KELAS PPPK APOTEKER
by: Pricilia Natasya S. Berahmana, S. Farm., Apt.
SAHABAT CPNS
Gelombang 3, 2023
01 02 03
PERTEMUAN 1 28 OKTOBER
31 OKTOBER
2 NOVEMBER
JADWAL
PPPK APOTEKER SAHABAT CPNS
PERTEMUAN 2
PERTEMUAN 3
melakukan penilaian terhadap pemasok terkait dokumen kefarmasian
· Pemasok memiliki ijin yang masih berlaku sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
· Obat yang ditawarkan oleh pemasok telah memiliki nomor izin edar. Jika bahan baku impor, dilengkapi dengan sertifikat GMP.
(Good Manufacture Practice)
KUALIFIKASI PEMASOK:
Contoh: Surat Izin Apoteker Penanggungjawa, Surat Izin Berusaha, Surat Izin Industri Farmasi, industri farmasi dilengkapi juga dengan
Sertifikat CPOB, PBF memiliki Sertifikat Distribusi Farmasi dan Sertifikat CDOB)
Harga obat dan/atau bahan obat yang sepadan dengan mutu yang dimiliki.
mutu produk
reputasi produsen distributor resmi berbagai syarat
ketepatan waktu pengiriman mutu pelayanan
pemasok dapat dipercaya
kebijakan tentang barang yang dikembalikan pengemasan
Surat pesanan manual dibuat 2 rangkap: 1 untuk
pemasok, 1 untuk arsip
Surat Pesanan tidak bisa dilayani baik sebagian atau seluruhnya, harus meminta surat penolakan
pesanan dari pemasok Surat Pesanan harus
disimpan sekurang- kurangnya selama 5 (lima) tahun berdasarkan
tanggal dan nomor urut Surat Pesanan
LPLPO disimpan sekurang- kurangnya selama 5 (lima)
tahun berdasarkan
tanggal dan nomor urut LPLPO.
menyusun surat pesanan dalam rangka
pengadaan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP
Surat Pesanan Obat dan Bahan
Obat
menyusun surat pesanan dalam rangka
pengadaan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP
Surat Pesanan Obat dan Bahan
Obat
dibuat terpisah dari surat pesanan untuk obat lain.
Surat pesanan manual dibuat 3 rangkap: 2 untuk
pemasok, 1 untuk arsip Surat Pesanan harus
disimpan sekurang- kurangnya selama 5 (lima) tahun berdasarkan
tanggal dan nomor urut Surat Pesanan
Surat Pesanan tidak bisa dilayani baik sebagian atau seluruhnya, harus meminta surat penolakan
pesanan dari pemasok
menyusun surat pesanan dalam rangka
pengadaan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP
Surat Pesanan Narkotika, Surat
Pesanan
Psikotropika, Surat Pesanan
Prekursor Farmasi
menyusun surat pesanan dalam rangka
pengadaan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP
Surat Pesanan Narkotika, Surat
Pesanan
Psikotropika, Surat Pesanan
Prekursor Farmasi
menyusun surat pesanan dalam rangka
pengadaan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP
Surat Pesanan Narkotika, Surat
Pesanan
Psikotropika, Surat Pesanan
Prekursor Farmasi
menyusun surat pesanan dalam rangka
pengadaan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP
Surat Pesanan Narkotika, Surat
Pesanan
Psikotropika, Surat Pesanan
Prekursor Farmasi
Kriteria sediaan farmasi yang diproduksi : a. Sediaan farmasi dengan formula khusus
b. Sediaan farmasi dengan mutu sesuai standar dengan harga lebih murah
c. Sediaan farmasi yang memerlukan pengemasan kembali
d. Sediaan farmasi yang tidak tersedia di pasaran e. Sediaan farmasi untuk penelitian
f. Sediaan farmasi yang harus selalu dibuat baru
melakukan pembuatan Sediaan Farmasi
Produksi steril
meliputi: pembuatan sediaan steril (contoh:
gauze/tulle) dan
pengemasan kembali sediaan steril.
Produksi non steril
meliputi: pembuatan puyer, pembuatan sirup,
pembuatan salep, pembuatan kapsul,
pengemasan kembali, dan pengenceran.
melakukan pembuatan Sediaan Farmasi
Pembuatan Sirup Pembuatan salep
Pengemasan kembali Pengenceran
PRODUKSI NON STERIL
melakukan pembuatan Sediaan Farmasi
kloralhidrat, omeprazole, mineral mix
Salep luka bakar
Alkohol, H2O2, Povidon iodin, klorheksidin
Antiseptik dan
disinfektan
melakukan pemeriksaan hasil pembuatan Sediaan Farmasi
Sediaan farmasi yang diproduksi oleh IFRS harus akurat dalam identitas,
kekuatan, kemurnian, dan mutu
Pembuatan sediaan farmasi harus diperhatikan persyaratan stabilitas,
kecocokan rasa, kemasan, dan pemberian
etiket dari berbagai produk yang dibuat.
