1
JURNAL PENELITIAN TERKAIT TEORI KEPENDUDUKAN
Nega Ahmad 2201016102
Prodi S1 Ekonomi Pembangunan Universitas Mulawarman
“Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Pertumbuhan Penduduk di Indonesia”
(Ainy, Nurrochmah, and Katmawanti 2019)
Judul Jurnal Asli : HUBUNGAN ANTARA FERTILITAS, MORTALITAS, DAN MIGRASI DENGAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK Penulis : Hidayatul Ainy, Siti Nurrochmah, Septa Katmawanti
Penerbit : Jurnal Preventia Volume : Vol 4, No 1 Tahun : 2019
Link Akses : http://dx.doi.org/10.17977/um044v4i1p15-22
A. PENDAHULUAN
Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk dalam suatu wilayah atau negara dalam kurun waktu tertentu. Laju pertumbuhan penduduk adalah ukuran yang menunjukkan besarnya perubahan jumlah penduduk dalam persentase per tahun. Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh tiga komponen demografi, yaitu fertilitas, mortalitas, dan migrasi.
Fertilitas adalah jumlah kelahiran yang terjadi dalam suatu populasi dalam kurun waktu tertentu. Fertilitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain usia perkawinan, penggunaan kontrasepsi, status sosial ekonomi, pendidikan, agama, budaya, dan kesehatan reproduksi.
Mortalitas adalah jumlah kematian yang terjadi dalam suatu populasi dalam kurun waktu tertentu. Mortalitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain usia, jenis kelamin, penyakit, gizi, sanitasi, akses pelayanan kesehatan, dan lingkungan.
Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah atau negara ke wilayah atau negara lain dengan tujuan untuk menetap atau tidak. Migrasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dan lingkungan.
.
B. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam pembahasan ini adalah analisis data sekunder. Analisis data sekunder adalah metode penelitian yang menggunakan data yang telah dikumpulkan dan dipublikasikan oleh sumber yang terpercaya dan relevan dengan topik penelitian. Data-data yang digunakan dalam analisis data sekunder ini meliputi data sensus penduduk, data survei demografi dan kesehatan (SDKI), data statistik kependudukan dan keluarga berencana (SKKB), dan data migrasi internasional. Data-data tersebut dipilih berdasarkan kriteria kredibilitas, validitas, relevansi, dan aktualitas. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan mesin pencari online seperti Google Scholar dan Bing. Proses analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu menggambarkan karakteristik dan pola-pola yang terdapat dalam data. Proses penyajian data dilakukan dengan menggunakan tabel, grafik, dan narasi.
C. KAJIAN TEORI
Laju pertumbuhan penduduk adalah ukuran yang menunjukkan besarnya perubahan jumlah penduduk dalam persentase per tahun. Laju pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh tiga komponen demografi, yaitu fertilitas, mortalitas, dan migrasi.
Fertilitas adalah jumlah kelahiran yang terjadi dalam suatu populasi dalam kurun waktu tertentu. Fertilitas dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator, antara lain:
Angka kelahiran (crude birth rate). Angka kelahiran adalah rasio antara jumlah kelahiran hidup yang terjadi dalam suatu populasi dengan jumlah penduduk rata-rata dalam suatu tahun.
Angka kesuburan total (total fertility rate). Angka kesuburan total adalah rata-rata jumlah anak yang akan dilahirkan oleh seorang wanita selama masa reproduksinya (usia 15-49 tahun) jika ia mengikuti pola fertilitas yang berlaku pada suatu tahun. Angka kesuburan total dapat dihitung dengan menjumlahkan angka kesuburan spesifik usia (age-specific fertility rate) untuk setiap kelompok usia wanita usia subur. Angka kesuburan spesifik usia adalah rasio antara jumlah kelahiran hidup yang terjadi pada wanita dalam suatu kelompok usia tertentu dengan jumlah wanita dalam kelompok usia tersebut.
