ANALISIS VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN BERWAKAF
(STUDI KASUS PONDOK PESANTREN HUSNUL KHOTIMAH KUNINGAN JAWA BARAT)
JURNAL ILMIAH
Disusun oleh :
Shofiy Qurrota Aini 135020500111004
PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2018
ANALYSIS OF VARIABLE THAT AFFECTED THE DECISION OF WAQF (A Study On Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat)
MINOR THESIS
AUTHOR : Shofiy Qurrota ‘Aini
135020500111004
Submitted In Partial Fulfillment Of The Requirements For The Attaiment Of The Degree Of Bachelor of Economics
STUDY PROGRAM OF ISLAMIC ECONOMICS MAJOR OF ECONOMICS
FACULTY OF ECONOMICS AND BUSINESS BRAWIJAYA UNIVERSITY
MALANG 2018
LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL
Artikel Jurnal dengan judul :
ANALISI VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN BERWAKAF (STUDI KASUS PONDOK PESANTREN HUSNUL KHOTIMAH
KUNINGAN JAWA BARAT)
Yang disusun oleh :
Nama : Shofiy Qurrota Aini
NIM : 135020500111004
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Jurusan : S1 Ilmu Ekonomi
Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 4 Desember 2018
Malang, 4 Desember 2018 Dosen Pembimbing,
Arif Hoetoro, SE., MT., Ph.D
NIP. 197009221995121002
ANALISIS VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN BERWAKAF (STUDI KASUS PONDOK PESANTREN HUSNUL KHOTIMAH KUNINGAN JAWA BARAT)
Shofiy Qurrota Aini
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi keputusan wakif dalam mengambil keputusan untuk melaksanakan wakaf. Penelitian inimenggunakan responden sebanyak 130 responden wakif pondok pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat. Menggunakan data kuesioner dan alat analisis regresi logistik. Hasil dari penelitian ini adalah variabel kepatuhan beragama, pendapatan, pendidikan dan usia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan wakif dalam melaksanakan wakaf.
Kata kunci: Wakaf, Wakif, Keputusan Berwakaf
A. PENDAHULUAN
Dengan jumlah pendududuk Indonesia sebagian besar beragama islam sudah sepatutnya jika memilki perhatian lebih terhadap amalan islam. Bentuk perhatian ini dapat dilihat dari banyaknya lembaga yang bergerak dibidang keagamaan islam baik yang bergerak dibidang pendidikan ekonomi, sosial bahkan politik. Baik berdiri dengan status berbadan hukum ataupun dibangun atas swadaya masyarakat, contoh perbankan syariah, kos muslim/muslimah dan lain sebagainya.
Salah satu amalan islam yang menjadi perhatian baik dari pemerintah maupun pihak swasta adalah amalan wakaf. Wakaf secara bahasa adalah menahan, secara umum wakaf didefinisikan dengan menahan capital dari seseorang atau kelompok tertentu selamanya dan membelanjakannnya sebagai sedekah (Kamil, 2012). Wakaf adalah menahan suatu benda untuk digunakan manfaatnya sesaui dengan ajaran islam (Ali,1998). Di dalam Al- qur’an wakaf tidak disebutkan secara langsung , namun terdapat beberapa ayat yang jika di qiyas kan dapat menjadi dasar diantaranya adalah : QS Al-Hajj Ayat 77 “Allah memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan agar hidup manusai bahagia”. Di surah lain yaitu QS Al-Baqarah Ayat 267 “Allah SWT mememrintahkan manusai untuk membelanjakan (menginfaqkan) hartanya yang baik”.
Tak hanya disebutkan dalam Al-qur’an, wakaf disebutkan pula dalam hadits nabi, dimana hadits yang menjeaskan dan menjadi dasar pula bagi wakaf, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah RA “ Seorang manusia yang meninggal dunia akan terputus amalnya kecuali tiga hal yaitu : Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, do’a anak sholeh”. Shodaqoh jariyah disini menurut para ulama salah satunya adalah wakaf. Selain hadits tersebut ada pula hadits yang diriwayatkan oleh ibnu Umar dimana ketika umar mendapatkan sebidang tanah di khaibar, ia menemuai nabi dan berkata : “Hai Rasulullah SAW, saya
mendapatkan sebidang tanah di Khaibar dan saya ingin agar tanah itu lebih bernilai dari apapun yang pernah saya dapatkan, aoa yang engkau perintahkan pada saya?. Baliau menjawab : Jika engkau mau, engaku dapat menjadikan tanahmu itu; sebagai milik yang tak dapat dicabut dan memberikan hasilnya untuk sedekah. Maka umar memberikannya sebagai sedekah dan menyatakan bahwa tanah itu tidak boleh dijual, diberikan ataupun diwariskan. Dan ia memberika hasilnya untuk diberikan kepada orang miskin, kaum kerabat,oemerdekaa budak, jalan Allah, para perantau dan tetamu. Tak ada dosa bagi pengurusnya jika makan dari padanya secara patut atau memberi seseorang untuk dimakan, asal dia tidak menyimpannya (untuk dirinya sendiri).
