Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 189 AK IB AT H UK UM L IK UIDASI B ANK TE RH ADAP K E B E RADAAN
AK T A PE M B E RIAN H AK T ANG G UNG AN ( APH T ) O l e h
I G ust i Ag ung B a g us H e ndr a Pr a di t y a * , I M a de Ar y a Ut a ma * * , I K e t ut W e st r a * * *
A B ST R A K
Dalam era globalisasi seperti saat ini dimana pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berkembang pesat, menuntut manusia untuk memenuhi segala macam kebutuhan hidupnya. Adapun yang ingin berusaha dapat memanfaatkan jasa perbankan dengan melakukan pinjaman kredit kepada lembaga perbankan dengan jaminan tanah yang dalam prosesnya akan diikat dengan Akta Pemberian Hak Tanggungan, namun bagaimana apabila dalam perjalanan bank yang memberikan kredit tersebut mengalami likuidasi dikarena pengelolaan yang buruk, bagaimana akibat dan perlindungan hukumnya, sehingga dalam rumusan masalah penelitian ini antara lain Bagaimanakah akibat hukum terhadap Akta Pemberian Hak Tangungan dalam hal suatu bank dilikuidasi dan Bagaiamanakah perlindungan hukum terhdap pemilik barang jaminan dengan Akta Pemberian Hak Tanggungan dalam hal suatu bank dilikuidasi.
Penelitian Tesis ini menggunakan metode penelitian hukum normatif, dengan pendekatan perundang-undangan, yang dikaitkan dengan pendekatan konsep dan pendekatan analisis. Pendekatan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian tesis ini yaitu dengan mengkaji dan menganilis Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan, dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 Tentang Lembaga Penjamin Simpanan dan Pendekatan konsep untuk menemukan konsep bagi suatu fakta hukum akibat dari likuidasi bank terhadap akta pemberian hak tanggungan dan pendekatan analisi untuk menganalisis bagaimana makna pada istilah hukum yang terdapat dalam peraturan perundangan-undangan untuk dapat memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa akibat hukum likuidasi bank terhadap akta pemberian hak tanggungan bila sudah didaftarkan di kantor pertanahan mempunyai kekuatan dan memberikan kepastian hukum bagi kedua belah pihak, namun apabila dalam prosesnya terjadi likuidasi terhadap bank tersebut jaminan yang dijaminkan dengan akta pemberian hak tanggungan dapat dilelang atau kredinya di take over ke bank lain, dan apabilan proses yang dijalankan semua sesuai dengan aturan perundang-undangan juga akan memberikan perlindungan hukum baik perlindungan hukum preventif dan represif.
1. PENDAHULUAN
Era globalisasi membawa serta meningkatnya pembangunan disegala bidang.
Pertumbuhan ekonomi menuntut manusia untuk dapat memenuhi segala macam kebutuhan hidup, namun pada kenyataannya tidak semua masyarakat Indonesia memperoleh penghasilan yang sesuai untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Untuk itu mereka mencari alternative untuk dapat memenuhi kebutuhannya dengan mencari pinjaman dari lembaga-lembaga perbankan. Pada zaman modern ini hampir tidak ada kehidupan ekonomi yang tidak bersentuhan dengan bank, khususnya yang berkenaan dengan pendanaan berbagai usaha di bidang industri, perdagangan bahkan di bidang kehidupan rumah tangga biasa.
Industri perbankan memegang peranan penting untuk menyukseskan program pembangunan nasional dalam rangka mencapai pemerataan pendapatan, menciptakan pertumbuhan ekonomi, dan memelihara stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, tugas yang diemban perbankan nasional tidaklah ringan. Selain bertindak sebagai agen pembangunan, bank sebagai entitas juga harus
dapat mempertahankan kesinambungan usahanya dengan senantiasa menjaga kemampuan untuk menciptakan hasil usaha yang dapat menambah struktur pendanaan dan permodalnnya. Selain itu, bank sebagai lembaga utama di bidang keuangan juga diharapkan dapat menjaga kepercayaan masyarakat atas simpanan yang ditanamkan kepadanya. Mengingat tugas tersebut memiliki sifat yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, pengaturan atas industri perbankan nasional mutlak diperlukan untuk menjaga keseimbangan diantara tugas-tugas diatas.1
Pengaturan keberadaan Lembaga perbankan di Indonesia tercantum dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3790, selanjutnya disebut UU Perbankan). Tugas perbankan di Indonesia
1Jonker Sihombing, 2010, Penjaminan Simpanan Nasabah Perbankan, Alumni, Bandung (selanjutnya disebut Jonker Sihombing I), h.1
A c t a C o m i t a s ( 2 0 1 7 ) 2 : 1 8 9 – 2 0 0 I S S N : 2 5 0 2 -8 9 6 0 I e - I S S N : 2 5 0 2 -7 5 7 3
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 190 sebagaimana terdapat pada ketentuan Pasal 4
UU Perbankan bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan kearah peningkatan kesejahteraan rakyat. Selain itu juga bank memiliki fungsi atau peranan yaitu :
a . Men g h im p un d an a d ar i m a sya r a k a t d a l a m ben t u k a ta u jen i s si m pan an ; b. Men ya l u r k an d an a ya n g t er k um p u l
d i ba n k k ep a d a ma s ya r a k a t da l am b en t u k kr ed i t ;
c. Mel a ya n i a t a u m en g em ba n t u g a s se ba g a i p el a ya n la l u l in t a s p em ba ya r an u an g m el a k u k an b er ba g a i a k t i vi t a s k eg i a t an an tar a l a in p en g ir im an u an g , in ka so, c ek wi sa t a , k ar t u kr ed i t , d an p el a ya n an l a in n ya .
Berdasarkan ketentuan dalam undang- undang perbankan di Indonesia hanya ada dua jenis bank, yaitu bank umum dan bank perkreditan rakyat, dengan variasi adanya bank umum dan bank perkreditan rakyat berdasarkan prinsip syariah.2 Berdasarkan kepemilikannya, bank dibedakan atas bank milik pemerintah berbentuk BUMN, milik pemerintah daerah berbentuk perusahaan daerah, dan milik swasta.
Bank sebagai salah satu lembaga keuangan adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan bentuk lainnya. Dari produk dan jasa perbankan yang ditawarkan ini, pendapatan atau keuntungan suatu bank lebih banyak dari pemberian kredit kepada nasabahnya. Oleh karenanya pemberian kredit secara terus menerus dilakukan oleh bank untuk kesinambungan operasionalnya. Operasi bank di bidang pemberian fasilitas kredit adalah fungsi utama dari bisnis perbankan, yaitu fungsi menyalurkan dana kepada mereka yang memerlukan setelah menerima pengumpulan dana dari para deposan penyimpan dana. Fungsi ini juga memberikan penghasilan yang paling besar sebanding dengan resiko yang dihadapi perbankan. Karena dengan semakin meningkatnya pertumbuhan kredit (penyaluran kredit) biasanya disertai pula dengan meningkatnya kredit yang bermasalah, walau persentase jumlah dan peningkatannya kecil tetapi kredit bermasalah ini akan dapat mempengaruhi kesehatan perbankan.
Lembaga perbankan yang sehat dan beroperasi dengan baik menjadi kebutuhan nyata yang tidak dapat dipungkiri dewasa ini.
Dipihak lain kegiatan perbankan penuh dengan berbagai macam resiko, mulai dari resiko operasional, resiko pasar, resiko likuiditas, resiko suku bunga, resiko kredit dan berbagai jenis resiko lainnya. Pasal 3 dan Pasal 4 UU Perbankan menyebutkan bahwa fungsi utama
2Gunarto Suhardi, 2003, Usaha Perbankan Dalam Perspektif Hukum, Kanisius, Yogjakarta, h. 26
Perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat yang bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Dalam menjalankan fungsinya tersebut, maka bank melakukan usaha menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Dalam hal ini bank juga menyalurkan dana yang berasal dari masyarakat dengan cara memberikan berbagai macam kredit.
Dalam dunia bisnis kata “kredit” berarti
“kesanggupan” dalam meminjam uang atau kesanggupan akan mengadakan transaksi dagang atau memperoleh penyerahan barang atau jasa dengan perjanjian akan membayarnya kelak.3 Pengertian kredit sendiri menurut Pasal 1 angka 11 UU Perbankan adalah “Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu dengan pemberian bunga.” Berdasarkan ketentuan tersebut dalam pembukaan kredit perbankan harus didasarkan pada persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam atau dengan istilah lain harus didahului dengan adanya perjanjian kredit.
