KAMPUS SENI DAN WACANA SENI RUPA
Oleh: Rain Rosidi*
Peran Institusi dalam Pengetahuan Seni
Dalam seni rupa dikenal istilah Art World. Sebuah istilah untuk menggambarkan beberapa komponen penting yang membentuk seni rupa dunia, seperti konvensi-konvensi, stuktur support, institusi-institusi, produksi, konsumsi, dan distribusi karya seni. Kajian mengenai Art World diperkenalkan oleh para pemikir seni seperti Arthur Danto, George Dickie, dan Howard S. Becker. Berbeda dengan pandangan para humanis sebelumnya, yang memandang seniman sebagai pusat dari penciptaan karya seni, Becker dalam bukunya yang berjudul Art World menjelaskan bahwa seni rupa sebagai sebuah aktivitas merupakan aktivitas kolektif masyarakatnya. Becker juga menggunakan konsepsi Marx mengenai pembagian kerja. Hanya saja, Becker memberikan pandangan mengenai konvensi dalam melihat seni. Bagi Becker, konvensi ini menyediakan titik temu antara kaum humanis dan para sosiolog, sebagaimana gagasan-gagasan familier dalam sosiologi seperti norma, aturan, pemahaman bersama, kebiasaan, atau folkway. Semua gagasan-gagasan dan pemahaman itu merupakan hasil-hasil dari aktivitas kooperatif (Becker, 1982).
Dari pemikiran Art World itu, maka seni modern yang tersebar di dunia mempunyai satu medan sosial yang sama. Beberapa instrumen yang membentuk seni dunia adalah:
institusi pendidikan seni, museum internasional, galeri-galeri, balai lelang seni, majalah seni, even-even penting seni rupa seperti biennal, triennial, dan kompetisi-kompetisi.
Institusionalisasi teori ini seperti digagas oleh Arthur Danto dan George Dickie. Salah satunya adalah kutipan dari Arthur Danto mengenai art world: “To see something as art requires something the eye cannot descry—an atmosphere of artistic theory, a knowledge of the history of art: an artworld. (Danto, 1964, h. 580).
Dickie lebih lanjut lagi mengemukakan peranan organisasi instistusional seni itu dalam pernyataannya: “A work of art in the classificatory sense is 1) an artifact 2) a set of the aspects of which has had conferred upon it the status of candidate for appreciation by some person or persons on acting on behalf of a certain social institution (the artworld).
(Dickie, 1975, h. 34).
Artworld sebagai sebuah sistem dalam seni juga secara elastis mengakomodasi kreatifitas dari yang paling radikal sekalipun. Dickie menengarai bahwa tidak ada batasan pada sejumlah sistem dalam art world dalam satu konsepsi seni. Setiap major sistem mengandung serangkaian subsistem. Sebagai contoh, junk sculpture sebagai subsistem merupakan tambahan dalam sistem patung.
Dalam seni rupa kontemporer, muncul kesadaran bahwa teori dan sejarah seni dunia bukanlah berwajah tunggal. Art Theory tergantikan dengan istilah Art Theories. Begitu juga dengan Art History, yang kemudian lebih dikenal dengan Art Histories. Tidak tunggalnya watak seni kontemporer memberi ruang yang besar bagi seni rupa di wilayah non barat untuk tampil dalam pentas seni global sebagai bagian dari Art World. Pengetahuan dalam seni menjadi lebih terbuka pada bentuk-bentuk pengetahuan yang lahir dari proses-proses lokal di masing-masing wilayah.
Artworld di Indonesia
Sejak mengenal seni yang disebut seni modern, Indonesia sudah mengacu pada art world yang berwatak internasional. Raden Saleh, sebagai satu bukti pelukis modern awal di Indonesia, nyata-nyata mempelajari gaya melukis di Belanda dan mengadopsi gaya romantik yang berkembang di Eropa pada masa itu. Demikian juga para pelukis sesudahnya, seperti Affandi, Sudjojono dan sebagainya. Para seniman itu bersinggungan dengan dunia seni rupa internasional dan sebagian mendapat perhatian dan tempat dalam medan sosial seni dunia.
