• Tidak ada hasil yang ditemukan

kedudukan hukum anak luar kawin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "kedudukan hukum anak luar kawin"

Copied!
282
0
0

Teks penuh

Dalam buku ini penulis membahas banyak hal, khususnya mengenai hakikat kedudukan hukum anak luar nikah dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dan juga mengenai hubungan hukum Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012 dan implikasinya terhadap posisi anak yang menikah miskin. Menurut penulis, harus diakui bahwa dengan munculnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012, maka tidak dapat diharapkan lagi persoalan kedudukan anak haram dengan ayah kandungnya. akan terselesaikan tidak akan terjadi , mengingat persoalan anak di luar nikah merupakan hal yang sangat sensitif.

HAKEKAT KEDUDUKAN ANAK LUAR KAWIN DALAM UU PERKAWINAN

PENDAHULUAN

Latar Belakang Permasalahan

Maka dari pengertian tersebut, secara logika argumentum a contrario, anak luar nikah adalah anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah. Terakhir, karena putusan Mahkamah Konstitusi nomor 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012 tidak mengatur secara jelas kedudukan anak haram dan hak-haknya.

Landasan Teori dan Penjelasan Konsep

  • Landasan Teori
  • Penjelasan Konsep a. Konsep Anak Luar Kawina.Konsep Anak Luar Kawin

Kedudukan anak dalam KUH Perdata (selanjutnya disebut BW) dibedakan menjadi: 1) Anak yang sah; dan 2) Anak haram. BW membagi anak haram menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu: 1) Anak hasil zina; 2) Anak disonan; dan 3) Anak haram.

HAKEKAT KEDUDUKAN ANAK LUAR KAWIN

DALAM UU PERKAWINAN

Sifat Sakral Perkawinan Bagi Bangsa Indonesia

Di Minahasa, seorang anak yang lahir di luar nikah akan lahir dari laki-laki yang menjadi ayah dari anak tersebut. Antara seorang pria dan seorang wanita; Unsur ini mempunyai arti bahwa hubungan yang dilakukan dalam ikatan perkawinan adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan, bukan hubungan sesama jenis. Di Indonesia, berdasarkan peraturan perundang-undangan, saat ini tidak diperbolehkan adanya hubungan sesama jenis antara laki-laki dengan laki-laki atau antara perempuan dengan perempuan.

Sebagai suami dan istri; Unsur ini mengandung arti bahwa dalam perkawinan antara laki-laki dan perempuan, laki-laki sebagai kepala rumah tangga dan perempuan sebagai ibu rumah tangga. Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa; Unsur ini mempunyai makna bahwa hubungan antara perempuan dan laki-laki berada dalam suatu ikatan.

Syarat Keabsahan Perkawinan

Kata sah mempunyai arti menurut hukum yang berlaku, maka perkawinan itu tidak sah apabila perkawinan itu tidak dilangsungkan menurut peraturan hukum yang telah ditetapkan. Keabsahan perkawinan menurut hukum diatur dalam Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan yang menyatakan: “Perkawinan sah apabila dilangsungkan menurut hukum agama dan kepercayaan masing-masing.” Perkawinan yang sah menurut hukum perkawinan nasional, oleh karena itu, adalah perkawinan yang dilangsungkan menurut kaidah hukum yang berlaku dalam agama, Kristen/Katolik, Hindu/Buddha. Keabsahan perkawinan adat bagi masyarakat hukum adat di Indonesia pada umumnya bagi penganut agamanya tergantung pada agama yang dianut oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan.

Artinya apabila telah dilaksanakan menurut kaidah hukum agama, maka perkawinan itu sah menurut hukum adat. Menurut ketentuan ini, perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan alirannya, antara lain.

Kedudukan Kawin Siri

Oleh karena itu, istilah nikah siri merupakan istilah yang diciptakan dalam konteks pemerintahan untuk menunjukkan jenis perkawinan yang tidak tercatat di Kantor Catatan Sipil atau Kantor Urusan Agama (KUA). Dengan demikian, berdasarkan ketentuan Pasal 2 beserta penafsiran resmi Undang-undang Perkawinan, maka perkawinan yang tidak diberitahukan dan tidak dicatatkan pada Kantor Agama atau Kantor Catatan Sipil adalah perkawinan yang dapat dikategorikan siri. pernikahan. Perkawinan di luar nikah yang dimaksud dalam buku ini adalah perkawinan yang memenuhi kerukunan dan syariat berdasarkan syariat Islam, namun tidak dicatatkan atau belum dicatatkan pada Kantor Urusan Agama (KUA Kecamatan) sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPDT) Badan Pelaksana karena adanya permasalahan di wilayah kabupaten.wilayah setempat sebagaimana dimaksud dalam undang-undang no. 23 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Kependudukan (selanjutnya disebut Undang-Undang Kependudukan).