Pelaksanaan pemberian kredit pada umumnya dilakukan dengan mengadakan suatu perjanjian. Perjanjian tersebut terdiri dari perjanjian pokok yaitu perjanjian utang-piutang dan diikuti dengan perjanjian tambahan berupa perjanjian pemberian jaminan oleh pihak debitur. Perjanjian kredit yang diberikan oleh bank kepada nasabah bukanlah tanpa resiko, karena suatu resiko bisa saja terjadi. Resiko yang umumnya terjadi adalah resiko kegagalan atau kemacetan dalam pelunasan. Keadaan tersebut sangatlah berpengaruh kepada kesehatan bank, karena uang yang dipinjamkan kepada debitur berasal atau bersumber dari masyarrakat yang disimpan pada bank itu sehingga resiko tersebut sangat berpengaruh atas kepercayaan masyarakat kepada bank yang sekaligus kepada keamanan dana masyarakat tersebut.
Likuiditas keuangan, solvabilitas, dan profitabilitas bank sangat dipengaruhi oleh keberhasilan mereka dalam mengelola kredit yang disalurkan. Kebanyakan bank yang bangkrut atau menghadapi kesulitan keuangan yang akut disebabkan terjerat kasus-kasus kredit macet dalam jumlah besar. Untuk mengurangi risiko tersebut jaminan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan
3Ibid, h. 30
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 191 yang telah diperjanjikan merupakan faktor
penting yang harus diperhatikan oleh bank.
Untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian terhadap calon debiturnya sebagai prinsip kehati-hatian yang dikenal dengan prinsip 5 C, yaitu :
1. Penilaian watak/ kepribadian (Character) 2. Penilaian Kemampuan (Capacity) 3. Penilaian terhadap modal (Capital) 4. Penilaian terhadap agunan (Collateral) 5. Penilaian terhadap aspek usaha (Condition
Of Economy) 4
Sebagaimana diketahui bahwa unsur esensial dari kredit bank adalah adanya kepercayaan dari bank sebagai kreditur terhadap peminjam sebagai debitur.
Kepercayaan tersebut timbul karena dipenuhi segala ketentuan dan persyaratan untuk memperoleh kredit dari bank (kreditur) oleh debitur, antara lain : jelasnya tujuan perntukan kredit, adanya benda jaminan atau agunan, dan lain-lain. Makna dari kepercayaan tersebut adalah adanya keyakinan dari bank sebagai kreditur bahwa kredit yang diberikan akan sungguh-sungguh diterima kembali dalam jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan.5 Dalam membangun suatu kepercayaan, antara pihak bank (kreditur dengan debitur), dibutuhkan berbagai informasi. Informasi- informasi yang dibutuhkan dari debitur akan diminta oleh pihak kreditur, yang dikenal dengan persyaratan-persyaratan kredit.
Sedangkan pihak debitur sendiri sepatutnya diminta berbagai informasi tentang fasilitas yang akan diberikan oleh kreditur. Informasi- informasi dari kedua belah pihak akan membentuk “kesepakatan” dan selanjutnya menimbulkan kepercayaan atau kredit.6
Dalam UU Perbankan, menyatakan bahwa bank dalam melaksanakan kegiatan usahanya yang berupa pemberian kredit antara lain : 1. Wajib memperhatikan asas-asas
perkreditan atau pembiayaan yang sehat, artinya mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad baik, kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai dengan yang diperjanjikan;
4Munir Fuady, 1996, Hukum Perkreditan Kontemporer, Citra Aditya Bakti, Bandung (selanjutnya ditulis Munir Fuady I), h. 23
5Hermansyah, 2008, Hukum Perbankan Nasinal Indonesia, Kencana, Jakartah. h. 58.
6Johanes Ibrahim, 2004, Cross Default &
Cross Collateral dalam Upaya Penyelesaian Kredit Bermasalah, Refika Aditama, Bandung, h. 2.
2. Memiliki, menerapkan pedoman dan pokok-pokok ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.7
Dari ketentuan diatas, dapat diketahui bahwa terdapat kekosongan norma karena dalam UU Perbankan tidak mengatur mengenai persyaratan penyerahan jaminan dalam pemberian kredit menjadi suatu keharusan.
Namun dalam pelaksanaannya bank dalam memberikan kredit tetap meminta agunan dari pemohon kredit. Selain itu dilakukan analisis yang mendalam terhadap penilaian watak, kemampuan, modal dan kondisi ekonomi.
Adapun beberapa fungsi pokok pemberian jaminan meliputi antara lain sebagai berikut : 1. Untuk menjaga harta bank dalam bentuk
kredit, karena dengan diserahkan jaminan kepada bank, maka bank berhak memperoleh pelunasan atas hasil penjualan barang jaminan apabila debitur cidera janji, 2. Menjamin agar pembiayaan usaha tersebut berjalan lancar dengan diserahkan harta pemilik (debitur) sebagai jaminan bank yang secara moril debitur akan bertanggungjawab terhadap proyek usahanya sendiri,
3. Mendorong debitur untuk membayar kembali utangnya agar tidak kehilangan harta yang telah dijaminkan tersebut.8
Dalam kegiatan pinjam meminjam uang yang terjadi di masyarakat, pada umunya sering dipersyaratkan adanya penyerahan jaminan utang oleh pihak debitur kepada pihak kreditur.
Jaminan utang berupa benda sehingga merupakan jaminan kebendaan dan atau berupa janji penanggungan utang sehingga merupakan jaminan perorangan.9 Kebendaan yang dijaminkan untuk pelunasan utang itupun tidak dibatasi macam maupun bentuknya, yang jelas kebendaan tersebut harus mempunyai nilai secara “ekonomis” serta memiliki sifat “mudah dialihkan” atau “mudah diperdagangkan”, sehingga kebendaan tersebut tidak akan menjadikan suatu “beban” bagi kreditur untuk menjual lelang ada waktunya, yaitu pada saat mana debitur secara jelas melalaikan kewajibannya, sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang berlaku dalam perjanjian pokok yang melahirkan utang-piutang tesebut.10
Adapun jaminan ini sangat penting kedudukannya dalam mengurangi resiko kerugian bagi pihak bank (kreditur). Adapun jaminan yang ideal dapat dilihat dari :
7M. Bahsan,2007, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 2.
8Rudy Tri Santoso, 1996, Kredit Usaha Perbankan, ANDI, Yogjakarta, h. 188.
9 M. Bahsan,opcit, h. 2.
10Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, 2003, Jaminan Fidusia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 4.
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 192 a) Dapat membantu memperoleh kredit bagi
pihak yang memerlukan;
b) Tidak melemahkan potensi (kekuatan) si penerima kredit untuk meneruskan usahanya;
c) Memberikan kepastian kepada kreditur dalam arti bahwa apabila perlu, maka diuangkan untuk melunasi utang si debitur.11
Fungsi dari pemberian jaminan adalah guna memberikan hak dan kekuasaan kepada bank untuk mendapatkan pelunasan dengan barang-barang jaminan tersebut, bila debitur bercidera janji tidak membayar kembali hutangnya pada waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian. Terhadap jaminan yang diserahkan oleh pihak debitur, pihak bank selaku kreditur mempunyai kewajiban untuk melindungi debiturnya, karena hal ini berkaitan dengan kepentingan bank juga selaku penerima jaminan. Dalam rangka pencapaian tujuan ekonomi, maka kredit harus diberikan dengan jaminan kepatian hukum bagi pihak-pihak yang berkepentingan, yang salah satunya adalah membuat perjanjian kredit yang berfungsi memberi batasan hak dan kewajiban bagi pihak- pihak tersebut. Dalam hukum jaminan dikenal dua jenis hak jaminan kredit dalam praktek di masyarakat, yaitu:
1. Hak-hak jaminan kredit perorangan (personal guarantee), yaitu jaminan seorang pihak ketiga yang bertindak untuk menjamin dipenuhinya kewajiban- kewajiban debitur. Termasuk dalam glongan ini antara lain “borg” yaitu pihak ketiga yang menjamin bahwa hutang orang lain paasti dibayar;
2. Hak-hak jaminan kredit kebendaan (persoonlijke en zakelijke zekerheid), yaitu jaminan yang dilakukan oleh kreditur dengan debiturnya, ataupun antara kreditur dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban debitur.
Termasuk dalam golongan ini apabila yang bersangkutan didahulukan terhadap kreditur-kreditur lainnya dalam hal pembagian penjualan hasil serta harta benda debitur, meliputi : privilege (hak istimewa), gadai dan hipotek.12
Dahulu sebelum berlakunya Undang- Undang Hak Tanggungan, praktek jaminan yang sering digunakan pada Perbankan Indonesia adalah jaminan kebendaan yang meliputi :
11R.Subekti, 1996, Jaminan-jaminan Untuk Pemberian Kredit (termasuk Hak Tanggungan) Menurut Hukum Indonesia, Alumni, Bandung, h.29.