M E R E N C A N A K A N K E G I A T A N D A N K E B U T U H A N
S E D I A A N Y A N G A K A N D I K E M A S U L A N G
M E L A K U K A N P E M E R I K S A A N H A S I L A K H I R S E D I A A N F A R M A S I
Obat dan bahan kimia yang didistribusikan dengan
pengemasan ulang (repacking) harus diberikan ETIKET, yang memuat: nama, konsentrasi/kekuatan, tanggal
pengemasan dan beyond use date (BUD)
melakukan pengujian mutu bahan baku secara organoleptis
ORGANOLEPTIK
KUNING
KUNING TERANG
KUNING PUCAT
KUNING MUDA
KUNING SAMPAI KUNING JINGGA
DIPIRIDAMOL ETAKIRDIN TETRASIKLIN
ETAVERIN MENADION NIKLOSAMID
NITRAZEPAM
RIBOFLAVIN
merupakan pengamatan sifat fisik obat secara langsung dan hasil
pengamatannya merupakan informasi awal yang berguna untuk analisis
selanjutnya.
WARNA NAMA OBAT
melakukan
pengujian bahan baku secara
kualitatif melakukan
pengujian bahan baku secara
kuantitatif
cek di PERTEMUAN
KELAS PEMANTAPAN 1
melakukan verifikasi berita acara penerimaan
(re: FAKTUR) Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP
penerimaan harus melibatkan
Apoteker/Tenaga Teknis Kefarmasian
Penerimaan Obat dan Bahan Obat harus berdasarkan
Faktur pembelian dan/atau Surat Pengiriman Barang
(SPB) yang sah
kondisi kemasan termasuk segel, label/penandaan dalam keadaan baik;
kesesuaian nama, bentuk, kekuatan sediaan Obat, isi kemasan antara arsip Surat Pesanan (SP)/LPLPO
dengan Obat/Bahan Obat yang diterima;
1.
2.
melakukan verifikasi berita acara penerimaan
(re: FAKTUR) Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP
Pada saat penerimaan, Fasilitas Pelayanan Kefarmasian harus melakukan pemeriksaan
kesesuaian antara fisik Obat/Bahan Obat dengan Faktur
pembelian/LPLPO dan/atau Surat Pengiriman Barang (SPB) yang meliputi: 1) Kebenaran nama produsen, nama pemasok, nama
Obat/Bahan Obat, jumlah, bentuk, kekuatan sediaan Obat, dan isi kemasan; 2) Nomor bets dan tanggal kedaluwarsa
khusus Produk Rantai Dingin (Cold Chain Product) harus diperiksa kondisi cool box dan catatan pemantauan suhu saat diterima.
Jika Produk Rantai Dingin (Cold Chain Product) dilengkapi dengan Vaccine Vial Monitor (VVM), dilakukan pemeriksaan kondisi VVM pada saat diterima
3.
4.
melakukan verifikasi berita acara penerimaan
(re: FAKTUR) Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP
Pada saat penerimaan, Fasilitas Pelayanan Kefarmasian harus melakukan pemeriksaan
Jika pada hasil pemeriksaan ditemukan ketidaksesuaian nomor bets atau tanggal kedaluwarsa antara fisik dengan
faktur pembelian/LPLPO dan/atau SPB harus dibuat koreksi dan dikonfirmasi ketidaksesuaian dimaksud kepada pihak pemasok.
mengesahkan berita acara penerimaan (re: Faktur) Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP
.Jika pada hasil pemeriksaan dinyatakan sesuai
dan kondisi kemasan baik maka Apoteker /Tenaga Teknis Kefarmasian Penanggung Jawab atau
Tenaga Kefarmasian yang mendapat delegasi
wajib menandatangani Faktur Pembelian /LPLPO dan/atau SPB dengan mencantumkan nama
lengkap, nomor SIPA/SIPTTK dan stempel sarana
melakukan verifikasi berita acara pengembalian barang Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
BMHP yang tidak sesuai persyaratan/ spesifikasi
Apabila hasil pemeriksaan ditemukan Obat dan Bahan Obat yang diterima tidak sesuai dengan pesanan seperti nama, kekuatan sediaan Obat, jumlah atau kondisi kemasan tidak baik, maka Obat dan Bahan Obat harus segera dikembalikan pada saat penerimaan.
