Referat
KARSINOMA PROSTAT
Oleh :
ACHSANUL KUBRI NIM : 1508434436
Pembimbing :
dr. Andreas Makmur, Sp.Rad
KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU
2016
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli- buli, di depan rektum dan membungkus uretra posterior. Prostat seringkali membesar secara bertahap setelah usia 50 tahun. Pada usia 70 tahun, 80% pria memiliki prostat yang membesar. Banyak pria lansia yang mengalami masalah buang air kecil karena pembesaran prostat (non-kanker). Pada beberapa pria, pembesaran ini diikuti oleh tumbuhnya kanker.Karsinoma prostat adalah suatu kanker ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat, tumbuh secara abnormal tak terkendali sehingga mendesak dan merusak jaringan sekitarnya dan merupakan yang terbanyak diantara keganasan sistem urogenitalia pada pria. Bentuk keganasan prostat yang tersering adalah Adenokarsinoma prostat, bentuk lain yang jarang adalah: sarkoma (0,1-0,2%), karsinoma sel transisional (1-4%), limfoma dan leukemia.Oleh karena itu bila kita membicarakan Kanker prostat berkonotasi sebagai Adenokarsinoma prostat.1
Karsinoma prostat di Eropa menjadi sebuah masalah kesehatan utama, terutama di negara-negara maju dengan proporsi mereka yang lebih besar laki-laki tua di populasi umum. Kejadian tertinggi di Eropa Utara dan Barat (> 200 per 100.000). Prevalensi kanker prostat di Indonesia tahun 2013 adalah sebesar 0,2‰
atau diperkirakan sebanyak 25.012 penderita. Provinsi yang memiliki prevalensi kanker prostat tertinggi adalah D.I. Yogyakarta, Bali, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan yaitu sebesar 0,5‰, sedangkan berdasarkan estimasi jumlah penderita penyakit kanker prostat terbanyak berada pada Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah. 2,3
Pemeriksaan utama dalam menegakkan Kanker prostat adalah anamnesis perjalanan penyakit, pemeriksaan colok dubur, PSA serum serta ultrasonografi transrektal/ transabdominal. Diagnosa pasti didapatkan dari hasil biopsi prostat atau spesimen operasi berupa adenokarsinoma. Selain itu pemeriksaan histopatologis akan menentukan derajat dan penyebaran tumor.4
Pengobatan kanker prostat bergantung pada stadium penyakit dengan terapi radikal baik secara operasi maupun radioterapi diindikasikan pada penderita dengan stadium awal (T1b-T2c, N0, M0). Prostatektomi radikal merupakan anjuran pertama pada penderita berusia <70 tahun tanpa adanya komorbiditas yang dapat menghalangi pelaksanaan operasi atau menambah morbiditas paska bedah.1
1.2 Rumusan masalah
Referat ini membahas tentang definisi, epidemiologi, etiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan radiologi, diagnosis banding, penatalaksanaan, dan prognosis dari karsinoma prostat.