12J. Satrio, Hukum Jaminan, 2000, Hak- Hak Jaminan Kebendaan, Citra Aditya Bakti, Bandung, (selanjutnya disebut J. Satrio I) h.
167.
1. Hipotek, yaitu suatu hak kebendaan atas benda-benda tidak bergerak, untuk mengambil penggantian dari padanya bagi pelunasan suatu perikatan (Pasal 1162 KUHPerdata);
2. Creditverband, yaitu suatu jaminan atas tanah berdasarkan Koninklijk Besluit tanggal 6 Juli 1908 No. 50 (Stb. 1980 No.
542);
3. Fidusia (Fiduciare eigendoms overdracht), yaitu pemindahan milik secara kepercayaan;13
Adapun yang merupakan ciri-ciri lembaga hak jaminan atas tanah menurut Undang- undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor
; 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor : 3632 (selanjutnya disebut UUHT) yaitu sebagai berikut :
a. Memberikan kedudukan mendahulukan (hak preferensi) kepada pemegangnya;
b. Selalu mengikuti obyek yang dijaminkan, ditangan siapapun obyek tersebut berada;
c. Memenuhi asas spesialitas dan publisitas, sehingga dapat mengikat pihak ketiga dan memberikan jaminan kepastian hukum kepada pihak-pihak yang berkepentingan;
d. Mudah dan pasti pelaksanaan eksekusinya.14
Lembaga jaminan Hak Tanggungan digunakan untuk mengikat objek jaminan utang yang berupa tanah atau benda-benda yang berkaitan dengan tanah yang bersangkutan.
Dengan berlakunya UUHT, maka hipotek yang diatur oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Creditverband yang sebelumnya digunakan untuk mengikat tanah sebagai jaminan hutang, untuk selanjutnya sudah tidak dapat digunakan oleh masyarakat untuk mengikat tanah. Pengikatan objek jaminan hutang berupa tanah sepenuhnya dilakukan melalui lembaga jaminan Hak Tanggungan.
Adanya aturan hukum mengenai pelaksanaan pembebanan Hak Tanggungan dalam suatu perjanjian kredit bertujuan untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi semua pihak dalam memanfaatkan tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah sebagai jaminan kredit. Apabila didalam hubungan perutangan, debitur tidak memenuhi prestasi secara sukarela, kreditur mempunyai hak untuk menuntut pemenuhan piutangnya bila hutang tersebut sudah dapat ditagih yaitu terhadap harta kekayaan debitur yang dipakai sebagai jaminan. Hak pemenuhan dari kreditur itu dilakukan dengan cara menjual benda-benda jaminan debitur, yang kemudian hasil dari
13Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, opcit, h. 91
14 Munir Fuady I, Opcit, h.66.
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 193 penjualan tersebut digunakan untuk memenuhi
hutang debitur.15
Untuk dapat melaksanakan pemenuhan haknya terhadap benda-benda tertentu dari debitur yang dijaminkan tersebut yaitu dengan cara melalui eksekusi benda jaminan maka kreditur harus mempunyai alas hak untuk melaksanakan eksekusi melalui penyitaan eksekutorial. Syarat adanya titel eksekutorial ini diadakan demi perlindungan bagi kreditur terhadap perbuatan yang melampaui batas dari debitur. Titel eksekutorial dapat timbul berdasarkan putusan hakim yang dibuat dalam bentuk eksekutorial yang memutuskan bahwa debitur harus membayar sejumlah pembayaran tertentu atau prestasi tertentu, atau dapat juga berdasarkan akta notaris yang sengaja dibuat dalam bentuk eksekutorial, dalam bentuk grosse akta. Menurut ketentuan Undang-Undang, Grosse Akta Notaris mempunyai kekuatan eksekutorial. Dimana didalam akta itu dimuat pernyataan pengakuan hutang sejumlah uang tertentu dari debitur kepada kreditur.
Bank dalam menjalankan kegiatannya apabila tidak dilaksanakan dengan sehat maka tidak jarang ada yang menjadi bank yang dikategorikan memjadi bank gagal sehingga bisa terancam untuk dilikuidasi. Salah satu faktor penting penyebab dari dilikuidasinya suatu bank adalah faktor kesehatan bank.
Kesehatan bank merupakan salah satu produk dari Bank Indonesia yang berkaitan dengan tugas pembinaan dan pengawasan. Selain berpegang pada prinsip kehati-hatian terdapat langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan bank antara lain yaitu dengan :
1 . Men ja g a C a p i t a l A d e q u ac y R at i o ( C AR) ;
2 . Mem p er h a ti k an Ba t a s Ma k si ma l Pem ber i a n Kr ed i t ( BMPK) ;
3 . Men ja g a Li k u i d i t a s;
4 . Pen g el ol a a n Lo a n t o De p o si t R a t i o ( LD R) ;
5 . Pen g el ol a a n N e t Op e n Po si t i o n ( NOP) ;
6 . Mem i n im a l k an N o n Pe rf o rmi n g Lo a n ( NPL s) .16
Terkait hal tersebut, Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran No. 26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993, yang mengatur tentang Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank.
Ketentuan ini merupakan penyempurnaan ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia dengan Surat Edaran No. 23/21/BPPP tanggal 23 Februari 1991. Metode atau cara penilaian
15Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, 1998, Hukum Jaminan di Indonesia, Pokok-Pokok Hukum Jaminan Dan Jaminan Perorangan, Liberty, Yogjakarta, h. 34.
16Lukman Dendawijaya, 2009, Manajemen Perbankan, Ghalia Indonesia, Bogor, h. 140
tingkat kesehatan bank tersebut di atas kemudian dikenal sebagai metode CAMEL.17
Proses likuidasi bank merupakan kewenangan dari Bank Indonesia yang pelaksanaan proses likuidasi dan pemberesan aset bank gagal tersebut oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Likuidasi bank itu bukan sekadar pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank, tetapi berkaitan dengan proses penyelesaian segala hak dan kewajiban dari suatu bank yang dicabut izin usahanya. Setelah suatu bank dicabut izin usahanya, dilanjutkan lagi dengan proses pembubaran badan hukum bank yang bersangkutan, dan seterusnya dilakukan proses pemberesan berupa penyelesaian seluruh hak dan kewajiban (piutang dan utang) bank sebagai akibat dari pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank. Jadi, secara sederhana likuidasi bank dapat diartikan sebagai kelanjutan dari tindakan pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank, yakni tindakan penyelesaian hak dan kewajiban bank sebagai akibat pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank, guna mengakhiri badan hukum dan menyelesaikan segala hak dan kewajiban bank. Proses likuidasi bank baru akan dilakukan apabila suatu bank telah dicabut izin usahanya dan dibubarkan badan hukumnya.18
Kewenangan mencabut izin usaha suatu bank merupakan kewenangan yang didistribusikan kepada Bank Indonesia sebagai kewenangan diskresioner, karena suatu bank telah gagal memenuhi prudential standards yang ditetapkan, sementara likuidasi bank adalah cara atau proses untuk menyelesaiakan hak dan kewajiban bank. Adapun likuidasi dipilih sebagai proses keperdataan untuk mengakhiri (membubarkan) badan hukum bank dan menyelesaikan hak dan kewajiban bank, termasuk menjual asset, menagih piutang dan membayar utang, dengan tujuan agar nasabah penyimpan dana pada bank terlindungi haknya.19
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Perbankan dan Undang-Undang Bank Indonesia, agar sistem perbankan dapat berperan secara maksimal dalam perekonomian nasional, maka arah kebijakan di sektor perbankan bertujuan agar hanya bank yang sehat saja dapat terus eksis berusaha dalam sektor perbankan nasional, sedangkan bank yang mengalami “kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya” dan
17Ibid, h. 141
18Gazali, Djoni S., dan Rachmadi Usman, 2010, Hukum Perbankan, Sinar Grafika, Jakarta, h. 532
19Andrian Sutedi, 2008, Hukum Perbankan: Suatu Tinjauan Pencucian Uang, Merger, Likuidasi, dan Kepailitan, Sinar Grafika, Jakarta, h. 139
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 194 tidak dapat diselamatkan lagi, dan/atau
“keadaan suatu bank yang membahayakan sistem perbankan”, maka bank tersebut harus keluar dari sektor perbankan (exit policy).20
Pencabutan izin usaha suatu bank dilakukan oleh Pimpinan BI dikarenakan bank tersebut tidak dapat mengatasi kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya apabila berdasarkan penilaian BI, kondisi usaha bank semakin memburuk, antara lain ditandai dengan menurunnya permodalan, kualitas aset, likuiditas dan rentabilitas, serta pengelolaan bank yang dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian dan asas perbankan yang sehat.21
Ketentuan dalam Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang No. 10 Tahun 1998 menetapkan dua alasan hukum yang memungkinkan suatu bank dicabut izin usahanya oleh Bank Indonesia, yaitu:
1. Apabila menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu bank membahayakan sistem perbankan; atau
2. Apabila menurut penilaian Bank Indonesia suatu bank yang mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya dan tindakan untuk mengatasinya belum cukup untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi bank.22
Berdasarkan salah satu alasan hukum tersebut, Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha suatu bank dan kemudian memerintahkan direksi bank yang dicabut izin usahanya tersebut untuk segera membubarkan badan hukum dan melikuidasi bank yang bersangkutan. Hal yang menarik untuk dibahas yaitu mengenai keberadaan dari APHT pada bank yang mengalami proses likuidasi tersebut, keberadaan mengenai APHT saat terjadi likuidasi belum diatur baik dalam UU Perbankan maupun dalam UUHT, sehingga mengakibatkan terjadi kekosongan norma.
