• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kabupaten Malang)

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Kabupaten Malang) "

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBAIAYAAN MURABAHAH DAN IJARAH TERHADAP PRODUKSI USAHATANI TEBU (Studi pada BMT Al-Hijrah Koperasi Agro Niaga Jabung

Kabupaten Malang)

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh :

Debby Chyntia Wardhani 155020500111034

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2019

(2)

LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL

Artikel Jurnal dengan judul :

PENGARUH PEMBIAYAAN MURABAHAH DAN IJARAH TERHADAP PRODUKSI USAHATANI TEBU

(Studi pada BMT Al-Hijrah Koperasi Agro Niaga Jabung Kabupaten Malang)

Yang disusun oleh :

Nama : Debby Chyntia Wardhani

NIM : 155020500111034

Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Jurusan : S1 Ilmu Ekonomi

Bahwa artikel Jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 21 Oktober 2019.

Malang, 21 Oktober 2019 Dosen Pembimbing,

Dr. Sri Muljaningsih, SE., MSP.

NIP. 196104111986012001

(3)

Pengaruh Pembiayaan Murabahah dan Ijarah Terhadap Produksi Usahatani Tebu (Studi pada BMT Al-Hijrah Koperasi Agro Niaga Jabung Kabupaten Malang)

Debby Chyntia Wardhani

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]

ABSTRAK

Kabupaten Malang merupakan daerah andalan Jawa Timur dalam memproduksi tebu. Namun produksi tebu di Kabupaten Malang mengalami penurunan, penurunan produksi terjadi dikarenakan keterbatasan modal bagi petani untuk melakukan proses produksi tebu dan juga dikarenakan oleh kebutuhan masyarakat akan pangan menurun kapasitasnya. Baitul Maal Wa Tamwil dapat menjadi alternatif bagi petani untuk mengatasi masalah permodalan. Salah satu BMT yang berfokus pada sektor pertanian yaitu BMT Al-Hijrah KAN Jabung. Pembiayaan yang diaplikasikan untuk sektor pertanian yaitu murabahah dan ijarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembiayaan murabahah dan ijarah terhadap produksi tebu petani yang menjadi nasabah BMT Al-Hijrah KAN Jabung Malang. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan metode penelitian kuantitatif. Alat analisis data yang diguanakan pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda dengan program Eviews.

Hasil penelitian menunjukan bahwa secara parsial variabel murabahah dan ijarah signifkan dan berpengaruh positif terhadap produksi usahatni tebu. Koefisien determinasi (R2) menunjukan bahwavariabel bebas yang diteliti mampu menjelaskan 85,3% terhadap produksi tebu petani dan sisanya sebesar 14,75% dijelaskan oleh variabel lainnya yang tidak diteliti.

Kata kunci: Produksi tebu, murabahah, ijarah

A. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara yang berlatar belakang agraris, dimana sektor pertanian mempunyai peranan penting pada perekonomian nasional dalam menyerap tenaga kerja, sumber pertumbuhan ekonomi dan penyumbang devisa negara. Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat strategis di Indonesia, salah satunya sebagai penyerap tenaga kerja. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan bahwa pada tahun 2017, sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja sebesar 31,88%

dari total tenaga kerja, sedangkan sisanya terdistribusi dalam bidang pekerjaan lain (BPS, 2017). Sektor pertanian juga menjadi penompang kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia, oleh karena itu sektor ini perlu terus dikembangkan guna meningkatkan produksi pertanian. Produksi hasil pertanian berperan penting untuk memenuhi konsumsi pangan masyarakat. Saat Indonesia mengalami krisis ekonomi, sektor pertanian merupakan sektor yang cukup kuat menghadapi goncangan dan dapat diandalkan dalam pemulihan perekonomian nasional.

Salah satu sub sektor yang potensinya cukup besar adalah sub sektor perkebunan. Sub sektor ini menjadi penyedia bahan baku untuk sektor industri, penghasil devisa dan penyerap tenaga kerja.

