Kanker Paru
Khansa Najma Salsabila 41221396100040
Pembimbing :
dr. Priska Duana Putri, Sp.P, FAPSR
Definisi
Semua penyakit keganasan yang berasal dari paru (primer).
Secara pengertian klinik tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus (karsinoma bronkus/bronchogenic carcinoma)
Sekunder metastasis tumor di paru ➞
Epidemiologi
● Berdasarkan Global Burden of Cancer (GLOBOCAN), terdapat 2.206.771 kasus kanker paru secara global pada tahun 2020.
● Kejadian kanker paru terbanyak pada individu usia ≥40 tahun dan meningkat sampai usia 70 tahun. Perbandingan kejadian pada pria dan wanita adalah 3:1
● Data dGLOBOCAN menunjukkan insiden kanker paru tahun 2020 di Indonesia adalah sebanyak 34.783 kasus baru atau setara 8,8% dari keseluruhan kasus kanker.
● Di Indonesia, kasus terbanyak ditemukan pada pria. Data tersebut menunjukkan bahwa karsinoma paru termasuk dalam 3 besar jenis karsinoma terbanyak di Indonesia, setelah kanker payudara dan kanker serviks.
● Angka mortalitas akibat kanker paru di Indonesia sebanyak 30.843 kasus kematian
atau sebanyak 13,2%. Data tersebut menunjukkan kanker paru dalam urutan pertama
penyebab kematian akibat kanker di Indonesia.
Faktor Resiko
Faktor Risiko yang tidak dapat dimodifikasi Usia
- Semakin lama, banyak terpajan faktor risiko, kemampuan memperbaiki sel semakin menurun
- Insidens kanker paru peningkatan tajam pada usia 45-49 tahun Jenis Kelamin
Laki-laki > Perempuan Genetik
- Polimorfisme kromosom 5, 6, dan 15 meningkatkan risiko terjadinya kanker paru
- Hilangnya ekspresi protein tumor supresor gen FHIT, p16 - Risiko meningkat jika memiliki orang tua, saudara, atau anak
yang terkena kanker paru
Faktor Risiko yang dapat dimodifikasi
Rokok
- Asap rokok ➞ Zat karsinogen (nikotin, tar, cadmium, formaldehid, dll)
- Aliran asap rokok terus menerus ➞ gangguan mukosa dan epitel saluran napas
- Perokok aktif berisiko 20x > bukan perokok - Perokok pasif berisiko 20% > bukan perokok
Paparan Zat Karsinogen
- Debu yang mengandung arsen, krom, uranium, nikel, vinil krorida, dan gas mustard
- Cat yang mengandung timah, kromium, asbestos, arsenik, titanium
- Gas radon yang ditemukan alami di batu, tanah, dan air tanah
Faktor Risiko yang dapat dimodifikasi
Paparan Zat Karsinogen (Polutan Udara) 4 kategori :
- Polutan berupa gas (SOX, NOX, Cox, Ozone, Volatile organic compound (VOC))
- Polutan organik yang menetap (contoh : dioxin) - Logam berat (contoh : Timbal, Merkuri )
- Partikel (Particulate matter (PM))
Salah satu polutan gas merupakan zat karsinogen adalah benzene ➞ salah
satu bentuk formaldehid (VOC), sumber benzene berasal dari bahan bakar
minyak, cat, rokok dan asap kendaraan bermotor
Patogenesis
Karsinogen ➞ perubahan struktur Deoxyribonucleic Acid (DNA) ➞ mutasi gen lokasi 1p, 3p, 9p ➞ perubahan struktur DNA ➞ mengaktivasi gen protoonkogen (gen myc, gen k-ras) / menginaktivasi gen tumor supresor (gen p53, gen rb)
1. Tumor Initiation
Ekspansi / proliferasi awal klon sel tertentu yang sebelumnya telah terinisiasi ➞ sel terus membelah ➞ mutasi gen semakin membesar ➞ akumulasi sel ➞ lesi preneoplastik
2. Tumor Promotion
3. Malignant Convertion
Mutasi gen terus berlanjut ➞ lesi preneoplastic menjadi ganas
Perkembangan lanjut ➞ sel-sel telah menjadi berfenotip ganas cenderung lebih agresif seiring berjalannya waktu (angiogenesis, proses invasi, dan infiltrasi ke jaringan sekitar hingga terjadi metastasis ke jaringan lain).
