• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini

N/A
N/A
yusuf afriadi

Academic year: 2024

Membagikan " Karakteristik Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah

Karakteristik Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini

Makalah ini di Susun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan Sosial Emosional Anak 2

Dosen Pengampu: Suwono, S.Sn, M.Pd.I

Disusun Oleh:

Febri Kurniasari (221310013) Vivi Suryandari (221310034)

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN I L M U KEGURUAN

UNIVERSITAS MA’ARIF LAMPUNG (UMALA)

TAHUN AKADEMIK 2023/2024

(2)

I

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Karakteristik Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini” ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Sosial Emosional Anak 2.

Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Hakikat Pendidikan Keluarga bagi para pembaca dan juga bagi penulis. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak dosen Suwono, S.Sn, M.Pd.I. selaku dosen mata kuliah Perkembangan Sosial Emosional Anak 2 yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan saya.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Saya menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Metro, 17 Februari 2024

Penulis

(3)

Daftar Isi

Kata Pengantar ... I

Daftar Isi... II

BAB I Pendahuluan ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan Penulisan ... 1

BAB II Pembahasan ... 2

A. Pengertian Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini ... 2

B. Karakteristik Perkembangan Sosial Anak Usia Dini ... 3

C. Karakteristik Perkembangan Emosional Anak Usia Dini...8

BAB III Penutup ... 9

Kesimpulan ... 9 Daftar Pustaka ... 1 0

(4)

1

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang

Perkembangan sosial anak sangatlah penting bagi pertumbuhan dan proses kematangan anak menuju tahap kedewasaan. Perkembangan sosial yang baik dimulai dari proses sosialisasi anak dengan lingkungan yang akan memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi anak di masa depan. Kemampuan anak dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain sehingga dapat menjadi bagian dari masyarakat disebut dengan keterampilan sense of community.

Berdasarkan penelitian dari Rahmadhaan dan Suryanto, Sarason mengemukakan bahwa sense of community sebagai persepsi mengenai adanya rasa kesamaan dengan orang lain, rasa saling ketergantungan dengan orang lain, keinginan

untuk mempertahankan diri dengan cara memberikan atau melakukan sesuatu bersama orang lain, dan adanya perasaan bahwa menjadi bagian dari kelompok masyarakat sehingga tercipta hubungan sosial emosional yang erat. Sebagai mahkluk hidup, sudah kodratnya manusia tidak bisa hidup sendiri, melainkan membutuhkan bantuan dari orang lain Emosi merupakan suatu gejolak penyesuaian diri yang berasal dari dalam dan melibatkan hampir keseluruhan diri individu.

Emosi juga berfungsi untuk mencapai pemuasan atau perlindungan diri atau bahkan kesejahteraan pribadi pada saat berhadapan dengan lingkungan atau objek tertentu. Pada saat anak masuk Kelompok Bermain atau juga PAUD, mereka mulai keluar dari lingkungan keluarga dan memasuki dunia baru. Dalam dunia baru yang dimasuki anak, ia harus pandai menempatkan diri diantara teman sebaya, guru dan orang dewasa di sekitarnya. Karena Peristiwa ini merupakan perubahan situasi dari suasana emosional yang aman ke kehidupan baru yang tidak dialami anak pada saat mereka berada di lingkungan keluarga yang memberi perlindungan. Tidak setiap anak berhasil melewati tugas perkembangan social emosional pada usia dini, sehingga berbagai kendala dapat saja terjadi. Dan sebagai pendidik sepatutnyalah untuk memahami perkembangan social emosional anak sebagai bekal dalam memberikan bimbingan terhadap anak agar mereka dapat mengembangkan kemampuan sosial dan emosinya dengan baik.

(5)

Perkembangan sosial individu mengikuti suatu pola, yaitu urutan perilaku sosial yang teratur, di mana pola tersebut sama untuk setiap anak secara normal. Dalam perkembangan sosial anak terdapat beberapa ciri dalam setiap periodenya.Untuk maksud tersebut di atas, dalam makalah ini akan dibahas tentang : karakteristik perkembangan sosial emosional anak.