Kontribusi sub sektor pertanian terhadap PDB yaitu sebesar sebesar 3,47% pada tahun 2017 dan menjadi urutan pertama pada sektor pertanian. Tebu merupakan salah satu komoditas yang mempunyai peranan strategis terhadap perekonomian di Indonesia dan memberikan kontribusi cukup besar pada sub sektor perkebunan. Hal ini dikarenakan gula menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah. Menurut pengusahaannya perkebunan tebu di Indonesia dibedakan menjadi Perkebunan Besar (PB) dan Perkebunan Rakyat (PR). Perkebunan Besar terdiri dari Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS) (Statistik Tebu Indonesia, 2017).

Salah satu daerah yang menjadi andalan Provinsi Jawa Timur dalam memproduksi tebu adalah Kabupaten Malang. Kabupaten Malang merupakan Kabupaten di Jawa Timur yang mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertaian. Potensi pertanian di Kabupaten Malang beraneka ragam dan tersebar di seluruh kecamatan. Bidang pertanian unggulan yaitu tanaman pangan sayuran, peternakan,

(4)

perikanan, dan perkebunan. Sedangkan unggulan perkebunan yaitu tebu, kakao, kelapa, dan kopi.

Berikut data produksi komoditas pertanian andalan Kabupaten Malang:

Tabel 1: Produksi Komoditas Andalan Pertanian Kab. Malang Tahun 2011-2015 (dalam ton)

NO Uraian 2011 2012 2013 2014 2015

1 Padi 460.666 461.267 461.293 461.306 478.930

2 Jagung 298.566 295.079 297.667 271.113 247.150

3 Sayuran 392.893 393.404 393.797 - 373.767

4 Tebu 3.332.441 3.815.732 3.757.839 3.757.839 3.928.363

5 Kopi 676,72 601.33 601.33 18.890,03 18.403

6 Daging 19.557,05 20.787,75 21.866,55 22.325,74 38.885,69 7 Susu 107.684,10 115.619,73 116.003,57 117.235,67 132.052,01 8 Telur 23.631,02 24.332,55 25.080,21 27.510,13 42.198,64 9 Ikan 22.183,84 25.685,09 28.019,45 30.633,50 32.204,55 Sumber: RPJMD Kab. Malang 2016-2021

Berdasarkan data pada tabel di atas komoditas tebu merupakan komoditas sub sektor perkebunan dengan tingkat produksi terbanyak. Produksi tebu di Kabupaten Malang mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun pada tahun 2011 produksi tebu sebesar 3.332.441 ton, pada tahun 2012 produksi tebu meningkat menjadi 3.815.732 ton. Namun pada tahun 2013 produksi tebu mengalami penurunan menjadi 3.757.839 ton dan mengalami kenaikan kembali pada tahun 2015 yaitu sebesar 3.928.363 ton. Setiap penurunan produksi yang terjadi bisa dikarenakan keterbatasan modal bagi petani untuk melakukan proses produksi tebu dan bisa juga dikarenakan oleh kebutuhan masyarakat akan pangan menurun kapasitasnya. Sedangkan kenaikan produksi tebu yang terjadi membuktikan bahwa masyarakat Kabupaten Malang bergantung terhadap tanaman tebu terutama dalam hal pangan dan ekonomi.

Menurut Putri dan Hoetoro (2018) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi tebu petani di PTPN XI yaitu kredit dan luas lahan. Dengan meningkatnya jumlah kredit yang diberikan, akan mempengaruhi petani untuk membeli input terbaik sehingga dapat meningkatkan produksi tebu dengan kualitas tebu yang tinggi. Selain itu, luas lahan juga berpengaruh terhadap peroduksi tebu petani. Apabila petani menambah luas lahannya dan penguasaan lahan optimal, maka produksi akan meningkat. Faktor biaya produksi tidak berpengaruh nyata terhadap produksi tebu petani dikarenakan petani telah mengetahui kisaran harga input yang akan digunakan dan teknik budidaya tebu. Dalam jangka panjang biaya produksi akan rendah karena petani telah mengetahui biaya rata-rata produksi sehingga hasil produksi tebu lebih optimal.