(Sharif,2011)
Wakaf sendiri merupakan ibadah maliyah yang erat kaitannya dengan pembangunan kesejahteraan umat. Ia merupakan ibadah yang bercorak sosial ekonomi. Wakaf dapat dilakukan oleh individu maupun oleh kelembagaan tak ada ketentuan khusus siapa saja yang boleh melaksankaan wakaf. Ia dapat dilaksanakan oleh orang yang memiliki niat dan harta yang diwakafkan, namun diluar itu terdapat syarat sah bagi wakif. wakif sendiri dapat menentukan ia akan mewakafkan di bidang apa sesuai dengan apa yang ia inginkan. Dan disini dibutuhkan oeran nadzhir (pengelola wakaf) agar wakaf yang diberikan oleh wakif dapat termanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. .
Potensi wakaf di Indonesia menurut BWI (Badan Wakaf Indonesia) pada tahun 2017 sebesar Rp 180 Miliyar dan yang terkumpul hanya mencapai Rp 60 Miliyar atau tidak sampai 50%, wakaf sendiri lebih banyak disalurkan ke musholla/ masjid dan pendidikan. Dalam data yang dimiliki oleh Kementrian Agama Repulik Indonesia dalam Sistem Informasi Wakaf (SIWAK) bahwa jumlah tanah wakaf paling besar digunakan u ntuk masjid yaitu 44,97% kemudian diikuti oleh musholla sebesar 28,27%, sekolah sebesar 10,59% muntuk tanah makam sebesar 4,59% dan pesantren sebesar 3,20% dan 8,37% disalurkan untuk kegiatan sosial lainya, dengan jumlah tanah wakaf 49.579,51 hektar.
Jumlah tanah wakaf pada pesantren 3,20% dari 49.579,51 hektar atau 14% menurut data SIWAK (Sistem Informasi Wakaf), total luas tanah wakaf di Indonesia 49.576,75 Ha. Dan tanah wakaf yang disalurkan pada pesantren menurut data SIWAK terdapat tiga kategori <1000 𝑚2 ,1000-5000 𝑚2 dan > 5000 𝑚2, untuk kategori <1000 𝑚2 terdapat 7.468 di Indonesia, 1000-5000 𝑚2 terdapat 3.055 di Indonesia dan > 5000 𝑚2 946 di Indonesia. Yang dimana jumlah terbesar terdapat pada provinsi Jawa Barat yaitu : <1000 𝑚2 sebanyak 2.299 , 1000-5000 𝑚2 sebanyak 833 > 5000 𝑚2 160, dengan salah satu penyumbang didalamnya adalah pondok pesantren Husnul Khotimah yang terletak di Kuningan Jawa Barat yang berdiri diatas tanah wakaf 4,737𝑚2.
Wakaf sendiri memiliki peranan penting dalam pendirian dan memperluas maupun memperbesar pesantren. contoh pesantren yang menggunakan dana wakaf untuk pendanaan pesantren adalah pondok pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat. Pesantren ini dana wakaf berkembang dan dapat membiayai pembangunan dan pelebaran pesantren,pelebaran baik dari tanah, bangunan maupun fasilitas lainnya, dana wakaf ini tak hanya digunakan untuk pelebaran disatu lokasi saja namun juga dilokasi lain hal ini dapat dilihat dengan berdirinya pondok pesantren Hunsul Khotimah 2.
Dalam pengambilan keputusan pelaksanaan wakaf oleh seorang wakif ditentukan oleh banyak variablel seperti : kepatuhan beragama, pendapatan, pendidikan, usia. Beberapa variabel tersebut melandasi seseorang untuk melaksanakan wakaf.
Kepatuhan beragama disini adalah melaksanakan perintah agama, dalam hal ini adalah salah satu perintah yang di sebutkan dalam Al-qur’an surat Al-Imran ayat 92 “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” ayat tersebut memiliki tafsir yaitu (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian) artinya pahalanya yaitu surga (sebelum kamu menafkahkan) menyedekahkan (sebagian dari apa yang kamu cintai) berupa harta bendamu (dan apa yang kamu nafkahkan dari sesuatu maka sesungguhnya Allah mengetahuinya) dan akan membalasnya. Sudah sangat jelas dituliskan oleh Allah SWT melalui ayat ini bahwa salah satu amalan yang diperintahkan adalah bersedekah salah satu bentuk sedekah adalah berwakaf. Dan kita sebagai umat beragam memiliki etika untuk melaksanakan amalan agama salah satu contohnya adalah mengamalkan ayat diatas dengan melakukan wakaf dan hal itu merupakan bukti bahwa seorang indvidu telah menjalankan taat dan patuh terhadap agama yang dianutnya (A’yun, 2017).
Selain faktor kepatuhan ada pula faktor pendapatan, hal ini berpengaruh karena islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan kelebihan harta dan diberkan kepada yang berhak menerima (A’yun, 2017), selain itu disebutkan dalam teori ekonomi mikro islam bahwa dalam islam terdapat dua cara mendistribusikan pendapatan yaitu dengan zakat yang sifatnya wajib dan shodaqoh sifatnya sukarela (Arif dan Amalia : 2016).
