ISSN:2085-9503
Jurnal llmiah
Bidang Teknologi
ANGKASA
Volume Vl, Nomor 2, November 2014
rssN
PE85-1s83Jurnal Ilmiah Angkasa terbit 2kali setahun edisi Mei dan November Berisi kajiai ilmiah dan hasil penelitian tentang teknologi
VISI
Menumbuhkan cakraw
ala, w aw asanberfikir partisipatif dalam pembangunan nasional melalui IPTEK
MISI
Pemberday aan
dan penajam orientasi masyarakat pendidikan Indonesia dalam pembangunan
PENA}IGGUNG JAWAB
Tabri Santoso, S.IP
KETUA PENYUNTING
Denny Dermawan, S.T., M.Eng.
WAKTL KETUAPENYUNTING
Yenny Astuti, S.T., M.Eng DEWAI\ PENYUNTING
Freddy Kurniawan, S.T., M.T.
Uyuunul Mauidzoh, S.T., M.T.
Nur CahYani, S.F., M.T.
Gunawan, S.T., M.T.
Nur Akhmad Triwibowo,
S.T.ADMINSTRASI
Ign. Hary T. S.E.
ALAMAT PENYUNTING DAN ADMINISTRASI P3M STTAYogYakarta
Jl. Janti Blok R Lanud Adisutjipto Yogyakarta Telp.
(0274)
45 1263, F ax. (027 4)41 5265
l
EVALUASI FAKTOR KEBISINGAN RUANG KULIAH DI STTA PADA GEDUNG HALIM PERDANA KUSUMA DAN ABDUMHMAN SATEH
EVALUASI FAKTOR KEBISINGAN RUANIG KULIAH DI STTA PADA GEDUNG HALIM PERDANA KUSUMA DAN
ABDT'RAHMAN SALEH Ek\ Poerwanto
Teknik Industri
Sekolah
Tinggi
TeknologiAdisutjipto
Jalan Janti Komplek Lanud
Adisutjipto, Blok
R, yogyakarta [email protected]Abstrak
Kegiatan pembelajaran yang optimal sangat membutuhkan lingkungan
yangergonomi, karena dibutuhkan
konsentrasiyang cukup tinggi pada
prosesnya. Kawasan sekolah memerlukan lingkungan yang tenang dan tidak bising. Wilayah perkotaan sulit untuk mendapatkan lokasi sekolah yang tenang. Penelitianini
mencoba mengungkapkan bagaimana evaluasi padafaktor
kebisinganyang terjadi selama
prosesbelajar
mengajar. Penelitiandilakukan di
SekolahTinggi Teknologi Adisutjipto
Yogyakarta.Metode penelitian
yangdigunakan
adalahmetode deskriptif analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
areagedung perkuliahan di STTA menunjukkan tingkat kebisingan lebih tinggi dari
baku kebisingan yang telah ditetapkan. Manajemen STTA'harus menetapkan aturan dan kebijakan untuk mengendalikantingkat
kebisingan yang dibakukan,untuk
meningkatkan kenyamanan dan ergonomi pada proses perkuliahanKata
Kunci
: bising, aktivitas perkuliahan, ergonomi.Abstract
Optimal learning activities in dire need of e:nvironmental ergonomics, because
it
takes a high enough concentrationin
the process. Schooldistrict
requires o quiet environmentand not
noisy. Urban oreosdfficult
to geta
quietlocation of
the school. This research attempts to reveal how the evaluation of the noisefactor
that occursduring
the learning process. The study was conducted atthe
"SekolahTinggi
TelmologiAdisutjipto"
Yogtakarta. The method used is descriptiveanalytic
method. The results showedthat
the areaof
the lecturebuilding in
STTA shows the noise level is higher than a predeterminedrqw
noise. STTA Management should establish rules andpolicies
to control the noise level stondordized, to improve comfort and ergonomics in the lecture.1. Pendahuluan
Proses pembelajaran dipengaruhi
oleh faktor intemal
danfaktor eksternal,
yaitukondisi lingkungan sekitarnya. Interaksi
arfiara mahasiswadan dosen dalam
proses pembelajaran akan berjalan denganbaik apabila materi
yang disampaikan dapat diterima denganbaik oleh
mahasiswa.Hal ini memerlukan nrang-ruang kuliah yang memiliki
lingkungan
yang tenang dan jauh dari kebisingan.Eko Poerwanto
Dua
kriteria yalg
digunakan olehANSI-SI2.60
(Standar KualitasAkustik
Bangunan Sekolah)untuk
mematokkualitas akustik ruang kelas.