1.3 Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan referat ini adalah:
1. Memahami dan menambah wawasan diagnosis radiologi karsinoma prostat
2. Meningkatkan kemampuan penulisan ilmiah di bidang kedokteran khususnya dibagian radiologi
3. Memenuhi salah satu syarat kelulusan Kepaniteraan Klinik di bagian radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Riau
1.4 Metode penulisan
Penulisan referat ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengacu kepada beberapa literatur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Kanker prostat adalah suatu tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat dan merupakan keganasan saluran kemih kedua paling sering dijumpai sesudah keganasan kandung kemih.1
2.2 Epidemiologi
Jumlah kanker prostat sangat bervariasi di dunia. Namun jarang terjadi di Asia Timur dan Selatan; sering terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Menurut American Cancer Society, kanker prostat paling jarang di pria Asia dan paling sering terjadi di orang hitam, dan orang Eropa di tengahnya. Dari data Indonesian Society of Urologic Oncology (ISUO) 2011 selama periode 2006-2010 terdapat 971 penderita Kanker prostat. Usia rerata 68.3 tahun, terbanyak pada selang usia 70-79 tahun sebesar 37.6%. Modalitas diagnostik yang digunakan terutama biopsi 563 kasus (57.9%). Stadium terbanyak yang ditemukan adalah stadium 4 berjumlah 490 penderita (50.5%), berturut-turut stadium 1; 83 (8.5%), 2; 271 (27.9%) dan 3; 28 (2.9%). Orkhidektomi masih merupakan terapi awal yang paling banyak digunakan, yaitu sebanyak 307 kasus (31%), obat hormonal 182 (18%), prostatktomi radikal 89 (9%), radioterapi 63 (6%), sisanya adalah pemantauan aktif, kemoterapi dan kombinasi.1, 5-6
Data dari Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI menunjukkan Prevalensi kanker prostat di Indonesia tahun 2013 adalah sebesar 0,2‰ atau diperkirakan sebanyak 25.012 penderita. Provinsi yang memiliki prevalensi kanker prostat tertinggi adalah D.I. Yogyakarta, Bali, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan yaitu sebesar 0,5‰, sedangkan berdasarkan estimasi jumlah penderita penyakit kanker prostat terbanyak berada pada Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah.3
2.3 Etiologi1,7
Etiologi kanker prostat tidak diketahui secara pasti, namun beberapa faktor resiko yang diduga sebagai penyebab timbulnya kanker prostat adalah sebagai berikut:
a. Predisposisi genetik
Kemungkinan untuk menderita kanker prostat menjadi dua kali jika saudara laki-lakinya menderita penyakit ini. Kemungkinannya naik menjadi lima kali jika ayah dan saudaranya juga menderita. Kesemuanya itu menunjukkan adanya faktor genetika yang melandasi terjadinya kanker prostat.
b. Pengaruh hormonal
Faktor hormonal Testosteron adalah hormon pada pria yang dihasilkan oleh sel Leydig pada testis yang akan ditukar menjadi bentuk metabolit, berupa dihidrotestosteron (DHT) di organ prostat oleh enzim 5 - a reduktase.
Beberapa teori menyimpulkan bahwa kanker prostat terjadi karena adanya peningkatan kadar testosteron pada pria, tetapi hal ini belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Beberapa penelitian menemukan terjadinya penurunan kadar testosteron pada penderita kanker prostat. Selain itu, juga ditemukan peningkatan kadar DHT pada penderita prostat, tanpa diikuti dengan meningkatnya kadar testosteron.
c. Diet
Diet yang banyak mengandung lemak, susu yang berasal dari binatang, daging merah dan hati diduga dapat meningkatkan kejadian kanker prostat.
Dan ini mungkin bahan bakar bagi pertumbuhan sel kanker.
d. Pengaruh lingkungan
Penderita prostat tertinggi ditemukan pada pria dengan ras Afrika – Amerika.
Pria kulit hitam memiliki resiko 1,6 kali lebih besar untuk menderita kanker prostat dibandingkan dengan pria kulit putih.
2.4 Patogenesis dan Patologi
Keganasan prostat biasanya berupa adenokarsinoma yang berasal dari kelenjar prostat yang menjadi hipotrofik pada usia dekade kelima sampai ketujuh.