Hal lain yang mendukung proses internasionalisasi itu adalah peranan perguruan tinggi seni di Indonesia. Perguruan tinggi seni kita mengadopsi kajian-kajian mengenai sejarah seni modern dunia yang pada dasarnya adalah sejarah seni Eropa. Para mahasiswa seni mempelajari tokoh-tokoh seni yang dianggap sebagai tokoh seni dunia seperti Van Gogh, Picasso, Rembrand, dan sebagainya. Pola ini dipertahankan sampai sekarang, walaupun kemudian di masakini mulai ada kajian-kajian mengenai seni lain dari wilayah- wilayah di luar Eropa Amerika.
Walaupun masih belum mempunyai museum seni kontemporer yang mapan, Indonesia telah pula mencoba menyelenggarakan even seperti biennal. Dua buah biennal yang bertahan sampai sekarang adalah Biennal Jogja dan Biennal Jakarta. Kedua even itu masih belum mampu melibatkan dirinya dengan seni rupa arus utama dunia, misalnya dengan mendatangkan seniman-seniman terkemuka dunia.
Seni rupa Indonesia juga melakukan proses internasionalisasinya melalui ruang- ruang seni alternatif. Bahkan dengan ruang alternatif tersebut, seniman-seniman Indonesia bisa memperluas basis sosialnya.
Kampus FSR ISI Yogyakarta sebagai Produsen Pengetahuan
Dalam sebuah uraian mengenai sejarah singkat Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta (FSR ISI), Dr M. Agus Burhan, salah seorang dosen seni rupa yang sekarang menjabat sebagai dekan FSR di kampus itu mengemukakan bahwa sejarah FSR ISI Yogyakarta adalah sebuah proses panjang penyempurnaan sistem pendidikan seni rupa. FSR ISI Yogyakarta pada awalnya adalah sebuah akademi yang bernama ASRI (1949), singkatan dari Akademi Seni Rupa Indonesia. ASRI dibentuk dalam segala keterbatasan. Tidak banyak seniman yang mengajar di situ yang mendapat didikan seni secara formal. Sistem yang berlangsung tidak berbeda jauh dengan sanggar, misalnya dengan mendidik beberapa mahasiswa yang setelah lima atau enam tahun dianggap mampu akan juga menjadi pengajar di ASRI.
Setelah beberapa kali mengalami perubahan bentuk pada akhirnya ASRI menjadi FSR ISI Yogyakarta. Sebelumnya sempat pula menjadi STSRI ASRI yang kemudian disatukan dengan akademi seni yang lain dalam wadah Institut Seni Indonesia (1984). FSR ISI bersama Fakultas Seni Pertunjukkan dan Fakultas Seni Media Rekam mengembangkan sistem pendidikan seni di ISI Yogyakarta yang lebih modern. Visi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta adalah menjadi pusat pembinaan dan pengembangan kesenirupaan yang terpercaya agar mampu memberi kontribusi bagi pencerdasan dan pencerahan estetik sesuai perkembangan zaman. Misi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta mengembangkan kesenirupaan Indonesia yang selaras dengan perkembangan teknologi yang berwawasan budaya nasional melalui proses pembelajaran yang ideal dalam bidang penciptaan dan pengkajian, menyiapkan lulusan yang bermoral, kreatif, tangguh, unggul, dan memiliki sense
of entrepreneurship, serta memberi kontribusi positif bagi kebutuhan masyarakat luas di bidang kesenirupaan.
Proses panjang perubahan bentuk itu juga menggambarkan proses yang terjadi dalam dunia seni rupa di Indonesia. Agus Burhan juga menyatakan bahwa proses itu terjadi secara dialogis antara mempertahankan nilai tradisi dan modernitas. FSR ISI Yogyakarta juga dalam proses mematangkan dirinya dalam konstelasi seni rupa dunia, dan sekaligus memberikan dasar yang baik bagi bentuk pendidikan seni rupa di Indonesia dalam kaitannya dengan dunia pendidikan nasional pada umumnya. Proses-proses dialog inilah yang menjadi bentuk dari FSR ISI sekarang.
Di kampus ISI Yogyakarta pengetahuan mengenai produksi karya itu terbangun melalui aktivitas kolektif yang berlangsung di dalamnya dan interaksinya dengan lingkungan seni di kota Yogyakarta. Seni rupa walaupun dikenal sebagai kerja seni yang cenderung soliter tetapi tetaplah sebuah aktivitas kolektif sebagaimana bentuk-bentuk seni lain yang lebih nampak kolektivitasnya seperti musik, film, teater, dan pedalangan. Yang berbeda dalam seni rupa adalah bahwa aktivitas kolektif itu tidak berlangsung di bawah satu atap.