Pertama,bising
lingkungantidak
bolehmelebihi
35dBA
dan 55dBC di
seluruh bagian ruangan kelas(dBA
dandBC
adalah satuan kekuatan suarayang
sudahmemlerhitungkan
kandunganfrekuensi
sumber suara).Kedua,
waktu
dengung yangtidak boleh lebih dari 0,6 detik. Hal ini
menunjukkan kajian akustik gedung sekolah merupakan hal yang sangat penting dilakukan.Pada
[1], Lingkungan
dapat mempengaruhikinerja
seseorang dalam melaksanakan aktivitasnya. Lingkungan yangtidak
nyaman dapat mengakibatkan menurunnya efektivitas suatu kegiatan,baik
prosesnya, maupun hasilnya.Belajar
adalah salah satuaktivitas
yang sangat mudah dipengaruhi efektivitasnya. Belajar adalah sebuah aktivitas yang membutuhkandaya konsentrasi tinggi. Semakin tinggi konsentrasi belajar, semakin optimal
hasil pembelajarannya. Menganalisa bagaimana pengaruh kebisingan terhadap performa belajar padamurid
SD, danjuga
seberapatinggi
batasan kebisingan yang dapat diterima oleh anakSD
dengan menggunakanDesign of
Experimentwittk
selanjutnya dianalisa dengan Mode Adequacy Checking. Setelahditeliti, hasil yang didapat
adalah pajanan kebisingan dapat mempengaruhi performa belajarmurid
SD secara signifikan pada leveldi
atas 53DBA.
Pada [17], Ruang kelas sekolah
dasardi
Surabaya, kebanyakan tersusun dalam konfigurasi berbentukU
membelakangijalan, L
menghadap kejalan,
danL
membelakangijalan. Konfigurasi lay out ini
mempunyai pengaruh penting terhadapbising yang
diterirna dalam ruangan. Mengingat pelebaranjalan
akibat perkembangankota
mengakibatkanjarak
bangunan kelas terhadap sumber bising semakin dekat, sehingga tuntutan bukaan lebar untuk penghawaan alami ruang kelas sangatsulit
dilakukan. PengukuranBackground
Noise Level(BNL)
padaketiga obyek dilakukan untuk melihat
pengaruhlay out
bangunan terhadap pereduksianbising
dalam kelasdi
ketiga bangunan. Hasilnya menunjukkan bahwalay oit
berbentuk L
membelakangijalan menjadi bentuk yang paling ideal dalam
mengurangi kebisinganjalan raya
dibandingkan dengan lainnya.Nilai
yang didapar sebesar 50,1dBA
(sudah memenuhinilai
yang disyaratkan pemeerintah yaitu 55dBA).Kegiatan pembelajaran
di
ruangkuliah yang
selamaini
berjalandi
SekolahTinggi Teknologi Adisutjipto
sangat dipengaruhioleh
kegiatandiluar
kelasdi
sekitarlingkung;n
kampus.Kegiatan yang terjadi di luar kelas, misalnya
proses pemotonganrumput,
dan diskusi mahasiswa yang beradadi
luar kelas. Pentingnya evaluasi faktor kebisingandi *ung kuliah
yang beradadi
gedungHalim
Perdana Kusuma dan AbdurahmanSaleh yang
akan mempengaruhi proses pembelajaranyang optimal untuk
mahasiswadi
SekolahTinggi
TeknologiAdisutjipto
Yogyakarta. Berapa tingkat kebisingan yang terjadi karena kegiatandi luar ruang kuliah, dan
bagaimana manajemen serta aturanyang dapat
diterapkan untuk mengurangi kebisingandi
ruang kuliah.Lingkungan dapat mempengaruhi kinerja seseorang dalam
melaksanakan aktivitasnya. Lingkungan yangtidak
nyaman dapat mengakibatkan menurunnya efektivitas suatu kegiatan,baik
prosesnya, maupun hasilnya.Belajar
adalah salah satuaktivitas
yang sangat mudah dipengaruhi efektivitasnya. Belajar adalah sebuah aktivitas yang membutuhkandaya konsentrasi tinggi. Semakin tinggi konsentrasi belajar,
semakin-optimal
hasil pembelajarannya [1].2. Metode
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik,
yaitumenguraikan fakta-fakta kebisingan yang terjadi di lingkungan ruang kuliah
dengan mengukur tingkat kebisingan yang dilakukan oleh penyebab utamanya, kemudian dilanjutkan dengan membandingkan dengan standar baku kebisingan yangdiijinkan.