3
Angka kesuburan total (anak per wanita) = Σ Angka kesuburan spesifik usia. Angka reproduksi bersih (net reproduction rate). Angka reproduksi bersih adalah rata-rata jumlah anak perempuan yang akan dilahirkan oleh seorang wanita selama masa reproduksinya jika ia mengikuti pola fertilitas dan mortalitas yang berlaku pada suatu tahun. Angka reproduksi bersih dapat dihitung dengan mengalikan angka kesuburan spesifik usia dengan proporsi anak perempuan yang lahir hidup dan bertahan hidup sampai usia reproduksi. Angka reproduksi bersih (anak perempuan per wanita) = Σ (Angka kesuburan spesifik usia x Proporsi anak perempuan x Probabilitas bertahan hidup)
Fertilitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
1) Usia perkawinan. Usia perkawinan adalah usia rata-rata saat seseorang menikah untuk pertama kali. Usia perkawinan berpengaruh terhadap fertilitas karena menentukan lamanya masa reproduksi dan jumlah anak yang mungkin dilahirkan oleh seorang wanita. Usia perkawinan dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, agama, hukum, dan ekonomi. Secara umum, usia perkawinan yang lebih muda cenderung meningkatkan fertilitas, sedangkan usia perkawinan yang lebih tua cenderung menurunkan fertilitas.
2) Penggunaan kontrasepsi. Penggunaan kontrasepsi adalah penerapan metode atau alat untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Penggunaan kontrasepsi berpengaruh terhadap fertilitas karena menentukan frekuensi dan hasil hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Penggunaan kontrasepsi dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, sikap, ketersediaan, aksesibilitas, dan keterjangkauan. Secara umum, penggunaan kontrasepsi yang lebih tinggi cenderung menurunkan fertilitas, sedangkan penggunaan kontrasepsi yang lebih rendah cenderung meningkatkan fertilitas.
3) Status sosial ekonomi. Status sosial ekonomi adalah kedudukan seseorang dalam masyarakat berdasarkan pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan kekayaan. Status sosial ekonomi berpengaruh terhadap fertilitas karena menentukan motivasi, preferensi, dan kemampuan seseorang dalam memilih jumlah dan kualitas anak yang diinginkan. Status sosial ekonomi dipengaruhi oleh faktor pembangunan, urbanisasi, industrialisasi, dan globalisasi. Secara umum, status sosial ekonomi yang lebih tinggi cenderung menurunkan fertilitas, sedangkan status sosial ekonomi yang lebih rendah cenderung meningkatkan fertilitas.
4) Pendidikan. Pendidikan adalah proses memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap melalui pengalaman atau pendidikan formal. Pendidikan berpengaruh terhadap fertilitas karena menentukan tingkat pengetahuan, kesadaran, dan sikap seseorang terhadap masalah reproduksi dan keluarga berencana. Pendidikan juga berpengaruh terhadap peluang kerja, pendapatan, dan status sosial seseorang. Secara umum, pendidikan yang lebih tinggi
cenderung menurunkan fertilitas, sedangkan pendidikan yang lebih rendah cenderung meningkatkan fertilitas.
5) Agama. Agama adalah sistem kepercayaan dan praktik yang berkaitan dengan hal-hal yang dianggap sakral atau ilahi oleh seseorang atau kelompok orang. Agama berpengaruh terhadap fertilitas karena menentukan nilai-nilai, norma-norma, dan aturan-aturan yang mengatur perilaku reproduksi dan keluarga berencana seseorang atau kelompok orang. Agama juga berpengaruh terhadap identitas, solidaritas, dan konflik seseorang atau kelompok orang.
Secara umum, agama yang lebih konservatif cenderung meningkatkan fertilitas, sedangkan agama yang lebih liberal cenderung menurunkan fertilitas.
6) Budaya. Budaya adalah pola-pola perilaku, pemikiran, dan perasaan yang dibagikan oleh sekelompok orang dan ditransmisikan dari generasi ke generasi melalui pembelajaran sosial.