Akibat terjadinya kekosongan norma hukum dalam pengaturan mengenai keberadaan APHT apabila kemudian bank mengalami likuidasi ini akan menimbulkan ketidakpastian hukum atau ketidakpastian perundang-undangan di masyarakat yang dapat mengakibatkan kekacauan hukum. Permasalahan yang terjadi perlunya kepastian hukum baik bagi nasabah maupun pihak bank sendiri, nasabah sebagai debitur apabila belum dapat melunasi utang- utangnya pada saat bank mengalami likuidasi tentunya perlu mendapat pengaturan yang jelas karena terkait dengan jaminan yang
20Andrian Sutedi I, Opcit, h. 137
21Muhammad Djumhana, 2008, Asas-Asas Hukum Perbankan Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung (selanjutnya disebut Djumhana I), h. 208-209
22Gazali, Djoni S., dan Rachmadi Usman, opcit, h. 535
diagunkannya pada bank tersebut. Hal inilah yang menarik untuk dibahas karena berkaitan juga dengan kepastian hukum bagi pihak bank dan nasabah pemilik jaminan yang diikat dengan APHT tersebut. Atas dasar latar belakang diatas maka penelitian mengenai Akibat Hukum Likuidasi Bank Terhadap Keberadaan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) sangat menarik untuk dilakukan.
Dari penelusuran kepustakaan yang dilakukan, ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan likuidasi bank dan keberadaan akta pemberian hak tanggungan (APHT), yaitu : a . T esi s d a r i Fa t im a Syu r a i n i Dewi , NI M B4 B 0 0 7 0 7 7 , a l u mn i Pr og r a m St u d i Ma gi st er Ken ot a r i at an Pr og r a m Pa sca sa r jan a Un i v er si t a s Di p on eg or o, Sem a r an g, T ah un 2 0 0 9 d en g an ju d u l t e si s a d a l a h Ro ya Ha k T an g g un g an Da l am Ha l Ba n k Di l i k u i d a si Di Kan t or Per t an ah an Ja k a r t a T im ur . Ad a p un ya n g m en ja d i p ok ok p er m a sa lah an d a l a m p en u l i san t esi s i n i ya i t u ya n g p er t a ma m en g en a i ba g a i m an a k ah p el a k san aan r o ya h a k t an g g un gan d al a m h a l ba n k d i l i k u i d a si di k an t or Per t an ah an Ja k a r t a T im ur d an ya n g k ed u a m en g en ai h am ba t an a ta u k en d al a a p a ya n g d i h a d a p i da l am p er m oh on an r o ya a p a bi l a ba n k sel a k u k r ed i t ur t el a h d i li k u i d a si d i k a n t or p er t an ah an Ja k ar t a T im ur d a n ba g a i m an a p en yel e sa i a n n ya . b. T esi s d a r i Nor l i ta Am in i e, NI M
1 8 8 7 7 / PS/ MK/ 0 6 , a l u mn i Pr og r am St u d i Ma g i st er Ken ot ar i at an Pr og r a m Pa sca sar ja n a Un i ver si t a s Ga d ja h Ma d a , Yog ja k a r t a, T ah un 2 0 0 8 d en g an ju d u l t esi s a d al ah Ak i ba t Hu k u m T er h a d a p Ket er l a m ba t an Pen d a ft ar an Ak t a Pem ber i a n Ha k T an g g un g an Ol eh Pe ja ba t P em bu a t Ak t a T an ah Ke Ka n t or Per t an ah an . Ad a p un ya n g m en ja d i p ok ok p er m a sa lah an d a l a m p en ul i san t esi s i n i ya i t u ya n g p er t a ma m en g en a i ba g a i m an a k ah pr a k t ek p em bu a t a n Ak t a Pem b er i an Ha k T an g g un g an ( AP HT ) ol eh Not a r i s a ta u Peja ba t Pem bu a t Ak t a Tan ah ( PPAT ) set el a h b er l a k un ya UU N o. 4 T ah un 1 9 9 6 d a n ya n g k ed u a m en g en ai a pa k ah ya n g m en ye ba bk a n k et er l am ba t an p en d a ft a r an APHT a p a k a h pr a kt ek p em bu a t a n APHT su d a h d a p a t m em ber k a n k ep a st i an h u k um k ep a d a p i h a k Pem ber i Ha k
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 195 T an g g un g an dan p ih a k Pen er im a
Ha k T a n g g un gan .
Berdasarkan penelusuran dari tesis dengan judul dan pokok permasalahan seperti yang dijelaskan di atas, menunjukkan bahwa penelitian dengan judul Akibat Hukum Likuidasi Bank Terhadap Keberadaan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) belum ada yang membahasnya, sehingga tesis ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah orisinalitas atau keasliannya.
2. TINJAUAN UMUM TENTANG BANK,
LIKUIDASI DAN HAK
TANGGUNGAN 1 . 1 B ANK
1 . 1 . 1 Pe ng e r t i a n da n Da sa r H uk um B a nk
Bank adalah bagian dari sistem keuangan dan sistem pembayaran suatu negara, bahkan pada era globalisasi sekarang ini, bank juga telah menjadi bagian dari sistem keuangan dan sistem pembayaran dunia.23 Industri perbankan merupakan salah satu komponen sangat penting dalam perekonomian nasional demi menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.24
1 . 1 . 2 J e ni s Usa ha Da n F u ng si B a nk Baik Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat dapat melakukan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah. Adapun bank konvensional yakni bank yang dalam operasionalnya menggunakan prinsip-prinsip konvensional yang menggunakan dua metode, yakni :
1 . Men et a p k a n bu n g a seba g a i h ar g a, ba i k u n t u k pr od u k si m p an an sep er t i t a bu n gan , g ir o, d ep o si t o b er ja n g k a, m a u p un pr od u k p i n ja man ( kr ed i t ) ya n g d i ber i k an b er d a sar k an t in g ka t bu n g a t er t en t u.
2 . Un t u k ja sa - ja sa ba n k l a in n ya , p i h a k ba n k m en g g un a k an a t a u m en er a p kan ber ba g a i bi a ya d a l a m n om in a l a t a u pr osen t a se t er t en t u . Si st em p en et a p an bi a ya i n i d i se bu t f e e b a se d.25
1 . 1 . 3 K e wa j i ba n B a nk
Kewajiban bank juga tercantum dalam ketentuan Pasal 37 B UU Perbankan yang menyatakan bahwa :
1 . Set i a p ba n k wa ji b m en ja m i n dan a m a s ya r a k at ya n g d i si m p an pa d a ba n k ya n g ber sa n g k u t an .
23Andrian Sutedi, Op.cit, h. 1
24Zulkarnain Sitompul, 2002, Perlindungan Dana Nasabah Bank : Suatu Gagasan Tentang Pendirian LPS di Indonesia, FHUI, Jakarta, h. 2
25Martono, 2002, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Ekonosia, Yogjakarta, h. 30
2 . Un t u k m en ja m in si m pan an m a s ya r a k at p a d a ba n k seba g a i m an a d i m a k su d d al a m a ya t ( 1 ) d i ben t u k Lem ba g a Pen ja m in Si m pan an . 3 . Lem ba g a Pen ja m i n Si m pan an
se ba g a i m an a d im a k su d d a la m a ya t ( 2 ) ber b en t u k ba d a n h u k um I n d on esi a .
4 . Ket en t u a n m en g en a i p en ja min an d a n a m a sya r a k a t d an Lem ba g a Pen ja m i n Si m pan an , d i a t ur l ebi h l an ju t d en g a n Per at ur an Pem er i n tah .
1 . 1 . 4 Pe ni l a i a n K e se ha t a n B a nk Kesehatan suatu bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku.