Langkah penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut :&Ji*le*
ide&d*it:lgi
&lrx*la&
t?uttia&
Tulra*
iissnltl
*---l m
I
!
!rtrrllw
v_.
&rr*lii :ile!{k
I
ffi
! dis$jxu*+tl {
i+.e l-
${rl I I rl,nllhl I
llxrnt I ian
lJ
I Ti
Xf*
::r1!rlreti$i &si.
iisim6wlm da.
Sems
**l*+6i
EVALUASI FAKTOR KEBISINGAN RUANG KULIAH DI STTA PADA GEDUNG HALIM PERDANA KUSUMA DAN ABDURAHMAN SALEH
Gambar 1. Diagram
Alir
Penelitian3. Kebisingan dan Ergonomi
Kebisingan bisa
didefinisikan
sebagai suara yangtidak
diharapkan.Menurut
WorldHealth Organizatior (WHO), Kebisingan
adalah suara apapunyangtidak diperlukan
danmemiliki
efek buruk pada kualitas kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan. Suara pesawat terbang,suara lalu
lintas, dengungan konstan sistem ventilasi, dan suara-suara keras lainnya adalah contoh kebisingan yang dapat menurunkantingkat
konsentrasi belajar.Terlalu
lama mendengar kebisingan yang berlebihandi
kelas dapat menyebabkan gangguan pendengaran danjuga
menurunkan perfonna belajar.Hal ini
menunjukkan bahwa lingkungan yang bising, merupakan lingkungan yang belum ergonomi.Pengertian konsentrasi adalah kemampuan untuk
memusatkanpikiran
terhadapaktivitas yang
sedangdilakukan (Kamus
Besar Indonesia) sedangkan konsentrasi belajar adalah kemampuanuntuk
memusatkanpikiran
terhadapaktivitas
belajar. Konsentrasijuga
atensi atau perhatian searah terhadap suatuhal
dan biasanya berkaitan dengan konsentrasi terhadap apayang
saatini
dihadapi dandijalani.
Secarafisik, tidak
ada perbedaan antara suara dan kebisingan.idak
Eko Poerwanto
Suara adalah persepsi sensori dan pola kompleks dari getaran suara
sebagai kebisingan, musik, percakapan dan sebagainya. Tekanan suara adalahpengukuran dasar darivibrasi
udarayang
menghasilkan suara. Karena jangkauandari
tekanan suarayang
dapatdideteksi
pendengaran manusia sangatluas, tingkatan ini diukur dalam skala
logaritma denganunit
desibel.Akibatnya,
tekanan suaratidak
dapat ditambah atau dirata-rata secaraaritmetik.
Selainitu,
tingkatan suara dari kebanyakan kebisingan bervariasi setiap waktunya, danketika
tekanan suaradihitung, fluktuasi
tekananyang
mendadak harus diintegrasikan dalam suatu interval waktu.Ada tiga
aspek yang menentukan kualitas suatubunyi
yang bias menentukan tingkat gangguan terhadap manusia, yaitu lama, intensitas dan frekwensinya.Makin
lama telingakita
mendengarkan kebisingan, makinburuk
akibatnyabagi kita,
diantaranya pendengaran yangmakin
kurang. Intensitas biasaanyadiukur
dengan satuan desibel(dB),
yangmenunjulkan
besarnya arus energi persatuan luas. Frekwensi menunjukkanjumlah
gelombang-gelombang suara yang sampai ke telingakita
setiap detik, dinyatakan dalamjumlah
getaran perdetik atau Hertz (Hz).Getaran-getaran yang dihasilkan
dari
sumber penghasil getaran misalnya garpu tala, membentuk suatu getaran-getaran sinusoidal(sine).
