• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL KACAPURI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "JURNAL KACAPURI"

Copied!
176
0
0

Teks penuh

Penelitian ini akan melakukan survei lalu lintas untuk mengetahui volume lalu lintas (kendaraan/jam) dalam 6 hari kerja. Volume lalu lintas tersebut akan dibandingkan dengan dimensi geometri jalan Adhyaksa sehingga diperoleh persamaan (V/C) yang mewakili LOS ruas jalan Adhyaksa. Arus atau volume lalu lintas pada suatu jalan raya diukur berdasarkan jumlah kendaraan yang melewati suatu titik tertentu dalam selang waktu tertentu.

Atau, kapasitas yang lebih dikenal dengan sebutan “kapasitas maksimum” suatu ruas jalan atau persimpangan untuk volume lalu lintas yang mengalir dalam satuan waktu tertentu. Jalur lalu lintas (carriageway = jalur lalu lintas) adalah bagian perkerasan yang diperuntukkan bagi lalu lintas kendaraan. Menurut Silvia Sukirman (1994), lebar jalur lalu lintas merupakan bagian yang paling menentukan lebar jalan secara keseluruhan.

Bahu jalan adalah jalur yang membatasi suatu jalur lalu lintas dan mempunyai fungsi sebagai berikut. Derajat atau indeks kepadatan atau kejenuhan merupakan suatu ukuran yang digunakan untuk mengetahui kualitas suatu ruas jalan tertentu dalam melayani arus lalu lintas yang melewatinya. Kepadatan lalu lintas sangat rendah dan kecepatan dikendalikan oleh pengendara berdasarkan batas kecepatan.

Arus mantap dengan volume lalu lintas sedang dan kecepatan mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas;. Arusnya stabil tetapi kecepatan dan pergerakan kendaraan dikendalikan oleh volume lalu lintas yang lebih tinggi. Arus mendekati tidak stabil dengan volume lalu lintas tinggi dan kecepatan masih lumayan namun banyak.

Arus lebih rendah dari tingkat pelayanan D dengan volume lalu lintas mendekati kapasitas jalan dan kecepatan sangat rendah;. Kepadatan lalu lintas sangat tinggi dan volumenya sesuai dengan kapasitas jalan, serta terjadi kemacetan dalam waktu yang cukup lama; Hal ini mengakibatkan pertumbuhan arus lalu lintas di kawasan ini dan sekitarnya meningkat pesat.

Simpang bersinyal Jalan Gatot Subroto – Jalan veteran Banjarmasin merupakan dua kawasan lalu lintas yang mengalami arus lalu lintas yang cukup besar. 54 persimpangan tersebut membentuk dua arus lalu lintas yang berarti jalan tersebut dibebani arus lalu lintas yang cukup besar. Arus lalu lintas (Q) untuk setiap pergerakan (belok kiri = QLT dan belok kanan = QRT) dikonversi dari kendaraan per jam menjadi satuan mobil penumpang (emp) untuk setiap pendekat terlindungi dan offset.

Gambar 2. Asumsi gaya yang diterima tiang (Dokumen Pribadi)
Gambar 2. Asumsi gaya yang diterima tiang (Dokumen Pribadi)

Jumlah Barang – Kilometer per Satuan Waktu

Raden Intan merupakan salah satu jalur pejalan kaki paling aktif di Bandarlampung karena dekat dengan Stasiun Tanjung Karang selain kegiatan komersial dan jasa. Kondisi jalan setapak di kawasan bisnis Simpur Center saat ini sedang menghadapi beberapa permasalahan dan hambatan lateral yang menyebabkan kemacetan lalu lintas. Oleh karena itu, pertanyaan penelitiannya adalah bagaimana penyediaan jalur pejalan kaki di kawasan bisnis Simpur Center.

Tujuan penelitian adalah untuk memberikan rekomendasi penyediaan jalur pejalan kaki sesuai dengan tingkat keterlaluan jalur pejalan kaki di kawasan bisnis Simpur Center. Data sekunder yang digunakan berupa peraturan perundang-undangan dan kebijakan terkait penyediaan jalur pejalan kaki perkotaan. Sampel berjumlah 100 responden dan kriterianya adalah melintasi jalur pejalan kaki pada kawasan yang dipertimbangkan.

Penggunaan lahan di sekitar kawasan usaha Simpur Center dalam radius 200 meter dari jalan setapak diperuntukkan bagi kegiatan perdagangan dan jasa. Transportasi ini mendukung pejalan kaki dalam berpindah dari tujuannya menuju kawasan bisnis Simpur Center. Hal ini juga bisa menjadi rekomendasi dalam penyediaan jalur pejalan kaki di perkotaan seperti Kota Bandarlampung.