Apabila pengembalian tidak dapat dilaksanakan pada saat penerimaan
misalnya pengiriman melalui ekspedisi maka dibuatkan Berita Acara yang
menyatakan penerimaan tidak sesuai dan disampaikan ke pemasok untuk
dikembalikan.
melakukan verifikasi berita acara pengembalian barang Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
BMHP yang tidak sesuai persyaratan/ spesifikasi
obat yang rusak (tidak memenuhi persyaratan mutu)
telah kedaluwarsa (sesuai aturan yang tersedia di penyedia)
tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan atau kepentingan ilmu pengetahuan
dicabut izin edarnya
Obat yang dapat dilakukan retur ditujukan juga untuk beberapa obat dengan
kriteria berikut:
melakukan verifikasi berita acara pengembalian barang Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
BMHP yang tidak sesuai persyaratan/ spesifikasi
Pengembalian Obat kepada pemasok harus dilengkapi dengan
dokumen serah terima pengembalian Obat yang sah dan fotokopi
arsip Faktur Pembelian
mengesahkan berita acara pengembalian
barang Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
BMHP yang tidak sesuai
persyaratan/ spesifikasi
melakukan stock opname
01 02 03
04 05 06
Melakukan investigasi adanya selisih stok dengan fisik saat
stok opname dan
mendokumentasikan hasil investigasi
Saat Stock Opname dilakukan pendataan sediaan yang masa
kedaluwarsanya minimal 6 bulan
rekonsiliasi jumlah
pemasukan/ penerimaan, jumlah pengeluaran/
penggunaan dan stok akhir stok opname Narkotika dan
Psikotropika secara berkala sekurang-kurangnya sekali
dalam 1 (satu) bulan stok opname secara
berkala sekurang- kurangnya sekali dalam 6 (enam) bulan
paraf manual/elektronik petugas yang melakukan
stok opname
melakukan stock opname
m e n g k a j i p e r m i n t a a n S e d i a a n
F a r m a s i , A l a t K e s e h a t a n , d a n B M H P
06 07
Permintaan hanya dapat dilakukan apabila terjadi kelangkaan
stok di fasilitas distribusi dan terjadi kekosongan stok di Fasilitas
Pelayanan Kefarmasian tersebut.
Penyerahan tersebut harus
berdasarkan surat permintaan tertulis
Resep dan/ atau surat permintaan
tertulis disimpan sekurang kurangnya selama 5 (lima) tahun berdasarkan
urutan tanggal dan nomor urutan penerimaan resep.
Resep dan/ atau surat permintaan tertulis yang telah disimpan
melebihi 5 (lima) tahun dapat dimusnahkan.
Resep dan/atau surat permintaan tertulis Narkotika/ Psikotropika/
Prekursor Farmasi harus disimpan
terpisah dari resep dan/atau surat
permintaan tertulis lainnya.
m e n g k a j i p e r m i n t a a n S e d i a a n
F a r m a s i , A l a t K e s e h a t a n , d a n B M H P
06
07
m e n g k a j i p e r m i n t a a n S e d i a a n
F a r m a s i , A l a t K e s e h a t a n , d a n B M H P
06
07
MELAKSANAKAN PENDISTRIBUSIAN SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN BMHP
TUJUAN: tersedianya sediaan farmasi dan BMHP di unit-unit pelayanan secara tepat waktu, tepat jenis dan jumlah.
SENTRALISASI
distribusi dilakukan oleh Instalasi Farmasi secara terpusat ke
semua unit rawat inap di rumah sakit secara keseluruhan
DESENTRALISASI distribusi dilakukan oleh beberapa
depo/satelit yang
merupakan cabang
pelayanan di rumah
sakit
MEMVERIFIKASI DAFTAR USULAN PENGHAPUSAN SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN BMHP,
YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT
kegiatan penyelesaian terhadap Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang tidak
terpakai karena kedaluwarsa, rusak, mutu tidak
memenuhi standar
MEMVERIFIKASI DAFTAR USULAN PENGHAPUSAN
SEDIAAN FARMASI, ALAT KESEHATAN, DAN BMHP, YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT --> DILAKUKAN PEMUSNAHAN
Tahapan pemusnahan terdiri dari:
a. membuat daftar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang akan dimusnahkan;
b. menyiapkan Berita Acara Pemusnahan;
c. mengoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak terkait;
d. menyiapkan tempat pemusnahan; dan
e. melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan serta peraturan yang berlaku.
