• Tidak ada hasil yang ditemukan

karna hari ini adalah hidupku...

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan " karna hari ini adalah hidupku... "

Copied!
122
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Masalah Penelitian

Berdasarkan hasil evaluasi dan observasi peneliti dalam proses pembelajaran bidang sosiologi ditemukan banyak siswa yang belum mencapai hasil belajar sesuai dengan KKM yang telah ditentukan karena faktor belum tercapainya hasil belajar. akrab dengan. dengan konsep yang diberikan oleh guru. Berdasarkan uraian di atas nampaknya terdapat kesenjangan antara kondisi nyata dengan harapan.Kesenjangan utama pada mata pelajaran ini adalah pada tahap awal hasil belajar sosiologi rendah, sedangkan pada tahap akhir pembelajaran sosiologi sesuai dengan yang diharapkan. Hasilnya akan meningkat.Kesenjangan utama dari peneliti ada pada kondisi. Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah penggunaan pembelajaran kooperatif tipe Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran berkualitas pada pembelajaran sosiologi bahasa pokok perubahan sosial di kelas. XII SPI.2 SMA Negeri 1 Anggeraja Kabupaten Enrekang. "

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran khususnya dalam pemilihan strategi pengajaran yang tepat pada mata pelajaran sosiologi. Mendorong siswa agar lebih aktif dan mampu memecahkan permasalahan atau permasalahan yang dihadapi pada mata pelajaran sosiologi.

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

  • Pengertian Belajar
  • Hasil Belajar Sosiologi
  • Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil belajar
  • Tinjauan Materi Perubahan Sosial
  • Hiperrealitas Sebagai Fakta Sosial
  • Metode Kooferatife Tipe Make A Match
  • Kerangka Pikir
  • Hipotesis Tindakan

Hasil belajar pada hakikatnya adalah hasil yang dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, dimana hasil tersebut menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya seorang siswa dalam proses pembelajaran. Menurut Sudjana, hasil belajar adalah keterampilan yang dimiliki siswa setelah memperoleh pengalaman belajar. Artinya ada dua faktor lain diluar dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi tercapainya hasil belajar.

Oleh karena itu, hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. Hipotesis dalam penelitian ini adalah jika model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match diterapkan pada pembelajaran sosiologi dengan pokok bahasan Perubahan Sosial (Hyperreality), maka hasil belajar siswa dan aktivitas siswa kelas XII IPS akan menurun. .2 Negeri 1 Anggareja Kabupaten Enrekang dapat meningkat.

METODE PENELITIAN

  • Lokasi dan Subjek Penelitian
  • Aspek-Aspek Yang Di Teliti
  • Prosedur Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data
  • Indikator Keberhasilan

Pada saat pembelajaran dimulai pada Siklus II, kegiatan guru pada tahap perencanaan adalah sebagai berikut: Peneliti akan menyiapkan bahan ajar yang akan disajikan pada pembelajaran perubahan sosial (Hiperrealitas). Aktivitas siswa selama proses pembelajaran pada siklus II Tabel 4.5 Aktivitas siswa pada siklus II. Persentase siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (bermain, ribut, dan lain-lain) pada saat pembelajaran berlangsung pada siklus I sebesar 11,80%, pada siklus II turun menjadi 2,16%.

Informasi tentang pengertian perubahan sosial Guru memperbolehkan siswa mencari pengertian kontrol sosial Guru memperbolehkan siswa bertanya. Guru memotivasi siswa agar siap mengikuti pembelajaran. Guru bertanya kepada siswa tentang pengertian perubahan sosial. Dari berbagai definisi tersebut dapat dikatakan bahwa hakikat perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada struktur dan fungsi masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada pranata sosial suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya. Selain itu Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan yang terjadi pada struktur dan fungsi masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat yang terbuka akan memfasilitasi perubahan sosial dan budaya.

Kecepatan perubahan sosial budaya masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor mendasar, yaitu faktor pendorong dan faktor penghambat. A. Oleh karena itu, seringnya kontak dengan budaya lain akan mempercepat laju perubahan sosiokultural. Oleh karena itu, sikap reseptif terhadap hal-hal baru merangsang terjadinya perubahan sosial budaya di masyarakat.

TABEL 3.1 DISTRIBUSI KELOMPOK
TABEL 3.1 DISTRIBUSI KELOMPOK

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan Siklus I

Pada kegiatan awal guru mengevaluasi dan memotivasi siswa dengan cukup baik, hal ini terlihat dari perhatian siswa terhadap guru. Siswa yang mendengarkan petunjuk dan penjelasan guru berjumlah sekitar 26 orang dari jumlah siswa yang hadir saat itu, 5 orang siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (berantakan, berisik, dan lain-lain). Setelah itu guru memberikan evaluasi dan motivasi yang baik kepada siswa, hal ini terlihat dari siswa yang memberikan perhatian kepada guru.