1 . 2 L IK UIDAS I
1 . 2 . 1 Pe ng e r t i a n da n Da sa r H uk um L i k ui da si
Likuidasi bank dalam perspektif Undang- Undang No. 7 Tahun 1992 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, dimulai dari pencabutan izin usaha bank oleh Bank Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan pembubaran badan hukum dari bank yang dillikuidasi tadi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan terakhir dilakukan penyelesaian terhadap seluruh hak dan kewajiban yang ditimbulkan oleh bank yang dilikuidasi.26
1 . 2 . 2 Al a sa n H uk um L i k ui da si B a nk Alasan likuidasi (pembubaran) yang terdapat diatas sangatlah erat kaitannya dengan kepentingan umum. Likuidasi dalam hal ini merupakan sanksi administratif/publik terhadap bank, sebagai akibat pelanggaran yang dilakukan oleh perseroan terhadap Undang- Undang Perbankan (Pasal 29 s/d Pasal 36) yang berkaitan dengan kepentingan umum.
Berdasarkan salah satu alasan hukum tersebut, Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha suatu bank dan kemudian memerintahkan direksi bank yang dicabut izin usahanya tersebut untuk segera membubarkan badan hukum dan melikuidasi bank yang bersangkutan.
1 . 2 . 3 M ek a ni sme Pe l a k sa na a n L i k ui da si B a nk
Likuidasi yang terjadi pada suatu bank tidak sama halnya dengan likuidasi perusahaan, dalam likuidasi perusahaan biasanya yang
26Rachmadi Usman, 2001, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, Gamedia Pustaka Utama, Jakarta, h. 167
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 196 melakukan likuidasi didasarkan pada usul
kreditur yang menyatakan perusahaan itu pailit maupun oleh kehendak para pemegang saham.
Sedangkan dalam likuidasi bank lebih bersifat dipaksakan. Bank Indonesia yang menilai ketidakmampuan bank berhak untuk menjaga keselamatan usaha perbankan nasioanl dengan jalan melikuidasi bank-bank yang tidak dapat disehatkan lagi. Tindakan pencabutan izin usaha bank merupakan suatu langkah akhir dari usaha untuk menyehatkan bank yang terkena kesulitan tersebut. Sebelum dilakukan tindakan pencabutan izin usaha bank, Bank Indonesia telah menempuh tindakan-tindakan atau langkah-langkah permulaan.
1 . 3 H AK T ANG G UNG AN
1 . 3 . 1 Pe ng e r t i a n da n Da sa r H uk um H a k T a ng g ung a n
Secara yuridis dasar hukum berlakunya hak tanggungan di Indonesia yaitu dengan ditetapkanna Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Menurut ketentuan yang tercantum dalam Pasal 1 angka 1 UUHT memberikan pengertian mengenai hak tanggungan yaitu:
Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk pelunasan hutang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain.
1 . 3 . 2 U n s u r - U n s u r Y a n g T e r ka n d u n g D a l a m H a k T a n g g u n g a n
Berdasarkan uraian mengenai definisi hak tanggungan sebagaimana telah diuraikan diatas maka dapat diketahui terdapat beberapa unsur- unsur yang terkandung dalam hak tanggugan yaitu sebagai berikut :
a . Ha k T a n g g un g an a d a lah h a k ja m i n an un t u k p el u n a san h u tan g . b. Ob j ek Ha k T a n g g un g an a d al ah h a k
a t a s tan ah sesu a i UUPA.
c. Ha k T a n g g un g an d a p at d i be ba n k an a t a s t an ah n ya ( h a k a ta s t an ah ) sa ja , t et a p i d a p a t p u la d i be ba n k an b er i k u t ben d a - ben d a la in ya n g m er u p a k an sa t u k esa t u an d en g an t an ah i t u .
d . Hu t a n g ya n g d i ja m i n h ar u s su a t u h u tan g t er t en t u.
e. Mem b er i k a n k ed u d u k an ya n g d i u t a ma k an k ep a d a k r ed i t ur t er t en t u t er h a d a p kr ed i t ur - kr ed i t ur l a in .
1 . 3 . 3 Ci r i - Ci r i da n Si f a t H a k T a ng g ung a n
a . C i r i - ci r i Ha k T an g g un g an
Sel a i n u n sur - un sur ya n g t er k an d un g d al a m h a k t an g g un gan , m el a l u i ber ba g a i d e fi n i si d i a t a s d a p a t ju g a d i k et a h u i m en g en ai ci r i - ci r i d ar i h a k t an g g un g an ya i t u se ba g a i ber i k u t :
1 ) Mem b er i k a n k ed u d u k an ya n g d i u t a ma k an a ta u m en dah u l u k ep a d a p em eg a n g n ya a t a u ya n g d i k en a l d en g an d ro i t d e p re f e re n c e ;
2 ) Sel a l u m en g i k ut i obj ek ya n g d i ja m in d a la m tan g an sia p a p un b en d a it u ber a d a at a u di sebu t d en g an d ro i t d o su i t. Kei st i m e wa a n in i d i t eg a sk an da l am Pa sa l 7 Un d a n g - Un dan g Nom or 4 T ah un 1 9 9 6 . Wa l a u p un ob j ek Ha k T an g g un g an su d ah d i p in dah k an k ep a d a p i h a k l ain , kr ed i t ur p em eg a n g Ha k T a n g g un gan t et a p m a sih ber h a k un t u k m en ju a ln ya m el a l u i p el el an g an u m um ji k a d e bi t u r ced er a jan ji ;
3 ) Mem en u h i a sa s sp esi a l i t a s d an p u bl i si t a s s eh in g g a d a p at m en g i ka t p i h a k k et i g a d an m em ber i k an k ep a st i a n h u k um ba g i p i h a k ya n g b er k ep en t in g an ;
4 ) Mu d a h d an pa st i d a l am p el a k sa n aan ek sek u si n ya d a l a m Un d a n g - Un d an g Nom or 4 T ah un 1 9 9 6 m em b er i k an k em u d ah an d an k ep a st i a n k ep a d a kr ed i t ur d a l am p el a k sa n aan ek sek u si .
1 . 3 . 4 S ubj e k da n O bj e k H a k T a ng g ung a n
Men g en a i su bjek Ha k T an g g un g an in i d i a t ur d a la m Pa sa l 8 d an Pa sa l 9 UUHT , d a r i k et en t uan d u a p a sa l t er sebu t d a p a t d i si m p u l k an ba h wa ya n g m en ja d i su bj ek h u k u m d a l a m h a k tan g g un g an a d a lah su b j ek h u k u m ya n g t er k a it d en gan p er ja n ji an p em ber i h a k tan g g un g an . Di d a l am su a t u p er jan ji an h ak t an g g un g an a d a d ua p ih a k ya n g m en g i k at k an d ir i, ya i t u se ba g a i b er i k u t :
a . Pem ber i Ha k T a n g g un gan , ya i t u or a n g a t a u p ih a k ya n g m en ja m in k an ob jek h a k t an g g un g an ( d ebi t or ) ;
b. Pem eg a n g Ha k T an g g un g an , ya i t u or a n g a ta u p ih a k ya n g m en er im a Ha k
T an g g un g an seba g a i ja m i n an d a r i p ih ut an g ya n g d i ber i k an n ya .27
27Andrian Sutedi, 2010, Hukum Hak
Tanggungan, Sinar Grafika, Jakarta, h. 54
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 197 1 . 3 . 5 Pr o se s Pe mbe ba na n H a k
T a ng g ung a n De ng a n Ak t a Pe mbe ba na n H a k T a ng g ung a n a ) Pe mb ua t a n Ak t a Pe mbe r i a n H a k
T a ng g ung a n ( A PH T )
Pem ber i a n Ha k T an g g un g an ya n g d i tan d a i d en g an p em bu a t an Ak t a Pem b er i an Ha k T an g g un gan ( AP HT ) ya n g d i bu a t ol eh Peja ba t Pem bu a t Ak t a Tan ah ( PPAT ) ya n g d i t an d a tan g an i Kr ed i t ur seba g a i p er er i ma Ha k T an g g un gan dan p em i l ih h a k a t a s t an ah ya n g d i ja m in k an ( d ebi t u r a t a u p em i i l ik ja m i n an t et a p i bu k a n d ebi t u r ) . Ak ta Pem ber i a n Ha k T an g g un g an a d a lah a k t a ot en ti k ya n g d i bu a t ol eh dan d i h a d a p an PPAT . Ak ta PPAT m er u p a k an ben t u k st an d ar ya n g d i t er bi t k an ol eh Ba d a n Per tan ah an Na si on a l ( BPN) ya n g d i p er g u n a kan ol eh PPAT . Pa sa l 1 0 a ya t ( 2 ) Un d a n g - un d an g Ha k T an g g un gan m en eg a sk a n Pem be ba n an Ha k T an g g un g an di l a k u kan d en gan p em bu a t a n Ak t a Pem b er i an Ha k T an g g un g an ol eh PPAT s esu a i d en g an p er a t ur an p er un d an g - u n d an gan ya n g ber l a k u .28
a ) Pe nda f t a r a n Ak t a Pe mbe r i a n H a k T a ng g ung a n ( APH T ) pa da K a nt or Pe r t a na ha n
Men u r u t k et en t u an ya n g t er ca n t u m d al am Pa sa l 1 3 a ya t ( 1 ) UUHT m en ya t a k a n ba h wa :
“pem beban an h ak tan ggun gan waji b d i d a ft a r k an p a da Kan t or Per tan ah an.” Kemudian dalam k et en t u an Pa sa l 1 3 a ya t ( 2 ) d a n a ya t ( 3 ) UUHT d i j el a sk a n ba g a im an a ca r an ya p en d a ft a r an Ha k T an g g un g an i t u d il a k u k an . T a ta ca r a p el a k sa n aan n ya a d a l a h seba g a i b er i k u t :
1 ) Set el a h p en an d a tan g a n an APHT ya n g d i bu a t ol eh PPAT d i l a k u k an ol eh p a r a pih a k , PPAT m en g ir im k an APHT ya n g b er sa n g k ut an d an wa r k ah l a in ya n g d i p er l u k an ol eh Kan t or Per t an ah an . Pen g i r im an t er se bu t wa ji b d i l a k u k an ol eh PPAT ya n g b er sa n g k ut an sel a m ba t l am ba t n ya 7 ( t u ju h ) h ar i k er ja set el a h p en an d a tan g an an APHT i t u ;
2 ) Pen d a ft a r an Ha k T an g g un g an d i l a k u k an ol eh k an t or p er t an ah an d en g an m em bu a t k a n bu k u t an ah Ha k T a n g g un g an d an m en ca t atn ya d a l a m bu k u t an ah h a k at a s tan ah
28Sutarno, 2003, Aspek-Aspek Hukum
Perkreditan Pada Bank, Alfabeta, Bandung, h. 168
ya n g m en ja d i ob jek Ha k T an g g un g an ser t a m en ya l i n ca t at an t er sebu t p a d a ser t i p i k a t h a k a t a s t an ah ya n g ber sa n g k ut an .