Salah satusifat
gelombang sinusoidal adalah bahwa gelombang diatas garis tengah merupakan pantulandari
gelombangdi
bawah garis tengah. Selain itu, bentuk gelombang-gelombang tersebut mengalami pengulangan terus menerus.Jumlah dari siklus
gelombangyang terjadi dalam satu detik disebut
sebagai frekuensi suara. Frekuensi suara dinyatakan dalam satuanHertz (Hz),
sama dengan .lumtatrsiklus
gelombangper detik. Biasanya suatu kebisingan terdiri dari
campuran seJumhh gelombang-gelombang sederhanadari
beraneka frekuensi. Nadadari
kebisingan ditentukan oleh frekuensi-frekuensi yang ada.Secara
umum, telinga manusia peka terhadap antara 20 hingga 20.000 Hertz,
meskipun pada level frekuensi yang berbeda kepekaan pada masing-masing manusia tidaklah sama. Bahkan padaindividu
yang berbeda, kadar kepekaannyajuga
berbeda pada berbagaitingkatan
frekuensi(Noise Control in Industry).
Pada dasarnya pengaruh kebisingan pada jasmani para pekerja dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:1. Tidak mempengaruhi indera
pendengarantetapi
memberikan keluhan samar-samar dan tidak jelas berwujud penyakit.2.
Pengaruhterhadap indera
pendengaranbaik bersifat
sementarapengaruh
berupaataupun
bersifat merusak sebagian atausenjata api,
ledakan- pernanen,terdiri
dari:a.
Accoustictrauma
yaitu tiap-tiap pelukaan insidential yangseluruh alat-alat
pendengaran disebabkanoleh
letupan ledakan, atau suara yang dashyat.b. Occuptional deafness yaitu kehilangan
sebagianatau seluruh
pendengaran seseorang yang bersifat permanen pada satu atau keduatelinga
disebabkan oleh bising atau suara gaduh yang terus-menerus dilingkungan kerja.Untuk
menciptakan lingkungan yang ergonomi, telah ditetapkan oleh Menteri NegaraLingkungan Hidup nomor :
Kep-48/TvIENLFVl 111996, tentangBaku Tingkat
Kebisirgun.Tabel
I
merupakan ukuran baku yang telah ditetapkan.4. Analisis dan Pembahasan
Evaluasi
kebisinganyang terjadi
padaruang kuliah di STTA
dengan melakukanidentifikasi
sumber kebisingan. Sumber kebisingan dapat berasaldari
dalam danluar
ruangkuliah.
Sumber kebisingan yang berasaldari
dalam ruangkuliah
umumnya dapat ditekan dengan melakukan teguran langsung, seperti gaduh karena antar mahasiswa atau alat-alat yang menimbulkanbising di
dalamruang kuliah
dapatdiberi tindakan
langsung. SumberEVALUASI FAKTOR KEBISINGAN RUANG KULIAH DI STTA PADA GEDUNG HALIM PERDANA KUSUMA DAN ABDUMHMAN SALEH
kebisingan yang ditimbulkan oleh sumber dari luar ruang kuliah seperti suara
mesinpemotong rumput atau yang lainnya, memerlukan tindakan manajemen
untuk membenahinya.Tabel
l.
Baku tingkat kebisinganPerunrukan Kaursan i Lingklrngan Kesehatan TinElcai Ke,tiisinean: d-B{,A}
a.
Peruntukan Ka$:asan.l.
Perumahan dan Pemukirrrnn2.
Perdagangan dan Jasa3.
Perkantoran dan Perdagangan4.
Ruang Terbuka Hijau:.
6- 7.
Indrrstri
Pemerint
-ii*n,fesilits$ Bmura RekreasiHhusus,:
r
Bandar,Lld{ra.
Stasiun Kereta Jlpi'.
F'elabuhan Lsutr
Cagar lJudara5)
7{}
65,
$0 7fi
6d)
?s
5*
?s
b.
Lingk**gaa Kegiatan ::.
Rumah Sakit atau sejeuisnya,2,
Sekolah aku,$ei€risnl,a3, T
.ttalrrsBiin*B*t{t
))
Surnler : Kcp*IenLH { 1996)
4.1
SumberKebisingan di Luar
RuangKuliah
Sumber kebisingan
yang
seringterjadi
selaindari aktivitas di
dalamruang kuliah
adalah kebisingan yang berasal dari aktivitasdi
luar ruangkuliah.