BERITA ACARA
PEMUSNAHAN
BERITA ACARA
PEMUSNAHAN
MELAKUKAN TELAAH RESEP
Persyaratan administratif meliputi:
a. nama, umur, jenis kelaminberat badan dan tinggi badan pasien;
b. nama, nomor ijin, alamat dan paraf dokter;
c. tanggal Resep;
d. ruangan/unit asal Resep;
e. penggunaan singkatan yang baku
Persyaratan farmasetik meliputi:
a. nama Obat, bentuk dan kekuatan sediaan b. Jumlah Obat;
c. stabilitas;
d. inkompatibilitas
e. aturan dan cara penggunaan
Persyaratan klinis meliputi:
a. ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan Obat;
b. duplikasi pengobatan;
c. alergi dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD);
d. kontraindikasi; dan e. interaksi Obat
melakukan pemeriksaan dan penyerahan melakukan pemeriksaan dan penyerahan
obat disertai pemberian informasi obat disertai pemberian informasi
Menyiapkan obat sesuai dengan
permintaan resep
yang sudah dilakukan pengkajian
1. 2. Melakukan 3. Pemberian Etiket
peracikan obat bila diperlukan.
(1) menghitung
kebutuhan jumlah obat sesuai dengan resep;
(2) mengambil obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan
dengan
memperhatikan nama obat, tanggal
kedaluwarsa dan keadaan fisik obat.
a etiket obat dengan sistem resep individu memuat
informasi: nama lengkap pasien, nomor rekam medis dan/atau tanggal lahir, nama obat,
aturan pakai, instruksi khusus, tanggal kedaluwasa obat dan tanggal penyiapan obat
b. etiket di kantong obat dengan sistem dosis unit memuat informasi nama
lengkap pasien, nomor rekam medis dan/atau tanggal lahir, instruksi khusus, dan tanggal penyiapan obat.
4. Pemeriksaan kembali
yang diperiksa meliputi 5 tepat yakni, tepat obat, tepat
pasien, tepat dosis, tepat
rute, tepat waktu pemberian
5. Penyerahan Obat disertai Informasi Obat
pemberian informasi obat yang meliputi nama obat,
kegunaan/indikasi, aturan pakai, efek terapi dan efek samping dan cara
penyimpanan obat.
melakukan konseling penggunaan
obat
DEFINISI 3 PRIME
QUESTIONS
TUJUAN
SARANA DAN PERALATAN
suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran terkait
terapi obat dari apoteker (konselor) kepada pasien
dan/atau keluarganya
tentang obat anda?
tentang cara pemakaian obat tentang hasil yang diharapkan setelah anda menerima terapi obat tersebut dan efek samping yang mungkin terjadi
meningkatkan kepatuhan pasien, mengoptimalkan hasil terapi, meminimalkan risiko Reaksi Obat
yang Tidak Dikehendaki (ROTD), dan meningkatkan cost-
effectiveness
RUANG KONSELING ALAT BANTU KONSELING
Apoteker mendokumentasikan konseling dengan meminta
tanda tangan pasien sebagai bukti bahwa pasien memahami informasi yang diberikan dalam konseling
melakukan konseling penggunaan
obat
HIPERTENSI
MELAKUKAN KONSELING OBAT PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT KRONIS
pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM, epilepsi, dan lain-lain)
HIPERTENSI
MELAKUKAN KONSELING OBAT PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT KRONIS
pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM, epilepsi, dan lain-lain)
HIPERTENSI
MELAKUKAN KONSELING OBAT PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT KRONIS
pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM, epilepsi, dan lain-lain)
HIPERTENSI
TERAPI NON FARMAKOLOGI (MODIFIKASI GAYA HIDUP)
BERHENTI MEROKOK
DASH DIET (Dietary Approaches to Stop
Hypertension): perbanyak makan buah, sayur- sayuran, dan produk susu rendah lemak
dengan kandungan lemak jenuh dan total lebih sedikit, kaya potassium dan calcium
KONTROL GULA DARAH DAN KADAR LIPID
MELAKUKAN AKTIVITAS FISIK RINGAN 3-4 KALI SEMINGGU DENGAN DURASI 40 MENIT/SESI
MENGURANGI ASUPAN GARAM TIDAK LEBIH DARI
2,4MG/HARI
TIDAK MENGONSUMSI ALKHOL
MELAKUKAN KONSELING OBAT PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT KRONIS
pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM, epilepsi, dan lain-lain)
DIABETES
MELAKUKAN KONSELING OBAT PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT KRONIS
pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM)
DIABETES
MELAKUKAN KONSELING OBAT PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT KRONIS
pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM)
DIABETES
MELAKUKAN KONSELING OBAT PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT KRONIS
pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM)
DIABETES
MELAKUKAN KONSELING OBAT PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT KRONIS
PERHITUNGAN INSULIN HARIAN TOTAL Insulin Harian Total (IHT) = 0,5 Unit/Kg/hari Dosis terbagi :
1.Insulin Basal Total: 40% --> long acting
2.Insulin Prandial Total: 60% --> rapid acting a. Makan pagi: 1/3 IPT
b. Makan siang: 1/3 IPT c. Makan malam: 1/3 IP
pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM)
DIABETES
MELAKUKAN KONSELING OBAT PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT KRONIS
pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM)
PEMANTAUAN TERAPI OBAT
KEGIATAN TAHAPAN
PENGKAJIAN PEMILIHAN OBAT,
DOSIS, CARA PEMBERIAN OBAT,
RESPONS TERAPI, REAKSI OBAT YANG TIDAK DIKEHENDAKI
(ROTD)
PENGUMPULAN DATA PASIEN PEMANTAUAN 1.
