• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL MARIA IVANA 17130043

N/A
N/A
Bunga Ervinasari

Academic year: 2025

Membagikan "JURNAL MARIA IVANA 17130043"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bandar Lampung

http://eskrispi.stkippgribl.ac.id/

PENGEMBANGAN LKPD BERBASIS ETNOMATEMATIKA DENGAN MOTIF TAPIS LAMPUNG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

PESERTA DIDIK KELAS VII SMP NEGERI 20 BANDAR LAMPUNG Maria Ivana,¹ Buang Saryantono,² Fitriana Rahmawati³

¹²³STKIP PGRI Bandar Lampung

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

Abstrak: Penelitian bertujuan untuk: (1) menghasilkan produk LKPD berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung untuk kelas VII SMP, (2) meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas VII menggunakan LKPD berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Adapun tahapan-tahapan dalam penelitian yaitu analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.

Validasi produk dilakukan oleh 6 dosen ahli yang sesuai dengan bidangnya.

Kemudian dilihat kepraktisan melalui respon peserta didik kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung dalam pembelajaran menggunakan produk LKPD. Hasil validasi ahli materi pada aspek kesesuaian materi dengan KD, keakuratan materi, keakuratan gambar, keurutan materi, serta aspek Etnomatematika dengan nilai rerata semua aspek yaitu 3,74 dengan kriteria valid. Validasi ahli media baik pada aspek desain sampul, materi, ilustrasi atau gambar dan daya tarik memperoleh nilai rerata yaitu 3,66 dengan kriteria cukup valid. Validasi ahli bahasa pada aspek ketepatan struktur kalimat, pemahaman terhadap pesan dan informasi memperoleh nilai rerata dengan nilai 3,03 dengan kriteria valid. Setelah menggunakan LKPD yang telah dikembangkan kemampuan pemecahan masalah mengalami peningkatan, hal ini dilihat dari hasil postes yang dilakukan kepada peserta didik yang berjumlah 30 peserta didik mencapai kriteria kemampuan pemecahan masalah dengan kriteria baik sebesar 77%. Dengan demikian LKPD berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung pada materi segiempat dan segitiga untuk kelas VII layak digunakan sebagai bahan ajar.

Kata kunci: pengembangan, lkpd, etnomatematika, tapis lampung

Abstract: The research aims to: (1) produce Ethnomathematical-based LKPD products with the tapis Lampung motif for grade VII SMP, (2) improve the problem solving abilities of seventh grade students using Ethnomathematics-based LKPD with tapis Lampung motifs. This type of research is development research. The stages in the research are analysis, design, development, implementation, and evaluation. Product validation is carried out by 6 expert lecturers in accordance with their fields. Then seen the practicality through the responses of class VII students of SMP Negeri 20 Bandar Lampung in learning to use LKPD products. The results of material expert validation on the aspects of the suitability of the material with KD, material accuracy, image accuracy, material order, and ethnomathematics aspects with the average value of all aspects of 3.74 with valid criteria. Validation of media experts both in the

(2)

aspects of cover design, material, illustrations or images and attractiveness obtained an average value of 3.66 with quite valid criteria. The validation of linguists on aspects of sentence structure accuracy, understanding of messages and information obtained an average value of 3.03 with valid criteria. After using the LKPD, the problem-solving ability has increased, this can be seen from the results of the post-test conducted to 30 students who achieved the criteria for problem-solving ability with good criteria of 77%. Thus the Ethnomathematics-based LKPD with the tapis Lampung motif on the material of rectangles and triangles for class VII is feasible to be used as teaching material.

Keywords: development, LKPD, ethnomathematics, tapis lampung

PENDAHULUAN

Matematika adalah salah satu bidang ilmu yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia sekaligus memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. Matematika diperlukan peserta didik sebagai dasar dalam proses memahami konsep, berhitung, memecahkan masalah sehari-hari dan menerapkan matematika dalam bidang pelajaran yang lainnya atau dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Pembelajaran matematika menuntut peserta didik memiliki kemampuan berpikir kreatif, mandiri, inovatif sehingga dapat berguna dalam memecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Tempat tinggal dapat mempengaruhi matematika seseorang karena yang mereka lakukan berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan. Salah satu yang dapat mereka rasakan dan lihat adalah budaya, oleh karena itu matematika memiliki hubungan yang erat dengan budaya, hal ini karena budaya akan mempengaruhi prilaku individu yang mempunyai peranan yang sangat besar pada perkembangan pemahaman individu, termasuk pembelajaran matematika.

Berbagai kemampuan diintegrasikan dalam pembelajaran ini, salah satunya adalah kemampuan pemecahan masalah matematika. Kemampuan ini

adalah kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah melalui beberapa prosedur penyelesaian dimana pemecahan masalah ini dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Kepemilikan kemampuan pemecahan masalah membantu peserta didik berpikir secara runtut dalam membuat keputusan dalam kehidupan sehari- hari dan membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam situasi baru (Hendriana, dkk, 2016).

Dengan demikian kemampuan pemecahan matematika sangat penting bagi peserta didik.

Kenyataan yang terjadi, dalam proses pembelajaran matematika ada beberapa kendala yang harus dihadapi oleh guru dan peserta didik terkait kemampuan ini. Seperti yang terjadi pada kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung. Dari hasil wawancara dengan guru matematika kelas VII serta dukungan fakta pra-penelitian yang penulis temukan terdapat kendala belum maksimalnya kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah matematika. Peserta didik mengganggap bahwa penggunaan konsep pembelajaran pada masalah matematika adalah hal yang sulit.

Dari hasil pra-penelitian yang dilaksanakan menunjukan bahwa rata- rata kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik masih belum

(3)

Maria Ivana, Buang Saryantono, Fitriana Rahmawati

3 optimal dan mendukung fakta di atas.

Peserta didik jika diberikan soal yang menuntut kemampuan analisis lebih lanjut terlihat kesulitan.

Peserta didik kelas VII di SMP Negeri 20 Bandar Lampung pada umumnya mempunyai respon yang kurang terhadap materi yang disampaikan oleh guru yang berakibat capaian hasil belajar matematika pada kelas VII juga kurang optimal. Ketertarikan peserta didik kurang terarah pada hal-hal yang menunjukan manfaat mempelajari matematika.

Anggapan bahwa matematika abstrak masih tertanam pada peserta didik, berdasarkan analisis penulis salah satu sebab munculnya anggapan ini dikarenakan lembar kegiatan peserta didik selama ini kurang memunculkan masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan peserta didik.

Lembar kerja peserta didik hanya dimanfaatkan sebagai wadah untuk berlatih mengerjakan soal semata.

Meskipun konsep pada kurikulum saat ini bertentangan dengan yang terjadi pada peserta didik kelas VII ini. Lembar kerja hanya terbatas pada buku pegangan peserta didik, yang tentunya aktivitas peserta didik sangat terbatas karena memuat seluruh materi ajar.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik adalah dengan menggunakan lembar kerja yang sesuai, yang mampu mengantarkan pemahaman peserta didik pada materi ajar matematika yang luas dan kaya manfaat bagi kehidupan peserta didik.