Siswa yang aktif dalam pembelajaran berjumlah 23 orang ketika menyampaikan materi dan berbicara dengan benar di depan kelas sekitar 5 orang dan yang memberikan jawaban berjumlah 5 orang, dari pertemuan pertama ini jumlah siswa yang membutuhkan bimbingan guru adalah, 14 orang dan yang masih pasif berjumlah sekitar 8 orang. Guru memotivasi siswa agar siap mengikuti pembelajaran. Guru bertanya kepada siswa tentang jenis-jenis lembaga sosial. Kemudian guru memberikan apresiasi dan motivasi kepada siswa dengan cukup baik, terlihat siswa memberikan perhatian kepada guru.

Siswa yang mendengarkan arahan dan penjelasan guru kurang lebih berjumlah 30 orang dari total siswa yang hadir pada saat itu, terdapat 3 orang siswa yang melakukan aktivitas negatif pada saat proses pembelajaran (mengacaukan, membuat keributan, dan lain-lain). Siswa yang aktif dalam pembelajaran berjumlah 29 orang, berbicara tepat di depan kelas sebanyak 6 orang, dan yang menyampaikan jawaban berjumlah 8 orang. Dari pertemuan pertama ini, jumlah siswa yang membutuhkan bimbingan guru sebanyak 6 orang, dan yang masih pasif sebanyak 5 orang. Siswa mengerjakan soal yang dibagikan oleh guru. Siswa menyerahkan pekerjaannya kepada guru untuk dinilai.

Siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran sebanyak 96,77%, mendengarkan penjelasan guru atau arahan guru sebanyak 89,22%, melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (kebisingan, kekacauan, dll) sebanyak 11,80% dan aktif dalam pembelajaran sebanyak 78,43%, persentasenya materi diskusi dan berbicara yang benar di depan kelas mencapai 17,19%. Berdasarkan tabel 4.3 di atas terlihat bahwa dari 31 siswa penelitian, 0 siswa (0%) mempunyai kemampuan belajar Sosiologi dengan kategori sangat rendah, 8 siswa atau 25,81% memiliki kemampuan dalam kategori rendah, disusul 9 siswa atau 29,03% yang memiliki kemampuan dalam kategori sedang, 14 siswa atau 45,16% yang memiliki kemampuan dalam kategori tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan dalam kategori sangat tinggi yaitu sebanyak 0 siswa atau 0%. Berdasarkan tabel 4.4 di atas terlihat bahwa dari 31 siswa setelah diberikan tindakan, terlihat 17 siswa (54,84%) berada pada kategori belum tuntas dan 14 siswa (45,16%) berada pada kategori tuntas.

Table 4.2   Statistik Skor Hasil Tes Siswa Pada Siklus I
Table 4.2 Statistik Skor Hasil Tes Siswa Pada Siklus I

Pelaksanaan Siklus II

Siswa yang mendengarkan petunjuk dan penjelasan guru berjumlah sekitar 29 dari total siswa yang hadir pada saat itu, siswa yang melakukan kegiatan negatif. Siswa yang aktif dalam pembelajaran berjumlah 25 orang ketika menyampaikan materi dan berbicara dengan benar di depan kelas sekitar 9 orang dan yang memberikan jawaban sebanyak 6 orang, dari pertemuan pertama ini jumlah siswa yang memerlukan bimbingan guru sebanyak 7 orang, dan yang masih pasif berjumlah sekitar 3 orang. Siswa yang mendengarkan petunjuk dan penjelasan guru berjumlah sekitar 30 orang dari total siswa yang hadir pada saat itu, siswa yang melakukan aktivitas negatif pada saat proses pembelajaran (bermain-main, membuat keributan, dan lain-lain) 1.

Siswa yang aktif dalam pembelajaran berjumlah 28 orang, pada saat materi disajikan dan diucapkan dengan benar di depan kelas berjumlah sekitar 10 orang, dan yang menyerahkan jawaban berjumlah 6 orang, dari pertemuan pertama ini jumlah siswa yang membutuhkan guru pembimbing berjumlah 2 orang, dan 2 orang yang masih pasif. Dari jumlah siswa yang mengikuti pertemuan ini sebanyak 31 orang, selesai pada kegiatan awal, guru memberikan apresiasi dan motivasi kepada siswa dengan sangat baik, terlihat dari siswa yang memberikan perhatian kepada guru. Seluruh siswa atau 31 siswa mendengarkan arahan dan penjelasan guru pada saat itu, siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (bermain-main, ribut, dan lain-lain) sudah tidak ada lagi.

Siswa yang aktif dalam pembelajaran berjumlah 30 orang ketika menyampaikan materi dan berbicara dengan benar di depan kelas sekitar 12 orang dan yang memberikan jawaban sebanyak 8 orang, dari pertemuan pertama ini jumlah siswa yang membutuhkan bimbingan guru adalah 2 orang, dan 2 orang yang masih pasif. Hal ini semakin terlihat dengan meningkatnya siswa yang membuat catatan kecil atas pertanyaan yang mereka ajukan. Dari Tabel 4.8 diatas diketahui bahwa dari 31 siswa kelas setelah diberikan tindakan ditemukan 3 siswa (9,68%) dalam kategori belum tuntas dan 28 siswa (90,32%) berada dalam kategori tuntas.