Budaya berpengaruh terhadap fertilitas karena menentukan harapan, kebiasaan, dan tradisi yang berkaitan dengan pernikahan, kelahiran, dan pengasuhan anak dalam suatu masyarakat.
Budaya juga berpengaruh terhadap adaptasi, inovasi, dan perubahan dalam suatu masyarakat.
Secara umum, budaya yang lebih tradisional cenderung meningkatkan fertilitas, sedangkan budaya yang lebih modern cenderung menurunkan fertilitas.
7) Kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi adalah kondisi fisik, mental, dan sosial yang optimal dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi.
Kesehatan reproduksi berpengaruh terhadap fertilitas karena menentukan kemampuan seseorang untuk menghasilkan dan membesarkan anak yang sehat dan berkualitas. Kesehatan reproduksi dipengaruhi oleh faktor biologis, lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan.
Secara umum, kesehatan reproduksi yang baik cenderung meningkatkan fertilitas, sedangkan kesehatan reproduksi yang buruk cenderung menurunkan fertilitas.
Beberapa aspek kesehatan reproduksi yang berpengaruh terhadap fertilitas antara lain:
a) Kesuburan. Kesuburan adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan keturunan secara biologis. Kesuburan dipengaruhi oleh faktor genetik, hormonal, anatomis, fisiologis, dan patologis. Gangguan kesuburan bisa dialami oleh pria atau wanita, atau keduanya. Gangguan kesuburan bisa bersifat sementara atau permanen, dan bisa diatasi dengan pengobatan atau teknologi bantuan reproduksi.
b) Kehamilan. Kehamilan adalah proses pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim wanita. Kehamilan dipengaruhi oleh faktor maternal, paternal, plasental, dan fetal.
Komplikasi kehamilan bisa terjadi pada ibu atau janin, atau keduanya. Komplikasi kehamilan bisa menyebabkan abortus, kelahiran prematur, kelahiran mati, atau cacat bawaan.
5
c) Kelahiran. Kelahiran adalah proses pengeluaran janin dari rahim wanita melalui jalan lahir atau operasi caesar. Kelahiran dipengaruhi oleh faktor maternal, fetal, dan obstetrik.
Komplikasi kelahiran bisa terjadi pada ibu atau bayi, atau keduanya. Komplikasi kelahiran bisa menyebabkan perdarahan, infeksi, robekan jalan lahir, asfiksia, atau trauma lahir.
d) Kontrasepsi. Kontrasepsi adalah penerapan metode atau alat untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Kontrasepsi dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, sikap, ketersediaan, aksesibilitas, dan keterjangkauan. Efektivitas kontrasepsi ditentukan oleh tingkat kepatuhan penggunaannya dan tingkat kegagalan metode atau alatnya. Efek samping kontrasepsi bisa berupa gangguan hormonal, infeksi, alergi, atau kemandulan.
e) Infeksi menular seksual (IMS). IMS adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi mikroorganisme patogen, seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit. IMS dipengaruhi oleh faktor perilaku seksual, jumlah pasangan seksual, penggunaan kondom, dan status imun tubuh. Gejala IMS bisa berupa keluarnya cairan abnormal dari alat kelamin, nyeri saat buang air kecil atau berhubungan seksual, luka, bisul, atau kutil pada alat kelamin, atau demam, nyeri otot, atau pembengkakan kelenjar getah bening. Komplikasi IMS bisa berupa infertilitas, kehamilan ektopik, kanker serviks, atau HIV/AIDS.
D. HASIL DAN DISKUSI
Berdasarkan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk di Indonesia, dapat diambil garis besar bahwa:
1) Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 1971 hingga tahun 2020, dari 2,32% menjadi 1,25%. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan fertilitas, penurunan mortalitas, dan perubahan pola migrasi.