Kerja seni rupa sangat bergantung pada industri material seni seperti pabrik kain kanvas, pabrik alat-alat grafis, pabrik industri bahan patung dan sebagainya. Di samping itu kerja seni rupa juga bergantung pada para pengrajin dan penyedia material lukisan seperti spanram, pigura, dan tukang cetak dalam mematung yang juga merupakan bagian dari aktivitas kolektif kerja seni rupa.
Pengetahuan mengenai bahan dalam berkarya dikembangkan di studio-studio kampus maupun kantong-kantong komunitas seninya. Terjadi kreativitas-kreativitas dalam menggunakan bahan seni karena keterbatasan mahasiswa dalam mengakses bahan-bahan utama berkarya. Kenaikan harga material seni yang gila-gilaan pasca krisis ekonomi tahun 1990an akhir memunculkan bahan-bahan alternatif dalam berkarya. Hal itu nampak pada karya-karya yang mendapat penghargaan pada kompetisi-kompetisi tingkat nasional di tahun-tahun tersebut, seperti pelukis Galam yang menggunakan material ballpoint pada lukisan kanvasnya, Dipo Andy dengan cat genteng dan sablon, Yunizar dengan cat besi, dan sebagainya. Transfer pengetahuan itu terjadi baik di dalam kampus maupun di studio-studio seniman. Ciri kolektif yang sangat kental di Yogyakarta memungkinkan terjadinya komunikasi yang intensif di antara para mahasiswa dengan teman sebaya maupun senior- seniornya. Pada masa-masa itulah cat genteng dan cat tembok menjadi material favorit mahasiswa dalam melukis.
Kampus ISI Yogyakarta sebagai sebuah kampus seni yang memberi penekanan pada praktik studio (untuk minat utama penciptaan seni) sebesar 75% dari keseluruhan kurikulum pelajarannya merupakan sumber pengetahuan yang besar bagi mahasiswa (calon seniman) dalam membentuk pengetahuan mereka atas produksi karya. Pada tingkat dasar mahasiswa diberi beban tugas 1000 lembar sketsa selama setahun. Di samping itu selama beberapa semester mahasiswa diharuskan membuat puluhan gambar bentuk (still life) di studio kampus dengan teknik arsir dasar maupun pengembangannya. Praktik ini dirasa sebagai praktik pendidikan seni yang konvensional, akan tetapi tidak dapat dipungkiri memberi sejumlah bekal ketrampilan utama yang nampak pada karya-karya mahasiswa itu setelah mereka berkarir secara profesional di lapangan. Saya mendapat pengakuan dari beberapa alumni ISI Yogyakarta yang menyebutkan dampak positif dari proses pembelajaran seni yang konvensional itu sebagai bagian yang penting untuk karir seninya.
Sebagai kampus yang bermisi mengembangkan kesenirupaan yang selaras dengan perkembangan teknologi, FSR ISI Yogyakarta juga melakukan perubahan-perubahan yang dibutuhkan. Proses mediasi dalam presentasi karya seni mendapat perhatian melalui penekanan yang sama antara ranah seni sebagai penciptaan dan seni pengkajian. Wilayah pengkajian seni sebagai bagian yang penting dalam penciptaan pengetahuan dalam seni menjadi alternatif pilihan bagi mahasiswa yang hendak menyelesaikan studinya di samping penciptaan seni yang mengutamakan kerja studio seperti disebutkan di atas.
Peran FSR ISI Yogyakarta sebagai produsen pengetahuan itu perlu mendapat perhatian yang lebih melalui instrumen-instrumen pengkajiannya. Pengetahuan yang bersifat lokal dan dilahirkan secara khas melalui proses dialogis di antara berbagai aspek dalam seni baik global maupun lokal membutuhkan peran para peneliti dan dokumentator untuk dapat menjadi pengetahuan bersama yang bisa dinikmati oleh semua pihak. Peran institusi pendidikan seni sebagai produsen pengetahuan itu menjadi sangat vital di tengah pluralitas pengetahuan yang berlangsung dalam dunia seni. Dari sinilah, FSR ISI Yogyakarta dapat memerankan dirinya dalam wacana seni rupa kontemporer secara lebih luas.
* Rain Rosidi, staff pengajar Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pendiri Paraliyan Institut Indonesia