4. Tumor Progression
Diagnosis
ANAMNESIS
1. Batuk, sesak napas, atau nyeri dada (gejala respirasi) yang muncul lama / tidak kunjung sembuh dengan pengobatan biasa pada pasien “kelompok risiko”
2. Berkaitan dengan pertumbuhan tumor langsung batuk (60-70%), hemoptisis, nyeri dada dan sesak ➞ napas/stridor.
3. Berkaitan dengan pertumbuhan regional efusi pleura, efusi perikard, sindrom vena kava superior, ➞ disfagia, sindrom Pancoast, dan paralisis diafragma.
● Sindrom Pancoast : kumpulan gejala kanker paru yang tumbuh di sulkus superior invasi pleksus ➞ brakhial nyeri pada lengan . ➞
● Sindrom Horner: ptosis, miosis, hemifacial anhidrosis 4. Suara serak kelumpuhan saraf/ gangguan pita suara
5. Metastasis otak dan tulang belakang gangguan neurologis (sakit kepala,lemah/parese). Metastasis ➞ tulang nyeri tulang ➞
6. Gejala lain : gejala paraneoplastic nyeri muskuloskeletal, hematologi, vaskuler,neurologi, dan lain-lain. ➞
Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum dan kesadaran
- TTV: Sesak napas – suara napas abnormal Jika ada massa, efusi pleura, atau atelektasis - PF Paru
Inspeksi: Pergerakan dinding dada saat statis dan dinamis Palpasi: Ekspansi dinding dada, Vokal fremitus
Perkusi: Sonor atau redup
Auskultasi: Vesikuler +/+, Ronkhi, wheezing
- Penyebaran: KGB preaurikular, retroaurikular, submandibula, submental, supraklavikula, infraklavikula, axilla
- SVKS: Bendungan bena kava superior venektasi, pelebaran vena di leher dan dada, edema wajah leher lengan
- DVT: Edema disertai nyeri pada ekstremitas dan gangguan hemostasis (D-Dimer)
Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
- Pemeriksaan tumor primer di paru: ukuran kecil biasanya pemeriksaan paru normal, jika besar biasanya disertai ateletaksis, sindrom obstruksi, efusi pleura, SVKS, tanda horner pada pancoast tumor (ptosis, miosis, anhidrosis ipsilateral)
- Staging: pemeriksaan KGB dan invasi lokal tumor paru
- Metastasis: otak (pemeriksaan saraf atau motorik), tulang (tanda fraktur), hepar dan
organ abdomen
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Patologi Anatomi
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Pencitraan
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Khusus Lain
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Khusus Lain
Klasifikasi
Kanker Paru Karsinoma Sel Kecil (KPKSK): 15%
Kanker Paru Karsinoma Bukan Sel Kecil (KPKBSK): 85%
a. Adenokarsinoma: 40%
b. Karsinoma Sel Skuamosa: 25-30%
c. Karsinoma Sel Besar: 10-15%
Perbedaan KPKSK & KPKBSK
Kanker Paru Karsinoma Sel Kecil (KPKSK) Veterans
Administration Lung Cancer Study Group
Staging
TNM 8
thStaging American Joint Committee on Cancer (AJCC)
Kanker Paru Karsinoma Bukan Sel Kecil (KPKBSK)
Penentuan Stadium
TNM 8
thStaging American Joint
Committee on Cancer (AJCC)
Performance Status
Menentukan dapat dilakukan atau tidaknya kemoterapi atau radioterapi kuratif.
Jika pasien tidak baik, maka dilakukan Best supportive care.
Tatalaksana KPKSK
Prinsip Tatalaksana
KPKSK
Extensive stage disease/
Stadium 4 Limited stage disease/Stadiu m 1, 2 dan 3
• Terapi kombinasi : sisplatin/karboplatin dengan etoposid (pilihan utama) atau sisplatin/karboplatin dengan irinotecan.