Melihat betapa pentingnya kredit bagi petani sebagai modal untuk membeli input produksi, maka dibutuhkan pihak lain yang dapat membantu. Kebutuhan modal akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi budidaya, penanganan pasca panen dan pengolahan hasil yang semakin meningkat (Ashari dan Saptana, 2005). Selain kebutuhan akan modal, perluasan lahan juga dibutuhkan untuk meningkatkan produksi petani. Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) dapat menjadi alternatif bagi petani untuk mengatasi masalah permodalan, salah satunya adalah Baitul Maal Wa Tamwil (BMT).

Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) merupakan salah satu lembaga keuangan mikro syariah yang bergerak dikalangan masyarakat menengah kebawah dalam rangka meningkatkan ekonomi bagi

(5)

pengusaha kecil berdasarkan dengan prinsip-prinsip syariah. Baitul Maal Wa Tamil (BMT) Al-Hijrah Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung merupakan salah satu contoh BMT yang peduli dengan petani.

Produk pembiayaan yang diaplikasikan untuk sektor pertanian saat ini adalah murabahah dan ijarah.

Pembaiyaan murabahah dilakukan pada pembelian alat, sarana produksi pertanian (Saprotan), sarana produksi ternak (Sapronak), dan mesin pertanian. Sedangkan pembiayaan ijarah diaplikasian pada sewa lahan bagi anggota Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) untuk ekspansi lahan tebu.

B. KAJIAN PUSTAKA Teori Produksi

Produksi merupakan proses dimana barang dan jasa yang disebut input diubah menjadi barang- barang dan jasa-jasa yang disebut output (Boediono, 2006). Menurut Case dan Fair (2007) fungsi produksi merupakan rumus numerik atau matematik tentang hubungan antara input dengan output, rumus tersebut menunjukan unit produk total sebagai fungsi dari input yang dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut:

Q = f (K, L, M) Dimana:

Q = Jumlah output yang dihasilkan K = Jumlah modal yang digunakan L = Jumlah tenaga kerja yang digunakan

M = Variabel lain yang mempengaruhi produksi

Menurut Epp & Malone (1981) dalam Lesmana (2014), sifat produksi didasarkan pada hukum The Law of Deminishing Return. Law of deminishing return merupakan sebuah hukum dalam ekonomi yang menjelaskan tentang proporsi input yang tepat untuk mendapatkan output maksimal. Jika penggunaan satu macam input ditambah sedangkan input-input lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik, kemudian seterusnya akan menurun juka input tersebut terus ditambahkan.

Pembiayaan Murabahah

Menurut Ascarya (2015), murabahah merupakan istilah dalam fikih Islam yang berarti suatu bentuk jual beli tertentu ketika penjual menyatakan biaya perolehan barang, meliputi harga barang dan biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk memperoleh barang tersebut, dan tingkat keuntungan (margin) yang diinginkan. Tingkat keuntungan ini bisa dalam bentuk lumpsum atau persentase tertentu dari biaya perolehan. Antonio (2002) juga berpendapat bahwa murabahah yaitu jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam akad murabahah, penjual harus memberitahu harga asli produk yang dibeli kepada anggota dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya.

Pembiayaan Ijarah

Ijarah merupakan akad penyediaan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah, sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri (Susyanti, 2016). Sedangkan Antonio (2002) mendefinisikan ijarah sebagai akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyyah) atas barang itu sendiri.

(6)

C. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu pendekatan deskriptif secara kuantitatif.

Menurut Sugiyono (2008) dalam Lesmana (2014), metode peneliitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada sampel filsafat positivisme digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian analisis data kauntitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini, pendekatan deskriptif digunakan untuk mengatahui bagaimana pengaruh pembiayaan murabahah dan ijarah terhadap produksi usahatani tebu.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) Al-Hijrah KAN Jabung yang beralamatkan di Jalan Raya Kemantren Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Pemilihan lokasi dilakukan dengan pertimbangan bahwa BMT Al-Hijrah merupakan salah satu BMT yang konsen dalam bidang pertanian dan peternakan di Kabupaten Malang. Waktu pengumpulan data dilakukan pada bulan April 2019 sampai dengan Mei 2019.