EFEKTIVITAS DAN EFEK SAMPING
OBAT PEMBERIAN
REKOMENDASI PENYELESAIAN
MASALAH TERKAIT OBAT
2. IDENTIFIKASI MASALAH TERKAIT
OBAT
3. REKOMENDASI PENYELESAIAN MASALAH TERKAIT
OBAT
4. PEMANTAUAN 5. TINDAKLANJUT
PEMANTAUAN TERAPI OBAT
MONITORING EFEK
SAMPING OBAT
MONITORING EFEK
SAMPING OBAT
REAKSI OBAT YANG TIDAK DIKEHENDAKI
DEFINISI:
RESPON TERHADAP SUATU OBAT YANG BERBAHAYA DAN TIDAK DIHARAPKAN SERTA TERJADI PADA DOSIS LAZIM YANG DIPAKAI OLEH MANUSIA UNTUK TUJUAN PROFILAKSIS, DIAGNOSIS DAN TERAPI.
ROTD TERJADI PADA DOSIS NORMAL,
TIPE A TERKAIT DENGAN DOSIS
TIPE B TIDAK TERKAIT DENGAN DOSIS
TIPE C Terkait dengan Dosis & Terkait dengan Waktu (Chronic)
TIPE D Terkait dengan Waktu (Delayed)
TIPE E : Berhenti Menggunakan Obat (End of Use)
TIPE F Kegagalan Terapi yang Tidak
Diduga (Failure)
KLASIFIKASI EFEK
SAMPING OBAT
PEMANTAUAN DALAM MONITORING EFEK
SAMPING SEDIAAN FARMASI
PEMANTAUAN INI DILAKUKAN MELALUI AKTIVITAS -->
FARMAKOVIGILANS.
Farmakovigilans --> seluruh kegiatan tentang pendeteksian, penilaian, pemahaman, dan pencegahan efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat.
TUJUAN:
untuk mendeteksi masalah keamanan obat yang belum diketahui, mendeteksi peningkatan frekuensi kejadian efek samping, mengidentifikasi faktor risiko, mengkuantifikasi risiko, mengkomunikasikan informasi keamanan obat dan pencegahan terjadinya risiko keamanan obat.