3 ) T an g g a l bu k u t an ah Ha k
T an g g un g an a d al ah t an g ga l h ar i k et u ju h set el a h p en er i m aan seca r a l en g k a p sur at - su r at ya n g d i p er l u k an ba g i p en d a ft a r an n ya d a n ji k a h ar i k et u ju h i t u ja t u h p a d a h ar i li bu r , bu k u t a n ah ya n g b er sa n g k ut an d i ber i t an g g a l h ar i k er ja b er i k u tn ya .
3 . A K IB A T H U K U M L IK U I D A S I B A N K T E R H A D A P A K T A P E MB E R I A N H A K T A N G G U N G A N D A L A M H A L S U A T U B A N K D I L IK U I D A S I
1.1. Kekuatan Hukum Akta Pemberian Hak Tanggungan Yang Dibuat Oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah
Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan mengenai hak atas tanah yang sudah terdaftar wajib diikuti dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan selambat- lambatnya 1 (satu) bulan sesudah diberikan, sedangkan bagi tanah yang belum terdaftar wajib diikuti dengan pembuatanAkta Pemberian Hak Tanggungan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sesudah diberikan. Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan yang tidak diikuti dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan dalam waktu 1 (satu) bulan atau 3 (tiga) bulan bagi tanah yang belum terdaftar sesudah diberikan atau waktu yang ditentukan dalam hal Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan diberikan untuk menjamin kredit tertentu yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku dinyatakan batal demi hukum, hal ini sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 15 UUHT.
Pemberian hak tanggungan wajib didaftarkan pada Kantor Pertanahan. Selambat- lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah Akta Pemberian Hak Tanggungan ditandatangani, maka PPAT wajib mengirimkan Akta Pemberian Hak Tanggungan dan warkah lain yang diperlukan kepada Kantor Pertanahan.
Apabila Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) lalai dalam menjalankan tugas dan kewajibannya maka dapat dikenai sanksi administratif berupa pemberian teguran, pemberhentian sementara atau pemberhentian tetap (pasal 23 UUHT).
1.2. Akibat Hukum Terhadap Akta Pemberian Hak Tanggungan Dalam Hal Suatu Bank Dilikuidasi
Ketentuan hukum tentang likuidasi terhadap bank di Indonesia dilakukan dengan dalam tatanan sistem tertentu, sehingga pelaksanaan likuidasi tersebut dapat dilakukan secara efisien dan efektif serta dilakukan dalam waktu singkat dan kepercayaan masyarakat
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 198 terhadap bank, akibat adanya likuidasi
memberikan akibat negatif khususnya terhadap tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank, dan juga nasabah penabung dan deposan dari bank yang dilikuidasi.
Khusus mengenai kreditor bank yang telah dilikuidasi, dalam pelaksanaan pencoretan Hak Tanggungan (Roya) yang berhak mengeluarkan Surat Roya adalah tergantung dari kondisi bank yang dilikuidasi. Artinya apabila aset bank yang dilikuidasi (termasuk piutang) telah ditangani oleh PT. Perusahaan Pengelola Aset (PT. PPA) yang didirikan berdasarkan PP No. 10 Tahun 2004 untuk jangka waktu 5 (lima) tahun, maka yang berhak mengeluarkan Surat Roya adalah PT. PPA (dahulu BPPN) selaku pemegang atau pengelola aset. Selanjutnya apabila aset bank yang dilikuidasi (termasuk piutang) telah diambil alih oleh bank lain, maka yang berhak mengeluarkan Surat Roya adalah bank yang bersangkutan (yang mengambil alih).
4. PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMILIK BARANG JAMINAN DENGAN AKTA PEMBERIAN HAK TANGGUNGAN PADA BANK LIKUIDASI
4.1 Eksistensi dan Perlindungan Hukum Terhadap Sertipikat Hak Tanggungan Pada Bank Yang Dilikuidasi
Untuk menghindari kemungkinan bank sulit melaksanakan eksekusi atau menjual tanah jaminan hak tanggungan tersebut dikemudian hari terdapat beberapa langkah awal yang harus di lakukan oleh petugas bank yakni dengan meneliti keakuratan data atas tanah yang dijadikan obyek hak tanggungan tersebut dengan memperhatikan beberapa aspek yuridis yaitu:
a . Seg i k ep em i l i k an t an ah .
b. Seg i k ea bsa h an ser ti p i k a t t an ah . c. Pem er i k sa a n l ok a si t an ah .
4.2 Dasar Hukum Pelaksanaan Eksekusi Terhadap Akta Pemberian Hak Tanggungan
Dasar hukum pelaksanaan eksekusi Hak Tanggungan diatur dalam ketentuan Pasal 20 UUHT. Berdasarkan ketentuan pasal ini dapat diketahui bahwa:
1 . Ap a bi l a De bi t or ci d er a ja n ji , ma k a b er d a sar k an :
a . Ha k p em eg a n g Ha k T an g g un g an p er t am a un t u k m en ju a l ob ye k Ha k T an g g un g an seba g a i m an a d i m a k su d d al a m Pa sa l 6 .
b. T i t el E k sek u t or i a l ya n g t er d a p at d a l am ser t i p i k at h a k t an g g un g an seba g a i m an a t er m a k su d d a l am Pa sa l 1 4 a ya t ( 2 ) .
Obyek hak Tanggungan dijual melalui pelelangan umum menurut tata cara yang
ditentukan dalam perundang-undangan untuk pelunasan piutang pemegang Hak Tanggungan dengan hak mendahulu dari kreditur-krediturnya.
2 . At a s k es ep a k a t a n p em ber i d an p em eg a n g Ha k T a n g g un g an , p en ju a l an ob ye k Ha k T a n g g un g an d a p a t d i la k san a k an d i ba wa h tan g an ji k a d en g an d em i ki an i t u a k an d i p er ol eh h ar g a t er t in g g i ya n g m en g un t un g k an sem u a p ih a k .