Selama ini di kelas VII, lembar kerja yang digunakan belum sepenuhnya mengubah pola pikir peserta didik akan manfaat matematika.

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berisikan materi, petunjuk pengerjaan

tugas yang harus diselesaikan peserta didik yang dapat menuntut aktivitas pembelajaran peserta didik. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dikembangkan oleh guru dirasa memiliki pengaruh yang baik untuk perkembangan peserta didik hal ini dikarenakan pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.

Alasan-alasan di atas, yang mendorong penulis untuk mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Etnomatematika. Alasan memilih Etnomatematika, karena masalah budaya adalah masalah yang dekat dengan peserta didik serta ditengah perkembangan teknologi pendidikan, kurikulum pendidikan pun menuntut adanya keterlibatan budaya dalam pembelajaran matematika di sekolah agar peserta didik menjadi generasi penerus yang berkarakter serta mampu melestarikan budaya bangsa sebagai identitas.

Selain itu mamfaat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Etnomatematika menjadikan peserta didik lebih banyak mengenal kebudayaan sendiri serta dapat menginterpretasikan budaya dalam pembelajaran. Penggunaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ini selain menjadikan pembelajaran kontekstual juga dapat menumbukan nilai karakter.

Penggunaan unsur budaya untuk diintegrasikan dalam pembelajaran akan lebih baik apabila dilakukan mulai dari budaya yang ada dilingkungan sekitar. Salah satu budaya lokal yang terdapat di Lampung adalah tapis Lampung. Tapis Lampung adalah kain tapis yang ditenun atau dipatok dari benang sutera, kapas, atau serat nanas.

Dalam tapis Lampung terdapat banyak motif yang dapat diintergrasikan dalam pembelajaran matematika. Motif tapis

(4)

4

Lampung dipilih, karena berhubungan dengan pola-pola dan bentuk-bentuk pada materi geometri yaitu segitiga dan segiempat, dan dapat digunakan sebagai konsep pemecahan masalah matematika karena pola dan bentuknya yang sama dengan bangun datar. Tentu hal ini dapat mengasah kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik.

Uraian di atas, yang melatar belakangi penulis untuk mengkaji permasalahan tersebut dalam penelitian dengan judul

“Pengembangan LKPD Berbasis Etnomatematika dengan Motif Tapis Lampung untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Peserta Didik Kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung”

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui prosedur pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik SMP kelas VII.

2. Mengetahui kualitas Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan motif tapis Lampung yang dilihat dari aspek kevalidan, kepraktisan dan keefektifan bahan ajar.

KAJIAN TEORI

Penelitian Pengembangan

Richey dan Kelin (Sugiyono, 2019:395) dalam bidang pembelajaran menyatakan bahwa penelitian ini sekarang dinamakan Design and Development Research. Perencanaan dan penelitian pengembangan adalah kajian yang sistematis tentang bagaimana membuat rancangan suatu produk, mengembangkan atau memproduksi rancangan tersebut, dan

mengevaluasi kinerja produk tersebut, dengan tujuan dapat diperoleh data yang empiris yang dapat digunakan sebagai dasar untuk membuat produk, alat-alat dan model yang dapat digunakan dalam pembelajaran dan nonpembelajaran.

Sa’adah dan Wahyu (2020:12) menambahkan bahwa penelitian dan pengembangan merupakan suatu masalah atau produk yang diteliti bukan hanya produk yang bener-benar baru, akan tetapi boleh meneliti produk yang sudah ada kemudian dikembangkan dan dikaji ulang untuk menghasilkan tingkat keefektifan dan kebermanfaatan yang lebih dari tahapan sebelumnya.

desain pengembangan dalam menyusun bahan ajar yaitu model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Sesuai dengan namanya, model ini terdiri dari lima tahap, yaitu analysis (analisis), design (desain),development (pengembangan), implementation (implementasi), dan evaluation (evaluasi). Penjelasan dari kelima tahap ADDIE (Tegeh, dkk, 2014:42-43) tersebut diuraikan sebagai berikut:

1. Analisis

Pada langkah analisis ditetapkan sebagai tujuan pengembangan bahan ajar melalui analisis kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran. Selain itu, tahap analisis dilakukan pula melalui analisis kurikulum. Melalui analisis kurikulum, tujuan pengembangan bahan ajar akan lebih terperinci melalui analisis SK dan KD yang ditetapkan. Hasil analisis SK dan KD inilah yang akan dijadikan sebagai bahan untuk melakukan tahap berikutnya

2. Desain

(5)

Maria Ivana, Buang Saryantono, Fitriana Rahmawati

5 Pada tahap ini, hal mendasar yang

perlu dilakukan adalah penentuan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Selanjutnya, hal-hal yang dilakukan adalah penentuan metode, strategi, pendekatan, dan jenis bahan ajar yang akan dipakai dalam proses pembelajaran. Penentuan unsur-unsur yang perlu dikembangkan dalam penyusunan bahan ajar juga merupakan bagian dalam tahap desain ini. Rancangan struktur bahan ajar menjadi hasil akhir tahap kedua dalam model pengembangan ADDIE.

3. Pengembangan

Dalam tahap ini, hal-hal yang dilakukan adalah memproduksi bahan ajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Selanjutnya, dilakukan penilaian terhadap bahan ajar yang telah selesai diproduksi sebelum diimplementasikan lebih lanjut.

4. Implementasi

Tahap ini merupakan proses pembelajaran sesungguhnya dengan menerapkan metode, strategi, dan pendekatan yang telah ditetapkan.

Penggunaan bahan ajar dalam proses pembelajaran menjadi inti dari tahap keempat dalam model pengembangan ADDIE.

5. Evaluasi

Tahap ini dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari bahan ajar yang telah dikembangkan dan diimplementasikan. Tujuan dari tahap evaluasi adalah untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran (metode, strategi, pendekatan, dan bahan ajar) secara keseluruhan dan peningkatan kompetensi peserta didik yang merupakan dampak dari keikut-sertaan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan uraian di atas, penelitian dan pengembangan merupakan proses atau metode yang digunakan untuk

mengembangkan suatu produk baik produk baru ataupun produk yang telah ada, kemudian diuji keefektifitasannya dan manfaat dari produk yang dihasilkan. Desain pengembangan dalam menyusun bahan ajar yang dalam hal ini adalah Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yaitu menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation).

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Menurut Trianto (Noer, 2018:93) Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) adalah panduan peserta didik yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan pemecahan masalah.

Sementara menurut Trianto (Khasanah 2018:60) Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) merupakan merupakan sejenis handout yang dimaksudkan untuk membantu mengarahkan peserta didik dalam belajar, berupa bahan cetak yang didesain untuk latihan, dapat disertai pertanyaan untuk dijawab, daftar isian atau diagram untuk dilengkapi.

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) atau student work sheet berisikan tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembaran kegiatan ini terdiri dari petunjuk atau langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas dan tugas itu harus jelas kompetensi dasar yang ingin dicapai (Diknas dalam Fairuz, dkk, 2020:31).

Fungsi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) menurut Noer (2018:94) adalah:

1) Panduan belajar peserta didik.

2) Memudahkan peserta didik peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran.

3) Memudahkan guru melakukan pembelajaran.

