- dah didapat dan tidak mengganggu dari segi kon- servasi (KriswiYanti, dkk. 2011)'

Banyak masyarakat tadisional memilih etika konservasi yang kuat. Walaupun kadang terlihat tersamar atau

lnrang

jelas berdasarkan etika konsennsi yang diperkenalkan oleh negara Barat, natnun bila dikaji lebih dalam etika tersebut

lebih dalam

daripada

etika

konseruasi yang diperkenalkan

oleh negara Barat (Folke &

Colding, 2001). Aturan adat yang ketat hingga saat

ini

masih

terlihat

jelas

pada

masyarakat

Hindu Bali Yang menanamkan

dasar

pelestarianterhadap keragaman

hayati

yangdisebut dengan

Tri

Hita Kirana' Konsep Tri

Hita Kirana pada

pendirian

pura di

tempat-

tempat tertentu (kebanyakan

kawasan

hutan/gunung)disertai dengan

berbagai

pemturan.

Ahran

tersebut meliputi pelarangan menebang

pohon

besar dengan radiusterienfu

dari pum, pelarangan

penebangan pohon disehtar mata air, pelarangan pemburuanhewan pada kawasan tertenfu.

Pengetahuan Hayatisebagai Awal Konsenrasi Keanekaragaman

haYati

mencakuP

keanekaragaman genetik, spesies,

dan

ekosisitem. Keanekaragaman genetik merupakan keanekaragaman atau '.rariasi Snng dalam safu spesies. Keanekaragaman spesies mengacu pada jumlah keseluruhan spesies mahluk hidup yang

terdapat di dunia meliputi ho;lan, fumbuhan dan mikroorganisme sedangkan keanekarakagaman ekosistem merupakan variasi ekosistem yang disebabkan adanya interaksi antara sistem biotik (mahluk hidup) dengan lingkungannya' Ketiga

bentuk keanekaragaman tersebut

saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya.

Keanekaragaman sPesies meruPakan salah satu bagian dari keanekaragaman ha5nti.

Wison and Peler (1988)

menYatakan

diperkirakan terdapat 1,4 juta spesies yang ada di dunia yang terdiri dari sekitar

750.000

spesies

merupakan insekta, 41.000

invertebrata,

250.000

spesies

fumbuhan

(spermatophyta, pte4idophyta, bryophyta), dan sisanya meliputi jamur, bakteri, alga dan mikroorganisme lainnya.

Dari

keseluruhan junrlah spesies tersebut lebih dari 5070 tersebar di daerah tropis yang luasnya hanya 7o/o dan permukaan

bumi.

Banyaknya jurnlah spesies

di

daerah hopis mengakibatkan kelimpahannya di alam terbatas, oleh karena itu sangat rentan terhadap kepunahan.

Hal

yang

sama terdapat di Indonesia yang memilih pulau dengan daratan

yang

ukurannya

relatif

kecil

dibandingkan dengan pulau di negara lain, yang menambah laju percepatan kepunahan berbagai spesies.

Berbagai data ilmiah

menunjukkan

bahwa terjadi penurunan jurnlah

populasi maupun jurnlah spesies semakin menurun, yang disebabkan oleh bencana alam maupun kegiatan manusia. Indrawan,

dkk' (2007)

menyatakan

bahwa laju

kepunahan spesies

akibat

ulah manusia manusia berlangsung

100 kali

lebih cepat

dari laju

kepunahan secara

alami.

Ke-

langkaan

keanekaragamanspesies merupakan implikasi

dari

tingginya

laju

deforestasi hutan' Departemen Kehutanan (2010) melaporkan di In- donesia, yang diperhrakan mencapai 1,17 juta heldar pertahun pada periode

2003-2005'

Pe- rubahan kondisi hutan baiksecara langsung mau- pun tidak langsung, akan menyebabkan berku- rangnya keanekaragaman hayati (lndrawan, dkk' 2OO7). Untuk mencegah kepunahan spesies yang

lebih tinggr lagr diperlukan usaha

unh'rk

melestarikan keanekaragaman hayati atau yang

lebih dikenal dengan isHlah

konseruasi'

Melindungi

spesies

berarti iuga

melindungi

seluruh komunitas hayatinya'

Kawasan

40

(10)

%lr4

fAafrOlatlan htonsvasi Ahna mehfui

Materi

Halnti dan l{earifan Lolat di &kokh

honservasi seringkali dididkan untuk melindungi spesies largkah, spesies terancam, spesies kunci, maupun spesies

png

berguna dalam budaya.

Indrawan, dkk. (2007)

menyatakan o,rganisasi

dunia yang banyak

memberikan

perhatian dan kepakaran terhadap

upaya peleshrian spesies langkah dan terancam punah diantaranSra adalah Intemational (lnion

for

Con-

entation of NaturdltJCt{). IUCN

membuat sepuluh kategori stafus konservasi spesies yaifur erdincipurnahl, extinct in the wild

(ptnahdi

alam

liar), critially endanged

(kriUs), endangerd

(genting), wtnanble (rentan),

consentation dependent (terganfung

upala

konservasi), near

threatend

(mendel<ati terancam punah), /easf concem (kekhawatiran minimal), data deficient (kurang data), dan not ermluatd(tidak dievaluasi).

lkiteria

yang diberil{an

IUCN

terhadap status konservasi spesies,

tiga di

antaranya (critically

endangerd, endangerd,

dan

wlnanbldl

pada

khususnya menunjukkan spesies

tersebut terancam kepunahan. pada tingkat intemasional daftar dan perlindungan spesies terancam punah diatur melalui Convention on htemational Trade

in fudangerd Species (CITES).