B. Rumusan Masalah

1. Jelaskan pengertian perkembangan sosial emosional anak usia dini?

2. Sebutkan karakteristik perkembangan sosial anak usia dini?

3. Sebutkan karakteristik perkembangan emosional anak usia dini?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui perkembangan sosial emosional anak usia dini.

2. Untuk mengetahui karakteristik perkembangan sosial anak usia dini.

3. Untuk mengetahui karakteristik perkembangan emosional anak usia dini.

(6)

BAB II Pembahasan

A. Pengertian Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini

Perkembangan sosial emosional anak adalah kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat interaksi anak dengan orang lain dimulai dari orang tua, saudara, teman bermain hingga masyarakat luas. Dapat dipahami bahwa perkembangan sosial emosional tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kata lain,membahas perkembangan emosi harus bersinggungan dengan perkembangan sosial, begitu pula sebaliknya membahas perkembangan sosial harus melibatkan emosional, sebab keduanya terintegrasi dalam bingkai kejiwaan yang utuh.1

Menurut Hurlock, perkembangan sosial emosional adalah perkembangan perilaku yang sesuai dengan tuntunan sosial, dimana perkembangan emosional adalah suatu proses dimana anak melatih rangsangan-rangsangan sosial terutama yang didapat dari tuntutan kelompok serta belajar bergaul dan bertingkah laku.

Sedangkan menurut Salovey dan John Mayer yang dikutip dalam buku Ali Nugraha pengembangan sosial emosional meliputi: empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengalokasi rasa marah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai kemampuan menyelesaikan masalah antara pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, kesopanan dan sikap hormat.2 Kemampuan kerjasama anak ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor kondisi baik kondisi anak dan lingkungan sosialnya, orang tuanya, teman sebaya maupun masyarakat sekitar. Apabila kondisi lingkungan anak dapat memfasilitasi dan memberi ruang positif maka anak akan dapat meningkatkan kemampuan kerjasamanya dengan baik, begitupun sebaliknya. Namun, anak akan memiliki kemampuan kerjasama yang baik, apabila orang tua memberikan pola asuh yang baik, tidak banyak para orang tua tidak memperhatikan bahwa kemampuan kerjasama itu penting untuk diperhatikan pada kehidupan anak. Hal ini dikarenakan anak akan dapat mempelajarinya sendiri nanti ketika memasuki masa

1 Sukatin Et Al., “Analisis Perkembangan Emosi Anak Usia Dini,” GOLDEN AGE Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang

AAnak Usia Dini 5, No. 2 (Juni).

2 Sukatin Et Al., “ANALISIS PSIKOLOGI PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI,” Fakultas Pendidkan Dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Nusantara Batanghari, Jamb 6 (Desember 2016).

(7)

sekolah, padahal kemampuan kerjasama anak juga diperoleh di dalam keluarga dan lingkungan sekitar.3

B. Karakteristik Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

Karakteristik perkembangan sosial anak usia dini dapat dibagi menjadi beberapa tahap periode, diantaranya:4

1. Periode bayi

a. Usia 1-2 bulan, anak belum mampu untuk membereskan objek dan benda.

b. Usia 3-4 bulan, mata sudah kuat melihat orang/objek, tersenyum kepada orang lain.

c. Usia 5-6 bulan, bercaksi berbeda terhadap suara, terkadang agresif, memegang, melihat, mengikuti suara dan tingkah laku yang sederhana.

d. Usia 12 bulan, mengenal larangan.

e. Usia 24 bulan, anak sudah membantu melakukan aktivitas sederhana.

2. Periode Prasekolah

a. Membuat kontak sosial dengan orang di luar rumahnya.

b. Mulai dapat bemain bersama.

c. Mulai menujukkan tingkat laku sosial, seperti:

1) Pembangkangan (negativisme) menupakan tingkah laku yang terjadi sebagai reaksi terhadap segala bentuk penerapan disiplin dan tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan keinginan anak. Tingkah laku ini muncul pada anak yang berusia 18 bulan sampai tiga tahun, dan mulai menurun pada usia 4- 6 tahun.