Menurut Sulistyorini, dkk (2018:26) kelebihan bahan ajar berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yaitu:

(6)

6

a. Memudahkan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran.

b. Menjadikan peserta didik akan belajar mandiri.

c. Peserta didik belajar memahami serta menjalankan suatu tugas tertulis.

Sulistyorini, dkk (2018:26) menyatakan, bahwa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) juga memiliki kekurangan diantaranya:

a. Jika petunjuk penggunaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) kurang sesuai, maka peserta didik akan kesulitan menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) tersebut.

b. Pembuktian secara langsung dengan melakukan praktikum dan percobaan membutuhkan alat-alat yang memadahi dan waktu yang panjang.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) adalah lembar kerja peserta didik yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik yang tidak hanya berisi tentang soal namun berisi materi, ringkasan, dan petunjuk pelaksanaan tugas sehingga peserta didik dapat mencapai kompetensi dasar yang disajikan.

Etnomatematika

Etnomatematika dapat dipahami sebagai suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara matematika dan budaya. Jika ditinjau dari sudut pandang riset, maka Etnomatematika didefinisikan sebagai antropologi budaya (cultural antrophology of mathematics) dari matematika dan pendidikan matematika (Rudhito 2019:202).

Etnomatematika memiliki pengertian yang lebih luas dari hanya sekedar etno (etnis) atau suku. Hiebret dan Capenter (Rudhito, 2019:201) mengingatkan kepada semua pihak bahwa pengajaran matematika di sekolah dan matematika yang ditemukan anak dalam kehidupan sehari-hari sangat berbeda. Oleh sebab itu, pembelajaran matematika sangat perlu memberikan muatan dan menjembati antara matematika dalam dunia sehari-hari yang berbasis pada budaya lokal dengan matematika sekolah.

Pembelajaran matematika dapat berkaitan dengan budaya dan pengalaman sehari-hari peserta didik dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami konsep matematika. Suatu studi untuk meneliti hubungan antara matematika dan budaya adalah Etnomatematika.

Wahyuni, dkk dalam Rudhito (2019:148) menyatakan bahwa salah satu yang memjembatani antara budaya dan pendidikan matematika adalah Etnomatematika.

Tujuan dari kajian tentang Etnomatematika (Dimpadus dan Huriding, 2019:113) adalah:

1. Agar keterkaitan antar matematika budaya biar lebih dipahami, sehingga persepsi peserta didik dan masyarakat tentang matematika menjadi lebih tepat dan pembelajaran matematika dapat lebih disesuaikan dengan konteks budaya peserta didik dan masyarakat, dan matematika dapat lebih mudah dipahami karena tidak lagi diapresiasikan sebagai suatu yang asing oleh peserta didik dan masyarakat.

2. Agar aplikasi dan manfaat matematika bagi kehidupan peserta

(7)

Maria Ivana, Buang Saryantono, Fitriana Rahmawati

7 didik dan masyarakat luas lebih

dapat dioptimalkan sehingga peserta didikdan masyarakat memperoleh manfaat optimal dari pembelajaran matematika.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat penulis simpulkan bahwa Etnomatematika merupakan integrasi matematika dengan kearifan lokal kelompok setempat melalui suatu aktifitas yang dapat memberikan muatan dan menjembati antara matematika dalam dunia sehari-hari yang berbasis pada budaya lokal dengan matematika sekolah, sehingga dapat memotivasi peserta didik dan memberikan nuansa baru dalam belajar matematika. Budaya lokal yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah tapis Lampung.

Tapis Lampung

Menurut Khasanah (2018:61) tapis adalah kain tapis yang ditenun atau dipatok dari benang sutera, kapas, atau serat nanas. Tenunan kain pada zaman dahulu menggunakan tangan. Kain yang dihasilkan itu disulam dengan benang emas atau benang perak sulam polos dengan berbagai motif. Motif dan benang yang digunakan akan menunjukan nama dari tapis Lampung.

Susanto (Loviana, dkk, 2020:99) menambahkan bahwa kain tapis Lampung merupakan pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung yang terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak, atau benang emas dengan sistem sulam dan menjadi pakaian khas Lampung dengan tujuan pemenuhan kebutuhan adat Lampung yang dianggap sakral.

Menurut Lestari dalam Isbandiah &

Supriyanto (2019:30) tapis adalah sejenis kain sarung yang digunakan oleh masyarakat Lampung terutama

oleh para gadis dan wanita suku Lampung. Seiring perkembangan zaman, motif kain tapis Lampung beragam dari berbagai kabupaten berbeda di daerah Lampung.Motif- motif ini ternyata memiliki bentuk- bentuk pada kajian geometri.Inilah mengapa, tapis dapat digunakan sebagai media pengenalan konsep matematika.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa tapis Lampung merupakan kerajinan tradisional masyarakat Lampung yang terbuat dari benang emas atau perak dan biasanya dipakai oleh wanita suku Lampung sebagai lambang untuk menyelaraskan kehidupan masyarakat Lampung, baik dengan lingkungannya maupun dengan Sang Pencipta.Kain ini memiliki banyak motif yang dapat dijadikan media pengenalan konsep geometri. Motif dari jenis tapis tersebutlah yang di manfaatkan pada produk LKPD yang dikembangkan guna mengenalkan konsep geometri, yaitu pada bangun datar segiempat dan segitiga.

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Polya (Hendriana, dkk, 2016:33) mendefinisikan bahwa pemecahan masalah merupakan usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu mudah segera dicapai.

Pemecahan masalah merupakan proses intelektual dan keterampilan intelektual yang paling kompleks.

Pemecahan masalah tidak hanya didefinisikan sebagai pemecahan masalah dalam bidang matematika.

Pemecahan masalah merupakan sebuah tugas kompleks yang melibatkan lebih dari sekedar pengulangan ingatan sederhana dari sebuah fakta atau aplikasi dari

(8)

8

prosedur/tahapan yang telah dipahami (Sutrisno AB, 2019:17). Kemampuan pemecahan masalah berarti melibatkan kecakapan menerapkan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya kedalam situasi yang belum dikenal dengan usahanya sendiri pemecahkan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Noviyana, 2019:45).

Polya (1973:xvi dalam Amam, 2017:43) mengemukakan indikator pada tiap langkah pemecahan masalah melalui pernyataan berikut:

1. Memahami masalah (understanding the problem)

2. Membuat rencana penyelesaian (devising a plan).

3. Melakukan perhitungan (carrying out the plan)

4. Memeriksa kembali proses dan hasil (looking back).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika adalah kemampuan peserta didik untuk dapat menyelesaikan masalah matematika dengan kemampuannya sendiri yang disertai dengan adanya strategi. Dalam penelitian ini digunakan untuk indikator kemampuan pemecahan masalah matematika menurut pendapat Polya.

METODE

JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji kualitas produk tersebut.

Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah lembar kerja

peserta didik (LKPD) berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung pada materi segitiga dan segiempat.

Model Penelitian

Model Penelitian pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Education).

PROSEDUR PENELITIAN

Pengembangan lembar kerja peserta didik dengan pendekatan PMRI dilaksanakan melalui beberapa tahap.

