• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBERAGAMAAN PROVINSI BALI

N/A
N/A
Azizah Nabilah

Academic year: 2024

Membagikan "KEBERAGAMAAN PROVINSI BALI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

KEBERAGAMAAN PROVINSI BALI

1 Bahasa Daerah Bahasa Bali terdiri atas 2 dialek, yaitu:

1. Dialek Bali Aga atau Bali Mula yang dituturkan oleh penduduk Bali di daerah dataran tinggi di Bali. Wilayah sebaran geografis dialek Bali Aga meliputi Kabupaten Karangasem, yaitu di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis dan Desa Seraya, Kecamatan Karangasem; Kabupaten Bangli, yaitu di Desa Terunyan dan Kecamatan Kintamani;

Kabupaten Klungkung, yaitu di Desa Klumpu, Kecamatan Nusa Penida; Kabupaten Badung bagian utara, yaitu di Kecamatan Ketihingandan Petang; Kabupaten Tabanan, yaitu di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel;

Kabupaten Buleleng, yaitu di Desa Sepang, Kecamatan Busung Biu; Kabupaten Jembrana, yaitu di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya.

2. Dialek Bali Dataran yang dituturkan oleh penduduk yang pada umumnya berdiam di daerah dataran rendah di Bali.

Dialek Bali Dataran menyebar di beberapa wilayah kabupaten di Pulau Bali meliputi Kabupaten Klungkung, yaitu di Desa Bungbungan, Kecamatan Banjarangkang;

Kabupaten Jembrana, yaitu Desa Pengragoan, Kecamatan Pekutatan; Kabupaten Tabanan, yaitu di Desa Bantas, Kecamatan Selemadeg Timur dan Desa Luwus, Kecamatan Baturiti; Kabupaten Badung, yaitu di Desa Baha, Kecamatan Mengwi dan Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan; Kota Denpasar yaitu di Kampung Kepoan, Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan; Kabupaten Gianyar, yaitu di Desa Pupuan, Kecamatan Tegalalang dan Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh; Kabupaten Klungkung, yaitu di Kampung Toyapakeh, Kecamatan Nusa Penida dan Kampung Gelgel, Kecamatan Klungkung; Kabupaten Karangasem, yaitu di Desa Bebandem dan Kampung Kecicang Muslim, Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebanden serta Desa Tianyar, Kecamatan Kubu;

Kabupaten Bangli, yaitu di Desa Jehem, Kecamatan Tembuku; Kabupaten Buleleng, yaitu di Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Desa Kayu Putih, Kecamatan Banjar, dan Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak.

2 Makanan

Tradisional Nasi Jinggo Hidangan ini bisa disebut sebagai nasi kucing versi Bali. Isiannya berupa nasi putih, ayam suwir, mi goreng, kering tempe, dan sambal sero (campuran cabai merah, cabai rawit, garam, gula pasir, terasi, dan minyak goreng). Porsinya yang sedikit

(2)

membuat nasi jinggo dijual dengan harga terjangkau.

Babi Guling Babi guling merupakan makanan khas Bali, hidangan ini sudah dinobatkan menjadi warisan budaya Bali oleh UNESCO. Bahan dasar berupa babi hidup disembelih lalu dibersihkan kotoran dan jeroannya dengan membuat lubang pada perut.

Selanjutnya, perut babi akan diisi aneka rempah yang telah dihaluskan lalu ditusukkan ke alat pemanggang hingga tembus dari mulut hingga bokong. Babi tersebut kemudian dipanggang selama beberapa jam sampai tekstur luarnya jadi renyah dan bagian dalamnya matang sempurna.

Lawar Penampilan lawar hampir mirip dengan serombotan yang sudah diaduk. Perbedaannya terletak pada komposisi bahan. Lawar memadukan kelapa parut mentah dengan bumbu yang sudah ditumis hingga harum dan matang. Kemudian, kelapa parut dan bumbu akan diaduk dengan sayuran dan potongan daging ayam atau babi.

Dahulu, lawar terbuat dari campuran darah hewan yang dimasak setengah matang agar lebih lezat. Sekarang, lawar yang menggunakan darah hewan sudah jarang dibuat karena tergolong kuliner ekstrem yang hanya disukai segelintir orang.