• Radiasi paliatif pada lesi primer dan lesi metastasis
• Kombinasi kemoterapi berbasis platinum + terapi radiasi toraks sebanyak 4 siklus (1 siklus 21-28 hari) / terapi konkuren ➞ terapi radiasi toraks dimulai 30 hari setelah awal kemoterapi
• Usia lanjut + PS buruk (>2) ➞ kemoterapi sisplatin
• PS baik (0-1) ➞ kemoterapi karboplatin
• Setelah kemoterapi ➞ PS baik & tidak ada progresivitas tumor ➞ Iradiasi kranial profilaksis (PCI) / prophylaxis cranial irradiation
Tatalaksana KPKSK
1. Limited-Stage/Terbatas Goal : menyembuhkan kanker
- Pilihan utama : Kemoradiasi➝kombinasi kemoterapi berbasis platinum sebanyak 4 siklus (1 siklus 21-28 hari) + terapi radiasi toraks
- Kemoradiasi konkuren/bersamaan➝terapi radiasi toraks dimulai selama 1 siklus setelah awal kemoterapi
- Kemoradiasi sekuensial/berjarak
- Stadium 1 atau 2A : mungkin pembedahan (lobektomi) ➝ dilanjutkan terapi adjuvant (kemoterapi atau radiasi) untuk mengobati sel kanker yang tersisa - Tidak pembedahan : SABR (Stereotactic Ablative Radiotherapy) ➝ dosis radiasi tinggi ➝ dilanjutkan terapi adjuvant (sistemik: kemoterapi)
syarat :
- (x) kanker dalam sampel biopsy KGB mediastinum dan kelenjar di antara paru-paru
- Dilanjutkan terapi adjuvant
2. Extensive-Stage/Luas
Goal : mengontrol gejala dan memperpanjang hidup - Pilihan utama : sistemik/kemoimunoterapi 4-6 siklus - Kemoimunoterapi : kemoterapi berbasis platinum + imunoterapi ➝ jika hasil baik ➝ dilanjutkan continuation maintenance (pemeliharaan lanjutan)
- Perawatan pemeliharaan : asetozulimab setiap 21 atau 28 hari/durvalumab setiap 2 hari
- Radiasi paliatif : mengurangi/meringankan gejala yang disebabkan kanker paru-paru, seperti :
1. Pembengkakan ➝ SVKS 2. Nyeri tulang
3. Sakit punggung ➝ sumsum tulang belakang
4. Sakit kepala ➝ otak ➝ radiasi seluruh otak : WRBT (Whole-Brain Radiation Therapy)
Tatalaksana KPKBSK
INDIKASI : Stadium I-II dan stadium IIIA yang masih dapat direseksi setelah kemoterapi neoadjuvan
LOBEKTOMI
• Pengangkatan lobus paru yang terdapat tumor
• Tumor >2cm dengan gambaran solid pada CT
PNEUMONEKTOMI
• Pengangkatan seluruh paru
• Kanker paru multifokal SEGMENTEKTOMI
• Pengangkatan sebagian lobus
• Lesi GGO atau adenocarcinoma in situ
• Dilakukan jika pasien tidak memiliki fungsi paru yang baik
SLEEVE RESECTION
• Pengangkatan lobus dan sebagian bronkus
Dengan Bantuan : 1. VATS
• Pembedahan dada dengan bantuan video
• Mengangkat bagian paru dengan sayatan yang kecil
• Rawat inap RS lebih singkat dan rasa sakit lebih sedikit.
2. Bronkoskopi Fleksibel
• Menilai sebab dan luas stenosis, dan permeabilitas saluran bronkhial distal dari stenosis
3. Bronkoskopi Rigid
• Untuk obstruksi saluran pernapasan sentral (trakea dan bronkus) dengan saluran bronkial sehat dan parenkim distal dari stenosis berfungsi dengan baik
• Bersama terapi laser ➝ gas seperti CO2 dan KTP ➝ koagulasi dan merusak tumor intralumen
• Krioterapi ➝ expansi dari cairan gar kriogenik
➝ dehidrasi, kristalisasi sel, apoptosis, dan iskemia jaringan.