Dari sana dapat dilihat bahwa pendapatan yang diterima dan dimiliki oleh ndividu harus dapat disitribusikan sesuai dengan kebutuhan dan diberikan sebagian untuk melaksanakan sesuatu yang bersifat sukarela.
Pendidikan dapat menjadi salah satu faktor karena hal ini disampaikan oleh imam Bukhari dalam bukunya yang berjudul Shahih Bukhari disebutkan bahwa terdapat salah satu bab yang berjudul Al-ilmu qobla qoul wal amal yang artinya berilmu sebelum berkata dan beramal disini beliau menjelaskan bahwa seseorang dalam melakukan sesuatu, harus memiliki ilmunya terlebih dahulu, contoh ketika seorang individu menjahit
baju ia harus memiliki pengetahuan tentang menjahit baru ia dapat menjahit baju, begitu pula dengan wakaf ketika seseorang ingin melaksanakan wakaf ia harus tau aturan aupun perintah berwakaf, maka dalam hal ini menuntut ilmu adalah penting guna pengetahuan dalam melaksanakan ibadah.
Pada faktor usia seorang individu dalam melaksanakan atau memutuskan sesuatu kadangkala terpenagruhi oleh faktor usia, dalam hal melaksanakan konsumsi barang atau jasa akan berbeda semasa hidupnya karena terjadi perubahan kebutuhan dan selera seseorang (Sari, 2017). Pun dalam pengambilan keputusan untuk melaksankan amalan agama usia mempengaruhi rasionalitas dalam memutuskan amalan apa saja yang akan dilaksanakan.
Dari latar belakang inilah penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah variabel-variabel kepatuhan beragama,pendapatan,pendidikan dan usia berpengaruh terhadap wakif dalam mengambil keputusan untuk melaksanakan wakaf?
B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Wakaf
Wakaf berasal dari perkataan arab “Waqafa” yang berarti menahan atau mencegah. Wakaf merupakan kata yang berbentuk masdar yang pada dasarnya berarti menahan, berhenti, atau diam. Menurut Istilah hukum Islam, wakaf berarti: menyerahkan suatu hak milik yang tahan lama (zatnya) kepada seseorang atau nadzir (penjaga wakaf), baik berupa perorangan maupun badan pengelola, dengan ketentuan bahwa hasil atau manfaatnya digunakan untuk hal-hal yang sesuai dengan ajaran syari’at Islam. Harta yang telah diwakafkan keluar dari hak milik yang mewakafkan, dan bukan pula menjadi hak milik nadzir, tetapi menjadi hak milik Allah dalam pengertian hak masyarakat umum.
Dan menurut Undang-Undang Nomor 41 tahu 2004 tentang Wakaf ,dimana pengertian wakaf disebutkan pada Pasal 1, bahwa yang dimaksud wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian harta kekayan yang berupa tanah milik dan melembagakannya untuk selama- lamanya untuk kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.
Dasar hukum wakaf sendiri tak ada yang disebutkan secara langsung baik dalam Al-quran maupun sunnah nabi, Al-quran selalu mengkategorikan amalan ini dengan infaq atau shadaqah. Dalam Al-quran yang menyebutkan tentang wakaf adalah QS Al-Baqarah : 267 )“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi”. Selain itu dalam hadits nabi saw pun dijelaskan, salah satunya adalah : diriwayatkan bahwa sayidina
Umar bin Khatab ra, mendapatkan tanah di khaibar kemudian ia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah aku mendapatkan tanah dikhaibar dan aku belum pernah sama sekali mendapatkan harta sebaik ini, apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah saw bersabda,” jika engkau ingin kau dapat menahannya(mewakafkan) tanah itu dan menyedekakan hasil tanah itu”. Maka Umar ra menyedekahkan hasil tanah tersebut dengan syarat tanah khaibar itu tidak boleh dijual, dihibahkan dan diwariskan. Hasil wakaf Umar di khaibar diberikan kepada fakir-miskin, sanak kerabat budak, tamu, dan para musafir. Manakala orang yang menjaga dan mengawasi dibolehkan memanfaatkan (memakan) dengan sewajarnya (bijaksana).
Dalam pelaksanaan wakaf terdapat syarat sah yang harus dipenuhi baik bagi wakif (orang yang berwakaf), mauquf (harta yang diwakafkan), mauquf alaif (sasaran wakaf) dan sighat wakaf (ikrar wakaf).
Syarat untuk wakif sendiri : berakal, baliqh, cerdas,atas kemauan sendiri,wakif merdeka atas pemilik harta.
Sedang syarat untuk mauquf (harta yang diwakafkan) : sesuatu yang dianggap harta dan merupakan maal mutaqawwim, benda yang diwakafkan diketahui dengan jelas kebendaannya batasan dan tempatnya, benda yang diwakafkan milik sempurna wakif, harta wakaf yang diserahterimakan harus jelas pemilik harta dikemudiannya, mewakafkan benda tidak bergerak. Syarat untuk mauquf alaih (sasaran wakaf) : pihak yang menerima wakaf adalah yang berorientasi pada kebaikan dan tidak bertujuan maksiat, dilakukan untuk aktivitas kebaikan dan kontinyu, penentuan wakaf tidak kembalikan oleh wakif.