Serombotan Serombotan memang mirip urap tetapi bahan dasarnya lebih beragam.

Isian serombotan terdiri dari taoge, kacang panjang, bayam, kangkung, buncis, dan terong bulat yang dipotong pendek dan direbus (kecuali terong). Sayuran tersebut kemudian dicampur tiga jenis bumbu, yaitu sambal nyuh (kelapa parut tua yang dibakar lalu dicampur cabai, bawang putih, garam, terasi, dan gula Bali), bumbu kacang (terdiri dari kacang tanah, bawang putih, cabai, garam, dan terasi yang ditumbuk halus), dan unyah sere limo (campuran cabai,

(3)

garam, terasi, dan air perasan jeruk purut).

3 Adat-Istiadat Mesaiban Mesaiban merupakan sebuah ritual kecil yang dilakukan setiap pagi hari sehabis ibu-ibu selesai memasak di dapur, kebiasaan ritual ini sebelum makan,kebiasaan ini biasa sebagai wujud Terima kasih atas apa yang telah dikaruniakan-Nya da juga sebagai sajian ke Bhuta agar somya (tidak mengganggu).

Upacara Bukakak Upacara bukakak ialah upacara dalam rangka melakukan permohonan kepada Sanghyang Widhi Wasa untuk memberikan kesuburan kepada tanah- tanah pertanian mereka supaya hasil panenya berlimpah ruah. Kebiasaan dalam gelaran upacara unik ini dilakukan di desa adat dan tidak dilakukan di daerah-daerah lainnya du Bali. Jadi bagi orang yang ingin menyaksikan upacara ini bisa disaksikan di desa adat di bali.

Upacara Ngaben Upacara Ngaben atau sering disebut upacara Pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak karena dengan pengabenan itu keluarga daoat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawi menuju surga, atau menjelma Kembali ke dunia melalui reinkarnasi atau kelahiran Kembali. Status kelahiran Kembali roh serta tingkah laku selama hidupnya.

Upacara ini biasanya dilakukan di hari-hari baik. Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui konsultasi dan kelender Bali yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan “bade dan lembu”

terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan.

(4)

Upacara Ngekeb Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagian kepada pasangan ini serta nantinya diberikan anugrah berupa keturunan yang baik.

Setelah itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah dihaluskan. Dipekarangan rumah juga disediakan wadah berisi air bunga untuk keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun tersedia untuk meramas.

4 Lagu Daerah Macepet-cepetan

Lagu daerah Bali Macepet-cepetan

mempunyai makna yang bercerita kalau masyarakat Bali adalah orang yang sigap, cepat, dan tanggap dalam mengambil tindakan.

Ketika dinyanyikan, lagu daerah ini diiringi oleh musik tradisional yang

menghentak dan bersemangat.

Lagu ini juga bisa menjadi lagu penyemangat dalam melakukan kegiatan sehari-hari oleh masyarakat Bali.

Lirik lagu :

Jani m’lati macepet – cepetan, Nanging limane tusing dadi matiang, Sejaba ento mekajang dadi, Nyenje kalah lakar gedhing

Meyang – meyong Lagu ini berhubungan dengan hewan kucing.

Dalam lagu tersebut diceritakan kucing sedang sedang berusaha

menangkap tikus. Lagu ini juga bisa diperkenalkan

Lirik lagu :

Meong-meong, Alih je bikule, Bikul gede gede, Buin mokoh- mokoh, Kereng pesan ngerusuhin

(5)

kepada anak-anak untuk menambah wawasan tentang lagu daerah.

Putri Cening Ayu Lagu daerah Bali Putri Cening Ayu mempunyai makna yang bercerita antara Ibu dan anaknya.

Si Ibu meminta anaknya menunggu saja di rumah selama Ibunya pergi ke pasar untuk berbelanja.

Ada juga makna lain dari lagu ini, yaitu sebagai orang tua kita harus memberikan kebebasan pada anak agar

menemukan jati dirinya.