2) Penurunan fertilitas di Indonesia disebabkan oleh peningkatan usia perkawinan, peningkatan penggunaan kontrasepsi, peningkatan status sosial ekonomi, peningkatan pendidikan, perubahan agama dan budaya, dan perbaikan kesehatan reproduksi. Penurunan fertilitas ini merupakan hasil dari program keluarga berencana yang berhasil menekan angka kelahiran dan angka kesuburan.
3) Penurunan mortalitas di Indonesia disebabkan oleh penurunan penyakit infeksius, peningkatan gizi, perbaikan sanitasi, peningkatan akses pelayanan kesehatan, dan perbaikan lingkungan. Penurunan mortalitas ini merupakan hasil dari program kesehatan yang berhasil menekan angka kematian dan angka kematian bayi, dan meningkatkan angka harapan hidup.
4) Perubahan pola migrasi di Indonesia disebabkan oleh perbedaan tingkat pembangunan, integrasi regional, konflik politik, perbedaan ekonomi, atau hubungan sejarah antara wilayah atau negara asal dan tujuan. Perubahan pola migrasi ini meliputi peningkatan migrasi internal dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan atau dari pulau Jawa ke luar Jawa, dan peningkatan migrasi eksternal dari Indonesia ke negara-negara tetangga atau maju.
Penurunan fertilitas di Indonesia sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk di Indonesia ini merupakan hasil dari berbagai upaya pemerintah dan masyarakat dalam bidang keluarga berencana. Program keluarga berencana di Indonesia dimulai sejak tahun 1969 dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, mengendalikan pertumbuhan penduduk, dan mendukung pembangunan nasional. Program keluarga berencana di Indonesia meliputi berbagai kegiatan, antara lain:
1) Penyuluhan dan sosialisasi tentang manfaat, cara kerja, efektivitas, efek samping, dan ketersediaan berbagai macam metode kontrasepsi kepada masyarakat melalui media massa, kader-kader keluarga berencana, atau tokoh-tokoh agama dan masyarakat.
2) Pemberian layanan kontrasepsi gratis atau bersubsidi kepada masyarakat melalui fasilitas kesehatan pemerintah, swasta, atau non-pemerintah, seperti puskesmas, rumah sakit, klinik, apotek, atau posyandu.
3) Pemberian insentif atau bantuan kepada peserta keluarga berencana yang memenuhi syarat, seperti beras keluarga berencana (BKB), tabungan keluarga berencana (TKB), asuransi kesehatan keluarga berencana (AKB), atau beasiswa anak keluarga berencana (BAK).
4) Pemberian penghargaan atau penghormatan kepada peserta keluarga berencana yang berprestasi, seperti piala Adipura KB, piala Parama Karya KB, atau piala Wirakarya KB.
Program keluarga berencana di Indonesia telah berhasil menurunkan fertilitas dan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia secara signifikan. Namun, program keluarga berencana di Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan dan masalah, antara lain:
a) Ketimpangan akses dan pelayanan kontrasepsi antara daerah perkotaan dan pedesaan, antara pulau Jawa dan luar Jawa, antara provinsi-provinsi dengan tingkat pembangunan yang berbeda-beda, dan antara kelompok-kelompok sosial ekonomi yang berbeda-beda.
b) Ketidaksesuaian antara kebutuhan dan kondisi peserta keluarga berencana dengan metode atau alat kontrasepsi yang tersedia atau digunakan, sehingga menyebabkan ketidakpuasan, ketidakpatuhan, atau perubahan metode kontrasepsi.
7
c) Ketidakefektifan atau kegagalan metode atau alat kontrasepsi yang digunakan oleh peserta keluarga berencana karena kesalahan penggunaan, kerusakan, kadaluarsa, atau komplikasi medis, sehingga menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi, atau kemandulan.
d) Ketidakpedulian atau penolakan terhadap program keluarga berencana oleh sebagian masyarakat karena alasan agama, budaya, atau politik, sehingga menyebabkan kurangnya dukungan, kerjasama, atau partisipasi dalam program keluarga berencana.
Mortalitas adalah jumlah kematian yang terjadi dalam suatu populasi dalam kurun waktu tertentu.