Spesies terancam punah didaftarkan dalam Red Data

Book (spuies

terancam

punah dalam

suatu negara) dan Red Z"r/ (spesies terancam punah tingkat dunia). Pemahaman data status konservasi setiap species akan membanfu unfuk melindungi keanekaragaman hayati.

KESIMPIJIAN

Pengetahuan keanekaragaman hayati khususnya keanekaragaman spesies memberikan informasi

unfuk

menjaga kelestariannya alam.

Keanekaragaman haSnti mencakup keragaman

habitat, keragaman spesies fenis),

dan

keragaman genetik (variasi sifat

dalam spesies).Pemberian materi kearifan/pengetahuan lokal dan konsep keanekaragaman hayrati dalam kurikulum formal

di

sekolah diharapkan dapat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan

unfuk menjaga

kelestarian keanekaragarnan hayati.

ACUAN PUSTAKA

De Guzrran, C.C.

&

J.S. Siemonsma.

(7999l.plant resources of

Southeast Asia no. I S.Spices.Bachuys publishers, Leiden.

Departemen Kehutanan. (2010). prosiding semi_

nar

dampak perubahan perurt",kui., dun fungsi kawasan:1-l-0.

Dransfield, J.

&

Wijaya E.A. (eds,)

(l99ill.

plant

resourc* ol Southeast Asia

no.

7.Bamboo.

Prosea Foundation, Bogor.

Flach, M.

&

Rumawas, F. (eds). (1996). plant re_

sources of Southeast Asia no. g.ptant yield_

ing non-sed carbohydntes. prosea Founda_

tion, Bogor.

Folke, C. &

Colding,J.

(2001).

Traditional conservation practices. Dalam:

S.A.

Levin (eA).

Encwtopdk of

biodivercievol

5,

hal 681-G94. Academic press, San

Oi"no,bR.

oan hidup dinduh pada tanggal S:;larmari 2015 jam 21.05WIB

Indrawan,

M.,

primack,

R.B.

&Supriatna, J.

(2007l,. Biologi konsetuasi

(edisi revisi).Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Joy,P.P., Thomas, J.,Mathew, S.

&

Skaria, B.p.

(1998). Iv[edicinat plants. Kerala: Kerala Ag- ricultural University. 210 hlm.

Keraf,

A.S. (2010). Euta

Lhgkungah Hidup.

Jakarta: penertit Buku Kompas

Krisrripnti, E. I.K.,

E.S.

Junitha, N.

Kent_

jonowati, Darsini & I. Setyawati. (2011). In_

ventarisasi Bahan obat tradisional

di

keca_

matan Kintamani kabupaten

Bangli,

Bah.fuosiding seminar nasional konseruasi tunbuhan bopika kondisi terkini dan tan- tangan

ke

depan Kebun raSa

CiMas

T

April20L1:

108-112

Lemmens,

R.H.M.J & N.

Bunyapraphatsara (eds).

(1999-2003). plant rcsourcg of

Southeast Asia

no. 12

(1_S).Mdicinat and

pot'sons plants. prosea Foundation, Bogor

41

(11)

JDP

Vd.one 8, Nqnor 1, APril2015:

3H2

Permana, R.C.E. (20 10). Kearifan lokal mastnn-

let MttY dalan mitigasi

bencana'

Wedatama Wdya Sasba. Jakarta'

xi +

167 hlm.

Puwanto,

Y.

(2000). Etnobotani dan konservasi plasma nuffah holtilnrlfura

:

peran sistem

pengetahtnn lokal pada pengembangan dan

pengelolaanlp. hosiding Seninar hai Cinb nmpa

dan

&twa

Nasional'Bogot 5 November. LIPI Bogor: 1-9'

Siemonsma, J.S.

&

K. Pileuk (eds.). (1994)'Plant

reeulc* of

Southeast Asia

no'

9'Vegeta-

ble. Pro*.a Foundation, Bogor.

Silalahi, M. (20 l4).Etromedisin Tumbuhan Obat pada Etris Batak Sumatera Utara dan Per- speldif Konsenrasiryra

lDi*rbsl' kograrn

Pascasarlana Biologi, FMIPA, Universitas In- donesia: Pctriii+165 hlm.

Silalahi,

M.,

J.Supriatna,

E. B.

Waluio

&

Nis-

yawati.(2015). Local knowledge of medici- na

pUttt

in subethnic Batak Simalungun of

North Sumata,

ltfronesra.Biodirretsitas L6(L\

M-54.

Van der Vossen,

H.A.M. &

B.E. Umali (eds,).

(20021. Plants r@urces

of

Southeast Asia no.

l4.Vqetabet

oil and tats. Prosea Foun- dation, Bogor.

Witson, E.O. (1998). The current State

of Biologtcal diversity: dalam Wilson, E.O.

&

Peter, F.M.

Bidiwrsity.

National Academy Press, Washington, D.C.: 1-18.

Walujo, E.B. (2011). Sumbangan

llmu

Ehobotani dalam Memfasilitasi Hubungan

Manusia dengan Tutnbuhan

dan

Hngkunganng. Jumal Biologi

ldonesia,

7 (2h

37$391.

Yustina. (2006), Hubungan pengekhuan lbtgfungan dengan WtsePsi, silaq, danminat datam pengelolaan lingkungan hiduP

pn

guru Sekolah

DasrdiKota

Pekanbaru. Jumal B- iogenais, 2(21 :67' 7L.

42

Referensi

Dokumen terkait

Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori Aplikasi, Jakarta:Bumi Aksara Jurnal: Ahmal, Kearifan Lokal Pendidikan IPS, Studi Peduli Lingkungan Dalam Hutan Larangan

Secara keseluruhan referensi makalah, jurnal, dan buku dengan topik kearifan lokal masyarakat Dayak dari berbagai perspektif masih terdapat celah topik penelitian, yakni peran kearifan