Lirik lagu :

Putri cening ayu ngijeng cening jumah,

Meme luas malu kapeken meblanja, Apang ada darang nasi

Putri cening ayu ngijeng cening jumah,

Meme luas malu kapeken meblanja, Apang ada darang nasi

Meme tiang ngiring nongos ngijeng jumah,

Sambilan mangempu ajak titiang dadua,

Ditekane nyen gapgapin

Meme tiang ngiring nongos ngijeng jumah,

Sambilan mangempu ajak titiang dadua,

Ditekane nyen gapgapin

Putri cening ayu ngijeng cening jumah,

Meme luas malu kapeken meblanja, Apang ada darang nasi

Putri cening ayu ngijeng cening jumah,

Putri cening ayu ngijeng cening jumah

Ratu Anom Lagu daerah Bali Ratu Anom mempunyai makna agar kita selalu percaya diri menjalai kehidupan.

Biasanya, lagu daerah ini akan dinyanyikan oleh anak-anak sebagai penyemangat untuk melakukan berbagai macam aktivitas dan agar

Lirik Lagu :

Ratu anom metangi meilen-ilen Ratu anom metangi meilen-ilen Dong pirengang munyin sulinge di jaba

Dong pirengang munyin sulinge di jaba

Enyen ento menyuling di jaba tengah Enyen ento menyuling di jaba tengah

(6)

anak tidak menjadi

seorang pemalas. Gusti Ngurah Alit Jambe Pemecutan Gusti Ngurah Alit Jambe Pemecutan

5 Tari Tradisional Tari Kecak "Cak-cak-cak." Suara obsesif dari paduan suara yang tak lekang dimakan zaman tiba-tiba muncul dari balik pepohonan. Kegelapan kemudian menyelimuti panggung.

Ratusa pria bertelanjang dada duduk melingkar dibawah cahaya lampu minyak yang berkelap-kelip. "Cak- Cak . Mereka kemudian mulai menari dengan suara yang dihasilkan dari teriakan mereka, tangan diangkat ke udara dan tubuh mereka digerakkan bersama-sama.

Tari Kecak adalah kesenian tradisional sejenis seni drama tari yang khas dari Bali. Tarian tersebut menggambarkan tentang cerita Pewayangan, khususnya cerita Ramayana yang dipertunjukan dengan seni gerak dan tarian. Fungsi awalnya sebagai tari persembahan untuk para dewa bergeser menjadi sarana hiburan yang menceritakan tentang perjuangan para kera yang membantu Sri Rama melawan Rahwana dalam merebut kembali Dewi Shinta.

Gerakan yang dilakukan tergolong sangat sederhana, namun pembawaan para penari yang berjumlah cukup banyak mulai dari puluhan hingga ribuan orang membuat Gerakan yang dimainkan tergolong sangat unit dan menarik.

Tari Pendet Tari ini merupakan bentuk tarian pemujaan yang pada tahun 1950 diciptakan oleh I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunya dewata ke dunia. Pada tahun 1967, tarian ini diubah fungsinya sebagai tarian ucapan penyambutan.

(7)

Tari Panyembrama Tarian ini pertama kali diciptakan oleh seniman, I Nyoman Kaler yang merupakan tarian penyambutan tamu.

Tarian ini dilakukan oleh penari wanita. Makna yang terkandung dari tarian ini adalah sebuah keramahan dan penghormatan sebagai ungkapan selamat datang kepada para tamu.

Tari Barong Tarian ini menggambarkan

pertarungan antara kebajikan dan kejahatan. Wujud Barong menggambarkan sosok kebajikan, sedangkan kejahatan digambarkan dengan sosok Rangda. Tari Barong terbagi dalam beberapa jenis, seperti Barong Gajah, Barong Asu (Anjing), Barong Bangkal (Babi) dan Barong Brutuk.

6 Alat Musik Genggong Bali Genggong adalah alat music bali yang mengeluarkan suara khas dan unik, agar menghasilkan suara, genggong dimainkan dengan cara ditiup bagian yang disebutdengan palayah.

Caranya, peganh ujung alat sebelah kiri menggunakan tangan kiri, dan gunakan tangan kanan untuk memegang tungkai bambu.