5 . PE NUT UP 5 . 1 Si mp ul a n
Berdasarkan pembahasan mengenai pemasalahan dalam penelitian ini yang telah diuraikan diatas , maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1 . Ba h wa a k i ba t h u k u m l i k ui d a si ba n k t er h a d a p Ak t a Pem ber i a n Ha k T an g g un g an da l am h a l ba n k m en g a la m i l i k u i da si a da l ah a p a bi l a ba r an g ja m in an su d ah d i i ka t d en g an Ak ta Pem ber i a n Ha k T an g g un g an dan d i d a ft ar k an pa d a Ka n t or Per tan ah an set em p a t ma k a a k an m en da p a t kan ser t i fi k a t h a k t an g g un g an d an n an tin ya ya n g a k an d i ja d i k an da sar un t u k m el a k u k an r o ya t er h a d a p h a k t an g g un g an dan k ed u d u k an l ebi h t er ja m in , n am un a p a bi l a ba n k d i l i k u i d a si m a k a d ebi t u r d i ber i k an k es em p a t an un t u k m el un a si si sa d a r i k er ed i t n ya a t a u ba r an g ja m i n an t er sbu t m a su k se ba g a i a sset ba n k d i k el ol a ol eh T i m Li k u i d a si a t a u p un Per u sah a an Pen g el ol a As et a t a u d ia m bi l al ih ol eh ba n k l a in (t a k e o v e r) d a n p a d a a kh ir n ya a k a n di k el u ar k an r o ya a p a bi l a k r ed i t t er se bu t t el a h l u n a s.
2 . Ba h wa b er bi ca r a m en g en ai p er l in d un g an h u k u m ba g i n a sa ba h , p a d a d a sar n ya t i d a k h an ya ba g i n a sa bah p en yi m p a n d an a a ta u n a sa bah kr ed i t ur t et a p i ju g a n a sa bah p en er i m a kr ed i t a ta u n a sa bah d ebi t u r ser ta p en g g un a ja sa p er ba n k an l a in n ya . Men u r ut T eor i Per l i n d un gan Hu k u m se ba g a i m an a d i k em u ka k an ol eh Ph i l i p u s M. Ha d j on d i m an a d ia m em ba g i p er l i n d un gan h u k um m en ja d i 2 ( d ua ) ya i t u p er l in d un gan h u k u m ya n g pr ev en t i f d i m an a d a l a m h a l in i p em er in tah su d ah m em bu a t a t u r an m en g en ai p er l in d un g an t er h a d a p n a sa ba h dan ja sa p er ba n k an p a d a um u mn ya a g a r n an t in ya p em er i n tah ber h a t i h a ti d i d a l am m en g am bi l k ep u t u sa n
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 199 d a l a m h a l su a t u ban k m en g al a mi
l i k u i d a si a ta u d i se bu t ba n k g a g a l, d a n p er l in d un g an h u k u m ya n g r ep r esi f d i m an a da l am h al in i d e bi t u r d i ber i k an p i l ih an d a l am p en yel esa i a n un t u k kr ed i tn ya a p a k ah di a lih k an k ep a d a ba n k l ain a t a u d i ek sek u si seh i n g g a d a p at d i l el a n g ba i k l el an g u m u m a ta u l el a n g d i ba wa h t an gan
5 . 2 Sa r a n
1 . Ba g i m a s ya r a k a t ya n g a kan m em i n ja m kr ed i t p a da ban k a gar u n t u k l ebi h ber h at i h a t i dan
m eg et a h u i d en g an ba i k r i wa ya t d a r i ba n k p en er im a kr ed i t a gar n an t in ya t i d a k m en g a la m i m a sa lah a t a u m er u g i k an k i ta seba g a i n a sa bah ba i k k r ed i t or ma u p un d e bi t or .
2 . Ba g i p em bu a t u n d an g - un d an g a gar d a p a t m el ih a t ba h wa m a sih t er d a p at cel a h a t a u m a sal ah da l am p er l in d un g an h u k um d i da l am p r oses l i k u i d a si ba n k a g ar n an t in ya d a p a t m en ca p ai t u ju an h u k u m i t u sen d ir i ya i t u m em ber i k a n k ep a st i an , p er l in d un g an d an k eman fa a t an .
6. REFERENSI B u ku – B u ku
A. L o ve t t Wi l l i a m, 1 9 9 7, B a n ki n g a nd Fi n a n c i al In s t it u ti o n s L a w, We s t P u b li s h i n g C o. , U S A
Ad i n u gr oh o R . T j i p t o, 2 0 0 0 , Per b a n k a n d a n M a s a l ah P er m o d a l a n D a n a Po t en s i a l , P r a dn ya P a r a mi t a, J a k a rt a
Al i , A. H a s ymi , 1 9 8 9, D a s a r - D a s a r O p er a s i B a nk (T er j em a h a n A m er i c a n I n s t i t ut e O f B a n k i n g), B i na Ak s a r a , J a ka r ta
An s h or i , Ab d u l G ofu r , 2 0 0 9 , L em b a g a K en o t a r i a t a n I n d o n es i a, U II P r e s s , Y ogj a k a r t a
A mi r u d d i n d a n H . Z a in a l As i k i n , 2 0 04, Pen g a n t a r M et o d e Pen el i t i a n H u k u m , P T . R a j a G r a fi n d o P e r s a d a , J a ka r ta
As i k i n , Z a i n a l, 1 9 9 5 , Po k o k - Po k o k H u k u m P er b a n k a n d i I n d o n es i a ,R aj a G r a fi n d o P e r s a d a , J a k a r ta
B a h s a n , M. , 2 00 7 , H u k u m J a m i n a n d a n J a mi n a n K r ed i t P er b a n k a n I n d o n es i a , P T . R a j a G r a fi n d o P e r s a d a , J a ka r ta
B a mb a n g S u n g g on o, 1 9 9 7 , M et o d o l o gi Pen el i t i a n H u k u m, P T . R aj a G r a fi n d o P e r s a d a, J a k a r ta
B u d i a r d j o, M ir i a m, 1 9 7 7, D a s ar - D a s a r Il m u Po l i ti k , G r a me d i a , J a k ar t a
B u r h a n As h s h ofa , 2 0 0 1 , M et o d e P en el i t i a n H u k u m, Ce t . III, R i n e k a C i p t a, Ja k a rt a .
D j u mh a n a , M u h a mma d , 2 0 0 2, H u k u m Per b a n k a n d i In d o n es i a , C it r a Ad i t ya B a k t i , B a n d un g F a j a r M u kt i , d a n Y u li a nt o A ch ma d , 2 0 1 0 , D u a li s m e P en el i t i a n H u k u m N o r m a ti f & E m p i r is ,
Pu s t a k a Pel a ja r, Y o gj a k a r t a
F u a d y, M u n ir , 1 9 9 6, H u k u m Per k r ed i t a n K o n t em p o r er, C it r a Ad i t ya B a k t i , B a n d u n g _ _ _ _ _ _ _ 2 0 0 9 , T eo r i N eg a r a H u k u m M o d er n (R ec h t s ta a t) , R e fi k a Ad i t a ma, B a n d u n g G a za l i , D j on i S. , d a n R a ch ma d i U s ma n , 2 0 1 0 , H u k u m Per b a n k a n, S i n a r G r a fi k a, Ja k a rt a H a d j on , P h i l i p u s M . , 1 9 8 7 , Per l i n d u n g a n H u k u m B a g i R a k y a t I n d o n es i a, B i na Il mu ,
S u r a b a ya
H a r t on o, C . F . G . S u n a r ya t i , 1 9 9 1, Po l i t i k H uk u m M en u ju S a t u S i t em H u k u m N a s i o n a l, Al u mn i , B a n d u n g
H a r u n , B a d ri ya h , 2 0 1 0 , Pen y el es a i a n S en g k et a K r ed i t B er m a s a l a h ,Y ogj a k a r t a , P us t a k a Y u s t i si a
H e r ma n s ya h , 2 0 0 8 , H u k u m Per b a n k a n N a s i on a l I n d on es i a , K e n ca n a , J a k ar t a
Ib r a h i m J oh a n e s , 2 0 0 4 , C r o s s D ef a u l t & C r o s s C o l l at er a l d a l a m U p a y a P en y el es a i a n K r ed i t B er m a s a l a h , R e fi k a Ad i t a ma , B a n du n g
J ok o S u b a g yo , P , 1 9 9 9 , M et o d e P en el i t i a n D a l a m T e o r i d a n Pr a k t ek, C e t . III, R i n e k a C i p t a , J a k a r ta
K a s mi r , 2 0 0 3 , D a s a r - D a s a r Per b a n k a n, R aj a Gr a fi n do P e r s a d a , J a k ar t a.
M a r zu k i , P e te r M a h mu d , 2 0 0 5, Pen el i t i a n H u k u m ,K en ca n a , J a k ar t a
M e r t ok u s u mo, S u d i k n o, 1 9 9 8 , H u k u m A c ar a Per d a t a I n d o n es i a, Li b e r t y, Y o gj a k a r t a
M.P Golding, The Nature of Law Readings in Legal Philosophy, Columbia University, Random House, New York, page. 180
P . T e gu h M u l yon o, 2 0 0 2 , M a n a jem en P er k r ed i t a n B a g i B a n k K o m er s i l, E d is i 3, B P F E , Y o g ya k a r t a
P r ogr a m M a gi s t e r K e n ot a r i at a n U n i ve r s i ta s U d a ya n a , 2 0 1 1 , B u k u Ped o m a n P en d i d i k a n Pr o g r a m S t u d i M a gi s t er K en o t a ri a t a n U n i v er s it a s U da y a n a, D e np a s ar
R on n y H a n i t i j o, 1 9 9 8 , M et o d el o g i Pen el i t i a n H u k u m d a n J u r i m et r i, G h a li a In d on e s i a , J a k a r ta .