Tahapan yang harus dilalui sebagai berikut:

1. Tahap Analisis(Analysis)

Beberapa hal yang dilakukan dalam tahap analisis sebagai berikut.

a. Analisis kebutuhan peserta didik kelas VII untuk mengetahui perkembangan kognitif siswa dalam belajar matematika, perangkat pembelajaran yang digunakan peserta didik.

b. Analisis kurikulum matematika SMP kelas VII pada materi Segitiga dan Segiempat.

2. Tahap Desain (Design)

Hal- hal yang dilakukan dalam tahap desain adalah membuat peta kebutuhan lembar kerja peserta didik, menentukan struktur lembar kerja peserta didik, menyusun instrumen penelitian, dan validasi instrumen penelitian oleh dosen ahli.

3. Tahap Pengembangan

(Development)

Hal – hal yang dibutuhkan dalam tahap pengembangan adalah petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang harus disiapkan, penulisan lembar kerja peserta didik, dan validasi lembar kerja

(9)

Maria Ivana, Buang Saryantono, Fitriana Rahmawati

9 peserta didik oleh ahli materi, ahli

media, dan ahli bahasa.

4. Tahap Implementasi

(Implementation)

Tahap ini merupakan langkah untuk menguji-cobakan lembar kerja peserta didik yang telah dikembangkan. Bahan ajar diuji- cobakan kepada peserta didik SMP kelas VII.

a. Subjek Uji Coba

Subjek uji coba dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung .

b. Teknik Uji Coba

Tahapan uji coba yang dilakukan dalam penelitian ini berupa pembelajaran

matematika dengan

menggunakan lembar kerja peserta didik yang

dikembangkan dan

pelaksanaan postes untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah setelah mengikuti pembelajaran.

5. Tahap Evaluasi (Evaluation)

Tahap evaluasi merupakan tahap penelitian terhadap pengembangan lembar kerja peserta didik diliat dari kelayakan isi, penyajian, buku, dan kegrafikaan untuk mengetahui kualitas lembar kerja peserta didik yang dikembangkan. Selain itu, di tahap ini dilakukan pola penelitian terhadap efektivitas bahan ajar dalam memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah peserta didik.

Data hasil evaluasi bahan ajar berupa tanggapan dan saran dari ahli meteri, ahli media, dan ahli bahasa dirangkum dan disimpulkan untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan perbaikan terhadap lembar kerja peserta didik yang telah disusun sebelum diuji- cobakan. Sementara itu, data hasil evaluasi berupa tanggapan dan saran

dari peserta didik dijadikan pertimbangan untuk perbaikan bahan ajar setelah diuji-cobakan.

Data hasil validasi terhadap terhadap pengembangan bahan ajar oleh ahli materi, ahli media, dan ahli bahasa, dan hasil pengisian angket respon peserta didik berupa data kuantitaf. Data kuantitatif tersebut diperoleh dengan memberikan skor pada hasil penyelesaian setiap butir soal yang dikerjakan peserta didik. penjelasan teknik analisis data diuraikan sebagai berikut.

Lembar penilaian bahan ajar untuk ahil materi, ahli media, ahli bahasa serta angket respon peserta didik diisi dengan ketentuan sesuai tabel berikut.

Tabel 1

Aturan Pemberian Skor Lembar penilaian Bahan Ajar Skor Kategori

1 Sangat tidak setuju 2 Kurang setuju

3 Setuju

4 Sangat setuju

Tabel 2

Aturan Pemberian Skor Angket Respon Peserta Didik Skor Kategori

1 Sangat tidak menarik 2 Kurang Menarik

3 Menarik

4 Sangat menarik 1. Rata-rata nilai setiap indikator

validasi dihutung dengan rumus berikut:

(10)

10

Keterangan :

Vji = data nilai validator ke-j terhadap indikator ke-i

n = banyak indikator

2. Rata-rata nilai setiap aspek dihitung dengan prosedur berikut:

Keterangan:

Ai = rerata nilai untuk aspek ke-i Iij = rerata untuk aspek ke-i indikator ke-j.

M = banyaknya indikator dalam aspek ke-i

3. Nilai Va atau nilai rata-rata semua aspek dihitung dengan rumus berikut:

Keterangan:

nilai rerata total semua aspek

rerata nilai untuk aspek ke-i banyak aspek

(Fierda Ria Fairuz ,2020:32) 4. Mengubah skor rata – rata seluruh

aspek menjadi nilai kualitatif sesuai dengan kriteria penilaian yang dijabarkan dalam tabel berikut:

Tabel 3 Kategori validitas No Skor kualitas Kriteria

kelayakan 1 Tidak valid 2 Kurang valid 3 Valid

4 Sangat valid Sumber: Hobrin (2010) dalam Fairuz, dkk (2020:32)

5. Kemudian untuk menghitung tingkat kepraktisan menggunakan rerata total ( ̅̅̅) dengan rumus:

̅̅̅ ∑ ̅̅̅

Keterangan:

̅̅̅ rereta aspek banyaknya aspek

Menentukan kategori tingkat kepraktisan ̅̅̅ dengan kriteria kepraktisan yang telah di tetapkan

Tabel 4

Kategori Kepraktisan No Rerata

penilaian para ahli

Kriteria

1 ̅̅̅ Sangat positif 2 ̅̅̅ Positif

3 ̅̅̅ Cukup positif 4 ̅̅̅ Tidak positif Data hasil postes kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik diperoleh dari hasil penskoran kemampuan pemecahan masalah pada jawaban peserta didik.

Kemudian nilai kemampuan pemecahan masalah yang diperoleh dari perhitungan kemudian di kualifikasikan sesuai dengan tabel berikut ini (Mawaddah & Anisah, 2015:170):

Tabel 5

Kriteria Kemampuan Pemecahan Masalah Peserta Didik No Nilai Kualifikasi 1 85,00-100 Sangat baik 2 70,00-

84,99 Baik

3 55,00- Cukup

(11)

Maria Ivana, Buang Saryantono, Fitriana Rahmawati

11 69,99

4 40,00-

54,99 Kurang

5 0-39,99 Sangat kurang

Spesifikasi Produk yang diharapkan Produk yang berupa bahan ajar berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung untuk memfasilitasi pencapain literasi matematika berupa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII mempunyai spesifikasi sebagai berikut:

1) Produk yang dihasilkan media cetak berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) pada materi Segitiga dan Segi empat berbasis Etnomatematikadengan motif tapis Lampung untuk kelas VII SMP dengan syarat sebagai bahan ajar yang baik.

2) Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Etnomatemtaika dengan motif tapis Lampung dibuat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

3) Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Etnomatematika dibuat dengan memasukan unsur budaya daerah setempat siswa yang dalam hal ini adalah tapis Lampung dalam pembelajaran matematika.

Indikator keberhasilan

Pengembangan ajar berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dikatakan berhasil apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :

1) Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Etnomatematika dengan motif tapis Lampung yang dikembangkan memenuhi kategori

“Baik” menurut kriteria penilaian

pada tabel 1, 2, 3, dan 4 dilihat dari keseluruhan komponen kelayakan isi, komponen bahasa, komponen penyajian, dan komponen kegrafikan.

2) Penggunaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Etnomatematika dengan motif tapis Lampung efektif dalam memfasilitasi pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik dengan kategori minimal “Baik” menurut acuan pada Tabel 5.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tahapan Pengembangan Model ADDIE

Pengembangan bahan ajar cetak menggunakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) bangun datar segitiga dan segiempat melalui beberapa tahap pengembangan yaitu menggunakan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari lima tahapan yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation dengan tahapan yang telahb dilaksanakan sebagai berikut.

Analisis

Kegiatan dalam langkah awal pengembangan yaitu dengan menganalisis kebutuhan siswa pada materi bangun datar segitiga dan segiempat. Analisis kebutuhan dilakukan dengan menganalisis silabus yang diperinci dengan analisis kebutuhan akademis siswa pada materi segiempat sesuai dengan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar serta Indikator sebagai berikut:

1) Mengetahui pengertian persegi panjang, persegi, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang dan trapesium.

2) Menurunkan dan menghitung keliling dan luas persegi panjang, persegi, jajargenjang, belah

(12)

12

ketupat, layang-layang dan trapesium.

3) Mengetahui pengertian segitiga.

4) Menurunkan dan menghitung keliling dan luas segitiga.

5) Belum maksimalnya kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah matematika.

6) Peserta didik menggangap bahwa penggunaan konsep pembelajaran pada masalah matematika adalah hal yang sulit.

7) Peserta didik jika diberikan soal yang menuntut analisis lebih lanjut terlihat kesulitan.

8) Peserta didik mempunyai respon yang kurang terhadap materi yang disampaikan.

9) Anggapan matematika abstrak masih tertanam pada peserta didik Desain

Setelah melakukan analisis dan mengumpulkan data maka selanjutnya adalah desain produk. Ada beberapa hal yang dilakukan dalam tahap desain produk pengembangan LKPD berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung untuk kelas VII. Langkah- langkah penyusunan desain produk ini, diantaranya menyesuaikan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta silabus berdasarkan kurikulum 2013 yang di sesuaikan dengan pembelajaran menggunakan Etnomatematika. LKPD berbasis Etnomatematika dengan motif Lampung menggunakan kertas Quarto dengan jarak spasi 1,5.

Adapun desain produk terdiri dari cover depan, halaman tim pengembang, kata pengantar, daftar isi. Lembar kerja peserta didik terdiri atas kompetensi dasar, indikator pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan petunjuk kegiatan, materi pembelajaran segiempat dan segitiga berbasis etnomatematika

dengan motif tapis Lampung. Kegiatan pembelajaran berupa soal-soal kontekstual berbasis Etnomatematika dan dalam kegiatan diskusi berupa soal-soal pemecahan masalah berbasis etnomatematika dengan indikator pemecahan masalah.

Developmen

Tahap ini yaitu peneliti merealisasikan desain yang telah dibuat menjadi suatu bahan ajar yang siap dipakai oleh siswa. Pada tahap ini peneliti melakukan evaluasi terhadap Lembar kerja peserta didik (LKPD) yang telah dibuat sebelum produk tersebut diimplemantasikan kepada siswa.

Lembar kerja peserta didik (LKPD) dievaluasi oleh ahli materi, ahli media, dan ahli bahasa. Peneliti mengambil dua ahli materi yaitu ibu Hesti Noviyana, S.Pd., M.Pd., dan ibu Nurashri Partasiwi, S.Si.,M.Pd., dua ahli media yaitu ibu Arinta Rara Kirana, S.Pd., M.Pd., dan bapak Elvandri Yogi Pratama, M.,Pd dan dua ahli bahasa yaitu ibu Dian Permana Sari, S.Pd., M.Pd. dan ibu Nani Anggraini, M.,Pd.

Tujuan dari evaluasi Lembar kerja peserta didik (LKPD) tersebut untuk memperbaiki Lembar kerja peserta didik (LKPD) yang sedang dikembangkan.

Implemantasi

Setelah melakukan evaluasi media dan melakukan perbaikan-perbaikan, langkah selanjutnya yaitu Implementation. Kegiatan pada tahap ini yaitu mengimplementasikan LKPD yang telah dibuat kepada kelas eksperimen yaitu kepada kelas VII A yang berjumlah 30 orang. Pada tahap ini diperoleh data angket respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan LKPD berbasis etnomatematika segiempat dan segitiga. Setelah

melakukan pembelajaran

(13)

Maria Ivana, Buang Saryantono, Fitriana Rahmawati

13 menggunakan LKPD berbasis

Etnomatematika maka dilakukan posttest untuk melihat kemampuan pemecahan masalah peserta didik.

Hasil implementasi menunjukkan bahwa tingkat kepraktisan yang dilihat dari angket respon peserta didik menunjukan hasil yang positif dan hasil dari posttest yang dilakukan menunjukan bahwa sebagian besar peserta didik memperoleh nilai diatas 70 dengan kriteria baik.

Evaluasi

Langkah terakhir dari pengembangan ini adalah Evaluation. Sebenarnya evaluasi telah dilakukan pada tahap ketiga yaitu berupa evaluasi ahli untuk mengetahui kualitas modul, pada tahap ini diperoleh besarnya respon siswa terhadap lembar kerja peserta didik (LKPD) yang dikembangkan terhadap kepraktisan termasuk kriteria positif.

DESKRIPSI DATA

Perbaikan desain LKPD 1. Validasi Ahli Materi

Validasi materi bertujuan untuk menguji kesesuaian dengan kompetensi dasar dan kompetensi inti, serta kesesuain soal terhadap kemapuan yang akan diujikan.

Adapun, validator materi adalah ibu Hesti Noviyana, S.Pd., M.Pd., sebagai validator pertama dan ibu Nurashri Partasiwi, S.Si.,M.Pd., sebagai validator kedua.

Tabel 6

Hasil validasi Materi tahap 1 No Aspek Rata-rata

setiap aspek 1 Kesesuaian

materi dengan kompetensi dasar

3,33

2 Keakuratan

materi 3,20

3 Keakuratan

gambar 3,00

4 Keurutan materi 3,25 5 etnomatematika 3,30 Rata-rata total 3,22 Kriteria Valid

Tabel 7

Hasil validasi materi tahap 2 No Aspek Rata-rata

setiap aspek 1 Kesesuaian

materi dengan kompetensi dasar

3,83

2 Keakuratan

materi 3,60

3 Keakuratan

gambar 3,50

4 Keurutan materi 3,88 5 Etnomatematika 3,90 Rata-rata total 3,74 Kriteria Valid 2. Validasi Ahli Media

Validasi ahli media bertujuan untuk menguji penyajian LKPD berbasis etnomatematika dengan motif tapis Lampung. Ahlinya media yaitu ibu Arinta Rara Kirana, S.Pd., M.Pd., sebagai validator pertama dan bapak Elvandri Yogi Pratama, M.,Pd., sebagai validator kedua

Tabel 8

Hasil validasi madia tahap 1 No Aspek Rata-rata

setiap aspek 1 Desain sampul 3,42

2 materi 3,50

3 Ilustrasi/Gambar 3,40

4 Daya tarik 3,33

Rata-rata total 3,41 Kriteria Valid

(14)

14

Tabel 9

Hasil validasi madia tahap 1 No Aspek Rata-rata

setiap aspek 1 Desain sampul 3,50

2 materi 3,75

3 Ilustrasi/Gambar 3,90

4 Daya tarik 3,50

Rata-rata total 3,66 Kriteria Valid 3. Validasi Ahli Bahasa

Validasi ahli bahasa bertujuan untuk menguji kelengkapan dari segi bahasa, kata, ketepatan kalimat, ketepatan menggunakan bahasa, dan ketepatan pengejaan kata dan kalimat pada LKPD. Adapun, validator ahli bahasa yaitu ibu Dian Permanasari, S.Pd., M.Pd. sebagai validator pertama dan ibu Nani Anggraini, M.,Pd. Sebagai validator kedua.