2) Agresi (aggression) yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) dan katakata (verbal), Agresi merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap rasa frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan dan keinginannya). Biasanya bentuk ini ditunjukkan dengan perilaku menyerang seperti mencubit, menggigit, menendang, dan memukul.

3) Berselisih (arrguing) merupakan suatu sikap yang terjadi jika anak measa tersinggng atau terganggu dengan sikap atau perilaku orang lain.

3 Mira Yanti Lubis, “MENGEMBANGKAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI MELALUI BERMAIN,”

GENERASI E4 MAS 2, No. 1 (2019).

4Dek Ngurah Laba Laksana And Konstantinus Dua Dhiu, Aspek Perkembangan Anak Usia Dini, 1st Ed.

(Pekalongan, Jawa Tengah: PT. Nasya Expanding Manegement, 2021).

(8)

4) Menggoda (teasing) merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) maupun nonverbal (perbuatan yang bertujuan untuk mengganggu atau usil) yang menimbulkan marah pada orang yang digodanya.

5) Persaingan (rivaly) merupakan keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap ini mulai terlihat pada usia 4 tahun, yaitu persaingan dan pada usia 6 tahun semangat bersaing ini semakin baik.

6) Kerja Sama (cooperation), Sikap ini mulai muncul pada usia tiga tahun atau empat tahun, pada usia enam tahun hingga tujuh tahun sikap ini semakin berkembang dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan anak yang ingin bemain bersama serta mengerjakan sesuatu bersama.

7) Tingkah Laku Berkuasa (ascendent belhavior) yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi. Wujud dari sikap ini adalah memaksa, meminta, menyuruh, mengancam, dan sebagainya.

8) Mementingkan Diri Sendiri (selfishness) yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya. Wujud dari sikap ini adalah anak yang acuh dan ingin menang sendiri.

9) Simpati (syimpaty) merupakan sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain agar mau mendekati atau bekerja sama dengan dirinya.

Menurut Hurlock, ada beberapa pola perilaku sosial anak, antara lain:

1. Meniru

Agar anak merasa sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan perilaku orang yang sangat ia kagumi.

2. Persaingan

Keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang-orang lain sudah tampak pada usia empat tahun. Ini dimulai dirumah dan kemudian berkembang dalam bermain dengan anak diluar rumah.

3. Kerja Sama

Pada akhir tahun ketiga bermain koopertif dan kegiatan kelompok mulai berkembang dan meningkat, baik dalam frekuensi maupun lamanya berlangsung, bersamaan dengan meningkatnya kesempatan untuk bermain dengan orang lain. Artinya dalam

(9)

masa kanak-kanak sikap kerja sama ini sangat umum dilaksanakan dalam proses sosialisasi anak karena sudah mulai bermain dengan teman sebayanya.

4. Simpati

Simpati ini snagat berhubungan dengan perasaan dan emosi orang lain maka hal ini haya kadıng-kadang timbul sebelum tiga tahun, semakin banyak kontak bermain maka semakin cepat simpati ini berkembang.

5. Empati

Perilaku empati tidak hanya melibatkan emosi dan perasaan orang lain saja, tetapi juga membayangkan diri sendiri di tempat orang lain atau membayangkan diri sendiri sebagai orang lain. Relatif hanya sedikit anak yang memiliki perilaku seperi ini karena sifat dasar anak yang egosentris.

6. Dukungan Sosial

Dukungan dari teman-teman merasa lebih penting dibandingkan dukungan dari orang dewasa pada masa kanak-kanak ini. Anak menganggap perilaku nakal dan mengganggu merupakan cara untuk memperoleh dukungan dari teman temannya.

Artinya anak tidak akan menganggap baik dan buruk menurut orang dewasa tetapi menunjukkan perilaku yang dianggap sama dengan temannya.