SekolahTinggi
TeknologiAdisutjipto
berlokasidi komplek
Lanud.Adisutjipto
tepatnyadi Blok R.
Beberapa sumber kebisingan yang sering terjadi adalah:1.
Pesawatlatih
dasar, sumber kebisinganini
bersifat terputus-putus, sering disebutjuga
intermittent noise,yaitu
bising yang berlangsung secar tidak terus-menerus, melainkan ada perioderelatif
tenang. Kebisinganini relatif tidak
dapat dikendalikan, karena sudah menjadi resiko yang harus diterima sehubungan lokasi kampusdi
area Lanud.2.
Suara gaduh pembicaraan mahasiswadi luar ruang kuliah,
sumberkebisingan ini bersifat terputus-putus: sering disebut juga intermittent noise, yaitu bising
yangberlangsung secar tidak terus-menerus, melainkan ada periode relatif
tenang.Kebisingan ini relatif dapat dikendalikan dengan memberikan teguran
kepada mahasiswa yang beradadi
luar ruang kuliah untuk pindah tempat diskusinya3.
Suaradari aktivitas
pemotonganrumput di sekitar
area gedung perkuliahan, sumber kebisinganini bersifat kontinyu
berjenisNorrow
Spectrumyaitu bising yang relatif
tetap, akan tetapi hanya mempunyai frekuensi tertentu saja.
4.2 Pengukuran Kebisingan Aktivitas
PemotonganRumput
Salah satu sumber kebisingan yang terjadi pada proses pembelajaran
di STTA
adalah kebisingan yang diakibatkandari aktivitas di luar
ruangkuliah yaitu aktivitas
pemotonganrumput.
Pelaksanaan pemotonganrumput di STTA dilakukan
secararutin
padajam
09.00sampai
jam
11.30.Aktivitas
pemotongan rumputini
sangat dikeluhkan oleh mahasiswa dan dosen,jika
dilakukan padawakhl
proses belajar mengajar dilakukan. Pengukuran kebisingandilakukan
dengan menggunakan alat Sound LevelMeter.
Pengukuran kebisingan dilakukan dengan menentukantitik
pengukuran sebagaiberikut
:Eko Poerwanto
Penentuan
titik ini
dapat digambarkan dengan denah kampus STTA pada Gambar 2.,s$
I:* r'*T
Gambar 2. Penentuan titik pengukuran kebisingan aktivitas pemotongan rumput di STTA
Hasil
rata-rata pengukuran kebisingan dengan menggunakan alat Sound Level Meter yang dilakukan pada ke 6 (enam) adalah sebagaiberikut
:Tabel 3. Rata-rata Tingkat Kebisingan setiap Titik Koordinat Pengukuran Tirik S*arlnr
X
SumbuY (dBA)Halirn Perdana Kuffiurn ?
l!
40 67.0-1Atduralmran Saleh l
l
1: 45 s2-57Abdta'ahman Saleh 4 77 24 81.67
Abthuahman Saleh T 75 5 79,?3
Halin Perda*a Kusul:,a {i l1 6 6.r.53 Halim Perdara Kusuma 4 L? 20 62"4.0
Berdasarkan
hasil
pengukuran menggunakansoftware
Surfer Gambar 3.tingkat
kebisingan padatiap titik, 8 untuk
menghasilkan peta konturkemudian
diolah
dengan kebisingan seperti pada Tabel2. Penentuan Titik Koordinat Pengukuran KebisinganTitik Sruubu
X
SumlxrYH.llirn Perdana Kusuma ? 12 40
.A.bdruzhmau Saleh I1 75 4-i
Abdrralxnan Saleli 4 77 24
Abdu'ahuan Saleh ? 7-s _5
Halim Perctana Kusuma 6 t? 6 Halim Perdaua Kusuma 4 1-!1: 20
ffi
EVALUASI FAKTOR KEBISINGAN RUANG KULIAH DI STTA PADA GEDUNG HALIM PERDANA KUSUMA DAN ABDUMHMAN SALEH
Gambar 3. Peta Kontur Kebisingan Aktivitas Pemotongan Rumpul di STTA
Berdasarkan peta
kontur
kebisingan seperti gambardi
atas,maka
dapat dikatakanbahwa sewaktu
pemotonganrumput dilakukan di area STTA hampir seluruh area
dilingkungan
gedung perkuliahan berada pada zona merah yangberarti cukup
menggangguaktivitas
prosesbelajar
mengajar.Kondisi ini
sangattiAat
aiUenarkanjid dibandi"glL
dengan standar baku yang telah ditetapkan sebagai berikut (lihat Tabel 4).