KEGIATAN FARMAKOVIGILANS:
survei ESO, identifikasi obat pemicu ESO, analisis kausalitas
dan memberikan rekomendasi penatalaksanaannya
PREPARASI SEDIAAN INTRAVENA
1 2 3
PENCAMPURAN SEDIAAN INTRAVENA KE DALAM CAIRAN INFUS
PENGENCERAN SEDIAAN INTRAVENA
REKONSTITUSI SEDIAAN INTRAVENA DALAM BENTUK SERBUK DENGAN PELARUT YANG SESUAI
KEGIATAN PREPARASI SEDIAAN INTRAVENA MELIPUTI:
PREPARASI SEDIAAN INTRAVENA
KERTAS KERJA DAN FORMULIR YANG HARUS DISIAPKAN - Formulir Permintaan Pencampuran Obat Suntik/ Tetes Mata - Formulir Permintaan TPN
- Formulir Permintaan Pencampuran Sitostatika - Kertas Kerja Pencampuran Obat Suntik
- Kertas Kerja Pencampuran Obat Sitostatik - Ceklis Validasi Petugas Aseptic Dispensing - Lembar Pemantauan Suhu Ruangan
- Lembar Pemantauan Suhu Lemari Pendingin
- Lembar Pemantauan Kelembaban Ruangan
- Lembar Pemantauan Tekanan Ruangan
PREPARASI SEDIAAN INTRAVENA
Persiapan:
a) Persiapan ruangan steril kelas 100 b) HEPA Filter
c) Persiapan masuk ruangan steril
d) Persiapan obat dan alat kesehatan yang akan digunakan e) Persiapan laminar air flow
PELAKSANAAN
PREPARASI SEDIAAN INTRAVENA
Pelaksanaan:
Pencampuran Obat Suntik
Sebelum menjalankan proses pencampuran obat suntik, perlu dilakukan langkah langkah sebagai berikut:
(1) Memeriksa kelengkapan dokumen (formulir) permintaan dengan prinsip 5 BENAR (benar pasien, obat, dosis, rute dan waktu pemberian)
(2) Memeriksa kondisi obat-obatan yang diterima (nama obat, jumlah, nomer batch, tgl kedaluwarsa), serta melengkapi form permintaan.
(3) Melakukan konfirmasi ulang kepada pengguna jika ada yang tidak jelas/tidak lengkap.
(4) Menghitung kesesuaian dosis.
(5) Memilih jenis pelarut yang sesuai.
PELAKSANAAN
PREPARASI SEDIAAN INTRAVENA
Pelaksanaan:
Pencampuran Obat Suntik
(6) Menghitung volume pelarut yang digunakan.
(7) Membuat label obat berdasarkan: nama pasien, nomer rekam medis, ruang perawatan, dosis, cara pemberian, kondisi penyimpanan, tanggal pembuatan, dan tanggal kedaluwarsa campuran
(8) Membuat label pengiriman terdiri dari : nama pasien, nomer rekam medis, ruang perawatan, jumlah paket.
(9) Melengkapi dokumen pencampuran
(10) Memasukkan alat kesehatan, label, dan obat-obatan yang akan dilakukan pencampuran kedalam ruang steril melalui pass box.
PELAKSANAAN
PREPARASI SEDIAAN INTRAVENA
Pelaksanaan:
Pencampuran Obat Suntik
Langkah-langkah pencampuran obat suntik secara aseptik::
(a) Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
(b) Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi sesuai prosedur tetap (c) Menghidupkan Laminar Air Flow (LAF) sesuai prosedur tetap
d) Menyiapkan meja kerja LAF dengan memberi alas penyerap cairan dalam LAF.
(e) Menyiapkan kantong buangan sampah dalam LAF untuk bekas obat.
(f) Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan alkohol 70 %.
(g) Mengambil alat kesehatan dan obat-obatan dari pass box.
(h) Melakukan pencampuran secara aseptik
PELAKSANAAN
Se ntr alisasi Sentr al
DEKONTAMINASI
1.
INDIKATOR
METODE STERILISASI
PENGEMASAN
3.
2. 4.
proses fisik atau kimia untuk membersihkan benda-benda yang mungkin terkontami nasi oleh mikroba yang berbahaya bagi kehidupan, sehingga aman untuk proses-proses selanjutnya
Sterilisasi Kering
Sterilisasi Etilen Oksida
Sterilisasi Uap Sterilisasi
Menggunakan Plasma Sterilisasi Suhu
Rendah Uap
Formaldehid 1.
2.
3.
4.
5.
PRINSIP:
1. Sterilan harus dapat diserap dengan baik menjangkau seluruh permukaan kemasan dan isinya.
2. Harusdapat menjaga sterilitas isinya hingga kemasan dibuka.
3. Harus mudah dibuka dan isinya mudah diambiltanpa menyebabkan kontaminasi.
lndikator biologi: sediaan berisi sejumlah tertentu mikroorganisme spesifik dalam bentuk spora yang paling resisten terhadap suatu proses sterilisasi tertentu dan digunakan untuk menunjukkan bahwa sterilisasi telah tercapai. (strip kertas yang mengandung spora kertas)
lndikator kimia: suatu alat berbentuk strip atau tape yang menandai terjadinya pemaparan sterilan pada obyek yang disterilkan,ditandai dengan adanya perubahan warna. (autoclave 3M, Tes Bowie-Dick, Emulgator)
lndikator mekanik: penunjuk suhu, tekanan, waktu dan lain-lain pada mesin sterilisasi yang menunjukkan mesin berjalan normal.