Dalam penelitian ini, skala penilaian dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: (3) jalur pejalan kaki yang dapat diterima; (2) jalur pejalan kaki yang buruk; (1) jalur pejalan kaki dan lingkungannya tidak cocok untuk pejalan kaki. Dasar penilaiannya adalah pembuatan kebijakan perencanaan kota untuk jalur pejalan kaki dan parameter keterlaluan. 122 Tabel 2 menjelaskan penilaian kondisi eksisting jalur pejalan kaki di kawasan bisnis Simpur Center.

Oleh karena itu, hal ini akan menjadi rekomendasi dalam perancangan rencana penyediaan jalan setapak pada kawasan usaha di sekitar jalan setapak. Perumusan rekomendasi penyediaan jalan setapak bagi pejalan kaki di Kawasan Bisnis Simpur Center dan sekitarnya. Jalur pejalan kaki diberikan skala penilaian untuk jalur pejalan kaki yang buruk, baik dari segi penyediaan fisik maupun lingkungan.

Gambar 2. Tahapan Proses Penelitian di Kawasan Bisnis Simpur Center
Gambar 2. Tahapan Proses Penelitian di Kawasan Bisnis Simpur Center

Biaya Internal

  • Biaya Tetap
  • Biaya Setengah Tetap
  • Biaya Tidak Tetap
  • Biaya Pokok
  • Biaya Umum

Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan sebagai identifikasi empiris terhadap regulator yang bersedia memberikan dukungan finansial yang diperlukan untuk pemeliharaan layanan BRT. Menurut Waldiyono, dkk (1986) bahwa pada dasarnya biaya operasional kendaraan terdiri dari biaya tetap dan juga biaya variabel (biaya operasional), yaitu biaya yang akan ada pada saat kendaraan tersebut beroperasi. Biaya transportasi merupakan bagian dari biaya produksi yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari harga suatu produk atau jasa tertentu.

Biaya transportasi dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu biaya internal yang terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung, dan biaya eksternal yang diteliti dalam penelitian ini adalah biaya asuransi kesehatan. Definisi lain dari biaya langsung adalah biaya yang tidak dapat langsung diterapkan pada operasi transportasi tetapi merupakan bagian dari biaya dasar dan biaya satuan. Biaya umum meliputi infrastruktur, gaji direktur, gaji karyawan, penyusutan, biaya telepon, dll.

Biaya Eksternal

Data biaya operasional kendaraan diperoleh dari survei kendaraan berupa pengumpulan informasi melalui wawancara dengan PT. Trans Bandar Lampung dan beberapa yang kurang jelas ditambahkan ke dalam perhitungan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia mengenai harga yang dihitung. Selain itu, perhitungan biaya juga menggunakan asumsi yang berasal dari Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan.

1 Jenis kendaraan Bus medium Dinas Angkutan Kota Bandarlampung 2 Harga pembelian kendaraan Dinas Angkutan Kota Bandarlampung 3 Jangka waktu pengembalian pinjaman 5 tahun Dinas Angkutan Kota Bandarlampung 4 Suku bunga 10%/tahun Dinas Angkutan Kota Bandarlampung 5 Jumlah ban bekas 6 ban Angkutan Kota Bandarlampung Service 6 Harga Ban 1.500.000/ban Pelayanan Angkutan Kota Bandarlampung 7 Pajak Terminal 8.000 PT Trans Bandarlampung. Perhitungan biaya operasional kendaraan (BOK) merupakan penjumlahan biaya internal yang terdiri dari biaya langsung dan biaya tidak langsung serta biaya tidak langsung yaitu biaya asuransi.

Tabel 2. Data Armada Bus
Tabel 2. Data Armada Bus

Komponen Biaya Langsung

Biaya overhaul umum merupakan satuan biaya yang dikeluarkan untuk memeriksa kondisi umum mesin kendaraan bus. 3 Total penambahan oli mesin 1.750 Rupiah/hari Total penambahan oli mesin/tahun 638.750 Rupiah/tahun Sumber : Hasil analisa, 2019. Biaya Air Conditioner (AC) merupakan satuan biaya yang dikeluarkan untuk menambah fasilitas bus demi kenyamanan penumpang.

Biaya-biaya ini dikeluarkan untuk komponen pembelian unit AC dan tambahan bahan bakar yang dikeluarkan di fasilitas tersebut.