Mortalitas dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator, antara lain:
Angka harapan hidup (life expectancy). Angka harapan hidup adalah rata-rata jumlah tahun yang diharapkan dapat dijalani oleh seseorang yang lahir pada suatu tahun tertentu jika pola mortalitas yang berlaku pada tahun tersebut tetap berlangsung sepanjang hidupnya.
Mortalitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
a) Usia. Usia adalah variabel demografi yang paling berpengaruh terhadap mortalitas karena menentukan tingkat kerentanan seseorang terhadap penyakit dan kematian. Secara umum, mortalitas cenderung lebih tinggi pada usia-usia ekstrem, yaitu usia bayi dan usia lanjut, dibandingkan dengan usia-usia produktif. Hal ini disebabkan oleh faktor imunitas, resistensi, dan regenerasi tubuh yang berbeda-beda pada setiap kelompok usia.
b) Jenis kelamin. Jenis kelamin adalah variabel biologis yang berpengaruh terhadap mortalitas karena menentukan karakteristik fisik, hormonal, dan genetik seseorang yang mempengaruhi risiko dan respons terhadap penyakit dan kematian. Secara umum, mortalitas cenderung lebih tinggi pada pria dibandingkan dengan wanita. Hal ini disebabkan oleh faktor perilaku, lingkungan, dan akses pelayanan kesehatan yang berbeda-beda pada pria dan wanita.
c) Penyakit. Penyakit adalah gangguan fungsi atau struktur tubuh yang menyebabkan gejala, tanda, atau ketidakmampuan seseorang. Penyakit berpengaruh terhadap mortalitas karena menentukan penyebab dan cara kematian seseorang. Penyakit bisa bersifat infeksius atau non- infeksius, akut atau kronis, menular atau tidak menular, dan bisa dicegah atau tidak dicegah.
Secara umum, penyakit infeksius cenderung lebih mematikan pada usia-usia muda, sedangkan penyakit non-infeksius cenderung lebih mematikan pada usia-usia tua.
d) Gizi. Gizi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara makanan dan minuman dengan kesehatan dan penyakit manusia. Gizi berpengaruh terhadap mortalitas karena menentukan status gizi seseorang yang mempengaruhi kekebalan tubuh, pertahanan tubuh, dan penyembuhan tubuh terhadap penyakit dan kematian. Status gizi bisa bersifat baik atau buruk,
cukup atau kurang, seimbang atau tidak seimbang. Secara umum, status gizi yang buruk cenderung meningkatkan mortalitas, sedangkan status gizi yang baik cenderung menurunkan mortalitas, karena meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup seseorang.
e) Sanitasi. Sanitasi adalah kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan manusia. Sanitasi berpengaruh terhadap mortalitas karena menentukan tingkat paparan seseorang terhadap mikroorganisme patogen, polutan, atau racun yang bisa menyebabkan penyakit dan kematian. Sanitasi meliputi berbagai aspek, antara lain pembuangan sampah, pembuangan tinja, penyediaan jamban sehat, penyediaan sumber air bersih, dan pengendalian vektor penyakit. Secara umum, sanitasi yang buruk cenderung meningkatkan mortalitas, sedangkan sanitasi yang baik cenderung menurunkan mortalitas.
f) Akses pelayanan kesehatan. Akses pelayanan kesehatan adalah kemudahan dan kesempatan seseorang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, tepat waktu, dan terjangkau. Akses pelayanan kesehatan berpengaruh terhadap mortalitas karena menentukan tingkat deteksi, pencegahan, pengobatan, dan pemulihan seseorang dari penyakit dan kematian. Akses pelayanan kesehatan meliputi berbagai aspek, antara lain ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan, dan keterpakaian fasilitas dan tenaga kesehatan. Secara umum, akses pelayanan kesehatan yang rendah cenderung meningkatkan mortalitas, sedangkan akses pelayanan kesehatan yang tinggi cenderung menurunkan mortalitas.
g) Lingkungan. Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kehidupannya. Lingkungan berpengaruh terhadap mortalitas karena menentukan tingkat paparan seseorang terhadap faktor-faktor fisik, kimia, biologis, atau sosial yang bisa menyebabkan penyakit dan kematian. Lingkungan meliputi berbagai aspek, antara lain iklim, cuaca, polusi udara, polusi air, polusi tanah, bencana alam, kecelakaan lalu lintas, kekerasan, atau perang. Secara umum, lingkungan yang buruk cenderung meningkatkan mortalitas, sedangkan lingkungan yang baik cenderung menurunkan mortalitas.