Kanker prostat paling sering (sekitar 75%) terjadi pada zona perifer, 15-20% pada zona sentral atau zona transisi. Biasanya karsinoma prostat berupa lesi multisentrik.8
2.5 Manifestasi Klinis
Karsinoma prostat stadium dini dan lanjut mungkin asimptomatik pada saat diagnosis, dan lebih dari 80 persen pasien menderita penyakit stadium C dan D pada saat diagnosis. Pada orang yang simptomatis, keluhan yang sering ditemui adalah disuria, kesulitan berkemih, mengedan jika ingin berkemih, peningkatan frekuensi berkemih, retensi urin total, nyeri punggung atau pinggang dan hematuria. Setiap laki-laki berusia diatas 40 tahun yang mengeluh disuria, sering berkemih atau kesulitan berkemih tanpa obstruksi uretra mekanis harus dicurigai menderita kanker prostat. Gejala lainnya berupa: 1, 5,9
segera setelah berkemih, biasanya air kemih masih menetes-netes
perasaan tidak puas setelah berkemih
nyeri baik ketika berkemih maupun ejakulasi
inkontinensia uri
hematuria
penurunan berat badan
2.6 Diagnosis a. Anamnesis
Dari anamnesis kita dapat menggali keluhan utama pasien biasanya pasien dengan kanker prostat memiliki keluhan dibagian urogenital seperti gangguan miksi atau rasa tidak enak saat akan kencing, pasien juga mengeluhkan turunnya berat badan. Perlu juga digali riwayat-riwayat faktor resiko terjadinya kanker itu sendiri.1
b. Pemeriksaan Fisik
Dari pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah pemeriksaan colok dubur, ini dilakukan untuk membedakan antara BPH dengan kanker prostat, biasanya yang diperiksa pada colok dubur (Digital Rectal Examination) adalah : konsistensi prostat itu sendiri, kesimetrisannya, ada atau tidaknya nodul dan kemudian ada atau tidaknya darah; pada kanker biasanya konsistensinya agak sedikit keras, tidak simetris dan kadang-kadang terdapat darah. Penemuan prostat abnormal pada DRE berupa nodul atau indurasi hanya 15 – 25 % kasus yang mengarah ke kanker prostat.1
c. Pemeriksaan kadar Prostat Spesifik Antigen
Prostat Spesifik Antigen (PSA) adalah enzim proteolitik yang dihasilkan oleh epitel prostat dan dikeluarkan bersamaan dengan cairan semen dalam jumlah yang banyak. Prostat Spesifik Antigen memiliki nilai normal ≤ 4ng/ml.
Pemeriksaan PSA sangat baik digunakan bersamaan dengan pemeriksaan DRE dan TRUSS dengan biopsy. Peningkatan kadar PSA bisa terjadi pada keadaan Benign Prostate Hyperplasya (BPH), infeksi saluran kemih dan kanker prostat sehingga dilakukan penyempurnaan dalam interpretasi nilai PSA yaitu PSA velocity atau perubahan laju nilai PSA, densitas PSA dan nilai rata – rata PSA, yang nilainya bergantung kepada umur penderita.1 d. Biopsi prostat
Pemeriksaan biopsi prostat menggunakan panduan transrectal ultrasound scanning (TRUSS) sebagai sebuah biopsi standar. Pemeriksaan biopsi prostat dilakukan apabila ditemukan peningkatan kadar PSA serum pasien atau ada kelainan pada saat pemeriksaan DRE atau kombinasi keduanya yaitu ditemukannya peningkatan kadar PSA serum dan kelainan pada DRE. Neoplasia Interaepitel Prostat (PIN) yang diduga merupakan prekusor kanker prostat.7
Pada biopsi jaringan sampel diambil dan diperiksa dengan bantuan mikroskop untuk mengetahui ada tidaknya perubahan dari kanker. Hanya biopsi yang dapat menentukan kanker prostat dengan pasti. Sejumlah dokter biasanya mengambil sejumlah jaringan sample untuk dibiopsi. Namun perlu diketahui meskipun hasil biopsi negatif namun kanker kemungkinan tetap ada. Hal ini mungkin dikarenakan pada saat biopsy sample yang diambil
bukanlah jaringan yang mengalami kanker. Pada kanker prostat yang mempunyai pembungkus tumornya memiliki grade dan stage tersendiri.