Tabel 4. Baku Tingkat Kebisingan Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, No.4g Tahun 1996.
fi.*n$ffi*
Flmdrdikarl
Rumg*u Ruwg,ee&+" rs*x$ krrli*&
Eustr$h€I*j*r$liir*t .
Perpustataan
*&*
30-4S A*a3*
3S"45
4.3 PengendalianKebisingan
Berdasarkan uraian sumber kebisingan dan peta
kontur
kebisinganyang
dilakukan,maka
dapatdilakukan
beberapaaturan
ataukebijakan yang
dapatdilakulan
manajemenSTTA
untuk mengendalikan tingkat kebisingan selama proses belajar-mengajar berlangsung, antaralain
:1. Kebisingan yang
bersumberdari aktivitas
mahasiswadi luar ruang kuliah
dengan beberapa hal,yaitu
:a.
Mahasiswadilarang melakukan aktivitas yang
menghasilkan kegaduhandi
areagedung perkuliahan. Hal ini dilakukan dengan
menempelkantulisan
larangan tersebutdi
lorong ruang gedung perkuliahan.b.
Jangan menempatkankursi
yang akan digunakan untuk dudukdi
luar ruang kuliah, sehinggamenghindari kemungkinan
mengundang mahasiswauntuk
melakukan kegaduhan di luar ruang kuliah.c.
Membuatjadwal
kuliah yang disesuaikan bobot SKSnya untuk dikelompokkan pada gedungtertentu,
sehingga perkuliahan akanmulai dan
selesai untuk-waktu
yang bersamaan, sehingga akan menghindari kegaduhan
yang mungkin muncul
setelah selesai perkuliahan2. Kebisingan yang bersumber dari aktivitas pemotongan rumput, dapat
dilakukan beberapa hal :s1 80 79 78 7fi
i*
75ie
72 11 7-0 5S 66
*7
66.
U5 6d
Eko Poerwanto
a. Aktivitas
pemotonganrumput dilakukan di
saattidak
ada perkuliahan, misalnya pada hari Sabtu atauMinggu,
sehingga dapat dilakukan secara tuntas.b.
Mengganti peralatan pemotong rumput yang tidak menimbulkan kebisingan.5. Kesimpulandanrsaran
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
uraian
sebelumnyaanalisis dan
pembahasan,maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :1. Tingkat kebisingan di
area gedungperkuliahan di STTA belum
sesuai dengan standar baku yang telah ditetapkan yaitu masih lebih besar dari (30-
40dBA).
2.
Atttran dan kebijakan dapat dilakukanuntuk
mengendalikantingkat
kebisingan di area gedung perkuliahan, sehingga meningkatkan kenyamanan proses perkuliahan.5.2
SaranBerdasarkan
kesimpulan yang telah
disampaikandi atas, maka dapat
diberikan beberapa saran sesuili dengan penelitian yang telah dilakukan, antaralain
:1.
Manajemen STTA harus
segeramerumuskan
penyusunanaturan yang
dapat meningkatkan kenyamanan proses perkuliahandi
STTA.2. Melengkapi atau
menambahkanfaktor-faktor ergonomi yang lainnya,
seperti pencahayaan dan suhu, unfuk meningkatkan kenyamanan dalam proses perkuliahan.Daftar Pustaka
[l] Anizar,2009,
Telcnik Keselamatan dan.KesehatanKerja di Industri, Medan,
GrahaIlmu.
t2l Arikunto, Suharsimi,
2002,Prosedur Penelitian: Suotu
PendekatanPraktek, Edisi
Revisi V, Jakarta, PT. Rineka Cipta.t3]
Bridger, R.S., 2005, Introduction to Ergonomics (2,aed.),NewYork,
Taylor&
Francis.t4] Buchari, 2007, Kebisingan Industri dan Hearing Conservation Program,
USURepository (Online), hfi:lllibrary.usu.ac.id/download/fl/A7002749.pdf),
diakses tanggal 1 Maret 2013.t5]
Bridger,R.s.,
1995, Introduction to Ergonomics,Newyork, McGraw-Hill,
Inc.t6] Chandra, B., 2007, Pengantar Kesehatan Lingkungan, Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran ECG.17) Dwi P.