Untuk syarat sighat wakaf (ikrar wakaf) adalah : pernyataan wakaf bersifat ta’bid (untuk selama- lamanya), pernyataan bersifat tanjiz (lafal jelas), pernyataan bersifat jazm (tegas), pernyataan wakif tidak diiringi syarat yang batal, menyebut mauquf alaih dengan jelas, pernyatan wakaf dinyatakan dengan lafzh sharih (jelas) atau lafzh kinayah (sindiran).
2. Pesantren
Pesantren asal katanya dari kata santri yang diberi imbuhan pe dan akhiran an. Menurut pengertian dasarnya adalah “tempat belajar para santri”, sedangkan pondok berarti “rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu”. Di samping itu, “pondok” mungkin juga berasal dari bahasa Arab “fanduk” yang berarti “hotel atau asrama”. Ada beberapa istilah yang ditemukan dan sering digunakan untuk menunjuk jenis pendidikan Islam tradisional khas Indonesia atau yang lebih terkenal dengan sebutan pesantren. Di Jawa termasuk Sunda dan Madura, umumnya dipergunakan istilah pesantren atau pondok, di Aceh dikenal dengan istilah dayah atau rangkung atau meunasah, sedangkan di Minangkabau disebut surau.
Tujuan pesantren secara umum adalah membimbing anak didik untuk menjadu manusia yang berkepribadian islami, yang dengan ilmu agama dimilikinya menjadi manfaat bagi masyarakat sekitar, tujuan
secara khusus Mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh Kiai yang bersangkutan, serta mengamalkannya dalam masyarakat.
3. Alokasi Pendapatan
Alokasi pendapatan yang dimaksud adalah pendistribusian pendapatan pada yang lebih membutuhkan dalam hal ini para fakir ataupun miskin. Alokasi pendapatan ini Allah SWT sebutkan pada beberapa ayat Al- Qur’an salah satunya pada QS Al-Hasyr ayat 7 “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” maksud dari ayat tersebut adalah tidak bolehnya harta kekayaan hanya beredar diantara yang mampu saja.
Dalam islam kebutuhan memang menjadi alasan untuk mencapai pendapatan minimum, sedangkan kecukupan dalam standart hidup yang baik adalah hal yang paling mendasari dalam sistem distribusi dan redistribusi kekayaan, setiap umat harus mampu mencapai yang minimun terlebih dahulu bahkan diupayakan agar dapat mencapai standar hidup yang sudah bisa dikatakan baik, para ulama mengasumsikan standar kecukupan ini sebagai titik pembeda dengan yang kekurangan. Kewajiban menyisihkan sebagian harta bagi si yang berkecukupan untuk mereka yang kekurangan adalah merupakan dana kompensasi atas kekayaan mereka.
4. Preferensi
Preferensi dapat dianggap sebagai sikap individu terhadap satu set objek, biasanya tercermin dalam proses pengambilan keputusan eksplisit, namun disisi lain dapat ditafsirkan penilaian evaluatif dalam arti menyukai atau tidak menyukai suatu objek (Erinda,Kumadji dan Sunarti, 2016). Pendapat lain teori preferensi konsumen dapat berarti kesukaan, pilihan atau sesuatu hal yang lebih disukai konsumen. Preferensi ini terbentuk dari persepsi konsumen terhadap produk (barang atau jasa) yang dikonsumsi, preferensi menunjukkan kesukaan konsumen dari berbeagai produk pilihan yang ada (Wijayanti dalam Aiman, Handaka dan Lili, 2017),
5. Perilaku Konsumen
Dalam melakukan kegiatan ekonominya manusia mengalami perubahan perilaku tiap waktunya sesuai dengan perkembangan zaman, perubahan perilaku ini disebut perilaku konsumen. Perilaku konsumen sendiri memiliki definisi tindakan yang langsung terlhat dalam mendapatkan,mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses yang mendahului dan menyusul tidakan tersebut (Engel dalam Priyono, 2006).
Salah satu bentuk perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan atau biasa dikenal dengan keputusan konsumen. Swastha dan Handoko mengatakan keputusan konsumen adalah keputusan seseorang untuk melaksanakan keputusan pembelian yang merupakan hasil perhitungan ekonomis secara rasional dan sadar, sehingga mereka akan memilih produk yang dapat memberikan kegunaan yang paling b esar sesuai dengan selera dan biaya secara relatif (Priyono, 2006).
6. Keputusan Berwakaf
Keputusan adalah suatu tindakan untuk memilih dari dua pilhan atau lebih, sedang wakaf adalah menahan benda milik orang yang berwakaf dan menyedekahkan manfaatnya untuk kebaikan baik untuk sekarang atau masa yang akan datang, dan wakaf adalah salah satu kegiatan anjuran yang dianjurkan oleh agama islam bagi pemeluknya.
Maka dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa suatu pilihan yang diambil individu untuk melakukan salah satu kegiatan agama, diantara banyaknya kegiatan agama. Hal ini pun merupakan salah satu bagian dari prinsip perilaku konsumsi dalam islam yaitu melaksanakan kewajiban berzakat dan melakukan kegiatan anjuran infaq,shadaqah, dan wakaf.