Grade dan stage tersebut membantu dalam menentukan jenis terapi yang akan dilakukan.10,11
Score gleason diperuntukkan untuk kanker prostat berdasarkan gambaran mikroskopiknya. Score gleason sangat penting karena skor yang tinggi berhubungan dengan prognosis yang buruk. Hal ini disebabkan score gleason yang tinggi memberikan gambaran kanker yang pertumbuhannya cepat. Untuk menerapkan score gleason perlu dilakukan biopsi. Biopsi dilakukan dengan cara prostatektomi atau dengan cara memasukkan dengan needle ke dalam kelenjar prostat melalui rectum.11, 12
Tingkat infiltrasi dan penyebaran tumor berdasarkan sistem TNM adalah sebagai berikut : 12,13
T – Tumor Primer
Tx - Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 - Tidak dijumpai tumor primer
Tis – Karsinoma in situ ( PIN )
- T1a – 5 % jaringan yang direseksi mengandung sel-sel kanker, colok dubur normal
- *T1b - > 5 % jaringan yang direseksi mengandung sel-sel kanker, colok dubur normal.
- *T1c - Peningkatan kadar PSA, colok dubur dan TRUS normal - *T2a - Teraba tumor pada colok dubur atau terlihat pada TRUS hanya pada satu sisi, terbatas pada prostat
- *T3a - Ekstensi ekstrakapsuler pada satu atau dua sisi - *T3b - Melibatkan vesikula seminalis
- *T4 - Tumor secara langsung meluas ke baldder neck, sfingter, rectum, muskulus levator atau dinding pelvis
N – Kelenjar limfe regional ( obturator, iliaka interna, iliaka externa, limfonodus presakral )
Nx - Tidak dapat dinilai
N0 - Tidak ada metastasis ke kelenjar limfe regional
N1 - Metastasis ke kelenjar limfe regional M – Metastasis jauh
Mx - Tidak dapat dinilai
M0 - Tidak ada metastasis
M1a - Metastasis jauh kelenjar limfe nonregional
M1b - Metastasis jauh ke tulang
M1c - Metastasis jauh ke tempat lain
Score gleason berkisar antara 2 sampai 10. score gleason dengan nilai 2 menandakan prognosis yang baik sedangkan nilai 10 menandakan nilai 10.
Score akhir merupakan kombinasi dari 2 penilaian yang berbeda dengan range 1 sampai 5. Score gleason berhubungan dengan beberapa gambaran berikut ini : 12, 13
Grade 1. kanker prostat yang menyerupai jaringan prostat normal.
Kelenjarnya kecil, bentuknya baik dan terbungkus rapat.
Grade 2. jaringan masih mempunyai kelenjar-kelenjar yang bentuknya baik, tapi lebih besar dan memiliki lebih banyak jaringan diantaranya.
Grade 3. jaringan masih memiliki kelenjar yang masih dapat dikenali, tapi selnya lebih gelap. pada pembesaran yang lebih tinggi, beberapa dari sel- sel ini meninggalkan kelenjar dan mulai menginvasi jaringan sekitarnya.
Grade 4. jaringan hanya menyisakan sedikit kelenjar yang masih dapat dikenali. Sel sudah lebih banyak menginvasi jaringan disekitarnya.
Grade 5. jaringan sudah tidak memiliki kelenjar yang dapat dikenali.
Hanya terdapat lembaran-lembaran sel disepanjang jaringan yang berada disekelilingnya.
Score gleason berguna dalam menegakkan prognosis dari kanker prostat. Bila digunakan dengan parameter lain, score gleason membantu dalam menentukan staging kanker prostat yang mana secara tidak langsung akan memberikan gambaran prognosis dari kanker prostat itu sendiri dan bermamfaat dalam penentuan terapi yang akan dilakukan.
Gambar 2.1. Score Gleason. 12
Gambar 2.2 Pengelompokan stadium (AJCC 2010). 13
2.7 Pemeriksaan Radiologi14,15
Dalam melakukan pencitraan, ada beberapa jenis pencitraan yang biasa di pakai dalam mendiagnosis kanker prostat diantaranya yaitu :
1) Radiografi
Radiografi polos panggul tidak dapat digunakan untuk menunjukkan penyakit lokal di prostat, dan mereka umumnya hanya diperlukan dalam evaluasi penyakit metastasis. Kebanyakan metastase tulang dari kanker prostat (sekitar 85%) adalah osteoblastik dan terlihat sebagai daerah
aktivitas tracer yang abnormal pada scan tulang radionuklida. Dalam kasus yang meragukan, pencitraan yang ditargetkan dengan radiografi tulang dapat membantu membedakan daerah metastasis dari penyakit degeneratif. Gambar di bawah ini menggambarkan metastase kanker prostat pada radiografi.