Sasongko,dkk, 2000, Kebisingan lingkungan,
Semarang,Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.t8] Fitriani, D.,2003, Uji
Getaran Mekanis dan Kebisingan TerhadapOperator Traktor
Dua Roda Yanmar YST-DX danPerlaso
850-DI Pada Pengoperasian di Lahan Sm,ahdan Lahan Kering [Skripsi], Bogor,
FakultasTeknologi
Pertanian.Institut
pertanianBogor.
t9]
JustianA.,
2012,Analisis
PengaruhKebisingan
terhadapPerforma
Siswa SekolahDasar di Ruang Kelas [Skripsi], Depok, Program Studi Teknik tndustri,
Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.[10]
Menteri Negara LingkunganHidup,
1996, Balru Tingkat Kebisingan, Surat KeputusanMentri
NegaraNo: Kep. 48/I\{ENLH/XI|L996,
tanggal25 November
1996, Jakarta, MenegLH.
EVALUASI FAKTOR KEBISINGAN RUANG KULIAH DI STTA PADA GEDUNG HALIM PERDANA KUSUMA DAN ABDUMHMAN SALEH
[11] Mc. Cormick
and Sanders, 1992, HumanFactor in
Engineering andDesign,
7th Ed, New York,McGraw-Hill.
[12] Munilson, Jacky; Edward, Yan; Hafrz, Al,
2009, Gangguan PendengaranAkibat Bising:
Tiniauan Beberapa Kasus, Bagion
TelingaHidung
Tenggorok Bedah Kepala Leher, Padang, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas-RSUP Dr.M. Djamil.
[13]
NadyaR.M.T, & Poltje D.R,
2010, Gambaran TingkatKetulion pada
Tenaga Kery'aRuang Mesin PLTA Sehor Minohasa Wilayah Suluttenggo, Manado,
Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi.[14] Nurmianto, Eko.,2004, Ergonomi ;
KonsepDasar dan Aplikasinya.
Jakarta, Guna Widya.[15] Notoatmodjo, S.,
2003,Ilmu
KesehatanMayaraknt: Prinsip-Prinsip Dasar,
Jakaria, Rineka Cipta.[16]
Petinaung, J.K.,
2008, Hubungan LamaKerja
dengan Gangguan Pendengaran Pada TenagaKeria di
Ruang MesinPLN
Kecematan Tobukan Selatan[Skripsi].
Manado.Politeknik Kesehatan.
[17]
Pawestri,T.A., dkk, 2010, Pengaruh Lay Out
Bangunanpoda
PereduksianBising
dalam Ruang Kelas Sekolah Dasar di Surabaya, Surabaya, Paper Program PascasarjanaArsitektur Fakultas Teknik Sipil dan
PerencanaanInstitut Teknologi
Sepuluh Nopember.[18]
Prasasto Satwiko,2005,Fisila
Bangunonl,
Edisi2, Yogyakarta, PenerbitANDI.
[19] Rambe, A., 2A03, Gangguan Pendengaran Akibat Bising. Medan.
(Online),http://www.thtkomunitas.org/index2.php?option:com_content&dojdFl&id:9),
diakses tanggal25
Juli
2014.[20]
Sastrowinoto, S., 1985, Meningkatkan Produldivitas dengan Ergonomi, Jakarta Pertja.[21]
Sembodo,J.,
2004,Evaluosi Tingkat
KebisingonDi Industri
terhodap Kenyamonan dan Kesehatan Pekerja (Studi Kasusdi
PT.XYZ) tslrrrpsil,
Bogor, Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian.[22]
Sudirman,A.M., lgg2,Interaksi
don Motivosi Belajar Mengajar,Jakarta, Rajawali.[23] Sularti, S., 2010, Kajian
KenyamananAudial pada Ruang Kuliah (Studi
KasusUniversitas Langlangbuana, Bandung), Jurusan Arsitektur, Fakultas
Teknik,Universitas Lalangbuana. http:lle-