Definisi Operasional Variabel

Dalam penelitian ini variabel yang digunakan diantaranya adalah variabel independen yaitu pembiayaan murababah dan ijarah, sedangkan variabel dependennya adalah produksi usahatani tebu.

Maka definisi variabel adalah sebagai berikut:

1. Variabel Independen atau bebas (X) merupakan variabel yang mempengaruhi perubahan atau timbulnya variabel terikat. Variabel independen yang digunakan pada peneltian ini antara lain:

a. Murabahah (X1). Dalam penelitian ini yang dimaksud pembiayaan murabahah adalah besarnya pembaiayaan yang disalurkan oleh BMT Al-Hijrah KAN Jabung yang di diukur dalam satuan rupiah.

b. Ijarah (X2). Dalam penelitian ini yang dimaksud pembiayaan ijarah adalah besarnya pembaiayaan yang disalurkan oleh BMT Al-Hijrah KAN Jabung yang di diukur dalam satuan rupiah

2. Variabel Dependen atau terikat (Y) merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas.

Dalam penelitian ini variabel dependen yang digunakan adalah jumlah produksi tebu. Produksi tebu adalah jumlah produksi yang dihasilkan petani tebu dalam satu kali masa panen. Produksi tebu diukur dalam satuan kwintal pada tahun 2018.

Jenis dan Sumber Data 1. Data Primer

Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan manager dan staf BMT A-l-Hijrah KAN Jabung. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini berupa sejarah dan perkembangan BMT, susunan dan struktur organisasi, jumlah, produk-produk serta akad-akad pembiayaan di BMT A-Hijrah KAN Jabung.

2. Data Sekunder

Data sekunder yang digunakan pada penelitian ini adalah data jumlah pembiayaan murabahah dan ijarah di BMT serta jumlah produksi tebu tahun 2018 dengan objek penelitian sebanyak 33 anggota BMT Al-Hijrah KAN Jabung. Data sekunder lainnya berasal dari jurnal penelitian terdahulu dan penulusuran internet.

Metode Analis Data

Analisis regresi linier berganda merupakan model regresi linear dengan melibatkan lebih dari satu variabel independen atau predictor. Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang terjadi antara variabel independen dengan variabel dependen, melalui pendekatan OLS (Ordinary Least Square) yang dinyatakan dalam bentuk fungsi sebagai berikut:

Y = f (X1, X2)

(7)

Bentuk dari hubungan fungsional yang digunakan adalah sebagai berikut:

Y = α + β1X1 + β2X2 + e

Yang kemudian ditransformasikan kedalam persamaan logaritma natural (LN), yaitu:

LnY = α + β1LnX1 + β2LnX2 + e Dimana :

Y = Produksi tebu α = Konstanta

β1, β2 = Koefisien regresi X1 = Pembiayaan Murabahah X2 = Pembiayaan Ijarah E = Faktor penggangu / residu

D. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Normalitas

Uji normalitas merupakan sebuah pengujian yang dilakukan untuk menilai sebaran data pada sebuah kelompok data atau variabel, apakah berdistribusi normal atau tidak. Berdasarkan syarat asumsi klasik, model regresi yang baik adalah data berdistribusi normal. Untuk melihat apakah data berditribusi normal atau tidak yaitu dengan melihat nilai Jarque-Bera dan nilai probabilitas. Jika nilai probabilitas >

0,05 (α 5%) maka data berdistribusi normal. Berikut ini merupakan hasil uji normalitas data pada gambar 1:

Gambar 1: Hasil Uji Normalitas Data

Sumber: Eviews diolah, 2019

Berdasarkan hasil uji normalitas data pada gambar 1, diketahui nilai Jarque-Bera sebesar 5,603460 dengan nilai probabilitas sebesar 0,060705 dimana > 0,05 yang berarti residual berdistribusi normal.

Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas merupakan sebuah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terdapat hubungan yang linear antar variabel independen (X). Berdasarkan

(8)

syarat asumsi klasik, model regresi yang baik adalah yang bebas dari adanya multikolinearitas. Berikut ini merupakan hasil uji Multikolineritas pada tabel 2:

Tabel 2 : Hasil Uji Multikolinearitas Variable Coefficient

Variance

Uncentered VIF

Centered VIF

C 1,016791 45660,52 NA

LnX1 (Murabahah) 0,001150 14239,17 3,187517 LnX2 (Ijarah) 0,000889 10843,97 3,187517 Sumber: EViews diolah, 2019

Pengujian Multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai VIF. Berdasarkan gambar tersebut, nilai Centered VIF baik variabel Murabahah (X1) dan Ijarah (X2) adalah 3,187517 dimana nilai tersebut kurang dari 10 yang artinya tidak terdapat masalah multikolinearitas dalam model dan lolos uji asumsi klasik multikolineritas.

Uji Heterokedastisitas

Uji Heterokedastisitas merupakan sebuah pengujian untuk menilai apakah varians residual memiliki kesamaan atau tidak dari suatu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik jika nilai residual sama (homokedastisitas). Berikut ini merupakan hasil uji Heterokedastisitas pada gambar 3:

Tabel 3: Hasil Uji Heterokedastisitas

F-statistic 0,926792 Prob. F(2,30) 0,4069

Obs*R-squared 1,920295 Prob. Chi-Square(2) 0,3828 Scaled explained SS 1,160126 Prob. Chi-Square(2) 0,5599 Sumber: EViews diolah, 2019

Pengujian heterokedastisitas dilakukan dengan metode Breusch-Pagan Goodfrey Test.

Berdasarkan gambar tersebut, nilai p value yang ditunjukan dengan nilai Prob. Chi-Square(2) pada Obs*R-squared yaitu sebesar 0,3828 artinya lebih besar dari 0,05 maka menerima H0 atau yang berarti model regresi bersifat homokedastisitas atau dengan kata lain tidak ada masalah heterokedastisitas.

Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui hubungan dan seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, dengan pendekatan OLS (Ordinary Least Square). Berikut ini hasil analisis regresi berganda dengan menggunakan E-views 10:

Tabel 4: Hasil Estimasi Regresi Berganda

Variable Coefficient Std. Error T-Statistic Prob. Keterangan C -4,898069 1,0008361 -4,857457 0,0000 Signifikan LnX1 (Murabahah) 0,432055 0,033910 12,74131 0,0000 Signifikan LnX2 (Ijarah) 0,373596 0,029819 12,52896 0,0000 Signifikan R-Squared 0,853487

(9)

Sumber: EViews diolah, 2019

Dari hasil regresi linier berganda sesuai tabel diatas dapat diketahui hasil dari pengaruh variabel Pembiayaan Murabahah (X1) dan Pembiayaan Ijarah (X2) dalam persamaan regresi sebagai berikut:

LnY = -4,898069 + 0,432055 Ln X1 + 0,373596 Ln X2 + e

Hasil output regresi yang telah lolos uji asumsi klasik perlu diuji kembali untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, yakni secara simultan (uji F-statistik) dan parsial (uji t-statistik). Dari pengujian hipotesis tersebut didapatkan hasil sebagai berikut:

1. Uji F

Uji F digunakan untuk mengetahui apakah seluruh varaibel independen (murabahah dan ijarah) secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen (produksi). Hasil uji signifikansi secara simultan dapat dilihat berdasarkan nilai probabilitas F statistik, jika Prob(F-Statistik) < α 0,05 maka secara simultan variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Berdasarkan hasil estimasi, nilai probabilitas F < α (0,0000 < 0,05), sehingga H0 ditolak dan H1

diterima. Yang berarti dalam penelitian ini menyatakan bahwa murabahah (X1) dan ijarah (X2) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap produksi tebu (Y).

2. Uji t

Pengujian secara parsial untuk hasil regresi dilakukan melalui uji t, maka akan diketahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependennya. Uji ini dilakukan dengan melihat nilai probabilitas masing-masing variabel independen (murabahah dan ijarah).