Berdasarkan uraian di atas, keadaan perkawinan yang tidak dicatatkan ditinjau dari peraturan perundang-undangan perkawinan di Indonesia, perkawinan yang tidak dicatatkan ini merupakan perkawinan yang tidak sah karena tidak memenuhi ketentuan Pasal 2 ayat (1) dan ayat UU Pernikahan. Sehingga perkawinan yang demikian akan menimbulkan permasalahan hukum yang sangat kompleks bagi anak yang lahir dari perkawinan siri tersebut.

Status Anak Yang Dilahirkan Dari Perkawinan Siri

Akta kelahirannya mempertimbangkan statusnya sebagai anak haram dan mencantumkan nama ibu yang melahirkannya. Mengenai status anak luar nikah yang lahir dari perkawinan yang tidak dicatatkan, mereka hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya, sehingga anak luar nikah dari perkawinan yang tidak dicatatkan tidak diberikan hak yang maksimal dalam suatu negara yang berdasarkan hukum. Mengingat anak dan ibunya dalam praktiknya mempunyai hubungan perkawinan tidak dicatatkan yang dilakukan oleh ayah kandungnya yang masih terikat perkawinan sah dengan istri terdahulunya, maka sudah sepantasnya Negara yang mempunyai fungsi pelayanan terhadap masyarakat memberikan perlindungan hukum kepada anak dan ibunya. hak normatif anak. hak di luar pernikahan ini.

Oleh karena itu, perlindungan hukum terhadap anak luar nikah dari perkawinan siri masih sangat lemah karena belum diatur secara lengkap dan komprehensif. Dengan demikian, anak-anak tersebut berstatus sebagai anak luar nikah atau anak haram yang mempunyai status hukum sebagai anak luar nikah dan tidak mempunyai hubungan perdata dengan ayah kandungnya, melainkan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan anak dari ibu tersebut. hanya keluarga.

Eksistensi Pasal 43 UU Perkawinan

Menurut pertimbangan Mahkamah Konstitusi, undang-undang harus memberikan perlindungan dan kepastian hukum yang adil mengenai status anak yang dilahirkan dan hak-hak yang ada padanya, termasuk memberikan perlindungan hukum kepada anak yang dilahirkan, sekalipun sahnya hak tersebut. pernikahan masih diperdebatkan. Hal ini terlihat dari ketentuan Pasal 43 UU Perkawinan yang menyatakan: (1) Anak yang dilahirkan di luar perkawinan saja. hubungan keperdataan dengan ibunya dan keluarga ibunya. Berdasarkan ketentuan pasal di atas justru menimbulkan multitafsir, sehingga tidak dapat memberikan kepastian hukum terhadap anak luar nikah, sebagaimana terlihat dari frasa “lahir di luar nikah”.

Agar hal tersebut dapat terjadi, menurut teori ini maka hukum harus menciptakan aturan-aturan umum (peraturan/ketentuan umum) dimana peraturan/ketentuan umum tersebut diperlukan demi adanya kepastian hukum oleh masyarakat. Kepastian hukum karena hukum memberikan dua tugas hukum lainnya, yaitu menjamin keadilan hukum dan hukum harus tetap dapat digunakan.

Nuansa Agamawi Dalam UU Perkawinan Menyangkut Kedudukan Anak Luar Kawin

Sesuai dengan ketentuan Pasal 42 UU Perkawinan dikatakan anak sah adalah anak yang lahir dalam atau akibat perkawinan yang sah. Dalam membahas kedudukan hukum anak haram dalam suatu kelompok sosial tidak lepas dari nuansa keagamaan yang dianut dalam UU Perkawinan, hal ini terlihat dari besarnya pengaruh agama khususnya Islam terhadap UU Perkawinan. Artinya sesuai dengan ketentuan Pasal 2 UU Perkawinan, meskipun pasal tersebut terdiri dari 2 (dua) ayat, namun merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Undang-undang perkawinan belum sepenuhnya mengatur mengenai kedudukan anak luar nikah, karena hanya mengatur hubungan keperdataan dengan ibunya dan keluarga ibu, sedangkan pengaturan hubungan dengan ayah kandungnya belum lengkap. Dari rumusan ketentuan pasal di atas, jika menilik kurun waktu sejak diundangkannya Undang-Undang Perkawinan hingga saat ini yang telah berlangsung hampir setengah abad, nampaknya Peraturan Pemerintah yang dijanjikan akan memberikan kepastian hukum mengenai hal tersebut. kedudukan anak haram masih belum ada.

RATIO LEGIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 46/PUU-VIII/2010

DALAM PERSPEKTIF PERLINDUNGAN HUKUM ANAK LUAR KAWIN

Anak Sebagai Generasi Penerus

Setiap anak berhak memperoleh pelayanan keagamaan sesuai dengan agamanya, berpikir dan berekspresi sesuai dengan akal dan usianya di bawah bimbingan orang tua atau walinya (Pasal 55). Setiap anak berhak untuk beristirahat, bersosialisasi dengan anak-anak yang seumuran, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya untuk perkembangan dirinya (Pasal 61). Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan perawatan sosial yang layak sesuai dengan kebutuhan jasmani, mental, dan spiritualnya.