TAHAPAN
F A R M A S I K H U
S U S
TELEFARMASI PELAYANAN PASIEN PALIATIF
PENANGGULAN GAN BENCANA
HOMECARE
SWAMEDIKASI
AMBULATORY SERVICE
FARMAKOEKONOMI
FARMAKOEKONOMI
Analisis Minimalisasi-Biaya (AMiB)
Merupakan metode kajian farmakoekonomi paling sederhana, analisis minimalisasi-
biaya (AMiB) hanya dapat digunakan untuk membandingkan dua atau lebih intervensi kesehatan, termasuk obat, yang memberikan hasil yang sama, serupa, atau setara atau dapat diasumsikan setara. Karena hasil pengobatan dari intervensi (diasumsikan) sama, yang perlu dibandingkan hanya satu sisi, yaitu biaya.
cONTOH:
1. Membandingkan obat generik berlogo (OGB) dengan obat generik bermerek dengan bahan kimia obat sejenis dan telah dibuktikan kesetaraannya melalui ujibioavailabilitas bioekuivalen (BA/BE). Jika tidak ada hasil uji BA/BE yang membuktikan kesetaraan hasil pengobatan, AMiB tidak layak untuk digunakan.
2. Membandingkan obat standar dengan obat baru yang memiliki efek setara
FARMAKOEKONOMI
Analisis Efektivitas-Biaya (AEB)
Analisis yang mengukur biaya sekaligus hasilnya ini, pengguna dapat menetapkan
bentuk intervensi kesehatan yang paling efisien membutuhkan biaya termurah untuk hasil pengobatan yang menjadi tujuan intervensi tersebut. Dengan kata lain, AEB
dapat digunakan untuk memilih intervensi kesehatan yang memberikan nilai tertinggi dengan dana yang terbatas jumlahnya
cONTOH:
1. Membandingkan dua atau lebih jenis obat dari kelas terapi yang sama tetapi
memberikan besaran hasil pengobatan berbeda, misalnya dua obat antihipertensi yang memiliki kemampuan penurunan tekanan darah diastolik yang berbeda.
2. Membandingkan dua atau lebih terapi yang hasil pengobatannya dapat diukur
dengan unit alamiah yang sama, walau mekanisme kerjanya berbeda, misalnya obat golongan proton pump inhibitor dengan H2 antagonist untuk reflux oesophagitis parah
FARMAKOEKONOMI
Analisis Efektivitas-Biaya (AEB)
FARMAKOEKONOMI
Analisis Utilitas-Biaya (AUB)
FARMAKOEKONOMI
Analisis Utilitas-Biaya (AUB)
Metode analisis utilitas-biaya (AUB) mirip dengan AEB, tetapi hasil (outcome)-nya
dinyatakan dengan utilitas yang terkait dengan peningkatan kualitas atau perubahan kualitas akibat intervensi kesehatan yang dilakukan. Menurut Bootman (1996), hasil pengobatan dalam bentuk kuantitas dan kualitas hidup itu mencerminkan keadaan berikut:
1. Apakah penyakit yang diderita atau pengobatan terhadap penyakit yang diberikan secara kuantitas akan memperpendek usia pasien?
2. Apakah kondisi penyakit yang diderita pasien atau pengobatan terhadap penyakit tersebut tidak seperti yang diinginkan? Kalau jawabannya “ya”, sebesar apa?
3. Apakah dampaknya terhadap usia? Berapa banyak berkurangnya usia (kuantitatif) dan kepuasan (kualitas) hidup?
CONTOH:
1. Membandingkan operasi versus kemoterapi;
2. Membandingkan obat kanker baru versus pencegahan (melalui kampanue skrining)
FARMAKOEKONOMI
Analisis Manfaat-Biaya
suatu teknik analisis yang diturunkan dari teori ekonomi yang menghitung dan membandingkan surplus biaya suatu intervensi kesehatan terhadap manfaatnya
P E R H IT UN GAN ACE
R / IC E R
ACER ICER
ACER ICER
ACER (Average Cost
Effectiveness Ratio) --> rasio yang mewakili biaya per satuan mata uang (rupiah) dari hasil klinis (outcomes)
yang dihitung dari biaya total program atau alternatif
pengobatan
dibagi deng an hasil klinis (outcomes)
digunakan untuk mengetahui besarnya biaya
tambahan untuk setiap perubahan 1 unit
efektivitas biaya.
PIROGEN UJI
TUJUAN
untuk membatasi risiko reaksi demam pada
tingkat yang dapat diterima oleh pasien
pada pemberian sediaan injeksi.