Berdasarkan hasil estimasi dapat dilihat bahwa variabel murabahah (X1) dan ijarah (X2) secara parsial berpengaruh terhadap produksi tebu (Y) dengan tingkat α = 5%. Hal tersebut ditunjukan dengan nilai probabilitas murabahah dan ijarah < α (0,000 < 0,05), maka H1 diterima dan H0

ditolak.

3. Uji R2

Dari hasil estimasi dapat dilihat bahwa nilai R2 sebesar 0,853 .Hal ini menunjukan bahwa variabel pembiayaan murabahah (X1) dan ijarah (X2) mampu menjelaskan atau berpengaruh terhadap variabel produksi tebu (Y) sebesar 0,853 atau 85,3%, sedangkan sisanya sebesar 14,7% dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel lain diluar model.

Pengaruh Pembiayaan Murabahah terhadap Produksi Tebu

Berdasarkan hasil regresi diketahui bahwa pembiayaan murabahah pada BMT Al-Hijrah KAN Jabung berpengaruh postif signifikan terhadap produksi tebu, yaitu dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (lebih kecil dari α 5% atau 0,05). Hal ini menunjukan bahwa jika jumlah pembiayaan modal kerja (murabahah) meningkat, maka jumlah produksi produksi tebu petani juga meningkat, begitu pula sebaliknya. Dengan adanya pinjaman modal dari BMT Al-Hijrah maka selama pembiayaan proses produksi untuk pembelian input pertanian seperti, pupuk, bibit, obat, dan mesin pertanian akan digunakan dengan optimal sehingga diharapkan produksi tebu juga akan optimal.

Ashari (2006), menyatakan bahwa kredit/modal merupakan salah satu faktor pendukung pengembangan adopsi usahatani. Kredit dapat membantu dalam mengatasi keterbatasan modal, dan menjadi insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi sehingga akan meningkatkan pendapatan petani dan mendukung ketahanan pangan. Berdasarkan teori tersebut, bahwa jumlah pembiayaan modal kerja (murabahah) dapat meningkatkan produksi apabila penyaluran sudah tepat sasaram dan tepat guna.

Hasil regresi tersebut sesuai dengan penelitian terdahulu (Putri, 2018) yang menyatakan bahwa jumlah kredit memiliki pengaruh positif terhadap produksi tebu petani di PTPN IX, dikarenakan dengan meningkatnya jumlah kredit yang diberikan oleh PTPN IX sebagai modal bagi petani dalam menanam

Adjusted R-Squared 0,843719 Prob(F-statistic) 0,000000

(10)

tebu maka akan mempengaruhi petani untuk membeli input terbaik sehingga akan meningkatkan produksi tebu serta memiliki tebu memiliki kualitas terbaik.

Pengaruh Pembiayaan Ijarah terhadap Produksi Tebu

Berdasarkan hasil regresi diketahui bahwa pembiayaan ijarah pada BMT Al-Hijrah KAN Jabung berpengaruh postif signifikan terhadap produksi tebu, yaitu dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (lebih kecil dari α 5% atau 0,05). Hal ini menunjukan bahwa jika sewa lahan untuk perluasan lahan tebu meningkat, maka jumlah produksi tebu petani juga akan meningkat, begitu pula sebaliknya.

Mubyarto (1984) mengemukakan bahwa tanah sebagai sebagai faktor produksi yang merupakan pabriknya hasil pertanian dimana tempat produksi berjalan yang mempunyai kedudukan paling penting.

Luas lahan tebu mampu mempengaruhi jumlah tebu yang dihasilkan oleh petani. Menurut Daniel (2004), semakin sempit lahan usaha, maka semakin tidak efisien usahatani yang dilakukan. Semakin luas lahan yang dimiliki oleh petani, maka akan semakin besar jumlah produksi yang dihasilkan oleh lahan tersebut.

Besar kecilnya hasil produksi usahatani ditentukan dari luas lahan atau sempitnya lahan yang digunakan oleh patani.