Setiap anak berhak mengamalkan agama, berpikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya di bawah bimbingan orang tuanya. Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosialnya (Pasal 8).

Hakekat Pasal 45 Jo Pasal 46 UU Perkawinan

Dengan kata lain hakikat hak dan kewajiban antara orang tua dan anak harus mencerminkan asas kepastian hukum. Kemudian setiap anak wajib memberi nafkah kepada kedua orang tuanya dan saudara sedarahnya di garis atas, jika ia miskin (Pasal 321 KUHPerdata). Dari rumusan ketentuan pasal ini diketahui bahwa orang tua mempunyai kewajiban untuk mengasuh dan mendidik anaknya sampai ia menikah dan dapat berdiri sendiri.

Bagi umat Kristiani, kewajiban orang tua untuk mengasuh dan mendidik anak hingga mencapai usia dewasa tidak jauh berbeda dengan apa yang diatur dalam KUH Perdata Pasal 298. Tanggung jawab orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak tidak berakhir walaupun orang tua merugi. hak mereka sebagai wali.

Makna Hubungan Keperdataan Antara Anak Luar Kawin Dengan Ibu Dan Keluarganya Berdasarkan

Selain itu, UU Perkawinan pada ayat kedua Pasal 43 mengamanatkan agar keadaan anak di luar nikah diatur lebih rinci dengan peraturan pemerintah. Hubungannya adalah adanya kewajiban timbal balik antara ibu kandung dan anak haram. Hanya saja jika memperhatikan ketentuan alinea pertama Pasal 43 UU Perkawinan, anak luar kawin akan mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibu.

Pengakuan terhadap anak luar nikah dapat dilakukan dengan akta otentik seperti akta notaris sebagaimana diatur dalam Pasal 281 ayat (1) KUHPerdata. Pendapat lain menyebutkan bahwa anak di luar nikah menurut pengertian yang berkembang secara umum adalah anak hasil zina.

Sikap Pembentuk UU Terhadap Anak Luar kawin Dalam UU Perkawinan

PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012 telah memutuskan ketentuan Pasal 43 ayat Negara Republik Indonesia, jika tidak dibaca: “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai bapaknya, yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut secara hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya..” Maksud dari putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012 sangat mulia, yaitu untuk mempertegas kedudukan anak luar nikah yaitu anak luar nikah juga mempunyai hak atas perlindungan hukum sebagaimana halnya anak yang lahir dari perkawinan yang sah. Berdasarkan pertimbangan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012, undang-undang harus mengatur perlindungan dan keamanan hukum yang adil mengenai status anak yang dilahirkan serta hak-hak yang dimilikinya, termasuk anak yang dilahirkan di luar perkawinan.

Sedangkan dalam hal pemberian perlindungan hukum terhadap anak luar nikah yang lahir dari perkawinan siri yang dilakukan oleh ayah kandungnya yang masih sah kawin dengan isterinya, harus ada keseimbangan dalam mengakui status persamaan hak hukumnya sebagai anak. dan sekaligus menjamin keseimbangan hak – hak keperdataan anak luar nikah dengan anak yang lahir dari perkawinan yang sah. Jadi bangsa Indonesia mempunyai hukum perkawinan yang berdasarkan Pancasila dan tetap berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika.

Referensi

Dokumen terkait

Perlindungan terhadap anak luar kawin pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No.46/PUU-VIII/2010 bahwa perlindungan hukum terhadap anak luar kawin adalah anak luar kawin

Perlindungan terhadap anak luar kawin pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No.46/PUU-VIII/2010 bahwa perlindungan hukum terhadap anak luar kawin adalah anak luar kawin

Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 Terhadap Bagian Waris Anak Luar Kawin ....

Dengan selesainya Penulisan Hukum ini yang berjudul Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 tentang Status Anak Luar Kawin Penulis mengucap puji dan

3 Namun, setelah adanya Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 46/PUU-VIII/2010 tentang anak sah, di mana Mahkamah Konstitusi tetap mempertahankan pasal 42 Undang-undang

Berdasarkan permohonan tersebut, maka lahirlah putusan Mahkamah Konstutusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang dalam salah satu putusannya, memutuskan bahwa anak yang dilahirkan di

Konstitusi (MK) Nomor 46/PUU-VIII/ 2010 yang menyatakan bahwa Pasal 43 ayat (1) harus dibaca sebagai berikut: “Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan

Skripsi yang berjudul “ Hubungan Keperdataan Anak Luar Kawin dengan Ayah Biologisnya Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No.46/PUU- VIII/2010 ” ini secara umum bertujuan