Tiup bagian palayah secara perlahan dan genggong pun akan berbunyi, genggong dimainkan untuk merayakan ritual adat di beberapa pedesaan di Bali.

Ceng-ceng Alat music ini yang terdengar paling keras dalam Paduan music tradisional bali. Suara yang dihasilkan benar- benar dinamis dan merupakan hasil dari 8 logam bundar yang dibenturkan satu sama lain. Delapan logam bundar tersebut berada di dalam tempurung, Sehingga suaranya lebih lantang dan menggema.

Rindik Alat music khas Pulai Dewata ini mirip dengan gamelan, dan biasanya terlihat di beberapa nimah adat.

Rindik adalah alat music yang terbuat dari pilah-pilah bambu yang disusun sedemikian rupa Sehingga

(8)

menghasilkan melodi dalam tangga nasa pentatonic.

Cara memainkan rindik adlaah dengan dipukul menggunakan alat khusus yang terbuat dari kayu.

Gangsa Gangsa merupakan salah satu instrument Bali. Alat music ini terbuat dari perunggu dan biasanya dimainakn Bersama gong gede, gong kebyar, dan jenis gong lainnya.

Menurut sejarahnya, alat music gangsa dimainkan sebagai penentu matra-matra lagu. Setiap latunan yang berasal dari pukulan gangsa melengkapi kekentalan suara musik gamelan Bali.

Suling Gambuh Suling gambuh berbeda dengan suling pada umumnya. Suling ini berukuran Panjang dan besar. Pada bagian suling terdapat 6 lubang yang berfungsi sebagai penentu nada. Cara memainkannya dengan memiringkan posisi suling secara diagonal.

7 Rumah Adat Rumah adat bali terdiri dari bahan baku yang biasa digunakan pada rumah dan bangunan di Bali antara lain atap jerami, kayu kelapa, bahan bambu, kayu jati, batu alam, dan batu bata. Rumah adat Bali yang menganut filosofi Asta Kosala Kosali biasanya terdiri dari area berikut:

Angkul-angkul Angkul-angkul adalah pintu masuk ke area rumah. Biasanya angkul-angkul berbentuk seperti gapura besar beratap.

Aling-aling Sebagai bagian dari pintu masuk, aling-aling berfungsi sebagai pembatas dan pengalih perhatian sehingga orang dari luar tidak bisa melihat langsung ke dalam area rumah. Aling-aling juga diyakini dapat mencegah masuknya aura negatif ke dalam rumah.

(9)

Sanggah (kuil keluarga) Sanggah merupakan bangunan suci yang biasanya terletak di sebelah ujung timur laut rumah. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat peribadahan keluarga besar umat Hindu.

Bale Dauh Bale dauh adalah ruangan yang dirancang khusus untuk anak laki-laki atau bujangan yang tinggal di rumah adat. Terkadang bale dauh juga dapat difungsikan sebagai tempat pertemuan dan penyelenggaraan kegiatan sehari-hari seperti menenun, mengukir, melukis, dan memahat.

Bale Gede Dikenal juga dengan nama bale dangin, bale gede merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat upacara adat. Biasanya memiliki 12 tiang dengan 2 ruang di sisi kanan dan kiri.

Bale Manten Bale manten atau bale daja adalah sebuah ruangan yang berfungsi sebagai tempat tidur kepala keluarga atau bagi anak perempuan yang belum menikah. Ruangan ini berbentuk persegi panjang dan terletak di sebelah utara bangunan induk. Terdapat dua ruangan di dalam ruangan ini, yaitu bale kanan dan bale kiri. Bale manten melambangkan harapan keluarga terhadap gadis dara agar selalu terjaga kesuciannya.

Pawaregen (Pawon) Pawaregen merupakan bagian rumah adat Bali yang berfungsi sebagai dapur. Berukuran sedang, bagian ini terletak di barat laut atau selatan rumah induk. Pawaregen mempunyai dua area yaitu area memasak dan area penyimpanan peralatan dapur.