Tabel 11. Biaya Bahan Bakar Bus
Tabel 11. Biaya Bahan Bakar Bus

Komponen Biaya Tidak Langsung

Seperti halnya beton konvensional, bahan utama penyusun beton berpori adalah semen portland, agregat, air dan bahan tambahan lainnya dengan komposisi tertentu. Yang membedakan dengan beton porous adalah agregat yang digunakan hanya agregat kasar atau sedikit atau tanpa agregat halus. Beton berpori bukanlah jenis beton yang umum digunakan dalam konstruksi karena sifatnya yang berongga.

Dilihat dari bentuknya, beton porous mempunyai tekstur yang lebih kasar dibandingkan beton padat biasa, dimana tekstur kasar ini dihasilkan oleh adanya rongga-rongga pada beton. Selain itu, teksturnya yang kasar juga membuat permukaan beton berpori menjadi lebih kasar dibandingkan perkerasan normal. Pemasangan lebih cepat dimana proses pemasangan beton porous akan lebih cepat selesai dibandingkan dengan pemasangan paving bata beton.

Fungsi utama beton porous adalah untuk mengurangi tingkat pencemaran air tanah, mengangkat air ke permukaan agar dapat diserap oleh tanah. Dibandingkan dengan perkerasan beton aspal dan perkerasan bata beton, perkerasan beton berpori memiliki keunggulan jangka panjang. Seperti halnya beton normal, komposisi yang digunakan untuk beton berpori tidak jauh berbeda, dimana bahan umum yang digunakan masih berupa semen, agregat, bahan tambahan dan air.

Pada beton berpori sendiri, jenis gradasi agregat yang digunakan biasanya merupakan agregat yang bergradasi buruk, dimana agregat yang bergradasi buruk tersebut mempunyai rongga-rongga di antara setiap susunan agregatnya. Sedangkan agregat halus pada beton berpori hanya digunakan sedikit atau tidak digunakan sama sekali. Semen yang dibutuhkan untuk membuat beton porous harus dalam kondisi baik dan memenuhi standar SNI tentang semen Portland.

Kualitas air yang digunakan pada campuran beton porous tidak berbeda dengan beton biasa, dimana air yang digunakan juga mempunyai kualitas yang baik. Faktor air semen mempunyai pengaruh yang sangat besar, dimana jumlah air yang terlalu banyak dalam campuran akan menyebabkan rongga-rongga pada beton yang berpori tertutup oleh pasta semen cair (bleeding). Sedangkan air yang terlalu sedikit akan membuat beton menjadi rapuh karena daya rekat antara semen dengan agregat tidak sempurna sehingga mengurangi keawetan dan kuat tekan beton berpori.

Tabel 24. Tipologi  Biaya Operasional Kendaraan  Trayek  Pengeluaran
Tabel 24. Tipologi Biaya Operasional Kendaraan Trayek Pengeluaran

CV. MEDIA PRINTING BORNEO

Gambar

Gambar 2. Asumsi gaya yang diterima tiang (Dokumen Pribadi)
Gambar 8. Hasil Analisis Stabilitas Lereng pada Kondisi Eksisting
Gambar 9. Hasil Analisis Stabilitas Lereng Setelah Dilakukan Perkuatan Turap dan Jangkar
Gambar 1. Paradigma dan Proses Pengelolan Sampah  Sumber : www.google.com, 2019
+7

Referensi

Dokumen terkait

KEDUNGSAPUR merupakan satu dari delapan kawasan strategis yang tercantum di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Tengah No 21 Tahun 2003 dan

Tata Guna Lahan, Rencana struktur peruntukan lahan dalam pengembangan Kawasan kampung cina di Kota Ternate tidak terlepas dari arahan pengembangan kota, baik RTRW Kota

Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa

Ruang Lingkup RTRW mencakup Penetapan Tata Ruang Kabupaten yang meliputi struktur ruang, pola ruang, dan penetapan kawasan strategis yang dilengkapi dengan

(1) Ruang Lingkup RTRW mencakup penetapan rencana tata ruang Kabupaten Humbang Hasundutan yang meliputi struktur ruang, pola ruang, dan penetapan kawasan strategis yang

1) Pembangunan infrastruktur sesuai dengan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan pembangunan berkelanjutan di kawasan strategis, tertinggal, perbatasan, daerah

Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 9 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah RTRW Kabupaten Semarang mengamanatkan adanya fungsi kawasan strategis ekonomi yang salah satu

Survei Sekunder DOKUMEN DATA YANG DIDAPATKAN ANALISIS DALAM TAHAP PERENCANAAN Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah RTRW Nasional, Provinsi dan Kabupaten/Kota ∙Kawasan strategis