Gambar 2.3 Radiografi panggul menunjukkan luas, osteoblastik, metastasis sklerotik dari kanker prostat.
Sebuah rontgen dada dapat digunakan dalam mengevaluasi pasien dengan kanker prostat yang diketahui untuk menilai gejala pada dada, penurunan berat badan, nyeri tulang lokal, atau gejala dasar.
2) Transrectal Ultrasound (TRUS)
Merupakan pemeriksaan ultrasonografi (USG) dengan menggunakan alat probe berbentul silinder panjang yang dimasukkan lewat anus.
Teknologi ultrasonografi yang berkembang sampai saat ini seperti TRUS biplane dan 3D sangat membantu meningkatkan akurasi diagnosis kanker prostat .Transrectal Ultrasound (TRUS) memberikan gambaran hipoekoik pada kira-kira 60% kanker prostat. Ultrasnografi
juga dapat dipakai untuk menentukan penyebaran ke vesika seminalis dan kelenjar limf yang dekat penuntun penunjuk jarum.
Gambar 2.4 Pemindaian aksial ultrasonografi transrektal
menunjukkan daerah hypoechoic luas (panah) di zona perifer yang tepat. Biopsi mengungkapkan adenokarsinoma prostat.
Gambar 2.5 Pemindaian ultrasonografi transrektal aksial menunjukkan area hypoechoic di kiri zona perifer dan area hypoechoic kecil di zona perifer kanan (panah). Biopsi mengungkapkan sebuah adenokarsinoma (Gleason grade 6).
3) CT Scan
Pada pasien kanker prostat, CT Scan memiliki sedikit kelebihan dalam menunjukkan patologi intraprostatik dan dalam penentuan stadium lokal. Bagaimanapun, CT membantu dalam mendeteksi penyakit metastasis, seperti keterlibatan kelenjar getah bening atau metastasis tulang.sehingga klinisi bisa menetukan terapi yang tepat bagi pasien. Namun perlu diingat juga bahwa pencitraan ini cukup
memakan biaya dan sensitivitasnya juga terbatas hanya sekitar 30 – 40% .
Gambar 2.6 Computed tomography (CT) scan aksial pada level ginjal menunjukkan limfadenopati para-aorta yang meluas (panah), yang disebabkan oleh kanker prostat.
2.8 Diagnosis Banding
1. Benign Prsotat Hyperplasia (BPH)1,16
Hiperplasia prostat jinak adalah pembesaran kelenjar prostat nonkanker.
Istilah benign prostatic hiperplasia (BPH) menjelaskan proses proliferasi elemen seluler pada prostat, suatu pembesaran prostat, atau disfungsi berkemih akibat pembesaran prostat dan bladder outlet obstruction (BOO).
Gejala hyperplasia prostat menurut Boyarsky, dkk (1977) dibagi atas gejala obstruktif dan gejala iritatif. Gejala obstruktif disebabkan karena penyempitan uretra pars prostatika karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala-gejalanya antara lain:
1. Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistency) 2. Pancaran miksi yang lemah (Poor stream)
3. Miksi terputus (Intermittency)
4. Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling)
5. Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying).
Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaris yang tidak sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh karena hipersensitifitas otot
detrusor karena pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun belum penuh., gejalanya ialah : 1. Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)
2. Nokturia
3. Miksi sulit ditahan (Urgency) 4. Disuria (Nyeri pada waktu miksi)
Pada BPH Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Eamination (DRE) adalah hal yang sangat penting. Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus spingter ani, reflek bulbo cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain seperti benjolan pada di dalam rektum dan tentu saja teraba prostat. Pada perabaan prostat harus diperhatikan:
a. Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal) b. Simetris/ asimetris
c. Adakah nodul pada prostate d. Apakah batas atas dapat diraba e. Sulcus medianus prostate f. Adakah krepitasi
Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak didapatkan nodul. Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi prostat keras dan atau teraba nodul dan diantara lobus prostat tidak simetris.
Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan ada pasiem BPH adalah transabdominal, transrectal dan juga CT Scan
Transabdominal Ultrasound
1. Area inhomogen dari echodenicity tinggi dan rendah pada bagian tengah prostat
2. Accoustic shadow mengindikasikan kalsifikasi 3. Visualisasi terbatas pada anatomi zona prostat
4. Penonjolan dari pembesaran kelenjar prostat pada bagian bawah vesika urinaria
Gambar 2.7 (A) Longitudinal, (B) transversal. Gambaran Ultrasound dari buli-buli yang memperlihatkan pembesaran prostat jinak lobulus moderat dengan kalsifikasi.
Transrectal ultrasound (TRUS)
TRUS dapat menilai anatomi prostat, zona anatomy, dan perubahan internal. Volume prostat dapat dengan mudah dinilai menggunakan TRUS.
Secara umum, TRUS tidak diindikasikan untuk pemeriksaan awal BPH.
Pencitraan menggunakan TRUS direkomendasikan pada beberapa pasien.
Menyingkirkan kanker prostat pada pasien dengan peningkatan PSA (>4 ng/mL) merupakan indikasi pencitraan dengan TRUS untuk menentukan tindakan biopsi. (15)
2.9 Penatalaksanaan1,7 a. Observasi
Ditujukan untuk pasien dalam stadium T1 dengan harapan hidup kurang dari 10 tahun
b. Prostatektomi radikal
Untuk pasien dalam stadium T1-2 N0 M0 adalah cocok dilakukan prostatektomi radikal yaitu berupa pengankatan kelenjar prostat bersama dengan vesikula seminalis. Hanya saja operasi ini dapat menimbulkan penyulit antara lain perdarahan, disfungsi ereksi dan inkontinensia. Tetapi dengan teknik nerve sparring yang baik terjadinya kerusakan pembuluh darah dan saraf yang memelihara penis dapat dihindari sehingga timbulnya penyulit berupa disfungsi ereksi dapat diperkecil.
c. Radiasi
Ditujukan untuk pasien tua atau pasien dengan tumor loko-invasif dan tumor yang telah mengadakan metastase . Pemberian radiasi eksterna
Gambar 2.9 Gambar transrectal ultrasound prostat bidang axial, pada pasien berumur 64 thn. Pada kelenjar sentral, nampak dua nodul besar hyperplasia prostat
Gambar 2.8 Gambar TRUS prostat memperlihatkan batas antara zona transisi dan zona perifer (Bidang cross-sectional).
biasanya didahului dengan limfadenektomi. Diseksi kelenjar limfe saat ini dapat dikerjakan melalui bedah lparaskopik disamping operasi terbuka.
d. Terapi hormonal
1. Pemberian terapi hormonal berdasarkan atas konsep dari hugin yaitu “sel epitel prostatakan mengalami atropi jika sumber androgen ditiadakan”
2. Sumber androgen ditiadakan dengan cara pembedahan atau dengan medikametosa. Menghilangkan sumber androgen yang hanya berasal dari testis menurut Labrie belum cukup. Karena masih ada sumber andeogen dari kelenjar suprarenal yaitu sebesar ±10% dari seluruh testosterone yang beredar di dalam tubuh. Untuk itu Labrie menganjurkan untukmelakukan blockade androgen total.
e. Kemoterapi
Kemoterapi seringkali digunakan untuk mengatasi gejala kanker prostat yang kebal terhadap pengobatan hormonal. Biasanya diberikan obat tunggal atau kombinasi beberapa obat untuk menghancurkan sel- selkanker. Obat-obatan yang bisa digunakan untuk mengobati kanker prostat adalah: Mitoxantron, Prednisone, Paclitaxel, Dosetaxel, Estramustin, Adriamycin. Efek sampingnya bervariasi dan tergantung kepada obat yang diberikan.