Tabel 10

Hasil validasi bahasa tahap 1 No Aspek Rata-rata

setiap aspek 1 Ketepatan

struktur bahasa 3 2 Pemahaman

terhadap pesan dan informasi

3

Rata-rata total 3 Kriteria Valid

Tabel 11

Hasil validasi bahasa tahap 2 No Aspek Rata-rata

setiap aspek 1 Ketepatan

struktur bahasa 3,10 2 Pemahaman

terhadap pesan dan informasi

3,00

Rata-rata total 3,05 Kriteria Valid

Respon Peserta Didik Terhadap Penggunaan Bahan Ajar LKPD

Pada penelitian ini, peneliti memperoleh data dari penyebaran angket yang diberikan kepada kelas eksperimen yang pembelajarannya menggunakan bahan ajar cetak LKPD.

Tujuan penyebaran angket tersebut adalah untuk mengetahui respon peserta didik terhadap penggunaan LKPD pada materi segiempat dan segitiga.

Angket respon peserta didik ini diisi oleh 30 responden dari peserta didik kelas VIIA SMP Negeri 20 Bandar Lampung. Hasil dari angket respon ini untuk menguji kepraktisan Lembar Kerja Peserta Didik.

Tabel 10

Hasil angket Respon Peserta Didik No Aspek Rata-rata

setiap aspek 1 Penyajian Materi 3,27

2 Tampilan 3,31

3 Etnomatematika 3,31 Rata-rata total 3,30 Kriteria Positif Data Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Data kemampuan pemecahan masalah terhadap penggunaan bahan ajar LKPD berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung pada materi segitiga dan segiempat peserta didik diperoleh dari hasil tes yang diberikan kepada masing-masing peserta didik denga 5 butir soal esay menggunakan tahapan kemampuan pemecahan masalah dalam menyelesaikan soal tes tersebut.

(15)

Maria Ivana, Buang Saryantono, Fitriana Rahmawati

15 Tabel 10

Hasil posttest kemampuan pemecahan masalah No Nilai Jumlah

siswa Kualifikas i 1 85,00-

100 7 Sangat

baik 2 70,00-

84,99 16 Baik

3 55,00-

69,99 5 Cukup

baik 4 40,00-

54,99 2 Kurang 5 0-39,99 - Sangat kurang

Dari tabel dapat kita simpulkan bahwa sebagian besar peserta didik dikatakan tuntas dengan adanya LKPD berbasis etnomatematika dengan motif tapis lampung dan sebagian beser peserta didik telah mendapatkan nilai dengan kriteria kemampuan pemecahan masalah pada kriteria baik.

PEMBAHASAN

Hasil pengembangan produk yang baik ditentukan dari kualitas hasil pengembangannya. Nieveen (1999) menyatakan bahwa kualitas hasil penelitian pengembangan ditentukan oleh beberapa kriteria yaitu kevalidan (validity), kepraktisan (practically), dan keefektifan (effectiveness) (Rochmad, 2012:68). Pada penelitian dan pengembangan ini kualitas Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) di lihat dari segi validitas, kepraktisan dan efektifitas. Aspek kevalidan ditinjau dari segi materi, media, dan bahasa. Untuk aspek kepraktisan dilihat dari respon peserta didik setelah menggunakan LKPD berbasis Etnomatematika. Sedangkan, untuk aspek keefektifan dilihat dari hasil

posttest peserta didik yang diberikan soal setelah dilaksanakan pembelajaran menggunakan LKPD berbasis Etnomatematika.

Validasi ahli materi dilakukan berdasarkan karakteristik-karakteristik Lembar kerja peserta didik melalui aspek kesesuaian materi dengan kompetensi dasar, keakuratan materi, keakuratan gambar, keurutan materi, dan Etnomatematika. Pada validasi materi, secara keseluruhan terdapat 20 butir pertanyaan yang terbagi dalam 5 aspek. Konversi skor pada validasi ahli materi menggunakan teori Liker skala 4 dengan skor maksimal pada setiap pernyataan adalah 4 dan skor minimalnya adalah 1. Hasil dari validasi ahli yang diperoleh kemudian dicari untuk memperoleh nilai rata-ratanya.

Hasil dari seluruh rata-rata aspek adalah 3,74 dan sesuai tabel 3 maka hasil validasi materi mendapatkan skor dalam kriteria valid. Dari hasil tersebut terlihat bahwa menurut ahli materi isi LKPD disampaikan sesuai dengan kompetensi dasar yang disajikan, keluasan materi sesuai dengan kompetensi dasar, dalam hal keakuratan materi soal-soal yang disajikan dalam Lembar kerja peserta didik relevan dengan materi, contoh soal yang disajikan berdasarkan kehidupan sehari-hari, dan soal-soal yang terdapat dalam LKPD membantu peserta didik mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematika. Dalam hal keakuratan gambar dalam LKPD telah sesuai dengan materi yang disampaikan.

Dalam hal keurutan materi materi disajikan secara urut mulai dari pemberian masalah sampai dengan penyelesaian masalah dan memberikan kesimpulan materi disusun secara runtut dan sistematis. Dalam hal etnomatematika peserta didik disajikan materi dengan gambar

(16)

16

gambar yang menggunakan tapis lampung sehingga mengenalkan peserta didik dengan budaya, bahwa budaya dapat dijadikan konsep matematika, mengenalkan bahwa motif tapis lampung dapat dijadikan objek pembelajaran matematika. Selain itu respon peserta didik mengenai materi LKPD yaitu bahwa materi mudah dipahami, menarik karena disusun secara runtut dan sistematis, dapat membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan matematika, dan contoh soalnya mudah dipahami.

Validasi ahli media dilakukan berdasarkan karakteristik-karakteristik Lembar kerja peserta didik melalui aspek desain cover, materi, gambar/ilistrasi, dan data tarik. Pada validasi media, secara keseluruhan terdapat 18 butir pertanyaan yang terbagi dalam 4 aspek. Konversi skor pada validasi ahli media menggunakan teori Liker skala 4 dengan skor maksimal pada setiap pernyataan adalah 4 dan skor minimalnya adalah 1.