Penurunan mortalitas di Indonesia sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk di Indonesia ini merupakan hasil dari berbagai upaya pemerintah dan masyarakat dalam bidang kesehatan. Program kesehatan di Indonesia dimulai sejak tahun 1945 dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, mengurangi angka kesakitan dan kematian, dan mendukung pembangunan nasional. Program kesehatan di Indonesia meliputi berbagai kegiatan, antara lain:
9
a) Penyuluhan dan sosialisasi tentang manfaat, cara kerja, efektivitas, efek samping, dan ketersediaan berbagai macam layanan kesehatan kepada masyarakat melalui media massa, kader-kader kesehatan, atau tokoh-tokoh agama dan masyarakat.
b) Pemberian layanan kesehatan gratis atau bersubsidi kepada masyarakat melalui fasilitas kesehatan pemerintah, swasta, atau non-pemerintah, seperti puskesmas, rumah sakit, klinik, apotek, atau posyandu.
c) Pemberian insentif atau bantuan kepada peserta program kesehatan yang memenuhi syarat, seperti kartu Indonesia sehat (KIS), kartu keluarga sejahtera (KKS), kartu perlindungan sosial (KPS), atau bantuan langsung tunai (BLT).
d) Pemberian penghargaan atau penghormatan kepada peserta program kesehatan yang berprestasi, seperti piala Adipura Kesehatan, piala Parama Karya Kesehatan, atau piala Wirakarya Kesehatan.
Program kesehatan di Indonesia telah berhasil menurunkan mortalitas dan meningkatkan angka harapan hidup di Indonesia secara signifikan. Namun, program kesehatan di Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan dan masalah, antara lain:
a) Ketimpangan akses dan pelayanan kesehatan antara daerah perkotaan dan pedesaan, antara pulau Jawa dan luar Jawa, antara provinsi-provinsi dengan tingkat pembangunan yang berbeda-beda, dan antara kelompok-kelompok sosial ekonomi yang berbeda-beda.
b) Ketidaksesuaian antara kebutuhan dan kondisi peserta program kesehatan dengan layanan kesehatan yang tersedia atau digunakan, sehingga menyebabkan ketidakpuasan, ketidakpatuhan, atau perubahan layanan kesehatan.
c) Ketidakefektifan atau kegagalan layanan kesehatan yang digunakan oleh peserta program kesehatan karena kesalahan pemberian, penggunaan, penyimpanan, atau pengawasan layanan kesehatan, sehingga menyebabkan efek samping, infeksi, atau kematian.
d) Ketidakpedulian atau penolakan terhadap program kesehatan oleh sebagian masyarakat karena alasan agama, budaya, atau politik, sehingga menyebabkan kurangnya dukungan, kerjasama, atau partisipasi dalam program kesehatan.
Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah atau negara ke wilayah atau negara lain dengan tujuan untuk menetap atau tidak. Migrasi dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator, antara lain:
Migrasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
a) Ekonomi. Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi barang dan jasa. Ekonomi berpengaruh terhadap migrasi karena menentukan motivasi, arah, dan intensitas perpindahan penduduk dari suatu wilayah atau negara ke wilayah atau negara lain. Motivasi ekonomi bisa bersifat positif atau negatif, yaitu mencari peluang atau menghindari kesulitan. Arah ekonomi bisa bersifat sentripetal atau sentrifugal, yaitu menuju pusat atau menjauhi pusat. Intensitas ekonomi bisa bersifat tinggi atau rendah, yaitu banyak atau sedikit.
b) Politik berpengaruh terhadap migrasi karena menentukan kebijakan, hukum, dan tatanan yang mengatur perpindahan penduduk dari suatu wilayah atau negara ke wilayah atau negara lain.