2.9 Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari pemberian terapi baik dengan menggunakan radiasi maupun pembedahan berupa: 11
a. Gangguan ereksi (impotensi) b. Perdarahan post operasi
c. Anastomosi striktur pada perineal prostatctomy d. Urocutaneus fistula (perineal prostatctomy) e. Hernia perineal (Perineal prostatctomy)
2.10 Prognosis
Pemeriksaan klinis serta score Gleason maupun TNM sangat diperlukan dalam menentukan perkembangan serta jenis pengobatan yang sesuai terhadap suatu individu. Strategi pengobatan bervariasi dari individu yang satu terhadap individu yang lainnya. Prognosis kanker prostat tergantung pada jangkauan penyakit, kondisi kesehatan individu serta respon suatu individu terhadap pengobatan yang diberikan. Harapan hidup untuk penderita kanker prostat berhubungan dengan stadium penyakit : Stadium A 87 %, Stadium B 81%, Stadium C 64%, stadium D 30%.1,11,13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
a. Kanker prostat adalah suatu tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat
b. Etiologi kanker prostat tidak diketahui secara pasti, namun beberapa faktor resiko yang diduga sebagai penyebab timbulnya kanker prostat seperti genetik, hormonal, diet dan lingkungan
c. Diagnosis kanker prostat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.Pemeriksaan biopsi merupakan gold standar untuk menentukan suatu karsinoma prostat dengan melihat kadar PSA yang telah diperiksa
d. Penatalaksanaan pada karsinoma prostat terdiri dari observasi, prostatektomi, radiasi, terai hormnoal dan kemoterapi
e. Pemeriksaan klinis serta score Gleason maupun TNM sangat diperlukan dalam menentukan perkembangan serta jenis pengobatan yang sesuai terhadap suatu individu.
DAFTAR PUSTAKA
1. Purnomo BB, Dasar-dasar urologi. Edisi kedua. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. 2007. Hal 175-180
2. Mottet N,et al .Guidelines on prostate cancer. 2015
3. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Indonesia.2015. Situasi penyakit kanker. Jakarta Selatan
4. Komite Nasional Penanggulangan Kanker.2015. Panduan nasional penanganan kanker prostar. Jakarta
5. Dasgupta P, Kirby RS. ABC of prostate cancer. London: BMJ; 2011. h. 1- 21, 25-51.
6. International agency for research on cancer. Globocan: Incidence, mortality and prevalence worldwide in 2012. WHO; 2012. [Online].
Diakses dari: http://globocan.iarc.fr/Pages/fact_sheets_population.aspx.
7. Desen W, editor. Buku ajar onkologi. Edisi kedua.Jakarta: Balai penerbit FK-UI; 2011.hal 472-476
8. Riindia, A. Mekanisme kalsium dalam meningkatkan resiko kanker prostat pada usia lanjut (skripsi). Solo: Fakultas kedokteran universitas negeri sebelas maret Solo; 2007
9. Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA. Kapita selekta kedokteran.
Edii IV. Jakarta: Media Aesculapius; 2014. h. 280-1.
10. Hoffman RM. Screening for prostate cancer. N Engl J Med; 2011: 365. h.
2013-19.
11. Dasgupta P, Kirby RS. ABC of prostate cancer. London: BMJ; 2011. h. 1- 21, 25-51.
12. Smith EL. Localized prostate cancer & Recurrent / metastatic prostate cancer. In: Drilon AE, Postow MA. Pocket oncology. Philadelphia;
Wolters Kluwer; 2014. h. 120-3.
13. Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA. Kapita selekta kedokteran.
Edii IV. Jakarta: Media Aesculapius; 2014. h. 280-1.
14. Robin. Buku ajar patologi. Vol 2. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC, 2007. hal 746-748.
15. Sanford DM, Barentz JO. Diffusion and perfusion imaging of the prostate.
2008;16 (4):685-695.
16. Hamm,B.,Asbach.,P.,Beyersdoff.D., Hein,P.,Lemke,U., Direct Diagnosis in Radiologi; Urogenital Imaging. New York. Thieme Publishing Groups.2008;p.171-