Hasil dari validasi ahli yang diperoleh kemudian dicari untuk memperoleh nilai rata-ratanya. Hasil dari seluruh rata-rata aspek adalah 3,66 dan sesuai tabel 3 maka hasil validasi media mendapatkan skor dalam kriteria valid. Dari hasil tersebut terlihat bahwa menurut ahli media tampilan LKPD disampaikan dalam hal desain sampul menggambarkan materi yang akan disampaikan dalam LKPD, pemilihan warna sampul dalam LKPD sesuai, tidak menggunakan terlalu banyak kombinasi jenis huruf dan pemilihan tata letak pada sampul menarik. Dalam hal penyampaian materi yang disajikan penggunaan variasi huruf tidak berlebihan dan spasi antar baris pada materi normal. Pada tampilan gambar

sesuai dengan materi pada LKPD, ilustrasi gambar memudahkan peserta didik dalam memahami pembelajaran, gambar dalam LKPD terlihat jelas, dan tata letak dalam LKPD sesuai. Dalam hal daya tarik tampilan LKPD tata letak dan gambar pada lkpd menarik, LKPD dapat dijadikan bahan penggunaan warna dan gambar lebih menarik minat pembelajaran peserta didik. Selain itu respon peserta didik mengenai tampilan dalam LKPD menarik dalam hal desain sampul menggambarkan materi yang akan disajikan jadi peserta didik dengan melihat cover LKPD sudah mengerti materi yang akan dipelajari, teks dan tulisan dalam LKPD mudah dibaca serta pemilihan jenis huruf dan ukuran huruf sesuai sehingga mempermudah peserta didik dalam hal belajar, sedangkan, dalm unsur etnomatematika menarik karena melalui pembelajaran peserta didik dikenalkan dengan budaya, peserta didik lebih mengetahui bahwa tapis memiliki banyak motif yang berbentuk segitiga dan segiempat yang dapat dijadikan objek pembelajaran matematika, sehingga dapat menamankan nilai budaya dalam diri peserta didik dan dapat melestarikan budaya sehingga sesuai dengan pembelajaran pada kurikulum 2013 yang menuntuk pembelajaran untuk mengenalkan peserta didik dengan lingkungan sekitar salah satunya budaya.

Validasi ahli bahasa dilakukan berdasarkan karakteristik-karakteristik Lembar kerja peserta didik melalui aspek ketepatan struktur bahasa, dan pemahaman terhadap pesan dan informasi. Pada validasi bahasa, secara keseluruhan terdapat 8 butir pertanyaan yang terbagi dalam 2 aspek.

Konversi skor pada validasi ahli bahasa

(17)

Maria Ivana, Buang Saryantono, Fitriana Rahmawati

17 menggunakan teori Liker skala 4

dengan skor maksimal pada setiap pernyataan adalah 4 dan skor minimalnya adalah 1. Hasil dari validasi ahli yang diperoleh kemudian dicari untuk memperoleh nilai rata-ratanya.

Hasil dari seluruh rata-rata aspek adalah 3,05 dan sesuai tabel 3 maka hasil validasi bahasa mendapatkan skor dalam kriteria valid. Dari hasil tersebut terlihat bahwa menurut ahli bahasa bahwa bahasa dalam hal ketepatan struktur bahasa yang digunakan dalam LKPD memiliki struktur kalimat yang sesuai, kalimat mudah dipahami, dan kalimat pada LKPD efektif. Dalam hal pemahamnan terhadap pesan dan informasi bahasa yang disajikan sesuai dengan perkembangan kognitif peserta didik. Menurut respon peserta didik bahasa yang di gunakan dalam LKPD mudah dipahami dan bahasanya ditak terlalu baku jadi sesuai dengan pemahaman peserta didik.

Kepraktisan suatu produk dapat ditentukan dari hasil penilaian pengguna atau pemakainya. Dalam penelitian ini untuk mengetahui tingkat kepraktisan Lembar Kerja Peserta Dididk (LKPD) peneliti melakukan penyebaran angket respon kepada peserta didik yang telah menggunakan produk. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung dikatakan praktis apabila angket respon peserta didik memperoleh respon positif dari peserta didik. Angket respon peserta didik ini disusun berdasarkan tiga aspek, yaitu penyajian modul, tampilan, dan Etnomatematika. Pada angket respon peserta didik terdapat 12 pertanyaaan yang terbagi dalam 3 aspek. Konvensi skor pada angket respon peserta didik menggunakan skala liker 4 dengan skror maksimal 4 dan skor minimal 1. Hasil angket

peserta didik kemudian dihitung rata- ratanya dan dilihat tingkat kepraktisan sesuai dengan tabel 4.

Dari hasil angket dapat dilihat pada aspek penyajian materi bahwa seraca keruntutan materi, cara menemukan rumus luas dan keliling segiempat dan segitiga , serta permasalahan matematika dapat membantu peserta didik dalam pembelajaran matematika.

Dalam aspek tampilan dapat dilihata dari tampilan cover yang telah menunjukan materi yang dibahas, pemilihan huruf dan ukuran huruf sesuai, tulisan mudah dibaca, dan gambar yang terdapat dalam LKPD terlihat jelas. Sedangkan, pada aspek etnomatematika sisiwa bisa mengenal motif tapis yang ternyata dapat dijadikan objek pembelajaran dalam matematika. Oleh karena itu, rerata keseluruhan dari 3 aspek tersebut adalah 3,30. Sehingga, respon peserta didik terhadap LKPD berbasis etnomatematika yang telah dikembangkan termasuk dalam kategori positif atau dapat dikatakan LKPD etnomatematika termasuk dalam kriteria praktis.

Setelah melihat aspek kepraktisan selanjutnya produk diuji tingkat keefektifannya dengan melakukan uji coba produk pada peserta didik.

Produk di uji cobakan kepada peserta didik SMP Negeri 20 Bandar Lampung kelas VII , untuk uji coba dilakukan di kelas VIIA secara daring pembelajaran dilakukan menggunakan grup whattshapp peserta didik melaksanakan pembelajar dalam 4 kali pertemuan. Pada akhir pertemuan peserta didik melaksanakan posttest untuk menguji kemampuan peserta didik pada tingkat kemampuan pemecahan masalah. Peserta didik diberikan soal essay sebanyak 5 soal dan hasil posttest diskor menggunakan tabel skorring kemampuan pemecahan

(18)

18

masalah sesuai dengan tabel 5.

Kemudian, hasil skor peserta didik diubah dalam bentuk nilai dan dikelompokkan sesua dengan tabel kriteria kemampuan pemecahan masalah sesuai tabel 6. Hasil dari postest menunjukkan bahwa sebanyak 23,3% tingkat kemampuan pemecahan masalahnya sangat baik, 53,3% tingkat kemampuan pemecahan masalahnya pada kualifikasi baik, 16,7% tingkat kemampuan pemecahan masalah pada kualifikasi cukup, dan 6,7% tingkat kemampuan pemecahan masalah pada kualifikasi kurang. Sehingga dapat disimpulkan dengan menggunakan lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis etnomatematika memenuhi aspek efektifitas karena sebagian besar siswa setelah melakukan posttest kemampuan pemecahan masalah mereka dalam kategori baik.