HASIL
Setiap penurunan suhu dianggap nol. Sediaan memenuhi syarat apabila tidak ada satupun kelinci yang menunjukkan kenaikan suhu 0,5° atau lebih. Bila ada kelinci yang menunjukkan kenaikan suhu
0,5° atau lebih, lanjutkan uji menggunakan lima ekor kelinci lain. Sediaan memenuhi syarat bebas pirogen bila tidak lebih dari 3 dari 8 ekor masing- masing menunjukkan kenaikan suhu 0,5° atau lebih
dan jumlah kenaikan suhu maksimum 8 kelinci tidak melebihi 3,3°.
PRINSIP
Pengujian meliputi pengukuran kenaikan
suhu kelinci setelah penyuntikan sediaan uji
secara intravena dan ditujukan untuk sediaan
yang dapat ditoleransi oleh kelinci percobaan pada dosis tidak lebih dari 10 mL per kg yang
disuntikkan secara intravena dalam periode tidak lebih dari
10 menit.
sumber: Farmakope VI
n-plan
ilakukan dengan metode ini bila material yang diterima datang dari
sumber terpercaya dan indentifikasi material sedang dilakukan.
Sampling dilakukan dengan rumus p=0,4√N dan sampel dikumpulkan dalam wadah yang berbeda.
p-plan
Digunakan bila material seragam dan supplier telah dikenali (sudah sering memasok ke kita ) dan
terpercaya.
igunakan bila material mencurigakan dan diterima dari supplier yang tidak terpercaya/sumber tidak jelas.
Sampling menggunakan rumus r=1,5√N.
r-plan
RENCANA SAMPLING
Sampel dapat dilakukan pada bagian manapun dari kontainer. Sampel diambil
dengan menggunakan rumus √N + 1.
n-plan
ilakukan dengan metode ini bila material yang diterima datang dari
sumber terpercaya dan indentifikasi material sedang dilakukan.
Sampling dilakukan dengan rumus p=0,4√N dan sampel dikumpulkan dalam wadah yang berbeda.
p-plan
Digunakan bila material seragam dan supplier telah dikenali (sudah sering memasok ke kita ) dan
terpercaya.
igunakan bila material mencurigakan dan diterima dari supplier yang tidak terpercaya/sumber tidak jelas.
Sampling menggunakan rumus r=1,5√N.
r-plan
RENCANA SAMPLING
Sampel dapat dilakukan pada bagian manapun dari kontainer. Sampel diambil
dengan menggunakan rumus √N + 1.
PERHITUNGAN HLB (untuk sediaan
emulsi)
CONTOH SOAL 1:
R/ Tween 80 70%
Span 80 30%
HLB = 15 HLB = 4,5
Berapakah HLB Campuran?
Tween 80 = 70% x 15 = 10,5 Span 80 = 30% x 4,5 = 1,35 HLB Campuran = 11,35
PERHITUNGAN
FARMAKOKINETIKA
Perhitungan AUC
Target AUC obat carboplatin adalah 6 mg/jam.mL. Jika
diketahui GFR seorang pasien adalah 60mL/menit. Dosis obat
carboplatin yang
direkomendasikan adalah …
390
510
300
980
Perhitungan AUC
Jika GFR> 60 → dosis carboplatin ditentukan dengan rumus Calvert
Dosis= AUC x (GFR+25) Dosis= 6 x (60+25)
Dosis= 510 mg
390
510
300
980
Perhitungan AUC
Seorang pasien laki-laki berumur 45 tahun dengan berat badan 65 kg dan tinggi badan 175
cm mendapatkan resep ciprofloxacin tablet.
Berdasarkan hasil pemantauan kadar dalam dalam darah, konsentrasi awal obat tersebut adalah 140,8 mikrogram/mL. Selain itu, diketahui
volume distribusi sebesar 355,11 mL dan
konstanta eliminiasi 0,124/jam. Nilai AUC pada kondisi tersebut adalah …
2863,79
1637,21
1135,48
3452, 22
Perhitungan AUC
AUC= Co / ke
AUC= 140,8 mikrogram/mL / 0,124/jam AUC= 1135,48 mikrogram jam/mL
2863,79
1637,21
1135,48
3452, 22
QUESTIONS
Ada pasien mengalami luka sobek, cairan yang tepat yang bisa dipakai untuk mengobati luka
pasien tersebut adalah ...
povidon iodine
alkohol 70%
H2O2
klorheksidin
ANSWER
Alkohol dan H1O2 dapt merusak jaringan kulit.
povidon iodine
alkohol 70%
H2O2
klorheksidin