Hasil regresi terebut sudah sesuai dengan penelitian terdahulu (Putri, 2018) menyatakan bahwa luas lahan memiliki pengaruh positif terhadap produksi tebu petani, dikarenakan apabila petani menambah luas lahannya dan penguasaan lahan optimal, maka akan meningkatkan produksi tebunya.

Hasil ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Widyarto, 2017) bahwa luas lahan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil panen kopi robusta. Dapat disimpulkan bahwa hasil regresi tersebut sudah sesuai dengan teori yang ada, semakin luas lahan yang disewa oleh petani tebu, maka akan semakin efisien dan optimal jumlah tebu yang diproduksi.

E. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh peneliti, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, pembiayaan murabahah signifikan dan memiliki pengaruh positif terhadap produksi tebu petani. Dengan meningkatnya jumlah pembiayaan yang diberikan oleh BMT Al-Hijrah KAN Jabung sebagai modal petani dalam membeli input pertanian seperti; pupuk, bibit, obat dan mesin pertanian maka akan meningkatkan jumlah produksi tebu serta memiliki kualitas tebu yang tinggi.

2. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, pembiayaan ijarah signifikan dan memiliki pengaruh positif terhadap produksi tebu petani. Dengan meningkatnya jumlah pembiayaan yang diberikan BMT Al-Hijrah KAN Jabung untuk sewa lahan tebu maka akan memperluas lahan petani untuk menanam tebu dan akan meningkatkan jumlah produksi tebunya. Semakin sempit lahan usaha, semakin tidak efisien usaha tani yang dilakukan.

Saran

Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan penulis diatas maka, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. BMT Al-Hijrah KAN Jabung diharapkan dapat mempertahankan model pembiayaan yang telah membantu nasabah khusunya para petani untuk untuk menjalankan usaha dan bisa memperluas pemberian pembiayaan bagi yang membutuhkan.

2. BMT Al-Hijrah KAN Jabung diharapkan mengadakan pembinaan bagi para petani agar usaha dapat berjalan dan berkembang. Pembianaan diharapkan mampu meningkatkan usaha dan memastikan bahwa pembiayaan yang diberikan untuk kegiatan produktif bukan konsumtif.

3. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan mampu mengembangkan penelitian dengan melihat faktor-faktor lain yang mempengaruhi produksi usahatani tebu.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Antonio, M. S. (2002). Bank Syariah: Suatu Pengenala Umum. Jakarta: Tazkia Institute.

Ascarya. (2015). Akad dan Produk Bank Syariah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Ashari, & Saptana. (2015). Forum Penelitian Agro Ekonomi. Prospek Pembiayaan Syariah Untuk Sektor Pertanian, Vol 23.

Ashari, S. (2006). Holtikultura Aspek Budidaya. Jakarta: UI Press Boediono. (2006). Teori Ekonomi Mikro. Yogyakarta: BPFE UGM.

Case, E. K., & Fair, R. C. (2007). Prinsip-Prinsip Ekonomi. Jakarta: Erlangga.

Daniel, M. (2004). Pengantar Ekonomi Petanian. Jakarta: Bumi Aksara.

Lesmana, E. D., & Affandi, M. (2014). Pengaruh Modal, Tenaga Kerja, Dan Lama Usaha Terhadap Produksi Kerajinan Manik-Manik Kaca (Studi Kasus Sentra Industri Kecil Kerajinan Manik- Manik Kaca Desa Plumbon Gambang, Kec. Gudo, Kab. Jombang.

Pemerintah Kabupaten Malang. (2016). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2016-2021. Kabupaten Malang.

Radita, R., & Hoetoro, A. (2018). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Tebu Petani Di PT Perkebunan Nusantara XI Tahun 2012-2016.

Susyanti, J. (2016). Pengelolaan Lembaga Keuangan Syariah. Malang: Empat Dua.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian mengenai strategi yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga, serta

August 2019 Why does the combined total tonnes of CO2e1 removed, in Tables 6 and 6.1, not equal the number of units transferred for removal activities in Table 9?.  Table 6 shows