7. Penelitian Terdahulu
Skripsi oleh Dewi 2016 “Kajian Pustaka Kesedian Masyarakat Kota Malang Mengeluarkan Wakaf Uang dan Faktor Penentunya”. Penelitian ini berfokus pada kesediaan masyarakat kota malang untuk berwakaf uang dan faktor penentunya. Penelitian ini dilakukan guna mengetahui faktor yang mempengaruhi masyarakat kota Malang untuk berwakaf uang . penelitian ini memiliki hasil yaitu menjelaskan bahwa sebagian masyarakat belum faham terhadap wakaf uang, namun dengan pemahaman yang rendah masyarakat kota Malang masih bersedia untuk melaksankan wakaf uang karena mengeluarkan wakaf uang tidak harus dengan harta yang banyak.
Jurnal Achmad Arief 2016 “Partisiasi Stakeholder Dalam Perwakafan : Studi Kasus di Rumah Sakit Roemani, Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung dan Masjid Agung Semarang”. Penelitian ini berfokus pada kesempatan stakeholder untuk berpartisiapsi dalam kegiatan lembaga wakaf, dijelaskan mengenai bentuk dan alasan partisipasi stakeholder pada lembaga wakaf Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung dan Masjid Agung Semarang. Penelitain ini memiliki hasil yaitu dasar partisipasi stakeholder berasal dari nilai-nilai positif ajaran agama, tanggung jawab profesi dan keterampilan sosial yang sudah terinternalisasi pada diri stakeholder, selain
itu partisipasi terbantuk karena adanya sistem organisasi dari lembaga wakaf. Partispasi stakeholder ini memiliki dampak positif bagi lembaga wakaf dengan terjwujudnya good corporate governance.
Jurnal Dahlan 2014 “Faktor-Faktor yang Mempengauhi Persepsi Nazhir Terhadap Wakaf Uang ”.
Penelitian ini berfokus pada apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi nazhir mengenai wakaf uang.
Penelitian ini memiliki hasil yaitu Sikap dan respon nazhir terhadap wakaf uang sangat dipengaruhi oleh pemahaman nazhir terhadap wakaf uang sendiri. Pandangan nazhir terhadap wakaf uang dapat terbentuk jika nazhir memiliki pengalaman dan wawasan mengenai wakaf. Latar belakang pendiidkan berpengaruh terhadap terbentuknya persepsi atau pemahaman nazhir.
8. Hipotesis
H0 Diduga bahwa kepatuhan beragama,tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan usia berpengaruh tidak siginifikan terhadap keputusan berwakaf pada pondok pesantren Husnul khotimah Kuningan Jawa Barat.
H1 Diduga bahwa kepatuhan beragama, tingkat pendiikan, tingkat pendapatan, dan usia berpengaruh signifikan terhadap keputusan berwakaf pada pondok pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat.
C. METODE PENELITIAN D. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Jenis Penelitian
Penelitian variabel kepatuhan beragama, pendapatan, pendidikan mempengaruhi wakif dalam pengambilan keputusan untuk melaksanakan wakaf dengan menggunakan metode penelitian kuantitatifpendekatan deskriptif.
B. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer berupa kuesioner dan data sekunder berupa penelitian terdahulu, buku dan jurnal. Penelitian ini data yang digunakan adalah data pengisian kuesioner oleh wakif..
C. Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah wakif di pondok pesantren Husnul Khotimah Kuingan Jawa Barat.
Sedangkan, sampel pada penelitian ini sebesar 130 orang wakif di pondok pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat.
D. Teknik Pengolahan Data
Guna membuktikan hipotesis yang dibuat, maka perlu dilakukan pengolahan data dengan beberapa metode guna mendapatkan hasil yang diharapkan. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS 23. Dengan teknik pengolahan data
a. Uji Validitas Dan Reabilitas
Uji validitas alat ukur untuk mendapatkan data yang valid, dapat digunakan untuk mengukur yang hendak diukur. Uji reabilitas guna mengetahui keajegan suatu tes dalam dalam mengukur gejala yang sama pada waktu dan kesempatan yang berbeda.
b. Uji Regresi Logistik
Analisa regresi adalah teknik statistika guna menguji hubungan antar variabel, yaitu variabel dependen dan variabel independen. Dimana variabel dependen berupa kategorial sedangkan variabel independen bersifat kontinyu maupun kategorikal. Model regresi logit yang digunakan pada penelitian ini
Keterangan :
0 = Keputusan Tidak Berwakaf 1= Keputusan Ya Berwakaf α = Konstanta
β1–β4 = Koefisien Regresi β1= Kepatuhan Agama β2= Pendapatan β3= Pendidikan β4= Usia
e= Faktor Kesalahan Penggangu D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil uji validitas didapat bahwa nilai sig r item lebih kecil dari α = 0.05 maka tiap item variabel adalah valid, sehingga item-item tersebut dapat digunakan untuk mengukur variabel penelitian. Uji reabilitas bahwa nilai dari alpha cronbach untuk semua variabel lebih besar dari 0,6. Dari ketentuan yang telah disebutkan sebelumnya maka semua variabel yang digunakan untuk penelitian sudah reliabel.