S a n t os o, R u d y T r i , 1 9 96 , Kr ed i t U s a h a Per b a n k a n , A N D I, Y o gj a k a r t a S a t r i o J. , 2 0 0 0 , H a k - H a k J a m i n a n K eb en d a a n , C i tr a Ad i t ya B a k t i , B a n du n g S e mb i r i n g, S e nt os a , 20 0 8 , H u k u m Per b a n k a n ,M a n d ar M aj u , B a n d u n g
Jurnal Ilmi ah P rodi Magister Kenot ariatan, 2017 - 2018 200
S e t i a w a n, R , 1 9 7 9, Po k o k - Po k o k H u k u m Per i k a t a n, Ba n d u n g, B i n a C i p t a.
S o fw a n S r i S oe d e w i M a s j ch oe n , 1 9 9 8, H u k u m J a m in a n d i I n d o n es i a, P ok ok -P ok ok H u k u m J a mi n a n da n Ja mi n a n P e r or a n ga n, Li b e r t y, Y o gj a k a r ta
S oe k a n t o S oe r j on o, 1 9 8 3 , Pen eg a k a n H u k u m, Bi n a ci p t a , B a n d u n g _ _ _ _ _ _ _ 2 0 0 0, Pen g a n t a r Pen el i t i a n H u k u m , J a k ar t a, U I P r e s s
S oe k a n t o S oe r j on o d a n S r i M a mu dj i, 2 0 0 1, Pen el i t ia n H u k u m N o r m a t i f S u a t u Ti n ja u a n S i n g k a t, P T. G r a fi n d o P e rs a d a, Ja k a rt a
S oe mi t r o R on n y H a n i t i j o, 2 0 0 0, M et o d o l o gi Pen e l i t i a n H u k u m, G h al i a In d on e s i a , J a k ar t a S oe r j on od a n H . Ab d u r r a h ma n , 1 9 9 8 , Pr o s ed u r Pen d a f t a r a n T a n a h, P T . R i n e ka C i pt a, J ak a r ta S u b e k t i R . , 1 9 9 6, J a m i n a n- ja m i n a n U n t u k Pem b er i a n K r ed i t (T er m a s u k H a k T a n g g u n g a n )
M en u r u t H u k u m I n d o n es i a, Al u mn i , B an d u n g
S u h a r d i G u n a rt o, 2 0 0 3 , U s a h a Per b a n k a n D a l a m Per s p ek t i f H u ku m, K a ni s i us , Y ogj a k a r t a S u h a r n ok o, 2 0 0 4 , T e or i d a n A n a l is a K a su s , K e n ca n a , J a k ar t a.
S u p r a mon o G a t ot , 1 9 9 5 , Per b a n k a n d a n M as a la h K r ed i t : S u at u T i n ja u a n Y u ri d is, D j a mb a t a n , J a ka r ta
S u t a r n o, 2 0 0 3, As p ek - a s p ek H u k u m Per k r ed i t a n Pa d a B a n k, Al fa b e t a , B a n d un g.
S i h omb i n g J on k e r , 2 0 1 0 , Pen ja m i n a n S i m p a n a n N as ab a h Per b a n k a n , Al u mn i , B a n d u n g S u t e d i An d r i a n , 2 0 0 8, H u k u m P er b a n k a n : S u a t u T i n ja u a n P en c u c i a n U a n g , M er g er ,
L i k u i d as i , d a n K ep a i l i ta n, S i n ar G r a fi k a, J a k a rt a
T h e In t e r n a s i on a l B a n k for R e c on s t r u ct i on a n d D e ve l op me n t / T h e w or l d B a n k , 2 0 0 2 , T h e Wo r l d B a n k A n d A g en d a 2 1 A D r a f t D is c u s si o n Pa p er, Wa s h i n gt on , D C , U S A. p a ge . 8
U s ma n R a ch ma d i , 2 0 0 1 , A sp ek - A s p ek H u k u m P er b a n k a n d i I n d o n es i a ,G r a me d i a Pu s t a ka U t a m a , Ja k a rt a
Wa h j on o, P a d mo, 1 9 8 6 , I n d o n es i a N eg a r a B er d a s a r k a n A t a s H u k u m, G h a l i a In d on e s i a , J a k a r ta .
Wa l u yo B a mb a n g, 2 0 0 2,Pen el i t i a n H u k u m D a l a m Pr ak t ek, S i na r Gr a fi k a , J a k ar t a
Wi d j a j a G u n a w a n & Ah ma d Y a n i, 2 0 0 3, Ja m i n a n Fi du s i a, R a j a G r a fi n d o P e r sa d a , J a k ar t a Wi d j a r n ot o, 2 0 0 3 , H u k u m d a n K et en t u a n Per b a n k a n d i I n d o n es i a, P u st a k a U t a ma G ra fi t i,
J a k a r ta . K a mu s
T i m P u s a t B a h a sa In d on e s i a , 2 0 0 8, K a m u s B es a r B a ha s a I n d on es i a, Pu s a t B a h a sa , J a k ar t a W. J . S P oe r w a d a r mit a , 2 0 0 6, K a m u s U m u m B a h a s a I nd o n es i a, B al a i P u s ta k a , J a k ar t a.
P e r at u r a n P e r u n d a n g - U n d a n g a n
K i t a b U n d an g -U n d a n g H u k u m P e r d a t a ;
U n d a n g- U n d a n g N o. 4 T a h u n 1 9 9 6 T e n t a n g H a k T a n g gu n ga n At a s T a n a h B e s e r t a B e n d a - B e n d a Y a n g B e r k a i t a n D e n ga n T a n a h . ( Le mb a r a n N ega r a R e p u b l i k In d on e s i a T a h u n 1 9 9 6 N om or 4 2 d a n T a mb a h a n Le mb a r a n N e ga r a R e pu b l i k In d on e s i a N om or 3 6 3 2 ) U n d a n g- U n d a n g N o. 1 0 T a h u n 1 9 9 8 T e n ta n g P e r u b ah a n At a s U n d a n g -U n d a n g N o. 7 T a h u n
1 9 9 2 t e nt a n g P e r ba n k a n . ( Le mb a r a n N e ga r a R e p u b li k In d on e s i a T a h u n 1 9 9 2 N om or 1 8 2 d a n T a mb a h a n Le mb a r a n N e ga r a R e p u bl i k In d on e s i a N om or 3 7 9 0 )
U n d a n g- U n d a n g N o. 4 2 T a h u n 1 9 9 9 t e n t a n g J a mi n a n F i d u s i a ( Le mb a r a n N e ga r a R e p u b li k In d on e s i a T a h u n 1 9 9 9 N om or 1 6 8 d a n T a mb a h a n Le mb a r a n N e ga r a R e p u bl i k In d on e s i a N om or 3 8 8 9 )
U n d a n g- U n d a n g N o. 2 T a h u n 2 0 1 4 t e n t an g P e r u b a h an At a s U n d a n g U n d a n g N om or 3 0 T a h u n 2 0 0 4 t e nt a n g J a b at a n N ot a r is . ( Le mb a r a n N e ga r a Re p u b l i k In d on e s i a T a h u n 20 1 4 N om or 3 d a n T a mb a h a n Le mb a r a n N e ga r a R e p u bl i k In d on e s i a N om or 5 4 9 1 )
U n d a n g- U n d a n g N o. 2 4 T a h u n 2 0 0 4 t e n t a n g Le mb a g a P e n j a mi n Si mp a n a n ( Le mb a r a n N e ga r a R e p u b l i k In d on e s i a T a h u n 2 0 0 4 N om or 9 6 d a n T a mb a h a n Le mb a r a n N e ga r a R e p u b l i k In d on e s i a N om or 4 4 2 0 )
U n d a n g- U n d a n g N o. 2 1 T a h u n 2 0 1 1 t e nt a n g O t or i t a s J as a K e u a n ga n ( Le mb a r a n N e ga r a R e p u b l i k In d on e s i a T a h u n 2 0 1 1 N om or 1 1 1 d a n T a mb a h a n Le mb a r a n N e ga r a R e p u b l i k In d on e s i a N om or 5 2 5 3 )
I n t e r n e t:
M a r i ot e dj a . bl ogs p ot . co m, T eo r i K ep a s t i a n D a l a m P e r s p ek t i f H u k u m, D i a k se s P a d a 1 5 M e i 2 0 1 3
* * * * *