SURGERY
Tatalaksana KPKBSK
Semua stadium KPKBSK ➞ sebagai terapi kuratif, definitif, kuratif neoajuvan, ajuvan maupun paliatif.
• Stadium awal (stadium I) : sebagai radioterapi kuratif definitif ➞ yang secara medis menolak dilakukan operasi setelah evaluasi bedah thoraks
• Stadium lokal lanjut (stadium II dan III) secara konkuren dengan kemoterapi
• Pasien yang tidak bisa toleransi kemoradiasi konkuren ➞ kemoterapi sekuensial dan radiasi atau radiasi saja
• Stadium IIIA resektabel: kemoterapi preoperasi (neoadjuvant) dan radiasi pasca operasi (adjuvant)
• Stadium IV: radioterapi diberikan sebagai paliatif atau pencegahan gejala (nyeri, perdarahan, obstruksi)
RADIATION
Teknik :
1. Computed Tomography (CT)-based planning menggunakan teknik Three- Dimensional Conformal Radiation (3D- CRT) ➞ standar minimal radioterapi kuratif pada kanker paru ➞ bila fasilitasnya tersedia.
2. IMRT/VMAT dan IGRT ➞lebih canggih➞baik untuk memberikan radioterapi kuratif dengan aman.
Tatalaksana KPKBSK
• Terapi Neoadjuvan ➞ preoperasi pada stadium dini (stadium I)
• Terapi Adjuvan ➞pasca operasi, stadium IIA, IIB dan IIIA
•
Terapi paliatif ➞ pada stadium lanjut Kecuali jika tampilan umum pasien baik (Karnofsky
>60%; WHO 0-2) ➞ terapi kuratif
• Lini I
Indikasi ➞ pasien yang tidak pernah menerima pengobatan kemoterapi sebelumnya (chemo naïve) Terdiri dari :
1. (+) platinum : sisplatin, karbopatin.
2. (-) platinum (obat generasi baru) : etoposid, gemsitabin, paklitaksel, dan vinoralbin
Dapat ditoleransi dengan lebih baik oleh :
• Pasien usia lanjut
• Komorbiditas berat
• Lini II
Indikasi ➞ pasien yang pernah mendapat kemoterapi lini pertama namun tidak memberikan respon setelah 2 siklus, atau KPKBSK yang menjadi lebih progresif setelah
kemoterapi selesai.
Obat : dosetaksel dan pemetreksed
CHEMOTHERAPY
Tatalaksana Berdasarkan Stadium
Tatalaksana Berdasarkan Stadium
Edukasi
1. Jauhi paparan Radon 2. Makan makanan sehat 3. Hindari bahan karsinogen 4. Hindari rokok
5. Batasi alkohol
Mengurangi mortalitas dan meningkatkan kualitas hidup 1. Berhenti merokok
2. Fisioterapi Pernapasan ➝ interevensi dispnea
3. Intervensi psikologis ➝ meningkatkan keterampilan koping
Pasien yang berhenti merokok telah terbukti mengurangi risiko kanker paru-paru sebesar 39,1% setelah lima tahun.
Pasien juga harus diberi konseling bahwa berhenti merokok akan mengurangi risiko semua kanker kedua sebesar 3,5 kali
Evaluasi Pasca Terapi
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan Fisik 3. CT Scan
4. Pemeriksaan Laboratorium
5. Pemeriksaan Lain sesuai kebutuhan
Pemeriksaan setiap 3-4 bulan selama 2 tahun pertama
Pemeriksaan setiap 6 bulan selama 3 tahun berikutnya
Komplikasi Pasca Terapi
• Chemotherapy-induced nausea and vomiting
• Fatigue
• Anorexia
• Weight loss
• Anemia
• Neutropenia
• Nephrotoxicity
(especially in patients receiving cisplatin-based therapies)