7. Membagi

Seiring berjalannya waktu, anak mengetahui bahwa salah satu cara untuk memperoleh pengakuan sosial adalah dengan membagi miliknya, seperti mainan atau benda yang ia miliki untuk anak-anak lain. Lambat laun sifat mementingkan diri sendiri ini akan berubah menjadi murah hati. Anak yang sejak bayi memperoleh kepuasan dari hubungan yang hangat, erat dan personal dengan orang lain berangsur-angsur memberikan kasih sayang kepada orang lain di luar rumah, seperti guru, teman, atau benda kesayangannya.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa tingkah laku sosial pada anak usia dini berbeda-beda menurut tingkatan usia anak. Semakin tumbuh anak, semakin berkembang tingkah laku sosial anak. Tingkah laku sosial anak sangat berpengaruh dalam proses interaksi dan sosialisasi anak dengan lawan sosial seperti teman sebaya maupun orang dewasa.

(10)

C. Karakteristik Perkembangan Emosi Anak Usia Dini

Menurut Masnipal, ada beberapa ciri utama reaksi emosi sosial anak usia dini, yaitu: 5 1. Anak Iebih sering terjadi berselisih dengan teman sebaya, menunjukkan sikap suka

tidak suka (walaupun rentang benci pendek), suka merajuk (menangis dan bersembunyi sendiri bila dimarahi), sedih bila barang kesayangannya hilang mati.

2. Kegiatan berteman lebih intens, bermain bersama di rumah maupun diluar rumah, hubungan anggota keluarga seperti kaka lebih sering terjadi bentrokan, karena anak berusaha menunjukkan "kekuatannya" dihadapan anggota keluarga. la mau diakui sebagai salah satu anggota keluarga dengan hak yang sama.

3. Perilaku yang mencolok adalah perilaku marah tidak senang dengan menyembunyikan diri sambil menangis, anak harus diakui sebagai bagian dari kelompok keluarga, kegiatan pertemuan lebih intens, perselisihan mulai berkurang.

4. Interaksi anak dengan teman sebaya sangat intens, sudah jarang bertengkar atau bisa bekerjasama lebih lama, respons positif dari orang dewasa membuat anak dekat.

Terdapat pola-pola emosi umum pada awal masa kanak-kanak, antaranya:

1. Amarah

Anak mengungkapkan rasa marahnya dengan menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat-lompat atau memukul. Penyebab dari amarah ini yang paling umum adalah karena pertengkaran tenatang permainan, tidak tercapainya keinginan dan serangan hebat yang diterimanya dari orang lain.

2. Takut

Kebiasaan peniruan, dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan merupakan penyebab dalam menimbulkan rasa takut, seperti: cerita-cerita, acara televisi, dan film-film dengan unsur menakutkan. Pada mulanya reaksi anak terhadap rasa takut adalah panik. kemudian menjadi lebih khusus seperti lari, menghindar, dan bersembunyi, menangis dan menghindari situasi yang menakutkan.

3. Cemburu

Anak menjadi cemburu bila ia mengira bahwa minat dan perhatian orang tua mulai beralih kepada orang lain didalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. Anak yang lebih muda dapat mengungkapkan kecemburuannya secara terbuka atau menunjukkannya dengan kembali berperilaku seperti anak kecil, seperti mengompol,

5 Dewi Indriawati, “Hubungan Antara Status Gizi Dan Kecerdasan Emosi Terhadap Kesulitan Belajar Anak Usia Dini” 7, No. 1 (2013): 22.

(11)

pura-pura sakit, atau menjadi nakal. Perilaku ini semua bertujuan untuk menarik perhatian orang tua.

4. Ingin Tahu

Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru yang dilihatnya, juga mengenai tubuhnya dan tubuh orang lain. Reaksi pertama adalah dalam bentuk penjelajahan sensomotorik (meraba), kemudian berkembang menjadi bertanya.

5. Iri Hati

Anak-anak sering iri hati terhadap orang lain mengenai kemampuan atau barang yang dimiliki orang lain. Reaksi dari iri hati ini bermacam-macam, yang paling umum mengeluh dengan barang kepunyaan sendiri dan mengungkapkan ingin mempunyai barang seperti orang lain atau dengan mengambil barang kepunyaan orang lain.