LKPD berbasis etnomatematika menjadikan peserta didik membangun pengetahuan matematikanya berdasarkan konteks real yang ada pada budaya sekitar kehidupaan peserta didik, dasar ini yang dijadikan konsep matematika. Pengetahuan yang dimiliki peserta didik pada akhirnya akan melekat lebih lama dan menghilangkan bahwa matematika itu abstrak. Pembelajaran matematika menggunakan LKPD etnomatematika terbukti menjadikan pengetahuan peserta didik lebih baik dan kemampuan pemecahan masalah peserta didik mengalami peningkatan hal ini karena dalam LKPD etnomatematika terdapat soal soal kemampuan pemecahan masalah.

Terlihat dari uji coba produk bahwa sebesar 77% peserta didik memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rewatus (2020) dan Fairuz (2020)

yang mendukung penelitian ini bahwa pembelajaran menggunakan LKPD berbasis Etnomatematika praktis dan efektif. Selain itu, LKPD dengan etnomatimatika menjadikan pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan peserta didik, karena yang dipelajari matematika yang didalamnya terdapat unsur budaya, dengan pembelajaran etnomatematika juga dapat memperkenalkan budaya daerah setempat. Hasil penelitian ini juga selarah dengan penelitian terdahulu tersebut. Dengan demikian memperkuat kesimpulan bahwa pengembangan LKPD berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung pada materi segitiga dan segiempat layak dijadikan media dan bahan ajar dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian dan pengembangan menggunakan Ethnomatika ini yaitu:

1. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung dikembangkan

menggunakan model

pengembangan Analisis, DDIE Branch pada mata pelajaran bangun datar segitiga dan segiempat untuk peserta didik pada SMP Negeri 20 Bandar Lampung.

2. LKPD berbasis Etnomatematika dengan motif tapis Lampung pada materi segitiga dan segiempat berkualitas dan layak digunakan sebagai bahan ajar ditinjau dari aspek kevalidan, kepraktisan, serta keefektifan dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta didik pada mata materi bangun datar segitiga dan segiempat. Hal ini terlihat dari hasil

(19)

Maria Ivana, Buang Saryantono, Fitriana Rahmawati

19 validasi yang seluruhnya

menyatakan valid, respon peserta didik menyatakan positif, dan hasil postes yang dilakukan pada peserta didik kelas VII guna mengukur kemampuan pemecahan masalah matematika mencapai nilai dengan kriteria baik sebesar 77% dari jumlah peserta didik dan penuingkatan dari hasil tes sebelumnya.

SARAN

Pengembangan LKPD ini masih memerlukan tindak lanjut agar diperoleh bahan ajar yang berkualitas dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Berikut ini adalah saran yang disampaikan.

1. Bagi penulis sebaiknya dapat mengembangkan LKPD berbasis etnomatematika dengan kajian budaya yang lain, agar menjadikan pembelajaran matematika dan budaya semakin dekat dengan siswa.

2. Bagi pembaca dapat melakukan pengembangan lebih lanjut terhadap bahan ajar terutama LKPD berbasis etnomatematika, supaya dapat menghasilkan produk yang inovatif untuk digunakan dalam pembelajaran.

3. Bagi guru dapat menerapkan LKPD berbasis etnomatematika ini dalam pembelajaran di dalam kelas sehingga peserta didik dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyelesaikan soal-soal menggunakan tahapan pemecahan masalah.

4. Dapat dijadikan sebagai referensi penanaman nilai budaya dalam penbelajaran matematika.

DAFTAR PUSTAKA

AB, J. Sutrisno. (2019). Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri.

Tangerang: Lembaga Literasi Dayak.

Dimpudus, A., dan Huringding, A.C.

(2019). ”Eksplosasi Etnomatematika Pada

Kebudayaan Suku Dayak Sebagai Sumber Belajar Matematika Di SMP Negeri 1 Linggang Bigung Kutai Barat”. Jurnal PRIMATIKA, 8, (2), 111-118.

Fairuz, R.F., Fajriah, N., dan Danaryanti, A. (2020). ”Pengembangan LKPD Materi Pola Bilangan Berbasis Etnomatematika Sasirangan di Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama”.Jurnal Pendidikan Matematika, 8, (1), 29-38.

Hendriana, dkk. (2016). ”Hard Skills Dan Soft Skills Matematika Peserta didik”. Bandung: STKIP Siliwangi Press.

Isbandiah, & Supriyanto. (2019).

Pendidikan Karakter Berbasis Budata Lokal Tapis Lampung Sebagai Upaya Memperkuat Identitas Bangsa”. Jurnal pendidikan sejarah dan riset sosial humaniora, 2, (1), 29-43.

Khasanah, B, A., dan Fadila, A. (2018).

Pengembangan LKPD Geometri Transformasi Dengan Motif Tapis Lampung”. Jurnal Edumath, 4,(2), 59-64.

Mawaddah, S., dan Anisah, H. (2015).

Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran generatif (generatif Learning) di SMP”.

Jurnal Pendidikan Matematika, 3, (2), 166-175.

(20)

20

Noer, Sri Hastuti. (2018). Desain Pembelajaran Matematika.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Noviyana, Hesti. (2019). ”Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VII”.Epsilon, 1, (2), 44-54.

Rewatus, Leton, & Suci. (2020).

Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik Berbasis Etnomatematika Pada Materi Segitiga Dan Segiempat”.Jurnal Pendidikan Matematika, 4, (02), 645-656.

Rudhito, M.A, dkk. (2019). Matematika Dalam Budaya. Kumpulan Kajian Etnomatematika. Yogyakarta:

Garudhawaca.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Sulistyorini, S., dkk. (2018).

Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Tematik Terpadu Mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Literasi Siswa SD Di Kota Semarang”. Jurnal Kreatif, 9, (1), 21-30.

Tegeh, I.M., Jampe, I.N., dan Pudjawan, K. (2014). Model Penelitian Pengembangan.Yogyakarta:Grah a Ilmu.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil respon siswa yang diperoleh melalui angket siswa pada saat uji coba menunjukkan bahwa kelima aspek komponen modul yang dikembangkan mendapatkan kriteria

kriteria „Valid” , pada aspek mendorong keingintahuan diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,3 dengan kriteria “valid” , pada aspek teknik penyajian diperoleh nilai

Kepraktisan modul dapat dilihat dari hasil analisis respon mahasiswa yang memuat tiga aspek penilaian yaitu tampilan, penyajian materi dan manfaat. Dari aspek tampilan

Hasil respon siswa yang diperoleh melalui angket siswa pada saat uji coba menunjukkan bahwa kelima aspek komponen modul yang dikembangkan mendapatkan kriteria

Hasil angket respon siswa dalam uji coba lebih luas memperoleh kriteria sangat layak dengan nilai keseluruan diperoleh adalah 229 dan rata-rata penilaian dan

Sepuluh item pernyataan pada angket respon meliputi : 1 Kemenarikan tampilan fisik lembar kerja siswa; 2 Kesistematisan urutan penyajian materi pada lembar kerja siswa; 3 Kemudahan

Rata-rata Persentase Kepraktisan Pedoman, LKPD, dan Multimedia Interaktif EPIC 5C Berbasis CBL Berdasarkan Angket Respon Guru dan Peserta Didik Responden Aspek yang Dinilai Kriteria

Kriteria Rata-Rata Skor Angket Respon Siswa Persentase Kategori 50% < X ≤ 100% Positif 0% < X ≤ 50% Negatif Hasil pengembangan berupa produk alat peraga media papan