(10)

Jineng Struktur ini biasanya dibangun dari material kayu. Jineng menjadi unik karena posisinya harus dibuat lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Selain itu bentuknya juga terlihat seperti gua beratap jerami kering. Namun jineng atau klumpu kini sudah jarang ditemui. Area ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan gabah yang telah dikeringkan.

8 Senjata

Tradisional Keris Bali Keris bali hampir sama dengan keris jawa. ciri utama dari keris Bali adalah lekukan yang dibuat dalam proses penempaan sesuai dengan pakem yang mengikuti keris Jawa, maka jumlah lekukan harus selalu berjumlah ganjil. Pembuat keris beranggapan, keris yang sempurna selalu berjumlah ganjil karena memiliki filosofi tertentu.

Keunikan dan kesakralan keris Bali membuat banyak orang mencarinya, baik untuk kepentingan ritual atau sekadar untuk dikoleksi. Di Indonesia keris banyak ditemukan di Pulau Jawa, Madura, Bali/Lombok Sumetara, Sulawesi dan Kalimantan.

Sedangkan di mancanegara, keris juga bisa ditemukan di Malaysia, Brunai, Thailand dan Filipina.

Tombak Tombak digunakan oleh prajurit kerajaan sebagai senjata andalan dalam peperangan.

Senjata tradisional tombak ini tergambarkan dalam tari Bali yang dikenal dengan nama tari Wirayudha.

Tari Wirayudha merupakan tari perang yang diperankan oleh dua sampai empat pasang penari pria dengan senjata tombak. Tari ini menggambarkan sekelompok prajurit Bali Dwipa yang sedang bersiap-siap untuk maju ke medan pertempuran.

(11)

Kandik Kata Kandik berasal dari bahasa daerah Bali yang berarti Kapak.

Senjata ini berupa sebilah Kapak.

Tetapi bagian pegangannya lebih panjang dari senjata Kapak pada umumnya.

Kandik adalah senjata tradisional Bali yang berbentuk sebilah kapak.

Sesuai dengan bentuknya, senjata Kandik ini lebih difungsikan oleh kaum pria Bali untuk membantu pekerjaan-pekerjaan berat, diantaranya membelah kayu, menebang pohon, atau pekerjaan lainnya.

Tiuk Senjata adat Bali dengan nama Tiuk ini adalah senjata tradisional Bali yang bentuknya mirip Wedhung, yakni berupa jenis senjata belati atau pisau.

Bedanya, Wedhung digunakan sebagai alat pertahanan diri dalam peperangan bagi kaum pria, Tiuk lebih sering dipakai sebagai alat untuk memasak, membuat sesaji, atau keperluan dapur lainnya.

9 Presentase

Agama  Islam  10,16 %

 Kristen protestan  4,26 %

 Katolik  0,84 %

 Hindu  86,59 %

 Buddha  0,68 %

 Konghucu  0,01 %

 Lainnya  < 0,01 % 10 Suku Yang

Berdomisili Suku Bali Aga Suku ini muncul ketika gelombang migrasi Bali yang pertama. Suku Aga sendiri menurut beberapa sumber sejarah merupakan suku Bali pertama dan salah satu suku asli Bali.

Suku Bali Aga banyak bermukim di wilayah pegunungan Desa Trunyan, Kintamani, Kabupaten Bangli dan

(12)

ada juga yang tinggal di Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem.

Karena tinggal di wilayah pegunungan, suku Bali Aga menjadi salah satu suku yang belum mengenal dan terjamah oleh teknologi serta terbiasa dengan aturan adat yang cukup kental.

Salah satunya adat pemakamannya yang dilakukan dengan tidak dikubur atau dikremasi, melainkan mayatnya disimpan di bawah sebuah pohon tua yang ada di sana. Suku Bali Aga juga cenderung lebih menutup diri terhadap dunia luar sehingga sering dianggap sebagai masyarakat yang tertinggal.

Suku Bali Majapahit Salah satu suku yang didalamnya adalah orang-orang keturunan kerajaan Majapahit yang berasal dari para pendatang Pulau Jawa.

Sebagian masyarakat suku Bali Majapahit tinggal di wilayah dataran rendah yang ada di Bali.