6. Gembira

Anak-anak merasa bahagia karena sehat, bunyi yang tiba-tiba atau yang tidak diharapkan, bencana yang ringan, membohongi orang lain dan berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit. Anak mengungkapkan kegembiraannya dengan tersenyum dan tertawa, bertepuk angan, melompat-lompat atau memeluk benda atau orang yang membuat dirinya bahagia.

7. Sedih

Penyebab anak-anak sedih yang paling umum adalah karena kehilangan segala sesuatu yang dicintainya atau yang dianggap penting bagi dirinya, seperti orang, binatang, atau benda mati seperti mainan dan benda yang ia sayangi. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan menangis dan dengan kehilangan minat terhadapa kegiatan normalnya, termasuk makan.

8. Kasih Sayang

Anak-anak belajar mencintai orang. binatang, atau benda yang menyenangkannya. la mengungkapkan kasih sayang secara lisan bila sudah besar tetapi ketika masih kecil anak mengungkapkannya secara fisik, seperti memeluk, menepuk, dan mencium objek kasih sayangnya.

(12)

BAB III Penutup

Kesimpulan

Perkembangan sosial emosional anak adalah kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat interaksi anak dengan orang lain dimulai dari orang tua, saudara, teman bermain hingga masyarakat luas.

Karakteristik perkembangan sosial anak usia dini dapat dibagi menjadi dua periode yaitu periode bayi dan periode prasekolah. Menurut Hurlock, ada beberapa pola perilaku sosial anak meliputi meniru, persaingan, kerja sama, simpati, empati, dukungan sosial, dan membagi. Terdapat pola-pola emosi umum pada awal masa kanak-kanak antara lain amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih, dan kasih sayang

(13)

Daftar pustaka

Indriawati, Dewi. “Hubungan Antara Status Gizi Dan Kecerdasan Emosi Terhadap Kesulitan Belajar Anak Usia Dini” 7, No. 1 (2013): 22.

Laba Laksana, Dek Ngurah, And Konstantinus Dua Dhiu. Aspek Perkembangan Anak Usia Dini. 1st Ed. Pekalongan, Jawa Tengah: Pt. Nasya Expanding Manegement, 2021.

Sukatin, Nurul Chofifah, Mutia Rahma Paradise, Mawada Azkia, And Saidah Nurul Ummah.

“Analisis Perkembangan Emosi Anak Usia Dini.” Golden Age Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini 5, No. 2 (Juni).

Sukatin, Qomariyyah, Yolanda Horin, Alda Afrilianti, Alivia, And Rosa Bella. “Analisis Psikologi Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini.” Fakultas Pendidkan Dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Nusantara Batanghari, Jamb 6 (Desember 2016).

Yanti Lubis, Mira. “Mengembangkan Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Bermain.”

Generasi Emas 2, No. 1 (2019).

Referensi

Dokumen terkait

Kurangnya keterampilan sosial emosional ini terlihat dari kurangnya kesadaran anak untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, kurangnya empati atau bersifat

Perilaku yang ditunjukkan anak yang telah disampaikan di atas menunjukkan bahwa anak-anak di KB Ratna Mekar Lestari telah memenuhi tingkat pencapaian perkembangan sosial-emosional

Perkembangan tersebut meliputi perkembangan Fisik, Intelektual, Bahasa, Sosial- Emosional. Seorang anak pada usia dini dari hari ke hari akan mengalami perkembangan. Proses

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka peneliti akan melakukan penelitian mengenai “ Analisis Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh kelima narasumber dapat disimpulkan bahwa dampak negatif yang terjadi dari penggunaan gawai terhadap perkembangan sosial emosional anak usia

Kecerdasan emosional tumbuh seiring perkembangan seseorang sejak lahir hingga meninggal dunia.Perkembangan kecerdasan emosi di pengaruhi oleh lingkungan,dan contoh-contoh yang di dapat

Hasil penelitian1.Harmonisasi pola asuh orangtua terhadap perkembangan sosial emosional anak berarti menciptakan keselarasan, maka dari itu terdapat beberapa aspek perkembangan pada

Studi pengaruh penggunaan gadget terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini di PAUD Darul Aman Kabupaten Temanggung selama pandemi