Kebijakan politik bisa bersifat inklusif atau eksklusif, yaitu mendorong atau menghalangi migrasi. Hukum politik bisa bersifat liberal atau restriktif, yaitu memberikan atau membatasi hak dan kewajiban bagi migran. Tatanan politik bisa bersifat stabil atau konflik, yaitu menciptakan atau mengancam keamanan dan kesejahteraan bagi migran.
Secara umum, kebijakan, hukum, dan tatanan politik yang inklusif, liberal, dan stabil cenderung menarik migrasi, sedangkan kebijakan, hukum, dan tatanan politik yang eksklusif, restriktif, dan konflik cenderung mendorong migrasi. Contoh-contoh dari faktor-faktor politik yang berpengaruh terhadap migrasi antara lain:
Integrasi regional. Integrasi regional adalah proses pembentukan kesatuan ekonomi, politik, sosial, budaya, atau pertahanan antara negara-negara yang berdekatan secara geografis. Integrasi regional berpengaruh terhadap migrasi karena menentukan tingkat kerjasama, koordinasi, dan harmonisasi antara negara-negara anggota dalam mengatur perpindahan penduduk antar wilayah atau negara. Integrasi regional bisa bersifat formal atau informal, sempit atau luas, dangkal atau dalam.
Secara umum, integrasi regional yang formal, luas, dan dalam cenderung meningkatkan migrasi antar wilayah atau negara anggota, sedangkan integrasi regional yang informal, sempit, dan dangkal cenderung mengurangimigrasi. Contoh dari integrasi regional yang berpengaruh terhadap migrasi adalah Uni Eropa (UE), Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN), atau Komunitas Ekonomi Afrika (CEA).
Konflik politik. Konflik politik adalah pertentangan atau perselisihan antara kelompok- kelompok sosial atau negara-negara yang berkaitan dengan kekuasaan, otoritas, atau legitimasi dalam mengatur urusan masyarakat. Konflik politik berpengaruh terhadap migrasi karena menentukan tingkat ketegangan, kekerasan, atau perang yang terjadi antara kelompok-kelompok sosial atau negara-negara yang mempengaruhi keamanan dan kesejahteraan penduduk. Konflik politik bisa bersifat internal atau eksternal, lokal atau global, sektoral atau komprehensif, simetris atau asimetris.
11
Secara umum, konflik politik yang internal, global, komprehensif, dan asimetris cenderung meningkatkan migrasi dari wilayah atau negara yang mengalami konflik, sedangkan konflik politik yang eksternal, lokal, sektoral, dan simetris cenderung mengurangi migrasi dari wilayah atau negara yang mengalami konflik. Contoh dari konflik politik yang berpengaruh terhadap migrasi adalah perang saudara di Suriah, krisis Rohingya di Myanmar, atau kudeta militer di Mali.
Sosial. Sosial adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam masyarakat.
Sosial berpengaruh terhadap migrasi karena menentukan jaringan, norma, dan nilai yang mengatur perpindahan penduduk dari suatu wilayah atau negara ke wilayah atau negara lain. Jaringan sosial adalah hubungan antara individu atau kelompok yang saling berinteraksi, berkomunikasi, atau berbagi sumber daya. Norma sosial adalah aturan-aturan tidak tertulis yang mengatur perilaku anggota masyarakat. Nilai sosial adalah prinsip-prinsip dasar yang menjadi acuan bagi anggota masyarakat dalam menilai sesuatu.