Besar nilai koefisien determinasi pada model regresi logistic ditunjukkan oleh nilai Nagelkerke R Square. Nilai Nagelkerke R Square dapat diinterpretasikan seperti nilai R Square pada regresi berganda.
Tabel 1: Negelkerke R Square
Sumber : Data diolah 2018
Uji regrsi ogistik diperoleh nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,536 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 53.6%, sedangkan sisanya 46.4%
dijelaskan oleh variabel lain diluar model penelitian. Maka ini menujukkan bahwa varaibel kepatuhan beragam, pendapatan, pendidikan dan usia memberikan pengaruh sebesar 53,6% terhadap keputusan wakif dalam melaksanakan wakaf.
Tabel 2: Hasil Uji Hipotesis
Omnibus Tests of Model Coefficients
Chi-square df Sig.
Step 1 Step 44.365 4 .000
Block 44.365 4 .000
Model 44.365 4 .000
Sumber : Data diolah 2018
Pada tabel diperoleh nilai pluang chi-aquare 0.000 ≤ α 0.05 perhitungan ini menunjukkan bahwa variabel kepatuhan beragama, pendapatan, pendidikan dan usia memiliki pengaruh yang signifikan secara stimulant terhadap keputusan wakif dalam melaksanakan wakaf, atau hoptesis diterima.
Tabel 3: Hasil Uji Wald
Variables in the Equation
B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Step 1a X1
3.641 .929 15.375 1 .000 38.141
X2
.000 .000 4.963 1 .026 1.000
X3 .484 .193 6.251 1 .012 1.622
X4 .054 .027 3.845 1 .050 1.055
Constant -6.441 3.021 4.545 1 .033 .002
a. Variable(s) entered on step 1: X1, X2, X3, X4.
Sumber : Data diolah 2018
Model Summary
Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square
1 56.475a .289 .536
a. Estimation terminated at iteration number 7 because parameter estimates changed by less than .001.
Berdasarkan hasil uji signifikansi individu dapat disimpulkan ahwa variabel kepatuhan beragama, pendapatan, pendidikan dan usia memilki pengaruh yang signifikan karena tingkat signifikansi lebih kecil sama dengan dari α = 0.05 yaitu 0.000 , 0.026 , 0.012 dan 0.050 maka H0 ditolak.
Pengaruh Kepatuhan Beragama dalam Keputusan untuk Berwakaf pada Seorang Wakif
Kepatuhan beragama berasal dari 2 suku kata yaitu kepatuhan dan beragama yang tiap suku kata memiliki kata dasar masing-masing, dimana kepauhan memiliki kata dasar patuh sedang beragama meilki kata dasar agama. Dalam KBBI 2 kata tersebut memiliki makna masing-masing patuh memiliki makna taat, disiplin, kepatuhan merupakan sifat patuh dan agama memiliki makna system yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada yang maha kuasa, maka kepatuhan beragama merupakan sifat patuh taat yang dimilki individu dalam melaksanakan system tatat keimanan dan peribadatan kepada yang maha kuasa. Kepatuhan beragama dimiliki oleh tiap individu dan berhubungan lurus dengan penciptanya dan kepatuhan beragama yang dimilki oleh tiap individu berbeda-beda..
Hasil dari penelitian ini diapatkan bahwa variabel kepatuhan beragama bepengaruh signifikan terhadap keputusan individu dalam melaksanakan wakaf. Dalam hal ini signifikansi yang dimiliki oleh variabel kepatuhan beragama sebesar 0.000 ≤α (0.05), dengan tingkat signifikansi yang lebih kecil dari α maka variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Pengaruh Pendapatan dalam Keputusan untuk Berwakaf pada Seorang Wakif
Pendapatan merupakan suatu balas jasa dari seseorang atau lembaga atas tenaga atau pikiran yang telah disumbangkan, biasanya berupa upah atau gaji (Chalimah : 2016). Pendapatan ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan seseorang, dalam islam pendaatan ataupun harta yang dimiliki bukan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan namun juga didistribusikan kepada yang membutuhkan dan yang berhak, bentuk pendistribusian pendapatan melalui zakat yang bersifat wajib, infaq sedekah dan wakaf yang sifatnya anjuran.
Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa variabel pendapatan memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan untuk berwakaf. Dalam hal ini signifikansi yang dimiliki oleh variabel pendapatan adalah sebesar 0.026 ≤ α (0.05), dengan tingkat signifikansi yang lebih kecil dari pada α maka variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Pengaruh Pendidikan dalam Keputusan untuk Berwakaf pada Seorang Wakif
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan berasal dari kata didik (mendidik) yang memiliki arti mememlihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedang makna
pendidikan secara sederhana adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaannya.
Pendidikan hakikatnya terdiri atas pendidikan formal dan informal, dan tiap manusia membutuhkannya. Kedua macam pendidikan ini dapat membentuk karakteristik dari tiap individu hingga dapat memecahkan suatu masalah yang dihadapi individu, namun keduanya haruslah berjalan selaras jika idak aka nada kecompangan dalam pengambilan keutusan atas suatu keadaan ataupun masalah, maka dari itu dengan tingkat pendidikan yang makin tinggi khususnya tingkat pendidikan formal maka makin baik pula seseorang individu dalam pengambilan keputusan.
Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa varaibel pendidikan memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan berwakaf. Dalam hal ini tingkat signifikansi yang dimilki oleh varaibel pendidikan adalah sebesar 0.012 ≤ α (0.05) dengan tingkat signifikansi yang lebih kecil dari α maka variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Pengaruh Usia dalam Keputusan untuk Berwakaf pada Seorang Wakif
Setiap manusia akan melewati tahap usia dan masanya masing-masing dan tiap tahap usia memiliki kebutuhannya masing-masing, tiap individu dalam melaksanakan konsumsi barang atau jasa akan terjadi perbedaan dalam setiap tahap usianya (Nilamsari : 2017) hal tersebut dikarenakan adanya kebutuhan yang berbeda dalam tiap tahap usia. Tak hanya masalah kebutuhan tapi juga dalam mengahadapi dan memecahkan suatu masalah ataupun keadaan dan pengambilan keputusan tiap tahapan usia akan memiliki sikap dan pandangan yang berbeda hal ini pun disampaikan oleh Cathy Neal (dalam Chalimah :2016) bahwa usia merupakan segmen dari budaya yang mendifinisikan pola perilaku, perbedaan siklus usia seseorang dalam kehidupan mempengaruhi sikap,cara pandang dan pengambilan keputusan seseorang atas suatu keadaan.
Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa varaibel usia memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan berwakaf, dalam hal ini tingkat signifikansi yang dimilki oleh varaibel usai adalah 0.050 = α (0.05) dengan tingkat signifikansi lebih besar 10% α maka variabel independen berpengaruh signifikan sebesar 10%
terhadap variabel dependen.
E. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Penelitian ini dilakukan guna mengetahui variabel kepatuhan beragam, pendapatan, pendidikan dan usia mempengaruhi keputusan wakif dalam melaksanakan wakaf. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah
dijelaskan wakaf adalah salah satu perintah Allah SWT bagi umatNya, amalan wakaf sendiri bersifat anjuran atau sunah. Dalam pelaksanaan wakaf terdapat syarat yang dipenuhi baik dari wakif (orang yang berwakaf) ataupun mauquf (harta yang diwakafkan).
Dalam pelaksanaan wakaf sebagai amalan sunnah perlu adanya pengambilan keputusan wakif apakah akan melaksanakan wakaf ataupun tidak. Pada penelitian ini dalam pengambilan keputusan untuk ya ataupun tidak melaksanakan wakaf dipengaruhi oleh empat varibael yaitu : kepatuhan beragama, pendapatan, pendidikan dan usia.
Variabel kepatuhan beragama memiliki pengaruh dalam pengambilan keptusan ya berwakaf karena se.orang wakif ingin melaksanakan salah satu perintah dalam agama islam yaitu bershadaqah jariah dimana maksud shadaqah jariah adalah melaksanakan wakaf, perintah ini dijelaskan salah satunya pada Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 92.
Variabel pendapatan memiliki pengaruh bagi wakif dalam pengambilan keputusan untuk ya melaksanakan wakaf karena dalam islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan kelebihan harta yang dimilikinya,cara mendistribusikannya dalam teori mikro islam menjelaskan terdapat dua cara yaitu dengan zakat yang bersifat wajib dan shadaqah jariah yang bersifat sunnah .
Variabel pendidikan memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan untuk ya melaksanakan wakaf karena ketika seseorang semakin tinggi menempuh tingkat pendidikan maka semakin banyak informasi yang diperolehnya, dan informasi yang dimiliki seseorang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, selain itu Imam Bukhari juga mejelaskan bahwa dalam melaksanakan amal harus memiliki ilmunya terlebih dahulu .
Variabel usia memiliki pengaruh dalam ya melaksanakan wakaf karena dalam melaksanakan atau memutuskan sesuatu kadangkala terpengaruhi oleh faktor usia, hal tersebut terjadi karena selera dan kebutuhan yang berbeda dalm tiap tahap usia .
Saran
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wakif dalam pengambilan keputusan ya untuk melaksanakan wakaf dipengrauhi oleh empat variabel yaitu variabel kepatuhan wakif terhadap agama yang dianut, tingkat pendapatan yang dimilki, tingkat pendidikan yang ditempuh dan tingkat usia, maka Pondok Pesantren Husnul Khotimah perlu memperhatikan variabel-variabel tersbut guna meningkatkan jumlah wakif pada lembaga .
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya dengan mengembangkannya baik dalam hal variabel independen ataupun dalam bentuk yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
A’yun, Alvira ‘Aina. 2017. Analisis Faktor Tingkat Pendidikan,Religiusitas dan Pendapatan dalam Mempengaruhi Kepatuhan Individu Mengeluarkan Zakat Maal (Studi Kasus Pegawai di Kementrian Agama Malang). Malang : Universitas Brawijaya
Abdullah dan Darajat, Deden Mauludi. Peran Humas Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (PMDG) dalam Membangun Lembaga Pendidikan. Ponorogo:
Universitas Darussalam Gontor.