Kedatangan orang-orang keturunan Majapahit ini juga membawa tradisi budaya Majapahit yang mempersatukan masyarakat Majapahit yang tersebar di Bali.

Selain itu juga, mereka yang berasal dari suku Bali Majapahit ini menganut agama Hindu dan ber- mata pencaharian dengan bercocok tanam. suku Bali Majapahit menjadi salah satu yang memengaruhi sejarah suku Bali.

(13)

Suku Bali Selain suku Bali Aga, suku Bali juga menjadi suku mayoritas yang menghuni wilayah Pulau Bali.

Masyarakat suku Bali sendiri menganut agama Hindu dan menggunakan bahasa Bali serta melakukan tradisi-tradisi dan budaya Bali.

Meskipun memang ada suku Bali yang menganut agama Islam, Buddha, dan Kristen.

Suku Nyama Selam Nyama sendiri memiliki makna saudara, sedangkan Selam bermakna Islam. Jadi, suku Nyama Selam merupakan suku yang ada di Bali yang menganut agama Islam dan menjalankan tradisi Bali di dalam kehidupannya sehari-hari.

Keberadaannya sangat erat dengan sejarah perkembangan di wilayah Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng yang sudah ratusan tahun ditinggali oleh masyarakat komunitas muslim.

Suku Nyama Selam mencampurkan antara budaya Bali, Jawa, dan Bugis dengan menggunakan bahasa Bali sebagai komunikasi sehari-hari.

Meskipun ada sumber sejarah lainnya yang menyebutkan bahwa suku Nyama Selam ini menyebar di Bali ketika Raja pertama Gelgel, Ketut Dalem Plesir ketika mengunjungi Majapahit dengan dikawal oleh 40 orang prajurit Majapahit. Sebagian dari prajuritnya

(14)

tidak kembali ke Majapahit, namun menetap di wilayah Klungkung lalu mendirikan masjid.

Keberadaan masyarakat Nyama Selam membuat Bali menjadi beragam dan tetap hidup rukun berdampingan dengan masyarakat Bali lainnya yang mayoritas Hindu.

Suku Loloan Suku ini adalah suku Bali yang berasal dari Melayu. Kedatangan mereka pada abad ke-17 dan bertempat tinggal di wilayah Loloan Barat dan Loloan Timur, Kabupaten Jembrana membuat masyarakat suku ini disebut sebagai suku Loloan.

Referensi

Dokumen terkait

Masyarakat di Dusun Tirtayoga sebagian besar menganut agama Hindu dan salah satu kegiatan persembahyangan yang selalu dilaksanakan oleh masyarakat Hindu di Dusun itu

Kepongor merupakan suatu istilah (pengucapan) tantang ajaran hukum karmaphala di Bali yang telah diwariskan oleh leluhur orang Bali sebelum paham agama Hindu masuk ke

Menurut Subagiasta, (2008: 1) Bali merupakan pulau kecil yang sebagian besar masyarakatnya menganut agama Hindu, hal ini dapat dilihat dalam pelaksanaan upacara- upacara

Kepariwisataan Budaya Bali adalah kepariwisataan yang berlandaskan kebudayaan Bali yang dijiwai oleh ajaran agama Hindu dan konsep Tri Hita Karana (THK) sebagai potensi

23 Wawancara bersama POW (guru agama Hindu) pada 23 November 2020, DT (masyarakat Hindu Bali pelaku ritual) pada 8 Januari 2021, NMMRA (masyarakat Hindu Bali pelaku ritual) pada

Fungsi Gerabah dalam Hindu Bali Dalam agama Hindu Bali, upacara yadnya dikelompokkan menjadi lima yang disebut pancayadnya yaitu, dewa yadnya (pemujaan serta persembahan ke

Demikian beberapa petun- jukkan dalam teks sastra agama yang berfungsi menuntun umat manusia khususnya yang ber- agama Hindu untuk mendapat- kan anak yang suputra, proses panjang mesti

Terdapat empat landasan yang mendasari suatu konsep arsitektur tradsional Bali yaitu : a Landasan keagamaan : pustaka suci Agama Hindu, penjiwaan agama dalam arsitektur tradisional