Migrasi di Indonesia sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk di Indonesia ini merupakan hasil dari berbagai dinamika sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama yang terjadi di dalam dan di luar negeri. Migrasi di Indonesia meliputi berbagai jenis, antara lain:
a) Migrasi internal. Migrasi internal adalah perpindahan penduduk dari suatu wilayah ke wilayah lain dalam satu negara. Migrasi internal di Indonesia meliputi migrasi antar provinsi, antar kabupaten/kota, antar kecamatan, atau antar desa/kelurahan. Migrasi internal di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pembangunan infrastruktur, urbanisasi, industrialisasi, transmigrasi, bencana alam, atau konflik sosial.
b) Migrasi eksternal. Migrasi eksternal adalah perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain. Migrasi eksternal di Indonesia meliputi migrasi permanen atau semi-permanen (seperti menjadi warga negara asing atau memiliki izin tinggal tetap), migrasi sementara (seperti menjadi pekerja migran atau pelajar asing), atau migrasi paksa (seperti menjadi pengungsi atau pencari suaka). Migrasi eksternal di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain integrasi regional, konflik politik, perbedaan ekonomi, atau hubungan sejarah.
Migrasi di Indonesia telah berdampak positif maupun negatif terhadap laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Dampak positif migrasi antara lain:
a) Meningkatkan mobilitas sosial ekonomi bagi migran dan keluarganya.
b) Meningkatkan transfer pengetahuan, keterampilan, teknologi, atau modal bagi wilayah atau negara asal dan tujuan.
c) Meningkatkan keragaman sosial budaya bagi wilayah atau negara asal dan tujuan.
d) Meningkatkan kerjasama regional atau internasional bagi wilayah atau negara asal dan tujuan.
Dampak negatif migrasi antara lain:
a) Menurunkan jumlah penduduk produktif bagi wilayah atau negara asal.
b) Menurunkan kualitas lingkungan hidup bagi wilayah atau negara tujuan.
c) Menimbulkan masalah sosial seperti diskriminasi, eksploitasi, atau kriminalitas bagi migran atau masyarakat setempat.
d) Menimbulkan masalah politik seperti konflik, ketegangan, atau ketidakstabilan bagi wilayah atau negara asal atau tujuan.
E. SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil diskusi di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1) Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia telah mengalami perubahan yang signifikan sejak tahun 1971 hingga tahun 2020. Perubahan ini menunjukkan adanya transisi demografi yang terjadi di Indonesia, yaitu peralihan dari kondisi demografi tradisional (fertilitas tinggi dan mortalitas tinggi) ke kondisi demografi modern (fertilitas rendah dan mortalitas rendah).
2) Transisi demografi yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama yang saling berinteraksi dan berdampak pada fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Faktor-faktor ini juga dipengaruhi oleh berbagai program pemerintah dan masyarakat dalam bidang keluarga berencana dan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, mengendalikan pertumbuhan penduduk, dan mendukung pembangunan nasional.
3) Transisi demografi yang terjadi di Indonesia memiliki dampak positif maupun negatif terhadap laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Dampak positif antara lain adalah meningkatnya mobilitas sosial ekonomi bagi masyarakat, meningkatnya transfer pengetahuan dan teknologi antara wilayah atau negara, meningkatnya keragaman sosial budaya bagi masyarakat, dan meningkatnya kerjasama regional atau internasional bagi Indonesia. Dampak negatif antara lain adalah menurunnya jumlah penduduk produktif bagi Indonesia, menurunnya kualitas lingkungan hidup bagi Indonesia, menimbulkan masalah sosial seperti
13
diskriminasi, eksploitasi, atau kriminalitas bagi masyarakat, dan menimbulkan masalah politik seperti konflik, ketegangan, atau ketidakstabilan bagi Indonesia.
.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik, https://www.bps.go.id/
Ainy, Hidayatul, Siti Nurrochmah, and Septa Katmawanti. 2019. “Hubungan Antara Fertilitas, Mortalitas, Dan Migrasi Dengan Laju Pertumbuhan Penduduk.” Preventia : The Indonesian Journal of Public Health 4(1):15. doi: 10.17977/um044v4i1p15-22.