Agung,Anak Agung Putu. 2012. Metodologi Penelitian Bisnis. Malang : UB Press
Aiman,Ammar dan Handaka,Asep Agus etc. 2017. Analisis Preferensi Konsumen dalam Pengambilan Keputusan Membeli Produk Olahan Perikanan di Kota Tasikmalaya (studi Kasus di Pasar Tradisional Cikurubuk, Kec. Mangkubumi). Bandung : Universitas Padjajaran
Al Arif, Rianto dan Amalia, Euis. 2016. Teori Mikroekonomi Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi Konvensional. Jakarta : Prenadamedia Group.
Ali, Muhammad Daud. 1998. Sistem Ekonomi Islam: Zakat dan Wakaf. Jakarta: Universitas Indonesia Press
Ascarya dan Sukarna, Irfan etc. 2017. Merancang Manajemen Risiko Pengelolaan Wakaf (Developing Risk Management For Waqf Institution). Jakarta : Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah – BANK INDONESIA
Budiman, Achmad Arief. 2016. Partisipasi Stakeholder dalam Perwakafan : Studi Kasus di Rumah Sakit Roemani, Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung dan Masjid Agung Semarang. Semarang : Universitas Islam Negeri Walisongo
Chalimah, Dewi. 2016. Kajian Pustaka Kesediaan Masyarakat Kota Malang Mengeluarkan Wakaf Uang dan Faktor Penentunya. Malang : Universitas Brawijaya.
Dahlan, Rahmat. 2014. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Nazhir Terhadap Wakaf Uang. Jakarta: Universitas Prof. Dr. Hamka
Direktorat Pemberdayan Wakaf. 2013. Paradigma Baru Wakaf Di Indonesia. Jakarta : Kemetrian Agama Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.
Erinda,Asiyah dan Kumadji,Srikandi etc. 2016. Analisis Faktor-Faktor Preferensi Pelanggan dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian (Studi Terhadap Pelanggan Mcdonald’s di Indonesia dan Malaysia). Malang : Universitas Brawijaya
Fitriana, Anita. 2015. Model Pengembangan Wakaf Produktif di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo. Ponorogo : Sekoloah Tinggi Agama Islam Negeri Ponorogo
Kamil, Sukron. 2012. Ekonomi Islam Kelembagaan dalam Konteks Keindonesiaan.
Miranti, Savira. 2012. Pengaruh Perbedaan Jenis Kelamin Terhadap Perilaku Pembelian Produk Ramah Lingkungan di Jakarta. Jakarta : Universitas Indonesia
Muhtar, Amin. 2015. Potensi Wakaf Menjadi Lembaga Keuangan Publik (Kajian Kritis terhadap Konsep dan Praktik Wakaf dalam Hukum Islam). Ciamis : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Ma’arif
Munandar, Jono M dan Udin Faqih etc. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Preferensi konsumen Produk Air Minum Dalam Kemasan di Bogor. Bogor : Institut Pertanian Bogor
Nawawi. 2006. Sejarah dan Perkembangan Pesantren.Purwokerto : P3M STAIN Purwokerto.
Nilamsari, Muthiarani.2017. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Preferensi Mahasiswa TerhadapPengambilan Keputusan Menjadi Nasabah Perbankan Syariah (Studi Pada Mahasiswa S1 Ekonomi Islam Universitas Brawaijaya Malang).
Rivai, Veithzal dan Buchari,Andi. 2013. Islamic Economic Ekonomi Syariah Bukan OPSI, Tetapi SOLUSI . Jakarta : PT Bumi Aksara
Rozalinda. 2016. Manajemen wakaf produktif. Depok : Rajawali Pers
Sangadji,Mamang dan Sopiah. 2013. Perilaku Konsumen Pendekatan Praktis Disertai Himpunan Jurnal Penelitian. Yogyakarta : C.V Andi Offset
Santoso, Budi. 2011. Wakaf Perusahaan Model CSR Islam untuk Pembangunan. Malang:
UB Press
Sekaran, Uma. 2006. Research Metothods For Business Metodologi Penelitian untuk Bisnis . Jakarta : Salemba Empat
Setiadi, Nugroho J. 2005. Perilaku Konsumen Konsep dan Aplikasi . Jakarta: Prenada Media
Sharif Chaudary, Muhammad. 2016. Sistem Ekonomi Islam : Prinsip Dasar. Jakarta : Prenadamedia Group
Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Bandung Alfabeta Sugiyono. 2015. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Supriyatno, Eko. 2008. Ekonomi Mikro Prefpektif Islam. Malang : UIN Malang Press
Ulfa Hardinawati,Lusiana dan Muhammad Zilal Hamzah. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Intensi Donatur Membeyar Zakat,Infak Dan Sedekah (ZIS) Melalui Bank (Studi Kasus Donatur ZIS Di Provinsi DKI Jakarta). Jakarta : Universitas Indonesia
Wibisono, Yusuf. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (Corporate Social Responsibility) . Gresik: Fascho
Zuraidah. 2013. Penerapan Konsep moral dan Etika dalam Distribusi Pendapatan Prespektif Ekonomi Islam. Pekanbaru : UIN Suska Riau