Hal ini juga diperhatikan oleh peneliti pada II. siklus yaitu suasana belajar dan rasa keterhubungan yang tumbuh dan berkembang antar anggota kelompok memungkinkan siswa lebih memahami dan memahami materi pembelajaran, dan siswa yang kurang antusias akan terbantu oleh siswa lain yang memiliki semangat belajar, bertubuh lebih tinggi dan memiliki kemampuan untuk menggunakan yang dipelajari. Data ini memperkuat data sebelumnya yaitu bertambahnya jumlah siswa yang mampu menyelesaikan tugas bersama anggota kelompoknya. Frekuensi kehadiran siswa dalam proses belajar mengajar pada akhir pertemuan tingkat kedua menunjukkan minat dan motivasi belajar siswa meningkat, keberanian bertanya tentang hal-hal yang belum dipahaminya merata, tidak hanya antar sesama. siswa yang mempunyai prestasi akademik yang baik, namun juga siswa yang selama ini diam menunjukkan keberanian untuk bertanya dan menjawabnya.

Tabel  4.5  dapat  di  lihat  bahwa  siklus  II  dari    orang  31  siswa,  siswa  yang  hadir  pada  saat  kegiatan  pembelajaran  sebanyak  99%
Tabel 4.5 dapat di lihat bahwa siklus II dari orang 31 siswa, siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran sebanyak 99%

Pembahasan

Perubahan sosial yang cepat biasanya menimbulkan disorganisasi yang bersifat sementara karena sedang dalam proses pengaturan diri. Menjelaskan proses perubahan sosial dalam masyarakat C. Mengidentifikasi ciri-ciri perubahan sosial D. Setelah pembelajaran diharapkan siswa mampu mendeskripsikan pengertian perubahan sosial. Samuel Koening secara ringkas menyatakan bahwa perubahan sosial mengacu pada modifikasi yang terjadi pada pola kehidupan manusia.

Dengan demikian, secara umum dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan unsur-unsur sosial dalam masyarakat, sehingga terbentuklah tatanan kehidupan sosial baru dalam masyarakat. Para filsuf, sejarawan, ekonom, dan sosiolog telah mencoba merumuskan prinsip atau hukum perubahan sosial. Sorokin percaya bahwa semua upaya untuk menyatakan adanya tren perubahan sosial yang pasti dan permanen tidak akan berhasil.

Sebaliknya ada pula yang mengatakan bahwa semua kondisi tersebut sama pentingnya, salah satu atau seluruhnya akan menghasilkan perubahan sosial. Perubahan evolusioner adalah perubahan sosial yang terjadi dalam proses yang lambat, dalam jangka waktu yang lama dan tanpa adanya kemauan khusus dari masyarakat yang bersangkutan. Perubahan revolusioner adalah perubahan yang terjadi secara cepat dan tanpa kemauan atau perencanaan terlebih dahulu.Secara sosiologis, perubahan revolusioner diartikan sebagai perubahan sosial yang berkaitan dengan unsur kehidupan atau pranata sosial yang terjadi dalam waktu yang relatif cepat.

Teknologi dapat mempengaruhi perkembangan masyarakat yaitu dapat mempengaruhi pemikiran dan perilaku tertentu manusia yang akan membawa perubahan sosial budaya dalam kehidupannya. Setiap orang akan berlomba-lomba menciptakan karya yang bermanfaat bagi masyarakat…karya inilah yang mendorong munculnya perubahan sosial budaya. Perbedaan tersebut dapat menimbulkan konflik jika tidak dibarengi dengan rasa toleransi yang tinggi. Konflik inilah yang mendorong munculnya perubahan sosial budaya.

Tabel  4.10  Perbandingan  hasil  belajar  sosiologi  siswa  kelas  X11  IPS 2  SMA  Negeri 1 Anggeraja Kabupaten Enrekang  pada tiap siklus
Tabel 4.10 Perbandingan hasil belajar sosiologi siswa kelas X11 IPS 2 SMA Negeri 1 Anggeraja Kabupaten Enrekang pada tiap siklus

KESIMPULAN DAN SARAN

Saran

Hubungan antara konflik dan perubahan sosial budaya sebenarnya bersifat timbal balik, yakni konflik dalam masyarakat memungkinkan munculnya perubahan sosial budaya, dan sebaliknya perubahan sosial budaya dalam masyarakat memungkinkan munculnya konflik.

FOTO DOKMENTASI
FOTO DOKMENTASI

Gambar

TABEL 3.1 DISTRIBUSI KELOMPOK
Table 4.2   Statistik Skor Hasil Tes Siswa Pada Siklus I
Tabel 4.3  Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Siklus I  No  Interval Skor  Kategori  Frekuensi  Persentase
Tabel 4.4 Deskriptif ketuntasan belajar sosiologi siswa pada siklus I
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pencapaian keberhasilan tersebut dapat dilakukan dengan cara guru harus memahami materi yang akan diajarkan dan mengetahui bagaimana kemampuan serta pengetahuan siswa sebelum mengikuti